Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -
Articles 1,010 Documents
RECONSIDER OUR UNDERST ANDING ON BIOLOGICAL SYSTEM (A new concept driven by Nanobiology and Complexity Science)

Sumitro, Sutiman Bambang

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4957.715 KB)

Abstract

Sistem kehidupan adalah merupakan obyek kajian yang sangat rumit, dengan demikian Biologi menjadi bidang ilmu dengan obyek penelitian paling sulit dibandingkan Kimia, Fisika dan bahkan Matematika.  Akibat dari rumitnya obyek, maka kajian di bidang Biologi dan life sciences pada umumnya, cenderung dilakukan dengan pendekatan analitik  yang  bertujuan  mengurai kerumitan sehingga memudahkan pembicaraan dalam  pengembangan  konsep dan simpulan.  Namun demikian, tetap saja kita dihadapkan pada kenyataan rumitnya sistem serta banyaknya data sehingga cenderung untuk memilih maupun memilah yang pada akhirnya melakukan penyederhanaan dan pembatasan pada hal-hal yang dianggap penting atau utama sesuai dengan kapasitas kemampuan manusiawi yang kita miliki. Aktivitas penyederhanaan  (reduksionistik)  di atas merupakan jalan mencari pengetahuan yang selama kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun belakangan ini dianggap sebagai jalan  untuk dapat  berfikir yang dapat diandalkan untuk pengembangan ilmu-ilmu hayati.  Melalui pendekatan reduksionistik seperti tersebut ini sudah banyak pengetahuan dan rahasia sistem kehidupan diperoleh dan menjadi pengetahuan ummat berupa khasanah keilmuan. Namun demikian di sisi lain, masih sangat  banyak  pula  hal yang menjadi misteri dan  terasa  tidak akan pernah dapat dipahami  bila  dikaji dengan  cara pendekatan yang selama ini dilakukan. Dominasi jalan berfikir analitik dan reduksionistik ini menjadikan khasanah ilmu hayati bersifat parsial dan bahkan terasa hanya menjadi tumpukan  pengetahuan-pengetahuan yang sulit dirajut menjadi pengetahuan untuk memahami hakekat yang memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.  Kecenderungan penyerderhanaan  obyek kajian  umumnya disertai  dengan memilih bagian yang dianggap strategis dan penting.  Sebagai konsekuensinya  banyak sekali asumsi dan  sekaligus juga pengabaian fakta, Akibat dari jalan berfikir selama ini  terlihat nyata pada pada Ilmu Kedokteran ketika melakukan  upaya-upaya  mengatasi permasalahan penyakit-penyakit  yang memiliki ketidak-jelasan  antara  sebab dan akibat. Penyakit-penyakit degeneratif  maupun penyakit-penyakit kejiwaan  adalah contoh  problematika  yang dianggap  pelik  di bidang Kedokteran  yang memerlukan bahasan dengan sudut pandang baru untuk mengatatasinya. Untuk memberikan kajian yang lebih komprehensif terhadap konsep-konsep bersifat linearistik hasil pendekatan analitik-reduksionistik, maka dalam kajian Ilmu-ilmu Hayati termasuk Kedokteran perlu memanfaatan konsep-konsep Fisika Modern. Hal ini berarti  Biologi  harus  menyentuh aspek diskusi  sampai pada sistem kerja atomik maupun partikel. Dengan demikian sebuah makro molekul tidak cukup hanya didiskusikan strukturnya ataupun dibahas hanya dengan bahasa Kimia, nmaun juga harus ada bahasan tentang karakter makro molekul tersebut di aspek medan gaya energi  serta  fenomena-fenomena  gerakan sangat cepat  yang  mengabaikan asas ruang dan waktu.  Selama ini,  menurut kaidah Fisika, pendekatan  Biologi diklasifikasikan sebagai cara berfikir  Newtonian. Maksudnya,  seluruh  fakta  Biologi hanya dikembangkan dari  fenomena yang  dapat  diamati melalui  indera dan  atau dengan instrumentasi yang membantu keterbatasan indera. Basis berfikir Newtonian ini menuntut  seluruh proses hidup  perlu  digambarkan dan divisualisasikan  baik tentang  struktur, bentuk, posisi (spatial) maupun  pola dan  mengamati  kecepatan gerakannya. Ceramah kali ini  berbicara tentang pemanfaatan pandangan  Nano  Biology dalam bidang Ilmu-ilmu Hayati dengan ilustrasi kajian-kajian yang menyentuh aspek molekul dan unit penyelenggara kehidupan yang berukuran antara 1 sampai 100 nm dengan memakai konsep fisika modern. Unit-unit berukuran nano tersebut  selama ini hanya didekati melalui perspektif hukum kimia  dan Biologi  dalam  kajian-kajian Biokimia dan  Biologi Sel.    Unit-unit ini umumnya berupa makro molekul bersifat susunan komplek dari beberapa komponen monomer, mereka    bekerja sangat spesifik bahkan dianggap memiliki kecerdasan. Mereka tahu kapan,  bagaimana, dimana dan dengan siapa  mereka harus bekerja.  Namun demikian bagaimana mekanismenya, medan gaya apa yang bekerja, dan mengapa dapat tetap bekerja dengan respon sangat cepat (dalam ukuran mikro sampai piko detik) sampai saat ini tidak dibahas. Selain itu sistem kehidupan mustinya juga dipandang sebagai aliran kontinu energi dan materi yang sedang menyelenggaraan  keteraturan  tubuh yang dinamis. Dengan diasumsikan bahwa rancangan atau konsep hidup sudah ada pada molekul-molekul makro ukuran nanomener ini, maka pendekatan Fisika Modern diharapkan dapat lebih membuka tabir rahasia  atom-atom atau molekul-molekul ketika mereka  menyelenggarakan  sifat hidup.  Pemikiran baru  ini terdukung oleh perkembangan  Ilmu Komputer dan Sistem Informasi,  yang memungkinkan penerapan Complexity Science dan sedapat mungkin menghindarkan pengabaian karena semua keberadaan dianggap memiliki peranan.   Kata Kunci: Biological System, Nanobiology, Complexity Science

PENDIDIKAN DAN PENELITIAN SAINS DALAM MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI UNTUK PEMBANGUNAN KARAKTER

Rustaman, Nuryani Y

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.509 KB)

Abstract

ABSTRAK   Proses membangun karakter berlangsung terus menerus dan seyogianya dilakukan melalui pendidikan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses tersebut memerlukan upaya serius untuk merealisasikannya secara terencana. Studi tentang pembangunan karakter dapat ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya melalui pembelajaran bidang studi tertentu, melalui pengembangan kemampuan berpikir; mengintegrasikan domain kognitif, afektif dan psikomotor; memfokuskan pada ipteks dan imtaq, dan pengembangkan sikap ilmiah. Pembangunan karakter melalui pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu alternatif dalam pendidikan sains. Kecerdasan majemuk juga meru-pakan salah satu wahana yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Kebiasaan berpikir (habits of mind) sebagai perilaku cerdas jauh lebih penting dibandingkan dengan membekalkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik melalui pendidikan sains. Habits of mind dalam arti perilaku cerdas dapat dilatihkan dan diukur pencapaiannya. Semua itu dimungkinkan apabila pendidikan sains menekankan pembelajaran berbasis inkuiri dan didukung dengan penerapan asesmen otentik dan asesmen formatif.  Penelitian sains yang menekankan asesmen formatif menjadi bidang yang menarik untuk diteliti, karena berbeda dengan asesmen sumatif yang lebih menekankan hasil belajar (assessment of learning), asesmen formatif justru mendorong peserta didik untuk belajar (assessment for learning).   Kata kunci : Keterampilan berpikir tingkat tinggi, habits of mind, pendidikan sains, pembangunan karakter, kecerdasan majemuk

PENGEMBANGAN SAINS DAN PEMBANGUNAN KARAKTER

Hidayatullah, Muh. Furqon

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2754.41 KB)

Abstract

Landasan penyelenggaraan pendidikan yang berlandaskan karakter atau watak sangatlah jelas. Hal ini sebagaimana tampak dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menyatakan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlaq mulia; sehat; berilmu; cakap; kreatif; mandiri; dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab”.Abstrak: sains, pembangunan karakter

HUBUNGAN KANDUNGAN TIMBAL (Pb) DI UDARA DENGAN Pb DALAM TALUS LICHEN Xanthoparmelia xanthofarinosa

Jamhari, Mohammad

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.839 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kandungan Pb di udara dengan Pb dalam talus lichen X.  xanthofarinosa. Penelitian dilakukan di kota Malang. Hipotesis yang diajukan terdapat hubungan kandungan Pb di udara dengan Pb dalam X. xanthofarinosa. Lichen X. xanthofarinosa diambil dari 20 lokasi yang tersebar di kota Malang. Kandungan Pb dalam X. xanthofarinosa dianalisis dengan metode Atomic Absorption Spectrophotometer (ASS). Sedangkan kandungan Pb di udara diukur dengan menggunakan alat High Volume Air Sampler (HVAS). Data tentang hubungan kandungan Pb di udara dengan Pb dalam X. xanthofarinosa dianalisis dengan regresi. Hasil penelitian menyebutkan bahwa pada Standardized Coefisients (Beta) memiliki nilai 0,657, hal ini  menunjukkan bentuk hubungan positif dan tingkat korelasi antara Pb di udara dengan Pb dalam X. Xanthofarinosa. Nilai t = 3,702 dengan tingkat signifikansi 0,002. Karena 0,002 < 0,05, maka hipotesis statistik (Ho) ditolak, dengan demikian hipotesis penelitian diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif  antara kandungan Pb di udara dengan Pb di dalam talus lichen X. Xanthofarinosa.   Kata kunci : Pb, Udara, dan  X. Xanthofarinosa

PENGARUH TEKNIK PERBAIKAN TEGAKAN RUMPUN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKTIVITAS BATANG BAMBU TALI (Gigantochloa apus KURZ.) (The effect of repairing technique to clumps stand to the culm productivities of bambu tali (Gigantochloa apus Kurz) )

sutiyono, sutiyono, mile, yamin

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.392 KB)

Abstract

ABSTRACT   Bambu tali (Gigantochloa apus Kurz.) known as bambu species that used many for handicraft materials. But their clump existence often damage without tending and many cutting remainder  the research of repairing technique of clump to improve the productivity of culms have been done in forest research station Balai Penelitian Kehutanan Ciamis for 2 years from 2009 to 2010. The research were arranged according to RCBD (Random completely block design) consist of three treatments that are : A. Clump repaired total, all cutting remainder were removed, B. Clump repaired apart, half of cutting remainder were removed,  C. Clump without repaired, as control. Every treatment consist of  seven  replications and the data collection includes of the amount of culm/clump, clump circumference, clump density, culm high and culm diameter. Data collecting done in the intial and one year after treatment. All data were analyzed by the  analysis of variance. Result of research showed that clump repaired total (A) can improve the amount of culm/clump of  116,2% bigger compared to clump repaired apart (B) which only 67,3% and or again clump without repairing (C)  which 50,3%. Beside that, clump reapiring total (A) can improve the culm height of 107,3% bigger compared to clump repaired (B) which of 101,6% or and the clump without repaired (C) which only 100,0%. Meanwhile though don´t significant but clump repaired total (A) tend to to improve the culm diameter compared to the clump repaired apart (B) and or clump without repaired (C). Key words : bambu tali, Gigantochloa apus Kurz., clump damage, clump repairing, improve, culm productivity.

KARAKTERISTIK TANAMAN BAMBU PETUNG (Dendrocalamus asper Back.) DI DATARAN RENDAH DI DAERAH SUBANG, JAWA BARAT

sutiyono, Sutiyono, Wardani, Marfu’ah

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.582 KB)

Abstract

ABSTRAK   Bambu petung (Dendrocalamus asper Back.) secara alami akan tumbuh baik pada tempat-tempat yang berada pada ketinggian >300 m dpl. Namun di desa Majasari, kecamatan Cibogo, kabupaten Subang , bambu petung ditanam di dataran rendah (<90 m dpl). Penelitian karakteristik pertumbuhan tanaman bambu petung di dataran rendah telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukan struktur kelompok umur batang bambu petung di desa Majasari terdiri dari 81,9%  tegakan rumpun berstruktur 3 kelompok umur batang, 17,8% tegakan rumpun  berstruktur 2 kelompok umur batang dan  0,3% tegakan rumpun  yang berstruktur hanya 1 kelompok umur batang.  Komposisi kelompok umur batang tersebut relatif berimbang antara batang umur 1, 2 dan 3 tahun masing-masing adalah 37,0%, 32,6% dan 30,4%. Karakteristik tegakan rumpun bambu petung dicirikan dengan rata-rata jumlah batang/rumpun ialah 30,2 batang/rumpun, keliling rumpunnya 8,8 m dan kerapatan rumpunnya 3,2 batang/meter. Karakteristik tegakan batang tergolong berukuran kecil dicirikan dengan rata-rata diameter batang 11,5 cm, tinggi batang 15,8 meter dengan tinggi bebas cabang 6,9 meter, berat batang segar 39,6 kg dan tebal dinding batang 3,9 cm. Angka permudaan tergolong cukup besar yaitu 81,9% sehingga potensi produktivitasnya juga besar.   Kata kunci : karakteristik, bambu petung (Dendrocalamus asper Back.), dataran rendah

JENIS-JENIS NYAMUK DAN DOMINANSINYA PADA BERBAGAI KAWASAN RAWA DI DESA BAET KECAMATAN BAITUSSALAM KABUPATEN ACEH BESAR

abdullah, Abdullah, fitri, Rini

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK   Penelitian tentang “Jenis-Jenis Nyamuk Dan Dominansinya Pada Berbagai Kawasan Rawa di Desa Baet Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar” telah dilakukan pada tanggal 9 sampai dengan 18 Januari 2011. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi  jenis-jenis nyamuk dan dominansinya pada berbagai kawasan rawa di Desa Baet Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Metode penelitian yang digunakan adalah eksplorasi. Pengambilan data dilakukan secara purposive sampling pada 3 kawasan rawa yang berbeda, yaitu rawa bersampah, rawa yang ditumbuhi oleh rumput obor (Typha aqustifolia), dan rawa bersih. Masing-masing rawa ditetapkan 6 titik pengamatan pada bagian pinggir rawa. Pengambilan data dilakukan pagi (08.00-12.00), siang (14.00-18.00), dan malam hari (19.00-24.00 dan 01.00-06.00) sebanyak 4 kali dalam sehari selama 6 hari. Parameter yang diamati adalah jenis nyamuk pada berbagai kawasan rawa di Desa Baet Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar dan parameter lingkungan (suhu dan pH). Hasil penelitian ditemukan 7 spesies nyamuk yang terdiri dari Aedes aegypti, Aedes albopictus, Armigeres subalbatus, Anopheles sundaicus, Culex sitiens, Culex quinquefasciatus, dan Mansonia annulata. Berdasarkan analisis indeks dominansi pada setiap rawa diketahui bahwa, Culex quinquefasciatus mendominansi pada rawa bersampah; Mansonia uniformis mendominansi pada rawa yang ditumbuhi oleh rumput obor (Typha aqustifolia); dan Culex quinquefasciatus mendominansi pada rawa bersih   Kata kunci : Jenis, Dominansi, Nyamuk, Kawasan, Rawa, Baet.

PEMANFAATAN LIMBAH ECENG GONDOK (Eichornia crassipes) SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PERTUMBUHAN JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)

Astuti, Ari Nidhi, Wardha, Anggraini Puspa, Fathurahman R, Nur, Nur R, Muhamad, Suranto, Suranto

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.492 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pertumbuhan dan produktifitas jamur tiram putih dan konsentrasi media enceng gondok yang paling efektif untuk pertumbuhan jamur tiram putih. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Satu Faktor (RAL satu faktor) dengan 4 taraf perlakuan yaitu kontrol, pemberian limbah eceng gondok 10 %, 20 %, dan 30 %. Masing-masing perlakuan dibuat 25 ulangan dan ukuran setiap baglog adalah 1 kg. Prosedur kerja terdiri atas: penyiapan substrat eceng gondok, pembuatan baglog, penyeterilan, inokulasi jamur, inkubasi, pemeliharaan dan pengamatan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah ANOVA satu jalur  dilanjutkan dengan uji Duncan dengan taraf signifikansi 5 %. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian limbah enceng gondok dapat digunakan sebagai media alternatif pertumbuhan jamur tiram putih. Selain itu, pemberian limbah enceng gondok kering pada media serbuk kayu dapat meningkatkan karakteristik pertumbuhan dan produktivitas pertumbuhan jamur tiram putih baik dari aspek diameter tudung jamur maksimal, panjang tangkai buah maksimal, Berat basah buah jamur, Jumlah badan buah jamur, maupun Biological efficiency ratio (BER) dari baglog limbah enceng gondok. Parameter tersebut mengalami peningkatan signifikan (berbeda nyata) setelah di uji DMRT pada setiap peningkatan konsentrasi substrat dari 0%, 10%, 20% dan 30% dari media limbah enceng gondok. Parameter tersebut paling tinggi pada enceng gondok dengan konsentrasi 30 %.   Kata kunci : Limbah Enceng Gondok, Media Tanam, Jamur Tiram.

PENGARUH PENAMBAHAN BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) DAN PEREBUSAN TERHADAP KADAR RESIDU FORMALIN DAN PROFIL PROTEIN UDANG PUTIH (Letapenaeus vannamei) BERFORMALIN SERTA PEMANFAATANNYA SEBAGAI SUMBER PENDIDIKAN GIZI DAN KEAMANAN PANGAN PADA MASY

Wikanta, Wiwi, Abdurrajak, Yusuf, Sumarno, Sumarno, Amin, Moh.

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.147 KB)

Abstract

ABSTRACT This research was conducted with the aim to determine the effect of the addition of cucumber tree (Averrhoa bilimbi L) and boiling on levels of residual formaldehyde and protein profiles of formalin-contaminated pacific white shrimp (Letapenaeus vannamei) and its utilization as a source of nutrition and food safety education in society. Research using experimental methods with a factorial randomized block design. The independent variable in this study is the long boiling with three levels of variation (0 minutes, R0; 30 minutes, R1; and 45 minutes, R2) and the concentration of cucumber tree fruit juice with five levels of variation (0%, BW0; 20%, BW1; 40%, BW2, 60%, BW3, and 80%, BW4). The results of this research has shown that (1) addition of cucumber tree concentration of 80% and boiling time 45 minutes (R2BW4) can reduce levels of residual formaldehyde pacific white shrimp highest, amounting to 99.20% of the formaldehyde levels from 1.127 g% to 0.009 g% (2) the addition of cucumber tree concentration of 80% and without boiling (R0BW4) can increase the protein levels of total retturn of pacific white shrimp with the smallest loss rate, amounting to 0.76% of protein levels from 23.205 g% to 23.028 g%; (3 ) addition of cucumber tree and boiling water can alter the existence of molecular weight protein bands of pacific white shrimp, (6) the addition of cucumber tree and boiling can eliminate immunogenicity properties of the BM 37.38 kDa protein of fresh pacific white shrimp (US) and formalin-contaminated pacific white shrimp (UF) in male mice (Mus musculus) strain BALB/C. From the results of this study can be concluded that the addition of cucumber tree and boiling significantly affect the residue levels of formaldehyde and protein profiles of formalin-contaminated pacific white hrimp. Further results of this study have been compiled in the form of popular science books as a nutrition and food safety education in society. Key words: residual formaldehyde, protein profile, formalin-contaminated pacific white shrimp , cucumber tree, nutrition and food safety ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L) dan perebusan terhadap kadar residu formalin dan profil protein udang putih (Letapenaeus vannamei) berformalin serta pemanfaatannya sebagai sumber pendidikan gizi dan keamanan pangan pada masyarakat. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak kelompok faktorial. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah lama perebusan dengan tiga tingkat variasi (0 menit, R0; 30 menit, R1; dan 45 menit, R2) dan konsentrasi perasan buah belimbing wuluh dengan lima tingkat variasi (0%, BW0; 20%, BW1; 40%, BW2; 60%, BW3; dan 80%, BW4). Hasil penelitian ini telah menunjukkan bahwa (1) penambahan belimbing wuluh konsentrasi 80% dan lama perebusan 45 menit (R2BW4) dapat menurunkan kadar residu formalin udang putih paling tinggi, yaitu sebesar 99,20% dari kadar formalin asal 1,127 g% menjadi 0,009 g%; (2) penambahan belimbing wuluh konsentrasi 80% dan tanpa perebusan (R0BW4) dapat meningkatkan kembali kadar protein total udang putih dengan tingkat kehilangan paling kecil, yaitu sebesar 0,76% dari kadar protein asal 23,205 g% menjadi 23,028 g%; (3) penambahan belimbing wuluh dan perebusan dapat merubah keberadaan pita berat molekul protein udang putih; (6) penambahan belimbing wuluh dan perebusan dapat menghilangkan sifat imunogenisitas protein BM 37,38 kDa udang segar (US) dan udang berformalin (UF) pada mencit jantan (Mus musculus) galur BALB/C. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan belimbing wuluh dan perebusan berpengaruh secara signifikan terhadap kadar residu formalin dan profil protein udang putuh berformalin. Hasil penelitian ini lebih lanjut telah disusun dalam bentuk buku ilmiah populer sebagai bahan pendidikan gizi dan keamanan pangan pada masyarakat. Kata kunci : residu formalin, profil protein, udang berformalin, belimbing wuluh, gizi dan keamanan pangan

DIPTEROCARPUS HASSELTII BLUME (PALAHLAR): POHON KOMERSIAL TERANCAM PUNAH DI CAGAR ALAM YANLAPA, JAWA BARAT

Wardani, Marfu’ah

Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.924 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian untuk mendapatkan data dan informasi ilmiah tentang pohon terancam punah Dipterocarpus hasseltii Blume (palahlar) dilaksanakan di kawasan hutan Cagar Alam Yanlapa, Jasinga, Jawa Barat. Pengumpulan data melalui pembuatan plot-plot pengamatan berupa lingkaran dengan radius 7,32 m. Titik tengah lingkaran tersebut adalah pangkal batang pohon cuplikan. Di dalam setiap plot pohon cuplikan dibuat pula 1 subplot lingkaran dengan titik tengahnya pada azimut 90° berjarak 3,66 m dari titik pusat plot dengan radius 2,07 m untuk tingkat pancang dan untuk pengamatan tingkat semai dibuat 3 subplot bujur sangkar 1m x 1m berjarak 4,57 m masing-masing azimut 30°, 150° dan 270° dari titik pusat plot. Berdasarkan hasil analisis data dapat dikatakan bahwa jenis pohon D. hasseltii di lokasi penelitian termasuk jenis terancam punah dengan kriteria kritis. Sebaran jenis pohon D. hasseltii tersebut mengelompok jarang pada bagian tertentu dan tidak tersebar ke seluruh bagian hutan. Potensinya relatif kecil, di lokasi penelitian ditemukan 10 individu pohon dengan pola regenerasi normal. Namun demikian, jenis D. hasseltii dihabitnya masih termasuk jenis pohon terancam punah dengan kriteria kritis. Dimana jumlah 10 pohon induk yang ada dalam kawasan, tidak sebanding dengan luas kawasan cagar alam yang 32 ha. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian D. hasseltii di CA Yanlapa, perlu ditingkatkan upaya perlidungan terhadap populasinya dan monitoring secara berkelanjutan. Sosialisasi kepada Instansi terkait, stakeholder serta masyarakat untuk menyebarluaskan informasi bahwa di Cagar Alam Yanlapa tumbuh jenis pohon yang perlu dilindungi dan dilestarikan. Kata kunci: Dipterocarpus hasseltii, terancam punah, morfologi, potensi, Jawa Barat

Page 1 of 101 | Total Record : 1010