cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Peternakan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Bulletin of Animal Science is published every four months. The Annual subscription rate is Rp. 150.000,-/year. Bulletin receives original papers in animal science and technology which are not published at any other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue " Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015" : 20 Documents clear
PENGARUH SUHU PRODUKSI TERHADAP AKTIVITAS EKSTRAK KASAR BAKTERIOSIN DARI BERBAGAI GALUR Lactobacillus sp. DALAM MENGHAMBAT Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus (Abubakar), Abubakar; Arpah, Muhammad
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Sistem biopreservasi pangan mulai menarik perhatian di kalangan industri dan konsumen. Penggunaan bakteri asam laktat dan/atau senyawa bakteriosin yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat sudah dinyatakan aman (generally recognize as safe). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan aktivitas penghambatan ekstrak kasar bakteriosin yang dihasilkan oleh Lactobacillus sp. galur SCG 1211,SCG 1221, dan SCG 1223; serta untuk mengetahui pengaruh suhu pemanasan pada temperatur 80C dan 100C. Produksi bakteriosin pada penelitian ini enerapkan prinsip adsorbsi-desorbsi. Aktivitas penghambatan ditunjukkan dengan adanya zona bening di sekeliling sumur agar. Hasil penelitian menunjukkan suhu pemanasan tidak berpengaruh nyata terhadap aktivitas penghambatan (P>0,05). Aktivitas hambat tertinggi ditunjukkan oleh ekstrak kasar bakteriosin dari Lactobacillus sp. galur SCG 1211, yaitu sebesar 840,90 AU/ml terhadap Escherichia coli dan 979,12 AU/ml terhadap Staphylococcus aureus. (Kata kunci: Adsorbsi-desorbsi, Aktivitas penghambatan, Bakteriosin, Biopreservasi, Lactobacillus sp.)
PEMANFAATAN LIMBAH RAMI (Boehmeria nivea) SEBAGAI BAHAN COMPLETE FEED TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN IN VIVO PADA KAMBING PERANAKAN ETAWA BETINA LEPAS SAPIH Susanti, Emmy; Suhartati, Fransisca Maria
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh complete feed menggunakan limbah rami dengan atau tanpa fermentasi serta sumber protein nabati atau hewani terhadap konsumsi dan kecernaan in vivo pada kambing Peranakan Etawah (PE) betina lepas sapih. Penelitian disusun dengan rancanganpola faktorial 2x2 dengan 6 (enam) ulangan. Faktor pertama merupakan complete feed tanpa dan dengan fermentasi dan faktor kedua adalah sumber protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan limbah rami sebagai bahan complete feed terhadap teknologi fermentasi tidak berbeda nyata terhadap konsumsi bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK), neutral detergent fiber (NDF), dan acid detergent fiber (ADF). Pemberian sumber protein nabati (34,64±3,47 g/kg BB) secara nyata lebih tinggi terhadap konsumsi BK dibandingkan dengan sumber protein hewani (32,24±5,85 g/kg BB), tetapi secara nyata menurunkan konsumsi ADF dengan protein nabati (10,65±1,85 g/kg BB) dibandingkandengan protein hewani (10,82±1,53 g/kg BB). Perlakuan fermentasi berpengaruh pada kecernaan in vivo NDF dan ADF yaitu berturut-turut 43,50±4,92% dan 25,92±2,02% tanpa fermentasi menjadi 32,58±3,31 %dan 45,50±6,15% dengan fermentasi. Perlakuan sumber protein nabati (53,17±2,35%) menunjukkan kecernaan in vivo BK secara nyata lebih tinggi dari pada sumber protein hewani (50,83±2,68%). Interaksi kedua perlakuan tidak berbeda pada konsumsi tetapi berbeda nyata pada kecernaan in vivo PK dan ADF. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kambing PE betina lepas sapih yang mendapat complete feed menggunakan limbah rami fermentasi menunjukkan penurunan kecernaan in vivo NDF, sebaliknya meningkatkan kecernaan in vivo ADF. Pemberian complete feed menggunakan limbah rami dengan sumber protein hewani menurunkan konsumsi BK, menaikkan konsumsi NDF dan menurunkan kecernaan in vivo BK sedangkan interaksi kedua perlakuan berpengaruh pada kecernaan PK dan ADF.(Kata kunci: Fermentasi, Kecernaan in vivo, Konsumsi, Rami, Sumber protein)
PENGARUH JENIS KOTORAN TERNAK SEBAGAI SUBSTRAT DAN PENAMBAHAN SERASAH DAUN JATI (Tectona grandis) TERHADAP PRODUKSI TOTAL VFA PADA PROSES FERMENTASI BIOGAS Windyasmara, Ludfia
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Biogas sebagai sumber energi terbarukan, merupakan gas yang dihasilkan dari aktivitas biologi melalui proses fermentasi anaerob. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kotoran sapi dan kuda sebagai substrat dalam pembentukan VFA pada proses produksi biogas. Penelitian ini dilakukan dengan 2 perlakuan, yaitu P1 merupakan perlakuan biogas dengan substrat kotoran sapi dan P2 untuk perlakuan dengan menggunakan kotoran kuda sebagai substrat. Pada setiap perlakuan terdiri atas 3 level, yaitu dengan penambahan serasah daun jati sebanyak 0%, 5%, dan 10%. Penelitian ini dilakukan sebanyak 3 kali ulangan dengan pengambilan sampel sebanyak 4 kali pada hari ke-10, ke-20, ke-30, dan ke-40. Parameter yang diukur adalah produksi VFA dan poduksi total VFA. Rancangan percobaan penelitian ini menggunakan rancangan percobaan split-plot. Rerata total VFA pada beda perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi metanogenik di dalam biogas dengan feses sapi dan serasah daun jati (Tectona grandis) memiliki total VFA lebih tinggi dibandingkan biogas dengan feses kuda. Namun demikian, peningkatan penambahan level pemberian daun jati pada biogas dengan feses sapi dan feses kuda tidak meningkatkan total VFA.(Kata kunci: Biogas, Kotoran kuda, Kotoran sapi, Serasah daun jati)
PENGARUH PEMBERIAN FERMENTASI COMPLETE FEED BERBASIS PAKAN LOKAL TERHADAP KONSUMSI, KONVERSI PAKAN, DAN FEED COST KAMBING BLIGON JANTAN Munawaroh, Lucky Latifah; Budisatria, I Gede Suparta; Suwignyo, Bambang
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian complete feed yang difermentasi terhadap konsumsi, konversi pakan, dan feed cost kambing Bligon jantan. Penelitian dilaksanakan selama dua belas minggu di kandang individual kelompok tani Purwo Manunggal Panggang, Gunung Kidul. Ternak yang digunakan adalah kambing Bligon jantan sebanyak 15 ekor dengan kisaran bobot awal 12-15 kg dengan rerata umur 8 bulan yang dibagi dalam tiga perlakuan dan lima ulangan. Ketiga perlakuan tersebut adalah: perlakuan 1 (R1), merupakan perlakuan kontrol; perlakuan 2 (R2), kambing diberi pakan completefeed yang difermentasi satu minggu; dan perlakuan 3 (R3), kambing diberi pakan complete feed yang difermentasi dua minggu. Data yang diambil meliputi konsumsi, konversi pakan, dan feed cost per gain. Data dianalisis statistik dengan analisis variansi Rancangan Acak Lengkap pola searah dan dilanjutkandengan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering, bahan organik, protein kasar, serat kasar, lemak kasar, dan total digestible nutrients secara nyata dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Rerata konsumsi BK pada R0, R1, dan R2 adalah 81,18±22,30, 43,29±6,26, dan 49,52±5,912 g/kg BB0,75, sedangkan konsumsi protein kasar dan TDN berturut-turut adalah 13,05±3,58, 4,76±0,68, 4,30±0,98, dan 57,57±15,8, 36,22±5,23, 42,67±5,09. Perlakuan pakan berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan konversi pakan dan feed cost per gain. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pemberian pakan complete feed yang difermentasi tidak meningkatkan konsumsi nutrien tetapi mampu menghasilkan kinerja kambing Bligon yang setara dengan pakan kontrol.(Kata kunci: Bahan pakan lokal, Complete feed, Feed cost, Fermentasi, Kambing Bligon jantan,Konsumsi, Konversi pakan)
INCOME OVER FEED COST PENGGEMUKAN SAPI OLEH KELOMPOK SARJANA MEMBANGUN DESA (SMD) DI KABUPATEN BANTUL DAN SLEMAN Muyasaroh, Siti; Budisatria, I Gede Suparta; (Kustantinah), Kustantinah
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan atas biaya pakan oleh peternak program Sarjana Membangun Desa (SMD) di Kabupaten Bantul dan Sleman. Materi yang digunakan adalah sapi Simmetal Peranakan Ongole di Kabupaten Bantul sebanyak 35 ekor dan di Kabupaten Sleman sebanyak 20 ekor. Parameter yang diamati adalah pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan, feed cost per gain (FCG) dan income over feed cost (IOFC). Data pertambahan bobot badan harian (PBBH) dianalisis kovariansi dan efisiensi pakan, feed cost per gain (FCG) serta income over feed cost (IOFC) dianalisis variansi Completely Randomized Design (CRD) pola searah. Data yang diperoleh meliputi rerata PBBH, konversi pakan, feed cost per gain dan income over feed cost sapi yang dipelihara peternak program SMD di Kabupaten Bantul berturut-turut adalah 0,99±0,09 kg/ekor/hari; 11,15±1,36; Rp15.193,47dan Rp9.892,32 sedangkan di Kabupaten Sleman berturut-turut adalah 0,65±0,09 kg/ekor/hari; 13,86±2,03; Rp9.615,67 dan Rp10,094.44. Pendapatan atas biaya pakan kelompok SMD di Kabupaten Sleman lebih besar daripada Bantul. Usaha penggemukan ini belum memiliki nilai ekonomi yang tinggi.(Kata kunci: Pendapatan atas biaya pakan, Sapi potong, Sarjana Membangun Desa (SMD)
POTENSI KOMBINASI BAKTERI DAN JAMUR SELULOLITIK PADA FERMENTASI BEKATUL TERHADAP KANDUNGAN SERAT KASAR DAN PROTEIN KASAR Lokapirnasari, Widya Paramita; Setiawan, Agus; Prawesthirini, Soetji
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan serat kasar dan protein kasar pada bekatul padi yang difermentasi dengan bakteri selulolitik dan jamur selulolitik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan sepuluh perlakuan dan masing-masing perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. Ke sepuluh perlakuan tersebut adalah P0: 250 g bekatul + 3% tetes + Bakteri (B) 0% + Jamur (J) 0%; P1: 250 g bekatul + 3% tetes +B.10% + J.10%; P2: 250 g bekatul + 3% tetes + B.20% + J.10%; P3: 250 g bekatul + 3% tetes + B.30% + J.10%; P4: 250 g bekatul + 3% tetes + B.10% + J.20%; P5: 250 g bekatul + 3% tetes + B.20% + J.20%; P6: 250 g bekatul + 3% tetes + B.30% + J.20%; P7: 250 g bekatul + 3% tetes + B.10% + J.30%; P8: 250 g bekatul + 3% tetes + B.20% + J.30%; P9: 250 gbekatul + 3% tetes + B.30% + J.30%. Setelah dilakukan fermentasi selama 7 hari, dilakukan analisis proksimat. Data yang diperoleh selanjutnya diuji dengan analisis variansi, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri selulolitik dan jamur selulolitik dapatmenurunkan kandungan serat kasar pada bekatul pada perlakuan P2 (28,96%), P3 (29,34%), P8 (29,53%), P4 (29,65%), P7 (30,23%), P6 (30,37%), P9 (30,58%) yang berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan P5 (31,10%), P1 (31,98%), P0 (34,1 1%), serta dapat meningkatkan kandungan protein kasar pada perlakuan P2 (13,97%), P5 (12,87%), P3 (12,84%), P8 (12,74%) yang berbeda (P<0,05) dengan perlakuan P7 (12,71 %), P6 (12,44%), P4 (12,36%), P9 (12,27%), P1 (12,25%), P0 (10,9%).(Kata kunci: Acidothermus cellulolyticus, Aspergillus terreus, Bekatul, Fermentasi, Protein kasar, Serat kasar)
PERFORMANCES COMPARISON BETWEEN URBAN AND RURAL PIG FARMING SYSTEMS IN MANOKWARI, WEST PAPUA PROVINCE INDONESIA Saragih, Desni Triana Ruli; Lyai, Deny Anjelus
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pigs are kept both in urban and rural areas. This research identified the performance differences between urban and rural farming systems. The study was conducted in Manokwari regency and involved six districts, i.e. Nothern Manokwari district, Eastern Manokari District, Western Manokwari district,Warmare district, Prafi district and Masni district. Data were analyzed using SPSS version 18.0, an independent-samples T test was run to compare urban and rural pig farming systems. The research found that there were differences of ages and feeding hours (P<0.05) between those two farming systems. Therewere no differences in household members, experience, average pig owned, working hours, selling period, litter size and number of farrowing. There are nine point of pig farming improvement that should be done to sustain pig farming systems in Manokwari Papua. Education may be improved by provide informal and skillful education. Pig ownership should be increased. Working hours must be increased. Pig keeping in the pens should be done by farmers. Managing pigs with additional time is important so that pigs will be maintained well. Litter sizes both in urban and rural are low, therefore further improvements are needed. Recording pig productivities must be done by every farmer.(Key words: Arfak pig farmers, Pig performance, Rural pig farming, Urban pig farming)
PENGARUH ARAS KUNING TELUR ITIK ALABIO (Anas platyrhynchos) DALAM PENGENCER TRIS FRUKTOSA TERHADAP MOTILITAS, VIABILITAS, DAN ABNORMALITAS SPERMA KAMBING BLIGON SEBELUM DAN SESUDAH KRIOPRESERVASI Miftahul Umami, Prajaningrum Luluk; Bintara, Sigit; (Ismaya), Ismaya
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aras kuning telur itik Alabio (Anas platyrhynchos) yang diencerkan dengan tris fruktosa terhadap persentase motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa kambing Bligon setelah pengenceran, ekuilibrasi, prefreezing, dan post-thawing. Kualitas sperma diamati setelah pengenceran, setelah ekuilibrasi, preefreezing, dan post-thawing. Sperma seekor kambing Bligon ditampung dengan metode vagina buatan dua kali seminggu. Sperma diencerkan dengan pengencer tris fruktosa dengan aras kuning telur itik 10%, 20%, dan 30%. Data kualitas spermasegar dianalisis dengan mean dan standar deviasi, sedangkan motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa setelah pengenceran, ekuilibrasi, prefeezing, dan post-thawing dianalisis variansi pola searah. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan kuning telur itik dengan aras 10% memberikanmotilitas dan viabilitas sperma setelah pengenceran, setelah ekuilibrasi, setelah prefreezing , serta setelah post-thawing yang lebih baik jika dibandingkan dengan penggunaan kuning telur itik dengan aras 20% maupun 30% (P<0,05). Selain itu, abnormalitas sperma yang mendapatkan kuning telur itik dengan aras 10% juga lebih rendah (P<0,05) jika dibandingkan dengan penggunaan aras 20% maupun 30%. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan kuning telur itik memberikan hasil yang terbaik terhadap kualitas spermatozoa kambing Bligon, jika dilihat dari variable: motilitas, viabilitas, abnormalitas spermatozoasetelah pengenceran (masing-masing: 74,00; 97,60 dan 0,60%), ekuilibrasi (masing-masing: 72,20; 94,00 dan 1,90%), prefreezing (masing-masing: 56,80; 77,70 dan 5,40%) dan post-thawing (masing-masing: 43,60; 62,60 dan 8,50%).(Kata kunci: Kambing Bligon, Kuning telur itik, Pengenceran, Sperma, Tris fruktosa)
PRODUKSI DAN KOMPOSISI SUSU KAMBING PERANAKAN ETTAWA DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Rosartio, Rian; Suranindyah, Yuni; Bintara, Sigit; (Ismaya), Ismaya
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan produksi dan komposisi susu kambing daerah dataran tinggi dan dataran rendah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kambing yang digunakan dalam penelitian adalah 10 induk laktasi kambing Peranakan Ettawa di masing-masing lokasi yaitu Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Data yang diambil terdiri dari kondisi lingkungan, konsumsi pakan, produksi dan komposisi susu yang terdiri dari kadar lemak, kadar protein, dan berat jenis. Pengukuran dilakukan dalam 3 ulangan, dengan tiap ulangan selama 7 hari, pada awal, pertengahan dan akhir periode. Konsumsi pakan diukur selama 21 hari. Produksi susu diukur dari hasil pemerahan pagi dan sore. Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan analisis One way-Anova. Konsumsi nutrisi kambing di Kabupaten Kulon Progo lebih besar daripada Bantul (P<0,05). Rerata konsumsi bahan kering, protein kasar, serat kasar, dan total digestible nutrient kambing di Kulon Progo berturut-turut adalah 95,98 g; 14,26 g; 14,26 g, dan 0,06 kg/kg BB0,75 sedangkan di Bantul 86,96 g; 10,87 g; 19,23 g, dan 0,05/kg BB0,75. Rerata produksi susu, kadar lemak, kadar protein, dan total bahan padat susu kambing di Kulon Progo adalah 501,71 g/hari; 4,84%, 4,41%, dan 1 3,26% sedangkan di Bantul 419,62±197,08 g/hari; 6,30%; 3,97%, dan 1 4,69%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kondisi lingkungan menyebabkan perbedaan produksi dan komposisi susu kambing Peranakan Ettawa salah satunya diakibatkan oleh perbedaan komposisi pakan dan konsumsi nutrien, sebagaimana hasil yang diperoleh di Kulon Progo danBantul.(Kata kunci: Dataran rendah, Dataran tinggi, Kambing Peranakan Ettawa, Komposisi susu, Produksi)
PENGARUH PENGENCERAN SPERMA DENGAN AIR KELAPA DAN ARAS KUNING TELUR ITIK SERTA LAMA PENYIMPANAN TERHADAP MOTILITAS DAN VIABILITAS SPERMATOZOA DOMBA GARUT PADA PENYIMPANAN 5°C Dwitarizki, Novia Dimar; (Ismaya), Ismaya; Asmarawati, Widya
Buletin Peternakan Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015
Publisher : Faculty of Animal Science UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi terbaik dalam pengenceran sperma domba Garut terhadap motilitas dan viabilitas spermatozoa yang disimpan pada temperatur 5°C. Terdapat empat perlakuan pengenceran: 1) P0= air kelapa + 0% kuning telur itik; 2) P1 = air kelapa + 10% kuning telur itik; 3) P2 = air kelapa + 20% kuning telur itik; 4) P3 = air kelapa + 30% kuning telur itik. Setiap perlakuan disimpan pada suhu 5°C dan diamati pada lima tingkatan waktu penyimpanan yaitu: hari ke-0, ke-1, ke-2, ke-3, dan ke-4. Data dianalisis statistik dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 4x5 dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s new Multiple Range Test untuk data dengan perbedaan yang nyata. Interaksi antara perlakuan dan lama penyimpanan memiliki pengaruh yang sangat signifikan (P<0,01) terhadap motilitas spermatozoa (perlakuan P3 dengan penyimpanan sampai hari ke-2: 46,67±15,28%), namun tidak terdapat efek yang nyata terhadap viabilitas spermatozoa. Rerata viabilitas tertinggi selama penyimpanan terdapatpada perlakuan P3 (84,42±4,63%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengenceran dengan air kelapa ditambah 30% kuning telur itik memberikan persentase motilitas dan viabilitas spermatozoa lebih baik pada penyimpanan suhu 5°C dengan waktu penyimpanan dapat dilakukan sampai hari kedua.(Kata kunci: Air kelapa, Sperma domba Garut, Kuning telur itik, Motilitas, Viabilitas)

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 4 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (4) NOVEMBER 2019 Vol 43, No 3 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (3) AUGUST 2019 Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019 Vol 43, No 1 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (1) FEBRUARY 2019 Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018 Vol 42, No 3 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (3) AUGUST 2018 Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018 Vol 42, No 1 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (1) FEBRUARY 2018 Vol 41, No 4 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (4) NOVEMBER 2017 Vol 41, No 3 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (3) AGUSTUS 2017 Vol 41, No 2 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (2) MEI 2017 Vol 41, No 1 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (1) FEBRUARI 2017 Vol 40, No 3 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (3) OKTOBER 2016 Vol 40, No 2 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (2) JUNI 2016 Vol 40, No 1 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (1) FEBRUARI 2016 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 1 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (1) FEBRUARI 2015 Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014 Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014 Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014 Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013 Vol 37, No 2 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (2) JUNI 2013 Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013 Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012 Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012 Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012 Vol 35, No 3 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (3) Oktober 2011 Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011 Vol 35, No 1 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (1) Februari 2011 Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010 Vol 34, No 2 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (2) Juni 2010 Vol 34, No 1 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (1) Februari 2010 Vol 33, No 3 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (3) Oktober 2009 Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009 Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009 Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008 Vol 32, No 2 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (2) Juni 2008 Vol 32, No 1 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (1) Februari 2008 Vol 31, No 4 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (4) November 2007 Vol 31, No 3 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (3) Agustus 2007 Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007 Vol 31, No 1 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (1) Februari 2007 Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006 Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006 Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006 Vol 30, No 1 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (1) Februari 2006 Vol 29, No 4 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (4) November 2005 Vol 29, No 3 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (3) Agustus 2005 Vol 29, No 2 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (2) Mei 2005 Vol 29, No 1 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (1) Februari 2005 Vol 28, No 4 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (4) November 2004 Vol 28, No 3 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (3) Agustus 2004 Vol 28, No 2 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (2) Mei 2004 Vol 28, No 1 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (1) Februari 2004 Vol 27, No 4 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (4) November 2003 Vol 27, No 3 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (3) Agustus 2003 Vol 27, No 2 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (2) Mei 2003 Vol 27, No 1 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (1) Februari 2003 Vol 26, No 4 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (4) November 2002 Vol 26, No 1 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (1) Februari 2002 Vol 25, No 4 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (4) November 2001 Vol 25, No 3 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (3) Agustus 2001 Vol 25, No 2 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (2) Mei 2001 Vol 25, No 1 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (1) Februari 2001 Vol 24, No 4 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (4) November 2000 Vol 24, No 3 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (3) Agustus 2000 Vol 24, No 2 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (2) Mei 2000 Vol 24, No 1 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (1) Februari 2000 Vol 23, No 4 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (4) November 1999 Vol 23, No 3 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (3) Agustus 1999 Vol 23, No 2 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (2) Mei 1999 Vol 23, No 1 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (1) Februari 1999 Vol 22, No 4 (1998): Buletin Peternakan Vol. 22 (4) November 1998 Vol 21, No 3 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (3) November 1997 Vol 21, No 1 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (1) April 1997 Vol 20, No 2 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (2) Desember 1996 Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996 Vol 19, No 2 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (2) Desember 1995 Vol 19, No 1 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (1) Juni 1995 1995: BULETIN PETERNAKAN SPECIAL EDITION 1995 Vol 18, No 4 (1994): Buletin Peternakan Vol. 18 (4) Desember 1994 Vol 17, No 1 (1993): Buletin Peternakan Vol. 17 (1) Juni 1993 Vol 16, No 1 (1992): Buletin Peternakan Vol. 16 (1) Desember 1992 Vol 15, No 2 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (2) Desember 1991 Vol 15, No 1 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (1) Juni 1991 Vol 14, No 2 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (2) Desember 1990 Vol 14, No 1 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (1) Juni 1990 Vol 13, No 1 (1989): Buletin Peternakan Vol. 13 (1) September 1989 Vol 11, No 2 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (2) September 1987 Vol 11, No 1 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (1) Maret 1987 More Issue