cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Limbah
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin LIMBAH terdiri dari rubrik atrikel dan info limbah. Rubrik artikel memuat makalah tentang Iptek Limbah meliputi tren teknologi pengolahan limbah serta aspek keselamatan lingkungan. Sedangkan info limbah berisi informasi mutakhir tentang Iptek limbah dari dalam dan luar negeri, serta aktifitas PTLR-BATAN.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013" : 11 Documents clear
KARAKTERISASI GELAS LIMBAH HASIL VITRIFIKASI LIMBAH CAIR TINGKAT TINGGI Aisyah, Aisyah
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KARAKTERISASI GELAS LIMBAH HASIL VITRIFIKASI LIMBAH CAIR TINGKAT TINGGI. Limbah cair tingkat tinggi (LCTT) ditimbulkan dari ekstraksi siklus pertama proses olah ulang bahan bakar bekas reaktor nuklir. Limbah ini banyak mengandung hasil belah dan sedikit aktinida dan vitrifikasi dilakukan dengan gelas borosilikat. Komposisi limbah cair tingkat tinggi dipengaruhi antara lain oleh jenis reaktor, fraksi bakar, pengayaan uranium, daya reaktor spesifik dan lama pendinginan bahan bakar bekas sebelum divitrifikasi. Agar diperoleh karakteristik gelas limbah yang memenuhi persyaratan, bagi setiap komposisi limbah yang berbeda memerlukan komposisi bahan pembentuk gelas serta kandungan limbah yang berbeda pula. Telah dilakukan karakterisasi densitas, koefisien muai panjang dan laju pelindihan gelas limbah hasil vitrifikasi LCTT simulasi. Karakterisasi gelas limbah dilakukan dengan variabel kandungan limbah 19,84; 22,32; 25,27; 26,59 % berat, dan karakterisasi laju pelindihan dengan variabel kandungan SiO2 dan Al2O3 pada bahan pembentuk gelas masing-masing sebesar 44; 45 ; 46,8 % berat dan 1,4; 2,4; 3,4; 3,7 % berat. Sebagai acuan digunakan gelas limbah standar milik Japan Atomic Energy Agency. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa kandungan limbah yang semakin tinggi akan meningkatkan karakteristik densitas dan laju pelindihan gelas limbah, sedangkan karakteristik koefisien muai panjang relatif tidak berubah. Peningkatan kandungan SiO2 maupun Al2O3 akan menurunkan laju pelindihan. Jika dibandingkan dengan gelas limbah standar maka jumlah kandungan limbah dan bahan pembentuk gelas keduanya tidak signifikan mempengaruhi karakteristik densitas, koefisien muai panjang dan laju pelindihan. Kata kunci: Gelas limbah, limbah cair tingkat tinggi, vitrifikasi, gelas borosilikat CHARACTERIZATION of WASTE GLASS FROM PRODUCT of A HIGH LEVEL LIQUID WASTE VITRIFICATION. High level liquid waste (HLLW) is generated from the first step extraction of nuclear fuel reprocessing. This waste contains an amount of fission products and a few actinides, and such waste was vitrified with borosilicate glass. The composition of high-level liquid waste was influenced by the type of reactor, the burn up of fuel, the uranium enrichment, the specific reactor power and the cooling time of the spent fuel before vitrification. In order to obtain the characteristics of the waste glass that meets the requirements, for every composition of different of waste, require the different composition of glass frit and also the different waste loading. Characterization of density, thermal expansion coefficient and leaching rate had been carried out to the simulated waste glass of vitrified HLLW product, such characterization was carried out with a variable of the waste loading of 19.84 ; 22.32 ; 25.27 ; 26.59 wt%, and characterization of leaching rate was carried out with a variables of SiO2 and Al2O3 content of 44 ; 45 ; 46 , 8 wt% and 1.4 ; 2.4 ; 3.4 ; 3.7 wt% respectively. As a reference, the waste glass standard from Japan Atomic Energy Agency was used. The charaterization results showed that the higher the waste loading, the higher the density and leaching rate characteristics of waste glass, while the thermal expansion coefficient characteristic is relatively unchanged. The increasing content of SiO2 and Al2O3 will reduce the leaching rate. Compared to the waste glass standard, both the amount of waste loading and glass frit do not significantly affect the density, thermal expansion coefficient and leaching rate characteristics. Keywords: Waste glass, high level liquid waste, vitrification, borosilicate glass.
EVALUASI BUDAYA KESELAMATAN UNTUK PRIORITISASI PENTINGNYA KARAKTERISTIK/ATRIBUT PADA INSTALASI NUKLIR DENGAN TEKNIK AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS) Situmorang, Johnny
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EVALUASI BUDAYA KESELAMATAN UNTUK PRIORITISASI PENTINGNYA KARAKTERISTIK/ ATRIBUT PADA INSTALASI NUKLIR DENGAN TEKNIK AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS). Telah dilakukan pengembangan evaluasi budaya keselamatan berbasis sistem skor dengan teknik AHP. Teknik AHP digunakan untuk menyusun karakteristik dan atribut budaya keselamatan dalam bentuk susunan hirarki arti pentingnya sedemikian sehingga peningkatan kinerja dapat dilakukan lebih efisien dan efektif. Sesuai dengan hirarki yang diperoleh sistem skor dibentuk melalui pembobotan berdasarkan nilai eigen dalam vektor eigen pada AHP. Sebagai hasil diperoleh tingkat prioritisasi karakteristik dan atau atribut budaya keselamatan pada instalasi nuklir dengan susunan hirarki untuk karakteristik berturut-turut adalah Keselamatan sebagai Nilai, Kepemimpinan, Akuntabilitas. Penggerak, dan Integritas. Sistem skor yang dikembangkan dapat digunakan lebih mudah dan praktis untuk mengetahui tingkat implementasi budaya keselamatan. Berdasarkan data yang dinyatakan signifikan dengan tingkat signifikansi 0,000 dan tingkat keandalan 0,952 diperoleh bahwa instalasi nuklir yang ditinjau telah menyelenggarakan keselamatan dengan implementasi budaya keselamatan pada peringkat C (Skor: 534 s.d. 666) dengan skor 630,07 dan skala Likert 3.830. Ini menunjukkan bahwa instalasi nuklir tersebut mempunyai kinerja keselamatan untuk implementasi budaya keselamatan di bawah yang diekspektasikan walaupun keselamatan sudah menjadi tujuan organisasi. Kata kunci: Kinerja keselamatan, Budaya Keselamatan, Sistem skor, AHP SAFETY CULTURE EVALUATION FOR PRIOTIZATING THE CHARACTERISTICS AND ATTRIBUTES OF ANY NUCLEAR INSTALATION BY AHP TECHNIQUE. Evaluation development has been carried out based on scoring system by AHP technique. AHP technique is used to arrange the characteristics and or attributes of safety culture within the hierarchical importance measures such that improvement of safety culture implementation can be performed efficiently and effectively. Based on the obtained hierarchycal arrangements, scoring system has been developed by weighting the characteristics and or attributes of safety culture based on eigen value of eigen vector within AHP. Study is conducted by surveying with questionary technique in an nuclear installation. Based on collected data which had been test, it is significant with the significance level 0000 and reliability level 0.982 the hierarchycal priority appropriately are Safety as Value, Leaderships, Accuntability, Driving, Integration gave and also established that safety culture implementation in that nuclear installation lie on Level C (Scores: 534 us to 666) with scores is 630.07 and 3.830 Likert scal. Its meant that that safety performance for safety culture implementation is not reached the expectation yet eventhought the safety has established as a goal. Keywords: Safety Performance, Safety Culture, Scoring System, AHP
BIOAKUMULASI 137CS OLEH SIPUT AIR TAWAR (PILA AMPULLACEA) MELALUI JALUR AIR: PENGARUH pH PERAIRAN DAN UKURAN BIOTA TERHADAP BIOKINETIKA 137CS Suseno, Henny
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BIOAKUMULASI 137Cs OLEH SIPUT AIR TAWAR (Pila ampullacea) MELALUI JALUR AIR:PENGARUH pH PERAIRAN DAN UKURAN BIOTA TERHADAP BIOKINETIKA 137Cs. Siput airtawar telah diketahui kemampuan adaptasinya terhadap perubahan lingkungan sehingga dapatdigunakan sebagai bioindikator 137Cs dalam kegiatan pemantauan lingkungan akuatik disekitarfasilitas nuklir. Untuk menetapkan biota ini sebagai bioindikator, telah dilakukan eksperimenbioakumulasi di akuarium menggunakan pendekatan biokinetik kompartemen tunggal. Hasileksperimen menunjukkan nilai Faktor Bioakumulasi (BCF) pada biota ini menunjukkankemampuan akumulasinya 13,2 – 27,6 ml.g-1. Secara keseluruhan kemampuan Pila ampullaceamengakumulasi 137Cs dipengaruhi oleh ukuran biota dan tidak dipengaruhi oleh pH medium air.Kata kunci: Bioakumulasi, biokinetik, 137Cs, Pila ampullaceaABSTRACTBIOACCUMULATION OF 137Cs BY FRESH WATER SNAIL (Pila ampullacea) FROM WATERPATHWAY: THE INFLUENCES OF pH WATER AND BIOTA SIZE TO BIOKINETIC OF 137Cs.Freshwater snails have been known its ability to adapt environmental changes so can be used asbio-indicators as 137Cs in aquatic for environmental monitoring around nuclear facilities. Todetermine this biota as a bioindicator organisms, bioaccumulation experiments have been carriedout in the aquariums using a single compartment biokinetic approach. The experimental resultsshow the value of bioaccumulation Factors (BCF) on these species has been demonstrate thebioaccumulation ability were 13.2 to 27.6 ml.g-1. Pila ampullacea overall ability to accumulate 137Csbiota were be affected by the size and were not be influenced by the pH of the water medium.Key word: Bioakumulasi, biokinetik, 137Cs, Pila ampullaceaPENDAHULUANOperasional fasilitas nuklir seperti reaktor riset dan laboratorium pendukungnya
INTERAKSI RADIOSTRONSIUM DENGAN TANAH CALON TAPAK FASILITAS DEMO DISPOSAL DI SERPONG Mila, Oktri; Setiawan2*, Budi Safni1; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

INTERAKSI RADIOSTRONSIUM DENGAN TANAH CALON TAPAK FASILITAS DEMO DISPOSAL DI SERPONG. Interaksi radiostronsium (Sr-90) dengan tanah calon tapak untuk fasilitas demo disposal yang akan dibangun di Serpong dalam waktu dekat telah dilakukan. Kegiatan ini untuk mengantisipasi kemungkinan penuhnya fasilitas penyimpanan sementara yang ada di Kawasan Nuklir Serpong, dan sekaligus untuk menunjukkan ke masyarakat bagaimana limbah radioaktif dapat dikelola dengan baik dengan teknologi yang ada. Untuk meyakinkan bahwa lokasi tersebut aman, studi keandalan dari tanah calon tapak menjadi sangat penting untuk dilakukan melalui serangkaian percobaan dengan menggunakan parameter-parameter yang berpengaruh seperti waktu kontak, pengaruh kekuatan ionik dan konsentrasi Sr2+ di larutan. Radiostronsium digunakan sebagai perunut dalam percobaan ini dan berperan sebagai radionuklida acuan pada penelitian limbah radioaktif level rendah karena waktu paronya yang panjang dan sangat mudah berasosiasi dengan organisme yang ada di alam. Sehingga interaksi radiostronsium dan sampel tanah menjadi penting untuk dipelajari. Percobaan dilakukan secara catu, dan sampel tanah-larutan yang mengandung radionuklida dicampur dalam vial PE 20 ml. Ratio padat:cair adalah 10-2 g/ml, dengan tujuan mengumpulkan data karakter spesifik radionuklida terserap ke tanah calon tapak. Koefisien distribusi digunakan sebagai indikator dimana akan dibandingkan antara banyaknya aktivitas awal dan akhir radiostronsium di larutan. Hasilnya menunjukkan bahwa kondisi kesetimbangan dicapai setelah kontak 10 hari dengan nilai Kd berkisar antara 1600-2350 ml/g. Penambahan kekuatan ionic larutan menyebabkan nilai Kd menjadi berkurang karena adanya kompetisi antara garam latar dengan radiostronsium ke sampel tanah, dan meningkatnya Sr di larutan membuat menurun nilai Kd di sampel tanah karena terbatasnya kapasitas sorpsi dari sampel tanah. Cepatnya kondisi jenuh ion logam di sampel tanah tercapai karena terjadinya reaksi sederhana. Kata kunci : Tanah calon tapak, radiostronsium, sorpsi INTERACTION OF Sr-90 WITH SITE CANDIDATE SOIL FOR DEMONSTRATION DISPOSAL FACILITY AT SERPONG. Interaction of radiostrontium (Sr-90) with site candidate soil for demonstration disposal facility to be constructed in the near future at Serpong has been done. This activity is to anticipate the interim storage facility at Serpong nuclear area becomes full off condition, and show to the public how radioactive waste can be well managed with the existing technology. To ensure that the location is save, a reliability study of site candidate soil becomes very importance to be conducted through some experiments consisted some affected parameters such as contact time, effect of ionic strength, and effect of Sr+ ion in solution. Radiostrontium was used as a tracer on the experiments and has role as radionuclide reference in low-level radioactive waste due to its long half-live and it’s easy to associate with organism in nature. So, interaction of radiostrontium and soil samples from site becomes important to be studied. Experiment was performed in batch method, and soil sample-solution containing radionuclide was mixed in a 20 ml of PE vial. Ratio of solid: liquid was 10-2 g/ml. Objective of the experiment is to collect the specific characteristics data of radionuclide sorption onto soil from site candidate. Distribution coefficient value was used as indicator where the amount of initial and final activities of radiostrontium in solution was compared. Result showed that equilibrium condition was reached after contact time 10 days with Kd values ranged from 1600-2350 ml/g. Increased in ionic strength in solution made decreased of Kd value into soil sample due to competition of background salt and radiostrontium *) Correspondence Author
STUDI BIOAKUMULASI METIL MERKURI PADA PERNA VIRIDIS DAN ANADARA INDICA MENGGUNAKAN RADIOTRACER Budiawan, Budiawan
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

STUDI BIOAKUMULASI METIL MERKURI PADA PERNA VIRIDIS DAN ANADARA INDICA MENGGUNAKAN RADIOTRACER. Pencemaran perairan merupakan masalah kompleks yang belum terpecahkan, salah satunya adalah pencemaran perairan oleh CH3Hg+. Pencemaran tersebut membahayakan Perna viridis dan Anadara indica yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Oleh karena itu, dilakukan suatu simulasi pencemaran CH3Hg+ melalui jalur air dan jalur pakan sehingga didapatkan pemodelan bioakumulasi CH3Hg+ pada Perna viridis dan Anadara indica. Untuk keperluan analisa bioakumulasi CH3Hg+ digunakan perunut radioaktif CH3 203Hg+ yang digunakan sebagai alat untuk mendeteksi adanya konsentrasi CH3Hg+ dalam perairan. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan nilai faktor konsentrasi (CF) pada Perna viridis besar berkisar antara 1122,098 hingga 3850,828. Nilai faktor konsentrasi (CF) pada Perna viridis kecil berkisar antara 3495,316 hingga 4737,34. Nilai faktor konsentrasi (CF) pada Anadara indica besar berkisar antara 3474,513 hingga 8998,277. Nilai faktor konsentrasi (CF) pada Anadara indica kecil berkisar antara 7899,7 hingga 8670,17. Nilai faktor konsentrasi tersebut didapatkan setelah kekerangan terpapar CH3Hg+ selama 12 hari. Kata Kunci: Perna viridis, Anadara indica, bioakumulasi, metil merkuri, depurasi, efisiensi asimilasi, dissection, spektrometer gamma, radiotracer, ketahanan pangan STUDY OF METHYL MERCURY BIOACCUMULATION IN PERNA VIRIDIS AND ANADARA INDICA USING A RADIOTRACER. Water pollution is a complex problem which has not been solved yet,for instance is water pollution by CH3Hg+. Pollution can endanger Perna viridis and Anadara indica that are widely consumed by humans. Therefore, in this research was made a simulation of CH3Hg+ pollution through the water and feed so that it results the modell of CH3Hg+ bioaccumulation in Perna viridis and Anadara indica. CH3 203Hg+ as a radioactive tracer is used as a tool to detect the concentration of CH3Hg+ in the waters. Based on the results of the study, the value of concentration factor (CF) in a big Perna viridis is ranged from 1122,098 to 3850,828. The value of concentration factor (CF) in a small Perna viridis is ranged from 3495,316 to 4737,34. The value of concentration factor (CF) in a big Anadara indica is ranged from 3474,513 to 8998,277. The value of Concentration Factor (CF) in a small Anadara indica is ranged from 7899,7 to 8670,17. These concentration factor are obtained after exposuring of CH3Hg+ until 12 days. Keywords: Perna viridis, Anadara indica, bioaccumulation, methyl mercury, depuration, assimilation efficiency, dissection, gamma spectrometer, radiotracer, food intake
PENGUKURAN CTD DI PERAIRAN LAUT INDONESIA BAGIAN TIMUR DALAM RANGKA MEMPREDIKSI MASUKNYA RADIONUKLIDA KE PERAIRAN LAUT NUSANTARA Wahyono, Ikhsan Budi
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

PENGUKURAN CTD DI PERAIRAN LAUT INDONESIA BAGIAN TIMUR DALAM RANGKA MEMPREDIKSI MASUKNYA RADIONUKLIDA KE PERAIRAN LAUT NUSANTARA. Telah dilakukan penelitian terkait dengan fenomena oceanografi yang berpotensi dapat digunakan sebagai informasi tambahan mengenai sebaran radionuklida di periran laut Indonesia. Pada penelitian ini dilakukan juga pengambilan data secara insitu yaitu suhu, salinitas dan data lain menggunakan CTD (conductivity, Temperature, Density). Data CTD (Conductivity Temperature Density) pada saat pengambilan sampel, didapat data kedalaman, salinitas, suhu, dan densitas. Selanjutnya data tersebut diolah dengan menggunakan software ODV (Ocean Data View) sehingga dapat dilihat perubahan suhu dan salinitas setiap bertambahnya kedalaman. Kandungan 137Cs juga diamati dalam air permukaan. Pengukuran radionuklida 137Cs di seluruh lokasi penelitian menunjukkan konsenterasi rerata sebesar 0,22 mBq.l-1. Masuknya radionuklida 137Cs di perairan Indonesia Timur, salah satunya terjadi karena faktor arus laut dan sifat dari 137Cs yang mudah larut dan mudah tersebarkan. Hal ini terjadi karena massa air yang bergerak sebagai arus membawa radionuklida 137Cs yang berasal dari samudera Pasifik ke perairan Indonesia Timur. Berdasarkan hasil pengamatan CTD diseluruh lokasi merupakan perairan dalam dengan kedalaman lapisan termoklin berada di kedalaman 200 sampai 250 m dibawah permukaan laut. Kata kunci: CTD, Perairan laut Indonesia, radionuklida CTD MEASUREMENTS OF SEA WATER IN THE EASTERN INDONESIA IN ORDER TO PREDICT ENTRY RADIONUCLIDES TO NUSANTARA MARINE WATERS. The research related to oceanographic phenomena that could potentially be used as additional information on the distribution of radionuclides in the sea of marine Indonesia Has been conducted. In this research, we perfomanced insitu data collection ie temperature, salinity and other data using a CTD (conductivity , Temperature , Density ). Furthermore, the data is processed by using the software ODV ( Ocean Data View ) in order to see any changes in temperature and salinity increasing depth. The content of 137Cs was also observed in the surface water. Measurements of radionuclide 137Cs in all locations of the study showed a mean of 0.22 mBq.l The entry of radionuclide 137Cs in the waters of eastern Indonesia, occurred because of ocean currents and properties of soluble 137Cs and easy to distributed . This happens because the mass of water moving as a current carrying radionuclides 137Cs originating from the Pacific Ocean to the East Indonesian waters . Based on observations CTD locations throughout a depth of water in the thermocline layer at a depth of 200 to 250 m below sea level . Keywords: CTD, Indonesia marine waters, radionuclides PENDAHULUAN Indonesia adalah Negara kelautan yang besar dan menurut deklarasi Djuanda pada tah
ASPEK EKONOMI PENGOLAHAN KONSENTRAT DESALINASI NUKLIR Alimah, Siti; Dewita, Erlan
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

ASPEK EKONOMI PENGOLAHAN KONSENTRAT DESALINASI NUKLIR. Proses desalinasi nuklir menimbulkan limbah berupa konsentrat dengan kandungan garam tinggi, yang jika dibuang langsung ke laut berpotensi mempengaruhi komponen-komponen ekosistem laut. Konsep ZDD (Zero Discharge Desalination) merupakan salah satu konsep untuk mengolah konsentrat dengan tujuan meminimalkan dampak lingkungan dan menghasilkan produk yang bernilai komersial. Hasil studi pengolahan konsentrat desalinasi dengan konsep ZDD menggunakan bahan baku air laut pulau Bangka, diperoleh produk komersial yaitu garam farmasi sebagai produk utama, dengan produk samping cake BaSO4, Mg(OH)2, CaCO3 dan BaCO3. Selain aspek teknologi, aspek ekonomi juga perlu dipertimbangkan untuk mengetahui kelayakan secara ekonomi. Faktor-faktor yang perlu ditinjau dalam analisis ekonomi diantaranya Return of Investment (ROI), Pay Out Time (POT) dan Break Event Point (BEP). Hasil analisis ekonomi diperoleh ROI sebelum pajak 29,69 %, POT sebelum pajak 2,52 tahun dan BEP 48,69 % dari kapasitas produksi. Hal ini berarti memenuhi persyaratan ROI pabrik farmasi (ROI >24 %), persyaratan POT pabrik farmasi adalah <3 tahun dan persyaratan BEP untuk industri kimia adalah 40-60 %. Dari aspek ekonomi, instalasi pengolahan konsentrat desalinasi nuklir dengan konsep ZDD untuk produksi garam farmasi cukup layak untuk dikaji lebih lanjut. Kata kunci: aspek ekonomi, konsentrat desalinasi nuklir, ZDD, garam farmasi. ECONOMIC ANALYSIS FOR TREATMENT OF NUCLEAR DESALINATION CONCENTRATE. Nuclear desalination process generate waste in the form of concentrate with the high salt, which if it is directly discharged into the sea potentially affecting the components of marine ecosystem. ZDD (zero Discharge Desalination) concept is one concept to process concentrate to minimalizing environmental impact to produce the commercial products. The study results of desalination concentrate treatment by using ZDD concept with sea water of Bangka Island as raw material obtains commercial products such as the pharmacy salt as the main product and cakes BaSO4, Mg(OH)2, CaCO3 and BaCO3 as by products. Besides of technology aspect, economic aspect need to be considered to understand economical feasibility. Factors that need to be reviewed in the economic analysis are Return of Investment (ROI), Pay Out Time (POT) and Break Event Point (BEP). Economic analysis result shows that the ROI before tax is 29,69 %, POT before tax is 2,52 years and BE P is 48,69 % of production capacity. This means that meets ROI requirement for pharmacy factory ( ROI > 24 %), POT requirement for pharmacy factory is < 3 years and BEP requirement for chemical industry is 40-60 %. The economic aspect shows that desalination concentrat treatment instalation by using ZDD concept for pharmacy salt production is feasible to be further assessed. Keywords: economy aspect, nuclear desalination concentrate, ZDD, pharmaceutical salt
PEMANTAUAN RADIONUKLIDA ANTROPOGENIK DI KAWASAN PESISIR PANTAI SUMATERA BARAT Akhyar, Okviyoandra; Suseno, Heny; Safni, Safni
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

PEMANTAUAN RADIONUKLIDA ANTROPOGENIK DI KAWASAN PESISIR PANTAI SUMATERA BARAT. Telah dilakukan analisis kandungan radionuklida antropogenik pada sampel lingkungan di kawasan pesisir pantai Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan salah satu base line data yang dapat digunakan sebagai data acuan kontaminasi yang disebabkan oleh limbah radioaktif di masa mendatang. Analisis dilakukan pada air laut, sedimen dan ikan sebagai representasi kandungan radionuklida antropogenik yang terdeposit pada ekologi pantai Sumatera Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa kawasan pesisir pantai Sumatera Barat mendeposit sejumlah kecil radionuklida antropogenik 137Cs dan 239Pu. Terdeteksinya aktivitas radionuklida antropogenik di titik penyamplingan mengindikasikan bahwa meskipun belum adanya aktivitas nuklir, wilayah laut Indonesia berpotensi tercemari limbah radioaktif yang berasal dari Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Kata kunci: radionuklida antropogenik, base line, air laut, sedimen, ikan MONITORING OF ANTROPHOGENIC RADIONUCLIDES IN WEST SUMATERA SHORELINE. Analyzed of antrophogenic radionuclides from environment samples in West Sumatera Shoreline have been investigated. The purpose of the research in order to collect data used for base line of contaminant level caused by nuclear waste in the future. Monitoring radionuclides concerned about determine concentration of 137Cs dan 239Pu in sea water, sediment and fish as representation of radionuclide contained in West Sumatera Shoreline. Small amount concentration of radionuclides have been detected which explain that even no data reports about nuclear activities, Indonesian sea potentially contaminated by Pasific and Hindia Ocean released Keywords : antrophogenic radionuclides, base line, sea water, sediment, fish PENDAHULUAN Provinsi Sumatera Barat memiliki luas wilayah 42.297,30 km2 dengan be
KOMBINASI BIOSORBEN SARGASSUM DAN ARANG SEKAM PADI UNTUK LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK: EFISIENSI PENGGUNAAN AIR PADA INDUSTRI BATIK DENGAN STRATEGI REGENERASI AIR LIMBAH Arifa, Haikal Sofyan; Wardana, Luthfi Dwi; Budiartib, Gita Indah
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

KOMBINASI BIOSORBEN SARGASSUM DAN ARANG SEKAM PADI UNTUK LIMBAH CAIR INDUSTRI BATIK: EFISIENSI PENGGUNAAN AIR PADA INDUSTRI BATIK DENGAN STRATEGI REGENERASI AIR LIMBAH. Pengadaan air bersih yang semakin susah memaksa industri batik untuk melakukan efisiensi sebanyak mungkin terhadap penggunaan air bersih. Pada beberapa penelitian telah dilaporkan terjadi inefisiensi penggunaan air pada proses pewarnaan batik dan dapat menghabiskan rata-rata 70 liter air untuk 10 meter kain. Tidak hanya masalah efisiensi penggunaan air, proses pewarnaan batik juga menghasilkan limbah cair yang dapat merusak lingkungan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan uji penanganan limbah cair industri batik menggunakan biosorben Sargassum dan arang sekam padi. Parameter yang dianalisis adalah nilai intensitas warna, COD dan cemaran logam (Pb dan Cu). Sampel limbah diambil dari 3 industri batik yang berbeda (batik A dari Solo, batik B dari Sragen dan batik C dari Sukoharjo). Hasil analisis warna menunjukan bahwa kombinasi biosorben Sargassum dan arang sekam padi tidak dapat menurunkan intensitas warna limbah. Hasil analisis COD menunjukan penurunan yang tinggi pada sampel limbah batik C dengan penurunan sebesar 88,1% sedangkan nilai penurunan COD sampel limbah batik A dan B berturut-turut adalah 0,306%, 1,468%. Cemaran logam dalam limbah dapat diturunkan dengan perlakuan kombinasi biosorben Sargassum dan arang sekam padi dengan nilai penurunan sebesar 65,12% (batik B) dan 73,68% (batik C) untuk parameter Pb sedangkan parameter Cu sebesar 98,46% (batik B). Kata kunci: Sargassum, Arang sekam padi, COD, Pb, Cu. BIOSORBEN COMBINATION OF SARGASSUM AND RICE HUSK CHARCOAL FOR LIQUID WASTE BATIK INDUSTRIES: WATER USE EFFICIENCY IN INDUSTRY WITH WASTE WATER REGENERATION STRATEGY. Supply of clean water is increasingly difficult, in fact batik industry due improve efficiency as much as possible of water using for dyeing. In some studies have reported inefficient use of water in the dyeing process of batik and can spend an average of 70 liters water for 10 meters fabric. Not just a matter water efficient problems, batik dyeing process also produces waste that can damage the environment. Therefore, this study tested the batik industry wastewater treatment using biosorben Sargassum and rice husk. The parameters analyzed were color intensity values, COD and metal contamination (Pb and Cu). Waste samples taken from three different batik industry (batik A from Solo, B from Sragen and C from Sukoharjo). Color analysis results showed that the combination biosorben Sargassum and rice husk charcoal can not reduce color intensity waste. COD analysis results showed a high decrease in the waste samples C batik with a decrease of 88.1% while the value of COD reduction in waste samples batik A and B respectively 0.306%, 1.468%. Metal contamination in the waste can be reduced by treatment with a combination of biosorben Sargassum and rice husk charcoal with a value of decrease; 65.12% ( batik B) and 73.68% (batik C) for Pb parameter, while the parameter of Cu decrease until 98.46% (batik B ). Keywords: Sargassum, Rice Husk, COD, Pb, Cu
PENENTUAN NILAI KOEFISIEN DISTRIBUSI (Kd) 239,240PU PADA PERAIRAN LAUT BANGKA SELATAN Makmur, Murdahayu
Buletin Limbah Vol 16, No 1 (2013): Vol. 16 No.1 Tahun 2013
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.976 KB)

Abstract

PENENTUAN NILAI KOEFISIEN DISTRIBUSI (Kd) 239,240PU PADA PERAIRAN BANGKA SELATAN. Penentuan nilai koefisien distribusi 239,240Pu di perairan Bangka Selatan dilakukan pada tahun 2013 untuk 6 titik sampel. Preparasi sampel dilakukan berdasarkan metoda kopresipitasi yang dimodifikasi untuk analisis air laut untuk preparasi plutonium dari sejumlah besar air laut. Sedangkan untuk preparasi sedimen dilakukan dengan metoda digesi total menggunakan microwave. Aktivitas plutonium pada air laut permukaan tidak terlalu tinggi berkisar dari 2,027x10-4 Bq/l sampai 8,613x10-4 Bq/l dengan nilai rata rata pada 4,69x10-4 Bq/l Aktivitas plutonium pada sedimen yang diambil pada titik yang sama berkisar antara 2,17x10-3 Bq/kg sampai dengan 5,174x10-2 Bq/kg dengan nilai rata rata sebesar 1,32x10-2 Bq/kg. Aktivitas plutonium di sedimen ini tidak berbeda nyata dengan aktivitas plutonium dalam sedimen pada lokasi yang sama yang diukur pada tahun 2011 yaitu berkisar antara 1,49x10-2 Bq/kg sampai dengan 2,045x10-2 Bq/kg. Sedangkan nilai koefisien distribusi Kd berkisar dari 10,7 l/kg sampai dengan 71,2 l/kg. Nilai Kd diperlukan dalam memodelkan perpindahan radionuklida antar kompartemen yang secara tidak langsung akan memberikan risiko terhadap masyarakat. Kata Kunci: Koefisien Distribusi, 239,240Pu, Bangka Selatan, air laut, sedimen DETERMINATION OF THE DISTRIBUTION COEFFICIENT VALUE (Kd) OF 239,240PU IN SEA WATERS SOUTH BANGKA. Determination of distribution coefficient (Kd) of 239,240Pu in the South Bangka Sea was done in 2013 for 6 sample points. Sample preparation was performed by a modified co precipitation method for the analysis of sea water for large volume water sample for plutonium. As for plutonium analysis from sediment sample was carried out by microwave total digestion method. Activity of plutonium in surface sea water is not very high ranging from 2.027 x10-4 Bq/l to 8.613 x10-4 Bq/l with an average value on 4.69 x10-4 Bq/l. Plutonium activity in sediment taken at the same point range between 2.17 x10-3 Bq/kg to 5.174 x10-2 Bq/kg with an average value of 1.32 x10-2 Bq/kg. Plutonium activity in the sediment is not significantly different from the activity of plutonium in the sediments at the same location as measured in 2011 that ranged between 1.49 x10-2 Bq/kg up to 2.045 x10-2 Bq/kg. While the distribution coefficient (Kd) values ranged from 10.7 l/kg up to 71.2 l/kg. Kd value required in modeling the transfer of radionuclides between compartments which will indirectly pose risks to the public. Keywords: Coefficient distribution, 239,240Pu, South Bangka, sea water, sediment

Page 1 of 2 | Total Record : 11