Buletin Alara
ISSN : -     EISSN : -
Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan di Indonesia
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 1" : 7 Documents clear
PERENCANAAN TANGGAP MEDIK PADA KEDARURATAN NUKLIR *) Wiharto, Kunto
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.493 KB)

Abstract

PENDAHULUANDewasa ini pemanfaatan tenaga nuklir telah mempunyai lingkup yang demikian luas, baik di penelitian, kesehatan maupun industri, seperti yang tercantum pada Laporan Keselamatan Nuklir di Indonesia Tahun 2002 yang dipublikasikan oleh BAPETEN. Hingga tanggal 31 Desember 2002, tidak kurang dari izin untuk operasi 3 buah reaktor nuklir dan 33 izin pemanfaatan zat radioaktif/sumber radiasi di Badan Tenaga Nuklir Nasional telah diterbitkan. Selain itu telah pula diterbitkan sebanyak 2504 izin di sektor industri (radiografi, logging, gauging, dsb), dan 2338 izin di sektor kesehatan (radiodiagnostik, radioterapi, kedokteran nuklir)[1]. Pemanfaatan tenaga/teknologi nuklir tersebut pada umumnya dilaksanakan dengan menggunakan bahan radioaktif atau pesawat pem- bangkit radiasi baik yang dilakukan di dalam suatu fasilitas maupun di lapangan. Dengan pesatnya perkembangan pemanfaatan radiasi tersebut untuk kegiatan pembangunan, apalagi dengan adanya opsi nuklir untuk keperluan pemenuhan kebutuhan energi ke depan yang tidak akan mampu lagi untuk dipenuhi dengan sumber energi konvensional maka di samping kegunaannya yang sangat besar bagi kesejahteraan manusia, potensi kecelakaan yang mungkin dapat terjadi dan dapat menimbulkan keadaan darurat perlu dicermati dan diantisipasi penanggulangannya tidak terkecuali dari aspek medik. Menurut International Basic Safety Standards, yang dimaksud dengan kecelakaan adalah setiap kejadian yang tidak dikehendaki termasuk kesalahan operasi, kegagalan peralatan atau kesalahan-kesalahan lain, yang mempunyai akibat atau berpotensi menimbulkan akibat yang tidak dapat diabaikan dari segi proteksi atau Keselamatan [2]. Kecelakaan radiasi didefinisikan sebagai kejadian tak terduga yang meliputi pemaparan/pemajanan berlebih atau kontaminasi pada seseorang dan atau lingkungan dengan bahan radioaktif. Sedangkan menurut PP No. 63 Tahun 2000 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion, maka yang dimaksud dengan Kecelakaan Radiasi adalah kejadian yang tidak direncanakan termasuk kesalahan operasi, kegagalan fungsi alat atau kejadian lain yang menjurus timbulnya dampak radiasi, kondisi paparan radiasi dan atau kontaminasi yang melampaui batas Keselamatan [3].
OPTIMASI ASPEK KESELAMATAN PADA KALIBRASI PESAWAT RADIOTERAPI Wurdiyanto, Gatot; Budiantari, C. Tuti
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.053 KB)

Abstract

Radioterapi merupakan suatu metode pengobatan penyakit kanker atau tumor yang menggunakan teknik penyinaran dari zat radioaktif maupun radiasi pengion lainnya. Tujuan radioterapi adalah untuk mendapatkan tingkatan sitotoksik radiasi terhadap planning target volume pasien, dengan seminimal mungkin pajanan (exposure) radiasi terhadap jaringan sehat dan di sekitarnya. Pesawat radioterapi adalah pesawat yang digunakan untuk melakukan terapi yang didalamnya terdapat sumber radiasi baik sumber 60Co maupun 137Cs. Dengan keberadaan sumber radiasi tersebut, maka keselamatan baik pekerja maupun pasien memerlukan perhatian yang sangat penting agar tujuan dari penggunaan radioterapi tersebut terwujud tanpa menimbulkan masalah baru. Dewasa ini, lebih dari 18 rumah sakit di Indonesia dengan sekitar 19 pesawat radioterapi 60 Co maupun 137Cs memanfaatkan radioterapi sebagai metode pengobatan penyakit kanker atau tumor. Berdasar pada peraturan yang berlaku di Indonesia, yakni PP Nomor 63 tahun 2000 (Bab V pasal 30)[1], SK Dirjen BATAN No.84/DJ/VI/1991[2] dan SK Ka. Bapeten No.21/Ka. BAPETEN/XII-02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3], mengatakan bahwa keluaran sumber radiasi terapi harus dikalibrasi sekurang-kurangnya sekali dalam 2 (dua) tahun oleh Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional (FKTN). Untuk itu Laboratorium Metrologi Radiasi (LMR) selaku Fasilitas Kalibrasi Tingkat Nasional agar dapat memberikan pelayanan yang prima menyangkut masalah kualitas serta aspek keselamatan dari penggunaan dan pemanfaatan metode radioterapi. Aspek keselamatan yang menyangkut penggunaan dan pemanfaatan pesawat radioterapi meliputi keselamatan saat penyinaran terhadap pasien dan pemeliharaannya, serta pada saat pesawat tersebut dikalibrasi oleh FKTN. Aturan keselamatan terhadap fasilitas radioterapi yang menyangkut pasien, pekerja, peralatan dan lingkungan telah tercantum dalam SK Ka. Bapeten No.21/Ka.BAPETEN/XII -02 tentang Program Jaminan Kualitas Instalasi Radioterapi[3] dan rekomendasi Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency, IAEA) melalui Basic Safety Standards [4]. Pada tulisan ini akan dipaparkan aspek keselamatan pada saat melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60Co ataupun 137Cs. Hal ini diperlukan mengingat pekerjaan kalibrasi sangat membutuhkan konsentrasi tinggi dengan rentang waktu yang cukup lama agar tidak menimbulkan masalah terhadap pesawat, pekerja maupun keselamatan lingkungannya. Tujuan dari penulisan ini untuk mendapatkan prosedur baku keselamatan dalam melakukan kalibrasi terhadap pesawat radioterapi 60 Co atau 137Cs sehingga didapatkan optimasi antara aspek keselamatan dan faktor non teknis yang timbul saat melakukan kalibrasi.
PROSPEK PEMANFAATAN RADIASI DALAM PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Nurhayati, Siti
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.563 KB)

Abstract

PENDAHULUANPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dapat bermanifestasi sebagai Dengue Shock Syndrome (DSS) yang merupakan suatu penyakit infeksi akibat virus dengue, ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Aedes aegypti (A. Aegypti).Infeksi virus dengue akan memberikan gejala bervariasi mulai dari sindroma virus nonspesifik sampai perdarahan akut. Sampai saat ini, dikenal empat tipe virus penyebab DBD yang termasuk dalam kelompok ”Arthropod Borne Virus” atau arbovirus yaitu Dengue -1, Dengue-2, Dengue-3 dan Dengue-4. Keempat tipe ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Dari hasil penelitian Knipling dkk dikatakan bahwa Dengue-3 merupakan tipe yang paling luas penyebarannya dan sangat ber- kaitan dengan kasus yang paling berat disusul Dengue-2, Dengue-1 dan Dengue-4 [1]. A.aegypti adalah nyamuk (serangga) berukuran tubuh kecil, berwarna hitam, dan ber- bintik-bintik putih, dengan penyebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut [2]. Nyamuk betina akan terinfeksi virus dengue pada saat menghisap darah seseorang yang sedang dalam fase demam akut. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik 8 sampai 10 hari, kelenjar ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 3-14 hari (rerata 4-6 hari) secara mendadak timbul gejala awal penyakit ditandai dengan demam, pusing, nyeri otot, hilang nafsu makan, dan berbagai tanda atau gejala non spesifik seperti mual, muntah dan ruam pada kulit.
PENTINGNYA PENGAWASAN KONTAMINASI RADIOANUKLIDA DALAM MAKANAN, PRODUK RUMAH TANGGA DAN LINGKUNGAN Syarbaini, Syarbaini
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.568 KB)

Abstract

PENDAHULUANUpaya proteksi terhadap masyarakat dan lingkungan dari efek radiasi terus menerus mengalami penyempurnaan sejak awal abad ke 20 seiring dengan meningkatnya apli- kasi iptek nuklir di berbagai bidang seperti industri, kesehatan, pertanian, penelitian dan lain sebagainya. Terlebih lagi dalam era globalisasi dimana setiap negara akan di- hadapkan pada tantangan yang semakin berkembang dan komplek baik pada tingkat regional maupun tingkat internasional. Salah satu permasalahan dan tantangan yang akan dihadapi adalah pencemaran global baik pencemaran bahan radioaktif maupun non radioaktif. Cemaran radioaktif yang telah terjadi sepanjang perjalanan sejarah pengembangan iptek nuklir di beberapa tempat tidak bisa diabaikan begitu saja. Cepat atau lambat baik langsung ataupun tidak langsung tidak tertutup kemungkinan akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sejak tahun 1945, khususnya pada waktu dua bom atom hasil proyek Manhattan Amerika Serikat diledakan di dua kota di Jepang, sejarah pencemaran radionuklida buatan di lingkungan dimulai dengan cara yang sangat mengejutkan dan mengerikan umat manusia. Cemaran bahan radioaktif tersebut terus terjadi sejak iptek nuklir dikembangkan oleh negara-negara maju ke arah yang negatif yaitu untuk kepentingan persenjataan. Sampai tahun 1970 lebih dari 400 uji coba senjata nuklir dilakukan dan umumnya uji coba dilakukan di atmosfer. Dengan uji coba di atmosfer pencemaran radionuklida meluas ke angkasa dan  kemudian jatuh ke seluruh permukaan bumi secara global. Perlombaan uji coba nuklir di atmosfer, serta jatuhan debu radioaktif akibat uji coba itu, menyempurnakan citra buruk pengembangan iptek nuklir di masalalu. Sekarang ini uji coba senjata nuklir di atmosfer sudah tidak dilakukan lagi, akan tetapi manusia masih tetap berhadapan dengan resiko radiasi. Kegiatan-kegiatan industri non nuklir seperti pertambangan atau industri-industri yang menggunakan bahan baku dari dalam kulit bumi ternyata juga dapat menambah tingkat radiasi disekitar kehidupan manusia. Radionuklida alam yang terkandung dalam kulit bumi ikut terangkat ke permukaan dan kemudian terakumulasi menjadi material yang disebut dengan istilah TENORM (Technologically Enhanced Naturally Occurring Radiactive Materials).
PEMBANGUNAN PLTN SEBAGAI SATU SOLUSI KRISIS LISTRIK DI INDONESIA Sutarman, Sutarman
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.586 KB)

Abstract

PENDAHULUANKebutuhan energi listrik dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan perkem- bangan pola hidup masyarakat, yang meliputi sektor rumah tangga dan sektor industri yang terus meningkat, terutama di Pulau Jawa dan Bali. Menurut studi Markal, di- perkirakan bahwa permintaan energi listrik akan terus berkembang. Khusus untuk Jawa dan Bali, permintaan energi listrik meningkat dari atahun 1991 sebesar 34.000 GWh/ tahun menjadi 53.000 GW/tahun pada tahun 1996 dan angka ini terus berkembang menjadi 80.000 GWh/tahun pada tahun 2000. Permintaan kebutuhan energi listrik terbesar berada di sektor industri. Sementara sumber daya energi di Indonesia, misalnya minyak dan gas bumi mempunyai cadangan 84 milyar barrel (di Jawa dan luar Jawa), cadangan batubara sebesar 32 milyar ton (berada di luar Jawa), potensi energi panas bumi (geotermal) 16.035 MW (di Jawa dan luar Jawa), dan potensi air (di Jawa dan luar Jawa) sebesar 15.804 MW.  Sedangkan cadangan energi matahari dan belum banyak dimanfaatkan [2]. Khusus untuk kebutuhan energi listrik di Jawa dan Bali diperlukan kapasitas listrik terpasang pada tahun 2015 sebesar 35.000 MW yang terdiri atas 14.000 MW dari Pusat Listrik Tenaga Uap dengan bahan bakar batubara (PLTU batubara), 13.000 MW dari Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA), dan gas, serta sekitar 8.000 MW berasal dari pembangkit energi alternatif lainnya. Penambahan kapasitas terpasang energi listrik di Jawa, pada masa mendatang direncanakan menggunakan sumber daya energi non-minyak. Cadangan sumber daya air, panas bumi, surya dan angin sangat terbatas, sementara pembangkit energi listrik menggunakan bahan bakar batubara menimbulkan masalah pencemaran lingkungan dalam jangka panjang, maka perlu dipikirkan sumber energi alternatif non-minyak yang mempunyai teknologi ramah lingkungan. Salah satu sumber energi listrik nonminyak yang dipilih adalah energi nuklir, namun pembangunannya perlu persiapan yang matang dan lama, karena memerlukan sistem keselamatan dan keamanan yang canggih, serta memerlukan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi agar tidak menimbulkan masalah besar pada masa praoperasi, operasi, dan pasca operasi atau dekomisioning (decommissioning).
MENGOPTIMALKAN PENGGUNAAN DOSIMETER PERORANGAN DI MEDAN RADIASI CAMPURAN Akhadi, Mukhlis
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.424 KB)

Abstract

PENDAHULUANBerbagai jenis radiasi pengion yang digunakan dalam kegiatan pemanfaatan teknik nuklir berpotensi memberikan efek merugikan terhadap tubuh manusia apabila papar- an radiasinya berlebihan. Setiap pekerja radiasi selalu mempunyai resiko terkena paparan radiasi pengion selama menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu, faktor keselamatan manusia harus mendapatkan prioritas utama. Sudah barang tentu pemanfaatannya akan lebih sempurna jika faktor kerugian yang mungkin timbul dapat ditekan serendah mungkin atau dihilangkan sama sekali. Salah satu cara untuk meng- hindari terjadinya pemaparan radiasi pengion yang berlebihan terhadap tubuh manusia adalah dengan melakukan pemantauan rutin dosis perorangan para pekerja radiasi. Dengan program pemantauan dosis pekerja secara ketat, penerimaan dosis oleh para pekerja radiasi akan tetap terkontrol dan dapat diambil tindakan proteksi secepat mungkin apabila jumlah penerimaan dosis akumulasinya melampaui nilai batas dosis yang telah ditetapkan. Program pemantauan dosis pekerja memegang peranan yang penting dalam rangka pemanfaatan radiasi dalam berbagai bidang kegiatan dan harus disusun sedemikian rupa sehingga mampu mendeteksi setiap kelainan operasional sekecil apapun yang dapat menjurus ke arah terjadinya kecelakaan sehingga menye- babkan terjadinya pemaparan radiasi yang berlebihan terhadap pekerja. Pemantauan radiasi eksterna dilakukan terhadap pekerja yang mempunyai potensi terpapari radiasi dari sumber eksterna seperti para pekerja radiasi yang menggunakan sumber sumber radiasi terbungkus beraktivitas tinggi atau sangat tinggi atau bekerja dengan mesin pembangkit radiasi dengan laju dosis yang besar. Pemantauan radiasi eksterna dimaksudkan agar dosis akumulasi dari sumber-sumber eksterna yang diterima pekerja selama menjalankan tugas tetap terkontrol. Untuk pemantauan dosis perorangan, manusia mengandalkan sepenuhnya pada dosimeter perorangan. Tulisan ini akan membahas lebih lanjut mengenai pemantauan dosis eksterna pekerja radiasi menggunakan dosimeter perorangan dengan menitikberatkan pada upaya mengopti- malkan penggunaan dosimeter tersebut untuk pemantauan dosis di medan radiasi campuran, yaitu medan radiasi atau daerah kerja dimana potensi paparan radiasinya berasal dari berbagai jenis dan energi radiasi pengion, seperti laboratorium yang meng- gunakan berbagai jenis dan energi radiasi, reaktor nuklir yang memancarkan neutron dan gamma berbagai energi dan sebagainya.
UJI KONTAMINASI RADIONUKLIDA DAN SERTIFIKASI KOMODITI EKSPOR – IMPOR Syarbaini, Syarbaini
Buletin Alara Vol 7, No 1&2 (2005): Agustus & Desember 2005
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.743 KB)

Abstract

Pelayanan uji kontaminasi radionuklida dalam bahan makanan, bahan bangunan dan komponen lingkungan beserta sertifikasi komoditi ekspor-impor adalah bagian dari tugas dan fungsi Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir (P3KRBiN), Badan Tenaga Nuklir Nasional. Untuk menunjang pelaksanaan tugas ini, P3KRBiN mempunyai fasilitas laboratorium penguji yang diberi nama Laboratorium Keselamatan, Kesehatan dan Lingkungan atau disingkat “Lab. KKL”. Lab. KKL bertanggung jawab kepada Kepala Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi. Lab. KKL telah terakreditasi sebagai laboratorium penguji dengan No. LP-206-IDN pada tanggal 19 Maret 2004. Lab. KKL memberikan pelayanan pengujian dalam lingkup keselamatan daerah kerja, keselamatan pekerja radiasi, bungkusan zat radioaktif, kesehatan pekerja dan keselamatan lingkungan. Khusus untuk pelayanan uji kontaminasi radionuklida dan sertifikasi komoditi ekspor – impor dilaksanakan oleh Lab. KKL-unit Lingkungan. Lab. KKL-unit lingkungan merupakan laboratorium acuan nasional dalam bidang uji kontaminasi radionuklida dan pengkajian keselamatan radiasi lingkungan sekaligus diberi wewenang untuk mengeluarkan sertifikat bebas bahan radioaktif (Non Radioactivity Certificate) untuk komoditi ekspor dan impor. Lab. KKL-unit lingkungan mempunyai peralatan yang mutakhir, terpelihara dengan baik dan didukung personil yang berpengalaman baik dalam maupun luar negeri. Untuk menjaga kualitas hasil pengujian, Lab. KKL-unit lingkungan menjalankan program quality assurance dan quality control yang terdiri dari accuracy check menggunakan certified reference materials, precision check dengan cara melakukan analisis secara duplo, cross-check dengan metode analitik lain dan laboratorium lain baik dalam maupun luar negeri. Dari tahun 1997 sampai sekarang, setiap tahun dilakukan program interkomparasi dengan laboratorium Japan Chemical Analysis Center (JCAC). Lab. KKL unit lingkungan juga mengikuti program interkomparasi dengan laboratorium lingkungan negara-negara lain yang dikoordinir oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA, International Atomic Energy Agency).

Page 1 of 1 | Total Record : 7