cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Ulul Albab is journal of Islamic Law Studies published by the Departement of Syariah, Faculty of Islamic Studies, Sultan Agung Islamic University, Semarang, Indonesia. It is a semi annual journal published in April and October for the developing the scientific ethos. Editor accept scientific articles and result of research in accordance with its nature is a journal of Islamic Law Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Zakat: Katup Pengaman Keseimbangan Ekonomi Umat Kuncoro, Anis Tyas
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.2213

Abstract

Sesungguhnya ajaran Islam dengan  konsep zakatnya telah memberikan landasan mendasar bagi pertumbuhan dan perkembangan kekuatan sosial ekonomi umatnya. Ajaran ni memiliki dimensi yang kompleks yang tidak dimiliki oleh ajaran agama atau aliran-aliran pemikiran ekonomi klasik maupun modern lainnya. Dari sudur pandang ideologi dan keyakinan, paling tidak, zakat telah memberikan pandangan fundamental terhadap keududkan harta dan kepemilikan. Sedang dari sudut pandang pembangunan kesejahteraan sosial, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan distribusi pendapatan dan kesejahteraaan, karena dengna penglolaan zakat yang baik akan menungkinkan keberlangusnan pembengunan dan pertumbuhan ekonomi yan gjida sekaligus dibarengi dengan pemerataan pendapatan, economic growth equality.
Prinsip Keadilan dalam Kewajiban Pajak dan Zakat Menurut Yusuf Qardhawi Yurista, Dina Yustisi
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.1962

Abstract

Dalam Islam kita harus mematuhi segala hukum yang berlaku, semua perintah dalam agama harus dijalankan tak terkecuali dengan kita mengeluarkan harta yang kita miliki dengan ukuran yang telah ditentukan kepada orang-orang yang berhak atau lebih kita kenal dengan istilah Zakat. DI luar itu, kita sebagai warga negara Indonesia juga memiliki kewajiban untuk membayar uang kepada negara atau yang kita sebut pajak. Sistem zakat dalam Islam adalah sistem keuangan yang paling penting untuk menciptakan keseimbangan antara masyarakat, sedangkan sistem perpajakan negara untuk menegakkan jumlah keuangan yang baik agar dapat memenuhi pertahanan dan ketentuan pelayanan masyarakat. Dengan adanya kesadaran masyarakat dalam pelaksanaan pajak dan zakat dalam satu waktu, maka dibutuhkan keadilan dalam pelaksanaan keduanya untuk menghindari kecurangan.
MAZHAB ULAMA DALAM MEMAHAMI MAQASHID SYARI’AH Hidayatullah, Kholid
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.1971

Abstract

Syari?at Islam datang sebagai rahmat untuk manusia, menjaga kemaslahatan dalam semua hal dan keadaannya. Semua hukum yang ada, baik berupa perintah maupun larangan, yang terekam dalam teks teks syari?at bukanlah sesuatu yang hampa tak bermakna. Namun semua itu mempunyai maksud dan tujuan, dan Allah menyampaikan syari?atNya dengan tujuan dan maksud tersebut. Oleh para ulama?, maksud dan tujuan tersebut dinamakan Maqashid Syari?ah. Maqashid Syari?ah adalah salah satu disiplin ilmu yang tidak lahir secara instan. Melainkan berjalan dengan fase fasenya, dimulai dari fase perkembangan sampai pada fase pembukuan seperti masa sekarang ini dan aliran-aliaran dalam memahami Maqashid Syariah. Kajian ini untuk memperoleh pengetahuan tentang tipologi mazhab ulama dalam memandang konsep Maqhasid Syari?ah maqhasid  yang bisa di simpulkan terbagi kedalam tiga aliran : Pertama, ?Madrasah Literalis-Tekstualis? yang tak memperhatikan makna atau tujuan di balik teks., Kedua, kebalikan dari madrasah pertama.Yakni yang cenderung terlalu kontekstual, mengesampingkan teks, mendewakan makna di balik teks, berpandangan bahwa agama adalah substansi, bukan bentuk lahirnya, tak segan meninggalkan teks-teks yang qath?iy, cenderung mengekor ke Barat. Ketiga, ?Madrasah Moderat? yang disebut al-Qaradlawi sebagai ?Madrasah Wasathiyyah?. Madrasah ini selain memelihara literal-teks juga mempertimbangkan tujuan-tujuan di balik teks dengan pertimbangan porsi keduanya hingga seimbang.
Masjid sebagai Agen Baznas: Analisa Potensi SDM Ta’mir Masjid di Kabupaten Jepara Arafat, M. Husni; Tamrin, M. Husni; Anwar, Aan Zainul; Al Mufti, Alex Yusron
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.2217

Abstract

Ajaran Islam yang mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan zakat memberikan potensi yang sangat besar bahkan mampu menjadikan umat Islam sebagai umat yang sangat mulia dan sejahtera, namun kenyataannya peranan dan fungsi zakat belum mampu menghantarkan umat islam menjadi umat yang sejahtera. Potensi zakat nasional sebanyak 217 trilyun dan hingga saat ini belum mampu tercapai. Salah satu faktor karena keterbatasan lembaga penyalur zakat sehingga  penyaluran zakat belum begitu mudah diakses oleh para muzakki. Disatu sisi, keberadaan masjid yang tersebar diseluruh lingkungan masyarakat mampu menjawab atas belum tercapainya jumlah potensi penerimaan zakat dengan menjadikan masjid sebagai agen badan zakat nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sumber daya manusia (SDM) dan kesanggupan sebagai agen penerimaan zakat oleh ta?mir masjid di Kabupaten Jepara. Metode penelitian ini menggunakan survei, kuesioner dan interview mendalam(indepth interview). Hasil penelitian ini takmir masjid mayoritas bersedia menjadi agen Baznas dalam menerima zakat maal namun memerlukan pembekalan pengetahuan, pemahaman dan standarisasi pengelolaan zakat, baik secara manual maupun secara on-line real time. Selain itu, sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat terutama mereka yang sudah berkewajiban mengeluarkan zakat maal untuk disalurkan kepada organisasi pengelola zakat terdekat (masjid).
QAUL SHAHABI DAN APLIKASINYA DALAM FIQH KONTEMPORER Nizar, Muchamad Choirun
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.1968

Abstract

Dinamika perkembangan hukum Islam tidak dapat terlepas dari disiplin ilmu ushul fiqh yang memiliki sejumlah metodologi sebagai dalil serta landasan untuk berijtihad. Qaul Shahabi menjadi salah satu dari dalil yang digunakan oleh Ulama Fiqh dalam mengatasi problematika yang terjadi di kalangan umat Islam. Qaul shahabi ialah perihal satu orang shahabah mengemukakan sebuah pendapat kemudian menyebar di kalangan shahabah lainnya, tanpa diketahui seorang shahabat pun yang menentang. Qaul Shahabi menjadi eksis sebagai salah satu rujukan hukum Islam sejak masa Tabi?in. Kehujjahan qaul shahabi diperselisihkan oleh kalangan Ulama. Imam Malik, Ar Razi, Hanafiyyah, Asy Syafi?i dengan Qaul Qadim beliau dan Ahmad bin Hanbal menerima Qaul Shahabi sebagai hujjah. Sedangkan Ulama Asya?irah, Mu?tazilah, Asy Syafi?i dengan Qaul Jadid beliau, Ulama? Syi?ah, Al Karkhi, Ulama Kontemporer Madzhab Maliki dan Hanafi serta Ibnu Hazm menolak Qaul Shahabi sebagai hujjah. Sama halnya dengan hujjah lain, Qaul Shahabi juga dapat menjadi rujukan bagi permasalahan kontemporer. Perbedaan pendapat Ulama tentang penggunaan Qaul Shahabi sebagai hujjah berpengaruh pada aplikasinya dalam fiqh kontemporer.
Mekanisme Penuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap Tindak Pidana Anak Sulchan, Ahmad; Ghani, Muchamad Gibson
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.2218

Abstract

Penuntutan adalah salah satu hal yang sangat penting dalam suatu proses penegakan hukum yang merupakan suatu usaha guna untuk membentuk, menciptakan suatu tata tertib dan ketentraman dalam masyarakat serta pencegahan dan penindakan setelah terjadinya tindak pidana. Peristiwa penyimpangan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak  harus mendapatkan penanganan yang khusus. Kejaksaan merupakan salah satu lembaga penegak hukum yang memiliki kewenangan dalam penuntutan sesuai Pasal 137 KUHAP, guna mendapatkan kebenaran materiil. Mekanisme pemeriksaan yang dilakukan Jaksa Penuntut Umum dalam menangani perkara tindak pidana Anak, Anak Korban, dan/atau Anak Saksi perlu didampingi oleh Pembimbing Kemasyarakatan, Pekerja Sosial Profesional dan Tenaga Kesejahteraan Sosial, Orang Tua atau Wali serta  Penasihat Hukum, wajib memperhatikan kepentingan terbaik bagi Anak dan mengusahakan suasana kekeluargaan tetap terpelihara serta diupayakan penyelesaian secara Diversi yaitu suatu pengalihan penyelesaian kasus-kasus anak yang diduga telah melakukan tindak pidana tertentu dari proses pidana formal ke penyelesaian damai antara tersangka/terdakwa/pelaku tindak pidana dengan korban di fasilitasi oleh keluarga dan/atau masyarakat, pembimbing kemasyarakatan Anak, dan Jaksa Penuntut Umum di Kejaksaan Negeri Semarang. 
Local Wisdom Dalam Pemikiran Kiai Sholeh Darat : Telaah Terhadap Kitab Fiqh Majmu’at as- Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam Irfan, Agus
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study of the works of Nusantara archipelago’s scholars in the Indonesia showed significant dynamics. The discovery of the element of locality (local wisdom) in each of the treasury of the works of Nusantara archipelago’s scholars showed that aspects of the Nusantara archipelago influenced and colored his intellectual works. Islamic jurisprudence (Fiqh) book Majmu’at as- Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam as Kiai Sholeh Darat’s work written using Javanese language in the late 19th century, and this clearly showed a very prominent element of the locality. By using this local wisdom approach, it was expected to make community at the time understand and easier to follow the messages of the book. The aspects of local wisdom in the book Majmu’at as- Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam appeared in such things as appearance, language and explanations. In the interpretation and language, Kiai Sholeh Darat used pegon script, a form of literacy that is very commonly used by traditional Muslim society, especially in the area of Java at that time. Meanwhile, Kiai Sholeh Darat often commented on the issues of Dayang Memule problem with the offering (sajen), Calculation of pasaran, Nyahur Tanah, Size Scales (for Zakat) and others.
Bom Bunuh Diri dan Euthanasia (Perspektif Hukum Islam) Thobroni, Ahmad
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.1985

Abstract

Perjuangan tidak pernah mengenal kata akhir, namun cara berjuang tiap umat sering kali mengalami perubahan searah dengan perubahan sarana-sarana perang. Pada tahun-tahun terakhir, sering terdengar upaya beberapa kelompok muslim yang melakukan bom bunuh diri atau juga dikenal sebagai suicide bombing dan human bombing atau bom manusia.Secara umum ada dua reaksi para ulama dalam menyikapinya, sebagian melarang dan sebagian lagi memuji. Kedua kelompok tersebut sama-sama menyertakan argumen-argumennya, baik secara naqly maupun aqly. Kejelasan hukum syara? sangat dibutuhkan dalam masalah yang amat krusial ini. Ini dikarenakan perbedaan yang ada cukup tajam dan mengandung berbagai implikasinya baik di dunia maupun di akhirat.Bagi mereka yang menganggap aksi bom manusia sebagai aksi bunuh diri (?amaliyat intihariyah), maka implikasi kepada para pelakunya ialah tidak diberlakukan hukum-hukum mati syahid, namun dipandang sebagai orang hina karena berputus asa menghadapi kesulitan hidup. Di akhirat, pelakunya dianggap akan masuk neraka, karena telah bunuh diri. Sedangkan bagi mereka yang menganggap aksi bom bunuh diri sebagai aksi mati syahid (?amaliyat istisyhadiyah), maka implikasi kepada para pelakunya adalah diberlakukan hukum-hukum mati syahid. Dia dianggap sebagai pahlawan dan teladan keberanian yang patut dicontoh dan di akhirat akan masuk surga.Karena hidup dan mati ada di tangan Tuhan, serta merupakan karunia dan wewenang Tuhan, maka Islam melarang orang melakukan pembunuhan, baik terhadap orang lain (kecuali dengan alas an yang dibenarkan oleh agama) maupun terhadap dirinya sendiri (bunuh diri) dengan alasan apapun. Hukum bunuh diri dan euthanasia masih dipersoalkan di kalangan masyarakat. Pro kontra inilah yang mendorong penulis untuk memilih tema hukum bom bunuh diri dan euthanasia dalam perspektif hukum Islam.
Tinjauan Status Wali dalam Perkawinan Berdasar Pendekatan Feminis Tulab, Tali
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.2223

Abstract

Perkawinan adalah adalah salah satu dari sekian banyak sunah rasul yang sangat penting. Hal ini terbukti dari diturunkannya ayat-ayat muhakamah yang menjelaskan mengenai perkawinan ataupun pernikahan. Prosesi perkawinan sendiri memiliki beberapa syarat dan rukun secara syariat yang terdapat dari pada al-Qur?an dan Hadits. Dari sekian banyak syarat dan rukun perkawinan hal yang menjadi perbedaan pendapat antar ulama adalah mengenai hal wali nikah. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dalam rangka tercapainya tujuan dari studi ini. Pendapat Ulama Hanafiyah tentang wali nikah lebih sesuai dengan kesetaraan gender. Sebab menurut mereka wali nikah bukanlah syarat sah suatu perkawinan, tetapi sebatas syarat kamal atau kesempurnaan dengan catatan calon suami itu sepadan bagi wanita perwaliannya. Dalam pandangan demikian ini calon suami dan calon istri sebagai rukun utama (para pihak) yang akan mengikatkan diri dalam suatu perikatan yang agung dan sakral yaitu perkawinan dalam keadaan setara. Keduanya sebagai orang-orang yang dewasa dan berakal (berkecerdasan atau rusyd) adalah memiliki ahliyatul wujub (penerima hak) dan ahliyatul ada? (cakap melakukan perbuatan hukum) sekaligus. Karena itu selama tidak ada halangan mereka berhak melakukan sendiri atau langsung akad nikah tanpa harus mendelegasikan pada orang lain, termasuk orang tua atau kerabat yang lain, termasuk orang tua atau kerabat yang lain.
Local Wisdom dalam Pemikiran Kyai Sholeh Darat: Telaah Terhadap Kitab Fiqh Majmu'at al-Shari'ah al-Kafiyah li al-'Awam Irfan, Agus
Ulul Albab: Jurnal Studi dan Penelitian Hukum Islam Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Sultang Agung Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jua.v1i1.2224

Abstract

Studi karya para Ulama Nusantara di Indonesia menunjukkan dinamika yang signifikan. Penemuan unsur lokalitas (kearifan lokal) di masing-masing karya Ulama Nusantara menunjukkan bahwa aspek kepulauan Nusantara mempengaruhi karya intelektualnya. Buku Fiqih dengan judul Majmu'at as- Shari'ah al-Kafiyah li al-'Awam adalah karya Kiai Sholeh Darat. Buku tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa pada akhir abad 19, dan karyanya jelas menunjukkan elemen yang sangat menonjol dari wilayah ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis terhadap buku Majmu'at as- Shari'ah al-Kafiyah li al-'Awam dengan menggunakan pendekatan kearifan lokal ini, diharapkan masyarakat bisa memahami dan lebih mudah mengikuti pesan dari buku tersebut. Hasil dari penelitian ini yaitu mengetahui bahwa aspek kearifan lokal dalam buku Majmu'at as- Shari'ah al-Kafiyah li al-'Awam muncul dalam hal-hal seperti penampilan, bahasa dan penjelasan. Dalam penafsiran dan bahasa, Kiai Sholeh Darat menggunakan naskah pegon, sebuah bentuk keaksaraan yang sangat umum digunakan oleh masyarakat Muslim tradisional, terutama di wilayah Jawa saat itu. Sementara itu, Kiai Sholeh Darat sering mengomentari masalah masalah Dayang Memule dengan penawaran (sajen), Perhitungan pasaran, Nyahur Tanah, Ukuran Timbangan (untuk Zakat) dan lain-lain.

Page 1 of 3 | Total Record : 28