cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 84 Documents
Fenomena Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus Praptiningrum, N.
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pendidikan inklusif merupakan suatu system layanan pendidikan khusus yang mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya.Penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus seharusnya dapat menciptakan lingkungan yang ramah, menyenangkan, fleksibel, dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa dan tenaga pendidik yang memiliki kemampuan khusus.Kenyataan di lapangan penyelenggaraan pendidikan inklusif belum semuanya sesuai dengan pedoman penyelengaraan, baik dari segi kondisi siswa, kualifikasi guru, sarana-prasarana penunjang, dukungan orang tua maupun dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah. Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan inklusif bagi Anak Berkebutuhan khusus masih menjadi fenomena.
Pendidikan Inklusif untuk Anak Usia Dini Suparno, Suparno
JPK JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Sebagai suatu model pendekatan pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus, pendidikan inklusif telah menjadi kajian yang menarik di Indonesia pada dekade terakhir ini. Hal ini nampak dari adanya perhatian pemerintah dan masyarakat yang semakin serius untuk mengakomodasi kebutuhan pelaksanaan pendidikan inklusif dalam berbagai bentuk kebijakan dan fasilitas pendukungnya.Kendati demikian, implementasi pendidikan inklusif pada umumnya masih terfokus pada anak-anak usia sekolah (dasar dan lanjutan), dan belum banyak menyentuh pada anak-anak usia pra-sekolah (usia dini). Tulisan ini berupaya untuk mendeskripsikan tentang berbagai kemungkinan pelaksanaan pendidikan inklusif untuk anak-anak berkebutuhan khusus usia dini, dalam praksis pendidikan di sekolah.
Perspektif Humanis Religius dalam Pendidikan Inklusif Mumpuniarti, Mumpuniarti
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pendidikan inklusi merupakan integrasi penuh dalam berbagai keanekaragaman potensi maupun sifat yang diakomodir pada operasional pendidikan di sekolah. Integrasi itu berlaku juga bagi penyandang cacat dan juga berbagai kondisi anak yang multikultural berada dalam suatu komunitas sekolah untuk belajar bersama-sama. Integrasi penuh dalam keanekaragaman adalah wujud pengakuan dari suatu pandangan yang mengakui akan keberadaan manusia yang bervariasi sebagai makhluk Ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Pandangan tersebut adalah humanis-religius yang dalam implementasinya di sekolah sebagai dasar guru untuk memperlakukan siswa secara inklusif.
Manajemen Strategik Implementasi Pendidikan Inklusif Sukinah, Sukinah
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pendidikan inklusif merupakan implementasi pendidikan yang berwawasan multicultural yang dapat membantu peserta didik mengerti, menerima, serta menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya, nilai, kepribadian, dan keberfungsian fisik dan psikologis. Dalam pendidikan yang berlatar sekolah inklusif pembelajaran ditekankan pada penanaman sikap simpati, respect, apresiasi, dan empati terhadap latar belakang sosial budaya yang berbeda. Lebih jauh lagi, sekolah inklusif merupakan tempat di mana komunitasnya belajar tentang bagaimana sikap toleransi terhadap keberagaman diposisikan dan dihargai. Manajemen strategik adalah suatu gaya atau seni dan ilmu dari pembuatan, implementasi dan evaluasi atau penilaian keputusan-keputusan strategis antar fungsi-fungsi atau komponen-komponen yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Sistem manajemen strategik paling sedikit harus memiliki tiga proses yaitu perencanaan, penerapan dan pengawasan strategik. Pengembangan lebih lengkap manajemen strategik yaitu mempunyai enam tahapan yaitu : (1) perumusan strategik, (2) perencanaan strategik, (3) penyusunan program, (4) penyusunan anggaran, (5) implementasi atau pelaksanaan, dan (6) evaluasi/pengawasan/pengendalian.
Pendidikan Inklusif untuk Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku (Tunalaras) Mahabbati, Aini
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Anak tunalaras memiliki karateristik gangguan emosi dan perilaku yang seringkali berakibat pada penolakan lingkungan terhadap mereka, termasuk lingkungan pendidikan. Namun demikian, pendidikan inklusif justru bersifat terbuka dan akomodatif, terhadap anak tunalaras, termasuk juga anak berkebutuhan khusus lainnya. Sifat akomodatif pendidikan inklusif sebagaimana disebut oleh Farrel, 2008 adalah merekrut semua tipe dan karakteristik siswa; menghindari setiap aspek negative dari label; dan selalu melakukan check and balance oleh seluruh stake holders; Hal itu membawa konsekuensi pada implementasi layanan pendidikan pada anak tunalaras, terutama pada model pembelajaran di kelas. Oleh karenanya guru kelas menjadi tokoh kunci dalam hal ini. Selain mampu menerapkan asesmen pembelajaran dan melakukan kerja kolaboratif dengan guru khusus, orangtua, atau pihak lain yang terkait, guru seharusnya memiliki keterampilan yang berhubungan dengan srategi intervensi perilaku tunalaras misalnya dengan strategi positive behavioral support yang melibatkan seluruh anggota kelas (co-teaching), serta menguasai classroom management untuk tetap menjaga kelas pada koridor pembelajaran sekaligus mengakomodasi keberadaan anak tunalaras di sana.
Pendidikan Inklusif untuk Anak dengan Kebutuhan Kesehatan Khusus Chamidah, Atien Nur
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Children with special health care needs who have the chronic illness such as asthma, cancer, and hearth disease need a health care in the long time period.  Moreover, as a child they also need another service such as education that in many cases cant be accessed in an easy way due to their illness condition. Inclusive education comes up as a solution to deal with this problem. However, schools have to consider with some aspects that have to be prepared before they receive the children. Aspects of this condition include history of the illness, health care planning, team communication, school absence, and shool environment.
Layanan Terapi Suportif bagi Anak Tunalaras Tipe Social Withdrawal Purwandari, Purwandari
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas layanan terapi suportif sebagai upaya meningkatkan kondisi psiko-fisik anak tunalaras tipe social withdrawal.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) dengan menggunakan subyek penelitian seorang anak tunalaras tipe social withdrawal yang berusia 14 tahun dan duduk di kelas 3 SMP. Subyek mengalami lost of self-awarness dengan kondisi stress, depresi, menarik diri dari lingkungan. Metode yang digunakan untuk mengungkap data adalah observasi, wawancara, hasil karya prosa dan buku harian, sedangkan instrumennya menggunakan pedoman observasi dan program layanan terapi suportif yang terdiri dari empat teknik terapi, yakni manipulasi lingkungan, confession and ventilation, guidance, dan reassurance. Data yang sudah terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan: 1) Terapi suportif cukup efektif digunakan sebagai layanan bagi anak tunalaras tipe social withdrawal untuk meningkatkan kondisi psiko-fisiknya, 2) Terapi supertif yang berupa confession and ventilation, guidance, reassurance dan manipulasi lingkungan sangat efektif digunakan untuk mengembalikan keseimbangan emosional anak tunalaras tipe social withdrawal yang mengalami lost of self-awarness, 3) Dibutuhkan pengukuh perilaku agar subyek mempertahankan perilaku positipnya, 4) Orangtua perlu dilibatkan dalam proses terapi sebagai pemantau perkembangan psiko-fisik subyek.
Model Inklusif layanan Khusus Pembinaan Siswa Cerdas Istimewa/Berbakat Istimewa Berbasis Sumber Daya Daerah Ishartiwi, Ishartiwi
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pengembangan potensi peserta didik melalui pendidikan secara optimal merupakan langkah nyata layanan pendidikan yang mengedepankan perbedaan individual. Salah satu bentuknya berupa layanan khusus bagi siswa cerdas istimewa/berbakat istimewa (CI/BI). Artikel ini mengungkap model inklusif layanan khusus pembinaan siswa CI/BI di sekolah umum dengan mempertimbangkan potensi akademik, personal sosial dan bakat khusus. Sasaran yang diharapkan dapat memberikan input kebijakan layanan siswa CI/BI berbasis sumber daya daerah.Tulisan ini diangkat dari suatu survai yang dilakukan di 17 kecamatan kabupaten Bantul tentang Potensi Sumber Daya Pendidikan Di Kabupaten Bantul Untuk Pengembangan Rintisan Layanan Pendidikan Khusus Siswa Cerdas Istimewa/Berbakat Istimewa. Survai ini melibatkan 224 responden meliputi unsur: pengambil kebijakan, pengawas pendidikan, kepala sekolah dan guru jenjang SD, SMP, SMA, SMK. Informasi digali melalui angket, observasi dan diskusi mendalam, dan dimaknai secara diskriptif kualitatif.Hasil penelitian salah satunya berupa prototipe model inklusif layanan model inklusif layanan khusus pembinaan siswa cerdas istimewa/berbakat istimewa berbasis sumber daya daerah. Model ini memiliki karakteristik: (1) siswa belajar bersama siswa lain di sekolah umum, (2) intervensi mencakup multi potensi siswa (akademik, personal sosial, bakat khusus), sekaligus berfungsi pengembangan generasi daerah berkualitas, dan (3) pemanfaatan bersama aset sarana prasarana daerah (efektifitas dan efisiensi).
Pengembangan Keterampilan Vokasional Produktif bagi Penyandang Tunarungu Pasca Sekolah melalui Model Sheltered-Workshop berbasis Masyarakat Suparno, Suparno; Haryanto, Haryanto; Purwanta, Edi
JPK JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 4, No 3 (2009): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan suatu model pendidikan keterampilan vokasional produktif bagi penyandang tunarungu pasca sekolah melalui sheltered-workshop yang berbasis masyarakat. Ada dua target khusus yang dihasilkan dari penelitian ini, (1) diperolehnya suatu model pendidikan keterampilan vokasional produktif bagi penyandang tunarungu pasca-sekolah yang efektif dan adaptable, dan (2) terbentuknya sheltered-workshop berbasis masyarakat, beserta petunjuk teknis pelaksanaannya, sebagai pusat pelatihan dan advokasi keterampilan vokasional produktif bagi penyandang tunarungu di daerah.Dalam rangka pencapaian tujuan dan target tersebut, maka pendekatan dan pengembangan (research and development) digunakan pada penelitian ini, yang langkah-langkahnya mencakup lima tahap kegiatan yaitu, studi pendahuluan, perencanaan, pengembangan, validasi, evaluasi, dan pelaporan hasil. Analisis kebutuhan dan validasi model telah dilakukan pada penelitian tahap I dan tahap II. Sedang responden dalam penelitian untuk tahun III adalah para pemangku kepentingan (Stakeholders), dan penyandang tunarungu, usia (produktif), dan pendidikan, berjumlah 80 orang. Data yang telah terkumpul selanjutnya diolah dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif.Hasil penelitian yang telah dicapai, secara keseluruhan adalah , (a) pada tahap pertama diketahui, bahwa subyek sangat membutuhkan latihan keterampilan, sebagaian besar dari mereka (80%) belum memiliki pekerjaan dan belum memiliki keterampilan yang memadai, (b) model yang diujicobakan, ternyata memberikan dampak yang positif dan adaptable terhadap subyek dalam pengembangan keterampilan, (c) hasil evaluasi dan sosialisasi menunjukan adanya respon positif terhadap model sheltered-workshop yang berbasis masyarakat, (d) terbentuknya rintisan implementasi model sheltered-workshop yang berbasis masyarakat tingkat kabupaten, sebagai basis pendidikan dan advokasi keterampilan vokasional produktif untuk penyandang tunarungu pasca-sekolah (SLB) dan dapat digunakan sebagai percontohan bagi daerah-daerah sekitarnya, (e) tersusunnya buku petunjuk teknis pelaksanaan model, serta (f) terakomodasinya sebagian kebutuhan fasilitas dan penyelenggaraan pendidikan keterampilan vakosional bagi para penyandang tunarungu di daerah
Program Son-Rise untuk Pengembangan Bahasa Anak Autis Supartini, Endang
JURNAL PENDIDIKAN KHUSUS Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Pendidikan Khusus
Publisher : Faculty of Education Yogyakarta State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Ada berbagai pendekatan untuk pengembangan bahasa anak autis, salah satunya adalah menggunakan program son-rise. Program ini terutama diperuntukkan bagi anak balita. Keberhasilan program tersebut bergantung pada: (1) kesediaan menerima anak seperti apa adanya, (2) kemampuan membina hubungan yang baik dengan anak, (3) penuh inisiatif dan kreatifitas, dalam menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan anak. Selain itu partisipasi dan kasih sayang orangtua juga menentukan keberhasilan program ini. Adapun cara yang digunakan dalam program son rise adalah sebagai berikut: a) menjalin hubungan dengan penuh kekuatan, kegembiraan, dan antusias, b) mengikuti berkembang anak