cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Peternakan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Bulletin of Animal Science is published every four months. The Annual subscription rate is Rp. 150.000,-/year. Bulletin receives original papers in animal science and technology which are not published at any other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013" : 18 Documents clear
DINAMIKA PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI PERSUSUAN DI KABUPATEN SEMARANG, JAWA TENGAH Asih, Riyuni; Murti, Tridjoko Wisnu; Haryadi, F. Trisakti
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pengembangan klaster industri persusuan di Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah. Dinamika pengembangan klaster industri persusuan dianalisis melalui kekuatankekuatan yang ada pada setiap elemen-elemen klaster, yaitu pemasok bahan baku susu, industri inti, industri terkait, industri pendukung, pembeli, dan lembaga pendukung. Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pihakpihak yang terkait (stakeholders) dalam klaster industri persusuan di Kabupaten Semarang, terdiri dari peternak sapi perah, koperasi susu, Industri Pengolahan Susu, industri terkait, dan lembaga pendukung. Alat bantu yang digunakan adalah kuesioner. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggunakan data primer dan sekunder. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat pemasok, rata-rata kepemilikan ternak sebanyak 6,58 ekor, rata-rata produksi susu sebesar 8,30±2,54 l/ekor/hari, dan rata-rata tingkat adopsi sebesar 57,57%. Produksi susu di tingkat koperasi sebesar 77.300 kg/hari. Rata-rata kualitas susu adalah 6,78 (pH), 11,23% (total solid), 3,55% (lemak), 7,68% (SNF), 2,68% (protein), dan 4,45% (laktosa). Kuota pembelian dari industri pengolahan susu yaitu 212.000 kg/hari. Bank sebagai industri pendukung telah memberikan pinjaman modal pada pengusaha persusuan sebesar Rp24.892.000.000,00. Institusi pendukung telah melakukan peran masing-masing.(Kata kunci: Dinamika, Klaster, Industri persusuan)
EFEK LAMA STIMULASI DAN TEGANGAN LISTRIK TERHADAP KOMPOSISI KIMIA, KUALITAS FISIK, DAN SENSORI DAGING AYAM PETELUR AFKIR Syam, Adnan; (Soeparno), Soeparno; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek lama stimulasi dan tegangan listrik terhadap komposisi kimia, kualitas fisik, dan sensori daging ayam petelur afkir. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 3 x 4 dengan 6 kali ulangan pada setiap kombinasi. Sampel penelitian adalah 72 ekor ayam petelur afkir yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan dengan lama stimulasi 0, 1, dan 2 menit, dan 4 kelompok perlakuan stimulasi listrik 60, 75, dan 90 volt, dan kontrol dengan jumlah ulangan masing-masing 6 kali. Interaksi lama stimulasi dan tegangan listrik berpengaruh nyata terhadap kualitas fisik daging, yaitu pH, daya ikat air, susut masak, keempukan, dan kadar protein daging. Stimulasi listrik selama dua menit dengan tegangan 90 volt dapat memperbaiki kualitas fisik daging ayam petelur afkir, dibandingkan dengan kombinasi lainnya. Interaksi antara lama stimulasi dan tegangan listrik dapat memperbaiki kualitas sensori daging yaitu keempukan, warna, aroma, dan tekstur daging ayam petelur afkir.(Kata kunci: Ayam petelur afkir, Komposisi kimia, Kualitas fisik, Sensori, Stimulasi listrik)
PENGARUH DOSIS SPERMA YANG DIENCERKAN DENGAN NaCl FISIOLOGIS TERHADAP FERTILITAS TELUR PADA INSEMINASI BUATAN AYAM KAMPUNG Asmarawati, Widya; (Kustono), Kustono; Widayati, Diah Tri; Bintara, Sigit; (Ismaya), Ismaya
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis sperma untuk Inseminasi Buatan (IB) pada ayam kampung terhadap fertilitas telurnya. Dosis IB ini berguna untuk mengetahui perbandingan jantan dan betina yang paling efisien dalam suatu pemeliharaan. Sperma ditampung dan dicampur dari 5 ekor ayam Pelung jantan yang berumur sekitar 52 minggu. Sperma yang telah diketahui konsentrasinya kemudian dibagi menjadi 3 bagian dan masing-masing diencerkan dengan NaCl fisiologis sehingga diperoleh dosis akhir yaitu 25x106/0,1 ml (dosis 1); 75x106/0,1 ml (dosis 2); dan 150x106/0,1 ml (dosis 3). Sembilan ekor ayam kampung betina diinseminasi untuk mengetahui pengaruh dosis terhadap fertilitas telur. Ayam betina yang digunakan adalah ayam kampung yang berumur sekitar 30 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis sperma tidak berpengaruh pada fertilitas telur ayam kampung. Fertilitas telur untuk masing-masing perlakuan dosis 1, 2, dan 3 adalah 44,13±20,84; 66,67±23,57; dan 58,75±14,36%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dosis sperma tidak berpengaruh pada fertilitas telur ayam kampung.(Kata kunci: Ayam kampung, Dosis sperma, Inseminasi buatan)
PENGARUH METODE PENGERINGAN DAN KONSENTRASI BUMBU SERTA LAMA PERENDAMAN DALAM LARUTAN BUMBU TERHADAP KUALITAS FISIK DAN SENSORI DENDENG BABI Veerman, Marcus; (Setiyono), Setiyono; (Rusman), Rusman
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan dan konsentrasi bumbu serta lama perendaman terhadap pH dan sensori dendeng daging babi. Irisan daging direndam dalam larutan bumbu dengan konsentrasi 40, 20, 13,3, dan 10%. Lamanya perendaman adalah 1, 3, 5, dan 7 jam, kemudian dilakukan pengeringan dengan sinar matahari dan oven. Parameter yang diamati meliputi pH dan parameter sensori. Data pH dianalisis dengan analisis variansi Rancangan Acak Lengkap pola faktorial 2×4×4 dengan tiga kali ulangan, dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Data uji sensori dianalisis dengan analisis non parametrik  menggunakan uji Hedonik menurut Kruskal-Wallis, dilanjutkan  analisis deskriptif kuantitatif (jaring labalaba) pada program MS Excel. Metode pengeringan dan konsentrasi bumbu serta lama perendaman, dan interaksi ketiga perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH dendeng daging babi. Berdasarkan diagram jaring laba-laba, uji sensori meliputi parameter warna menunjukkan coklat sampai coklat keemasan, rasa menunjukkan agar suka sampai sangat suka dan daya terima menunjukkan agak suka sampai sangat suka. Metode pengeringan matahari menghasilkan tekstur kasar sampai agak kasar dan keempukan menunjukkan keras sampai agak keras. Metode pengeringan oven menunjukkan parameter warna agak coklat sampai coklat keemasan dan rasa agak suka sampai sangat suka, sedangkan daya terima tidak suka sampai agak suka, tekstur kasar sampai agak kasar dan keempukan keras sampai agak keras.(Kata kunci: Dendeng babi, Kualitas pH, Uji sensori, Metode pengeringan, Konsentrasi bumbu)
KONTRIBUSI EKSKRESI BASAL PURIN TERHADAP TOTAL EKSKRESI DERIVAT PURIN DALAM URIN KAMBING BLIGON DAN KEJOBONG Purwati, Catur Suci; Yusiati, Lies Mira; Sasmito Budhi, Subur Priyono
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kontribusi ekskresi basal terhadap total ekskresi derivat purin dalam urin kambing Kejobong dan Bligon. Percobaan ini didesain menggunakan Independent Student t-test untuk membandingkan ekskresi derivat purin keturunan kambing yang berbeda. Pakan yang diberikan adalah jerami kacang tanah (rendeng). Kambing jantan Bligon dan Kejobong masing-masing 6 ekor digunakan dalam penelitian ini. Percobaan ini dibagi menjadi 3 periode yaitu periode adaptasi selama 14 hari, periode koleksi pada saat ternak diberi pakan ad libitum selama 7 hari, dan periode koleksi pada saat ternak dipuasakan. Penentuan kandungan bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK), serat kasar (SK), dan ekstrak eter (EE) dilakukan dengan metode analisis proksimat untuk pakan, sisa pakan, dan feses. Pada sampel urin yang diambil saat ternak diberi pakan ad libitum dan dipuasakan dilakukan pengukuran derivat purin yaitu alantoin, asam urat, xantin, dan hipoxantin. Hasil penelitian memperlihatkan konsumsi BK, BO, PK, SK, dan EE menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Nutrien tercerna BK, BO, PK, SK, dan EE juga menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Volume urin kambing Kejobong dan Bligon pada pemberian pakan secara ad libitum menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05), dengan rerata kambing Kejobong 953,84 dan Bligon sebesar 762,69 ml/hari. Total ekskresi alantoin dan asam urat kambing Kejobong cenderung lebih tinggi daripada Bligon, sedangkan untuk total ekskresi xantin dan hipoxantin menunjukkan hasil yang berbeda tidak nyata. Total ekskresi derivat purin pada saat pakan ad libitum menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05), rerata kambing Kejobong 117,96±16,43 μmol/W0,75/hari dan Bligon 72,40±4,53 μmol/W0,75/hari. Volume urin pada saat dipuasakan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Rerata volume urin kambing Kejobong 233,04 dan Bligon 201,75 ml/hari. Total ekskresi alantoin kambing Kejobong pada saat dipuasakan cenderung lebih rendah dibanding Bligon, namun untuk total ekskresi asam urat cenderung lebih tinggi kambing Kejobong dibanding Bligon. Total ekskresi xantin dan hipoxantin menunjukkan perbedaan yang tidak nyata. Total ekskresi derivat purin kambing Bligon pada saat dipuasakan lebih tinggi dari kambing Kejobong, dengan rerata kambing Kejobong 18,85±4,45 μmol/W0,75/hari, dan Bligon sebesar 19,33±2,28 μmol/W0,75/hari. Derivat purin endogen kambing Kejobong 0,018 μmol/W0,75 sedangkan Bligon 0,019 μmol/W0,75. Efisiensi sintesis protein mikrobia kambing Kejobong adalah 0,07 g N mikrobia/hari, sedangkan Bligon 0,04 g N mikrobia/hari dengan BK nutrien tercerna hampir sama. Kontribusi ekskresi basal derivat purin terhadap total ekskresi derivat purin kambing Kejobong 15,98%, sedangkan Bligon 26,70%. (Kata kunci: Ekskresi, Derivat purin, Kambing Bligon, Kejobong)
PENGARUH PENGGUNAAN BINDER ALAMI PADA PROSES FINISHING KULIT CAKAR AYAM TERSAMAK TERHADAP KEKUATAN SOBEK DAN KETAHANAN GOSOK CAT Sumarni, Sri; Triatmojo, Suharjono; (Nurliyani), Nurliyani
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari penggunaan binder alami (putih telur dan kasein dari susu sapi segar), sebagai pengganti binder paten pada proses finishing kulit cakar ayam tersamak terhadap kekuatan sobek dan ketahanan gosok cat. Bahan yang digunakan yaitu kulit cakar ayam dengan menggunakan perlakuan variasi konsentrasi binder alami, yaitu: 5, 10, dan 15% (b/v) dan dosis penggunaan: 5, 10, dan 15% (v/v) kemudian diuji kekuatan sobek dan ketahanan gosok. Data kekuatan sobek dan ketahanan gosok cat dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial (3 x 3). Jika terdapat perbedaan yang nyata, uji dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata pada binder alami dengan konsentrasi 5, 10, dan 15% maupun dosis penggunaan 5, 10, dan 15% terhadap kekuatan sobek dan ketahanan gosok cat dengan kain basah, tetapi terdapat perbedaan yang nyata terhadap ketahanan gosok cat dengan kain kering. Binder alami kasein menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) baik konsentrasi, dosis penggunaan, maupun interaksinya. Hasil uji t masing-masing bahan binder menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara bahan binder albumin, kasein, dan campuran dengan bahan binder paten Leuron E dan Compact terhadap ketahanan gosok cat dengan kain basah maupun kain kering (P<0,01) tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata terhadap kekuatan sobek kulit samak cakar ayam. Semua hasil pengujian ketahanan gosok cat dengan kain basah maupun kain kering terhadap binder alami memenuhi SNI 06.0996.1989. Disimpulkan bahwa penggunaan binder alami dengan konsentrasi 5, 10, dan 15% maupun dosis penggunaan 5, 10, dan 15% tidak mempengaruhi kekuatan sobek dan ketahanan gosok cat dengan kain basah, tetapi berpengaruh terhadap ketahanan gosok cat dengan kain kering.(Kata kunci: Binder alami, Binder paten, Finishing kulit cakar ayam tersamak)
EFEK PENGURANGAN DAN PEMENUHAN KEMBALI JUMLAH PAKAN TERHADAP KONSUMSI DAN KECERNAAN BAHAN PAKAN PADA KAMBING KACANG DAN PERANAKAN ETAWAH (Aryanto), Aryanto; Suwignyo, Bambang; (Panjono), Panjono
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek pengurangan dan pemenuhan kembali jumlah pakan terhadap konsumsi dan kecernaan bahan pakan pada kambing Kacang dan Peranakan Etawah. Delapan ekor kambing jantan yang terdiri atas 4 ekor kambing Kacang dan 4 ekor kambing Peranakan Etawah digunakan dalam penelitian ini. Kedua jenis kambing tersebut diberikan perlakuan yang sama. Pertama, pakan dikurangi dengan pemberian bahan kering 1,7% berat badan untuk masing-masing ternak, kedua, ternak diberi pakan secara ad libitum. Variabel yang diamati adalah konsumsi dan kecernaan pakan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Sidik Ragam menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x2. Uji Jarak Berganda Duncan digunakan untuk menguji perlakuan yang berbeda nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangsa kambing dan volume pakan tidak saling berinteraksi untuk mempengaruhi kemampuan konsumsi dan kecernaan pakan. Perbedaan bangsa kambing tidak berpengaruh terhadap konsumsi bahan kering dan bahan organik, akan tetapi kambing Peranakan Etawah mampu mencerna bahan kering dan bahan organik secara lebih baik (P<0,05) daripada kambing Kacang. Perbedaan volume pakan mempengaruhi (P<0,01) konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organik, kecernaan bahan kering, dan kecernaan bahan organik. Disimpulkan bahwa konsumsi dan kecernaan pada kedua bangsa kambing mempunyai pola yang sama, yang akan menurun saat pakan dikurangi dan meningkat secara signifikan ketika pakan diberikan ad libitum.(Kata kunci: Kambing, Pengurangan pakan, Konsumsi dan kecernaan)
PEMASARAN TERNAK SAPI POTONG DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR, SUMATERA SELATAN Sumantri, Jaka; Kusumastuti, Tri Anggraeni; Widiati, Rini
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi saluran pemasaran, menghitung margin pemasaran, berat taksir dan berat timbang ternak, gross margin peternak, pedagang desa, pedagang besar dan jagal serta menentukan kebijakan strategi pemasaran. Lokasi penelitian dipilih secara purposive sampling di tiga Kecamatan yaitu Lempuing, Lempuing Jaya dan Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Penelitian dilaksanakan bulan Juli sampai dengan Agustus 2011. Responden adalah peternak sebanyak 60 orang, pedagang desa 15 orang, pedagang besar dan jagal masingmasing 5 orang. Obyek penimbangan adalah ternak sapi yang dijual di tingkat peternak, pedagang desa, pedagang besar masing-masing 60 ekor (30 jantan dan 30 betina) dan jagal 30 ekor jantan. Metode yang digunakan adalah survei dengan pengamatan langsung dan wawancara kepada responden. Analisis deskriptif untuk margin pemasaran dan analisis kuantitatif untuk membandingkan berat taksir dengan berat timbang ternak dengan uji t. Selanjutnya membandingkan gross margin peternak, pedagang desa, pedagang besar dan jagal menggunakan one way ANOVA yang dilanjutkan dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian diperoleh ada 3 saluran pemasaran, saluran I dari peternak ke jagal melalui 2 pedagang yaitu pedagang desa dan pedagang besar, saluran II dari peternak ke jagal melalui 1 pedagang yaitu pedagang desa dan saluran III dari peternak langsung ke jagal. Margin pemasaran saluran I Rp2.562.835,00/ekor, saluran II Rp930.979,00/ekor dan saluran III Rp0,00/ekor. Tidak ada perbedaan nyata antara berat taksir sapi yang dipasarkan dan berat timbang. Terdapat perbedaan gross margin yang nyata (P<0,05) antara peternak (Rp873.833,00a/ekor) dengan pedagang desa (Rp1.783.213,00b/ekor) dan jagal (Rp3.256.898,00c/ekor), sedangkan dengan pedagang besar (Rp326.736,00a/ekor) tidak berbeda. Kebijakan strategi pemasaran untuk meningkatkan gross margin peternak melalui kebijakan saluran pemasaran yaitu memilih saluran yang paling menguntungkan peternak, kebijakan harga yaitu menentukan standar harga jual ternak dan kebijakan gross margin yaitu memberikan harga input dan output yang menguntungan peternak.(Kata kunci: Saluran pemasaran, Sapi potong, Margin pemasaran, Gross margin)
PENGARUH PENGGUNAAN ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes) TERFERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PERSENTASE KARKAS, NON-KARKAS, DAN LEMAK ABDOMINAL ITIK LOKAL JANTAN UMUR DELAPAN MINGGU Dewanti, Ratih; Irham, Muhammad; (Sudiyono), Sudiyono
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan enceng gondok terfermentasi terhadap bobot potong, bobot karkas, persentase karkas, non-karkas, dan lemak abdominal. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Perlakuan meliputi: P0 (ransum basal); P1 (ransum basal + 2,5% enceng gondok terfermentasi); P2 (ransum basal + 5% enceng gondok terfermentasi); P3 (ransum basal + 7,5% enceng gondok terfermentasi); dan P4 (ransum basal + 10% enceng gondok terfermentasi). Hasil penelitian dari kelima perlakuan diperoleh nilai rerata bobot potong 1261,97 g; persentase karkas 53,22%; persentase sayap 16,03%; paha 28,68%; dada 20,58%, dan punggung 24,71%. Rerata persentase non-karkas berturut – turut adalah kepala 15,22%; kaki 2,68%; hati 2,21%; jantung 0,72%; empedal 4,74%; dan lemak abdominal 0,63%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enceng gondok terfermentasi dalam ransum sampai tingkat 10% tidak berpengaruh terhadap bobot potong, persentase karkas, non-karkas, dan lemak abdominal itik lokal jantan umur delapan minggu.(Kata kunci: Itik lokal jantan, Enceng gondok terfermentasi, Karkas, Non-karkas, Lemak abdominal)
PENGARUH DOSIS SPERMA YANG DIENCERKAN DENGAN NaCl FISIOLOGIS TERHADAP FERTILITAS TELUR PADA INSEMINASI BUATAN AYAM KAMPUNG Asmarawati, Widya; (Kustono), Kustono; Widayati, Diah Tri; Bintara, Sigit; (Ismaya), Ismaya
Buletin Peternakan Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v37i1.1952

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis sperma untuk Inseminasi Buatan (IB) pada ayam kampung terhadap fertilitas telurnya. Dosis IB ini berguna untuk mengetahui perbandingan jantan dan betina yang paling efisien dalam suatu pemeliharaan. Sperma ditampung dan dicampur dari 5 ekor ayam Pelung jantan yang berumur sekitar 52 minggu. Sperma yang telah diketahui konsentrasinya kemudian dibagi menjadi 3 bagian dan masing-masing diencerkan dengan NaCl fisiologis sehingga diperoleh dosis akhir yaitu 25x106/0,1 ml (dosis 1); 75x106/0,1 ml (dosis 2); dan 150x106/0,1 ml (dosis 3). Sembilan ekor ayam kampung betina diinseminasi untuk mengetahui pengaruh dosis terhadap fertilitas telur. Ayam betina yang digunakan adalah ayam kampung yang berumur sekitar 30 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis sperma tidak berpengaruh pada fertilitas telur ayam kampung. Fertilitas telur untuk masing-masing perlakuan dosis 1, 2, dan 3 adalah 44,13±20,84; 66,67±23,57; dan 58,75±14,36%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah dosis sperma tidak berpengaruh pada fertilitas telur ayam kampung.(Kata kunci: Ayam kampung, Dosis sperma, Inseminasi buatan)

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 4 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (4) NOVEMBER 2019 Vol 43, No 3 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (3) AUGUST 2019 Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019 Vol 43, No 1 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (1) FEBRUARY 2019 Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018 Vol 42, No 3 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (3) AUGUST 2018 Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018 Vol 42, No 1 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (1) FEBRUARY 2018 Vol 41, No 4 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (4) NOVEMBER 2017 Vol 41, No 3 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (3) AGUSTUS 2017 Vol 41, No 2 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (2) MEI 2017 Vol 41, No 1 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (1) FEBRUARI 2017 Vol 40, No 3 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (3) OKTOBER 2016 Vol 40, No 2 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (2) JUNI 2016 Vol 40, No 1 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (1) FEBRUARI 2016 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 1 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (1) FEBRUARI 2015 Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014 Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014 Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014 Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013 Vol 37, No 2 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (2) JUNI 2013 Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013 Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012 Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012 Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012 Vol 35, No 3 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (3) Oktober 2011 Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011 Vol 35, No 1 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (1) Februari 2011 Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010 Vol 34, No 2 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (2) Juni 2010 Vol 34, No 1 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (1) Februari 2010 Vol 33, No 3 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (3) Oktober 2009 Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009 Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009 Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008 Vol 32, No 2 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (2) Juni 2008 Vol 32, No 1 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (1) Februari 2008 Vol 31, No 4 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (4) November 2007 Vol 31, No 3 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (3) Agustus 2007 Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007 Vol 31, No 1 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (1) Februari 2007 Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006 Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006 Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006 Vol 30, No 1 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (1) Februari 2006 Vol 29, No 4 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (4) November 2005 Vol 29, No 3 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (3) Agustus 2005 Vol 29, No 2 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (2) Mei 2005 Vol 29, No 1 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (1) Februari 2005 Vol 28, No 4 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (4) November 2004 Vol 28, No 3 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (3) Agustus 2004 Vol 28, No 2 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (2) Mei 2004 Vol 28, No 1 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (1) Februari 2004 Vol 27, No 4 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (4) November 2003 Vol 27, No 3 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (3) Agustus 2003 Vol 27, No 2 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (2) Mei 2003 Vol 27, No 1 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (1) Februari 2003 Vol 26, No 4 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (4) November 2002 Vol 26, No 1 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (1) Februari 2002 Vol 25, No 4 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (4) November 2001 Vol 25, No 3 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (3) Agustus 2001 Vol 25, No 2 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (2) Mei 2001 Vol 25, No 1 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (1) Februari 2001 Vol 24, No 4 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (4) November 2000 Vol 24, No 3 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (3) Agustus 2000 Vol 24, No 2 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (2) Mei 2000 Vol 24, No 1 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (1) Februari 2000 Vol 23, No 4 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (4) November 1999 Vol 23, No 3 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (3) Agustus 1999 Vol 23, No 2 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (2) Mei 1999 Vol 23, No 1 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (1) Februari 1999 Vol 22, No 4 (1998): Buletin Peternakan Vol. 22 (4) November 1998 Vol 21, No 3 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (3) November 1997 Vol 21, No 1 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (1) April 1997 Vol 20, No 2 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (2) Desember 1996 Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996 Vol 19, No 2 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (2) Desember 1995 Vol 19, No 1 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (1) Juni 1995 1995: BULETIN PETERNAKAN SPECIAL EDITION 1995 Vol 18, No 4 (1994): Buletin Peternakan Vol. 18 (4) Desember 1994 Vol 17, No 1 (1993): Buletin Peternakan Vol. 17 (1) Juni 1993 Vol 16, No 1 (1992): Buletin Peternakan Vol. 16 (1) Desember 1992 Vol 15, No 2 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (2) Desember 1991 Vol 15, No 1 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (1) Juni 1991 Vol 14, No 2 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (2) Desember 1990 Vol 14, No 1 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (1) Juni 1990 Vol 13, No 1 (1989): Buletin Peternakan Vol. 13 (1) September 1989 Vol 11, No 2 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (2) September 1987 Vol 11, No 1 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (1) Maret 1987 More Issue