cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Planologi Sultan Agung
ISSN : 26155257     EISSN : 26155257     DOI : -
Jurnal Planologi is a journal study of urban and regional planning issued by the Department of City and Regional Planning, Faculty of Engineering, Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia. the articles are published every six months, that is, April and October (2 issues per year). The editor receives scientific articles and research results in accordance with the nature is Regional and City Planning
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage" : 7 Documents clear
Kajian Kondisi Fisik Terminal Leuwipanjang Berdasarkan Persepsi Penumpang Angestiwi, Tiafahmi
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2660

Abstract

Leuwipanjang terminal is a passenger terminal serving AKDP and AKAP. UPTD Terminal is required to provide convenient facilities for passengers during activities within the Terminal. Physically, terminal facilities cover two important aspects of maintenance and availability of terminal facilities. Therefore, to know the physical performance of the terminal, conducted a review of the results of maintenance and service. This study aims to determine the perception of passengers on the maintenance results by UPTD Terminal and Terminal physical facilities services. The research method used is descriptive research method. While the data collection techniques used include observation and questionnaires. Analysis of data processing using descriptive analysis and theoretical comparison analysis. From the result of research, it can be concluded that the study of maintenance activity is considered not good. While the study of terminal services is considered quite good. In this regard, it is necessary to improve the quality of cleanliness and the quality of the room, as well as to review the terminal services by creating safety, security, reliability and regularity, convenience, convenience or affordability, and equity.Key Word: Passenger terminal, physical condition of the building, maintenance activities, terminal servicesTerminal Leuwipanjang merupakan terminal penumpang yang melayani AKDP dan AKAP. UPTD Terminal dituntut untuk menyediakan sarana yang nyaman untuk penumpang selama berkegiatan di dalam Terminal. Secara fisik, sarana terminal mencakup dua aspek penting yakni hasil pemeliharaan dan ketersediaan fasilitas terminal. Oleh karena itu untuk mengetahui kinerja fisik terminal, dilakukan kajian terhadap hasil pemeliharaan dan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi penumpang terhadap hasil pemeliharaan oleh UPTD Terminal dan pelayanan fasilitas fisik Terminal. Metode penelitian yang digunakan yakni metode penelitian deskriptif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain observasi dan kuesioner. Analisis pengolahan data menggunakan analisis deskriptif dan analisis perbandingan secara teoritis. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kajian terhadap kegiatan pemeliharaan dinilai kurang baik. Sedangkan kajian terhadap pelayanan terminal dinilai cukup baik. Sehubungan dengan hal tersebut, perlu dilakukan peningkatan kualitas kebersihan dan mutu ruangan, serta upaya mengkaji pelayanan terminal dengan menciptakan keselamatan, keamanan, keandalan dan keteraturan, kenyamanan, kemudahan atau keterjangkauan, serta kesetaraan.Kata Kunci: Terminal penumpang, kondisi fisik bangunan gedung, kegiata pemeliharaan, pelayanan terminal
ANALISIS POTENSI PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) KAMPUS DI POLITEKNIK NEGERI BANDUNG Suciyani, Wida Oktavia
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2742

Abstract

ABSTRACTThe Research on " Analysis Potential Utilization of Green Open Space (RTH) Campus at Bandung State Polytechnic" is motivated by a problem about RTH that has not been utilized optimally in accordance with its function. The purpose of this research is to analyze the potential utilization of RTH campus Polban that can still be developed, so it can create a sustainable campus environment. This research method uses qualitative approach by using applied research, beside that the data collection techniques by using Triangulation (observation, interview, and documentation study) and analysis technique in this research is descriptive. Based on the analysis result, it is known that the existing condition of RTH of Polban campus has not been utilized optimally according to RTH function due to the lack of facilities which can support activities of socio-cultural, economic, and aesthetic functions.Keywords: Potential Utilization, Green Open Space Campus. ABSTRAKPenelitian mengenai “Analisisi Potensi Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kampus di Politeknik Negeri Bandung” dilatarbelakangi oleh suatu permasalahan mengenai RTH yang belum dimanfaatkan secara optimal sesuai dengan fungsinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi pemanfaatan RTH kampus Polban yang masih dapat dikembangkan sehingga dapat menciptakan lingkungan kampus yang berkelanjutan. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian terapan (applied research), selain itu teknik pengumpulan data dengan menggunakan Triangulasi (observasi, wawancara, dan studi dokumentasi) dan teknik analisis dalam penelitian ini bersifat deskriptif. Berdasarkan hasil analisa diketahui kondisi eksisting RTH kampus Polban belum dimanfaatkan secara optimal sesuai fungsi RTH dikarenakan minimnya fasilitas yang dapat menunjang kegiatan berupa fungsi sosial budaya, ekonomi, dan estetika.Kata kunci: Potensi Pemanfaatan, Ruang Terbuka Hijau Kampus.
MASALAH DALAM PENGELOLAAN KOTA LAMA SEMARANG SEBAGAI NOMINASI SITUS WARISAN DUNIA Puspitasari, Ardiana Yuli; Khasana Ramli, Wa Ode Sitti
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2764

Abstract

World Heritage Sites is a term addressed to special places such as national parks, forests, mountains, lakes, deserts, buildings, complexes, regions, rural and cities that have been nominated by UNESCO (United Nations Educational, Sciencetific, and Cultural Organization) for the International World Heritage program. The Old City of Semarang in 2016 has entered as one of the nominees of World Heritage Site and until now is in the process of submitting terms to become World Heritage Site. One of the important things that need to be done in the process is to identify and inventory the problems to be handled immediately. The purpose of this research is to find the problems in the management of the Old City of Semarang so that it can be handled and anticipated. The research method used is qualitative rationalistic with empirical approach. The results of this research are the problems that occur in the Old Town of Semarang is quite complex and diverse, among others: 1) environmental problems, namely prone to natural disasters (rob floods and puddles), high traffic volume causes pollution of fading and vibration , the unavailability of public transportation "ngetem" space, lack of provision of infrastructure and facilities and open green spaces; 2) building problems, ie there are still vacant buildings that have not been utilized properly, the building owner / user neglect, the utilization of buildings that are inconsistent with preservation rules, and the lack of maintenance of buildings; 3) social problems, that is the existence of homeless / homeless who occupy abandoned buildings, street vendors, excessive tourist attraction and crime; 4) governance issues, namely lack of clarity of tupoksi and authority of Semarang City Old Town, lack of coordination among stakeholders, and less implementation of RTBL policy regulation of Kota Lama Semarang (Regional Regulation Number 8 of 2003)Keywords: problem, management, site, heritage, worldWorld Heritage Sites atau Situs Warisan Dunia merupakan istilah yang ditujukan kepada tempat khusus seperti taman nasional, hutan, pegunungan, danau, gurun pasir, bangunan, kompleks, wilayah, pedesaan, dan kota yang telah dinominasikan oleh UNESCO (United Nations Educational, Sciencetific, and Cultural Organization) untuk program Warisan Dunia Internasional. Kota Lama Semarang pada tahun 2016 sudah masuk sebagai salah satu nominasi World Heritage Site dan sampai dengan saat ini sedang berproses untuk pengajuan syarat-syarat menjadi World Heritage Site. Salah satu hal penting yang perlu dilakukan dalam proses tersebut adalah mengindentifikasi dan menginventarisasi permasalahan agar bisa segera ditangani.Tujuan dari penelitian ini adalah menemukan permasalahan-permasalahan dalam pengelolaan Kota Lama Semarang sehingga bisa segera ditangani dan diantisipasi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif rasionalistik dengan pendekatan empiris. Hasil yang ditemukan dari penelitian ini adalah permasalahan yang terjadi di Kawasan Kota Lama Semarang cukup kompleks dan beragam, antara lain: 1) masalah lingkungan, yaitu rawan terhadap bencana alam (banjir rob dan genangan), volume lalu lintas yang tinggi menyebabkan polusi udaran dan getaran, belum tertatanya ruang “ngetem” angkutan umum, kurangnya penyediaan infrastruktur dan fasilitas serta ruang terbuka hijau; 2) masalah bangunan, yaitu masih terdapat bangunan-bangunan kosong terlancar dan belum dimanfaatkan dengan tepat, pembiaran bangunan oleh pemilik/pengguna, pemanfaatan bangunan yang tidak sesuai dengan kaidah pelestarian, dan kurangnya perawatan bangunan; 3) masalah sosial, yaitu masih adanya gelandangan/tuna wisma yang menempati bangunan-bangunan terlantar, pedagang kaki lima, tarikan wisata yang berlebihan dan kriminalitas; 4) masalah tata kelola, yaitu kurang jelasnya tupoksi dan kewenangan pengelola Kawasan Kota Lama Semarang, kurangnya koordinasi antar stakeholder, dan kurang implementatif peraturan kebijakan RTBL Kota Lama Semarang (Perda No. 8 tahun 2003).Kata kunci: masalah, pengelolaan, situs, warisan, dunia
TITIK NOL KILOMETER KOTA YOGYAKARTA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK DITINJAU DARI DIMENSI FUNGSIONAL, SOSIAL, DAN VISUAL Kusumaning Wardhani, Mustika
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2739

Abstract

Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota dengan warisan kebudayaan yang kaya akan makna filosofi hidup bagi warga masyarakatnya. Salah satu bagian dari kebudayaan Jawa adalah kegiatan sosial masyarakatnya yang diwadahi pada ruang terbuka publik. Ruang publik adalah bagian dari unsur elemen yang menggambarkan citra perkotaan sebagai ruang interaksi sosial dan menjadi ikon sebuah kota. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran kawasan titik nol kilometer Kota Yogyakarta sebagai ruang terbuka publik ditinjau dari dimensi fungsi, dimensi sosial, dan dimensi visual. Metode penelitian yang digunakan yaitu berupa deskriptif kualitatif dengan menjelaskan peran ruang terbuka publik dengan menggunakan analisa grafis. Hasil dari analisi menunjukkan bahwa kawasan   titik   nol   kilometer merupakan ruang terbuka publik yang   memuat   berbagai   macam kegiatan yang membentuk interaksi sosial penggunanya dari berbagai kalangan masyarakat. Sedangkan dari aspek dimensi fungsi, sosial, dan visual membentuk sense of place dengan karakter yang kuat, unik, dan khas.  Kata Kunci: Ruang publik, Titik nol Kilometer Yogyakarta, Dimensi Perkotaan
KAJIAN MORFOLOGI DAN LEGAL FORMAL KEDHATON DAN LINGKUNGAN BALUWARTI KRATON SURAKARTA SEBAGAI KAWASAN HERITAGE Darini, Rahmawati Prasetyan
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2719

Abstract

In the village of Sala Village Baluwarti. The Palace itself is an area that is composed of several places and spaces that make up the single entity are hierarchical and specific classified into sacred space, sacred and profane axis. The magical 5,000 concept with the existence of "the Center" as the core of the sacredness, dualistis with orintasi utra-South and East-West (Garden in Marlina Avi, 2017).This research aims to know the heritage city centre the morphology of structurally and functionally can be achieved by identifying the target Division of space or the structure of the existing area in the Centre of the heritage morphological identification and also functionally can be seen based on the function of sacred, sacred and profane space axes as well as formal legal identifkasi. The methods used in this research is qualitative diskriptif method, where the analysis is performed with the menajdikan theory of deductive process as a start to conduct research in field to produce the findings. structurally the town heritage-culture that exists in Surakarta consists of territory within the fortress, State and negaragung. As for functionally consists of sacred space, sacred and profane space Axes where each function exists which still has same function either at the time of work as well as at present, but there are also some buildings are undergoing a change of function. As well as formal legal status for a Carton of Surakarta is a nation's cultural relics in ataur in article 1 Kepres No. 23 years of 1988 that the formal legal belongs to the Kraton Surakarta.Keyword : Morphology,Legal Formal,  Cites of  Kingdom  Surakarta merupakan kota yang berada di Provinsi Jawa Tengah dimana pada kota tersebut dulunya merupakan salah satu bekas peninggalan Kerajaan islam yang berdiri pada tahun 1745 M dengan kraton yang berada di Desa Sala Kelurahan Baluwarti. Kraton sendiri merupakan suatu kawasan yang terdiri dari beberapa tempat dan ruang yang membentuk satu kesatuan secara hirarkis dan spesifik yang terklasifikasi menjadi ruang sakral, profane dan sumbu sakral. Konsep kosmo-magis dengan keberadaan “pusat” sebagai inti kesakralan, dualistis dengan orintasi utra-selatan dan timur-barat (Garden dalam Marlina Avi, 2017).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi pusat kota peninggalan kerajaan secara struktural dan fungsional yang dapat dicapai dengan sasaran melakukan identifikasi pembagian ruang atau struktur wilayah yang ada di pusat kota peninggalan kerajaan dan juga identifikasi morfologi secara fungsional yang dapat dilihat berdasarkan fungsi sakral, sumbu sakral dan ruang profane serta identifkasi legal formal.  Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode diskriptif kualitatif, dimana analisis dilakukan dengan proses deduktif yang menajdikan teori sebagai awal untuk melakukan penelitian dilapangan hingga menghasilkan temuan. secara struktural Kota peninggalan kerjaan yang ada di Surakarta terdiri dari Wilayah dalam Benteng, Negara dan negaragung. Adapun secara fungsional terdiri dari ruang Sakral, Sumbu sakral dan ruang profane dimana pada masing-masing fungsi ada yang masih memiliki fungsi sama baik pada masa kerjaan maupun saat ini namun ada pula beberapa bangunan yang mengalami perubahan fungsi.  Serta untuk status legal formal Karton Surakarta yang merupakan peninggalan budaya bangsa yang di ataur dalam Pasal 1 Kepres No. 23 Tahun 1988 bahwa legal formal adalah milik Kraton Surakarta. Kata Kunci : Morfologi,Legal Formal Kota Kerajaan
IDENTIFIKASI ALUN-ALUN KUDUS SEBAGAI FASILITAS RUANG TERBUKA PUBLIK DI TINJAU TERHADAP PENDEKATAN DIMENSI FUNGSI DAN DIMENSI SOSIAL Jamalludin, Rizqi
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2761

Abstract

ABSTRACT: In a city it is the most complicated creation, taste, intention, and human work throughout civilization. The city can be regarded as a crowded place and inhabited by heterogeneous (diversified) people in terms of livelihood, religion, customs and culture. On a network of custom houses with high population with socio-economic strata. The physical characteristics of a city vary greatly but the physical characteristics of a design city must have economic facilities such as markets or supermarkets, adequate parking space, recreational and sports venues, squares, government buildings, Kudus is the city with all its beauty . Of the 35 cities and regencies in Central Java, Kudus has an area of 425.5 sq. Km. One of the most unfortunate ones is the open space or open space that can be used publicly. Kudus city has an open space which is also owned by other cities, namely the square which is one of the landmarks that exist in the sanctuary. Being in the middle of the city makes this Kudus square always crowded in the place of people from various cities because almost all the way is centered to this square. Various elements which is the most important element in the arrangement of urban space. It is interesting to be studied because there are still many things that need to be studied and meticulously in the square kudus. Analyze case studies on the researchers will use 2 (two) theory. The goal is to know what elements of the elements exist in the city zone in the holy city. The author conducts research in the field with the aim of collecting data contained in and assisted by the literature and others.Keywords: Kudus Square, Urban Dimension, Urban Space      ABSTRAKDalam sebuah kotamerupakan hasil cipta, rasa, karsa, dan karya manusia yang paling rumit sepanjang peradaban. Kota bisa dibilang sebagai tempat yang padat dan dihuni oleh orang-orang yang heterogen (beraneka ragam)baik dalam hal mata pencaharian, agama, adat, dan kebudayaan. Pada sebuah kota kesatuan jaringan kehidupan manusia ditandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi disertai dengan strata sosial ekonomi. Ciri fisik sebuah kota sangat beragam akan tetapi ciri fisik sebuah kota jika dilihat dari seorang urban design harus mempunyai Sarana perekonomian seperti pasar atau supermarket, Tempat parkir yang memadai, Tempat rekreasi dan olahraga,  Alun-alun, Gedung-gedung pemerintahan, Kudus adalah kota dengan segala keindahannya. Dari 35 kota dan kabupaten di Jawa Tengah, Kudus memiliki luas 425,5 km persegi. Salah satu unsur yang penting dalam suatu kota adalah ruang terbuka atau open space yang dapat digunakan untuk aktivitas umum. Kota kudus memiliki ruang terbuka yang juga dipunyai oleh kota-kota lain, yaitu alun alun alun alun kudus sendiri merupakan salah satu landmark yang ada di kudus. Berada pada tengah kota membuat alun alun kudus ini selalu ramai di kunjungi masyarakat dari berbagai kota karena hampir semua jalan terpusat ke Taman alun alun kudus ini. Terdapat berbagai macam elemen yang dimana merupakan elemen terpenting dalam menataan urban space.Hal ini menarik untuk diteliti dikarenakan masih banyak hal hal yang perlu dipelajari dan di teliti di alun-alun kudus.Dalam menganalisa studi kasus di atas peneliti akan mengunakan 2 (dua) teori . Tujuan penulis adalah untuk mengetahui elemen elemen apa saja yang terdapat pada kawasan kawasan yang ada di kota kudus. Penulis melakukan observasi singkat dilapangan dengan tujuan mengumpulkan data kongkrit yang berada di sana dan dibantu oleh literature dan sumber yang lain.Kata kunci: Alun-Alun Kudus, Dimensi perkotaan, Urban Space.
USING SPACE SYNTAX TO DETERMINE THE FORM AND PATTERN OF HERITAGE SITE (Case Study: Sangiran Heritage Site) Karmila, Mila; Magfiroh, Nyandra Sari
Jurnal Planologi Vol 15, No 1 (2018): April, Thema Fasilitas Perkotaan dan Heritage
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.30659/jpsa.v15i1.2762

Abstract

ABSTRACTThere are 10 criteria of world heritage sites that have been set by UNESSCO. The category is divided into two categories of cultural sites and natural sites. Area of Ancient Human Site in Sangiran is included in the category of cultural sites. Sangiran region has begun to develop since 2005. In 2012 the government to plan and develop on a large scale so that now the region currently has 5 museums with international standard. From this activity began to appear very significant changes to the region Sangiran. The growth of trade, settlements, tourism and service has influenced regional shape and form.To know the changes that occur in the region of Sangiran the studied used space syntax analysis method, which in its approach using a quantitative approach. The space syntax analysis method will be adjusted with the steps of configuration method. The analysis variables used are the characteristics of the region, the anatomy of the region and the blueprint of the expanse. Using various indicators such as scarcity, historicity and scientific value, and the road net. In conformity with the variables and indexes that have been brought up, is expected to produce research output in accordance with the title, the Form and Pattern of Ancient Site Site Sangiran, Sragen regency. The result of this study shows that Sangiran area tends to be fragmented cities, with space syntax R2 value of 0.012714 (intelligibility value). In addition, based on the pattern of development of the Sangiran region in the form of dispersing pattern. This is due to the development of homogeneous economic activities and parallel to the road network.Keywords : space syntax, determine, form and pattern, heritage site  ABSTRAK Terdapat 10 kriteria situs warisan dunia yang telah di tetapkan oleh UNESSCO dan dikatagorikan menjadi dua bagian yaitu katagori situs budaya dan situs alam. Kawasan Situs Manusia Purba yang ada di Sangiran ini termasuk dalam katagori situs budaya. Kawasan Sangiran mulai berkembang pada tahun 2005 kawasan ini hanya berdiri satu bangunan berbentuk joglo sehingga tidak berdampak besar di sekitar kawasan.  Pada  2012 pemerintah melakukan perencanaan dan pembangunan secara besar-besaran sehingga sekarang kawasan heritage ini telah memiliki 5 museum berstandar internasional. Dari kegiatan tersebut terjadi perubahan yang sangat signifikan terhadap kawasan pariwisata, permukiman, perdagangan dan jasa yang berpengaruh terhadap bentuk dan pola kawasan.Untuk mengetahui adanya perubahan di kawasan Sangiran, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode space syntax. Metode ini akan  menggunakan analisis space syntax dan disesuaikan dengan langkah-langkah metode konfigurasi. Variabel analisis yang digunakan adalah karakteristik wilayah, anatomi wilayah dan cetak biru hamparan. Menggunakan berbagai indikator seperti kelangkaan, historisitas dan nilai ilmiah, dan jaring jalan. Sesuai dengan variabel dan indeks yang telah dikemukakan, diharapkan dapat menghasilkan output penelitian sesuai dengan judul, Bentuk dan Pola Situs Situs Kuno Sangiran, Kabupaten Sragen. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa daerah Sangiran cenderung menjadi kota yang terfragmentasi, dengan nilai R2 sintaksis ruang 0,012714 (nilai kejelasan). Selain itu, berdasarkan pola perkembangan wilayah Sangiran dalam bentuk pola pendispersi. Hal ini disebabkan perkembangan kegiatan ekonomi yang homogen dan sejajar dengan jaringan jalan.Keywords : space syntax, determine, form and pattern, heritage site                                                                                                                                                                      

Page 1 of 1 | Total Record : 7