cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknik Elektro
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
Power Flow in A Load-Current Sensorless Shunt Active Power Filter H. Tumbelaka, Hanny
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.836 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.1-7

Abstract

In this paper, power flow analysis of a three-phase four-wire system with a shunt active power filter in steady state is presented. The analysis begins with a mathematical model of the power inverter and continues to find the relationship of the real and imaginary power as well as zero sequence power in the grid, loads, and the inverter (AC and DC sides) for successful compensation. The system includes mixed non-linear loads with significant unbalanced components. The filter consists of a three-phase current-controlled voltage source inverter (CC-VSI) with a filter inductance at the AC output and a DC-bus capacitor. The CC-VSI is operated to directly control the AC grid current to be sinusoidal and in phase with the grid voltage. Computer simulation results verify the concept of the filter and the power flow. Abstract in Bahasa Indonesia : Dalam makala ini disajikan analisa aliran daya dari sistem tiga-fasa empat-kawat dengan sebuah shunt active power filter dalam keadaan ajek. Analisa dimulai dengan model matematika dari power inverter dan dilanjutkan dengan mencari hubungan antara daya nyata, imajiner, dan urutan nol pada sumber, beban, dan inverter (sisi AC dan DC) untuk proses kompensasi yang berhasil. Dalam sistem ini terdapat bermacam beban tidak linier yang juga tidak seimbang. Sedangkan filternya terdiri dari current-controlled voltage source inverter (CC-VSI) tiga fasa yang dilengkapi dengan induktansi filter pada keluaran AC dan kapasitor DC-bus. CC-VSI beroperasi untuk mengendalikan arus sumber AC secara langsung agar menjadi sinus dan sefasa dengan tegangan sumber. Hasil simulasi komputer bersesuaian dengan konsep dari filter dan aliran daya. Kata kunci:active power filter, aliran daya
A Survey on the Transient Stability of Power Systems with Converter Connected Distributed Generation Reza, Muhamad
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.271 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.8-12

Abstract

In the classical (vertical) power systems the synchronous operation of every interconnected synchronous machine (with its inherently rotating masses - inertia) is the main requirement for stable operation. As many of the distributed generation technologies are connected to the distribution network via power electronic interfaces, and do not contain inertia, the power system may show different transient stability phenomena. In this paper, the transient stability of power systems with (inertia less) converter connected distributed generation is explored via the Equal Area Criterion method and compared with that of a traditional (vertical) power system. With the existence of a strong external system, it is found that a system with a higher level of penetration of DG exhibits better stability, as measured by improved critical clearing times of the remaining synchronous generator(s). Abstract in Bahasa Indonesia : Pada sistem tenaga listrik klasik, sinkronisasi di dalam pengoperasian seluruh generator serempak (yang masing memiliki kelembaman/momen inersia) yang terhubung pada sistem adalah persyaratan yang utama untuk kestabilan operasi system tersebut. Dengan banyaknya pembangkit listrik tersebar yang terhubung pada jaringan distribusi listrik melalui perangkat elektronika daya, yang tidak dilengkapi dengan kelembaman/ momen inersia, akan menghasilkan fenomena kestabilan yang berbeda. Di dalam makalah ini, akibat penerapan pembangkit listrik tersebar yang terkoneksi melalu perangkat elektronika data terhadap kestabilan transien dari sebuah sistem tenaga listrik akan diamati dengan menggunakan metoda "Equal Area Criterion". Hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan kestabilan transien sebuah sistem tenaga listrik klasik. Di dalam makalah ini ditemukan bahwa ketika sebuah sistem tenaga listrik masih terkoneksi dengan jaringan listrik eksternal yang rigid, maka penerapan pembangkit listrik tersebar akan meningkatkan kestabilan operasi sistem, yang ditunjukkan dengan peningkatan "critical clearing times" dari generator serempak yang terhubung ke sistem tersebut. Kata kunci: pembangkit listrik tersebar terhubung dengan perangkat elektronika daya, kestabilan transien sistem tenaga listrik
Pengaruh Harmonisa Pada Gardu Trafo Tiang Daya 100 kVA di PLN APJ Surabaya Selatan Sentosa Setiadji1, Julius; Machmudsyah, Tabrani; Cipta Wijaya3, Yohanes
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.525 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.13-17

Abstract

Increasing in Information Technology also increase the use of computer and printer at home. On other hand the energy crisis causing "Saving Energy Lamp" (LHE) become largely used nowadays. Computer, Printer and "Saving Energy Lamp" are non linear load that cause a power harmonic distortion in the power system distribution grid, including in the pole-mounted transformer. The harmonic current that can caused transformer losses can be measured at pole-mounted transformer. In conclusion, increasing load at pole-mounted transformer (83,14%) will raise losses at load (6%) and current THD (Total Harmonic Distortion) (18.3%). In this measurement the current harmonic is higher than standard THD (8%). Abstract in Bahasa Indonesia : Dengan kemajuan teknologi informasi maka komputer dan printer semakin banyak digunakan di rumah tinggal. Di sisi lain, krisis energi menjadi pemicu meningkatnya penggunaan Lampu Hemat Energi (LHE). Komputer, printer & LHE merupakan beban non linier yang menjadi penyebab munculnya harmonisa yang dapat mengganggu sistem distribusi listrik termasuk Trafo Tiang (TT). Dengan melakukan pengukuran di TT maka dapat diketahui bahwa pada TT timbul arus harmonisa yang dapat meningkatkan rugi-rugi pada TT. Setelah dianalisa, diperoleh bahwa semakin besar pembebanan pada TT (83,14%) maka rugi-rugi beban akan semakin besar (6%) dan THD (Total Harmonic Distortion) arus akan naik (18,3%) & melebih standard THD (8%) Keywords: harmonisa, trafo tiang.
Analisis Unjuk Kerja Mekanis Konduktor ACCR Akibat Perubahan Arus Saluran Prasetyono, Suprihadi
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.177 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.18-25

Abstract

Overhead transmission line generally use ACSR conductor type (Aluminium Conductor Alloy Reinforced), it has makimum temperature allowable is 90oC. To take into consideration of electric demand increasing recently, then effort to expand of transmission line capacity with develop new transmission, however need the high cost. ACCR conductor (Aluminium Conductor Composite Reinforced) has been developed recently. The superiority of this conductor is resist to the heat until 240oC, hence current carrying capacity higher than ACSR conductor. This research aimed to study load current leading to mechanical performance characteristic ACCR conductor included tension, length of elongation and sag of conductor, hence expected from this research will be useful to develop construction structure of transmission line appropriate to characteristic of ACCR conductor. Based on this research it can be concluded that application of ACCR conductor improves transmission line capacities by 100 % on existing ROW and tower. Abstract in Bahasa Indonesia : Saluran transmisi udara umumnya menggunakan konduktor jenis ACSR (Aluminium Conductor Alloy Reinforced) yang memiliki batas temperatur kerja yang diijinkan sebesar 90oC. Mempertimbangkan peningkatan kebutuhan daya listrik yang semakin pesat akhir-akhir ini, maka usaha menambah kapasitas saluran transmisi dilakukan dengan membangun saluran transmisi baru, akan tetapi diperlukan biaya yang sangat tinggi. Dewasa ini telah dikembangkan konduktor ACCR (Aluminium Conductor Composite Reinforced). Keunggulan dari konduktor jenis ini adalah tahan terhadap panas sampai 240oC, sehingga kemampuan hantar arusnya menjadi lebih tinggi dibandingkan konduktor ACSR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perubahan arus saluran terhadap unjuk kerja mekanis konduktor ACCR yang meliputi tegangan tarik, panjang pemuluran dan andongan, sehingga diharapkan dari hasil penelitian ini akan berguna untuk membangun struktur konstruksi saluran transmisi yang sesuai dengan sifat konduktor ACCR. Hasil simulasi memperlihatkan, bahwa dengan mempertahankan ROW dan tower yang ada, penggunaan konduktor ACCR dapat meningkatkan kapasitas penyaluran sistem transmisi sekitar 100 % dibanding konduktor ACSR. Kata kunci: unjuk kerja mekanis, saluran transmisi, ACSR dan ACCR
Pengembangan Algoritma Pembelajaran untuk Jaringan Syaraf Tiruan Diagonal Recurrent dalam Sistem Kendali Derau Akustik Secara Aktif Wibowo Sanjaya, Bomo; Ratiandi Yacoub, Redi
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.955 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.26-35

Abstract

Active Noise Control (ANC) system emphasizes at usage of adaptation algorithm and adaptive control structure. In this research is presented experimental result of active noise control system at free space using Diagonal Recurrent Artificial Neural Network control structure. The objective of this research is to develop an Extended Kalman Filter (EKF) algorithm for Diagonal Recurrent Artificial Neural Network control structure, named as Extended Kalman Filter Diagonal Recurrent (EKFDR) algorithm. Experimental result shows that amount of neuron in artificial neural network can be reduced by using diagonal recurrent artificial neural network, without lessening control system performance. Nonlinearity of secondary path in active noise control system can complicate control process. Experimental result shows that diagonal recurrent artificial neural network with EKFDR algorithm produced a better performance than linear controller in compensating of secondary path nonlinearity. Abstract in Bahasa Indonesia : Sistem kendali derau aktif lebih menitikberatkan pada penggunaan algoritma adaptasi dan struktur kendali adaptif. Dalam penelitian ini ditampilkan hasil percobaan sistem kendali derau aktif pada ruang terbuka menggunakan struktur kendali Jaringan Syaraf Tiruan Diagonal Recurrent (JSTDR). Pengembangan algoritma Extended Kalman Filter (EKF) untuk struktur kendali JSTDR, yang kemudian dinamakan sebagai algoritma Extended Kalman Filter Diagonal Recurrent (EKFDR) merupakan tujuan dari penelitian ini. Masalah nonlinieritas jalur sekunder dalam sistem kendali derau aktif, dapat mempersulit proses pengendalian. Dari hasil percobaan terlihat bahwa jumlah neuron dalam JST dapat dikurangi dengan menggunakan JSTDR, tanpa mengurangi kinerja sistem kendali. JSTDR dengan algoritma EKFDR juga menunjukkan kinerja yang baik dalam mengkompensasi nonlinieritas jalur sekunder jika dibandingkan dengan pengendali linier. Kata kunci: derau aktif, jaringan syaraf tiruan, diagonal recurrent, extended kalman filter diagonal recurrent, nonlinieritas jalur sekunder.
Spatial Correlation of Radio Waves for Multi-Antenna Applications in Indoor Multipath Environments Hendrantoro, Gamantyo; Handayani, Puji; Mauludiyanto, Achmad
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.989 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.36-42

Abstract

This paper presents the results of a concerted effort in characterizing the spatial correlation of radio waves detected by a multi-element antenna system in indoor environments. The number of arriving paths and their directions are first studied through a series of measurements. The results are then used in a simulation to obtain spatial correlation indoors. It is found that generally an antenna array positioned near the center of the room will experience more rapidly decreasing correlation with spacing, which is a desired trait. In addition, a linear array oriented perpendicular to the length of the room in general shows better characteristics in terms of faster slope of correlation compared to the one in parallel with the length of the room. The average correlation indoors is also found to be similar to the correlation function arising from the two-dimensional circularly distributed random scatterers proposed by Clarke. For practical implementation of antenna arrays in small terminals for indoor wireless applications, it is suggested that the inter-element spacing be made 0.3? in the least.
Algoritma Genetika untuk Mengoptimasi Konsumsi Energi pada Proses Kolom Distilasi Metanol-Air R. Biyanto, Totok
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.303 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.43-49

Abstract

Distillation column has multivariable and nonlinear characteristics. High operation cost of distillation column required energy consumption optimization. The new alternative method to find out thelowestenergy consumtion of distillation column is optimization method using genetic algorithm. In this research, distillation model built up by neural network Multi Layer Perceptron (MLP) with Nonlinear Auto Regressive with eXternal input (NARX) structure, learning algorithm using Levenberg-Marquardt. Neural Network model has RMSE 3.9974x10-4 for condenser duty and RMSE 1.7435x10-4 for reboiler duty. Genetic algorithm optimization results are Qc 1.85E+07 and Qr 1.05E+07 which process variables are top pressure 106.846 Kpa, level condenser 30.289%, temperature feed 83.48 oC, fraction feed 0.5258, flow feed 493.518Kgmol/hour. In other word, there are decreasing steam and cooling water cost up to 46.2 %. Abstract in Bahasa Indonesia : Kolom distilasi merupakan unit operasi yang kompleks dan nonlinier. Biaya operasi kolom distilasi yang sangat tinggi menuntut pengembangan metode yang mampu mengoptimasi kosumsi energi. Salah satu alternatif metode tersebut adalah optimasi algoritma genetika. Pemodelan kolom distilasi yang dilakukan menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan (JST) dengan struktur Multi Layer Perceptron (MLP). Struktur input model yang diturunkan adalah struktur Nonlinear Auto Regressive with eXternal input (NARX). Pangaturan bobot bagi jaringan syaraf tiruan dilakukan menggunakan algoritma Levenberg-Marquardt yang mampu memberikan hasil dengan RMSE cukup baik, yakni 3.9974x10-4 untuk beban energi condenser dan 1.7435x10-4 untuk beban energi reboiler. Hasil optimasi dengan metode algoritma genetika mendapatkan variabel proses pressure top 106.846 Kpa, level condenser 30.289%, temperatur feed 83.48 oC, fraksi feed 0.5258, feed 493.518 Kgmol/jam. Hasil optimasi diujikan secara simulasi pada plant hysys dan didapatkan Qc 1.83x107 dan Qr 1.33x107 atau menunjukkan terjadinya penurunan beban energi Qc dan Qr, sehingga menghemat biaya steam pada reboiler dan biaya cooling water sebesar 46.2 %. Kata kunci : Optimasi, Kolom distilasi, Jaringan syaraf tiruan, Algoritma genetika.
Pengenalan Wajah Menggunakan Metode Fisherface Arlando Saragih, Riko
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 1 (2007): MARET 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.647 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.1.50-62

Abstract

This paper describes human identification using fisherface method to identify someone. The output is whether recognized or not an input image as an individual in the database. There are four main stages for this method, mainly face detection, PCA (Principal Component Analysis) calculation, FLD (Fishers Linear Analysis) calculation and classification stage. In face detection stage, color thresholding is used to segment pixels that contain skin color. PCA calculation and FLD calculation stages are used to form a set of fisherfaces from a training set or database that will be used. All face images can be reconstructed from the combination of fisherfaces with different weights for each face image. The last stage, classification stage, is to identify the input image by comparing the weight of fisherface required to reconstruct the input face towards face images in the training set. The weight calculation is done by using Euclidian distance method. The simulations are done for 66 input images and the successful recognition rate is about 81.82%. Abstract in Bahasa Indonesia : Tulisan ini menjelaskan tentang pengenalan wajah manusia dengan metode fisherface untuk mengidentifikasikan seseorang. Keluarannya adalah dikenali atau tidaknya sebuah gambar masukan sebagai salah satu individu pada database. Terdapat empat langkah utama dalam metode pengenalan wajah ini, yaitu deteksi wajah, perhitungan PCA (Principal Component Analysis), perhitungan FLD (Fishers Linear Discriminant), dan klasifikasi. Dalam modul deteksi wajah, segmentasi warna dilakukan untuk mendapatkan bagian dari gambar masukan yang memiliki warna kulit. Modul perhitungan PCA dan modul perhitungan FLD digunakan untuk membentuk satu set fisherface dari suatu training set yang digunakan. Seluruh gambar wajah dapat direkonstuksi dari kombinasi fisherface dengan bobot yang berbeda-beda. Pada modul terakhir, dilakukan proses pengenalan identitas dengan cara membandingkan bobot fisherface yang dibutuhkan untuk merekonstruksi gambar masukan terhadap gambar pada training set. Perhitungan bobot dilakukan dengan metode jarak Euclidian. Pengujian dilakukan terhadap 66 gambar masukan dan tingkat keberhasilan pengenalan wajah sebesar 81,82%. Kata kunci : fisherface, deteksi wajah, PCA, FLD, klasifikasi, jarak Euclidian.
Hubungan Intensitas Polusi Isolator Jaringan Distribusi di Sumatera Utara dengan Jarak Lokasi Isolator dari Pantai L. Tobing dan Mustafriend Lubis, Bonggas
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 2 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.747 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.2.63-67

Abstract

This paper reports the result of research about the pollution intensity of the insulator of 20 kV electrical distribution network in North Sumatera. It has investigated that the pollution intensity of the insulator of 20 kV electrical distribution network in North Sumatera is in low category. The pollution intensity of an insulator is decrease if the distance of mentioned insulator more far away from the seashore. If the distance of insulator from seashore about 40 km, the decreasing of pollution intensity reach to ± 50 % of pollution intensity of insulator that close to the seashore. The pollution intensity of insulator almost constant if the distance of insulator from seashore is between 40 km to 80 km. It means that the salt contained on air which is blow from the sea is not influence on insulator pollution if the distance of mentioned insulator from seashore more than 40 km Abstract in Bahasa Indonesia : Paper ini melaporkan hasil penelitian tentang tingkat intensitas polusi pada isolator jaringan distribusi hantaran udara 20 kV di Sumatera Utara. Ditemukan bahwa tingkat intensitas polusi isolator jaringan distribusi hantaran udara 20 kV di Sumatera Utara termasuk kategori ringan. Intensitas polusi pada suatu isolator semakin rendah jika isolator semakin jauh dari pantai. Setelah jarak isolator dari pantai mencapai kurang lebih 40 km, intensitas polusi pada isolator turun ± 50 % dari intensitas polusi isolator yang terdekat ke pantai. Pada jarak di antara 40 - 80 km dari pantai, intensitas polusi isolator hampir konstan. Artinya, kandungan garam yang dibawa angin laut tidak berpengaruh lagi terhadap polutan isolator jika jarak isolator dari pantai lebih dari 40 km. Kata kunci: distribusi, isolator, polusi, ESDD
Pengaruh Ketidakseimbangan Beban Terhadap Arus Netral dan Losses pada Trafo Distribusi Sentosa Setiadji, Julius; Machmudsyah, Tabrani; Isnanto, Yanuar
Jurnal Teknik Elektro Vol 7, No 2 (2007): SEPTEMBER 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.013 KB) | DOI: 10.9744/jte.7.2.68-73

Abstract

The unbalanced load in electric power distribution system always happen and it is caused by single phase loads on low voltage system. The effect of the unbalanced load is appear as a neutral current. These neutral current cause losses, those are losses caused by neutral current in neutral conductor on distribution transformers and losses caused by neutral current flows to ground. In conclusion, when high unbalanced load happened (28,67%), then the neutral current that appear is also high (118,6 A), ultimately the losses that caused by the neutral current flows to ground will be high too (8,62%). Abstract in Bahasa Indonesia : Ketidakseimbangan beban pada suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan penyebab ketidakseimbangan tersebut adalah pada beban-beban satu fasa pada pelanggan jaringan tegangan rendah. Akibat ketidakseimbangan beban tersebut muncullah arus di netral trafo. Arus yang mengalir di netral trafo ini menyebabkan terjadinya losses (rugi-rugi), yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah. Setelah dianalisa, diperoleh bahwa bila terjadi ketidakseimbangan beban yang besar (28,67%), maka arus netral yang muncul juga besar (118,6A), dan losses akibat arus netral yang mengalir ke tanah semakin besar pula (8.62%). Kata kunci: ketidakseimbangan beban, arus netral, losses.

Page 1 of 17 | Total Record : 162