cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 333 Documents
Pertumbuhan, Hasil dan Mutu Minyak Atsiri 16 Aksesi Nilam (Pogostemon cablin Benth.) Dipanen pada Umur yang Berbeda Suryani, Sri Muhartini, Endang Hadipoentyanti, Nurul
Vegetalika Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman nilam adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang potensial dikembangkan di Indonesia. Minyak nilam atau biasa disebut patchouli oil memiliki banyak manfaat seperti sebagai bahan baku industri parfum, farmasi, kosmetik, dan kimia lainnya. Indonesia termasuk salah satu pemasok minyak nilam terbesar di dunia, dengan potensi tersebut, perlu dilakukan peningkatan dan pengembangan, salah satunya dilakukan kerja sama dan percepatan masa panen guna meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, hasil, dan mutu minyak atsiri 16 aksesi nilam, serta mengetahui aksesi nilam yang memiliki hasil dan mutu terbaik pada umur panen yang berbeda.Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Cimanggu, Balittro, Bogor, pada bulan April sampai September 2010. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan perlakuan 15 aksesi nilam dan satu varietas Sidikalang sebagai pembanding dan perlakuan umur panen (3, 4 dan 5 bst), dalam 2 blok sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil terna tertinggi terdapat pada aksesi CLP dan PWK 1 yang dipanen pada umur 4 bst, serta aksesi BRS dan CLP menghasilkan kadar minyak dan patchouli alkohol tertinggi, serta memenuhi kriteria persyaratan mutu menurut SNI.
Pertumbuhan, Hasil dan Kualitas Pucuk Teh (Camellia sinensis (L.) Kuntze) di Berbagai Tinggi Tempat Ayu, Didik Indradewa, Erlina Ambarwati, Lintang
Vegetalika Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketinggian tempat merupakan faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh. Terdapat hubungan erat antara tinggi tempat dengan suhu udara. Suhu udara menurun seiring dengan bertambahnya tinggi tempat. Sebuah percobaan lapangan telah dijalankan dengan tujuan untuk menentukan pengaruh tinggi tempat terhadap pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh serta menentukan tinggi tempat yang optimal bagi budidaya teh. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Oktober - Desember 2010 di Kebun Teh PT. Pagilaran, Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang. Penelitian dijalankan menggunakan teh tipe Assamica asal biji dengan umur pangkas 3 tahun. Percobaan lapangan disusun dalam rancangan multilokasi dengan tiga blok sebagai ulangan. Perlakuan yang diuji adalah 5 ketinggian tempat, yaitu 735, 896, 980, 1.023 dan 1.254 m dari permukaan laut (dpl). Pengamatan dilakukan terhadap variabel pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis varian (ANOVA) pada taraf 5% dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (LSD). Ketinggian tempat yang optimal bagi pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh ditentukan menggunakan analisis regresi. Penelitian memberikan informasi bahwa pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh yang dipetik pada ketinggian 980 m dpl nilainya lebih tinggi daripada pucuk yang berasal dari ketinggian 735, 896, 1.023 dan 1.254 m dpl. Oleh karena itu, ketinggian tempat yang optimal bagi pertumbuhan, hasil dan kualitas pucuk teh berada pada 980 m dpl. Ketinggian tersebut termasuk ke dalam zona medium yaitu 800 – 1.200 m dpl.
Keragaan Sorgum Manis (Sorghum bicolor L.Moench ) pada Kondisi Tercekam Kekeringan Rahma Yunita, Taryono, Nasrullah, Tika
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini dunia mulai mengalami kelangkaan sumber energi dari bahan bakar fosil, karena peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang tidak diimbangi dengan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). Oleh karena itu diperlukan bahan bakar alternatif yang salah satunya adalah bioethanol, yang berbahan baku tanaman mengandung pati dan gula, seperti sorgum manis. Salah satu keunggulan sorgum manis adalah dapat ditanam di daerah kering, tetapi ketahanan masing-masing kultivar berbeda terhadap cekaman kekeringan, tergantung fase pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji keragaan sorgum manis pada kondisi tercekam kekeringan. Cekaman kekeringan diberikan kepada 12 kultivar sorgum manis, berdasarkan fase pertumbuhannya yaitu tanpa cekaman kekeringan, cekaman kekeringan saat berdaun bendera, dan cekaman kekeringan saat berdaun delapan. Tidak terdapat pengaruh nyata cekaman kekeringan terhadap 12 kultivar sorgum manis pada sifat jumlah daun, panjang dan jumlah akar, panjang dan jumlah malai, berat 100 biji dan hasil biji, umur berbunga, umur panen, dan padatan terlarut, tetapi terdapat pengaruh nyata pada sifat tinggi tanaman, diameter batang, jumlah batang, berat berangkasan segar, dan berat berangkasan kering. Kultvar Sorgama 3 dan Sorgama 5 menunjukkan pengurangan tinggi tanaman. Kultivar Sorgama 4 menunjukkan diameter yang menurun, sedangkan UGM SS1 dan Sorgama 5 mengurangi jumlah batang. Kultivar UGM SS1, Kotabun, Sorgama 3, dan Sorgama 5 pada kondisi cekaman kekeringan lama mengurangi berat berangkasan segar. Sama seperti berat berangkasan segar, pada berat berangkasan kering kultivar Sorgama 3, dan Sorgama 5 menunjukkan pengurangan beratnya saat tercekam berdaun delapan. Kultivar Sorgama 5 dapat digunakan sebagai tanaman penghasil bioethanol, karena memiliki nilai padatan terlarut tinggi, dan tahan cekaman kekeringan.
Pengaruh Waktu Pangkas Pucuk dan Frekuensi Pemberian Paklobutrazol terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tanaman Kembang Kertas (Zinnia elegans Jacq.) Winardiantika, Dody Kastono, Sri Trisnowati, Venti
Vegetalika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu pangkas pucuk dan frekuensi pemberian paklobutrazol atau interaksinya terhadap pertumbuhan dan pembungaan kembang kertas dan menentukan waktu pangkas pucuk dan frekuensi pemberian paklobutrazol atau interaksinya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan kembang kertas dalam pot. Penelitian dilaksanakan di desa Kaponan, kecamatan Pakis, kabupaten Magelang, Jawa Tengah dari bulan Juni sampai dengan Oktober 2011. Percobaan menggunakan Rancangan Faktorial (3 x 3) + 1 yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah waktu pemangkasan pucuk terdiri dari 3 aras yaitu 5, 6, dan 7 minggu setelah semai dan faktor kedua adalah frekuensi pemberian paklobutrazol yang terdiri dari 3 aras yaitu 1, 2, dan 3 kali. Tanaman tanpa perlakuan sebagai kontrol. Analisis varian dilakukan terhadap hasil pengamatan yang diperoleh dan dilanjutkan dengan Uji Berganda Duncan (DMRT) apabila terdapat beda nyata antar perlakuan. Perbedaan pengaruh antara kontrol dan kombinasi perlakuan dianalisis dengan Uji Kontras Ortogonal pada tingkat kepercayaan 95 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pangkas pucuk maupun frekuensi pemberian paklobutrazol menyebabkan pemendekan tanaman, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan jumlah cabang total, jumlah cabang produktif, dan jumlah bunga. Perlakuan pangkas pucuk menunda umur berbunga tanaman. Semakin cepat waktu pangkas pucuk dilakukan semakin pendek tanaman, nilai kekompakan tanaman semakin tinggi, warna bunga cerah, dan bunga mekar serempak. Aplikasi paklobutrazol 1 kali menghasilkan tanaman yang paling pendek tetapi Aplikasi 3 kali menghasilkan kekompakan tanaman tinggi, warna bunga cerah, dan bunga mekar serempak.
Kesesuaian Sambungan Mini Tiga Kultivar Durian (Durio zibethinus L. ex Murray) dengan Batang Bawah Berbagai Umur Paramita, Toekidjo, Setyastuti Purwanti, Pradnya
Vegetalika Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh umur batang bawah terhadap keberhasilan penyambungan durian (Durio zibenthinus M), dan mengetahui kompatibilitas batang atas dan batang bawah beberapa varietas durian dalam penyambungan durian. Penelitian ini dilaksanakan di Penelitian ini dilaksanakan di kebun di desa Kaligesing, Kecamatan Kutoarjo Kabupaten Purworejo pada bulan Oktober – Desember 2011. Rancangan yang digunakan adalah percobaan faktorial 2 faktor (3x3) yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah varietas batang atas yang terdiri atas 3 macam yaitu: Batang atas Petruk, Batang atas Sunan dan Batang atas Sitokong. Faktor kedua adalah umur batang bawah yang terdiri atas 3 aras yaitu : Umur batang bawah 4 minggu, 6 minggu dan 8 mingu. Parameter yang diamati meliputi persentase keberhasilan penyambungan, pertambahan tinggi tanaman, diameter batang bawah, diameter batang atas, serta jumlah daun. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan umur 6 minggu memberikan hasil persentase keberhasilan penyambungan yang lebih tinggi dibanding perlakuan lainnya pada masing-masing varietas batang atas. Sedangkan pada parameter tinggi tanaman terlihat interaksi perlakuan juga mempengaruhi. Kombinasi perlakuan batang atas varietas Sunan dengan umur batang bawah 6 minggu dan 8 minggu memberikan hasil yang terbaik diantara semua perlakuan. Tidak ada pengaruh interaksi maupun antar perlakuan yang nyata pada hasil pengamatan terhadap pertumbuhan diameter batang bawah, diameter batang atas dan jumlah daun.
Pertumbuhan dan Hasil Dua Kultivar Selada (Lactuca sativa L.) dalam Akuaponika pada Kolam Gurami dan Kolam Nila Fariudin, Endang Sulistyaningsih, Sriyanto Waluyo, Rofiq
Vegetalika Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil dua kultivar selada (Lactuca sativa, L.) dalam akuaponika pada kolam gurami dan kolam nila. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni tahun 2012 di kolam perikanan Fakultas Pertanian UGM. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Tersarang (Nested Design) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah kolam yaitu kolam gurami dan kolam nila. Faktor kedua adalah selada yaitu selada merah dan selada hijau. Faktor selada tersarang pada kolam. Variabel pengamatan tanaman meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, kehijauan daun, kandungan klorofil daun, bobot segar tajuk, bobot segar akar, bobot kering tajuk, dan bobot kering akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman selada hijau lebih tinggi daripada selada merah. Diameter batang tanaman selada yang ditanam di kolam nila lebih besar daripada kolam gurami. Kehijaun daun selada merah lebih tinggi daripada selada hijau. Laju pertumbuhan tanaman selada yang ditanam di kolam nila lebih cepat daripada kolam gurami. Laju pertumbuhan tanaman selada merah lebih cepat daripada selada hijau. Jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, nisbah luas daun, bobot segar akar, bobot segar tajuk, laju pertumbuhan nisbi, laju asimilasi bersih, bobot kering akar, bobot kering tajuk, kadar air, dan bobot hasil per tanaman selada sama pada tiap perlakuan. Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa tanaman selada merah dan selada hijau dapat ditanam di kolam gurami maupun kolam nila dengan hasil yang masih belum optimal.Kata kunci : selada, kolam ikan, akuaponika.
Pengaruh Warna Cahaya Tambahan Terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan Tiga Varietas Tanaman Krisan (Chrysanthemum morifolium) Potong Ermawati, Didik Indradewa, Sri Trisnowati, Dewi
Vegetalika Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisan merupakan tanaman hari pendek yang perkembangan dan inisiasi bunganya dipengaruhi oleh lama penyinaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna cahaya tambahan terhadap pembungaan tiga varietas krisan dan mendapatkan warna cahaya yang paling sesuai bagi pertumbuhan dan pembungaan krisan. Penelitian terdiri dari dua faktor yang disusun dalam rancangan petak terbagi, warna cahaya tambahan merupakan petak utama dan varietas sebagai anak petak. Cahaya tambahan yang digunakan meliputi cahaya warna putih, merah, biru dan tanpa cahaya, sedangkan varietas yang digunakan yakni varietas Fiji kuning, Fiji putih dan Remix Red.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang mendapatkan cahaya tambahan memiliki pertumbuhan yang lebih baik dan umur yang lebih panjang, tanaman krisan dengan cahaya tambahan warna putih dan merah memilki umur paling panjang, begitu pula dengan induksi pembungaannya, tanaman yang mendapatkan cahaya tambahan berwarna putih dan merah memiliki induksi pembungaan yang lebih lama. Varietas Fiji kuning yang mendapat cahaya tambahan warna biru memiliki diameter bunga yang paling besar dan diameter bunga varietas Fiji putih paling besar pada cahaya berwarna merah. Diameter bunga krisan varietas Remix Red tidak terpengaruh oleh penambahan cahaya dengan berbagai warna.
Pengaruh Pemotongan Akar dan Lama Aerasi Media Terhadap Pertumbuhan Selada (Lactuca sativa L.) Nutrient Film Technique Nur Shinta Febriani, Didik Indradewa, dan Sriyanto Waluyo, Dwi
Vegetalika Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permintaan selada dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, sedangkan produktivitas lahan terus mengalami penurunan. Maka sistem hidroponik dirasa menjadi salah satu jalan keluar untuk kendala ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama aerasi terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) hidroponik sistem NFT baik dengan pemotongan akar maupun tidak, serta lama aerasi yang optimal untuk tanaman selada pada masing-masing perlakuan akar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2010 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Petak Belah (Split Plot Design) dengan 2 faktor, lama pemberian aerasi sebagai faktor petak utama terdiri dari tanpa pemberian aerasi serta pemberian aerasi selama 6, 12 dan 24 jam/hari. Pemotongan akar sebagai faktor anak petak, terdiri dari tanpa pemotongan akar dan dengan pemotongan 50% dari panjang akar pada saat pindah tanam. Parameter yang diamati antara lain luas dan panjang akar total, jumlah dan luas daun, kadar klorofil total, tinggi tanaman, berat segar akar dan tajuk, berat kering akar dan tajuk, dan berat hasil per tanaman. Data dianalisis varian dengan tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemotongan akar mampu memperluas perakaran tanaman dan meningkatkan berat segar akar. Pada tanaman selada yang dipotong akarnya, pemberian aerasi secara terus menerus dapat menyamakan berat hasil per tanaman dengan tanpa pemberian aerasi. Pada perlakuan tanpa pemotongan akar pemberian aerasi justru menurunkan hasil per tanaman, sehingga pemberian aerasi tambahan tidak dibutuhkan pada hidroponik sistem NFT.
Gulma di Pertanaman Padi (Oryza sativa L.) Konvensional, Transisi, dan Organik Fitri Novita Lestari, Didik Indradewa, Rohlan Rogomulyo, Dia
Vegetalika Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem pertanian konvensional, transisi, dan organik terhadap perubahan komposisi dan dominansi gulma, mengetahui jenis gulma yang dapat dijadikan sebagai indikator dan membandingkan pertumbuhan gulma di lahan konvensional, transisi dan organik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 hingga Mei 2012 di Gabungan Kelompok Tani Permatasari, Desa Tirtosari, Sawangan, Magelang. Penelitian ini merupakan percobaan lapangan dan merupakan pecobaan perbandingan antar lokasi berrdasarkan cara budidaya yang berbeda yaitu budidaya padi secara konvensional, transisi 1, transisi 2, transisi 3, dan organik yang ditanami dengan tanaman padi (Oryza sativa L.) Menthik Wangi Susu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan pada setiap lokasi. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis varian dan apabila terdapat beda nyata dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat tanaman memasuki fase vegetatif awal hingga fase menguning jumlah spesies gulma, jumlah individu gulma, dan skor kerapatan gulma di lahan organik lebih banyak dan rapat dibandingkan dengan lahan konvensional, transisi 1, transisi 2, dan transisi 3. Gulma indikator di lahan konvensional yaitu jenis gulma daun lebar Ludwigia adsecendens (L.) Hara, Eriocaulon cinereum R. Br., dan Pistia stratiotes L., di lahan transisi 1, transisi 2, dan transisi 3 gulma indikatornya yaitu jenis gulma tekian spesies Eriocaulon cinereum R. Br., dan di lahan organik jenis gulma daun lebar spesies Althernanthera philoxeroides (Mart.), Ludwigia peruviana (L.), Rotala leptopetala Koehne, dan Limnocaris flava (L.) Buchenau. Pertumbuhan gulma seperti Nisbah Luas daun, luas daun, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan gulma, dan berat kering gulma di lahan organik juga lebih tinggi dibandingkan dengan lahan konvensional dan transisi.
Identifikasi Karakteristik dan Fungsi Tanaman Hias untuk Taman Rumah di Dataran Medium dan Dataran Rendah Anggara Febriarta, Endang Sulistyaningsih, Siti Nurul Rofiqo Irwan, Her
Vegetalika Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Vegetalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik fisik dan hortikultura tanaman hias, mengetahui fungsi tanaman hias pada taman pekarangan di dataran medium dan dataran rendah, dan mengetahui persepsi dan preferensi pemilik rumah terhadap karakteristik tanaman hias. Lokasi penelitian ini adalah Perumahan Dataran Medium Perwita Wisata dan Perumahan Dataran Rendah Perwita Asri.Pada kedua lokasi tersebut diinventarisasi dan diidetifikasi karakteristik fisik dan hortikulturanya. Seluruh elemen lunak dan keras dipetakan dalam sketsa taman rumah. Persepsi dan preferensi penghuni rumah diketahui melalui kuesioner. Hasil diinventarisasi dan diidetifikasi digunakan untuk mengetahui karakteristik fisik dan karakteristik hortikultura. Hasil sketsa taman rumah digunakan untuk mengetahui fungsi taman rumah. Sedangkan hasil kuesioner digunakan untuk mengetahui persepsi dan preferensi penghuni rumah terhadap taman rumah yang ada.Di taman rumah di Perumahan Dataran Medium terdapat 8 jenis tanaman hias pohon, 4 jenis tanaman hias perdu, 11 jenis tanaman hias semak, 2 jenis tanaman hias penutup tanah dan 1 rumputan. Di taman rumah di Perumahan Dataran Rendah terdapat 3 jenis tanaman hias pohon, 2 jenis tanaman hias perdu, 18 jenis tanaman hias semak, 2 jenis tanaman hias penutup tanah, dan 1 rumputan. Karakteristik fisik tanaman hias yang mendominasi di Perumahan Dataran Médium dan Perumahan Dataran Rendah adalah tanaman mangga (Mangifera indica L). Karakteristik hortikultura yang mendominasi di Perumahan Dataran Medium dan Perumahan Dataran Rendah adalah kebutuhan penyinaran intensif, penyiraman non-intensif, dan kelembaban rendah. Fungsi tanaman hias yang mendominasi di Perumahan Dataran Medium adalah pengontrol iklim mikro. Sedangkan fungsi tanaman hias yang mendominasi di Perumahan Dataran Rendah adalah nilai keindahan. Preferensi/ rekomendasi penghuni rumah di Perumahan Dataran Medium terhadap taman rumah adalah sudah sesuai karena taman rumah yang ada sudah memenuhi unsur-unsur dan prinsip desain lanskap, serta fungsi yang sesuai dengan wilayah perumahan dataran medium. Sedangkan penghuni rumah di Perumahan Dataran Rendah adalah kurang sesuai karena taman rumah yang ada kurang memenuhi unsur-unsur dan prinsip desain lanskap, serta fungsi yang sesuai dengan wilayah perumahan dataran rendah.

Page 1 of 34 | Total Record : 333