cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 158 Documents
PROFIL FARMAKOKINETIKA NATRIUM DIKLOFENAK SETELAH PEMBERIAN JUS SAWI HIJAU (Brassica rapa var. parachinensis L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR Puspitaningrum, Ika; Sunarsih, Endang Sri; Sari, Puspita
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi MFI Vol 8 No 1
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Induction of the enzyme is an important rule that has found implications in pharmacology and toxicology of a drug. Due to the induction of  biotransformation enzymes, the rate as will increase. Mustard green (Brassica rapa var. parachinensis L.) is one of vegetable which is  liked by the people of Indonesia. The content of indole in the mustard green can act as enzyme in the biotransformation of diclofenac. So it can decrease the number of active diclofenac inflammatory therapy. this research is an experiment using 21 white male rats of  wistar strain fasted for 12 hours divided into 3 groups each group contains 7 animals,than in their blood taken through orbital vein at  0, 0.5, 0.75, 1, 1.5, 2, 3, 4, 6, 8, 11 hours. Determination of diclofenac sodium performed with UV spectrophotometer at wavelength of 278 nm. Calculated pharmacokinetic parameters are (Ke, t ½, Ka, tmaks, AUC, Cpmaks, Vd, Cl). The parameters are calculated based on a compartment and analyzed statistically by anova test using SPSS version 13:00. The results showed the provision of mustrad green juice for 1 day with a dose of 35.28 g / kg weight for rats and 7 days with a dose of 5.04 g / kg weight for rats before given diclofenac sodium, the Clereance of diclofenac sodium can increase by 24.3479%, and 33, 38% (P <0.05) and  Cpmaks decreased by 50.90% and 68.57% (P> 0.05). Key words: mustard greens, induction, sodium diclofenac, pharmacokinetics
AKTIFITAS HIPOKOLESTEROL AIR REBUSAN JAMUR KUPING HITAM (Auricularia polytricha (Month.) Sacc.) PADA TIKUS YANG DIBERI DIET LEMAK TINGGI Puspitaningrum, Ika; Kusmita, Lia
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi MFI Vol 7 No 2
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to know the effects and dosage of Jamur Kuping Hitam (Auricularia polytricha (Month.) Sacc. ) water extract as hipocholesterol. The research was done with post test only randomized control group design. Animal trials Wistar male rats as much as 25 divided by 5 groups. Group I (negative control) were given aquadest, II (positive control) were given Simvastatin 1,26 mg/kg, groups III, IV and V were given Jamur Kuping Hitam water extract 6,3; 12,6 and 25,2 ml/kg. All groups were given a high fat diet (DLT) which is mixtures standard feed and oil pigs (90:10) for 7 days. All treatment was done by oral. Measurement of total cholesterol concentration done on days 7 and 14 after treatment. Therefore, total cholesterol concentration was analyzed statistically with the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney using SPSS release 16. The results obtained Jamur Kuping Hitam (Auricularia polytricha (Month.) Sacc.) water extract have effect hipocholesterol with dosage is 25,2 ml/kg. Key words: water extract, jamur kuping hitam, hipocholesterol, total cholesterol
SINTESIS CRUDE PALM OIL METHYL ESTER MELALUI REAKSI TRANSESTERIFIKASI MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN METANOL Handiana Putri, Eka Susanti; Uliya, Nur; Wijayati, Nanik
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 6, No 01 (2011): Media Farmasi Indonesia Vol 6 No 1 2011
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Crude Palm Oil Methyl Ester (CPOME) adalah senyawa metil ester yang berasal dari reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit (CPO) dengan metanol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan sintesis CPOME melalui reaksi transesterifikasi minyak kelapa sawit dengan metanol menggunakan variasi katalis HCl, H2SO4 dan H3PO4. Reaksi dilakukan dengan cara merefluk pada suhu 60-64oC selama 6 jam dengan rasio molar metanol/minyak kelapa sawit sebesar 6:1. Konsentrasi katalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah  0,5% b/b terhadap berat minyak kelapa sawit. Senyawa yang telah terbentuk dari reaksi didiamkan selama 1 malam agar  lapisan CPOME dan lapisan gliserol dapat memisah. Lapisan CPOME dicuci dengan air hangat sampai netral lalu disaring. Selanjutnya dilakukan pengeringan dengan menambahkan Na2SO4 anhidrat. Berdasarkan hasil reaksi diperoleh cairan jernih berwarna orange dengan bau yang khas. Senyawa hasil reaksi memiliki kerapatan 0,8935 g/ml dan indeks bias 1,4624. Hasil perhitungan rendemen menunjukkan bahwa persentase rendemen tertinggi diperoleh pada penambahan HCl (45,71%) kemudian H2SO4 (34,07%) dan H3PO4 (28,43%). Berdasarkan data kromatogram GC, persentase produk CPOME yang terbentuk pada penambahan HCl diperoleh hasil yang paling tinggi (75,68%) lalu diikuti H2SO4 (70,80%) dan H3PO4 (59,08%). Hasil Spektra Massa menunjukkan munculnya 5 puncak utama senyawa CPOME, yaitu metil tetradekanoat, metil heksadekanoat, metil cis-9, cis-12-oktadekadienoat, metil cis-9-oktadekenoat, dan metil oktadekanoat.   Kata kunci : Transesterifikasi, Crude Palm Oil Methyl Ester.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN KOMBINASI EKSTRAK SARANG SEMUT (Myrmecodia pendans) & EKSTRAK TEH HITAM (Camellia sinensis O.K.var.assamica (mast.)) DENGAN METODE DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil) Utomo, Anang Budi; Suprijono, Agus; Risdianto, Ardan
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 6, No 01 (2011): Media Farmasi Indonesia Vol 6 No 1 2011
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Antioksidan merupakan senyawa yang pada konsentrasi rendah mampu mencegah atau memperlambat reaksi oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas. Sarang semut (Myrmecodia pendans) dan teh hitam (Camellia sinensis O.K.var.assamica (mast.)) merupakan tanaman yang mempunyai kandungan senyawa-senyawa aktif yang berperan sebagai antioksidan. Penarikan senyawa-senyawa aktif dari sarang semut dilakukan dengan proses ekstraksi metode soxhletasi dengan menggunakan pelarut etanol. Sedangkan penarikan senyawa-senyawa aktif dari teh hitam dilakukan dengan proses ekstraksi metode digesti menggunakan pelarut air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya aktivitas antioksidan kombinasi ekstrak sarang semut dengan ekstrak teh hitam terhadap radikal bebas DPPH (1,1-difenil- 2-pikrilhidrazil). Kombinasi ekstrak sarang semut dengan ekstrak teh hitam dibuat dengan perbandingan 1:0; 2:1; 1:1; 1:2; dan 0:1 kemudian diencerkan dengan pelarut etanol 60% hingga diperoleh konsentrasi larutan uji 0,1%. Dari larutan tersebut dibuat deret konsentrasi 0,01%; 0,02%; 0,03%; 0,04%; dan 0,05% dan diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH secara spektrofotometri Vis, hingga diperoleh nilai EC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EC50 untuk ekstrak sarang semut murni perbandingan 1:0 sebesar 3,6830 μg/ml, nilai EC50 untuk ekstrak teh hitam murni perbandingan 0:1 sebesar 8,1720 μg/ml, nilai EC50 untuk kombinasi ekstrak sarang semut dengan ekstrak teh hitam perbandingan 2:1 sebesar 2,6443 μg/ml, perbandingan 1:1 sebesar 2,3925 μg/ml dan perbandingan 1:2 sebesar 3,6132 μg/ml. Sehingga dapat disimpulkan ekstrak sarang semut yang dikombinasi teh hitam dengan perbandingan 1:1 memiliki aktivitas antioksidan terbesar. Hasil uji anava menunjukkan ada perbedaan yang signifikan aktivitas antioksidan antara ekstrak sarang semut murni, ekstrak teh hitam murni dan kombinasi ekstrak sarang semut dengan ekstrak teh hitam. Kata kunci : Sarang semut, teh hitam, aktivitas antioksidan, DPPH, EC50
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PENANGKAP RADIKAL SENYAWA FLAVONOID DAUN KEPEL (Stelechocarpus burahol Bl. Hool f. & Th) Wildan, Achmad; Mutiara, Erlita Verdia
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 5, No 2 (2010)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daun Kepel (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.) is a plant have some biological activities and traditionally medicine for uretic acid and diuretic. Kepel leaves has content of flavonoid and polyphenol that make antioxidant activity. Making a simplisia extract of kepel arranged by infundation using ethanol solutes, which then is concentrated unit obtaining solid extracts.Antioxidant is a compound that has ability to inhibit oxidation process or block free radical, so an atom that has no combined electron (radical) bunch to another radical until stable.Antioxidant activity is determined by DPPH method and is measured using UV-Vis spectrophotometer until obtaining the proportion of EC50. EC50 is defined as an effective concentration essence that can decrease 50% of absorption compared to control solution of DPPH.the result of this research obtained that EC50 proportion of ethanol extract 27,6133 µg/ml, and EC50 proportion of rutin 5,8447 µg/ml (in ethanol). It can say antioxidant activity ethanol extract is more few from rutin.Keywords: Antioxidant, DPPH method, free radical, Stelechocerpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.
KOMPARASI UJI DISOLUSI AMPICILLIN AMPICILLIN KAPLET 500 mg SEDIAAN GENERIK DAN SEDIAAN PATEN SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI Astutiningsih, Christina; Sari, Kristina Laiahayu
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anggapan masyarakat tentang obat generik dan obat paten sangat berbeda baik dinilai dari segi khasiat maupun harga. Kebanyakan masyarakat cenderung menganggap bahwa obat yang berkhasiat adalah obat yang mempunyai harga mahal dengan kemasan mewah. Persepsi yang salah tersebut menyebabkan obat generik dinilai tidak bermutu. Salah satu contoh obat generik dan obat paten adalah antibiotik. Antibiotik adalah Ampicillin kaplet 500 mg Dalam penelitian ini, dilakukan uji disolusi terhadap kaplet ampicillin 500 mg sediaan generik dan paten. Tujuan dari uji disolusi adalah untuk mengetahui jumlah zat aktif terlarut dalam media disolusi yang diketahui volumenya dalam waktu tertentu. Proses kelarutan zat aktif tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi absorpsi obat didalam tubuh, yaitu semakin cepat zat aktif diserap tubuh semakin dirasakan efek terapinya Uji disolusi kaplet Ampicillin dilakukan dengan menggunakan alat uji disolusi tipe I (keranjang) dalam waktu 45 menit, kemudian cuplikan diambil dan diukur kadar zat aktif terlarutnya dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan fase gerak air : acetonitril : KH2PO4 : asam (909:80:10:1). Prinsip dari KCKT yaitu cuplikan diinjeksikan dalam injektor dan dengan adanya tekanan tinggi dari pompa, maka sampel terbawa oleh fase gerak masuk ke kolom untuk dipisahkan dan akan dideteksi oleh detektor, Ampicillin menghasilkan spektrum didaerah ultraviolet pada panjang gelombang 254 nm yang terbentuk sebagai pita atau puncak yang akan diproses oleh integrator. Hasil penelitian menunjukkan kaplet Ampicillin sediaan generik rata-rata kadar zat aktif terlarutnya yaitu 96,10% dan untuk sediaan paten 95,66%. Hasil uji statistik dengan uji perbedaan dua kelompok (uji t) antara kedua antibiotik tersebut adalah tidak ada perbedaan yang signifikan karena thitung (0,21) berada diantara - ttabel (-2,23) dan + ttabel (+2,23). Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa obat generik memiliki penyerapan yang sama dengan obat paten. Kata Kunci : Ampicillin, Generik, Paten
ANALISA KADAR LOGAM Pb (TIMBAL) DAN Zn (SENG) DALAM RAJUNGAN (Portunus pelegicus) DI PANTAI SLAMARAN PEKALONGAN SECARA SPEKTROFOTOMETER SERAPAN ATOM Suprijono, Agus; Sulistyowati, Etty; Suryani, Suci Dwi
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Logam Pb dan Zn merupakan zat yang berbahaya jika masuk ke organ biologis. Zat kimia tersebut dalam konsentrasi rendah bisa menyebabkan toksik, terutama pada hewan air seperti ikan, kepiting, rajungan dan lain sebagainya. Logam Pb dan Zn mempunyai kecenderungan mengumpul dalam organ biologis, terutama dalam bentuk ion, karena bentuk ion mempunyai kelarutan yang lebih besar dalam lemak. Logam Pb dan Zn dapat menyebabkan kerusakan syaraf pusat, serta gangguan fungsi ginjal dan paru­paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar logam berat Pb dan Zn yang terkandung dan terakumulasi dalam rajungan di pantai Slamaran Pekalongan. Pengukuran konsentrasi pada ion logam Pb dan Zn dilakukan dengan menggunakan metode Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kadar yaitu pada jarak 200 meter kadar logam Pb lebih besar dibandingkan pada jarak 300 dan 100 meter serta melebihi batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan untuk rajungan dan hasil olahannya yaitu > 2,0 mg/kg. Pada logam Zn juga terdapat perbedaan kadar, logam yang terbesar didapatkan pada jarak 300 meter, tetapi tidak melebihi batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan yaitu rajungan dan hasil olahannya yaitu < 100 mg/kg. Jadi dapat disimpulkan pada pantai Slamaran Pekalongan kandungan logam berat Pb melebihi batas dan Zn tidak melebihi batas. Kata kunci : Logam Pb dan Zn, Spektrofotometri Serapan Atom, Rajungan (Portunus pelegicus), bio-indikator.
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN PARE (Momordica charantia L.) TERHADAP KADAR ALKALI FOSFATASE TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG TERPAPAR PARASETAMOL Mutiarawati, Caecilia; Palupi, Dwi Hadi Setya; Mustikawati, Vereciana
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pare (Momordica charantia L.) diduga mengandung suatu senyawa yang bersifat memperbaiki kerusakan organ hati. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan daun pare terhadap kadar alkali fosfatase tikus putih jantan galur wistar yang terpapar parasetamol, dengan menggunakan 20 ekor tikus putih jantan galur wistar yang dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok I merupakan kontrol negatif; Kelompok II, III, IV merupakan kelompok perlakuan air rebusan daun pare dosis 135mg/250g BB, 270mg/250g BB, dan 540mg/250g BB. Semua tikus pada hari ke-1 diukur kadar alkali fosfatasenya, kemudian diberi parasetamol 750 mg/kg BB selama 5 hari. Pada hari ke-6 diukur kadar alkali fosfatasenya kemudian kelompok I diberi aquadest; kelompok II, III, IV diberi air rebusan daun pare. Hari ke- 14 diukur lagi kadar alkali fosfatasenya. Satu ekor tikus masing-masing kelompok diambil organ hatinya untuk dibuat preparat histopatologi hati. Penetapan kadar alkali fosfatase menggunakan fotometer StarDust MC 15. Pemeriksaan histopatologi hati dilakukan dengan metode pengecatan Hematoksilineosin. Data kadar alkali fosfatase dianalisa dengan metode paired sample test dan one way anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air rebusan daun pare (Momordica charantia L) mampu menurunkan kadar alkali fosfatase tikus putih jantan. Data penurunan kadar alkali fosfatase didukung dengan gambaran histopatologi hati tikus yang menunjukkan adanya perbaikan sel hati. Kata kunci : Parasetamol, kadar alkali fosfatase, air rebusan daun pare
PENGARUH PEMBERIAN AIR SEDUHAN BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) PADA PENURUNAN KADAR ASAM URAT DARAH TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR HIPERURISEMIA Sadad, Arif Rahman; Ermayanti, Astika; Palupi, Dwi Hadi Setya
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 4, No 1 (2009)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) secara empiris digunakan sebagai obat tradisional. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air seduhan bunga rosela pada penurunan kadar asam urat darah tikus putih jantan galur wistar hiperurisemia dan dosis efektif air seduhan bunga rosela tersebut yang mampu menurunkan kadar asam urat darah tikus. Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan galur wistar yang berumur 3-4 bulan.dengan berat badan 200-300 gram, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok I, II dan III diberikan perlakuan dengan pemberian air seduhan bunga rosela dengan dosis 0,252 g/kgBB; 0,315 g/kgBB; dan 0,378 g/kgBB tikus. Kelompok IV, kontrol positif diberi perlakuan suspensi allopurinol 12,6 mg/kgBB, dan kelompok V sebagai kontrol negatif yang diberi suspensi CMC Na 0,5 %. Semua tikus diukur kadar awal asam urat darahnya dan kemudian dikondisikan hiperurisemia dengan pemberian jus otak kambing sebanyak 3 ml/200 gBB tiga kali sehari selama 20 hari, setelah itu diukur kembali kadar asam uratnya. Semua kelompok diberi perlakuan larutan uji selama 3 minggu dan diukur kadar asam urat setiap minggunya (minggu ke-1, 2, dan 3). Kadar asam urat diukur menggunakan prinsip reaksi enzimatik dengan reagen uric acid FS TBHBA. Data pengukuran kadar asam urat dianalisa menggunakan uji reapeted anova metode General Liniear Model "reapeted measure" dengan taraf kepercayaan 95 %. Hasil analisa menunjukkan pemberian air seduhan bunga rosela berpengaruh pada penurunan kadar asam urat darah tikus putih jantan galur wistar hiperurisemia. Ketiga dosis air seduhan bunga rosela yang diberikan mampu menurunkan kadar asam urat darah tikus hiperurisemia, dimana ketiganya memberikan efek penurunan kadar asam urat darah yang sama. Dosis efektif air seduhan bunga rosela yang mampu menurunkan kadar asam urat darah hewan uji hiperurisemia adalah sebesar 0,252 g/kg BB.   Kata Kunci : Bunga rosela, kadar asam urat, hiperurisemia
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN DAUN TAPAK DARA (Cantharanthus roseus (L.) G.DON.) TERHADAP SPERMA MENCIT JANTAN GALUR BALB/C Palupi, Dwi Hadi Setya; Sadad, Arif Rahman; Hidayati, Nurul
STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Vol 3, No 1 (2008)
Publisher : STIFAR - Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Keluarga Berencana (KB) dicanangkan pemerintah guna menghambat laju pertumbuhan penduduk di Indonesia, dimana metode yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi baik wanita maupun pria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan daun tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G.Don.) terhadap sperma mencit jantan galur Balb/C bagaimana hubungan dosis dan efeknya. Sejumlah mencit jantan galur Balb/C, usia 2-3 bulan, dengan berat badan 20-30 gram dibagi menjadi empat kelompok secara acak, masing­masing kelompok beranggotakan 5 ekor mencit. Kelompok I, II dan III diberi air rebusan daun tapak dara dengan dosis 5,46 g/Kg BB, 7,28 g/Kg BB dan 9,10 g/Kg BB, sedangkan kelompok kontrol diberi aquadest 0,5 ml. Pemaparan dilakukan selama 30 hari, pada hari ke-31 semua mencit dibunuh untuk diamati spermanya (meliputi jumlah sperma motil, konsentrasi, jumlah sperma hidup, morfologi abnormal dan pH) yang diambil dari bagian epididimis. Data sperma motil, sperma hidup dan morfologi abnormal yang diperoleh dinyatakan dalam bentuk prosentase. Ada tidaknya perbedaan yang bermakna antar kelompok diketahui melalui analisa varian satu jalan dengan taraf kepercayaan sebesar 95% menggunakan metode SPSS 15.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh pemberian air rebusan daun tapak dara terhadap prosentase sperma motil, prosentase sperma hidup dan konsentrasi sperma. Hal ini ditunjukkan dengan nilai P < 0,05 yang berarti ada perbedaan antar kelompok. pH dan prosentase morfologi (kepala dan ekor) abnormal sperma tidak menunjukkan perbedaan setelah pemberian air rebusan daun tapak dara (P > 0,05). Uji korelasi menunjukkan bahwa peningkatan dosis akan mengakibatkan menurunnya prosentase sperma motil, prosentase sperma hidup dan konsentrasi sperma dengan nilai P < 0,05. Hasil uji korelasi untuk pH dan prosentase morfologi sperma (kepala dan ekor) abnormal diperoleh nilai P> 0,05. Artinya tidak ada hubungan antara peningkatan dosis terhadap pH serta prosentase morfologi sperma (kepala dan ekor) abnormal mencit jantan galur Balb/C.   Kata kunci : Tapak dara, Sperma, Mencit jantan

Page 1 of 16 | Total Record : 158


Filter by Year

2008 2016