cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 1 (2008)" : 9 Documents clear
KOMPARASI UJI DISOLUSI AMPICILLIN AMPICILLIN KAPLET 500 mg SEDIAAN GENERIK DAN SEDIAAN PATEN SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI Astutiningsih, Christina; Sari, Kristina Laiahayu
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggapan masyarakat tentang obat generik dan obat paten sangat berbeda baik dinilai dari segi khasiat maupun harga. Kebanyakan masyarakat cenderung menganggap bahwa obat yang berkhasiat adalah obat yang mempunyai harga mahal dengan kemasan mewah. Persepsi yang salah tersebut menyebabkan obat generik dinilai tidak bermutu. Salah satu contoh obat generik dan obat paten adalah antibiotik. Antibiotik adalah Ampicillin kaplet 500 mg Dalam penelitian ini, dilakukan uji disolusi terhadap kaplet ampicillin 500 mg sediaan generik dan paten. Tujuan dari uji disolusi adalah untuk mengetahui jumlah zat aktif terlarut dalam media disolusi yang diketahui volumenya dalam waktu tertentu. Proses kelarutan zat aktif tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi absorpsi obat didalam tubuh, yaitu semakin cepat zat aktif diserap tubuh semakin dirasakan efek terapinya Uji disolusi kaplet Ampicillin dilakukan dengan menggunakan alat uji disolusi tipe I (keranjang) dalam waktu 45 menit, kemudian cuplikan diambil dan diukur kadar zat aktif terlarutnya dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan fase gerak air : acetonitril : KH2PO4 : asam (909:80:10:1). Prinsip dari KCKT yaitu cuplikan diinjeksikan dalam injektor dan dengan adanya tekanan tinggi dari pompa, maka sampel terbawa oleh fase gerak masuk ke kolom untuk dipisahkan dan akan dideteksi oleh detektor, Ampicillin menghasilkan spektrum didaerah ultraviolet pada panjang gelombang 254 nm yang terbentuk sebagai pita atau puncak yang akan diproses oleh integrator. Hasil penelitian menunjukkan kaplet Ampicillin sediaan generik rata-rata kadar zat aktif terlarutnya yaitu 96,10% dan untuk sediaan paten 95,66%. Hasil uji statistik dengan uji perbedaan dua kelompok (uji t) antara kedua antibiotik tersebut adalah tidak ada perbedaan yang signifikan karena thitung (0,21) berada diantara - ttabel (-2,23) dan + ttabel (+2,23). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa obat generik memiliki penyerapan yang sama dengan obat paten. Kata Kunci : Ampicillin, Generik, Paten
ANALISA KADAR LOGAM Pb (TIMBAL) DAN Zn (SENG) DALAM RAJUNGAN (Portunus pelegicus) DI PANTAI SLAMARAN PEKALONGAN SECARA SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM Suprijono, Agus; Sulistyowati, Etty; Suryani, Suci Dwi
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Logam Pb dan Zn merupakan zat yang berbahaya jika masuk ke organ biologis. Zat kimia tersebut dalam konsentrasi rendah bisa menyebabkan toksik, terutama pada hewan air seperti ikan, kepiting, rajungan dan lain sebagainya. Logam Pb dan Zn mempunyai kecenderungan mengumpul dalam organ biologis, terutama dalam bentuk ion, karena bentuk ion mempunyai kelarutan yang lebih besar dalam lemak. Logam Pb dan Zn dapat menyebabkan kerusakan syaraf pusat, serta gangguan fungsi ginjal dan paru­paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar logam berat Pb dan Zn yang terkandung dan terakumulasi dalam rajungan di pantai Slamaran Pekalongan. Pengukuran konsentrasi pada ion logam Pb dan Zn dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kadar yaitu pada jarak 200 meter kadar logam Pb lebih besar dibandingkan pada jarak 300 dan 100 meter serta melebihi batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan untuk rajungan dan hasil olahannya yaitu > 2,0 mg/kg. Pada logam Zn juga terdapat perbedaan kadar, logam yang terbesar didapatkan pada jarak 300 meter, tetapi tidak melebihi batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan yaitu rajungan dan hasil olahannya yaitu < 100 mg/kg. Jadi dapat disimpulkan pada pantai Slamaran Pekalongan kandungan logam berat Pb melebihi batas dan Zn tidak melebihi batas. Kata kunci : Logam Pb dan Zn, Spektrofotometri Serapan Atom, Rajungan (Portunus pelegicus), bio-indikator.
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP KADAR ALKALI FOSFATASE TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG TERPAPAR PARASETAMOL Mutiarawati, Caecilia; Palupi, Dwi Hadi Setya; Mustikawati, Vereciana
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pare (Momordica charantia L.) diduga mengandung suatu senyawa yang bersifat memperbaiki kerusakan organ hati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan daun pare terhadap kadar alkali fosfatase tikus putih jantan galur wistar yang terpapar parasetamol, dengan menggunakan 20 ekor tikus putih jantan galur wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok I merupakan kontrol negatif; Kelompok II, III, IV merupakan kelompok perlakuan air rebusan daun pare dosis 135mg/250g BB, 270mg/250g BB, dan 540mg/250g BB. Semua tikus pada hari ke-1 diukur kadar alkali fosfatasenya, kemudian diberi parasetamol 750 mg/kg BB selama 5 hari. Pada hari ke-6 diukur kadar alkali fosfatasenya kemudian kelompok I diberi aquadest; kelompok II, III, IV diberi air rebusan daun pare. Hari ke- 14 diukur lagi kadar alkali fosfatasenya. Satu ekor tikus masing-masing kelompok diambil organ hatinya untuk dibuat preparat histopatologi hati. Penetapan kadar alkali fosfatase menggunakan fotometer StarDust MC 15. Pemeriksaan histopatologi hati dilakukan dengan metode pengecatan Hematoksilineosin. Data kadar alkali fosfatase dianalisa dengan metode paired sample test dan one way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rebusan daun pare (Momordica charantia L) mampu menurunkan kadar alkali fosfatase tikus putih jantan. Data penurunan kadar alkali fosfatase didukung dengan gambaran histopatologi hati tikus yang menunjukkan adanya perbaikan sel hati. Kata kunci : Parasetamol, kadar alkali fosfatase, air rebusan daun pare
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN TAPAK DARA (Cantharanthus roseus (L.) G.DON.) TERHADAP SPERMA MENCIT JANTAN GALUR BALB/C Palupi, Dwi Hadi Setya; Sadad, Arif Rahman; Hidayati, Nurul
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Keluarga Berencana (KB) dicanangkan pemerintah guna menghambat laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, dimana metode yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi baik wanita maupun pria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan daun tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don.) terhadap sperma mencit jantan galur Balb/C bagaimana hubungan dosis dan efeknya. Sejumlah mencit jantan galur Balb/C, usia 2-3 bulan, dengan berat badan 20-30 gram dibagi menjadi empat kelompok secara acak, masing­masing kelompok beranggotakan 5 ekor mencit. Kelompok I, II dan III diberi air rebusan daun tapak dara dengan dosis 5,46 g/Kg BB, 7,28 g/Kg BB dan 9,10 g/Kg BB, sedangkan kelompok kontrol diberi aquadest 0,5 ml. Pemaparan dilakukan selama 30 hari, pada hari ke-31 semua mencit dibunuh untuk diamati spermanya (meliputi jumlah sperma motil, konsentrasi, jumlah sperma hidup, morfologi abnormal dan pH) yang diambil dari bagian epididimis. Data sperma motil, sperma hidup dan morfologi abnormal yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk prosentase. Ada tidaknya perbedaan yang bermakna antar kelompok diketahui melalui analisa varian satu jalan dengan taraf kepercayaan sebesar 95% menggunakan metode SPSS 15.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian air rebusan daun tapak dara terhadap prosentase sperma motil, prosentase sperma hidup dan konsentrasi sperma. Hal ini ditunjukkan dengan nilai P < 0,05 yang berarti ada perbedaan antar kelompok. pH dan prosentase morfologi (kepala dan ekor) abnormal sperma tidak menunjukkan perbedaan setelah pemberian air rebusan daun tapak dara (P > 0,05). Uji korelasi menunjukkan bahwa peningkatan dosis akan mengakibatkan menurunnya prosentase sperma motil, prosentase sperma hidup dan konsentrasi sperma dengan nilai P < 0,05. Hasil uji korelasi untuk pH dan prosentase morfologi sperma (kepala dan ekor) abnormal diperoleh nilai P> 0,05. Artinya tidak ada hubungan antara peningkatan dosis terhadap pH serta prosentase morfologi sperma (kepala dan ekor) abnormal mencit jantan galur Balb/C.   Kata kunci : Tapak dara, Sperma, Mencit jantan
OPTIMASI SUHU DAN WAKTU STERILISASI SEDIAAN INFUS INTRAVENA DEKSTROSA 5% SECARA FACTORIAL DESIGN Ikasari, Endang Diyah; Bagiana, I Kadek; Pratiwi, Ika
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan suhu pada proses sterilisasi yang dilakukan pada sediaan infus intravena dekstrosa dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna larutan menjadi kekuningan sampai kuning kecoklatan, pada suhu yang tinggi larutan dekstrosa tidak stabil dan mengalami peruraian menjadi 5-hidroksimetilfurfural (5-HMF) yang selanjutnya akan terurai menjadi senyawa berwarna. Senyawa 5-HMF merupakan suatu senyawa hepatotoksik yang tidak diinginkan dan dapat menyebabkan reaksi seperti yang diakibatkan pirogen, sehingga Farmakope Indonesia IV memberikan batasan bahwa absorbansi 5-HMF pada panjang gelombang 284 nm tidak boleh lebih dari 0,25. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh masing-masing komponen suhu dan waktu sterilisasi serta interaksinya terhadap absorbansi 5-HMF dan intensitas warna yang terbentuk dalam sediaan infus intravena dekstrosa 5%, juga untuk mengetahui suhu dan waktu sterilisasi yang optimum untuk memperoleh sediaan infus intravena dekstrosa 5% yang steril dan tidak berwarna dengan absorbansi 5-HMF yang memenuhi persyaratan. Penelitian dilakukan dengan metode optimasi factorial design. Pengujian sediaan yang dilakukan meliputi uji kejernihan, uji sterilitas, pengamatan respon intensitas warna berdasarkan score dan penetapan absorbansi 5-HMF menggunakan spektrofotometer UV. Masing-masing komponen suhu dan waktu sterilisasi serta interaksinya diuji dengan anova teknik yates treatment. Penentuan proses optimum dilakukan dengan membandingkan hasil percobaan dan hasil teoritis menggunakan uji t dengan taraf kepercayaan 95%. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa suhu, waktu sterilisasi, dan interaksi keduanya berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan 5-HMF dan intensitas warna sediaan. Berdasarkan verifikasi persamaan teoritis diperoleh suhu dan waktu sterilisasi yang optimum yaitu 115°C selama 20 menit dengan absorbansi 5-HMF sebesar 0,0387 dan tidak berwarna.   Kata kunci : Optimasi factorial design, infus intravena dekstrosa, absorbansi 5-HMF, suhu, dan waktu sterilisasi
UJI PERTUMBUHAN RAMBUT KELINCI DENGAN KRIM EKSTRAK SELEDRI, KRIM MINYAK KEMIRI, KRIM EKSTRAK SELEDRI - MINYAK KEMIRI DAN PENGUJIAN FISIK SEDIAAN Wulansari, Endang Dwi; Masruriati, Eni; Dewanti, Dini
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akhir-akhir ini minat orang terhadap obat dan kosmetika tradisional meningkat kembali. Secara tradisional banyak tanaman disekitar kita yang telah digunakan untuk pemacu pertumbuhan rambut, diantaranya adalah seledri dan kemiri. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan rambut yang diujikan pada kelinci dalam bentuk sediaan krim rambut dan pengujian fisik sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, tipe emulsi, daya sebar dan daya lekat sediaan krim yang dibuat. Cara ekstraksi seledri adalah maserasi, dengan pelarut etanol 80%. Minyak kemiri dibuat dengan biji kemiri disangrai, dihaluskan dan diperas. Pertumbuhan rambut dilakukan dengan mengukur panjang rambut dengan mikrometer setiap tiga hari sekali, pada hari ke-3, ke-6, ke-9, ke-12, ke-15, ke-18. Hasil pertumbuhan rambut kelinci hari ke-18 setelah diberi krim ekstrak seledri adalah 11,26 mm, krim minyak kemiri adalah 11,20 mm, dan krim ekstrak seledri-minyak kemiri adalah 11,43 mm, kontrol negatif adalah 9,16 mm, dan kontrol positif (hair tonic Mustika Ratu) adalah 11,23 mm. Hasil pengujian karakteristik fisik sediaan : pH krim 5,27 , memiliki tipe emulsi air dalam minyak. Basis krim (kontrol negatif) mempunyai daya sebar lebih lebar dibanding krim ekstrak seledri, krim minyak kemiri dan krim ekstrak seledri-minyak kemiri. Krim minyak kemiri memiliki daya lekat lebih kuat dibanding basis krim, krim ekstrak seledri, krim ekstrak seledri-minyak kemiri. Disimpulkan bahwa krim ekstrak seledri, krim minyak kemiri dan krim ekstrak seledri-minyak kemiri dapat menumbuhkan rambut pada kelinci, dan tidak ada perbedaan yang signifikan antar kelompok krim tetapi jika dibandingkan dengan kontrol negatif terdapat perbedaan yang signifikan.   Kata kunci : ekstrak seledri, minyak kemiri, krim, pertumbuhan rambut
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM PEMERINTAH KOTA SEMARANG PERIODE MARET - OKTOBER 2006 Setyani, Wahyuning; Yasin, Nanang Munif; Puspita, Santi
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang banyak dijumpai dalam masyarakat Indonesia. Pada stadium lanjut dapat berakibat komplikasi sehingga pasien memerlukan obat dalam jumlah dan jenis yang banyak, hal ini dapat menjadi potensi munculnya masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DR-Ps). Penelitian ini mengikuti rancangan diskriptif dengan metode retrospektif dengan tujuan untuk mengetahui DRPs pada pasien hipertensi rawat jalan di Instalasi Farmasi RSUP Kota Semarang periode Maret-Oktober 2006. Sampel yang digunakan adalah resep dengan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 228 resep yang dianalisis terdapat 847 R/ dengan 852 item obat. Pasien hipertensi terbanyak wanita 67,54%. Antihipertensi terbanyak dari golongan ACE Inhibitor dari golongan generik kaptopril 10,09% dan dari golongan paten Noperten 9,62%. Resep dengan aturan pemakaian tidak lengkap 55,02%. Jumlah DRPs secara keseluruhan 117 resep terdiri dari Obat Salah/kontraindikasi 0% , Dosis terlalu tinggi 5,98%, Dosis terlalu rendah 46,16% dan Interaksi obat 47,86% dengan 76 kasus terbagi menjadi 31 interaksi farmakodinamik, 27 kasus interaksi farmakokinetik dan 18 kasus interaksi yang tidak diketahui mekanismenya.   Kata Kunci : Drug Related Problem, Hypertensi, Instalasi Farmasi
PERBANDINGAN RENDEMEN MINYAK ATSIRI RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) YANG DIKERINGKAN DENGAN DIANGIN-ANGINKAN, PANAS MATAHARI DAN OVEN 500 C SERTA IDENTIFIKASI SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS Setyani, Wahyuning; Astuti, Dyah Widi
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temulawak (Cucurma xanthorrhiza Roxb.) dikenal sebagai tanaman dengan aneka khasiat dan manfaat. Temulawak dipercaya dapat menyebabkan dapat menyembuhkan beberapa penyakit, diantaranya sariawan, demam, kembung, asma, ambeien, sembelit, rematik, asam urat, hepatitis, kolagoga, antispasmodik, dan menurunkan kolesterol. Selain digunakan sebagai jamu atau obat, temulawak juga dapat dijadikan sebagai bahan makanan dan minuman segar. Masalah penelitian ini adalah: adakah pengaruh pengeringan rimpang temulawak (Cucurma xanthorrhiza Roxb.) terhadap jumlah minyak atsiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan jumlah rendemen minyak atsiri dari rimpang temulawak yang dikeringkan secara diangin­-anginkan, sinar matahari, dan dioven 50° C. Minyak atsiri yang diperoleh kemudian diidentifikasi secara kromatografi lapis tipis. Hasil isolasi diperoleh rata-rata rendemen minyak atsiri rimpang temulawak kering yang diangin-anginkan adalah 1,47. dengan matahari adalah 0,83 sedangkan dengan oven adalah 0,93. Bercak kromatogram sebelum penyemprotan untuk rimpang yang diangin-anginkan dan yang dikeringkan dengan oven berjumlah empat yang berwarna ungu. Sedangkan untuk rimpang temulawak kering dengan matahari menghasilkan enam bercak dengan warna ungu. Setelah dilakukan penyemprotan dengan larutan pereaksi anisaldehid­asam sulfat P, rimpang temulawak dikeringkan, diangin-anginkan, dikeringkan dengan matahari dan kering dengan oven sama-sama menghasilkan empat bercak yang terdiri dari warna merah kecoklatan, ungu kebiruan dan biru keunguan. Harga Rf antara ketiga metode pengeringan rimpang temulawak hampir sama karena mempunyai kandungan senyawa yang sama. Jadi rendemen minyak atsiri rimpang temulawak dikeringkan dengan angin paling baik dibandingkan dengan kedua metode pengeringan yang lain.   Kata Kunci: Temulawak, metode pengeringan, rendemen
EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPs) PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT UMUM PEMERINTAH KOTA SEMARANG PERIODE MARET - OKTOBER 2006 Setyani, Wahyuning; Yasin, Nanang Munif; Puspita, Santi
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskuler yang banyak dijumpai dalam masyarakat Indonesia. Pada stadium lanjut dapat berakibat komplikasi sehingga pasien memerlukan obat dalam jumlah dan jenis yang banyak, hal ini dapat menjadi potensi munculnya masalah terkait obat atau Drug Related Problems (DR-Ps). Penelitian ini mengikuti rancangan diskriptif dengan metode retrospektif dengan tujuan untuk mengetahui DRPs pada pasien hipertensi rawat jalan di Instalasi Farmasi RSUP Kota Semarang periode Maret-Oktober 2006. Sampel yang digunakan adalah resep dengan teknik random sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 228 resep yang dianalisis terdapat 847 R/ dengan 852 item obat. Pasien hipertensi terbanyak wanita 67,54%. Antihipertensi terbanyak dari golongan ACE Inhibitor dari golongan generik kaptopril 10,09% dan dari golongan paten Noperten 9,62%. Resep dengan aturan pemakaian tidak lengkap 55,02%. Jumlah DRPs secara keseluruhan 117 resep terdiri dari Obat Salah/kontraindikasi 0% , Dosis terlalu tinggi 5,98%, Dosis terlalu rendah 46,16% dan Interaksi obat 47,86% dengan 76 kasus terbagi menjadi 31 interaksi farmakodinamik, 27 kasus interaksi farmakokinetik dan 18 kasus interaksi yang tidak diketahui mekanismenya. Kata Kunci : Drug Related Problem, Hypertensi, Instalasi Farmasi

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2008 2008