cover
Contact Name
Ansari Saleh Ahmar, M.Sc.
Contact Email
sainsmat@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
sainsmat@unm.ac.id
Editorial Address
Ruang Unit Publikasi dan Penjaminan Mutu Gedung ICP Lantai 2 Fakultas MIPA UNM Jalan Daeng Tata Raya Makassar, 90223
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
SAINSMAT
ISSN : 25795686     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
The objective of this journal is to publish original, fully peer-reviewed articles on a variety of topics and research methods in both sciences, mathematics, its education, and applied science. The journal welcomes articles that address common issues in mathematics, sciences, education, applied science and cross-curricular dimensions more widely. Sainsmat memuat tulisan hasil penelitian dan kajian pustaka (reviews) dalam bidang ilmu dasar ataupun terapan dan pembelajaran dari disiplin Ilmu Biologi, Fisika, Geografi, Kimia dan Matematika
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2014): September" : 9 Documents clear
Ekstraksi Isoflavon Kedelai dan Penentuan Kadarnya Secara Ultra Fast Liquid Chromatography (UFLC) Sartini, .; Djide, M. Natsir; Permana, A. Dian; Ismail, .
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isoflavon merupakan komponen polifenol utama dalam kacang kedelai. Isoflavon kedelai utamanya dalam bentuk glikosida (Genistin dan Daidzin) dibanding bentuk aglikonnya (Genistein dan Daidzein). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi terhadap kandungan isoflavonnya (Genistein, Daidzein, Genistin, Daidzin). Isoflavon kedelai diekstraksi dengan beberapa cara, yaitu: 1) kacang kedelai tanpa kulit ari diblender dengan air panas, 2). Kacang kedelai tanpa kulit ari diblender dengan etanol 70 % , 3) kacang kedelai utuh diekstraksi secara maserasi dengan aseton 70 %, dan 4) kacang kedelai utuh diekstraksi secara maserasi dengan metanol.. Perbandingan kacang kedelai dan cairan penyari 1:10. Ekstrak yang diperoleh dianalisis kadar isoflavonnya menggunakan kromatografi cair kecepatan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan total isoflavon tertinggi (dihitung sebagai total genistein, daidzein, genistin, daidzin) ada pada kacang kedelai utuh yang diekstraksi dengan metanol.Kata Kunci : Metode Ekstraksi, Isoflavon, Kedelai (Glycine max L.), Ultra Fast Liquid Chromatography
Pemetaan Wilayah Produksi Rumput Laut di Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto Hasriyanti, .
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kapasitas budidaya rumput, produksi dan penyebaran budidaya rumput laut, tingkat eksploitasi rumput laut, dan melakukan pemetaan desa-desa yang berpotensi untuk budidaya rumput laut di Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto. Lokasi penelitian adalah seluruh wilayah Kecamatan Tamalatea, kelompok obyek penelitian adalah 11 jumlah desa yang dianggap berpotensi sebagai penghasil rumput laut. Rangkaian tahapan penelitian adalah dengan melakukan survey, plotting lokasi, pengukuran kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut, serta pemetaan terhadap lokasi yang telah diplot tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kapasitas budidaya rumput laut di Kecamatan Tamalatea Kabupaten Jeneponto, sangat beragam di 7 desa. Produksi dan penyebaran budidaya rumput laut di Kecamatan Tamalatea, berkembang secara intensifikasi. Bentuk eksploitasi pembudidayaan rumput laut di Kecamatan Tamalatea, terjadi pada aspek pencemaran. Wilayah yang berpotensi untuk pengembangan budidaya rumput laut, berdasarkan aspek fisik dan sosial, yakni terdapat di 7 desa, sedangkan 1 desa yang berada di garis pantai berpotensi pada wisata pantai.Kata kunci: Pemetaan, Wilayah Produksi, Rumput Laut
Identifikasi Miskonsepsi Mahasiswa Biologi Universitas Negeri Makassar pada Konsep Genetika dengan Metode CRI Mustika, Andri Adi; Hala, Yusminah; Arsal, Andi Faridah
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa biologi Universitas Negeri Makassar (UNM) yang mengalami miskonsepsi, mengetahui dan tidak mengetahui konsep pada konsep genetika; subkonsep yang sering menjadi miskonsepsi dan faktor-faktor penyebab terjadinya miskonsepsi. Penelitian ini menggunakan teknik CRI (Certainty of Response Index) untuk mengidentifikasi miskonsepsi mahasiswa. Populasi dalam penelitian ini ialah mahasiswa biologi UNM. Sampel sebagai subjek penelitian ialah mahasiswa biologi UNM angkatan 2011 sebanyak 91 orang yang terdiri atas dua kelas yaitu kelas ICP (International Class Program) dan Kelas A program studi pendidikan. Instrumen menggunakan tes diagnostik berbentuk pilihan ganda beralasan yang dilengkapi dengan nilai CRI dan wawancara terstruktur untuk mengetahui penyebab miskonsepsi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi miskonsepsi pada 8 subkonsep yang diteliti dengan persentase yang mengalami miskonsepsi, paham konsep dan tidak paham konsep berturut-turut sebesar 45,8%; 28,2% dan 26%. Persentase mahasiswa yang paling tinggi mengalami miskonsepsi terdapat pada subkonsep pewarisan sifat Mendel sebesar 60,2%, subkonsep sintesis protein sebesar 59% dan subkonsep mutasi sebesar 55%. Faktor-faktor yang menjadi penyebab miskonsepsi yaitu penalaran yang salah terhadap suatu konsep, ketidaklengkapan informasi yang diterima yang berasal dari mahasiswa sendiri, pengalaman dan pengamatan mahasiswa yang keliru, istilah dan konsep yang telah lama, pengalaman belajar di sekolah dan kesalahan pada buku teks.Kata Kunci: Miskonsepsi, CRI (Certainty of Response Index), Konsep Genetika
Identifikasi Daerah Rawan Bencana Longsor Lahan Sebagai Upaya Penanggulangan Bencana di Kabupaten Sinjai Nasiah, .; Ichsan, Invanni
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Longsor merupakan bencana alam yang dapat mengakibatkan kerugian baik berupa jiwa maupun harta benda. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penelitian inventarisasi daerah rawan bencana longsor. Model yang diterapkan untuk menentukan daerah rawan bencana longsor yaitu metode penjumlahan harkat dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG). Beberapa faktor penyebab longsor adalah geologi (sifat batuan, stratigrafi, stuktur geologi, tingkat pelapukan dan kegempaan), iklim (curah hujan), tanah (tebal solum), topografi (kemiringan lereng), vegetasi (kerapatan vegetasi) dan manusia (penggunaan lahan). Hasil analisis menunjukkan bahwa di Kabupaten Sinjai terdapat 4 kelas tingkat rawan bencana longsor yaitu tidak rawan, agak rawan, cukup rawan, dan rawan. Secara umum Kabupaten Sinjai cukup rawan bencana longsor, tetapi ada dua kecamatan yang rawan yaitu kecamatan Sinjai Barat dan Sinjai Borong.Kata kunci : Longsor lahan, Penanggulangan Bencana, Kabupaten Sinjai
Isolasi dan Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder ekstrak n-Heksan daun Tumbuhan Maja (Aegle marmelos Linn.) Salempa, Pince
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak n-heksan daun tumbuhan maja (A. marmelos Linn) yang berasal dari Desa Balong, Kec. Ujung Loe, Kab. Bulukumba. Isolasi dilakukan melalui beberapa tahap yaitu maserasi, fraksinasi, uji kemurnian, dan identifikasi. Hasil penelitian diperoleh kristal murni berwarna putih bening berbentuk jarum dengan titik leleh 140-142°C. Hasil pengukuran spektrum IR menunjukkan pita serapan pada bilangan gelombang 3442 cm-1, 2958 cm-1, 2935 cm-1, 1641 cm-1, 1462 cm-1, 1377 cm-1 dan 1058 cm-1 yang cenderung memiliki kesamaan spektrum dari senyawa steroid yang telah berhasil diidentifikasi. Berdasarkan titik leleh dan data spektrum IR, kristal yang diperoleh diduga golongan senyawa steroid.Kata kunci: Aegle marmelos Linn, Steroid, Maja
Perbandingan Kemampuan Sedimen Rawa dan Sawah Untuk Mereduksi Sulfat dalam Air Asam Tambang (AAT) Fahruddin, .; Haedar, Nur; Nursiah, La Nafie
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air Asam Tambang (AAT) dapat ditanggulangi dengan menggunakan sedimen sebagai sumber inokulum mikroba dalam mereduksi sulfat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sedimen rawa dan sawah dalam peningkatan pH, penurunan kadar sufat dan jumlah mikroba pada air asam tambang. Perubahan pH diukur dengan menggunakan pH meter, kadar sulfat diukur dengan metode titrasi dan total mikroba dihitung dengan metode SPC (standar plate count). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian sedimen pada AAT dapat meningkatkan pH AAT dari 3 menjadi 6,263 pada sedimen rawa dan menjadi pH 6,557 setelah 30 hari. Pemberian sedimen juga mampu menurunkan kadar sulfat dari 563,15 ppm menjadi 327,41 ppm pada sedimen rawa dan menjadi 237,44 ppm pada hari ke-30. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa jumlah mikroba pada sedimen rawa meningkat dari 2x105 sel/ml menjadi 37X105 sel/ml dan pada sedimen sawah juga meningkat dari 4,3X105 sel/ml menjadi 86X105 sel/ml pada hari ke-20.Kata Kunci: Sedimen, Air Asam Tambang, Bakteri Pereduksi Sulfat
Analisis Kandungan Logam Timbal (Pb) pada Sedimen dan Udang Windu (Penaeus monodon) di Pantai Biringkassi Kecamatan Bungoro Kabupaten Pangkep Fitriani, Ade; Sulfikar, .; Iwan, Dini
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Biringkassi, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan beresiko terpolusi Pb dari kegiatan bongkar-muat batubara di Pelabuhan Biringkassi dan penangkapan ikan menggunakan perahu berbahan bakar bensin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah sedimen dan udang windu di perairan ini telah terpolusi logam Pb. Sampel diambil di perairan sekitar Pelabuhan Biringkassi dan di sekitar pulau Camba-cambayya yang berjarak 7 km ke arah barat Pelabuhan Biringkassi dan relatif masih jauh dari keramaian kegiatan manusia. Pengukuran kadar Pb menggunakan metode spektroskopi serapan atom di laboratorium yang telah terakreditasi di Makassar. Konsentrasi Pb di sedimen perairan Biringkassi adalah 47,33 ± 11,34 mg/kg dan di sedimen perairan Pulau Camba-cambayya adalah 28,23 ± 5,17 mg/kg. Konsentrasi Pb udang windu yang ditangkap di perairan Biringkassi adalah 2,19 ± 0,98 mg/kg sedangkan yang ditangkap di sekitar Pulau Camba-cambayya adalah 0,54 ± 0,21 mg/kg. Student T-test yang digunakan untuk menentukan apakah sampel telah terpolusi logam Pb (melewati ambang batas 30,2 mg/kg untuk sedimen [Canadian Council of Ministers of the Environment, 1999] dan 0,5 mg/kg menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia) menunjukkan sedimen dan udang windu dari perairan Biringkassi telah terpolusi logam Pb.Kata kunci: Sedimen, Udang windu, Pb, SSA
Seleksi dan Karakterisasi Bakteri Penambat Nitrogen Non Simbiotik Pengekskresi Amonium Pada Tanah Pertanaman Jagung (Zea mays L.) dan Padi (Oryza sativa L. ) Asal Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, Indonesia Hartono, .; Jumadi, Oslan
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menyeleksi (screening) bakteri penambat nitrogen non simbiotik yang diisolasi dari rhizosfer tanaman jagung (Zea mays L.) dan padi (Oryza sativa L.) yang memiliki kemampuan mengekskresikan amonium. Sampel diambil dari daerah Mangkoso, Kabupaten Barru, Provensi Sulawesi Selatan pada daerah rhizosfer tanaman. Isolasi bakteri penambat nitrogen dilakukan dengan menggunakan medium pertumbuhan bebas nitrogen yaitu medium Burk’s dan Ashby. Koloni bakteri yang tumbuh pada medium pertumbuhan selanjutnya dimurnikan dan diuji kemampuan ekskresi amoniumnya dengan menggunakan metode spectrophotometry. Isolat bakteri yang memiliki kemampuan mengekskresikan amonium dikarakterisasi secara morfologi dan fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 20 isolat bakteri yang mampu tumbuh pada medium bebas nitrogen, namun setelah dilakukan uji ekskresi amonium hanya diperoleh 9 isolat yang memiliki kemampuan mengekskresikan amonium dari masing-masing medium pertumbuhan. Isolat bakteri dan konsentrasi amonium yang diekskresikan masing-masing adalah ABJ211 (179 µg/L), ABP213 (269 µg/L), ABP211 (162 µg/L), ABP131 (254 µg/L), ABP242 (104 µg/L), BBJ221 (263 µg/L), BBJ222 (272 µg/L), BBP222 (269 µg/L) dan BBP214 (257 µg/L). Kesembilan isolat tersebut memiliki karakteristik morfologi dan fisiologis yang bervariasi terutama pada sifat struktur dinding sel (gram), kemampuan hidrolisis pati, gelatin dan kasein, sementara kemampuan dalam mereduksi nitrat dan H2O2 (reaksi katalase positif) serta fermentasi glukosa menunjukkan karakter yang seragam.Kata kunci: Bakteri Penambat Nitrogen, Non Simbiotik, Ekskresi Amonium, Karakterisasi Morfologi dan Fisiologis
Sebaran Spasial Komunitas Lamun di Pulau Bone Batang Sulawesi Selatan Priosambodo, Dody
SAINSMAT Vol 3, No 2 (2014): September
Publisher : SAINSMAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian mengenai sebaran spasial komunitas lamun dilakukan di pulau Bone Batang, Sulawesi Selatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik habitat dan faktor lingkungan khususnya pada fauna yang hidup pada spesies lamun dan sebaran spasialnya. Data kepadatan lamun diperoleh dari 8 stasiun disekitar pulau. Komposisi spesies lamun pada kawasan terumbu karang diamati dengan metode Tarp. Melalui persamaan Bay-Curtis dan analisis n-MDS, hasil menunjukkan bahwa komposisi lamun dari stasiun yang ada pada pulau Bone Batang terdiri atas spesies yang sama dengan Indeks kesamaan lebih dari 75% kecuali pada stasiun 2 dan 3. Komposisi lamun dibagi dalam 3 kelompok. Analisis korespondensi menunjukkan bahwa sebaran spasial dari stasiun berbeda dan dipengaruhi oleh karakteristik habitat. Thalassia hemprichii mendominasi stasiun 1, 3, 7, 8 sementara Cymodea rotundata mendominasi stasiun 2, 5, 6. Spesies perintis contohnya Halodule uninervis dan Halophila ovalis mendominasi stasiun 3 dan 4. Spesies lamun terbesar Enhalus acoroides mendominasi stasiun 7 dan 8. Sebaran spasial dan komposisi spesies juga menunjukkan bahwa padang lamun di Bone Batang dalam tahap dewasa. Fauna yang hidup di padang lamun Bone Batang melimpah dan didominasi spesies liang. Dapat disimpulkan, bahwa campuran komunitas lamun dengan beragam spesies lamun dan dipengaruhi oleh karakteristik habitat dan fauna yang hidup di dalamnya.Kata kunci: Sebaran Spasial, Lamun, Asosiasi Fauna, Sulawesi Selatan

Page 1 of 1 | Total Record : 9