Vis Vistalis
Published by Universitas Nasional
ISSN : -     EISSN : -
Kesadaran tentang pentingnya disseminasi informasi ilmiah, terutama hasil-hasil penelitian merupakan dasar utama Fakultas Biologi Universitas Nasional menerbitkan VIS VITALIS Jurnal Ilmiah Biologi. Jurnal ini terbit pertama kali pada bulan Maret tahun 2008, dan secara rutin terbit 2 kali setahun (Maret dan September).
Articles 9 Documents
KEANEKARAGAMAN MOLEKULER ISOLAT Pleurotus spp. TIPE LIAR DAN DOMESTIK SERTA KUALITAS PRODUKSINYA Noverita, Noverita
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.848 KB)

Abstract

Oyster mushroom (Plerotus spp.) are edible mushrooms with high diversity. Cultivated oyster mushroom isolates in Indonesia are from local isolates as well as from outside Indonesia. Report on their genetic diversity are still scarce especially on their molecular aspects. This study was aimed to identify genetic diversity and product qualities of several local and domestic isolates. Molecular analysis onPlerotus spp. isolates were done by using RAPD molecular marker with five primers (RP-2, RP-3 RP- 3, RP-4 and RP-6), and qualities product were observed based on number and length stem, cap diameter, wet weight of frutting body and biological eficience.The results indicated that isolates HHB 327, Sp 1, Sp 2, Sp 3, Sp 4 and Sp 5 (white color Pleurotus ) can be considered as one group with perfect (100%) similarity index. These six isolates group with isolate HHB 307 (the color not determined) had similarity index of 81,9%. The similar results were shown by HHB 215 and Sp 6 (brown color Pleurotus) isolates which both can be considered as one group with perfect similarity index. This latter group form larger group with HHB 328 (brown color Pleurotus) at 90 % similarity index, and this group with isolate HHB 247 (pink color Pleurotus ) had a similarity index of 81,9%. Isolate HHB 247 showed highest product qualities.
KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI SEKITAR MERAK BANTEN DAN PANTAI PENET LAMPUNG Handayani, Sri; Tobing, Imran SL
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.436 KB)

Abstract

A study of phytoplankton diversity in coastal territorial water of Merak, Banten and Penet Lampung were using sub sampling method. The sample was taken from defined stations. The value diversity index and equitabiliity index asses both area showed value which high relative. This indicated that territorial water of both area still competent to support life of phytoplankton. Phytoplankton species coastal territorial water community found are Bacillariophyta and Pyrrophyta.
TEKNIK ESTIMASI UKURAN POPULASI SUATU SPESIES PRIMATA Tobing, Imran SL
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.271 KB)

Abstract

Population size is very important data on wildlife conservation management. To abundance of the species together habitat quality usually used as basic parameter for the existencies of  wildlife.  To estimates accurate population on primates species is very difficult, this mainly due to the techniques of collecting data.  Total count method is the best to be implemented, however, this possible only in small areas or for non-mobile animal.  For mobile animal like primates or other wild animal in large area, we need to use another method.  This paper will discussed and analyse different method that can be use to measured population size of the primate in the wild.
KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTHOS, MEIOFAUNA DAN FORAMINIFERA DI PANTAI PASIR PUTIH BARAT DAN MUARA SUNGAI CIKAMAL PANGANDARAN, JAWA BARAT Noortiningsih, Noortiningsih; Jalip, Ikna Suyatna; Handayani, Sri
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keanekaragaman Makrozoobenthos, Meiofauna dan Foraminifera di dua lokasi berdasarkan perbedaan substrat. Pengambilan sampel menggunakan metode transek, setiap lokasi diambil tiga stasiun dengan total pengambilan sampel 15 titik. Hasil penelitian Makrozoobenthos di Muara Sungai Cikamal didapat 3 filum, 4 kelas, 6 ordo dan 18 famili dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 2 yaitu dari Maldanidae (44,44%), keanekaragaman adalah 1,21, dan untuk keseragaman yaitu 0,89. Di Pantai Pasir Putih diperoleh 3 filum, 5 kelas, 5 ordo dan 22 family. Nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu Cirolanidae (100%), nilai keanekaragaman 2,42, dan indeks keseragaman 0,47. Foraminifera di muara sungai Cikamal didapat 13 family dan 17 marga dengan nilai kelimpahan tertinggi marga Rotalia (21,67%), keanekaragaman dan keseragaman tertinggi pada stasiun 2 yaitu 2,24 dan 0,85. Sedangkan di Pantai Pasir Putih didapat 11 family dan 15 marga. Kelimpahan tertinggi yaitu dari marga Textularia (55,74%), keanekaragaman dan keseragaman tertinggi pada stasiun 2 (1,81 dan 0,70). Meiofauna di muara sungai Cikamal didapatkan sebanyak 5 filum, 5 kelas, 2 sub kelas, dan 1 ordo. Kelimpahan tertinggi dari kelas Foraminifera (89,02%), dengan keanekaragaman 0,48, dan keseragaman 0,45. Di pantai Pasir Putih didapatkan 5 filum, 5 kelas, 3 anak kelas, dan 1 ordo. Kelimpahan tertinggi dari kelas Oligochaeta (77,63%) dengan keanekaragaman 1,22, dan nilai keseragaman 0,73.
KEANEKARAGAMAN MAKROZOOBENTHOS, MEIOFAUNA DAN FORAMINIFERA DI PANTAI PASIR PUTIH BARAT DAN MUARA SUNGAI CIKAMAL PANGANDARAN, JAWA BARAT Noortiningsih, Noortiningsih; Jalip, Ikna Suyatna; Handayani, Sri
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.758 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keanekaragaman Makrozoobenthos, Meiofauna dan Foraminifera di dua lokasi berdasarkan perbedaan substrat. Pengambilan sampel menggunakan metode transek, setiap lokasi diambil tiga stasiun dengan total pengambilan sampel 15 titik. Hasil penelitian Makrozoobenthos di Muara Sungai Cikamal didapat 3 filum, 4 kelas, 6 ordo dan 18 famili dengan kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 2 yaitu dari Maldanidae (44,44%), keanekaragaman adalah 1,21, dan untuk keseragaman yaitu 0,89. Di Pantai Pasir Putih diperoleh 3 filum, 5 kelas, 5 ordo dan 22 family. Nilai kelimpahan tertinggi terdapat pada stasiun 1 yaitu Cirolanidae (100%),  nilai keanekaragaman 2,42, dan indeks keseragaman 0,47. Foraminifera di muara sungai Cikamal didapat 13 family dan 17 marga dengan nilai kelimpahan tertinggi marga Rotalia (21,67%), keanekaragaman dan keseragaman tertinggi pada stasiun 2 yaitu  2,24 dan 0,85. Sedangkan di Pantai Pasir Putih didapat 11 family dan 15 marga. Kelimpahan tertinggi yaitu  dari marga Textularia (55,74%), keanekaragaman dan keseragaman tertinggi pada stasiun 2 (1,81 dan 0,70). Meiofauna di muara sungai Cikamal didapatkan sebanyak 5 filum, 5 kelas, 2 sub kelas, dan 1 ordo. Kelimpahan tertinggi dari kelas Foraminifera (89,02%), dengan keanekaragaman 0,48, dan keseragaman  0,45. Di pantai Pasir Putih didapatkan 5 filum, 5 kelas, 3 anak kelas, dan 1 ordo. Kelimpahan tertinggi dari kelas Oligochaeta (77,63%) dengan keanekaragaman 1,22, dan nilai keseragaman 0,73.
KEBERADAAN BAKTERI Vibrio parahaemolyticus PADA UDANG YANG DIJUAL DI RUMAH MAKAN KAWASAN PANTAI PANGANDARAN Widowati, Retno
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.538 KB)

Abstract

Vibrio parahaemolyticus is a bacterium in the same family as those that cause cholera. It lives in brackish saltwater and cause gastrointestinal in human. When ingested, V. parahaemolyticus causes watery diarrhea with abdominal cramping and vomiting fever. Most people become infected by eating raw or undercooked sea food i.e. shrimps. This organism can cause an infection in the skin when an open wound is exposed to warm seawater. This research investigated V. parahaemolyticus in frozen raw shrimps   which sold at sea food restorants at Pangandaran Beach area. The results showed that no one of frozen raw shripms sample were contaminated by V. parahaemolyticus. But 16 of 20 frozen raw shrimps sample were contaminated by halophilic Vibrio. More attention should be paid to food sanitation at the market place, especially during handling, preparation, and cooking of the oysters.
INDUSTRI BERBASIS KEANEKARAGAMAN HAYATI, MASA DEPAN INDONESIA Tobing, Imran SL
Vis Vistalis Vol 1, No 2 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.45 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas, bahkan merupakan yang terkaya di dunia. Ironisnya, mengapa rakyat tetap miskin dan bahkan melarat? Ini semua terjadi karena kekurangmampuan kita menilai potensi dan memanfaatkan keanekaragaman hayati. Indonesia baru mampu menjual pohon/kayu dan hewan sebagai bahan baku – bukan produk akhir, Indonesia baru menilai tumbuhan dan hewan – belum mikroorganisme, padahal miroorganisme sangat potensial dan berharga dengan nilai ekonomi sangat tinggi, yang dapat dimanfaatkan tanpa harus merusak lingkungan. Keanekaragaman hayati telah dikembangkan di berbagai negara sebagai bahan dasar industri dengan keuntungan milyaran dollar. Keanekaragaman hayati kita juga dapat dikembangkan, dan sangat prospektif dijadikan sebagai dasar pengembangan industri. Keanekaragaman hayati kita di tingkat molekuler atau tingkat gen merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Kita harus rebut teknologi; kita harus dapat mewujudkan Indonesia sebagai negara yang lebih bermartabat dan disegani negara lain. Satu-satunya cara adalah dengan terus memacu diri mengembangkan sumber daya manusia yang berkemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi. Dengan menyandingkan ilmu pengetahuan yang tinggi dan kekayaan alam khususnya kekayaan keanekaragaman hayati yang kita miliki merupakan keniscayaan untuk mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa, menjadi negara yang adil, makmur, gemah ripah loh jinawi.
WATAK DAN SIFAT TANAH AREAL REHABILITASI MANGROVE TANJUNG PASIR, TANGERANG Kusumahadi, Khoe Susanto
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.235 KB)

Abstract

Watak dan sifat tanah ini hasil pengukuran kelompok penelitian di areal rehabilitasi mangrove di Tanjung Pasir, Tangerang, Jawa Barat yang dilakukan Tim Fakultas Biologi Unas dan P2O LIPI Jakarta.  Keadaan tanah di areal ini untuk pH tanah tidak menjadi persoalan.  Bahan organik dalam keadaan berkembang, agregasi tanah tidak menjadi mantap, sehingga mudah terurai dan menjadi perosalan untuk ketegakan tanaman penghijauan.  Kegaraman, terutama tanah di areal pematang tambak menjadi persoalan karena garam yang tinggi ini dikawatirkan mengganggu pertumbuhan.  Unsur hara secara umum pada tanah di areal rehabilitasi tidak menjadi persoalan.  Untuk menunjang keberhasilan dalam rehabilitasi mangrove di areal ini, perlu dilakukan pengaturan kelengasan tanah.  Selain itu perlu diperhatikan keberadaan unsur beracun (B, S, H2S, FeS) yang kemungkinan terbentuk di bawah tegakan Rhizophora.
PENYEBARAN BIJI OLEH SATWA LIAR DI KAWASAN PUSAT PENDIDIKAN KONSERVASI ALAM BODOGOL DAN PUSAT RISET BODOGOL, TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO, JAWA BARAT Setia, Tatang Mitra
Vis Vistalis Vol 1, No 1 (2008): VIS VITALIS
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.585 KB)

Abstract

Pemencaran tumbuh-tumbuhan secara alami salah satunya dibantu oleh satwa liar. Penelitian mengenai pemencaran biji oleh satwa liar mempunyai implikasi pada pelestarian hutan hujan tropis. Oleh sebab itu Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hewan apa saja dan bagaimana perannya dalam membantu  regenerasi hutan melalui penyebaran biji. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober 2003. Lokasi penelitian seluas 56 ha, terletak di hutan PPKA Bodogol dan hutan Pusat Riset Bodogol yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Pengumpulan data dilakukan setiap sabtu-minggu dimulai pada pukul 08.00 hingga pukul 12.00 di sepanjang jalan setapak yang ada di hutan untuk mencari sampel kotoran satwa liar, mengamati bagian dan komposisi pakan pada kotoran  dan mengamati perkecambahan biji dari kotoran satwa liar. Hasil penelitian menyimpulkan, ada 3 jenis satwa liar yang mempunyai potensi penyebaran biji melalui kotorannya yaitu: Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus); Owa Jawa (Hylobates moloch) dan Burung Kutilang (Picnonotus sp). Setiap jenis satwa liar memakan bervariasi sumber pakan mulai dari satu sampai lima jenis pakan, terdiri dari binatang avertebrata; binatang vertebrata kecil dan sebagian besar terdiri dari buah berbiji keras. Jenis Aprika merupakan sumber pakan yang hampir ada di setiap kotoran. Biji yang berasal dari kotoran dapat tumbuh dan lebih cepat berkecambah dibanding biji yang jatuh langsung dari pohon induknya.

Page 1 of 1 | Total Record : 9