cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka (Journal of Radioisotopes and Radiopharmaceuticals) bertujuan untuk memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang radioisotop, radiofarmaka dan bidang terkait, yang diwujudkan dalam bentuk makalah ilmiah hasil penelitian atau tinjauan dan gagasan.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015" : 5 Documents clear
VALIDASI KIT RADIOIMMUNOASSAY AFLATOKSIN 81 Widayati, Puji; Ariyanto, Agus; Triningsih, Triningsih; Susilo, Veronika Yulianti; Lestari, Wening
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aflatoksin merupakan senyawa mikotoksin yang bersifat sangat toksik sehingga dapat menjadi penyebab terjadinya kanker pada manusia. Aflatoksin berpotensi karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan bersifat imunosupresif oleh karena itu kandungan aflatoksin B1 dalam bahan dan prod uk pangan harus dibatasi. Salah satu teknik penentuan kadar aflatoksin B1 adalah radioimmunoassay (RIA) yang didasarkan pada reaksi immunologi antara antigen dan antibodi yang spesifik hanya untuk antigen tertentu saja, serta menggunakan antigen yang ditandai zat radioaktif sebagai peru nut. Pusat Teknologi Radioisotop danRadiofarmaka BATAN telah berhasil mengembangkan kit RIA Aflatoksin B1 yang dapat digunakan untuk penentuan kandungan Aflatoksin B1dalam bahan dan produk pangan. Sebelum digunakan di lapangan kit aflatoksin B1 harus divalidasi meliputi penentuan batas deteksi, kepekaan (sensitivitas), ketelitian (presisi) dan parameter assay (Non Spesific Binding, NSB dan Maximum Binding, MB) sehingga dapat digunakan untuk menentukan kadar aflatoksin B1• Penelitian ini bertujuan untuk menentukan batas deteksi, ketelitian intra assay dan inter assay serta parameter assay. Telah dilakukan validasi kit RIA aflatoksin yang menghasilkan batas deteksi 0,35 ng/mL dengan ketelitian intra assay memberikan koefisien variasi (%CV) QC 9,80% sedangkan ketelitian inter assay untuk QC 12,39%. Kit RIA aflatoksin B1 ini disimpulkan memberikan unjuk kerja yang baik karena menghasilkan %NSB sebesar 6,6 dan B/T sebesar 47,18. Aflatoxins are mycotoxins compounds that are highly toxic and carcinogenic. Aflatoxins are potentially carcinogenic, mutagenic, teratogenic, and immunosuppressive so that the content of aflatoxin B1 in food products should be limited. One technique of determining the level of aflatoxin B1 is a radioimmunoassay (RIA) which is based on immunological reactions between antigens and antibodies, and using radioactive substances as a tracer. Center for Radioisotopes and Radiopharmaceuticals Technology (PTRR) has successfully developed Aflatoxin B1 RIA kit that can be used to determine the aflatoxin B1 in food products. Aflatoxin B1 RIA kit must be validated, which includes determining the limits of detection, sensitivity, accuracy (precision) and assay parameters (Non Specific Binding, NSB and Maximum Binding, MB) that can be used to determine the level of aflatoxin B1. This study aims to determine the limit of detection, accuracy intra-assay and inter-assay and assay parameters. The Aflatoxin B1 RIA kit validation results in the detection limit of 0.35 ng / mL with coefficient of variation (% CV) QC 9.80%, while the inter-assay precision for QC 12.39%. RIA Kit Aflatoxin B1 is inferred provide good performance because it produces 6.6% for NSBand 47.18 for B/T.  
PERANCANGAN ALAT BANTU PENGUKUR PROFll KUAT MEDAN MAGNET 51KlOTRON C5-30 BATAN Ichwan, Syefudin; Suryanto, Hari
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan perancangan alat bantu pengukur profil kuat medan magnet Siklotron CS-30 BATAN. Siklotron ini merupakan jenis siklotron pemercepat ion positif yang telah dimodifikasi menjadi pemercepat ion negatif (W). Energi berkas ion terektraksi adalah 26,5 MeV berupa proton (H+)yang dapat digunakan untuk memproduksi radionuklida PET(Positron Emission Tomography) maupun 5PECT (Single-Photon Emmision Computed Tomography) untuk keperluan "molecular imaging" dalam scanning kanker atau kelainan fungsi organ tubuh. Pengukuran profil kuat medan magnet ini perlu dilakukan untuk mengetahui kesesuaian profil kuat medan magnet terukur dengan profil medan magnet yang seharusnya setelah lebih dari 25 tahun dioperasikan. Ketidaksesuaian profil medan magnet ini akan dapat mempengaruhi kinerja dari sistem Siklotron secara keseluruhandalam menghasilkan arus berkas. Untuk melakukan pengukuran profil kuat medan magnet tersebut, maka diperlukan suatu alat bantu agar diperoleh hasil pengukuran yang tepat. Alat bantu pengukuran profil kuat medan magnet ini dirancang menggunakan prinsip kerja perpindahan daya uHr, yaitu merubah gerakan rotasi menjadi translasi. perancangan pada tahap awal meliputi  penentuan material, ukuran dan bentuk atau geometrinya. Dalam perancangan ini juga dilakukan perhitungan untuk menentukan ukuran motor penggerak dan menghitung besarnya lendutan atau defleksi yang terjadi pada pemegang prabe akibat beban selama pengoperasian, sehingga didapatkan hasil pengukuran yang tepat.  Design of Supporting Tools for Measurement of Batons CS-30 Cyclotron Magnetic Field Profile. A design for measurement of BATANs CS-30 cyclotron magnetic field profile has been done. This BATANs CS-30 cyclotron is a type of positive ion accelerator that has been modified into a negative ion accelerator (W). The extracted ion beam energy is 26.5 MeV of proton (H+),which can be used to produce PET (Positron Emission Tomography) or SPEU (Single-Photon emmision Computed Tomography) radionuclides in order to support research in molecular imaging in the cancer or organ dysfunction scanning. Measurement of the mognetic field profile was needed to determine the suitability between the magnetic field profile measured and the original profile of magnetic field after 25 years of operation. Incompatibility of the magnetic field profile has an impact on the performance of cyclotron system as a whole in generating of the beam current. So, a device for that magnetic field profile measurement is required in order to get the precise measurement result. The device was designed by principal of screw power displacement, which transformed the rotation movement into translation. Preliminary design covered material, dimension and geometry of the device has been conducted. Furthermore, to achieve precise measurement data, the calculation todetermine the size of motors and deflection rate on the probe holder caused by load on operation  were performed. 
OPTIMASI PENYERAPAN MOLlBDENUM-99 PADA MATERIAL BERBASIS ZIRKONIUM (MBZ) Saptiama, Indra; Herlina, Herlina; Sarmini, Endang; Sriyono, Sriyono; Lubis, Hotman; Setiawan, Herlan; Marlina, Marlina; Muthalib, Abdul
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zirkonium merupakan unsur yang memiliki karakteristik yang khas dan sering digunakan dalam komponen material nuklir karena memiliki ketahanan terhadap korosi, keasaman serta memiliki tampang lintang absorpsi terhadap neutron termal yang rendah. Pada penelitian ini material berbasis zirkonium (MBZ) disintesis untuk penyerap molibdenum-99 (99Mo) pada generator radioisotop 99Mo/9mTc. MBZ disintesis melalui reaksi termal kondensasi antara ZrCl4 dan isopropyl alkohol. Variasi lama pemasanasan pada temperatur 150°C (waktu pemanasan selama 30 menit,MBZ-30; 60 menit,MBZ-60; 120 menit,MBZ-120 dan 240 menit, MBZ-240) setelah pelapisan MBZ dengan tetra etil orto silikat (TEOS) dilakukan untuk mendapatkan MBZ yang memiliki daya serap molibdenum-99 yang tinggi. Hasil uji MBZ-30, MBZ-60, MBZ-l20 dan MBZ-240 secara visual memperlihatkan bahwa penyerap ini memiliki warna yang kecoklatan dan tidak rapuh. Hasil uji luas permukaan spesifik penyerap MBZ-30, MBZ-60, MBZ-120 dan MBZ-240 dengan menggunakan  Brunauer, Emmett and Teller (BET) berturut-turut  adalah 22,45, 21,47, 19,5, 16,08 mm2/g. Hasil  BET ini memperlihatkan semakin lama waktu pemanasan maka semakin menurun luas permukaan spesifik penyerap MBZ. Karakterisasi penyerap MBZ-60 dengan fourier   transform  infra  red (FTIR)  menunjukkan  terdapat ikatan  Si-O-Si di 1080 – 1099  cm-l pad  a  MBZ  setelah  dilapis TEOS.  Pada MBZ-60 setelah penyerapan Mo sementara itu terlihat adanya serepan pad a 950cm-l yang mengindikasikan adanya ikatan Mo-O. Hasil uji serap penyerap  MBZ  terhadap  molibdenum-99  menunjukkan  bahwa  MBZ-30 ,MBZ-60, MBZ-120   dan  MBZ-240  memiliki  yield  penyerapan   sebesar 47,1 ;86,3; 82,1 dan 52,4 % dan kapasitas serap sebesar 107,2 ; 196,3; 186,7 dan 119,2 mg/g MBZ.Berdasarkan hasil uji ini dapat dilihat bahwa MBZ-60 dan MBZ-120 merupakan penyerap MBZ yang memiliki kapasitas serap molibdenum-99 yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan MBZ lainnya dan dinilai cocok sebagai penyerap untuk generator 99Mo/9"rc OPTIMATION ADSORPTION of 99Mo IN ZIRCONIUM-BASED MATERIAL (ZBM) . Zirconium is an element that has unique characteristic and often be used as component of nuclear material because it has the corrosion resistance, acidity and the absorption of cross-section has a low thermal neutron. In this study, zirconium-based materials (MBZ) was synthesized for adsorbent of molybdenum-99 on 99Mot9mTc radioisotope generator. MBZ was synthesized by termal condensation between ZrCI4and isopropyl alchohol. Variation of drying time at 150°C (30 minutes for MBZ-30; 60 minutes, MBZ-60; 120 minutes, MBZ-120; and 240 minutes, MBZ-240) after MBZ coated with tetra etil ortho silicate ( TEDS) was cunducted in order to obtain MBZ with high adsorption capacity towards Mo. The visual test results showed of MBZ-30, MBZ-60, MBZ-120, and MBZ-240 adsorbents had brownish color and not fragile. The spesific surface area test resulst of  MBZ-30, MBZ-60, MBZ-120, and MBZ-240 adsorbent by using Brunauer, Emmett and Teller (BET) were 22,45, 21,47, 19,5, 16,08 mm2/g, respectively. Based on the BET results, it can be seen that longer drying time resulted in lower the specific surface area of MBZ. The characterization of MBZ60 adsorbent using fourier transform infra red (FTIR) showed that there was Si-D-Si bond at 10801099 cm-l in MBZ after coated by TEDS. Mean while, MBZ-60 which had adsorbed Mo showed IR band at 950 cm-l that indicated the existence of Mo-Q bond. The Mo-99 adsorption test results 
SINTESIS DAN KARAKTERISASI KONYUGAT DENDRIMER PAMAM G4-NIMOTUZUMAB Gunawan, Adang Hardi; Widjaksana, Widyastuti; Paune, Lucky A.
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dendrimer Poliamidoamin (PAMAM) merupakan suatu senyawa polimer globular yang dapat digunakan untuk membawa obat/senyawa ke organ, jaringan, tumor atau kanker. Nimotuzumab merupakan antibodi monoklonal yang sangat spesifik dapat mengenali domain eksternal epidermal growth factor receptor (EGFR). Pengkonyugasian dendrimer PAMAM dengan antibodi monoklonal Nimotuzumab sebagai homing device akan menghasilkan suatu sistem pembawa obat yang tertarget pada EGFR sehingga dapat mengurangi efek samping yang tidak diinginkan. Pada penelitian ini, Nimotuzumab diaktivasi dengan NaIO. dengan rasio 1:1, lalu dimurnikan dengan menggunakan ultrafiltrasi sentrifugasi dan dikarakterisasi dengan spektrofotometer UV (Ultra Violet) dan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Hasil aktivasi Nimotuzumab (CHO-Nimotuzumab) dikonjugasikan dengan dendrimer PAMAM G4 dengan rasio mol 1:4, kemudian dimurnikan menggunakan ultrafiltrasi sentrifugasi. Konyugat dendrimer PAMAM G4-Nimotuzumab dikarakterisasi dengan menggunakan spektrofotometer UV, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT), Particle Size Analyzer (PSA) dan elektroforesis gel Sodium· Dodecyl SulphatePolyacrilamide Gel Electrophoresis (SDS) page. Hasil karakterisasi CHO-Nimotuzumab menunjukkan bahwa gugus diol pad a Nimotuzumab telah berhasil dioksidasi menjadi gugus aldehid. Dan hasil karakterisasi konjugat dendrimer PAMAM G4Nimotuzumab menunjukkan bahwa konyugat dendrimer PAMAM G4-Nimotuzumab telah berhasil dibuat dan dimurnikan dengan ukuran partikel rata-rata 12,29 nm. Polyamidoamine dendrimer( PAMAM ) is a globular polymer compound that can be used to carry drugs / compounds to organ, tissue, tumor or cancer. Nimotuzumab  is  a specific  monoclonal  antibody  which  can recognize  the   externa   domain  of   epidermal   growth   factor  receptor ( EGFR).Conjugation of PAMAM dendrimer with Nimotuzumab monoclonal antibody as a homing device will produce a drugs targeted carrier system on EGFRin order to reduce unwanted side effects. In this study, Nimotuzumab was activated with NaIO. with ratio mole of 1:1, which then purified using ultrafiltration centrifugation and characterized by UV (Ultra violet) and Fourier Transform Infra Red(FTIR) spectrophotometer. CHO-Nimotuzumab as a results an  activation of Nimotuzumab, was then conjugated   to G4 PAMAM  dendrimer with  mole  ratio of 1:4 , and  then purified  using  ultrafiltration centrifugation. G4 PAMAM dendrimer - Nimotuzumab conjugates characterized using UV spectrophotometer, High Performance Liquid Chromatography (HPLC) , Particle Size Analyzer (PSA) and Sodium Dodecyl Sulphate Polyacrilamide Gel Electrophoresis (SDS) page gel electrophoresis. Characterization results of CHO-Nimotuzumab indicated that diol groups on Nimotuzumab has been successfully oxidized to aldehyde. Characterization results of the PAMAM dendrimer G4Nimotuzumab conjugate indicated that PAMAM G4 - Nimotuzumab has been successfully synthesized and purified with an average particle size of 12.29 nm.    
RADIOAKTIVITAS JENIS DAN KEMURNIAN RADIONUKLIDA LUTESIUM-177 DIPRODUKSI MENGGUNAKAN REAKTOR G.A. SIWABESSV Awaludin, Rohadi
Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka Vol 18, No 1 (2015): JURNAL PTRR 2015
Publisher : Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1849.249 KB)

Abstract

Lutesiurn-177 banyak dirnanfaatkan dalam pengembangan radiofarmaka yang didasarkan pada karakteristik radionuklida tersebut. Pada proses pembuatan Lu-I77, radioaktivitas jenis dan kemurnian radinuklida yang diperoleh dipengaruhi oleh kelimpahan Lu-176, fluks netron dan lama iradiasi. Pada studi ini dilakukan perhitungan radioaktivitas Lu-l77 dan radionuklida pengotor Lu-l77m dari pada kondisi iradiasi di Reaktor G.A. Siwabessy. Pada perhitungan ini, iradiasi dilakukan di pneumatic rabbit system (PRS) dengan fluks netron 5xlO13 n.s·1.cm·2 dan di central irradiation position (CIP) dengan fluks netron 1,3x1014 n.slcm 2. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa iradiasi di PRS tidak dapat mencapai nilai radioaktivitas jenis minimum yang diharapkan yaitu sebesar 20,0 GBq/mg jika menggunakan lutesium alam. Jikamenggunakan target diperkaya 90%, radioaktivitas jenis minimum terse but dapat dicapai denganiradiasi selama 15 jam. Untuk iradiasi di CIP, radioaktivitas jenis minimum tersebut dapat dicapai dengan iradiasi selama 3 jam dengan menggunakan target diperkaya 90% dan selama 17 hari jika menggunakan lutesium alam. Kandungan radionuklida pengotor Lu-l77m kurang dari 0,1% sampai dengan iradiasi selama 12 hari pada saat akhir iradiasi. Kandungan Lu-177m meningkat dengan cepat setelah iradiasi dihentikan dan mencapai 0,1% setelah peluruhan selama 24 hari. Lutetium-l77 is widely used in the development of therapeutic radiopharmaceutical. It is based on the characteristics of the radionuclide. In the Lu-l77 production, the specific radioactivity and radionuclide purity is affected by the abundance of Lu-176 in target material, neutron flux and length of irradiation time. In this study, calculations of Lu-l77 specific radioactivity and Lu-l77m radionuclide impurities were carried out. In this calculation, neutron flux of 5xl013 n.s·1cm·2 in PRSand and 1,3xI014 n.s·1cm-2 in ClP were used. Calculation results showed that the irradiation of natural lutetium in the PRSresulted in Lu-l77 with specific radioactivity less than of the minimum specific radioactivity of 20.0 GBq/mg. The minimum radioactivity can be obtained by using enriched lutetium (enrichment 90%) for 15 hours of irradiation. Irradiation in ClP resulted in Lu-177 with specific radioactivity higher than 20.0 GBq/mg by 3 hours of irradiation using enriched target and 17 days of irradiation using natural lutetium. Radionuclide impurity of Lu-l77m was less than 0.1% for 12 days of irradiation. However, the percentage of Lu-l77m increased rapidlyafter irradiation and reached 0,1% after 24 days of decay. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5