cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 20889321     EISSN : 25025295     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil merupakan jurnal terbitan berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Syiah Kuala, dengan frekuensi penerbitan 3 edisi pertahun, yaitu Januari, Mei, dan September. Jurnal Teknik Sipil telah terbit sejak tahun 2011, dengan edisi pertama Volume 1, Nomor 1, September 2011. Hingga saat ini Jurnal Teknik Sipil telah menerbitkan 6 Volume, dan 1 Volume Special Issue. Untuk Volume 7, Jurnal Teknik Sipil akan terbit 2 kali setahun, yaitu Mei dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017" : 10 Documents clear
SIMULASI arus lalu lintas PADA SEGMEN PENYEMPITAN JALAN akibat PEMBANGUNAN FLY OVER SIMPANG SURABAYA tahun 2016 MENGGUNAKAN SOFTWARE VISSIM 8.0 Faisal, Ruhdi; Sugiarto, Sugiarto; Syara, Aprilia
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (889.67 KB)

Abstract

Abstract: The Government of the city of Banda Aceh did a Fly Over development as a solution addressing the congestion in the area of Simpang Surabaya. At the time of construction of the Fly Over this will certainly occur a narrowing of the road (Bottleneck). The purpose of this research is to visualize the flow of traffic on a narrowing of the street, as well as specifying a benchmark traffic flow Measurement Of Effectiveness (MOEs) using traffic simulation software VISSIM 8.0. This research was conducted on Teungku Chik  Ditiro roads and Teungku Imuem Luengbata roads which is a toll road with traffic conditions disrupted due to Fly Over development work. On the Teungku Chik Ditiro obtained traffic volume amount to 1085 pcu/h, 16.91 km/h speed and travel time of 22 seconds. Next it’s simulated into software VISSIM 8.0 which generate output traffic volume amounted to 791 pcu/h with a deviation 14.4%, speed 16.51 km/h with 0.5% deviation and travel time of 11 seconds with the deviation of 2.8%.  While on the road Imuem Teungku Luengbata obtained traffic volume amounted to 620 pcu/h, 24.98 speed, km/h and travel time of 13 seconds. The results of the simulation, namely traffic volume amounting to 425 pcu/h with a deviation of 11.7%, speed 27.15 km/h with 1.2% deviation and the travel time is 7 seconds with a deviation of 2.1%. Validation is done by comparing the observed data in the field with the simulation results.Keywords : Fly Over, Bottleneck, Simulations, VISSIM 8.0,Abstrak: Pemerintah Kota Banda Aceh melakukan pembangunan Fly Over sebagai solusi mengatasi kemacetan di kawasan Simpang Surabaya. Pada masa pembangunan Fly Over ini tentu akan terjadi penyempitan jalan (Bottleneck). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memvisualisasikan aliran lalu lintas pada penyempitan jalan, serta menentukan tolak ukur aliran lalu lintas Measurement Of Effectiveness (MOEs) dengan menggunakan software simulasi lalu lintas VISSIM 8.0. Penelitian ini dilakukan pada ruas Jalan Tgk Chik Ditiro dan Jalan Tgk Imuem Luengbata yang merupakan ruas jalan dengan kondisi lalu lintas terganggu karena adanya pekerjaan pembangunan Fly Over. Pada Jalan Tgk Chik Ditiro didapat volume lalu lintas sebesar 1085 smp/jam, kecepatan 16,91 km/jam dan waktu perjalanan 22 detik. Selanjutnya disimulasikan ke dalam software VISSIM 8.0 yang menghasilkan output volume lalu lintas sebesar 791 smp/jam dengan deviasi 14,4%, kecepatan 16,51 km/jam dengan deviasi 0,5% dan waktu perjalanan 11 detik dengan deviasi 2,8%. Sedangkan pada Jalan Tgk Imuem Luengbata didapat volume lalu lintas sebesar 620 smp/jam, kecepatan 24,98 km/jam dan waktu perjalanan 13 detik. Hasil simulasi yaitu volume lalu lintas sebesar 425 smp/jam dengan deviasi 11,7%, kecepatan 27,15 km/jam dengan deviasi 1,2% dan waktu perjalanan 7 detik dengan deviasi 2,1%. Validasi dilakukan dengan membandingkan data observasi di lapangan dengan hasil simulasi.Kata kunci : Fly Over, Bottleneck, Simulasi, VISSIM 8.0.
EVALUASI JALUR EVAKUASI DI BAPPEDA ACEH Fattah, Muntadhar Abdul; Afifuddin, Mochammad; Munir, Abdul
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.657 KB)

Abstract

Abstract: Disaster is an event or the sequence of events which threaten and disrupt the lives and society livelihood which is caused by natural factors or non-natural factors, and human factors which resulting in the emergence of human fatalities, environmental damage, loss of property, and psychological impact. Banda Aceh city is located between two faults (east-north and south-west of the city). The background of geological layout indicates that Banda Aceh city is prone place toward natural disasters such as earthquake, tsunami, and flood. Building in prone disaster areas should be planned according to the standards and applicable regulations so that it can provide security and comfort for building users. Development planning agency at sub- national level (Bappeda) Aceh is one of the government offices which are responsibility toward planning the regional development so that the goals that have been set up can be achieved well. The purpose of this study is assessing the evacuation route feasibility at Bappeda Aceh, knowing the users or employees’ perception about evacuation route at Bappeda Aceh and formulating strategies of disaster prevention management. Data processing method which is used is the analysis of SWOT and AHP.  According to the SWOT analysis showed that Bappeda Aceh should be more focus to the salvation path or disaster evacuation route including Aceh governments willingness to help the budget for completeness disaster management facilities, as well as the implementation of the training / education on disaster reduction.Abstrak: Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Kota Banda Aceh terletak diantara dua patahan (sebelah timur-utara dan sebelah barat-selatan kota). Latar belakang letak geologis menunjukkan bahwa Kota Banda Aceh rawan terhadap bencana alam seperti gempa, tsunami dan banjir. Bangunan gedung pada kawasan rawan bencana harus direncanakan sesuai dengan standar-standar dan peraturan yang berlaku sehingga memberikan keamanan dan kenyamanan bagi pengguna bangunan. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Aceh merupakan salah satu kantor pemerintahan yang bertugas merencanakan pembangunan daerah sehingga sasaran yang diinginkan dapat tercapai dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kelayakan jalur evakuasi di Kantor Bappeda Aceh, mengetahui persepsi pengguna atau karyawan mengenai jalur evakuasi bencana di Kantor Bappeda Aceh dan merumuskan strategi manajemen penanggulangan resiko bencana di Kantor Bappeda Aceh. Metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis SWOT dan AHP. Berdasarkan análisis SWOT  diperoleh bahwa Bapedda Aceh harus lebih fokus kepada jalur keselamatan ataujalur evakuasi bencana termasuk didalamnya kesediaan Pemerintah Aceh untuk membantu anggaran untuk kelengkapan fasilitas penanggulangan bencana, serta adanya pelaksanaan pelatihan/pendidikan mengenai penanggulangan bencana.
DAMPAK SUBSTITUSI POLYSTYRENE (PS) KE DALAM ASPAL PENETRASI 60/70 DAN ABU SEKAM PADI SEBAGAI FILLER TERHADAP KARAKTERISTIK CAMPURAN AC-WC Agustian, Kusmira; Saleh, Sofyan M.; Anggraini, Renni
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.242 KB)

Abstract

Abstract: Endurance of asphalt concrete pavement on traffic load and temperature depends on the type and composition of aggregates, asphalt and filler used. Many attempts have been made to improve the quality of the mixture, such as using modified asphalt. Modified asphalt made by mixing hard asphalt with addition material, such as: plastic, latex and second tires. In this study, the additional material used were plastic polystyrene (PS) as asphalt substitute material and rice husk ash as filler for 50% of the total weight of the filler in AC-WC mixture. Stone ash, cement and fly ash hasbeen commonly used as a filler in asphalt mixture. But, the kind of filler was hard to find and the price were relatively expensive.Rice husk ash which has a specific gravity greater than asphalt, is expected to be one alternative. This study aims to determine impact of plastic substitution into asphalt pen. 60/70 as well as the use of rice husk ash and Portland cement combinations as filler to Marshall characteristics of AC-WC mixture. The early stages of this research is to find the optimum asphalt content (OAC). After OAC obtained thenthe specimens were mixed without and with substitution percentage variation of plastic PS 7%, 9% and 11% to the weight of asphalt. The results showed the use of plastic PS in the AC-WC mixture improve Marshall parameters, especially the value of stability and MQ. Highest MQ and stability value obtained in PS 11% mixture with asphalt content 6,80%, those were  2761.96 kg and 1105.76 kg/mm. No significant changes was found in the density, VMA and VFA value for all substitution percentage variation of PS. Flow value decreasedby the increasing percentage of PS, while the VIM value tended to increase. The durability value of AC-WC mixture with and without PS substitution had met the requirements, those were >90%.Keywords : Asphalt Concrete Wearing Course (AC-WC), Modified Asphalt, Polystyrene(PS)Abstrak: Ketahanan perkerasan beton aspal terhadap beban lalulintas dan temperatur sangat tergantung pada jenis dan komposisi agregat, aspal serta filler yang digunakan. Banyak usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas campuran, salah satunya dengan menggunakan aspal modifikasi. Aspal modifikasi dibuat dengan mencampur aspal keras dengan bahan tambah yang dapat berupa plastik, lateks dan ban bekas. Pada penelitian ini bahan tambah yang digunakan adalah plastik jenis polystyrene (PS) sebagai bahan substitusi aspal serta penggunaan abu sekam padi sebagai filler sebesar 50% dari berat total filler pada campuran AC-WC. Abu batu, semen dan fly ash sudah biasa digunakan sebagai filler dalam campuran aspal. Tetapi, jenis filler tersebut susah didapatkan dan harganya relatif mahal. Abu sekam padi yang memiliki berat jenis lebih besar dari aspal, diharapkan dapat menjadi salah satu alternatifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak substitusi plastik PS ke dalam aspal pen. 60/70 serta penggunaanfillerkombinasi abu sekam padi dan semen portland terhadap karakteristik Marshall campuran AC-WC. Tahapan awal penelitian ini adalah mencari kadar aspal optimum (KAO). Setelah KAO didapat kemudian dilakukan pembuatan benda uji tanpa dan dengan substitusi variasi persentase plastik PS sebesar 7%, 9% dan 11% terhadap berat aspal. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan plastik PS pada campuran AC-WC dapat membantu meningkatkan parameter Marshall, terutama nilai stabilitas dan MQ. Nilai stabilitas dan MQ tertinggi didapat pada campuran PS11% dengan kadar aspal 6,80% yaitu 2761,96 kg dan 1105,76 kg/mm.Nilai density,VMA dan VFA tidak terjadi perubahan yang besar untuk semua substitusi variasi persentase PS. Nilai flowmengalami penurunan seiring dengan peningkatan persentase PS, sedangkan nilai VIMcenderung meningkat.Untuk nilai durabilitas campuran AC-WC dengan dan tanpa substitusi PS telah memenuhi persyaratan yaitu > 90%.Kata kunci : Campuran AC-WC, Aspal Modifikasi, Polystyrene(PS)
PENGARUH KEKUATAN TARIK AKAR BAMBU PADA KONTRIBUSI KUAT GESER TANAH TERHADAP STABILITAS LERENG Ramadhan, Rizki; Mukhsin, Mukhsin
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.503 KB)

Abstract

Abstract: Continuous heavy rain on the slopes and some large tree roots that do not penetrate the slip surface can lead to progressive failure of landslide slopes. This is due to the large trees located at the top and the middle of the landslide area can reduce the stability of the slope. Various factors such as mechanics and hydrology in determining slope stability need to be considered. The phenomenon and mechanism of bamboo tree factors that lie below the slopes as the focus of research on root tensile strength of root-soil interacting. This study aims to determine the pull force and tensile strength due to root-soil interaction to the contribution of shear strength in the lower slopes. Field testing uses the root pull method by observing the diameter and number of roots. The test was performed with a tripod device equipped with strain gauge as a recording instrument on saturated soil conditions. The soil samples were taken from the study site to test the physical and mechanical properties of the soil. The result of the test shows that the soil type at the research location is inorganic silt. The results showed that the root pull force increased significantly against the increase in the number and diameter of the roots. In contrast, the tensile strength of roots in any land area decreases with increasing number of roots. Based on the graph shows that the number of roots more than five began not significant to tensile strength. Apparently, bamboo roots are dense and spread below the slopes, then the tensile strength of the roots that interact with the soil begins to stabilize. The tensile strength of the bamboo root results in additional cohesion valuesKeywords : root tensile strength, cohesion addition, soil shear strengthAbstrak: Hujan lebat yang berkelanjutan pada lereng dan sebagian akar-akar pohon besar yang tidak menembus bidang longsor (slip surface) dapat menyebabkan terjadinya kegagalan progresif terhadap longsoran lereng tanah. Hal ini, disebabkan karena pohon besar yang terletak di bagian atas dan tengah bidang longsor dapat mengurangi stabilitas lereng. Berbagai faktor  seperti mekanika dan hidrologi dalam menentukan stabilitas lereng perlu dipertimbangkan. Fenomena dan mekanisme faktor pohon bambu yang berada di bawah lereng sebagai fokus penelitian mengenai kekuatan tarik akar yang berinteraksi akar-tanah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan gaya cabut dan kekuatan tarik akibat interaksi akar-tanah terhadap kontribusi kuat geser di lereng bagian bawah. Pengujian di lapangan menggunakan metode gaya cabut akar dengan mengamati variabel diameter dan jumlah akar. Pengujian dilakukan dengan alat tripod yang dilengkapi strain gauge sebagai instrumen pencatat pada kondisi tanah jenuh. Sampel tanah diambil dari lokasi penelitian untuk dilakukan pengujian sifat fisis dan mekanis tanah. Hasil penegujian menunjukan bahwa jenis tanah pada lokasi penelitian adalah lanau anorganik. Hasil penelitian menunjukan bahwa  gaya cabut akar meningkat sangat signifikan terhadap pertambahan jumlah dan diameter akar. Sebaliknya, kekuatan tarik akar dalam setiap luasan tanah menurun seiring bertambah jumlah akar. Berdasarkan grafik menunjukan bahwa jumlah akar lebih dari lima mulai tidak signifikan terhadap kekuatan tarik. Ternyata, perakaran bambu yang padat dan penyebaran di bawah lereng, maka kekuatan tarik akar yang berinteraksi dengan tanah mulai stabil. Kekuatan tarik akar bambu menghasilkan nilai kohesi tambahan kepada kuat geser akibat interaksi dengan tanah terhadap stabilitas di bawah lereng.Kata kunci : kekuatan tarik akar, kohesi tambahan, kuat geser tanah
STUDI KOMPARASI PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI BENCANA ALAM DAN NON BENCANA ALAM PADA DINAS PENGAIRAN ACEH Nova, Gustin Yulian; Away, Yuwaldi; Abdullah, Abdullah
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.855 KB)

Abstract

Abstract: Disaster impact on losses for both material and non-material and is caused by natural and non-natural factors. Any losses require post-disaster recovery. Implementation of the recovery is done in all sectors as was done by the Irrigation Department  of Aceh. The main problems in the implementation of construction projects of natural disasters and other not natural disaster is a good project management practices between the two. The purpose of this study was to investigate the application of project management for the implementation of construction projects of natural disasters and other not natural disasters as well as investigating whether there is a difference or not to the application of project management between the two. Method study conducted through a questionnaire survey with the target respondent is the owner and contractor of the project construction natural disasters and non-natural disasters in the field of Wetlands and Coastal Irrigation (IRP) Irrigation Department  of Aceh from 2009-2012 with APBA funding. Based on the results of data processing and the discussion that has been done, the owner and the contractor have the same perception (correlated) to rank the answers in conducting project management application in the category of cost and time. For comparison (comparison test), the application of project management at the time and expense categories shows that there is a difference from the second respondent implementation of project management in both categories. Abstrak: Bencana berdampak pada kerugian baik materil maupun non materil dan disebabkan oleh faktor alam maupun non alam. Segala kerugian membutuhkan pemulihan  pasca bencana. Pelaksanaan pemulihan dilakukan pada semua sektor seperti yang dilakukan oleh Dinas Pengairan Aceh. Permasalahan utama dalam pelaksanaan proyek konstruksi bencana alam dan non bencana alam adalah penerapan manajemen proyek yang baik antara keduanya. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki penerapan manajemen proyek untuk pelaksanaan proyek konstruksi bencana alam dan non bencana alam serta menyelidiki apakah terdapat perbedaan atau tidak untuk penerapan manajemen proyek diantara keduanya. Metode penelitian  yang dilakukan melalui survey kuesioner dengan target responden adalah pihak owner dan kontraktor pelaksanaan proyek konstruksi bencana alam dan non bencana alam pada bidang  Irigasi Rawa dan Pantai (IRP) Dinas Pengairan Aceh dari tahun 2009 – 2012 dengan sumber dana APBA. Berdasarkan hasil pengolahan data dan pembahasan yang telah dilakukan, owner dan kontraktor memiliki persepsi yang sama (berkorelasi) terhadap peringkat jawaban  dalam melakukan penerapan manajemen proyek pada kategori biaya dan waktu. Untuk perbandingan (uji komparasi), penerapan manajemen proyek  pada  kategori waktu dan biaya menunjukkan bahwa dari kedua responden terdapat perbedaan penerapan manajemen proyek pada kedua kategori.
KAJIAN PERLETAKAN KRIB PADA ALIRAN SUNGAI KRUENG ACEH Tanjung, Muhammad Sahriat; Fatimah, Eldina; Masimin, Masimin
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2257.059 KB)

Abstract

Abstract: The riverbank damage (erosion) which iscaused by the river scouring in Krueng Aceh River Section in Lamsie Village is dominated by behavior changes of the river due to flood discharge and flow direction.A river geometric changes process is accelerated and enhanced by the human activities which are carried out continuously such as the sand and stone mining in the river zone unpermitted. From the investigation carried out in the review location, it is found that the riverbank protection has ever been constructed by using gabion construction along the riverbank eroded, but the construction cannot restrain river water scouring so that the construction has been collapsed. To prevent the continuing erosion, the other alternative chosen is by constructing the groynes. The groynes are constructed to deflect the river current toward in turn, so that the erosion effect of the riverbank in the out turn can be reduced. This Study aims to obtain the flow pattern and flow velocity in the existing condition and the conditions of 3 (three) scenarios of groynes location in 2 (two) review locations, the first scenario mentioned that the groynes position is perpendicular to the river flow, the second mentioned that the groynes position is leaning to the upstream and the third one mentioned that the groynes position is leaning to the downstream. This study is carried out by identifying existing river condition first and then analyzed the modeling simulation using software of Surface Modeling System (SMS) running RMA2. The lengths are between 8 – 10 meter with the interval of each groynes is 15 meter. The flood discharge used in the simulation is 5 years which is 1067.00 m³/second. The result of the modeling simulation of the groynes location position found is the position which is perpendicular to the river flow (00 – 50)or scenario 1st (first) and it becomes the most effective position. This result is expected can be used as the reference for the policy maker in making the decisions in protecting the riverbank protection and controlling the water destructive power in the watershed.Keywords : Groynes, Flow Pattern, Flow Velocity, Flow DirectionAbstrak: Kerusakan tebing (Erosi) yang terjadi disebabkan oleh gerusan pada pias sungai Krueng Aceh di desa Lamsie karena didominasi oleh perubahan perilaku sungai akibat debit banjir dan arah aliran. Proses perubahan geometri suatu sungai ini menjadi dipercepat atau diperparah oleh kegiatan manusia yang secara terus menerus melakukan aktifitas penambangan pasir serta batu di zona sungai yang tidak dibenarkan. Dari investigasi di lokasi tinjauan upaya perlindungan tebing menggunakan konstruksi bronjong sudah pernah dibangun disepanjang tebing sungai yang tererosi, namun bangunan tersebut belum mampu menahan gerusan air sungai, sehingga konstruksinya kini runtuh. Untuk mencegah terjadinya erosi yang berkelanjutan, alternatif lain adalah membuat bangunan krib. Perletakan konstruksi krib dilakukan untuk membelokkan arus sungai ke arah belokan dalam, sehingga efek erosi tebing dibelokan luar dapat tereduksi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bentuk pola aliran dan kecepatan aliran pada kondisi existing dan 3 (tiga) skenario perletakan konstruksi krib pada 2 (dua) lokasi tinjauan, skenario pertama posisi krib tegak lurus aliran, skenario kedua krib condong ke hulu dan skenario ketiga krib condong ke hilir. Kajian ini dilakukan dengan mengidentifikasi kondisi sungai eksisting kemudian dianalisis secara simulasi pemodelan menggunakan software Surface Modeling System (SMS) running RMA2. Panjang konstuksi krib antara (8 – 10 meter) dengan jarak antara (interval) krib per (15 meter). Debit banjir 5 tahunan digunakan dalam simulasi, yang besarnya adalah 1067.00 m³/detik. Hasil simulasi menunjukan posisi perletakan konstruksi krib tegak lurus terhadap aliran (00 – 50) atau skenario 1 (satu) memberikan hasil yang efektif untuk diterapkan. Hasil ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam rangka membuat kebijakan tentang pelaksanaan pengamanan tebing dan pengendalian daya rusak air di daerah Lamsie.
KAJIAN KUALITAS BATU BATA MERAH MELALUI PEMANFAATAN BAHAN SEDIMENTASI BENDUNG KRUENG ACEH Azmeri, Azmeri; Sundary, Devi; Sapha, Diana
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.705 KB)

Abstract

Abstract : The condition of a high sedimentation at the Krueng Aceh dam can be a business opportunity for making the red bricks. This sedimentation condition occurs throughout the year and along the Krueng Aceh river that also can cause flooding and damage to infrastructure. Based on these problems, the study aims to assess the utilization of the sediment as basic material for red bricks production. This research method create and physical testing samples of bricks. Testing is done by using a sample piece of brick from the mixture of sediment material and material for normal bricks. The two types of bricks that have the absorptive capacity less than 20% and the level of dryness well marked with a shrill sound. Hardness is good for both types of bricks, it is marked with the scratches that are not too deep. Both types of bricks odor also have no salt content, which is marked with no white patches on a dry surface. Brick compressive strength of normal bricks (BMnor) is 381.05 kg/cm2, and brick with a mixture of sediment of Krueng Aceh dam is 215.34 kg/cm2. Both the results of the compressive strength are above the minimum standard required by SNI 15-2094-2000 ie 50 kg/cm2. Through this study, it is expected that sedimentary material can be used as material for the manufacture of red bricks and boost the economy of the industry of red bricks around Banda Aceh and Aceh Besar.Keywords : red brick, sedimentary material, Krueng Aceh, compressive strength.Abstrak: Kondisi sedimentasi yang tinggi pada Bendung Krueng Aceh dapat menjadi peluang perkembangan usaha pembuatan batu bata merah. Kondisi initerjadi sepanjang tahun dan di sepanjang ruas sungai Krueng Aceh yang dapat menyebabkan banjir dan kerusakan infrastruktur. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan sedimen sebagai bahan pembentuk batu bata merah. Metode penelitian ini dengan  membuat dan menguji fisik sampel batu bata. Pengujian dilakukan dengan menggunakan benda uji batu bata dari sampel campuran material sedimen dan batu bata produksi saat ini (bata normal). Kedua jenis batu bata tersebut memiliki daya serap kurang dari 20% dan tingkat kekeringan baik yang ditandai dengan bunyi nyaring. Kekerasannya baik untuk kedua jenis batu bata, ditandai dengan bekas goresan yang tidak terlalu dalam. Kedua jenis bau bata juga tidak memiliki kandungan garam, yang ditandai tanpa bercak-bercak putih di permukaan yang kering. Kuat tekan batu bata normal (BMnor)sebesar 381,05 kg/cm2 dan batu bata dengan campuran sedimen Bendung Krueng Aceh sebesar 215,34 kg/cm2. Kedua  kuat tekan di atas standar minimal SNI 15-2094-2000 yaitu 50 kg/cm2. Melalui kajian ini, diharapkan bahan sedimen dapat dimanfaatkan untuk pembuatan batu bata merah dapat meningkatkan perekonomian kelompok industri batu bata merah di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar.Kata kunci : Batu bata merah, bahan sedimen, Krueng Aceh, kuat tekan.
TINGKAT BAHAYA EROSI DAN FAKTOR KEAMANAN LERENG PADA JALAN BANDA ACEH - CALANG Roeska, Ervina; Yunus, Yuhanis; Saleh, Sofyan M.
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.665 KB)

Abstract

Abstract: Soil erosion is the removal of soil from one place to another by water or wind. The depletion of soil layers at the top of slope causes decreased the ability of the soil on slopes, and the ability of soil to absorb water (Asdak, 1995). Erosion Danger Level (TBE) is an assessment or prediction on the magnitudes of soil erosion and potential danger on the road. The TBE is determined based on comparisons between the magnitudes of annual soil loss (A) and Soil Erosion Tolerance (TSL) (Arsyad, 2000). The TSL for the region of Sumatra is 27 – 29 ton/ha/year (Surbakti, 2009). The slopes of the 240 KM road built by USAID in 2006, linking Banda Aceh to Calang, are erosion prone areas and the current condition is considerably not safe. This research aims at calculating the erosion rate that was still tolerance, the magnitude of TBE and the slopes safety factor (Fs). The research locations were in 3 observation areas, that is, at KM.35, KM.104, and KM.129. The Universal Soil Loss Equation (USLE) methods were used to calculate the erosion rate. The USLE parameters in this research were rainfall erosivity (R) for 10 years, soil erodibility (K) with samplings by using disturbed sample (T1) and undisturbed sample (T2) by means of hand bore, measurement slope length and slope strength (LS)  which was calculated by using Theodolite Station, visual observations for cover and land management (CP). The analysis results showed that the Erosion Danger Level (TBE) at KM.35 (T1) was 11.82; KM.35 (T2) 19.38; KM.104 (T1) 15.45; KM.104 (T2) 20.02; KM.129 (T1) 17.81; and KM.129 (T2) 19.46 respectively. The measurement results on TBE showed that the overall point of the test site was in very heavy criteria. The calculation results of slopes safety factor (Fs) at KM.35, KM.104, and KM.129 testing point (T2) were 0.287; 0.227; and 0.436 respectively. The calculation results of slopes safety factor (Fs) at all research locations were on the unsafe condition (Fs < 1).Keywords : Erosion Danger Level (TBE), Slope Safety Factor (Fs), Road Slope Erosion.Abstrak: Erosi tanah adalah peristiwa terangkutnya tanah dari satu tempat ke tempat lain oleh air atau angin, menipisnya lapisan tanah pada lereng bagian atas yang menyebabkan menurunnya kemampuan tanah pada lereng, dan menurunkan kemampuan tanah untuk menyerap air (Asdak, 1995). Tingkat Bahaya Erosi (TBE) merupakan penilaian atau prediksi terhadap besarnya erosi tanah dan berpotensi bahaya terhadap badan jalan. TBE ditentukan berdasarkan perbandingan antara besarnya laju erosi tanah (A) dengan erosi tanah yang ditoleransikan (Arsyad, 2000) untuk wilayah Sumatera TSL yaitu 27 – 29 ton/ha/thn (Surbakti, 2009). Lereng di jalan Banda Aceh–Calang yang di bangun oleh USAID tahun 2006 sepanjang 240 KM di Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Jaya yang sering mengalami erosi dan kondisi lereng tidak aman. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besarnya TBE dan faktor keamanan lereng (Fs). Lokasi penelitian ini berada di 3 titik pengamatan pada KM.35, KM.104, dan KM.129. Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) digunakan untuk menghitung laju erosi. Parameter USLE dalam penelitian ini meliputi, erosivitas hujan (R) selama 10 tahun, erodibilitas tanah (K) dengan pengambilan sampel tanah secara terganggu/disturbed sample (T1) dan tidak terganggu/undisturbed sampel (T2) dengan bor tangan, mengukur panjang dan kemiringan lereng (LS) dengan Theodolite Station, pengamatan visual untuk penutup dan pengelolaan lahan (CP). Hasil analisis menunjukkan Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di KM.35 (TI) = 11,82; KM.35 (T2) = 19,38; KM.104 (T1) = 15,45; KM.104 (T2) = 20,02; KM.129 (TI) = 17,81; dan KM.129 (T2) = 19,46. Hasil pengukuran terhadap TBE memperlihatkan bahwa keseluruhan titik lokasi pengujian berada dalam kriteria sangat berat (SB). Hasil perhitungan terhadap faktor keamanan lereng (Fs) pada titik pengujian adalah KM.35 (T2) = 0,287; KM.104 (T2) = 0,227; dan di KM.129 (T2) = 0,436. Hasil perhitungan faktor keamanan lereng (Fs) pada semua lokasi penelitian berada pada kondisi tidak aman (Fs < 1).Kata kunci : Tingkat Bahaya Erosi (TBE), Faktor Keamanan Lereng (Fs), Erosi Lereng Jalan.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENGARUH KONFLIK (DISPUTE) TERHADAP KEBERHASILAN PROYEK KONSTRUKSI DI PROVINSI ACEH Rinaldy, Rinaldy; Aulia, Teuku Budi; Rauzana, Anita
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.238 KB)

Abstract

Abstract: In the implementation of projects often arise constraints, if the project objectives are not achieved properly. These problems if not managed properly then it will be a conflict (dispute) or disagreement between the elements involved in the implementation of the project. This study aims to identify the factors and the dominant factors that cause conflict in construction projects in the province of Aceh, as well as analyzing the forms of relationships and the influence of factors of conflict the success of construction projects in the province. Observed projects are construction projects that have been completed starting from the year 2008-2015, with funding coming from APBA and APBK.. Factors that cause conflicts in the implementation of construction projects in Aceh province was caused by the owner of factors, factors consultants, contractors factors, factors project conditions, the human factor, and the factor of the contract and specifications. The dominant factor causing conflicts in the implementation of construction projects in the province of Aceh is due to factors owner, with a mean value of 4.253. Relationship conflict factors to the success of construction projects in the province of Aceh, is to have a relationship with a very high correlation coefficient of 0.921. The influence factors of the conflict on the success of construction projects in the province of Aceh, the most influential factor is the condition of the project, with a regression coefficient of 1.021. This suggests that if the project conditions factor handled well, while other factors remain, then the success of construction projects in Aceh province will increase.Keywords : Conflict, success, construction projects, Aceh ProvinceAbstrak: Dalam pelaksanaan proyek sering muncul kendala, apabila tujuan proyek tidak tercapai sebagaimana mestinya. Permasalahan ini apabila tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi konflik (dispute) atau perselisihan antara unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor serta faktor dominan yang menyebabkan terjadi konflik pada proyek konstruksi di Provinsi Aceh, serta menganalisis bentuk hubungan dan pengaruh faktor-faktor konflik terhadap keberhasilan proyek konstruksi di Provinsi Aceh. Proyek yang diamati adalah proyek konstruksi yang telah selesai dilaksanakan mulai dari tahun 2008-2015, dengan sumber dana yang berasal dari APBA dan APBK. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik dalam pelaksanaan proyek konstruksi di Provinsi Aceh adalah disebabkan oleh faktor owner, faktor konsultan, faktor kontraktor, faktor kondisi proyek, faktor sumber daya manusia, dan faktor kontrak dan spesifikasi. Faktor dominan penyebab terjadinya konflik dalam pelaksanaan proyek konstruksi di Provinsi Aceh adalah disebabkan faktor owner, dengan nilai mean sebesar 4,253. Hubungan faktor-faktor konflik terhadap keberhasilan proyek konstruksi di Provinsi Aceh, adalah mempunyai hubungan yang sangat tinggi dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,921. Pengaruh faktor-faktor konflik terhadap keberhasilan proyek konstruksi di Provinsi Aceh, yang paling berpengaruh adalah faktor kondisi proyek, dengan nilai koefisien regresi sebesar 1,021. Hal ini menunjukkan bahwa apabila faktor kondisi proyek ditangani dengan baik, sedangkan faktor-faktor lainnya tetap, maka keberhasilan proyek konstruksi di Provinsi Aceh akan semakin meningkat.Kata kunci : Konflik, keberhasilan, proyek konstruksi, Provinsi Aceh
PRIORITAS PEMILIHAN MODA UNTUK RUTE PERJALANAN BANDA ACEH - LANGSA DENGAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Sumarni, Sumarni; Anggraini, Renni; Caisarina, Irin
Jurnal Teknik Sipil Vol 6, No 2 (2017): Volume 6, Nomor 2, Januari 2017
Publisher : Department of Civil Engineering, Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.405 KB)

Abstract

Abstract: Kota Langsa, within 432 KM distance from Banda Aceh, can be reached by cars or public transports such as buses (AKAP) and Minibuses. Each mode offers different facilities; therefore potential passengers can select which transportation mode that is apt with them. We require knowing the passenger’s criteria or their preferences in order to pick a public transportation on the route. This research aims to obtain the passenger’s criteria and transportation modes alternative by using Analytical Hierarchy Process (AHP). The criterions are fare, traveling time, delay, travel frequency, and waiting time in bus station. The qualitative criterions are safety, comfortability, serviceability, reliability and flexibility. The mode alternatives are bus, air-conditioned (AC) minibus and non-AC minibus. Data collection method is using AHP questionnaire distributed to 45 respondents, which is accompanied by the surveyor. The result shows that the quantitative criteria is the percentage of traveling time (25.93%) and fare (24.76%). Modes alternative selection based on passenger’s preference is AC Minibuses (35.82%) and non-AC Minibus (36.17%). This result indicates that AC Minibuses and non-AC Minibuses are the most favourite choices amongs passengers in route Banda Aceh – Langsa.Keywords : modes selection, public transportation, criterions, alternative, AHP methodAbstrak: Kota Langsa  berjarak sekitar 432 km dari Kota Banda Aceh dan dapat ditempuh  dengan  kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Saat ini tersedia  3 (tiga) jenis angkutan umum yaitu bus Antar Kota Antar Provinsi  (AKAP) yang dilengkapi dengan AC dan Mini Bus baik menggunakan AC maupun non AC. Masing-masing moda menawarkan atribut/variabel atau keunggulan yang berbeda sehingga  penumpang dapat memilih kendaraan umum yang sesuai dengan kebutuhannya. Untuk itu ingin diketahui  bagaimanakah kriteria dan alternatif  yang menjadi pilihan penumpang moda bus dan mini bus dalam perjalanan dari Banda Aceh menuju Langsa.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kriteria  dan alternatif  utama yang  menjadi pilihan penumpang dengan memakai metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kriteria pemilitan moda dalam penelitian ini terdiri atas 5 (lima) kriteria, yaitu biaya, waktu tempuh, keterlambatan, frekuensi dan waktu menunggu di terminal. Adapun alternatif pemilihan moda adalah bus, mini bus AC dan mini bus non AC.  Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner AHP  yang disebarkan kepada 45 responden yang pernah menggunakan ketiga moda tersebut dan pengisiannya didampingi surveyor. Berdasarkan hasil penelitian dianalisis bahwa kriteria utama yang mempengaruhi pemilihan moda untuk perjalanan Banda Aceh-Langsa adalah  waktu tempuh (25,93%) dan biaya (24,76%). Alternatif global pemilihan moda untuk perjalanan dari Banda Aceh-Langsa berdasarkan pilihan responden adalah Mini Bus non AC (35,82%) dan mini bus non AC (36,17%). Ini berarti bahwa mini bus AC dan Mini  Bus non AC menjadi pilihan favorit dalam perjalanan rute Banda Aceh – Langsa.Kata kunci : pemilihan moda, angkutan umum, kriteria, alternatif, metode AHP.

Page 1 of 1 | Total Record : 10