cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Peternakan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Bulletin of Animal Science is published every four months. The Annual subscription rate is Rp. 150.000,-/year. Bulletin receives original papers in animal science and technology which are not published at any other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue " Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014" : 20 Documents clear
AKTIVITAS SENYAWA FENOL DALAM BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI UNTUK PENGHAMBATAN BAKTERI PENYEBAB MASTITIS Purwantiningsih, Theresia Ika; Suranindyah, Yustina Yuni; (Widodo), Widodo
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.91 KB)

Abstract

Mastitis pada sapi perah merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan kualitas dan produksi susu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengukur kadar senyawa fenol dalam buah mengkudu(Morinda citrifolia) mentah, mengkal, dan matang, membandingkan daya hambat bakteri ekstrak buah mengkudu dan larutan celup puting komersial yang mengandung iodium 1,25% (komersial A) dan benzalkonium chloride 2%(komersial B). Penelitian ini menggunakan bakteri Staphylococcus aureus asal susu sapi penderita mastitis subklinis. Larutan yang digunakan untuk penghambat bakteri adalah ekstrak buah mengkudu, larutan komersial A dan komersial B. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenol paling tinggi terdapat pada buah mengkudu matang. Berdasarkan analisis statistik menggunakan One Way Anova menunjukkan bahwa pemberian larutan yang berbeda memberikan efek nyata (P<0,05) dalam uji daya hambat bakteri. Namun demikian hasil uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) terdeteksi bahwa daya hambat bakteri yang diberi ekstrak buah mengkudu dan larutan komersial A tidakmenunjukkan perbedaan. Sedangkan larutan komersial B mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus paling baik dibandingkan dengan ekstrak buah mengkudu, komersial A dan kontrol. Kesimpulannya, ekstrak mengkudumengandung antibakteri alami dengan daya hambat yang tidak berbeda nyata dengan larutan komersial A dan dapat digunakan sebagai larutan untuk celup puting.(Kata kunci: Fenol, Antibakteri alami, Morinda citrifolia)
PENGARUH SUPLEMENTASI Heit-CHrose MELALUI BERBAGAI SISTEM PEMBERIAN PAKAN TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN PAKAN SAPI PERAH AWAL LAKTASI Kurniawan, Fery; Prayitno, Caribu Hadi
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.888 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi dan kecernaan nutrien pakan pada sapi perah yang mendapatkan pakan dengan suplementasi mineral organik (Cr organik 1,5 ppm; Se organik 0,3 ppm; Zn-Lyzinat 40ppm) dan Heit-CHrose (suplemen yang mengandung saponin, allisin dan mineral Cr, Se, dan Zn). Penelitian menggunakan 16 ekor sapi perah laktasi ketiga dengan rataan bobot badan 638±72 kg yang dibagi menjadi 4 perlakuan, yaitu R0 adalah pakan kontrol, R1 adalah R0 disuplementasi mineral organik, R2 adalah R1 ditambah Heit-CHrosediberikan secara konvensional, dan R3 adalah R2 yang diberikan secara total mix ration (TMR). Data diuji menggunakan analisis variansi dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan 4 ulangan. Apabila terdapat perbedaan maka diuji menggunakan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi mineral organik dan Heit-CHrose pada pakan sapi perah tidak  memberikan pengaruh terhadap konsumsi bahan kering (BK), bahan organik (BO), total digestible nutrien (TDN), kecernaan BK (KcBK), kecernaan BO (KcBO) dan kecernaan serat kasar (KcSK), tetapi berpengaruh (P<0,05) terhadap kecernaan energi. Kesimpulannya suplementasi Heit-CHrose pada pakan sapi perah mampu meningkatkan kecernaan energi dibandingkan pakan kontrol, serta tidak berdampak negatif terhadap konsumsi pakan dan kecernaan nutriennya.(Kata kunci: Sapi perah, Heit-CHrose, Konsumsi pakan, Kecernaan nutrien)
AKTIVITAS SENYAWA FENOL DALAM BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia) SEBAGAI ANTIBAKTERI ALAMI UNTUK PENGHAMBATAN BAKTERI PENYEBAB MASTITIS Purwantiningsih, Theresia Ika; Suranindyah, Yustina Yuni; (Widodo), Widodo
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (674.91 KB)

Abstract

Mastitis pada sapi perah merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan kualitas dan produksi susu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengukur kadar senyawa fenol dalam buah mengkudu(Morinda citrifolia) mentah, mengkal, dan matang, membandingkan daya hambat bakteri ekstrak buah mengkudu dan larutan celup puting komersial yang mengandung iodium 1,25% (komersial A) dan benzalkonium chloride 2%(komersial B). Penelitian ini menggunakan bakteri Staphylococcus aureus asal susu sapi penderita mastitis subklinis. Larutan yang digunakan untuk penghambat bakteri adalah ekstrak buah mengkudu, larutan komersial A dan komersial B. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenol paling tinggi terdapat pada buah mengkudu matang. Berdasarkan analisis statistik menggunakan One Way Anova menunjukkan bahwa pemberian larutan yang berbeda memberikan efek nyata (P<0,05) dalam uji daya hambat bakteri. Namun demikian hasil uji lanjut menggunakan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) terdeteksi bahwa daya hambat bakteri yang diberi ekstrak buah mengkudu dan larutan komersial A tidakmenunjukkan perbedaan. Sedangkan larutan komersial B mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus paling baik dibandingkan dengan ekstrak buah mengkudu, komersial A dan kontrol. Kesimpulannya, ekstrak mengkudumengandung antibakteri alami dengan daya hambat yang tidak berbeda nyata dengan larutan komersial A dan dapat digunakan sebagai larutan untuk celup puting.(Kata kunci: Fenol, Antibakteri alami, Morinda citrifolia)
ESTIMASI NILAI PEMULIAAN DAN MOST PROBABLE PRODUCING ABILITY SIFAT PRODUKSI SAPI ACEH DI KECAMATAN INDRAPURI PROVINSI ACEH Putra, Widya Pintaka Bayu; (Sumadi), Sumadi; Hartatik, Tety
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1258.797 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat estimasi nilai pemuliaan (NP) dan most probable producing ability (MPPA) sifat produksi sapi Aceh di Kecamatan Indrapuri, Provinsi Aceh. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 7 Maret 2013 sampai dengan 7 April 2013 di Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU)-Hijauan Pakan Ternak (HPT) Sapi Aceh Indrapuri. Materi penelitian ini terdiri dari catatan produksi dan populasi sapi Aceh tahun 2010 sampai 2012. Jumlah sapi yang digunakan untuk mengestimasi NP dan MPPA pada sifat produksi adalah 38 ekor. Estimasi nilai estimasi heritabilitas dengan metode korelasi saudara tiri sebapak (paternal half-shib correlation), sedangkan estimasi repitabilitas berdasarkan dua catatan individu menggunakan metode korelasi antar kelas (interclass correlation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas berat lahir, berat sapih, berat satu tahun, dan berat akhir masing-masing adalah 0,15+0,12, 0,48+0,58, 0,49+0,58, dan 0,56+0,69. Nilai repitabilitas yang dapat diestimasi berdasarkan data recording adalah berat lahir sebesar 0,33+0,22. Sapi Aceh pejantan nomor P.075 memiliki NPabsolut berat akhir tertinggi yaitu sebesar 14,99 kg. Nilai MPPAabsolut berat lahir tertinggi pada induk sapi Aceh nomor A.0668 yaitu sebesar 15,38 kg.(Kata kunci: Sapi Aceh, NP, MPPA, Heritabilitas, Repitabilitas, Sifat produksi)
PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN PAKAN PENGUAT TERHADAP PERFORMA INDUK KAMBING BLIGON DI PETERNAK RAKYAT (Nuraini), Nuraini; Budisatria, I Gede Suparta; Agus, Ali
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.197 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat penggunaan pakan penguat untuk perbaikan pakan terhadap performa induk kambing Bligon. Materi yang digunakan adalah 28 ekor induk kambing Bligon umur 1,5-2 tahun dengan rata-rata bobot badan awal 30,25±8,05 kg, pakan hijauan berupa ramban yang biasa digunakan oleh peternak dan pakan penguat. Ternak dikelompokkan kedalam 4 macam perlakuan pemberian pakan. Perlakuan ini meliputi : P1 = pakan kontrol (hijauan yang biasa diberikan peternak); P2 = pakan kontrol + 17% pakan penguat; P3 = pakan kontrol + 35% pakan penguat dan P4 = pakan kontrol + 52% pakan penguat. Penelitian berlangsung selama 8 bulan. Pakan yang diberikan sebanyak 3% dari bobot badan berdasarkan bahan kering dan air minum diberikansecukupnya. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian, feed conversion ratio, dan feed cost per gain. Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan dapat meningkatkan (P<0,05) konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian, feed conversion ratio dan feed cost per gain. Rerata pertambahan bobot badan harian induk kambing Bligon antara P1,P2, P3 dan P4 berturut-turut yaitu 30,16; 11,11; 34,92 dan 34,92 g/ekor/hari, feed conversion ratio berturut-turut adalah 8,79; 16,37; 5,53 dan 7,97, feed cost per gain berturut-turut adalah Rp33.903,58; Rp86.691,35; Rp36.908,25 danRp47.412,19. Disimpulkan bahwa perbaikan pakan dengan pemberian pakan penguat akan meningkatkan pertambahan bobot badan harian pada aras 35% dan 52%, feed conversion ratio, dan feed cost per gain pada induk kambing Bligon paling efisien masing-masing pada aras 35% dan tanpa pemberian pakan penguat.(Kata kunci: Kambing Bligon, Pakan penguat)
KORELASI ANTARA HORMON TESTOSTERON, LIBIDO, DAN KUALITAS SPERMA PADA KAMBING BLIGON, KEJOBONG, DAN PERANAKAN ETAWAH Rachmawati, Laili; (Ismaya), Ismaya; Astuti, Pudji
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.742 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar hormon testosteron, libido, dan kualitas sperma kambing Bligon, Kejobong, dan Peranakan Etawah (PE). Sampel terdiri dari 3 ekor kambing Bligon, 3 ekor kambing Kejobong, dan 3 ekor kambing PE jantan. Kadar testosteron diukur menggunakan metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Tingkat libido diketahui dengan pengamatan waktu pertama mencumbu betina, menaiki betina, sampai ejakulasi. Penampungan sperma menggunakan metode vagina buatan. Data yang diperoleh kemudian ditentukan nilai korelasi antara kadar testosteron dengan libido dan kualitas sperma. Hasil menunjukkan testosteron pagi kambing Bligon berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,79 dan Y= 20,91-6,52X), menaiki betina (R= -0,80 dan Y= 20,28-7,16X), ejakulasi (R= -0,81 dan Y= 14,03-7,56X), volume sperma (R= 0,65 dan Y= -0,78+0,03X), dan motilitas spermatozoa (R= 0,70 dan Y= -73,83+1,43X) (P<0,01). Testosteron pagi kambing Kejobong berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,75 dan Y= 14,96-0,68X), menaiki betina (R= -0,69 dan Y= 21,59-0,86X), ejakulasi (R= -0,66 dan Y= 28,51-0,83X), dan konsentrasi spermatozoa (R= 0,59 dan Y= 430,73+12,75X) (P<0,01), sedangkan testosteron sore berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,90 dan Y= 21,50-1,06X), menaiki betina (R= -0,90 dan Y= 24,89-1,16X), dan ejakulasi (R= -0,84 dan Y= 34,27-1,14X) (P<0,01). Testosteron sore kambing PE berkorelasi terhadap waktu mencumbu betina (R= -0,72 dan Y= 12,83-7,31X), menaiki betina (R= -0,72 dan Y= 9,11-7,67X), ejakulasi (R= -0,69 dan Y= 2,02-8,25X), viabilitas spermatozoa (R= 0,77 dan Y= -90,99+2,20X) dan konsentrasi spermatozoa (R= 0,72 dan Y= -452,10+9,56X) (P<0,01). Disimpulkan bahwa terdapat korelasi antara kadar hormon testosteron dengan tingkat libido dan kualitas sperma, serta terdapat variasi korelasi diantara bangsa kambing.(Kata kunci: Korelasi, Testosteron, Libido, Kualitas sperma, Kambing)
PERFORMA PRODUKSI DOMBA YANG DIBERI COMPLETE FEED FERMENTASI BERBASIS POD KAKAO SERTA NILAI NUTRIEN TERCERNANYA SECARA IN VIVO Wulandari, Suci; Agus, Ali; Soejono, Mohamad; Cahyanto, Muhammad Nur; Utomo, Ristanto
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.692 KB)

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui nilai manfaat pod kakao sebagai bahan pakan complete feed ruminansia, khususnya domba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi nutrien tercerna complete feed, berbahan baku utama pod kakao terfermentasi, dan mengetahui performa produksi domba. Perlakuan CF0 adalah complete feed tanpa fermentasi (kontrol), perlakuan CF1 adalah complete feed dengan penambahan pod kakao terfermentasi, dan perlakuan CF2 adalah complete feed fermentasi berbasis pod kakao. Replikasi masing-masing perlakuan sebanyak 6 ekor domba. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis variansi pola searah dan hasil yang berbeda dilanjutkan dengan uji beda mean Duncan new Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan pod kakao terfermentasi pada complete feed maupun pakan complete feed fermentasi berbasis pod kakao tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering, protein, maupun bahan organik tercerna, serta tidak mempengaruhi pertambahan bobot badan harian dan konversi pakan. Nilai serat kasar tercerna secara in vivo terbaik terdapat pada pakan perlakuan CF2.(Kata kunci: Pod kakao, Fermentasi anaerob, Inokulum mikrobia, Complete feed, Domba)
PENGARUH BOBOT DAN FREKUENSI PEMUTARAN TELUR TERHADAP FERTILITAS, DAYA TETAS, DAN BOBOT TETAS ITIK LOKAL Dewanti, Ratih; (Yuhan), Yuhan; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.66 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bobot dan frekuensi pemutaran telur terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot day old ducks (DOD) itik lokal. Penelitian ini menggunakan 351 butir telur itik lokal dengan rasio induk jantan dan betina 1:10. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3x3. Perlakuan terdiri dari 3 kelompok dengan 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri dari 13 butir telur. Bobot telur adalah 53-60 g (B1), 61-68 g (B2) dan 69-76 g (B3) dan pemutaran telur 4 kali, 6 kali, dan 8 kali dalam sehari. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak mempengaruhi fertilitas dan daya tetas, tetapi berpengaruh terhadap bobot DOD. Bobot tetas tertinggi terdapat pada telur dengan bobot besar (B3) yaitu sebesar 46,44 g. Tidak terdapat interaksi antara bobot dan frekuensi pemutaran telur terhadap fertilitas, daya tetas, dan bobot tetas DOD. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu bobot dan frekuensi pemutaran telur tidak mempengaruhi fertilitas dan daya tetas tetapi bobot telur mempengaruhi bobot tetas.(Kata kunci: Bobot dan frekuensi pemutaran telur, Fertilitas, Daya tetas, Bobot tetas)
PENGARUH PENGGUNAAN SEKAM PADI DALAM RANSUM BERBASIS LIMBAH PANGAN HOTEL KERING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KARKAS BABI Purnamartha, I Made; (Setiyono), Setiyono; (Panjono), Panjono
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.005 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan sekam padi sebagai sumber serat dalam ransum berbasis limbah pangan hotel kering terhadap pertumbuhan dan karakteristik karkas ternak babi. Dua puluh empat ekorbabi persilangan Landrace x Yorkshire jantan kastrasi, dengan umur 2 bulan dan berat badan 26,15±0,73 kg dibagi dalam empat kelompok perlakuan ransum, yaitu tanpa sekam padi (R0), 10% sekam padi (R1), 20% sekam padi (R2), dan 30% sekam padi (R3). Penelitian menggunakan kandang individu dengan lantai beton, berukuran panjang 1,9 m dan lebar 0,5 m. Pakan diberikan secara ad libitum. Pengamatan dilaksanakan selama 10 minggu. Data yang diperoleh dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap pola searah. Apabila terdapat perbedaan, analisis dilanjutkan dengan menggunakan Duncan’s new Multiple Range Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan kelompok R1 adalah 2,85±0,12 kg BK/ekor/hari, lebih tinggi (P<0,05) daripada kelompok R0, R2, dan R3 yang berturut-turut hanya 2,66±0,86; 2,64±0,04 dan 2,63±0,03 kg BK/ekor/hari. Konsumsi pakan berdasarkan berat badan metabolis kelompok R0 adalah 126,11±2,97 g BK/kg BB0,75/hari, lebih rendah (P<0,05) daripada R1 yaitu 131,32±2,07 g BK/kg BB0,75/hari. Berat badan akhir, pertambahan berat badan harian, berat potong, berat karkas, dan loin eye area kelompok R3 berturutturutadalah 84,33±4,67 kg; 0,83±0,06 kg/ekor/hari; 83,83±3,40 kg; 53,50±1,80 kg dan 29,00±2,65 cm2, lebih rendah (P<0,05) daripada R1 yang berturut-turut 95,00±4,37 kg; 0,98±0,06 kg/ekor/hari; 92,33±2,89 kg; 67,83±0,58 kg dan35,67±2,52 cm2. Konversi pakan kelompok R3 adalah 3,18±0,20, lebih tinggi (P<0,05) daripada R0 dan R1 yang berturut-turut hanya 2,89±0,20 dan 2,90±0,07. Persentase karkas kelompok R3 adalah 63,86±2,55%, lebih rendah(P<0,05) daripada ketiga kelompok lainnya yang berturut-turut 72,88±0,96; 73,51±2,09 dan 70,71±0,33%. Lemak punggung kelompok R0 adalah 3,55±0,16 cm, lebih tebal (P<0,05) daripada R2 dan R3 yang berturut-turut hanya2,97±0,35 dan 2,48±0,19 cm. Disimpulkan bahwa penggunaan sekam padi pada konsentrasi 10% dalam ransum berbasis limbah pangan hotel kering mampu meningkatkan pertumbuhan dan karkas ternak babi.(Kata kunci: Sekam padi, Limbah pangan hotel, Pertumbuhan, Karkas, Babi)
KARAKTERISTIK CAIRAN RUMEN, JENIS, DAN JUMLAH MIKROBIA DALAM RUMEN SAPI JAWA DAN PERANAKAN ONGOLE Purbowati, Endang; Rianto, Edy; Dilaga, Wayan Sukarya; Sri Lestari, Christina Maria; Adiwinarti, Retno
Buletin Peternakan Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.074 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang karakteristik cairan rumen, jenis, dan jumlah mikrobia yang terdapat pada rumen sapi Jawa dan sapi Peranakan Ongole (PO) jantan. Materi penelitian berupa 12 sampel cairan rumen (6 dari sapi Jawa jantan dan 6 dari sapi PO jantan) yang diambil dari rumah potong hewan (RPH) di Brebes, Jawa Tengah. Variabel yang dianalisis adalah pH, NH3, dan volatile fatty acids (VFA), serta mikrobia yang terdapat di dalamnya yang dibedakan menjadi: protozoa, bakteri, dan fungi. Data yang diperoleh ditampilkan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa pH cairan rumen sapi Jawa (6,83) sedikit lebih tinggi dari pada sapi PO (6,67), namun keduanya masih dalam kondisi yang normal. Konsentrasi NH3 cairan rumen sapi Jawa (8,75 mgN/100ml) lebih tinggi dari pada sapi PO (7,49 mgN/100ml). Konsentrasi asetat dan butirat cairan rumen sapi Jawa lebih rendah dari pada sapi PO, tetapi konsentrasi propionat cairan rumen sapi Jawa lebih tinggi dari pada sapi PO. Rasio asetat-propionat cairan rumen sapi Jawa lebih rendah dari pada sapi PO. Jumlah protozoa cairan rumen pada sapi Jawa (64,12 per μl cairan rumen) lebih rendah dari pada sapi PO (76,33 per μl cairan rumen). Populasi bakteri cairan rumen sapi Jawa (2,7 x 107 cfu/g) lebih rendah dari pada sapi PO (2,3 x 108 cfu/g), tetapi populasi jamur cairan rumen sapi Jawa (9,3 x 104 cfu/g) lebih tinggi dari pada sapi PO (1,9 x 103 cfu/g). Kesimpulan penelitian ini adalah pH cairan rumen kedua sapi netral, tetapi konsentrasi NH3, asam propionat dan populasi jamur cairan rumen sapi Jawa lebih tinggi dari pada sapi PO, sehingga rasio asam asetat-propionat pada sapi Jawa menjadi lebih rendah yang berarti lebih berpeluang untuk menghasilkan produktivitas berupa pertambahan bobot badan yang lebih tinggi.(Kata kunci: Karakteristik cairan rumen, Mikrobia rumen, Sapi Jawa, Sapi PO)

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 4 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (4) NOVEMBER 2019 Vol 43, No 3 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (3) AUGUST 2019 Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019 Vol 43, No 1 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (1) FEBRUARY 2019 Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018 Vol 42, No 3 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (3) AUGUST 2018 Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018 Vol 42, No 1 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (1) FEBRUARY 2018 Vol 41, No 4 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (4) NOVEMBER 2017 Vol 41, No 3 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (3) AGUSTUS 2017 Vol 41, No 2 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (2) MEI 2017 Vol 41, No 1 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (1) FEBRUARI 2017 Vol 40, No 3 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (3) OKTOBER 2016 Vol 40, No 2 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (2) JUNI 2016 Vol 40, No 1 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (1) FEBRUARI 2016 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 1 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (1) FEBRUARI 2015 Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014 Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014 Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014 Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013 Vol 37, No 2 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (2) JUNI 2013 Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013 Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012 Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012 Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012 Vol 35, No 3 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (3) Oktober 2011 Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011 Vol 35, No 1 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (1) Februari 2011 Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010 Vol 34, No 2 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (2) Juni 2010 Vol 34, No 1 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (1) Februari 2010 Vol 33, No 3 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (3) Oktober 2009 Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009 Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009 Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008 Vol 32, No 2 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (2) Juni 2008 Vol 32, No 1 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (1) Februari 2008 Vol 31, No 4 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (4) November 2007 Vol 31, No 3 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (3) Agustus 2007 Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007 Vol 31, No 1 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (1) Februari 2007 Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006 Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006 Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006 Vol 30, No 1 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (1) Februari 2006 Vol 29, No 4 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (4) November 2005 Vol 29, No 3 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (3) Agustus 2005 Vol 29, No 2 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (2) Mei 2005 Vol 29, No 1 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (1) Februari 2005 Vol 28, No 4 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (4) November 2004 Vol 28, No 3 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (3) Agustus 2004 Vol 28, No 2 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (2) Mei 2004 Vol 28, No 1 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (1) Februari 2004 Vol 27, No 4 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (4) November 2003 Vol 27, No 3 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (3) Agustus 2003 Vol 27, No 2 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (2) Mei 2003 Vol 27, No 1 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (1) Februari 2003 Vol 26, No 4 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (4) November 2002 Vol 26, No 1 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (1) Februari 2002 Vol 25, No 4 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (4) November 2001 Vol 25, No 3 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (3) Agustus 2001 Vol 25, No 2 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (2) Mei 2001 Vol 25, No 1 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (1) Februari 2001 Vol 24, No 4 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (4) November 2000 Vol 24, No 3 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (3) Agustus 2000 Vol 24, No 2 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (2) Mei 2000 Vol 24, No 1 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (1) Februari 2000 Vol 23, No 4 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (4) November 1999 Vol 23, No 3 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (3) Agustus 1999 Vol 23, No 2 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (2) Mei 1999 Vol 23, No 1 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (1) Februari 1999 Vol 22, No 4 (1998): Buletin Peternakan Vol. 22 (4) November 1998 Vol 21, No 3 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (3) November 1997 Vol 21, No 1 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (1) April 1997 Vol 20, No 2 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (2) Desember 1996 Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996 Vol 19, No 2 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (2) Desember 1995 Vol 19, No 1 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (1) Juni 1995 1995: BULETIN PETERNAKAN SPECIAL EDITION 1995 Vol 18, No 4 (1994): Buletin Peternakan Vol. 18 (4) Desember 1994 Vol 17, No 1 (1993): Buletin Peternakan Vol. 17 (1) Juni 1993 Vol 16, No 1 (1992): Buletin Peternakan Vol. 16 (1) Desember 1992 Vol 15, No 2 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (2) Desember 1991 Vol 15, No 1 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (1) Juni 1991 Vol 14, No 2 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (2) Desember 1990 Vol 14, No 1 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (1) Juni 1990 Vol 13, No 1 (1989): Buletin Peternakan Vol. 13 (1) September 1989 Vol 11, No 2 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (2) September 1987 Vol 11, No 1 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (1) Maret 1987 More Issue