Buletin Alara
ISSN : -     EISSN : -
Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan di Indonesia
Articles 46 Documents
PARASIT MALARIA RODENSIA SEBAGAI MODEL PENELITIAN VAKSIN DENGAN TEKNIK NUKLIR

Darlina, Darlina ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4959.571 KB)

Abstract

Abstrak Tidak ada

RADIOISOTOP TEKNESIUM-99m DAN KEGUNAANNYA

Awaludin, Rohadi ( Pusat Radioisotop dan Radiofarmaka - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3211.384 KB)

Abstract

Abstrak Tidak Ada

SUPEROKSIDA DISMUT ASE (SOD) : APA DAN BAGAIMANA PERANANNYA DALAM RADIOTERAPI

Nurhayati, Siti ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN ) , Kisnanto, Teja ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN ) , Syaifudin, Mukh ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5436.863 KB)

Abstract

Tidak ada abstrak

ABERASI KROMOSOM PADA PILOT DAN AWAK KABIN MASKAP AI PENERBANGAN KOMERSIAL

Ramadhani, Dwi ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN ) , Purnami, Sofiati ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN ) , Suvifan, Viria Agesti ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2351.169 KB)

Abstract

Tidak ada abstrak

MONITORING DOSIS RADIASI PERORANGAN MENGGUNAKAN LENCANA DOSIMETER GELAS

Sofyan, Hasnel ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2172.277 KB)

Abstract

Abstrak Tidak Ada

PENGETAHUAN DASAR UNTUK MEMBACA DAN MEMANF AATKAN PETA NUKLIDA

Akhadi, Mukhlis ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6491.626 KB)

Abstract

Tidak Ada Abstrak

PARADIGMA BARD EFEK RADIASI DOSIS RENDAH

Alatas, Zubaidah ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 2: Desember 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4323.209 KB)

Abstract

Tidak Ada Abstrak

PENENTUAN AKTIVITAS TRITIUM DAN KARBON-14 DENGAN METODA PENGUKURAN DUAL LABEL

Elistina, Elistina ( Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - BATAN )

Buletin Alara Vol 13, No 4: Juli 2011
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPenentuan aktivitas sampel yang mengandung dua radionuklida dapat dilakukan dengan menggunakan Liquid Scintillation Analyzer (LSA) yang dilengkapi dengan program area atau salur yang dapat mencatat semua kejadian peluruhan dari kedua radionuklida tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah mengukur radioaktivitas campuran 3H dan 14C dengan tepat dan akurat menggunakan Liquid Scintillation Analyzer. Kontribusi cacahan dari setiap radionuklida yang dicatat bergantung pada aktivitas relatif kedua radionuklida berdasarkan tingkat pemadam yang terkandung dalam larutan sampel. Penganalisis spektrum akan mencatat dan menyimpan data cacahan sesuai dengan besarnya amplitudo pulsa yang dihasilkan. Tinggi pulsa spektrum bergerak dari nol sampai ke energi beta maksimum pada tiap radionuklida dan menghasilkan spektrum gabungan dua radionuklida yang terkandung dalam sampel yang sama maka spektrum gabungan (composite spectrum) akan bergerak dari nol ke radionuklida yang mempunyai energi beta lebih tinggi. Daerah energi dari nol ke radionuklida yang mempunyai energi beta lebih rendah akan tetap dihitung dari kedua radionuklida tersebut. Dalam eksperimen ini, radionuklida yang diukur adalah campuran sampel yang mengandung tritium dan karbon-14 dengan hasil yang diperoleh yaitu : aktivitas sampel tritium adalah 78,530.10-3 Bq/L dan aktivitas 14C adalah  1,703.10-3 Bq/L. Kata kunci : aktivitas, radionuklida, tritium, karbon-14, metode dual label  AbstractDetermination of sample activities containing two radionuclides can be done by using Liquid Scintillation Analyzer (LSA), which has been equipped with channel or area program that can record all events of the decay of both radionuclides. The purpose of this research is to measure the radioactivity of 3H and 14C mixture precisely and accurately using Liquid Scintillation Analyzer. The contribution of each radionuclide count that is recorded depends on the relative activities of both radionuclides based on quench level contained in the sample solution. Spectrum analyzer will record and store digital data in accordance with the amplitude of pulses generated. The height of spectrum pulse moves from zero to the maximum beta energy of each radionuclide and yields the combined spectrum two radionuclides contained in the same sample, the spectrum of the combined (composite spectrum) will moves from zero to a radionuclide that has higher beta energy. Energy region from zero to radionuclide that has lower beta energy will still be calculated from both radionuclides. In this experiment, the radionuclides that are measured is a mixture of samples containing tritium and carbon-14 with the results obtained are: activity of tritium sample was 78.530.10-3 Bq/L and activity sample carbon-14 was 1.703.10-3 Bq/L. Key words: radionuclide, activity, tritium, carbon 14, dual label method

DAMPAK RADIOLOGIS PELEPASAN SERAT ASBES

Thamrin, Muhammad Thoyib ( Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir – BATAN ) , Akhadi, Mukhlis ( Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir – BATAN )

Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.677 KB)

Abstract

Asbes (asbestos) merupakan mineralmineral berbentuk serat halus yang terjadi secara alamiah. Sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA), ada enam jenis mineral yang dikatagorikan sebagai bahan asbes, yaitu : chrysotile, riebeckite, grunerite, actinolite, anthrophyllite, dan thremolite. Manusia telah mengenal bahan asbes sejak abad ke-2 Sebelum Masehi. Beberapa abad kemudian, Marco Polo memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat pakaian. Ada empat jenis asbes yang kini banyak beredar di pasaran, yaitu : chrysotile atau asbes putih, crocidolite atau asbes biru, amosite atau asbes coklat, dan anthrophyllite atau asbes abuabu. Sebagaimana bahan tambang pada umumnya, asbes merupakan batuan yang mampat, namun sangat mudah untuk dipisahpisahkan menjadi banyak sekali serat-serat halus yang umumnya sangat ringan dan mudah terbang.

PENGKAJIAN KASUS SINDROMA RADIASI AKUT

Alatas, Zubaidah ( Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir – BATAN )

Buletin Alara Vol 6, No 2 (2004): Desember 2004
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.538 KB)

Abstract

Radiasi pengion adalah radiasi yang dapat menimbulkan terjadinya ionisasi atau pengionan sebagai proses pelepasan satu atau lebih elektron dari suatu atom/molekul, baik dalam bentuk gelombang elektromagnetik (radiasi gamma dan sinar-X) atau partikel (alpa, beta atau elektron, dan neutron). Kedua jenis radiasi di atas mempunyai daya rusak yang berbeda terhadap materi biologis karena mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menimbulkan tingkat pengionan dan dalam jarak lintasan yang dapat ditempuh. Radiasi partikel mempunyai tingkat pengionan yang jauh lebih tinggi dan jarak lintasan yang jauh lebih pendek dari radiasi elektromagnetik. Dengan demikian partikel alpa dan beta (elektron) mempunyai daya rusak per satuan jarak lintasan yang besar tetapi daya tembusnya rendah. Sedangkan radiasi gamma dan sinar-X meskipun mempunyai daya rusak yang rendah tetapi mempunyai jarak tempuh yang jauh.