cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Buletin Peternakan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Bulletin of Animal Science is published every four months. The Annual subscription rate is Rp. 150.000,-/year. Bulletin receives original papers in animal science and technology which are not published at any other journals.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012" : 18 Documents clear
PROPORSI BANGSA, UMUR, BOBOT BADAN AWAL DAN SKOR KONDISI TUBUH SAPI BAKALAN PADA USAHA PENGGEMUKAN Pawere, Frandz Rumbiak; Baliarti, Endang; Nurtini, Sudi
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi bangsa, umur, skor kondisi tubuh sapi bakalan yang digemukkan pada usaha penggemukan. Penelitian dilaksanakan di CV. Restu Bumi, Kabupaten Bantul selama 1 tahun yakni dari bulan Mei 2011 sampai bulan Mei 2012. Materi yang digunakan adalah 500 ekor sapi meliputi bangsa sapi Limmousin Peranakan Ongole (LimPO), Peranakan Ongole (PO) dan Simmental Peranakan Ongole (SimPO). Parameter yang diamati adalah bangsa, umur, body condition score (BCS). Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi bangsa sapi yang digemukkan-SimPO (56%), LimPO (19%) dan PO (25%), umur sapi yang paling banyak digemukkan adalah poel 1 dan poel 2 masing-masing 36% dan 25%. Bobot badan awal sapi < 300 kg didominasi oleh bangsa sapi PO dan bobot badan awal > 300 kg didominasi oleh bangsa sapi silangan (SimPO dan LimPO). Nilai body condition score (BCS) awal penggemukan 2-3.(Kata kunci: Bangsa, LimPO, PO, SimPO, Penggemukan)
PERFORMA DOMBA YANG DIBERI COMPLETE FEED KULIT BUAH KAKAO TERFERMENTASI (Kamalidin), Kamalidin; Agus, Ali; Budisatria, I Gede Suparta
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1624

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa domba yang diberi complete feed kulit buah kakao (KBK) terfermentasi. Domba ekor tipis umur 1-1,5 tahun sebanyak 15 ekor digunakan dalam penelitian ini dengan pemberian pakan dan air minum secara ad libitum. Perlakuan yang dicobakan adalah K yang merupakan pakan kontrol terdiri dari hijauan (sumber serat) + konsentrat, NF merupakan complete feed dari kulit buah kakao (sumber serat) + konsentrat tanpa fermentasi dan F merupakan complete feed dari kulit buah kakao (sumber serat) + konsentrat yang melalui proses fermentasi (CFF) dengan perbandingan antara sumber serat dan konsentrat adalah 40% : 60%. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan, feed cost per gain dan income over feed cost. Hasil penelitian menunjukkan bahwa complete feed berpengaruh nyata terhadap konsumsi bahan kering (BK), bahan organik (BO), protein kasar (PK), serat kasar (SK), lemak kasar (LK) dan total digestible nutrients (TDN), sedangkan pertambahan bobot badan harian dan konversi pakan tidak berbeda nyata terhadap formulasi complete feed. Rerata konsumsi BK, BO, PK, SK, LK, dan TDN berturut-turut adalah 87,72; 78,21; 10,12; 12,21; 1,77, dan 59,52 g/kg BW0,75. Rerata pertambahan bobot badan harian adalah 128,67 g/hari atau 0,88 g/kg BW0,75, sedangkan rerata konversi pakan adalah 6,27. Disimpulkan bahwa pemberian ransum complete feed menghasilkan konsumsi nutrien yang tinggi tetapi tidak memberikan efek pertambahan bobot badan harian dan nilai konversi pakan yang lebih tinggi. Pemanfaatan fermentasi KBK menggunakan biofit menghasilkan PBBH 128,57 g/ekor/hari atau 0,88% g/kg BB0,75 efektif untuk digunakan dalam ransum penggemukan ternak domba.(Kata kunci: Domba, Complete feed, Kinerja)
PRE WEANING GROWTH OF BALI CALVES AT BALAI PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL SAPI BALI Tavares, Luis; Baliarti, Endang; Bintara, Sigit
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1629

Abstract

Balai Pembibitan Ternak Unggul is a breeding center established by the Government of Indonesia (GOI) to perform preservation, breeding, breeding stock production and development, and also the distribution of breeding stock of Excellent Bali cattle at national level. In the production of excellent breeding stock through the performance test and progeny test. Pre-weaning growth is one of the important indicators for the population growth. The study was aimed to identify the pre-weaning calf growth rate of Bali cattle in 2010-2011, born from performance-test-passing-dams that were collectively reared with progeny-test-passing sires. Materials used were 84 pre-weaning Bali calves. This was a survey method-based descriptive analysis research. The results showed that in terms of the performance of pre-weaning growth, the birth weights of male and female calves were 18.37±1.65 kg and 18.27±1.29 kg, respectively. The weaning weights of male and female calves were 93.53±21.00 kg and 87.66±12.04 kg, respectively, with weaning time of 205 days. The average of daily weight gain (ADG) were 0.37±0.10 kg/head/day (male) and 0,34±0,06 kg/head/day (female). It was concluded that the pre-weaning calf growth rate of Bali cattle at the BPTU Bali in 2010-2011 were moderately high since they were born from the dams and the sires passing the performance test and progeny test.(Keywords: Pre-weaning growth, Bali cattle)
PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRAT DALAM BENTUK PELET DAN MASH PADA PAKAN DASAR RUMPUT LAPANGAN TERHADAP PALATABILITAS DAN KINERJA PRODUKSI KELINCI JANTAN Nugroho, Sidiq Setyo; Sasmito Budhi, Subur Priyono; (Panjono), Panjono
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh penggunaan konsentrat dalam bentuk pelet dan mash pada pakan dasar rumput lapangan terhadap palatabilitas dan kinerja produksi kelinci jantan. Penelitian ini menggunakan 20 ekor kelinci Flemish Giant jantan umur lima bulan, dengan bobot awal 2,47±0,21 kg. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu uji palatabilitas dan uji kinerja produksi. Uji palatabilitas dilaksanakan selama 10 hari. Seluruh kelinci diberi konsentrat bentuk pellet dan mash secara bebas memilih. Uji kinerja produksi dilakukan selama 40 hari. Kelinci dibagi secara random ke dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash. Hasil uji palatabilitas menunjukkan bahwa konsumsi pelet lebih tinggi (P<0,05) daripada mash. Konsumsi pelet dan mash pada uji palatabilitas berturut-turut adalah 24,04±2,25 dan 13,69±2,37 g/ekor/hari. Hasil uji kinerja produksi menunjukkan bahwa konsumsi pakan kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berbeda tidak nyata, tetapi pertambahan bobot badan harian (PBBH) kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet lebih tinggi (P<0,05) daripada yang diberi konsentrat dalam bentuk mash, sehingga konversi pakan dan feed cost per gain kelinci yang diberi pakan pelet lebih rendah (P<0,05) daripada yang diberi pakan mash. Konsumsi pakan, PBBH, konversi pakan, dan feed cost per gain kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berturut-turut adalah 120,10±15,81 dan 121,68±17,74 gBK/kgBB/hari, 17,40±5,91 dan 10,22±3,09 g/hari, 7,31±1,61 dan 12,84±3,75, serta 43,65±9,63 dan 72,32±21,08 Rp/g. Bobot dan persentase karkas, bobot daging dan tulang, serta perbandingan daging dan tulang (MBR) kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berbeda tidak nyata. Bobot karkas, persentase karkas, bobot daging, bobot tulang, serta MBR kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berturut-turut adalah 1.569,40±136,99 dan 1.473,00±123,45 g, 49,28±1,40 dan 49,45±1,96%, 1.091,80±131,92 dan 1.011,75±78,61 g, 477,90±38,76 dan 461,25±56,86 g, serta 2,30±0,36 dan 2,21±0,22. Disimpulkan bahwa palatabilitas konsentrat dalam bentuk pelet lebih baik daripada bentuk mash. Konsentrat dalam bentuk pelet lebih efisien untuk pertumbuhan kelinci daripada konsentrat dalam bentuk mash.(Kata kunci: Kelinci, Pelet, Mash, Palatabilitas, Kinerja produksi)
PEMANFAATAN FESES BABI (Sus sp.) SEBAGAI SUMBER GAS BIO DENGAN PENAMBAHAN AMPAS SAGU (Metroxylon spp.) PADA TARAF RASIO C/N YANG BERBEDA Seseray, Daniel Yohanis; Triatmojo, Suharjono; Pratiwiningrum, Ambar
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1630

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produksi gas bio dari campuran substrat feses babi dan limbah ampas sagu dengan perlakuan waktu retensi dan taraf rasio C/N yang berbeda yang meliputi temperatur digester, volume gas bio, konsentrasi gas metan dan produksi gas metan, nilai pH, dan produksi VFA. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan bertempat di Desa Sidomulyo, Yogyakarta. Materi yang digunakan adalah 27 unit digester dengan substrat campuran feses babi, ampas sagu, air, dan cairan rumen sebagai inokulum. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis variansi pola split plot dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s new Multiple Range Test (DMRT) untuk mengetahui perbedaan antara nilai rata-rata. Data volume gas bio, konsentrasi dan produksi gas metan pada perlakuan C/N 20, 25, dan 30 berturut-turut volume gas bio 0,048; 0,049; 0,043 ml, dan konsentrasi metan 12,14; 11,08; 5,39%, serta produksi gas metan 0,0058; 0,0055; dan 0,0023 ml, ini menunjukkan bahwa produksi gas bio yang dihasilkan tidak optimal karena pH dan suhu digester juga tidak optimal yaitu rata-rata berkisar antara 5,8-7,0 dan 26,06-29,78oC. Produksi asam lemak volatil (asam asetat, propionat dan butirat) meningkat pada waktu retensi hari ke-20 dan menurun hari ke-30, pada taraf rasio C/N 20 produksi lebih tinggi di banding taraf rasio C/N 25 dan C/N 30. Disimpulkan bahwa penambahan ampas sagu pada feses babi sebagai substrat gas bio pada taraf rasio C/N 20 menghasilkan produksi gas bio yang paling baik.(Kata kunci: Produksi gas bio, Feses babi, Ampas sagu, rasio C/N)
PENGARUH SUBSTITUSI SILASE ISI RUMEN SAPI PADA PAKAN BASAL RUMPUT DAN KONSENTRAT TERHADAP KINERJA SAPI POTONG Yakin, Engkus Ainul; Ngadiyono, Nono; Utomo, Ristanto
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1626

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian silase isi rumen sapi sebagai pakan pengganti rumput terhadap kinerja sapi potong. Sapi persilangan Simmental-Peranakan Ongole (SimPO) jantan sebanyak 12 ekor, umur 1,5-2 tahun, digunakan dalam penelitian ini. Penelitian dilakukan selama 8 minggu (2 bulan) dengan pemberian pakan sebesar 3% dari bobot badan berdasarkan bahan kering dan air minum diberikan secara ad libitum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola searah dilanjutkan Duncan’s New Multiple Range Test (DMRT). Perlakuan yang diberikan yaitu mengganti sebagian rumput dengan silase isi rumen sapi, yaitu P0 = pemberian pakan 100% rumput , P1= pemberian pakan 25% silase isi rumen sapi dan 75% rumput, dan P2 = pemberian pakan 50% silase isi rumen sapi dan 50% rumput. Imbangan pakan antara rumput dan konsentrat adalah 20% : 80%. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan harian (PBBH), dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi bahan kering (BK) (13,23±0,63 kg/ekor/hari), konsumsi bahan organik (BO) (10,41±0,50 kg/ekor/hari), konsumsi total digestible nutrients (TDN) (7,38±0,37 kg/ekor/hari), PBBH (0,95±0,04 kg/ekor/hari), dan konversi pakan (7,38±0,37). Perlakuan berpengaruh (P<0,05) terhadap konsumsi protein kasar (PK) (P0 = 0,94±0,03, P1 = 1,00±0,06 dan P2 = 0,98±0,01), dan serat kasar (SK) (P0 = 3,26±0,10, P1 = 3,44±0,22 dan P2 = 3,27±0,04). Disimpulkan bahwa penggantian sebagian rumput dengan silase isi rumen sampai 50% tidak mempengaruhi kinerja sapi potong.(Kata kunci: Isi rumen sapi, Sapi potong, Silase)
PRODUKSI TANAMAN SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) VARIETAS LOKAL ROTE SEBAGAI HIJAUAN PAKAN RUMINANSIA PADA UMUR PANEN DAN DOSIS PUPUK UREA YANG BERBEDA Koten, Bernadete Barek; Soetrisno, R. Djoko; Ngadiyono, Nono; Suwignyo, Bambang
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1622

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan produksi tanaman sorgum varietas lokal Rote sebagai pakan ternak ruminansia pada umur panen dan dosis urea yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura Fakultas Peternakan UGM selama 4 bulan dari tanggal 11 November 2011 hingga 27 Februari 2012. Penelitian ini dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial dengan 2 faktor perlakuan yaitu umur panen (UP) sebagai faktor pertama (UP1= 50 hari, UP2 = 70 hari, dan UP3 = 90 hari) dan dosis pupuk urea (P0 = tanpa urea sebagai kontrol, P1 = 50 kg/ha, dan P2 = 100 kg/ha) sebagai faktor kedua. Kombinasi perlakuan ini diulang 4 kali. Variabel yang diamati adalah produksi bahan kering (BK), bahan organik (BO), dan protein kasar (PK) (g/polibag). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi BK tertinggi terdapat pada perlakuan UP3P2 (107,27 g/polibag) dan berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan UP3P1, UP3P0, UP2P2, UP2P1, UP2P0, UP1P2, UP1P1, dan UP1P0. Perlakuan UP3P2 dan UP3P1 menghasilkan produksi BO yang lebih tinggi yaitu 108,07 dan 84,70 g/polibag, dibandingkan dengan UP3P0, UP2P2, UP2P1, dan UP2P0. Produksi BO terendah terdapat pada kombinasi perlakuan UP1P0 (25,60 g/polibag) dan tidak berbeda nyata dengan UP1P2 (32,88 g/polibag) dan UP1P1 (28,70 g/polibag). Produksi PK tertinggi terdapat pada perlakuan UP2P2 (5,57 g/polibag) dan tidak berbeda nyata dengan UP3P2 (5,14 g/polibag) dan UP1P2 (5,03 g/polibag). Produksi PK berbeda dengan UP3P1, UP2P1 dan UP1P1. Produksi PK juga berbeda dengan UP1P0 dan UP2P0. Perlakuan UP3P0 merupakan kombinasi perlakuan yang menghasilkan produksi PK terendah yaitu 2,22 g/polibag. Disimpulkan bahwa tanaman sorgum yang dipanen pada umur 90 hari dengan dosis pupuk urea 100 kg/ha, menghasilkan hijauan terbaik sebagai pakan ruminansia.(Kata kunci: Sorgum, Umur panen, Dosis urea, Produksi bahan kering, Produksi protein kasar)
PENGARUH PENAMBAHAN ANGKAK DAN KOMBINASI FILLER TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG KETELA RAMBAT TERHADAP KUALITAS SOSIS SAPI Wahyuni, Dyah; (Setiyono), Setiyono; (Supadmo), Supadmo
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1627

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh angkak sebagai pewarna alami dengan kombinasi filler terhadap kualitas kimia, fisik, mikrostruktur dan sensoris sosis sapi. Angkak yang digunakan dalam bentuk bubuk dengan level 0; 0,1; 0,2 dan 0,3% (b/b). Filler yang digunakan adalah tepung terigu dan tepung ketela rambat dengan kombinasi 20:0, 15:5, 10:10, 5:15 dan 0:20%. Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati adalah kualitas kimia (kadar air, protein, dan lemak), fisik (pH, daya ikat air, dan keempukan), mikrostruktur, dan sensoris (warna, rasa, tekstur, aroma, dan daya terima). Data kualitas kimia dan fisik sosis dianalisis dengan analisis variansi pola faktorial (4 level angkak x 5 kombinasi filler) dilanjutkan dengan Duncan’s New Multiple Range Test (DMRT). Mikrostruktur sosis dianalisis secara deskriptif. Pengujian sensoris dilakukan oleh panelis. Kualitas sensoris dianalisis dengan uji Hedonik Kruskal Wallis, dilanjutkan uji Quantitative descriptive analysis (QDA) dalam model jaring laba-laba (spider web). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan angkak sebanyak 0,3% menunjukkan hasil yang terbaik berdasarkan kualitas sensoris (P≤0,05), namun tidak meningkatkan kualitas fisik, kimia, dan mikrostrukturnya. Kombinasi filler tepung terigu dan tepung ketela rambat sebanyak 10:10 tidak mengubah kualitas fisik, mikrostruktur, sensoris, dan kimia secara umum karena hanya kadar protein saja yang berubah secara signifikan (P≤0,05). Penambahan tepung ketela rambat secara signifikan menurunkan kadar protein sosis. Tidak terdapat interaksi antara penambahan angkak dengan kombinasi filler tepung terigu dan tepung ketela rambat.(Kata kunci: Sosis sapi, Angkak, Filler, Kimia, Fisik, Mikrostruktur, Sensoris)
KAPASITAS DAN STABILITAS PENGIKATAN BEBERAPA ADSORBEN AFLATOKSIN ALAMI DI DALAM RUMEN IN VITRO Sumantri, Ika; Murti, Tridjoko Wisnu; Boehm, Joseph; Agus, Ali
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Fakultas Peternakan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | http://journal.ugm.ac.id/index.php/buletinpeternakan/article/view/1623

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan untuk menguji kapasitas dan stabilitas beberapa adsorben alami dalam mengikat aflatoksin B1 (AFB1) dengan metode in vitro yang melibatkan kondisi di dalam rumen. Percobaan in vitro dilakukan dengan menggunakan 3 macam adsorben alam (bentonit, zeolit dan karbon aktif) dan satu adsorben produk komersial (CAA). Pengujian dilakukan pada 3 macam medium in vitro (aquades steril, cairan rumen dan cairan rumen steril) dan 2 rasio AFB1:adsorben (1:1000 dan 1:10.000 yang setara dengan 1000 mg AFB1-contaminated feed:1 mg adsorben dan 100 mg AFB1-contaminated feed:1 mg adsorben). Inkubasi dilakukan selama 2 jam dengan penggojokan 70 rpm pada suhu 38,5oC menggunakan shaking incubator. Medium kemudian disentrifugasi selama 15 menit pada 3500 g. Supernatan diambil untuk dianalisis kadar AFB1 yang tidak terikat oleh adsorben, sehingga persentase AFB1 terikat dapat dihitung sebagai peubah kapasitas pengikatan. Presipitat selanjutnya diresuspensi dan diinkubasi kembali. Supernatan yang diperoleh setelah sentrifugasi 3500 g selama 15 menit dianalisis kandungan AFB1-nya untuk mendapatkan persentase AFB1 yang terlepas dari ikatan dengan adsorben untuk mendapatkan data stabilitas pengikatan. Data dianalisis variansi dengan prosedur general linear model rancangan acak lengkap pola faktorial menggunakan SPSS versi 17.0. Hasil memperlihatkan bahwa bentonit memiliki kapasitas pengikatan AFB1 tertinggi (77,54%) dengan medium aquades. Stabilitas pengikatan tertinggi ditunjukkan oleh CAA (99,78%) yang tidak berbeda dengan stabilitas bentonit (99,38%). Pengikatan AFB1 secara nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh pH medium dengan kapasitas tertinggi diperoleh pada pH medium kurang dari 5,0. Berdasarkan peubah kapasitas dan stabilitas pengikatan serta pH optimum pengikatan dapat disimpulkan bahwa bentonit merupakan adsorben alami yang paling potensial untuk dipergunakan pada ternak ruminansia.(Kata kunci: Adsorben aflatoksin, Metode in vitro rumen)
PENGARUH PENGGUNAAN KONSENTRAT DALAM BENTUK PELET DAN MASH PADA PAKAN DASAR RUMPUT LAPANGAN TERHADAP PALATABILITAS DAN KINERJA PRODUKSI KELINCI JANTAN Nugroho, Sidiq Setyo; Sasmito Budhi, Subur Priyono; (Panjono), Panjono
Buletin Peternakan Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v36i3.1625

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk pengaruh penggunaan konsentrat dalam bentuk pelet dan mash pada pakan dasar rumput lapangan terhadap palatabilitas dan kinerja produksi kelinci jantan. Penelitian ini menggunakan 20 ekor kelinci Flemish Giant jantan umur lima bulan, dengan bobot awal 2,47±0,21 kg. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu uji palatabilitas dan uji kinerja produksi. Uji palatabilitas dilaksanakan selama 10 hari. Seluruh kelinci diberi konsentrat bentuk pellet dan mash secara bebas memilih. Uji kinerja produksi dilakukan selama 40 hari. Kelinci dibagi secara random ke dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash. Hasil uji palatabilitas menunjukkan bahwa konsumsi pelet lebih tinggi (P<0,05) daripada mash. Konsumsi pelet dan mash pada uji palatabilitas berturut-turut adalah 24,04±2,25 dan 13,69±2,37 g/ekor/hari. Hasil uji kinerja produksi menunjukkan bahwa konsumsi pakan kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berbeda tidak nyata, tetapi pertambahan bobot badan harian (PBBH) kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet lebih tinggi (P<0,05) daripada yang diberi konsentrat dalam bentuk mash, sehingga konversi pakan dan feed cost per gain kelinci yang diberi pakan pelet lebih rendah (P<0,05) daripada yang diberi pakan mash. Konsumsi pakan, PBBH, konversi pakan, dan feed cost per gain kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berturut-turut adalah 120,10±15,81 dan 121,68±17,74 gBK/kgBB/hari, 17,40±5,91 dan 10,22±3,09 g/hari, 7,31±1,61 dan 12,84±3,75, serta 43,65±9,63 dan 72,32±21,08 Rp/g. Bobot dan persentase karkas, bobot daging dan tulang, serta perbandingan daging dan tulang (MBR) kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berbeda tidak nyata. Bobot karkas, persentase karkas, bobot daging, bobot tulang, serta MBR kelinci yang diberi konsentrat dalam bentuk pelet dan mash berturut-turut adalah 1.569,40±136,99 dan 1.473,00±123,45 g, 49,28±1,40 dan 49,45±1,96%, 1.091,80±131,92 dan 1.011,75±78,61 g, 477,90±38,76 dan 461,25±56,86 g, serta 2,30±0,36 dan 2,21±0,22. Disimpulkan bahwa palatabilitas konsentrat dalam bentuk pelet lebih baik daripada bentuk mash. Konsentrat dalam bentuk pelet lebih efisien untuk pertumbuhan kelinci daripada konsentrat dalam bentuk mash.(Kata kunci: Kelinci, Pelet, Mash, Palatabilitas, Kinerja produksi)

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 43, No 3 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (3) AUGUST 2019 Vol 43, No 2 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (2) MAY 2019 Vol 43, No 1 (2019): BULETIN PETERNAKAN VOL. 43 (1) FEBRUARY 2019 Vol 42, No 4 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (4) NOVEMBER 2018 Vol 42, No 3 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (3) AUGUST 2018 Vol 42, No 2 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (2) MAY 2018 Vol 42, No 1 (2018): BULETIN PETERNAKAN VOL. 42 (1) FEBRUARY 2018 Vol 41, No 4 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (4) NOVEMBER 2017 Vol 41, No 3 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (3) AGUSTUS 2017 Vol 41, No 2 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (2) MEI 2017 Vol 41, No 1 (2017): BULETIN PETERNAKAN VOL. 41 (1) FEBRUARI 2017 Vol 40, No 3 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (3) OKTOBER 2016 Vol 40, No 2 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (2) JUNI 2016 Vol 40, No 1 (2016): BULETIN PETERNAKAN VOL. 40 (1) FEBRUARI 2016 Vol 39, No 3 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (3) OKTOBER 2015 Vol 39, No 2 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (2) JUNI 2015 Vol 39, No 1 (2015): BULETIN PETERNAKAN VOL. 39 (1) FEBRUARI 2015 Vol 38, No 3 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (3) OKTOBER 2014 Vol 38, No 2 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (2) JUNI 2014 Vol 38, No 1 (2014): BULETIN PETERNAKAN VOL. 38 (1) FEBRUARI 2014 Vol 37, No 3 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (3) OKTOBER 2013 Vol 37, No 2 (2013): BULETIN PETERNAKAN VOL. 37 (2) JUNI 2013 Vol 37, No 1 (2013): Buletin Peternakan Vol. 37 (1) Februari 2013 Vol 36, No 3 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (3) Oktober 2012 Vol 36, No 2 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (2) Juni 2012 Vol 36, No 1 (2012): Buletin Peternakan Vol. 36 (1) Februari 2012 Vol 35, No 3 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (3) Oktober 2011 Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011 Vol 35, No 1 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (1) Februari 2011 Vol 34, No 3 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (3) Oktober 2010 Vol 34, No 2 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (2) Juni 2010 Vol 34, No 1 (2010): Buletin Peternakan Vol. 34 (1) Februari 2010 Vol 33, No 3 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (3) Oktober 2009 Vol 33, No 2 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (2) Juni 2009 Vol 33, No 1 (2009): Buletin Peternakan Vol. 33 (1) Februari 2009 Vol 32, No 3 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (3) Oktober 2008 Vol 32, No 2 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (2) Juni 2008 Vol 32, No 1 (2008): Buletin Peternakan Vol. 32 (1) Februari 2008 Vol 31, No 4 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (4) November 2007 Vol 31, No 3 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (3) Agustus 2007 Vol 31, No 2 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (2) Mei 2007 Vol 31, No 1 (2007): Buletin Peternakan Vol. 31 (1) Februari 2007 Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006 Vol 30, No 3 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (3) Agustus 2006 Vol 30, No 2 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (2) Mei 2006 Vol 30, No 1 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (1) Februari 2006 Vol 29, No 4 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (4) November 2005 Vol 29, No 3 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (3) Agustus 2005 Vol 29, No 2 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (2) Mei 2005 Vol 29, No 1 (2005): Buletin Peternakan Vol. 29 (1) Februari 2005 Vol 28, No 4 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (4) November 2004 Vol 28, No 3 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (3) Agustus 2004 Vol 28, No 2 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (2) Mei 2004 Vol 28, No 1 (2004): Buletin Peternakan Vol. 28 (1) Februari 2004 Vol 27, No 4 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (4) November 2003 Vol 27, No 3 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (3) Agustus 2003 Vol 27, No 2 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (2) Mei 2003 Vol 27, No 1 (2003): Buletin Peternakan Vol. 27 (1) Februari 2003 Vol 26, No 4 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (4) November 2002 Vol 26, No 1 (2002): Buletin Peternakan Vol. 26 (1) Februari 2002 Vol 25, No 4 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (4) November 2001 Vol 25, No 3 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (3) Agustus 2001 Vol 25, No 2 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (2) Mei 2001 Vol 25, No 1 (2001): Buletin Peternakan Vol. 25 (1) Februari 2001 Vol 24, No 4 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (4) November 2000 Vol 24, No 3 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (3) Agustus 2000 Vol 24, No 2 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (2) Mei 2000 Vol 24, No 1 (2000): Buletin Peternakan Vol. 24 (1) Februari 2000 Vol 23, No 4 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (4) November 1999 Vol 23, No 3 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (3) Agustus 1999 Vol 23, No 2 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (2) Mei 1999 Vol 23, No 1 (1999): Buletin Peternakan Vol. 23 (1) Februari 1999 Vol 22, No 4 (1998): Buletin Peternakan Vol. 22 (4) November 1998 Vol 21, No 3 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (3) November 1997 Vol 21, No 1 (1997): Buletin Peternakan Vol. 21 (1) April 1997 Vol 20, No 2 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (2) Desember 1996 Vol 20, No 1 (1996): Buletin Peternakan Vol. 20 (1) Juni 1996 Vol 19, No 2 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (2) Desember 1995 Vol 19, No 1 (1995): Buletin Peternakan Vol. 19 (1) Juni 1995 1995: BULETIN PETERNAKAN SPECIAL EDITION 1995 Vol 18, No 4 (1994): Buletin Peternakan Vol. 18 (4) Desember 1994 Vol 17, No 1 (1993): Buletin Peternakan Vol. 17 (1) Juni 1993 Vol 16, No 1 (1992): Buletin Peternakan Vol. 16 (1) Desember 1992 Vol 15, No 2 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (2) Desember 1991 Vol 15, No 1 (1991): Buletin Peternakan Vol. 15 (1) Juni 1991 Vol 14, No 2 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (2) Desember 1990 Vol 14, No 1 (1990): Buletin Peternakan Vol. 14 (1) Juni 1990 Vol 13, No 1 (1989): Buletin Peternakan Vol. 13 (1) September 1989 Vol 11, No 2 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (2) September 1987 Vol 11, No 1 (1987): Buletin Peternakan Vol. 11 (1) Maret 1987 More Issue