Buletin Limbah
ISSN : -     EISSN : -
Buletin LIMBAH terdiri dari rubrik atrikel dan info limbah. Rubrik artikel memuat makalah tentang Iptek Limbah meliputi tren teknologi pengolahan limbah serta aspek keselamatan lingkungan. Sedangkan info limbah berisi informasi mutakhir tentang Iptek limbah dari dalam dan luar negeri, serta aktifitas PTLR-BATAN.
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE" : 6 Documents clear
ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE Cahyana, Chevy
Buletin Limbah Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Radioactive effluent that released to environment may influence the population externally and internally. In order to protect population from the impact of radiation hazard, environmental radionuclide concentration must be monitored periodically. Analysis of radionuclide in surface soil sample is one of the environmental radionuclide monitoring programs task. Analyze of radionuclide that contain in surface soil sample from Higashi Ishikawa sampling point have been done. The analysis results show insignificant difference compared with theoretical estimations and the average of JAEA’s previous data. Radioactive effluent may be discharge to either the atmospheric or the aquatic environment. Radionuclide discharged to the atmosphere is dispersed due to normal atmospheric mixing processes. As they travel downwind, they irradiate the population externally and internally, the latter due to the inhalation of radionuclide from atmosphere. During their transport downwind radionuclide may be deposited from the atmosphere by impaction with the underlying surface or due to rain fall. This transfer onto land surface may lead to further irradiation of people by three important routes: external irradiation from deposited activity, internal irradiation from inhalation of re-suspended activity and ingestion of contaminated food. Liquid radioactive effluent may be discharged to fresh water (principally rivers), estuaries or marine environment. Radionuclide discharged to river is dispersed due to general water movement and sedimentation processes. The principal routes leading to the irradiation of people are external irradiation from sediment and internal irradiation due to ingestion of drinking water and food derived from the river, water used for irrigation of crops and pasture [1]. Man-made radionuclide was released into the environment trough nuclear weapons testing during the 1950’s and 1960’s mainly. The maximum annual deposition of 90Sr and 137Cs were recorded in 1963. After that the deposition of radionuclide from atmosphere decreased, however, most radionuclide that were deposit on land has been retained in surface soil layers. Obtaining the migration rates of radionuclide in the surface soils layer and the transfer factor of the radionuclide from soils to the crops are very important for radiation dose estimation [2]. Environment and peoples must be protected from the impact of radiation hazard. For this reason, environmental radionuclide concentration must be monitored periodically. Radionuclide that contained in atmosphere, surface soil, river water, food stuff, seawater, etc. can be known by some analytical methods and procedures. Sampling for surface soils and food stuffs (leafy vegetables, polished rice and milk) were done at observation area and reference area. Observation area is monitoring area under five kilometers radius from JAEA nuclear facilities. Reference area is area outside of observation area that monitored in order to take comparing data. Sampling for near shore seawater was done at four sampling points. Two sampling points are located at north from JAEA, i.e. Kujihama (6.5 km) and Toyoura (23 km). Two others sampling points are located at south from JAEA, i.e. Ajigaura (6.5 km) and Otake (27.5 km). Sampling for offshore seawater and seabed sediment were done using Seikai monitoring ship. Seafood stuff is bought from fisherman. On this paper, discussion is limited on analysis of radionuclide in surface soil sample from Higashi Ishikawa sampling point. Surface soil sample from Higashi Ishikawa sampling point have been analyzed. There are three analytical methods for analysis of radionuclide in surface soil sample, i.e. gamma spectrometry analysis for 137Cs, oxalate precipitation for 90Sr analysis and ion exchange for 239,240Pu analysis. The analysis results are compared with JAEA’s previous data and also compared with theoretical estimation using data from UNSCEAR 2000 REPORT [3].
PERBANDINGAN METODA ANALITIK Cs-137 DALAM CONTOH AIR LINGKUNGAN Sudiyati, Sudiyati
Buletin Limbah Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERBANDINGAN METODA ANALITIK Cs-137 DALAM CONTOH AIR LINGKUNGAN. Telah dipelajari perbandingan metoda analitik Cs-137 dalam contoh air lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk memilih suatu metoda analisis Cs-137 dalam contoh air yang mempunyai akurasi dan presisi tinggi. Ada tiga macam metoda pengendapan yang akan dibandingkan, yaitu pengendapan dengan menggunakan: K4Fe(CN)6 (Kalium Ferro Cianida), AMP: (NH4)3PO4.12MoO3.H2O (Amonium Phospo Molibdat), dan H2C2O4 (Asam Oksalat), dengan parameter perubahan adalah variasi pH dan variasi konsentrasi bahan pengendap. Dari percobaan diperoleh hasil bahwa dengan menggunakan ion Ferro Sianida dan ion Phospo Molibdat 97,7% Cs-137 dapat terekoveri pada kondisi pH 9, sedangkan bila digunakan ion oksalat Cs-137 akan terekoveri 64,06 % pada kondisi pH 4,5. Dengan demikian metoda pengendapan dengan ion Ferro Sianida dan ion Phospo Molibdat baik untuk analisis Cs-137 dalam contoh air lingkungan. COMPARATIVE OF ANALYZING METHODS OF Cs-137 IN ENVIRONMENTS WATER SAMPLES. The analyzing method of the Cs-137 in environments water samples has been studied comparatively. The am of this research is to determine on analyzing methode of Cs-137 in enveronment water samples which have a high accuracy and precision result. Three kinds of precipitated method have been compared on various pH conditions and various concetration of precipitated substances concentration of such as K4Fe(CN)6 (Potasium Ferro Cianida), AMP: (NH4)3PO4.12MoO3.H2O (Amonium Phospo Molibdat), and H2C2O4 (oxalic acid). The result of the experiment showed that by using cianide and AMP substance, 97,7 % at Cs-137 precipitated at pH 9 that Cs-137 was highly precipitated with 97.7 % recovery on pH 9. When the oxalic acid was use 64.06 % at Cs-137 precipitated at pH 4,5. So precipitateien method by using cianide and phospo molibdate can be used for Cs-137 analyzing at ervironment water samples.
PENGOLAHAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN Rahayu, Dyah Sulistyani
Buletin Limbah Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hazardous waste menjadi perhatian sekitar tahun 1970 sejak sebuah lembaga studi nasional di Amerika Serikat melakukan kajian secara intensif, dan menjadi sebuah tren pada pertengahan 1970-an yang diprakarsai oleh badan legislatif Amerika Serikat yang berinisiatif mengaturnya. Sebelum itu nama hazardous waste dikenal dengan limbah industri atau limbah kimia. Badan Perlindungan Lingkungan AS (Enviromental Protection Agency EPA) memerlukan waktu hampir 4 tahun untuk mengkajinya sejak diterbitkan peraturan pertama tentang hazardous waste pada tahun 1976, dan mengumumkan peraturan tentang istilah hazardous waste. EPA mengkarakteristikannya dalam 4 katagori , yaitu limbah mudah terbakar, korosi, reaktif, dan beracun [1]. Di Indonesia hazardous waste diterjemahkan dengan limbah B3. Limbah B3 menurut Peraturan Pemerintah no 74 tahun 2001 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan lingkungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan limbah B3 menurut jenisnya adalah limbah B3 tidak spesifik yaitu limbah yang umumnya bukan berasal dari proses utama, misalnya pada kegiatan pemeliharaan alat, sumber spesifik, dan bahan kimia kadaluarsa.
PERANCANGAN PEMBUATAN ALAT PENGANGKAT DRUM LIMBAH RADIOAKTIF RADIASI TINGGI Sagino, Sagino
Buletin Limbah Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENGANGKAT DRUM LIMBAH RADIOAKTIF RADIASI TINGGI. Rancangan alat pengangkat drum 60 liter dari bahan stainless steel di maksudkan untuk mengangkat atau memindahkan kemasan limbah dalam 60 liter/100liter. Alat pengangkat drum ini terletak di atas tutup drum sebelum drum dimasukan ke dalam transfer cask. Kemudian diangkut dengan Forklift dari penimbul limbah menuju PTLR untuk menunggu proses. Selanjutnya dimasukan kedalam sumuran sedalam 4 meter tempat Penyimpanan Sementara Limbah Radioaktif Aktivitas Tinggi (PSLAT). Dalam gedung penyimpanan ini alat pengangkat drum berfungsi untuk menurunkan limbah radioaktif radiasi tinggi dalam drum 60 liter/100 liter ke dalam sumuran gedung PSLAT sampai ke dalam 4 meter dan diatur sampai 6 susun. Alat ini dirancang untuk mengangkat drum limbah dengan kapasitas 60 kg. Crane digunakan untuk alat menaikan dan menurunkan paket limbah teersebut. DESIGN AND MANUFACTURE HIGH LEVEL WASTE GRIP DRUM. Grip drum for 60 liter SS drum has been applied to lift place 60/100 liter into waste package drum. This grip drum would attached on drum life before the drum placed in transfer cask. After that transfer cask tranforted by forklift from waste generate to waste management for HWL interim storage. In this storage the grip have function to leave 60/100 liter waste package in 4 m deep drum. In desaining this have 60 kg capacity and coud lifting and lovering waste into transfer cask also at the weel storage with assited by the crane. The grip drum contruction was made by thin of metal sheet.
PENCEMARAN UDARA Simandjuntak, Agus Gindo
Buletin Limbah Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pencemaran udara disebabkan oleh sumber bergerak dan sumber tidak bergerak yang meliputi sektor transportasi, industri, dan domestik. Faktor lainnya yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap terjadinya pencemaran udara adalah pertumbuhan penduduk, laju urbanisasi. yang tinggi, pengembangan tataruang yang tidak seimbang dan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat mengenai pencemaran udara. Pencemaran udara merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang serius di Indonesia saat ini, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan peningkatan ekonomi transportasi. Dalam tulisan ini diuraikan mengenai jenis pencemaran udara, dampak negatif dan uapaya penaggulangannya. Diperlukan kesadaran masyarakat akan pembatasan penggunaan kendaraan pribadi dan didukung dengan penyediaan angkutan massal yang baik dan nyaman oleh pemerintah akan menciptakan lingkungan udara yang sehat bagi manusia Indonesia.
BEBERAPA ASPEK PENTING PADA STUDI MIGRASI RADIONUKLIDA KE LINGKUNGAN Setiawan, Budi
Buletin Limbah Vol 11, No 1 (2007): ANALYSIS OF RADIONUCLIDE IN SURFACE SOIL SAMPLE
Publisher : Buletin Limbah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyimpanan limbah radioaktif secara umum dikonotasikan sebagai penempatan paket-paket limbah pada suatu badan batuan, dimana hal ini akan memberikan implikasi adanya kemungkinan berpindahnya radionuklida dari fasilitas penyimpanan ke lingkungan. Untuk itu disekeliling fasilitas penyimpanan diberi suatu sistem penghalang yang berlapis. Adanya sistem penghalang berlapis disekeliling paket limbah dimaksudkan untuk meminimalkan adanya kemungkinan berpindahnya radionuklida dari fasilitas penyimpanan ke lingkungan. Keberhasilan suatu sistem penyimpanan limbah untuk menahan besarnya potensi radionuklida berpindah ke lingkungan merupakan concern dari sistem tersebut. Perpindahan radionuklida ke lingkungan merupakan sesuatu yang tidak diharapkan karena akan menciptakan potensi bahaya bagi lingkungan dan pada khususnya ke manusia. Suatu sistem penghalang dibuat sebagai media untuk mentransformasikan beragam radionuklida untuk meluruh ke bentuk yang lebih stabil sebelum radionuklida tersebut dapat mencapai lingkungan hidup sekitarnya. Amerika yang kebijakan dan teknologi penyimpanan limbah radioaktifnya telah lebih mapan mencontohkan bahwa pengaturan suatu potential site untuk kegunaan penyimpanan limbah radioaktif akan didasarkan pada [1] :

Page 1 of 1 | Total Record : 6