cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Peternakan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Bulletin of Animal Science is published every four months. The Annual subscription rate is Rp. 150.000,-/year. Bulletin receives original papers in animal science and technology which are not published at any other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue " Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014" : 20 Documents clear
PENGARUH PENGGUNAAN KLOBOT JAGUNG SEGAR DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING DAN BAHAN ORGANIK SERTA PRODUKSI KARKAS KELINCI PERANAKAN NEW ZEALAND WHITE JANTAN Wardhana, Risang Pramudyo; Satrya, Fernandy Dwi; (Sudiyono), Sudiyono; Dewanti, Ratih
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.676 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan klobot jagung sebagai pengganti sebagian kangkung dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta produksi karkas kelinci Peranakan New Zealand White jantan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 di Balai Pembibitan dan Budidaya Ternak Non Ruminansia (BPBTNR) Surakarta. Penelitian ini menggunakan 16 ekor kelinci New Zealand White jantan berumur ±2 bulan dengan bobot badan awal 1301,69±155,01 g. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Ransum basal disusun dari dedak halus, BR1 dan kangkung (Ipomoea aquatica). Keempat level perlakuan pakan tersebut adalah dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 20% + klobot jagung 0% (P0); dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 17,5% + klobot jagung 2,5% (P1); dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 15% + klobot jagung 5% (P2) dan dedak halus 55% + BR1 25% + kangkung 12,5% + klobot jagung 7,5% (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan klobot jagung sampai level 7,5% dari total ransum tidak berpengaruh terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik serta karkas kelinci Peranakan New Zealand White jantan.(Kata kunci: Kelinci, Klobot jagung, Kecernaan bahan kering, Kecernaan bahan organik, Karkas)
PENGARUH LAMA PEMBAKARAN DAN JENIS BAHAN BAKAR TERHADAP KUALITAS SENSORIS DAN KADAR BENZO(A)PIREN SATE DAGING KAMBING Adiyastiti, Bayu Etti Tri; Suryanto, Edi; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.475 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pembakaran dan jenis bahan bakar terhadap kualitas sensoris dan kadar benzo(a)piren sate daging kambing. Persiapan awal daging dipisahkan dari jaringan lemak kemudian direndam dalam bumbu dan dibakar sesuai dengan perlakuan. Perlakuan lama pembakaran adalah 3, 5 dan 7 menit dengan masing-masing dibakar menggunakan arang dan gas. Parameter yang diamati adalah kualitas sensoris dan kadar benzo(a)piren. Data kualitas sensoris dianalisis dengan analisis non parametrik metode Kruskal-Wallis dan kadar benzo(a)piren secara deskriptif. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa lama pembakaran berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap warna, rasa, juiciness dan daya terima, akan tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap bau (aroma) dan tekstur. Jenis bahan bakar berpengaruh tidak nyata terhadap kualitas sensoris. Kadar benzo(a)piren sate daging kambing dengan lama pembakaran 3, 5, dan 7 menit menggunakan arang berturut-turut adalah 2,55 ppb; 4,16 ppb dan 5,02 ppb, sedangkan menggunakan gas adalah 0,68 ppb; 2,71 ppb dan 1,65 ppb. Kesimpulan dari penelitian ini adalah lamapembakaran menghasilkan perubahan warna, rasa, juiciness, daya terima dan kadar benzo(a)piren sate daging kambing. Jenis bahan bakar arang menghasilkan kadar benzo(a)piren lebih tinggi pada sate daging kambing.(Kata kunci: Sate daging kambing, Benzo(a)piren, Kualitas sensoris)
PENGARUH PENGGUNAAN AMPAS KECAP DALAM PAKAN TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN HARIAN, KONVERSI PAKAN, RASIO EFISIENSI PROTEIN, DAN PRODUKSI KARKAS ITIK LOKAL JANTAN UMUR DELAPAN MINGGU Herdiana, Rengga Murvie; Marshal, Yugi; Dewanti, Ratih; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.909 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ampas kecap yang direndam dalam larutan asam asetat dalam pakan terhadap pertambahan bobot badan harian (PBBH), konversi pakan, rasio efisiensi protein (REP), bobot potong, dan bobot karkas itik lokal jantan umur delapan minggu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni–Agustus 2013. Pakan yang digunakan mengandung energi termetabolis 2800 kcal/kg dan protein kasar 18%. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap pola searah dengan 4 perlakuan pakan, 5 ulangan, dan 5 ekor itik per perlakuan. Pakan perlakuan meliputi: pakan basal tanpa suplementasi ampas kecap (pakan kontrol), pakan basal dengan suplementasi ampas kecap 5%, pakan basal dengan suplementasi ampas kecap 10%, dan pakan basal dengan suplementasi ampas kecap 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ampas kecap dalam pakan hingga 15% tidak berpengaruh terhadap PBBH, konversi pakan, rasio efisiensi protein, bobot potong, dan bobot karkas itik jantan umur 8 minggu. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan ampas kecap dalam pakan sampai level 15% belum mampu meningkatkan performa dan produksi karkas itik lokal jantan.(Kata kunci: Ampas kecap, Itik lokal, Performa pertumbuhan)
KARAKTERISTIK MIKROBA DAN KIMIA SOSIS AYAM DENGAN PENAMBAHAN KHITOSAN DAN ANGKAK YANG DISIMPAN PADA REFRIGERATOR Vergiyana, Nia; (Rusman), Rusman; (Supadmo), Supadmo
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.451 KB)

Abstract

Zat pengawet dan pewarna alami yang ditambahkan pada produk olahan daging aman untuk dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan khitosan dan angkak ke dalam sosis ayam sebagai zat antibakteri berdasarkan karakteristik mikrobiologi dan kimia sosis ayam sampai penyimpanan 21 hari pada refrigerator. Rasio penambahan angkak (w/w) dan khitosan (w/v) masing-masing 0; 0,5 ;1; 1,5; 2%. Khitosan dilarutkan dalam asam asetat 1%. Penyimpanan dilakukan sampai 21 hari pada refrigerator dengan pengamatan 0, 7, 14, dan 21 hari. Variabel yang diamati meliputi aktivitas antibakteri, karakteristik mikroba (Enterobactericeae, dan Salmonella) dan kimia (kadar air, protein, lemak, dan aktivitas antioksidan). Data aktivitas antibakteri dianalisis dengan Randomized Completely Block Design (RCBD), Enterobacteriaceae dengan One-Way ANOVA, karakteristik kimia dan mikrobiologi dianalisis menggunakan analisis variansi pola faktorial 4 × 5 dengan faktor lama penyimpanan dan kombinasi konsentrasikhitosan:angkak dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Penambahan khitosan dan angkak sampai 2% dapat meningkatkan aktivitas antioksidan dan antibakteri khitosan yaitu 1,92% dan 3,06 mm, tetapi menurunkan kadar air 2,54%. Lama penyimpanan sosis sampai 21 hari pada refrigerator meningkatkan aktivitas antioksidan yaitu 6,25%. Penambahan khitosan:angkak dan lama penyimpanan sampai 21 hari tidak mengubah kadar protein dan lemak. Total Enterobacteriaceae terdeteksi pada hari ke-21 tetapi populasi masih sangat rendah (<30,0×101 CFU/g), Salmonella tidak menunjukkan adanya populasi sampai 21 hari. Berdasarkan hasil dapat disimpulkan bahwa lama penyimpanan sosis ayam yang ditambah khitosan dan angkak pada refrigerator sampai 21 hari masih layak untuk dikonsumsi.(Kata kunci: Sosis, Khitosan, Angkak, Refrigerator, Kimia, Mikrobiologi)
ESTIMASI HERITABILITAS SIFAT PERTUMBUHAN DOMBA EKOR GEMUK DI UNIT PELAKSANA TEKNIS PEMBIBITAN TERNAK-HIJAUAN MAKANAN TERNAK GARAHAN (Sumadi), Sumadi; Prajayastanda, Jatmika; Ngadiyono, Nono
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.132 KB)

Abstract

Sheep is one of popular ruminants in Indonesia, because sheep is one one of source of animal protein, and also easy and convenient in breeding. Therefor, they should be developed, preserved and increased through improvement of genetic quality by selection and mating control in the breeding program. Arrangement of a breeding program requires the values of genetic parameter namely heritability. The purpose of this study was to estimate the growth heritability value of Fat Tailed sheep in UPT PT-HMT Garahan, Jember, East Java. Data were collected from progeny, birth weight and weaning weight of Fat Tailed sheep from 2007 to 2012 in UPT-HMT Garahan, Jember. Data were corrected by sex, type of birth and weaning of age. Data were analyzed using the heritability of paternal halfsib correlations and nested method of analysis. The estimation of heritabilities using paternal halfsib correlation were 0.85±0.39; 0.89±0,41 and 0.67±0.37 for birth weight, weaning weight and pre weaning average daily gain (ADG). While, heritabilities estimated from nested method were 0.89±0,48 (h2 S); -0.11±0.33 (h2 D); 0.39±0.28 (h2 S+D); 0.71±0.50 (h2 S); 0.69±0.52 (h2 D);  0.70±0.33 (h2 S+D); 0.47±0.44 (h2 S); 0.72±0.56 (h2 D); 0.60±0.32 (h2 S+D) for birth weight, weaning weight an pre weaning ADG, respectively. All growth heritabilities of Fat Tailed sheep in high category.(Keyword: Fat Tailed sheep, Growth characters, Heritability)
PENGARUH TINGKAT PROTEIN DENGAN IMBANGAN ENERGI YANG SAMA TERHADAP PERTUMBUHAN AYAM LEHER GUNDUL DAN NORMAL SAMPAI UMUR 10 MINGGU Kusnadi, Harwi; Sidadolog, Jafendi Hasoloan Purba; (Zuprizal), Zuprizal; Wardono, Heru Ponco
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.607 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat protein dengan imbangan energi yang sama, pengaruh kondisi bulu terhadap pertumbuhan dan interaksinya pada ayam Leher Gundul (Legund) dan ayam normal sampai umur 10 minggu. Penelitian ini dilakukan pada faktor pakan dengan tiga macam perlakuan pakan yaitu dengan imbangan kandungan protein dan energi (1:150) yaitu: P1 (20,94% protein : 3.139,43 kcal/kg energi), P2 (18,91% protein : 2.839,20 kcal/kg energi), P3 (17,32% protein : 2.596,28 kcal/kg energi). Pemberian pakan dan air minum secara ad libitum. Pengaruh kondisi bulu yaitu ayam Leher Gundul (Legund) dan ayam normal. Penelitian ini menggunakan day old chicken (DOC) ayam Legund sebanyak 84 ekor dan DOC ayam normal sebanyak 72 ekor. Data yang diambil antara lain berat badan, pertambahan berat badan, konsumsi pakan, dan konversi pakan. Data dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara pengaruh pakan dengan imbangan protein-energi yang sama dan pengaruh kondisi bulu pada konsumsi dan konversi pakan. Pakan dengan imbangan protein-energi yang sama berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap berat badan sampai minggu ke-10, terhadap pertambahan berat badan kecuali minggu ke-2–4, terhadap konsumsi pakan sampaiminggu ke-4–6, terhadap konversi pakan kecuali minggu ke-8–10. Perbedaan kondisi bulu tidak berpengaruh terhadap berat badan, pertambahan berat badan, konsumsi pakan kecuali minggu ke-8–10, dan konversi pakan. Kesimpulan penelitian ini bahwa pakan dengan imbangan protein-energi 20,94% dan energi 3.139,43 kcal/kg paling baik untuk menghasilkan berat badan dan pertambahan berat badan ayam Legund maupun ayam normal sampai umur 10 minggu. Pertumbuhan ayam Legund sama dengan ayam normal sampai umur 10 minggu. Pemunculan interaksi antara pengaruh tingkat protein dengan imbangan energi yang sama dan pengaruh kondisi bulu tidak terjadi pada konsumsi pakan dan konversi pakan ayam Legund dan ayam normal sampai umur 10 minggu.(Kata kunci: Imbangan protein-energi, Pertumbuhan, Ayam Leher Gundul, Ayam normal)
KORELASI LINGKAR SKROTUM DENGAN BOBOT BADAN, VOLUME SEMEN, KUALITAS SEMEN, DAN KADAR TESTOSTERON PADA KAMBING KEJOBONG MUDA DAN DEWASA Syamyono, Ono; Samsudewa, Daud; Setiatin, Enny Tantini
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.016 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi lingkar skrotum dengan bobot badan, volume semen, kualitas semen, dan kadar testosteron pada kambing Kejobong muda dan dewasa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret–Mei 2013 di Purbalingga, Semarang, dan Yogyakarta. Materi yang digunakan adalah 35 ekor kambing Kejobong jantan, terbagi atas 2 kelompok umur, yaitu muda 20 ekor (8–12 bulan) dan dewasa 15 ekor (13–24 bulan). Variabelvariabel yang diamati meliputi korelasi antar lingkar skrotum dengan bobot badan, volume semen, abnormalitas,konsentrasi, morfologi, spermatozoa hidup, dan kadar testosteron. Kadar testosteron dianalisis menggunakan metodeEnzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara lingkar skrotum dengan bobot badan pada kambing Kejobong muda sebesar r = 0,60 (P<0,05) dengan persamaan regresi Y = -50,856 + 3,666X, namun tidak ada korelasi pada kambing Kejobong dewasa. Lingkar skrotum tidak berkorelasi dengan volume, motilitas, konsentrasi, morfologi, dan spermatozoa hidup pada kambing Kejobong muda dan dewasa. Lingkar skrotum berkorelasi negatif dengan kadar testosteron pada kambing Kejobong muda sebesar r = -0,66 (P<0,05) dengan persamaan regresi Y = 14,353 – 0,436X, namun tidak ada korelasi pada kambing Kejobong dewasa. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lingkar skrotum berkorelasi positif dengan bobot badan dan berkorelasi negatif dengan kadar testosteron pada kambing Kejobong muda. Lingkar skrotum tidak berkorelasi denganvolume dan kualitas semen baik pada kambing Kejobong muda maupun dewasa.(Kata kunci: Lingkar skrotum, Bobot badan, Kualitas semen, Kadar testosteron, Kambing Kejobong)
PRODUKTIVITAS KERBAU RAWA DI KECAMATAN MUARA MUNTAI, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA, KALIMANTAN TIMUR (Komariah), Komariah; (Kartiarso), Kartiarso; Lita, Maria
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.644 KB)

Abstract

Penelitian yang dilaksanakan di kelompok peternakan kerbau Rawa Teluk Ridan Desa Pulau Harapan, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara ini bertujuan untuk mengkaji produktivitas kerbau Rawa di Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara. Data produktivitas ditinjau dari aspek produksi dan reproduksi. Aspek produksi diteliti menggunakan 16 ekor kerbau Rawa yang terdiri atas pejantan, induk, anak jantan dan anak betina masing-masing 4 ekor. Rerata bobot badan anak kerbau umur 6–24 bulan adalah 201,58±81,27 kg dan bobot dewasa umur 3–10 tahun adalah 372,66±95,25 kg. Aspek reproduksi diketahui dengan melakukan wawancara. Hasil yang diperoleh adalah sex ratio jantan/betina 1:4, umur birahi pertama 2,6 tahun dengan lama birahi 8 hari dan panjang siklus birahi 18,5 hari. Rerata birahi dan konsepsi pertama terjadi pada umur 2,8 tahun dengan lama kebuntingan 1 tahun. Angka kelahiran dan calf crop kerbau yaitu 75% dan 67%, rerata kematian anak (mortalitas) 11% pada umur prasapih yaitu 1,7 bulan.(Kata kunci: Kerbau Rawa, Produktivitas, Kabupaten Kutai Kartanegara)
PENGARUH PENAMBAHAN FORMALDEHID PADA PEMBUATAN UNDEGRADED PROTEIN DAN TINGKAT SUPLEMENTASINYA PADA PELET PAKAN LENGKAP TERHADAP AKTIVITAS MIKROBIA RUMEN SECARA IN VITRO Suhartanto, Bambang; Utomo, Ristanto; (Kustantinah), Kustantinah; Budisatria, I Gede Suparta; Mira Yusiati, Lies; Widyobroto, Budi Prasetyo
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.741 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi formaldehid pada pembuatan undegraded protein (UDP) yang digunakan untuk mensuplementasi pelet pakan lengkap terhadap aktivitas mikrobia rumen secara in vitro. Hasil sisa tanaman pertanian dan hasil samping pengolahannya digunakan untuk menyusun pelet pakan lengkap yang mengandung 12% protein kasar (PK) dan 62% total digestible nutrients (TDN). Cairan rumen untuk percobaan in vitro kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik (KcBO) dan in vitro produksi gas diambil dari 2 ekor sapi Peranakan Ongole betina umur 2–3 tahun yang difistula pada bagian rumennya. Konsentrasi formaldehid 0; 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0% (volume/berat) digunakan untuk memproteksi bungkil kedelai pada pembuatan UDP, masing-masing adalah K-0, K-0,5, K-1,0, K-1,5, dan K-2,0. Tingkat proteksi bungkil kedelai diuji pada sampel UDP terhadap degradasibahan kering dan organik secara in vitro. Selanjutnya UDP yang paling baik digunakan untuk mensuplementasi pelet pakan lengkap. Aktivitas mikrobia rumen dari berbagai tingkat suplementasi UDP 0; 2,5; 5,0; 7,5; dan 10% bahan kering (berat/berat) pada pelet pakan lengkap berturut-turut adalah S-0, S-2,5, S-5,0, S-7,5, dan S-10,0 diuji secara in vitro produksi gas meliputi: produksi gas, sintesis protein mikrobia, produksi dan proporsi asam lemak volatil. Data hasil penelitian dianalisis variansi menurut Rancangan Acak Lengkap pola searah. Beda antar rerata diuji dengan Duncan’s Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan KcBK (%) bungkil kedelai tidak diproteksi K-0 lebih tinggi (P<0,05) dibanding K-0,5, dan K-0,5 lebih tinggi (P<0,05) dibanding K-1,0, K-1,5 dan K-2,0. KcBO bungkil kedelai tidak diproteksi lebih tinggi (P<0,05) dibanding K-0,5, dan K-0,5 lebih tinggi (P<0,05) dibanding K-1,0, K-1,5, dan K-2,0. Perbedaan tingkat suplementasi tidak mempengaruhi produksi gas antar perlakuan pada S-0, S-2,5, S-5,0, S-7,5 danS-10. Sintesis protein mikrobia mg/ml cairan rumen tidak berbeda pada suplementasi UDP S-0, S-2,5, S-5,0, dan S-7,5, namun S-10 lebih rendah (P<0,05) 0,273 mg/ml. Tingkat suplementasi UDP tidak mempengaruhi konsentrasi asam lemak volatil total (mmol). Proporsi asam asetat S-0 lebih rendah (P<0,05) dibanding S-5,0 dan S-7,5, tetapi proporsi asam propionat S-0 lebih tinggi (P<0,05) dibanding S-5,0, S-7,5, dan S-10,0. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan formaldehid pada tingkat 1% lebih baik dalam pembuatan UDP. Tingkat suplementasi UDP pada pelet pakan lengkap sampai 7,5% tanpa mempengaruhi aktivitas mikrobia rumen.(Kata kunci: Pelet pakan lengkap, Konsentrasi formaldehid, Undegraded protein, Tingkat suplementasi, Aktivitasmikrobia rumen)
PENGARUH TINGKAT YOGURT DAN WAKTU FERMENTASI TERHADAP KECERNAAN IN VITRO BAHAN KERING, BAHAN ORGANIK, PROTEIN, DAN SERAT KASAR KULIT NANAS FERMENTASI (Nurhayati), Nurhayati; (Nelwida), Nelwida; (Berliana), Berliana
Buletin Peternakan Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.908 KB)

Abstract

Penelitian dilaksanakan untuk melihat pengaruh tingkat yogurt dan waktu fermentasi terhadap kecernaan in vitro bahan kering, bahan organik, protein, dan serat kasar kulit nanas fermentasi. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor yaitu tingkat yogurt (0, 3, 6, dan 9 ml/kg) dan lama waktu fermentasi (24, 48, dan 72 jam) yang diulang sebanyak 5 kali. Bahan yang digunakan adalah kulit nanas, plain yogurt yang mengandung bakteri Lactobacillus delbrueckii subsp. bulgaricus dan Streptococcus salivarius subsp. thermophilus, bahan kimia yang digunakan untuk analisis proksimat protein dan serat kasar kulit nanas fermentasi, larutan saliva buatan McDougall dan cairan rumen. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05) tingkat yogurt terhadap kecernaan in vitro bahan kering, bahan organik, dan protein kasar tetapi tidak berbeda nyata terhadap kecernaan serat kasar. Waktu fermentasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan serat kasar secara in vitro. Interaksi tingkat yogurt dengan waktu fermentasi memberikan perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering, bahan organik dan protein kasar tetapi tidak memberikan perbedaan pengaruh nyata terhadap kecernaan serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa tingkat yogurt 6 ml/kg dan waktu fermentasi 72 jam dapat meningkatkan kecernaan in vitro bahan kering, bahan organik, dan protein kasar serta menurunkan kecernaan in vitro serat kasar kulit nanas fermentasi.(Kata kunci: Fermentasi, Kecernaan in vitro, Kulit nanas, Yogurt)

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 4 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (4) NOVEMBER 2019 Vol 43, No 3 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (3) AUGUST 2019 Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019 Vol 43, No 1 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (1) FEBRUARY 2019 Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018 Vol 42, No 3 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (3) AUGUST 2018 Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018 Vol 42, No 1 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (1) FEBRUARY 2018 Vol 41, No 4 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (4) NOVEMBER 2017 Vol 41, No 3 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (3) AGUSTUS 2017 Vol 41, No 2 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (2) MEI 2017 Vol 41, No 1 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (1) FEBRUARI 2017 Vol 40, No 3 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (3) OKTOBER 2016 Vol 40, No 2 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (2) JUNI 2016 Vol 40, No 1 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (1) FEBRUARI 2016 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 1 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (1) FEBRUARI 2015 Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014 Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014 Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014 Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013 Vol 37, No 2 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (2) JUNI 2013 Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013 Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012 Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012 Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012 Vol 35, No 3 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (3) Oktober 2011 Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011 Vol 35, No 1 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (1) Februari 2011 Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010 Vol 34, No 2 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (2) Juni 2010 Vol 34, No 1 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (1) Februari 2010 Vol 33, No 3 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (3) Oktober 2009 Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009 Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009 Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008 Vol 32, No 2 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (2) Juni 2008 Vol 32, No 1 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (1) Februari 2008 Vol 31, No 4 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (4) November 2007 Vol 31, No 3 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (3) Agustus 2007 Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007 Vol 31, No 1 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (1) Februari 2007 Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006 Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006 Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006 Vol 30, No 1 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (1) Februari 2006 Vol 29, No 4 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (4) November 2005 Vol 29, No 3 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (3) Agustus 2005 Vol 29, No 2 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (2) Mei 2005 Vol 29, No 1 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (1) Februari 2005 Vol 28, No 4 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (4) November 2004 Vol 28, No 3 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (3) Agustus 2004 Vol 28, No 2 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (2) Mei 2004 Vol 28, No 1 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (1) Februari 2004 Vol 27, No 4 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (4) November 2003 Vol 27, No 3 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (3) Agustus 2003 Vol 27, No 2 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (2) Mei 2003 Vol 27, No 1 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (1) Februari 2003 Vol 26, No 4 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (4) November 2002 Vol 26, No 1 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (1) Februari 2002 Vol 25, No 4 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (4) November 2001 Vol 25, No 3 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (3) Agustus 2001 Vol 25, No 2 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (2) Mei 2001 Vol 25, No 1 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (1) Februari 2001 Vol 24, No 4 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (4) November 2000 Vol 24, No 3 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (3) Agustus 2000 Vol 24, No 2 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (2) Mei 2000 Vol 24, No 1 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (1) Februari 2000 Vol 23, No 4 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (4) November 1999 Vol 23, No 3 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (3) Agustus 1999 Vol 23, No 2 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (2) Mei 1999 Vol 23, No 1 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (1) Februari 1999 Vol 22, No 4 (1998): Buletin Peternakan Vol. 22 (4) November 1998 Vol 21, No 3 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (3) November 1997 Vol 21, No 1 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (1) April 1997 Vol 20, No 2 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (2) Desember 1996 Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996 Vol 19, No 2 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (2) Desember 1995 Vol 19, No 1 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (1) Juni 1995 1995: BULETIN PETERNAKAN SPECIAL EDITION 1995 Vol 18, No 4 (1994): Buletin Peternakan Vol. 18 (4) Desember 1994 Vol 17, No 1 (1993): Buletin Peternakan Vol. 17 (1) Juni 1993 Vol 16, No 1 (1992): Buletin Peternakan Vol. 16 (1) Desember 1992 Vol 15, No 2 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (2) Desember 1991 Vol 15, No 1 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (1) Juni 1991 Vol 14, No 2 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (2) Desember 1990 Vol 14, No 1 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (1) Juni 1990 Vol 13, No 1 (1989): Buletin Peternakan Vol. 13 (1) September 1989 Vol 11, No 2 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (2) September 1987 Vol 11, No 1 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (1) Maret 1987 More Issue