cover
Contact Name
T. Armansyah TR
Contact Email
t_armansyah@unsyiah.ac.id
Phone
6285260153935
Journal Mail Official
jkh@unsyiah.ac.id
Editorial Address
Jl. Tgk. Hasan Krueng Kalee No. 4 Kampus FKH Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Hewan
ISSN : 25025600     EISSN : 1978225X     DOI : -
Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences is a peer-reviewed, open access journal that publishes the original manuscript should be produced from latest scientific results which not last than 5 years in all areas of veterinary sciences. Manuscripts is written in Indonesian or English.
Articles 327 Documents
PROFIL DISTRIBUSI INOS DAN KADAR NO PANKREAS TIKUS DIABETES MELITUS HASIL INDUKSI MLD-STZ PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL TEMUGIRING (Curcuma heyneana) Lukiati, Betti; a, Aulanni’am; Darmanto, Win
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.548 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.343

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh ekstrak etanol temugiring terhadap distribusi inducible nitric oxide synthase (iNOS) dan kadar nitrogen oksida (NO) pada pankreas tikus diabetes hasil induksi multiple low dose-streptozotocin (MLD-STZ). Tiga macam dosis ekstrak etanol temugiring, yaitu 36, 72, dan 108 mg/kg bobot badan diberikan secara oral untuk terapi tikus diabetes hasil induksi MLD-STZ. Data distribusi iNOS dan kadar NO dianalisis dengan analisis varians jalur tunggal yang dilanjutkan dengan uji Duncan (α=0,05). Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak etanol temugiring berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap penurunan distribusi iNOS dan kadar NO pada pankreas tikus diabetes hasil induksi MLD-STZ. Dosis 72 mg/kg bobot badan ekstrak etanol temugiring merupakan dosis optimal untuk terapi tikus diabetes hasil induksi MLD-STZ. Disimpulkan bahwa ekstrak etanol temugiring dapat menurunkan distribusi iNOS dan kadar NO pankreas tikus penderita diabetes melitus.
PERBANDINGAN INTENSITAS BERAHI SAPI ACEH YANG DISINKRONISASI DENGAN PROSTAGLANDIN F2 ALFA DAN BERAHI ALAMI Hafizuddin, Hafizuddin; Siregar, Tongku Nizwan; Akmal, Muslim; Melia, Juli; rizal, Husnur; Armansyah, Teuku
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.871 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.296

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan intensitas berahi sapi aceh antara yang disinkronisasi berahi dengan prostaglandin F2 alfa (PGF2α) dan berahi alami. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi aceh betina yang dibagi atas dua kelompok. Kriteria sapi yang digunakan adalah umur 5-8 tahun, mempunyai bobot badan 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Sapi yang digunakan mempunyai skor kondisi tubuh dengan kriteria baik, yaitu 3 atau 4 pada skala skor 5. Pada Kelompok I (KI) sapi disinkronisasi berahi mengunakan PGF2α sebanyak 5 mg/ml secara intramuskular. Pada kelompok II (KII) sapi dibiarkan memperlihatkan gejala berahi alami. Penilaian intensitas berahi dilakukan dengan memberi skor 1, 2, dan 3, berdasarkan kriteria yang dibuat oleh Kune dan Solihati (2007). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan intensitas berahi sapi aceh baik yang disinkronisasi berahi dengan PGF2α dan sapi yang mengalami berahi alami dengan skor intensitas berahi masing-masing adalah 2,40±0,84 dan 2,70±0,48.
ANALISIS FILOGENETIK ISOLAT VIRUS AVIAN INFLUENZA SUBTIPE H5N1 ASAL PROVINSI ACEH Helmy, Teuku Zahrial; Widayanti, Rini; Haryanto, Aris
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 1 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.798 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i1.348

Abstract

Penelitian ini bertujuan melakukan studi filogenetik virus AI tipe A subtipe H5N1 isolat asal Provinsi Aceh yang dapat memberikan informasi secara molekuler tentang kekerabatan antar isolat virus AI tipe A subtipe H5N1. Sebanyak 11 isolat virus AI asal Provinsi Aceh yang dikoleksi oleh Laboratorium Virologi Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional I di Medan, Sumatera Utara selama kurun waktu 2007-2008 digunakan dalam penelitian ini. Metode penelitian meliputi preparasi sampel isolat virus, ekstraksi RNA, amplifikasi gen H, elektroforesis DNA hasil amplifikasi, sekuensing, dan analisis data hasil sekuensing dengan software MEGA 4.0. Hasil sekuensing diketahui bahwa daerah yang teramplifikasi sebesar 191 bp. Hasil allignment dari nukleotida 191 bp ditemukan urutan nukleotida yang menyandi 5 asam amino yang berbeda pada posisi asam amino ke-493, 498, 499, 504, dan 515 antara isolat virus AI subtipe H5N1 asal Provinsi Aceh selama tahun 2007-2008 dengan isolat dari pembanding dari gene bank. Kontruksi pohon filogenetik menunjukkan bahwa virus AI subtipe H5N1 asal Provinsi Aceh tahun 2007-2008 mengelompok secara terpisah dari isolat Indonesia yang lain, tetapi masih dalam klaster virus AI subtipe H5N1 Indonesia.
IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISASI FENOTIPE Staphylococcus aureus ASAL KASUS BUMBLEFOOT DAN ARTHRITIS PADA BROILER k, Khusnan; Prihtiyantoro, Wahyu; Slipranata, Mitra
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.943 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.332

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan karakterisasi Staphylococcus aureus (S. aureus) yang berasal dari kasus bumblefoot dan arthritis. Dalam penelitian ini digunakan 10 isolat S. aureus yang terdiri atas lima hasil isolasi asal kasus bumblefoot dan lima hasil isolasi asal kasus arthritis pada ayam broiler. Identifikasi S. aureus dilakukan melalui uji fermentasi manitol salt agar (MSA), pewarnaan Gram, uji koagulase, clumping factor, dan uji katalase. Karakterisasi fenotipe S. aureus yang dilakukan meliputi sifat hemolisis pada plat agar darah, sifat hidrofobisitas, dan kemampuan hemaglutinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat S. aureus mampu memfermentasi MSA, positif uji koagulase, clumping factor, dan katalase. Staphylococcus aureus mampu menghemolisis plat agar darah dengan memperlihatkan sifat α-hemolisin (80%), β-hemolisin (10%), and γ-hemolisin (10%). Semua isolat S. aureus (100%) bersifat hidrofil dan mampu mengaglutinasi sel darah merah kelinci.
CELLULAR MECHANISM UNDERLYING EMBRYO-MATERNAL RELATIONSHIP IN INTRASPECIFIC AND INTERSPECIFIC PREGNANCY widayati, Diah tri; Fukuta, Katsuhiro
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.235 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.273

Abstract

Mouse and vole embryos were transferred into pseudopregnant CD-1 and scid female mice. Cellular changes involved in the formation of decidua in the pregnant mouse uterus up to day 8 of pregnancy were examined by histological, electron microscopic, and histochemical techniques. On day 6 of pregnancy, the vole embryos were laid in interstitium of antimesometrial side of the uterus, as well as in intraspecific pregnancy. Compared with intraspesific pregnant mouse, blood vessels were numerous in the decidua around the vole embryos in interspecific pregnancy. Both distribution and dilation of the blood vessels were increased on day 8. A part of cells in the inner cell mass had not nuclei, suggesting damaged vole embryos on day 8. At the implantation site, the uterine decidua was invaded by extravillous trophoblast (EVT) cells whose function is to destroy the walls of the uterine spiral. Moreover, this decidua was infiltrated by a population of natural killer (NK) cells and macrophage. These cells were particularly numerous in the decidua basalis at the implantation site where they come into close contact with invading EVT cells. These results suggest that interaction between NK, macrophage, and EVT provides the controlling relationship of embryo-maternal in intraspecific and interspecific pregnancy.
EFEKTIVITAS PENTAGAMAVUNON-0 TERHADAP PENGHAMBATAN EKSPRESI SIKLOOKSIGENASE-2 PADA MODEL KANKER KOLON TIKUS Yulianty, Risfah; Hakim, Lukman; S, Sardjiman; Alam, Gemini; Nufika, Riska; Widyarini, Sitarina
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (553.88 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.344

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan efektivitas pentagamavunon-0 (PGV-0) terhadap penghambatan ekspresi siklooksigenase-2 (COX-2) pada kanker kolon tikus Wistar. Pada penelitian ini digunakan 20 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi secara acak dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok I merupakan kontrol negatif, kelompok II kontrol positif, kelompok III diberi PGV-0 40 mg/kg BB selama 15 minggu, dan kelompok IV diberi PGV-0 40 mg/kg BB selama 25 minggu. Pemberian PGV-0 dilakukan secara oral dua kali seminggu. Induksi kanker kolon dilakukan dengan cara injeksi subkutan DMH 60 mg/kg BB, satu kali seminggu selama 15 minggu. Pada minggu ke-26, semua hewan coba dieutanasia, kolon difiksasi dalam formalin 10% untuk selanjutnya diamati perubahan makroskopik dan mikroskopik. Penilaian ekspresi COX-2 dilakukan dengan menggunakan metode Duke’s stage dan skor imunoreaktivitas (IRS). Hasil penelitian ini memperlihatkan pemberian PGV-0 selama 25 minggu menurunkan jumlah nodul kanker kolon dari 5 ke 2 (berkurang 60%); diameter kanker kolon (pxl) dari 0,712 mm² ke 0,0043 mm² (berkurang 99,31%). Pemberian PGV-0 selama 15 minggu hanya menurunkan jumlah nodul 10% dan area kanker kolon dari 0,712 mm² ke 0,0062 mm² (99,07%). Skor imunoreaktivitas COX-2 diekspresikan oleh kelompok III dan IV adalah 4 dan 5. Gambaran histologis dari kolon mendukung hasil di atas. Pemberian PGV-0 efektif menurunkan jumlah dan area nodul kanker kolon melalui penghambatan ekspresi COX-2.
PERUBAHAN HISTOLOGIS DAN RESPONS IMUNITAS SAPI BALI YANG DIBERIKAN PAKAN CAMPURAN KONSENTRAT Berata, I ketut; Winaya, Ida Bagus Oka; Kardena, I Made
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.275 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.307

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui perubahan histologis dan respons kekebalan sapi bali yang diberikan pakan campuran konsentrat. Sebanyak 12 ekor sapi bali betina berumur 2 tahun, dibagi secara acak atas 3 kelompok perlakuan yaitu kelompok I diberi pakan rumput, kelompok II diberi pakan campuran 2 bagian rumput dan 1 bagian konsentrat, dan kelompok III diberi pakan campuran 1 bagian rumput dan 1 bagian konsentrat. Sebelum diberi perlakuan, dilakukan uji respons kekebalan seluler dengan teknik uji methylthiazol tetrazolium (MTT). Uji respons kekebalan dilakukan kembali pada bulan ke-3 dan sesaat sebelum dilakukan nekropsi. Pada bulan ke-10 dilakukan nekrosi terhadap 2 ekor sapi dari masing-masing kelompok perlakuan. Sisa sapi dari masing-masing kelompok perlakuan dilanjutkan diberi perlakuan untuk penelitian lanjutan. Sapi yang dinekropsi diambil jaringan pencernaan yaitu usus, untuk selanjutnya diproses dalam pembuatan sediaan histologis. Sediaan histologis diwarnai dengan hematoksilin eosin (HE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan struktur histologis usus antara ketiga kelompok perlakuan sedangkan respons kekebalan seluler tertinggi pada kelompok yang diberi pakan konsentrat yang lebih banyak.
STUDI KERAGAMAN GENETIK Tarsius sp. ASAL KALIMANTAN, SUMATERA, DAN SULAWESI BERDASARKAN SEKUEN GEN NADH DEHIDROGENASE SUB-UNIT 4L (ND4L) Widayanti, Rini; Susmiati, Trini
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.709 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.339

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengaji keragaman genetik gen ND4L masing-masing spesies Tarsius yang dapat digunakan sebagai penanda genetik. Hasil polymerase chain reaction (PCR) gen ND4L menggunakan primer ND4LF dan ND4LR diperoleh 478 bp, setelah dilakukan sekuensing didapatkan sekuen gen ND4L sebesar 297 nt. Sekuen gen ND4L disejajarkan berganda dengan primata lain dari Genbank menggunakan Clustal W, dan kemudian keragaman genetik antar spesies dianalisis menggunakan program MEGA versi 5.0 (Nei dan Kumar, 2002). Di antara sampel Tarsius ditemukan satu situs nukleotida beragam, yaitu pada situs ke 162. Jarak genetik berdasarkan basa nukleotida ND4L dihitung menggunakan model dua parameter-Kimura menunjukkan paling kecil sebesar 0%, paling besar 0,3%, dan rata-rata 0,1 %. Pohon filogenetik menggunakan metode Neighbor joining tidak dapat membedakan antara Tarsius dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, dan mengelompokkan Tarsius dalam subordo Strepshirrini.
KEHADIRAN FOLIKEL DOMINAN PADA SAAT INISIASI SUPEROVULASI MENURUNKAN RESPONS SUPEROVULASI SAPI ACEH siregar, tongku nizwar; eldora, maikhar gita; melia, juli; panjaitan, budianto; y, yusmadi; barus, rina aulia
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.667 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.274

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui respons superovulasi dan pengaruh kehadiran folikel dominan pada saat inisiasi superovulasi sapi aceh yang diinduksi superovulasi dengan follicle stimulating hormone (FSH). Dalam penelitian ini digunakan 7 ekor sapi aceh betina yang telah didiagnosis sehat reproduksinya, umur 5-8 tahun, mempunyai berat 150-250 kg, dan mempunyai minimal dua siklus reguler. Seluruh sapi disuperovulasi dengan FSH dosis menurun pada hari ke-9 siklus estrus (3-3, 2-2, 1-1, dan 0,5-0,5) ml. Kehadiran atau ketiadaan folikel dominan pada saat inisiasi superovulasi diobservasi melalui penggunaan ultrasonografi (USG). Sapi yang mempunyai folikel kecil (3-8 mm) berjumlah <10 folikel dikategorikan mempunyai folikel dominan, sedangkan sapi yang mempunyai folikel kecil (3-8 mm) >10 folikel dikategorikan tidak mempunyai folikel dominan. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi secara non surgical menggunakan kateter Foley. Sapi yang disuperovulasi tanpa kehadiran folikel dominan menghasilkan korpus luteum (6,7+0,58 vs 4,5+1,73),folikel anovulasi (9,7+8,0 vs 19,5+6,8), total embrio (11,0 vs 3,0), dan embrio kualitas baik (6,0 vs 2,0) dibandingkan dengan sapi yang disuperovulasi dengan kehadiran folikel dominan. Dapat disimpulkan bahwa induksi superovulasi dengan FSH dengan kehadiran folikel dominan pada saat inisiasi superovulasi menurunkan respons superovulasi sapi aceh.
KINERJA REPRODUKSI KAMBING LOKAL YANG DIINDUKSI SUPEROVULASI DENGAN ANTISERUM INHIBIN h, Hamdan; Nurcahaya, Dian; Siregar, Tongku Nizwan; Panjaitan, budianto; rizal, Husnur
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 1 (2012): J. Ked. Hewan
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.984 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i1.345

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian antiserum inhibin terhadap kinerja reproduksi kambing lokal. Dalam penelitian ini digunakan 12 ekor kambing betina lokal yang dibagi dalam 2 kelompok, kelompok kontrol dan perlakuan (KI dan KII), masing-masing terdiri atas 5 dan 7 ekor kambing. Seluruh kambing diinjeksi dengan 0,5 ml PGF2α (LutalyzeTM) secara intramuskulus, 2 kali injeksi dengan interval 10 hari. Pada kelompok perlakuan (KII), kambing diinjeksi dengan 500 μg antiserum inhibin pada hari ke-9 siklus dan diikuti penyuntikan 0,5 ml PGF2α 48 jam kemudian. Inseminasi dilakukan 10 jam setelah awal berahi dan diulang 12 jam kemudian. Parameter yang diamati adalah persentase berahi, kebuntingan, kelahiran, kelahiran kembar, jumlah anak total, dan jumlah anak per kelahiran. Hasil penelitian menunjukkan semua kambing (100%) pada kedua kelompok memperlihatkan berahi. Persentase kebuntingan pada KI dan KII masing-masing adalah 60,0 dan 57,1%. Angka kelahiran KI dan KII masing-masing adalah 100% dan persentase kelahiran kembar masing-masing adalah 0,0 dan 50,0%. Total jumlah anak pada KI dan KII masing-masing adalah 3 dan 6, dan rata-rata jumlah anak per kelahiran masing-masing adalah 1,0 dan 1,5 ekor. Perlakuan dengan antiserum inhibin dapat meningkatkan kinerja reproduksi kambing lokal.

Page 1 of 33 | Total Record : 327