cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Al-Manahij
ISSN : 19786670     EISSN : 25794167     DOI : -
Core Subject : Education,
AL-MANAHIJ is a scholarly journal of Islamic law studies. It is a forum for debate for scholars and professionals concerned with Islamic Laws and legal cultures of Muslim Worlds. It aims for recognition as a leading medium for scholarly and professional discourse of Islamic laws. It is a joint initiative of the members of the APIS (Asosiasi Peminat Ilmu Syariah) and the Syariah Faculty of the State Institute of Islamic Studies of Purwokerto (IAIN Purwokerto).
Arjuna Subject : -
Articles 22 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 2 (2013)" : 22 Documents clear
Aplikasi Teori Double Movement Fazlur Rahman Terhadap Doktrin Kewarisan Islam Klasik Muttaqin, Labib
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan metode tafsir mengakibatkan perbedaan produk hukum. Salah satu dari berbagai banyak isu yang kerap kali menjadi tema perdebatan adalah kewarisan Islam. Dalam hal waris, mayoritas ulama klasik memandang bahwa ketentuannya bersifat tetap (qat’i) dan tidak boleh ada perubahan atas dirinya. Berbeda dengan pendapat yang dilontarkan kalangan progressif bahwa perlu adanya redefinisi terhadap istilah qat’i dengan melihat sejarah atas eksistensinya. Tawaran segar muncul dari Fazlur Rahman, intelektual muslim asal Pakistan yang berpikiran maju. Dalam memahami dan menafsiri teks al-Qur’an ia memperkenalkan teori gerak-ganda, yaitu teori yang menghendaki adanya pemahaman terhadap makna al-Qur’an dalam konteks kesejarahannya (sosio-historikal) sehingga tidak memunculkan istilah subyektifitas tafsir, dengan harapan teks dan makna yang ada dalam al-Qur’an tidak dipahami secara stagnan tetapi dinamis dengan tujuan Islam tetap bisa menjawab isu-isu kontemporer yang berkembang pada saat ini dan tetap menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin dan likulli zaman wa makan.   Kata kunci: gerak-ganda, Fazlur Rahman, waris, metode tafsir, fiqh kontemporer  The difference in a method of exegesis could cause the difference in legal interpretation. One of many issues that often becomes a debate is inheritance in Islamic law. The majority of classical ulama beheld that the Quranic stipulations on inheritance law are decisive (qati), and therefore they should not be changed. In contrast, the view of progressive Muslims believes that it needs redefinition to the term of qati (decisive) to discern historical aspects of scripture. A fresh offer of thought came from Fazlur Rahman, a progressive Muslim intellectual from Pakistan. To understand and interpret Quranic texts, he introduced a theory of double-movement, a theory that demands an understanding of Quranic meanings from socio-historical contexts in order to avoid subjectivity of interpretation, and to expect that Quranic texts and their meanings could not be understood stagnantly. Instead, Quranic texts should be interpreted dynamically in order that Islam could keep responding contemporary issues that develop nowadays, and that Islam still become a universal religion both in term of time and place.   Keywords: double movement, Fazlur Rahman, inheritence, interpretation method, contemporary fiqh
Maqasid Al-Syari’ah Sebagai Sumber Hukum Islam: Analisis Terhadap Pemikiran Jasser Auda Arfan, Abbas
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jasser Auda adalah tokoh muda Islam yang berambisi mengembalikan kembali pemahaman ru h al-tasyri‘ seperti masa Sahabat Nabi Muhammad SAW sebagai metode istinbat hukum Islam lewat pintu yang disebutnya maqasid al-syari ’ah, sebagai pelengkap dari konsep maqasid-nya al-Syatibi dan Ibn ‘Asyur. Dalam pandangan Auda, ada kesamaan antara ‘illat dan  maqasid, sebab ‘illat yang didefinisikan sebagai al-ma’na al-lazi syuri’a al-hukm li ajlih (sebuah makna yang karenanyalah suatu hukum itu disyariatkan) adalah sama dengan definisi maqasid. Belum lagi beberapa nama ‘illat, seperti al-sabab, al-amarah, al-da’i, al-bais, al-hamil, al-manat, al-dalil, al-muqtada, al-mujib dan al-mu’assir juga bisa menjadi alasan bahwa ada kesamaan antara ‘illat dan maqasid. Oleh karena itu, ketika ada kaidah usuliyyah yang terkenal berbunyi al-hukm al-Syar’i yadu r ma’a ‘illatih wujudan wa ‘adaman” (hukum syariat itu berorientasi dengan ada atau tidaknya sebuah ‘illat), maka bisa dibuat sebuah kesimpulan juga tadur al-ahkam al-syar’iyyah al-’amaliyyah ma’a maqasidiha wujudan wa ’adaman, kama tadur ma’a ‘ilaliha wujudan wa ’adaman”. Kata kunci: Jasser Auda, maqasid al-syari’ah, ‘illat, istinbat, hukum Islam   Jasser Auda is young Islamic figure who has ambition to bring back the understanding of ruh al-tasyri‘ like in the age of the Prophet’s companions as the istinbat method in Islamic law through the way that Jasser called as maqasid al-syari’ah as the complement of al-Syatibi and Ibn Asyur’s concept. In Auda’s notion, there is a similarity between ‘illat and maqasid, because ‘illat (legal reason), which is defined as al-ma’na al-lazi syuri’a al-hukm li ajlih (a meaning to which a law is determined), is similar to the definition of maqasid (aims). Furthermore, several names of ‘illat such as al-sabab, al-amarah, al-da’i, al-ba’is, al-hamil, al-manat, al-dalil, al-muqtada, al-mujib and al-mu’asir can be the reason for the similarity between ‘illat and maqasid. Therefore, when the famous usuliyyah principle says: ”al-hukm al-Syar’i yadur ma’a ‘illatih wujudan wa ‘adaman” (that sharia law is oriented with or without ‘illat), hence, a conclusion can be drawn that ”tadur al-ahkam al-syar’iyyah al-’amaliyyah ma’a maqasidiha wujudan wa ’adaman, kama tadur ma’a ‘ilaliha wujadan wa ’adaman”(Islamic law is determined with or without its aims, as it is determined with or without its reasons). Keywords:     Jasser Auda, Maqasid al-Syari’ah, ‘illat, istinbat, Islamic law
Penalaran Istislahi Sebagai Metode Pembaharuan Hukum Islam Aibak, Kutbuddin
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai sumber tasyri’ ketiga, objek ijtihad itu adalah segala sesuatu yang tidak diatur secara tegas dalam nas al-Qur’an dan Sunnah serta masalah-masalah yang sama sekali tidak mempunyai landasan nas (ma la nassa fih). Dalam perspektif pemikiran hukum Islam (usūl al-fiqh) para ulama usul menerapkan berbagai metode dalam melakukan ijtihad hukum. Di mana dalam penerapannya, metode-metode tersebut selalu didasarkan pada maqas id al-syari’ah (tujuan pensyari’atan hukum). Salah satu corak penalaran yang perlu dikembangkan dalam upaya penerapan maqās id al-syari’ah adalah penalaran istis lahi. Corak penalaran istislahi adalah upaya penggalian hukum yang bertumpu pada prinsip-prinsip kemaslahatan yang disimpulkan dari al-Qur’an dan hadis. Kemaslahatan yang dimaksudkan adalah kemaslahatan yang secara umum ditunjuk oleh kedua sumber hukum tersebut. Artinya kemaslahatan itu tidak dapat dikembalikan kepada suatu ayat atau hadis secara langsung baik melalui penalaran bayani atau ta’lili, melainkan dikembalikan kepada prinsip umum kemaslahatan yang dikandung oleh nass. Dalam perkembangan pemikiran usul fikih, corak penalaran istislahi ini tampak dalam beberapa metode ijtihad, antara lain dalam metode al-maslahah al-mursalah dan sadd al-zari’ah. Kata kunci: penalaran istislahi, al-maslahah al-mursalah, saddu al-zari’ah, ijtihad, maqasid al-syariah  As a third source of law-making, ijtihad (individual judgment in a legal question)  includes everything that is not expressly regulated in the texts of the Quran and Sunnah, as well as issues that have absolutely no legal  basis (ma la nass}a fih). In the perspective of Islamic legal thought (usūl al-fiqh), Muslim scholars applying various methods in doing ijtihad, which in practice, these methods are always based on maqasid al-syari’ah (law-making purposes). One mode of reasoning that needs to be developed in the effort of applying legal purposes is resting on benefit principles deduced from the Quran and hadis. What is meant by the benefit here is the benefit that cannot be returned to a verse or a hadis directly either by explanatory or argumentative reasoning, but returned to general benefit principles contained in the two sources of law. In the development of Islamic legal thought, the pattern of benefit-taking reasoning (istislahi) is evident in some of the methods of ijtihad, such as the methods of al-maslahah al-mursalah (deduced benefit) and saddu al-zari’ah (avoiding harm). Keywords: istislahi reasoning, al-maslahah al-mursalah, saddu al-zari’ah, ijtihad, maqasid al-syariah
Arah Baru Pemikiran Filsafat Hukum Islam Mushlihin, Imam Annas
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian filsafat hukum Islam kurang mendapat perhatian yang semestinya pada masa klasik dan pertengahan Islam. Para ahli hukum Islam pada masa itu berhenti pada konsep maslahah sebagai tujuan hukum Islam (maqasid al-syari’ah) ketika berbicara mengenai filsafat hukum Islam. Beberapa persoalan filsafat hukum Islam yang muncul dewasa ini adalah berkaitan dengan demokrasi dan keadilan, hak asasi manusia (HAM), persoalan gender, dan masalah-masalah serupa dalam dunia modern. Pada masa modern, filsafat hukum Islam dikembangkan oleh beberapa ahli hukum Islam dalam menjawab berbagai permasalahan di dunia modern tadi. Para ahli hukum Islam modern merumuskan beberapa teori-teori baru yang umumnya memanfaatkan ilmu-ilmu humaniora dan sosial, maupun sains yang berkembang di Barat. Beberapa di antara teori-teori baru tersebut adalah  teori double movement, teori redefinisi nasakh, teori hudud, dan teori hermeneutika. Pendekatan para ahli hukum Islam modern tersebut menandai arah baru pengkajian dan pemikiran filsafat hukum Islam dewasa ini. Tulisan ini menguraikan pemikiran awal filsafat hukum Islam dan faktor-faktor yang mempengaruhi perumusannya, serta beberapa persoalan yang menuntut dilakukannya perubahan dalam pemikiran awal filsafat hukum Islam tersebut. Kata kunci : arah baru, pemikiran, filsafat, hukum Islam, masa moderen  Islamic legal philosophy study of classic and middle period of Islam is unable to get proper attention. When talking about Islamic legal philosophy, the Muslim jurists during that period desist at concept maslahah as purpose of Islamic law (maqasid al-syari’ah). Some problems of Islamic legal philosophy emerging these days are relating to democracy and justice, human right, gender, and similar problems in the modern world. During modern period, Islamic legal philosophy is developed by some Muslim jurists in responding various problems in the modern world. The Muslim jurists in modern period formulate some new theories generally using humanity and social sciences that are growing in the West. Some new theories are the theory of double movement, the theory of redefining naskh, the theory of hudud, and the theory of hermeneutics. Approaches used by the modern Muslim jurists mark new direction of study and idea of Islamic legal philosophy these days. This paper outlines the initial ideas of philosophy of Islamic law and the factors that influence the formulation, as well as some issues which call for a change in the thinking of the early Islamic legal philosophy. Keywords: new thinking, thought, philosophy, Islamic law, modern era
Permasalahan Implementasi Perda Syariah Dalam Otonomi Daerah Jati, Wasisto Raharjo
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Syariah menjadi kajian unik bukan hanya dimaknai sebagai entitas wajib patuh, namun juga karena posisi yuridisinya yang dilematis dalam hukum nasional. Tulisan ini berusaha untuk menganalisis implementasi perda syariah dalam otonomi daerah di Indonesia. Keberadaan perda syariah selama ini masih dilematis baik dari segi konsep maupun implementasi. Banyak kalangan menilai bahwa perda syariah sendiri dipandang tidak perlu, namun ada juga yang menilai bahwa perda syariah sendiri penting dalam menjaga moral masyarakat. Meskipun demikian, secara yuridis formal perda syariah tidak berlaku secara konstitusional, namun keberadaan perda syariah masih dipertahankan hingga kini. Bahkan perda syariah sendiri cenderung terpolitisasi daripada menegakkan ketertiban. Tulisan ini akan mengelaborasi lebih lanjut bagaimana kedudukan perda syariah dalam otonomi daerah di Indonesia, apakah ia hanya sebagai alat politik untuk menarik dukungan masyarakat bagi partai politiknya atau memang murni aspirasi masyarakat. Kata kunci: Perda syariah,  otonomi daerah,  yuridis formal, hukum Islam, politik Islam Syaria often becomes a unique study because it is not only defined as an entity required to comply, but also because of its dilemmatic juridical position in the national law. This article aimed to analyze the implementation of syariah bylaws in regional autonomy. The existence of syariah bylaws is still problematic in terms of both concept and implementation. Many people consider that syariah regulations are deemed unnecessary, but there are many people consider that syariah regulations are vital in maintaining public morals. Nonetheless, from formal judicial perspective, syariah bylaws are constitutionally invalid, but the presence of Islamic regulations is still maintained up to these days. Even syaria regulations tend to politicized more than imposing public order. This paper elaborates further how the position of syariah regulations in regional autonomy in Indonesia, whether it becomes a political tool to attract public support for political parties or it is pure aspiration of the people. Keywords: Syariah bylaws, regional autonomy, juridical formal, Islamic law, Islamic politic
Penerapan Asas Pembuktian Terbalik Terhadap Kasus Pidana Korupsi Dalam Perspektif Hukum Islam -, Abdulahanaa
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan asas praduga tak bersalah tidak efektif untuk mengatasi tindak pidana korupsi. Karena itu perlu diterapkan asas pembuktian terbalik yang merupakan konsekuensi dari asas keadilan dan pertanggungjawaban atas amanah. Asas pembuktian terbalik efektif untuk melindungi keuangan negara dari penyalahgunaan oleh penyelenggara negara. Tujuannya adalah agar mekanisme pemerintahan dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa unsur penipuan dan KKN, sehingga hak-hak rakyat dapat terpenuhi sebagaimana mestinya. Berdasarkan hukum Islam, wajib hukumnya menerapkan asas pembuktian terbalik terhadap pegawai/pejabat setelah ditemukan bukti-bukti permulaan yang akurat tentang indikasi adanya tindak pidana korupsi. Hal ini merupakan konsekuensi hukum yang melekat pada kewajiban memenuhi sumpah dan janji jabatan (amanah). Penerapan asas pembuktian terbalik atas pejabat yang korupsi tidak bertentangan atau melanggar asas praduga tak bersalah, sebab asas pembuktian terbalik merupakan pengecualian (takhsis) dari ketentuan umum asas praduga tak bersalah (lex specialis derogate generali). Kata kunci: asas pembuktian terbalik, asas praduga tak bersalah, penerapan hukum, korupsi, hukum Islam  The implementation of the presumption of innocent principle has not been effective to cope with crimes of corruption. Therefore, it needs to implement the reverse proving which is as a consequence of justice and accountability of a mandate. The reverse proving concept would be an effective way to protect states finances from misuse of states apparatus. The aim of using this reverse proving is that governance mechanisms can function properly without fraud and corruption, so that the peoples rights can be fulfilled as it should. Under Islamic law, it is obliged to apply the principle of reverse proving to the states employees/officials after being discovered accurate inception evidences to an indication of corruption. This is the legal consequences attached to the obligation in fulfilling the oath and pledge of office (mandate). Application of reverse proving on corrupt officials does not contradict or violate the presumption of innocence principle, because the concept of reverse proving is an exception (takhsis}) to the general provisions of the presumption of innocence (lex specialis derogate generali). Keywords: reverse proving, presumption of innocence, law enforcement, corruption, Islamic law
Model Resolusi Konflik Alternatif Dalam Hukum Islam Fanani, Ahwan
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hukum Islam sering dipandang sebagai hukum yang keras dan agresif. Pandangan demikian tidak hanya dianut oleh kalangan nonmuslim, namun juga oleh sebagian kalangan muslim sendiri. Mispersepsi mengenai sifat dasar hukum Islam tersebut sering mengaburkan mekanisme perdamaian yang ditawarkan oleh hukum Islam. Formulasi studi perdamaian dalam dunia Islam kurang berkembang, sehingga referensi terhadap mekanisme-mekanisme resolusi konflik dalam hukum Islam belum memenangkan wacana publik umat Islam, apalagi publik yang lebih luas. Tulisan ini adalah upaya untuk menggali model-model resolusi konflik alternatif dalam hukum Islam, baik dalam menghadapi konflik antara sesama muslim maupun dengan nonmuslim. Tulisan ini menunjukkan bahwa Islam memiliki model-model resolusi konflik alternatif, khususnya sulh dan tahkim. Keduanya mewakili resolusi konflik alternatif yang banyak diacu dalam al-Quran maupun hadis. Kedua resolusi konflik alternatif tersebut mengandung elemen-elemen persamaan dengan beberapa model resolusi konflik alternatif modern, namun ada aspek-aspek khas yang membuat model resolusi konflik alternatif dalam Islam memiliki keunikan, yaitu memiliki basis agama dan lebih menekankan penyelesaian konflik bersama. Kata kunci:    resolusi konflik alternatif, perdamaian, hukum Islam, sulh, tahkim  Islamic law is often seen as harsh and aggressive law. Such a view is not only shared by non-Muslims, but also by some Muslims themselves. Misperceptions about the nature of Islamic law are often obscuring peace mechanism offered by Islamic law. Formulation of peace studies in Islamic world is less developed, so that reference to mechanisms of conflict resolution in Islamic law has yet to win Muslim public discourse, let alone the wider public. This paper is an attempt to explore models of alternative dispute resolution in Islamic law, both in dealing with the conflict between the Muslim and non-Muslim neighbors. This paper shows that Islam has models of alternative dispute resolution, in particular sulh and tahkim.. Both represent an alternative conflict resolution that is widely mentioned in the Quran and hadis. Both alternative conflict resolutions contain elements in common with some modern models of alternative dispute resolution, but there are aspects that make the alternative model of conflict resolution in Islam is unique, in which it has a religious basis, and it also more emphasizes to resolve a collective conflict. Keywords:     alternative conflict resolution, peace, Islamic law, sulh, tahkim
Hak Milik Atas Tanah Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Pertanahan Indonesia -, Ridwan
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepemilikan tanah dalam hukum Islam bersifat komunalistik religius yang penguasaannya ada pada negara dengan menambahkan bobot dan nilai teologis-religius untuk membedakan dengan sistem kepemilikan aliran Sosialistik. Untuk memperkuat pendapat di atas, penulis mengajukan dua argumentasi; Pertama, argumentasi normatif-teologis yang menyatakan bahwa bumi dan isinya adalah milik Allah yang penguasaannya ada pada negara. Kedua, argumentasi historis yaitu dengan mengajukan bukti-bukti sejarah (historical evident) tentang gagasan reformasi hukum kepemilikan tanah (land reform) yang tercermin dalam berbagai kebijakan pemerintah dimulai masa Nabi hingga para khalifah sesudahnya melalui instrumen regulasi iqt a’ dan hima. Konsep hukum kepemilikan masyarakat atas tanah menurut Hukum Pertanahan Indonesia yaitu UU No. 5 Tahun 1960 dan Hukum Islam memiliki persamaan pada tataran asas hukumnya, yaitu kepemilikan tanah yang adil dan merata atas dasar persamaan di hadapan hukum dengan mendasarkan pada nilai etika spiritual agama. Kata kunci: komunalistik religius, kepemilikan tanah,  land reform, iqt a’, hima  Land ownership in Islamic law is religious communalistic and that the authority belongs to the country by adding religious theological values to distinguish from the ownership system of that in Sosialism. To strengthen the above statement, the writer proposes two arguments; First, the theological normative arguments that claims that the Earth and its content belong to Allah whose authorization is on the country. Second, historical argument, that is by proposing historical evidences on the ideas of land reform on land ownership that can be seen from the various government policies beginning from the era of prophet Muhammad until the successor Khalifates using instruments of iqta’ and hima. Land ownership according to Islamic law and Indonesia agrarian law is the characteristic of communalistic-theistic-selective. People ownership law concept upon land in Indonesia agrarian law that is law number 5 of the year 1960 (UUPA) and Islamic law has an equality on basis philosophical or basis of the law is to create land ownership system fairly and smoothly based on the equality in front of law based on religious spiritual value. Keywords: religious communalistic, land ownership, land reform, iqta’, hima
Rereading The Law Of Apostasy In Hadis Using Hermeneutical Takhrij Method Rahman, Fazlul
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isu membunuh orang murtad dalam Islam masih menjadi perdebatan, mengingat hal tersebut (terkesan) didukung oleh ajaran Islam. Hadis yang menyatakan ‘man  baddala dinahu faqtuluh’ (barang siapa  yang  mengganti agamanya, maka bunuhlah dia!) seringkali digunakan untuk meligitimasi hukuman mati  bagi orang murtad. Sayangnya, model konvensional pembacaan teks-teks hadis yang disediakan oleh ulama hadis klasik justru mendukung hukuman kejam tersebut. Artikel ini bertujuan untuk menyelidiki isu terkait hukuman bagi orang murtad dengan  mengajukan metode  baru  pembacaan hadis  yang  disebut ‘Takhrij Hermeneutis’. Penggunaan metode  baru  ini  bertujuan  untuk  menyuguhkan kepada pembaca makna hadis yang lebih luas, kontektual, dan sesuai dengan konteks kekinian. Dengan metode ini, pembacaan para ulama terhadap hadis Nabi tersebut seringkali tereduksi hanya pada masalah hukuman mati saja bagi orang murtad, sehingga menyebabkan kesalahpahaman di antara mereka. Dengan demikian, perlu upaya pembaruan pembacaan hadis Nabi melalui metode baru. Kata kunci:    murtad, hermeneutik, hadis, takhrij, makna The issue of killing the apostate in Islam remains controversial since it (seems to be) supported by Islamic teachings. A hadis says: ‘man baddala dinahu faqtuluh’ (whosoever changed his religion, kill him) oftenly used to legitimate death penalty for the apostate.  A conventional way of reading texts of hadis provided   by classical hadis scholars,   unfortunately, supports this cruel punishment. This article aims to investigate the issue of the law of apostacy by promoting new method of reading hadith called as ‘Hermeneutical Takhrij’. This new method is used to provide reader a broader, contextual, and proper meaning of the hadis. By using this method, the scholars’ reading the prophet’s saying is often reduced to the issue of the death penalty for the apostates and, hence, cause misunderstanding among them. Thus, it needs to rejuvenate it by doing continues reactulization efforts through rereading the issue and developing new methods for it. Keywords:      apostasy, hermeneutics, hadis, takhrij, meaning
Meneropong Dinamika Muslim Di Barat Melalui Fiqh Al-Aqalliyat Zuhri, Syaifudin
Jurnal Al-Manahij Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : STAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semakin meningkatnya angka demografis masyarakat Muslim dan lembaga-lembaga Islam yang didirikan di negara-negara Barat membuktikan bahwa Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di sana. Namun demikian, masyarakat Muslim di Barat adalah komunitas minoritas yang hidup di tengah-tengah budaya masyarakat selain Islam. Karena itu, mereka harus berhadapan dengan persoalan-persoalan unik dalam mempraktekkan syariat, lebih tepatnya fikih. Persoalan tersebut mungkin tidak pernah dihadapi oleh masyarakat Muslim lain yang hidup di negara-negara Muslim. Mereka harus berhadapan dengan persoalan bagaimana menerapkan syariat dalam konteks masyarakat Barat. Fiqh al-aqalliyat (fikih minoritas) adalah salah satu jawaban atas persoalan tersebut. Fiqh al-aqalliyat merupakan hasil kreasi Muslim minoritas yang hidup di Barat serta menjadi metode penting dalam merumuskan fikih yang aplikatif (di Barat). Iftā’ adalah institusionalisasi dari upaya tersebut. Kata kunci:    fiqh al-aqalliyat, fatwa, iftā’, syari’ah, Muslim minoritas  The growth of demographic presence of Muslim and the establishment of Islamic institutions and associations in Western countries have demonstrated that Islam is the fastest growing religion there. Nonetheless, Muslims in the west are a religious minority group as they live in non-Muslim surroundings and encounter peculiar problems in practicing religion (syarī‘ah), as embodied in fiqh tradition in particular, different from that of their fellow Muslim in Muslim countries. They have to deal with a question about how to practice syarī‘ah in the contexts of Western countries. Fiqh al-aqalliyat (fiqh for minority) is one of significant instruments by which they seek for solutions pertaining to syarī‘ah problems. Fiqh al-aqalliyat demonstrates efforts of minority Muslim to comprehend syarī‘ah and to construct an applicable syarī‘ah in non-Muslim atmosphere. Iftā’ is of significant tradition in so doing. Keywords:      fiqh al-aqalliyat, fatwa, syarī‘ah, iftā’, minority Muslims

Page 1 of 3 | Total Record : 22


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 2 (2019) Vol 13 No 1 (2019) Vol 13 No 1 (2019): TRANSFORMASI HUKUM PIDANA ISLAM DALAM TATA HUKUM INDONESIA Vol 12 No 2 (2018): THE AUTHORITY OF MAJELIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) FATWA Vol 12 No 1 (2018): FIKIH KONSERVASI LAUT: RELEVANSI FIQH AL-BĪʼAH DI WILAYAH PESISIR LAMONG Vol 11 No 2 (2017): IMPLIKASI YURIDIS RIWAYAT TENTANG KESALAHAN PENULISAN DALAM MUSHAF USMANI Vol 11 No 1 (2017): KONSTRUKSI TEMATIK AYAT-AYAT HUKUM: KONSEP DAN DASAR SELEKSI AYAT HUKUM MENURUT Vol 10 No 2 (2016): DISKURSUS FIKIH INDONESIA Vol 10 No 1 (2016): PERGESERAN PARADIGMA MAQASID AL-SYARI’AH Vol 9, No 2 (2015): MENYANTUNI SEJARAH DALAM IJTIHAD Vol 9, No 1 (2015): REKONSTRUKSI PEMIKIRAN FIKIH Vol 9 No 2 (2015): MENYANTUNI SEJARAH DALAM IJTIHAD Vol 9 No 1 (2015): REKONSTRUKSI PEMIKIRAN FIKIH Vol 8 No 1 (2014) Vol 8, No 2 (2014): Hermeneutika Hadis Hukum Vol 8, No 1 (2014): METODE IJTIHAD INDUKTIF TEMATIK AL-SYATIBI Vol 8 No 2 (2014): HERMENEUTIKA HADIS HUKUM Vol 8 No 1 (2014): METODE IJTIHAD INDUKTIF TEMATIK AL-SYATIBI Vol 7, No 2 (2013): ARAH BARU PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ISLAM Vol 7, No 2 (2013) Vol 7, No 1 (2013): GAGASAN HUKUM PROGRESIF PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH Vol 7, No 1 (2013) Vol 7 No 2 (2013): ARAH BARU PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ISLAM Vol 7 No 1 (2013): GAGASAN HUKUM PROGRESIF PERSPEKTIF TEORI MASLAHAH Vol 6, No 2 (2012): Transformasi Filsafat dalam Penerapan Syariat Islam Vol 6, No 2 (2012) Vol 6, No 1 (2012): Teologi Inklusif Nurcholis Madjid dn Pengaruhnya terhadap Fikih Lintas Agama di Vol 6, No 1 (2012) Vol 6 No 2 (2012): TRANSFORMASI FILSAFAT DALAM PENERAPAN SYARIAT ISLAM Vol 6 No 1 (2012): TEOLOGI INKLUSIF NURCHOLISH MADJID DAN PENGARUHNYA TERHADAP FIKIH LINTAS AGAMA D Vol 5, No 2 (2011): Implementasi Nilai Keadilan dalam Kajian Hukum Islam Vol 5, No 1 (2011) Vol 5 No 2 (2011): IMPLEMENTASI NILAI KEADILAN DALAM KAJIAN HUKUM ISLAM Vol 5 No 1 (2011): ISTI???B DAN PENERAPANNYA DALAM HUKUM ISLAM More Issue