cover
Contact Name
Prof. Dr. Dietriech Geoffrey Bengen, D.E.A
Contact Email
-
Phone
622518627323
Journal Mail Official
jurnalitkt@apps.ipb.ac.id
Editorial Address
Departement of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, Bogor Agricultural University (IPB)
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
ISSN : 20879423     EISSN : 20856695     DOI : -
Core Subject : Science,
Journal of Tropical Marine Science and Technology (Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis)  is a scientific journal in the field of tropical marine science and technology. We have a aims and scope to focus in publishing a good quality scientific articles for dissemination of research results in the field of marine science and technology. 
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 630 Documents
KARAKTERISTIK PENYAKIT WHITE BAND DISEASE DAN WHITE SYNDROME SECARA VISUAL DAN HISTOLOGI PADA KARANG Acropora sp. DARI PULAU GILI LABAK SUMENEP MADURA Huda, Fajar Miftachul; Effendy, Makhfud; Insafitri, .; Nugraha, Wahyu Andy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2106.077 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.18382

Abstract

ABSTRAKPenyakit white band disease dan white syndrome yang menyerang karang Acropora sp. di Pulau Gili Labak merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan, sebab terjadinya kematian terumbu karang yang disebabkan oleh penyakit karang bukan hanya akan berpengaruh pada fungsi ekologis terumbu karang namun juga akan mempengaruhi fungsi ekonomis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi penyakit karang dengan metode histologi dengan studi kasus di Pulau Gili Labak, Poteran, Sumenep-Madura. Pengambilan sampel penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2017 di perairan Pulau Gili Labak Kabupaten Sumenep. Penelitian deteksi penyakit pada jaringan karang dengan metode histologi dilakukan pada Laboratorium Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Analisa data dilakukan dengan metode analisa deskriptif. Ditemukan jaringan karang Acropora sp. yang terserang penyakit white band disease dan white syndrome yang terjadi banyak perbedaan antara jaringan karang yang sehat dengan yang sakit. Umumnya pada jaringan karang yang sehat terlihat susunan sel pada jaringan karang terlihat masih baik dan utuh, sedangkan pada jaringan karang yang sakit menunjukan bahwa jaringan mengalami degradasi disebabkan oleh jaringan yang lisis dan nekrosis, jaringan sakit terlihat hilang dan mulai hancur. Penyakit white band disease dicirikan dengan adanya jaringan yang mengelupas dari skeleton karang, sedangkan penyakit white syndrome hilangnya jaringan dimulai pada epidermis terlebih dahulu lalu merambat kedalam skeletonnya. ABSTRACTWhite band disease and white syndrome attacking Acropora sp. on the island of Gili Labak is one of the issues that need to be considered, because the loss of coral caused by disease will not only affect the ecological function of coral reefs but will also affect the economic function. The sampling of this research was conducted in April 2017 in the waters of Gili Labak Island of Sumenep Regency. Research on detection of coral tissue disease by histology method was done at Histology Laboratory Faculty of Medicine Universitas Brawijaya Malang. Data analysis was done by descriptive analysis method. Acropora sp. who are affected by white band disease and white syndrome showed the difference between healthy and affected coral tissues. Generally, on healthy coral tissue, the structure of the cells in coral tissue looks good and intact, whereas in diseased coral tissue show tissue degradation caused by lysis tissue and necrosis, tissue is lost and starts to disintegrate. The white band disease is characterized by the presence of peeling tissue from coral skeleton. While white syndrome disease loss of tissue begins in the epidermis first then propagate into their skeleton.
STRUKTUR DAN ASOSIASI JENIS LAMUN DI PERAIRAN PULAU-PULAU HIRI, TERNATE, MAITARA DAN TIDORE, MALUKU UTARA Ramili, Yunita; Bengen, Dietriech G.; Madduppa, Hawis; Kawaroe, Mujizat
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.116 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.22476

Abstract

ABSTRAKKeberadaan ekosistem lamun di perairan pesisir pulau-pulau kecil berperan penting sebagai habitat dan penyedia sumber daya ikan, serta pelindung garis pantai dan daratan pulau-pulau kecil tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran, komposisi, kerapatan, penutupan dan asosiasi jenis lamun di perairan pulau-pulau kecil Hiri, Ternate, Maitara dan Tidore, Maluku Utara. Pengambilan data dengan menggunakan metode transek garis dan transek kuadrat. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan bantuan perangkat lunak MS Excel dan XLstat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Tidore memiliki jumlah jenis lamun terbanyak yakni delapan jenis lamun dari sembilan jenis lamun yang ditemukan di seluruh lokasi penelitian. Tiga jenis lamun yaitu, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Cymodocea rotundata, menyebar luas dan terdapat di keempat pulau tersebut. Komposisi, kerapatan dan penutupan jenis lamun bervariasi antar stasiun penelitian. Vegetasi lamun yang ditemukan di lokasi penelitian berupa vegetasi campuran yang terdiri dari tiga sampai delapan jenis lamun. E. acoroides banyak ditemukan di Stasiun Mtr1 dan Tte2 tidak berasosiasi dengan spesies lainnya, demikian juga dengan C. serrulata yang ditemukan di Stasiun Mtr2 dan T. hemprichii di Stasiun Tdr2 dan Tdr3. Asosiasi C. rotundata dan Syiringodium isoetifolium terlihat di stasiun Tdr1 dan Hr1, sementara Halophila ovalis dan H. spinulosa  tidak menunjukkan asosiasi dengan jenis lamun lainnya di lokasi penelitian. Secara keseluruhan kondisi lingkungan perairan di keempat pulau tersebut masih tergolong baik dan mampu mendukung ekosistem lamun. ABSTRACTThe existence of seagrass ecosystems in the coastal region of small islands has been playing an essential role as a habitat and the supplier of fish resources, as well as a shore and coastline protector of small islands. This study aimed to  determine the distribution, composition, density, coverage, and associations of seagrass plant in the islands of Hiri, Ternate, Maitara, and Tidore. Data were collected by using line transect method and quadrate transect. Furthermore, data were analyzed by using MS Excel and XLstat software. The results showed that Tidore Island has the highest number of seagrass species namely eight from nine species of seagrasses found in all research sites. Three species of seagrasses, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Cymodocea rotundata, were widespread in all four islands. The composition, density and coverage of seagrass species varied among research stations. Vegetation of seagrasses found in the study site in the form of mixed vegetation consisting of three to eight species. Enhalus acoroides found mostly in Mtr1 and Tte2 stations were not associated with other seagrass species, nor Cymodocea serrulata that found in Mtr2 Station and T. hemprichii at Tdr2 and Tdr3 stations. The associations of C. rotundata and Syringodium isoetifolium were observed at Tdr1 and Hr1 Stations. While Halophila ovalis and Halophila spinulosa showed no association with other seagrass species at the study area. Overall the condition of the marine environment on the four islands is still relatively good and able to support the life of the seagrass ecosystem.
ZONA POTENSIAL PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN MUSIM DI WPPNRI 718 Tambun, Robert; Simbolon, Domu; Wahju, Ronny; Supartono, .
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1907.472 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.21182

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dipresentasikan sebagai langkah awal (pilot project) dalam pengelolaan daerah penangkapan ikan berbasis spasial untuk Zona Potensial Penangkapan Ikan (ZPPI) di laut Aru, Laut Arafuru dan laut Timor bagian timur (WPPNRI 718). Lokasi pada  128°-141° BT (Bujur Timur) dan 4° -11° LS (Lintang Selatan). Tujuan dari penelitian ini adalah membuat peta tematik ZPPI yang lebih komperehensif dan mengidentifikasi ZPPI berdasarkan musim pada wilayah perairan yang lebih spesifik. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai dengan November 2016. Lokasi pengolahan data dilakukan di Laboratorium Komputer Departemen PSP FPIK-IPB. Data primer yang digunakan yakni informasi daerah penangkapan ikan yang berasal dari PPDPI (KKP) pada periode tahun 2013-2016, data sekunder dari Peta Laut digitizer Hidros no. 151 Papua dan Pulau-Pulau sekitarnya. Analisis dan pembuatan peta tematik menggunakan software MapInfo Pro 15. Hasil total ZPPI untuk musim pancaroba 1 (297 ZPPI), musim barat (264 ZPPI), musim timur (166 ZPPI), dan musim pancaroba 2 (86 ZPPI). Total ZPPI berdasarkan wilayah perairan pada Laut Aru (507 ZPPI), Laut Arafuru (261 ZPPI), dan Laut Timor (45 ZPPI), laut Aru dan laut Arafuru merupakan daerah penangkapan ikan yang potensial karena kesuburan perairan (kandungan klorofil-a yang tinggi), kedalaman perairan yang relatif dangkal dan munculnya fenomena upwelling. ABSTRACTThis study was presented as a pilot project in the management of spatially based fishing grounds for the Fish Catching Potential Zone (FCPZ) in the Aru Sea, Arafuru Sea and East Timor Sea (WPPNRI 718). Located at 128°-141° East (East Longitude) and 4°-11° South (South Latitude). The purpose of this study is to make a more comprehensive FCPZ thematic map and identify FCPZ based on the seasons in more specific waters. This research was conducted from January to November 2016. The location of data processing was carried out at the Computer Laboratory of the Department of PSP FPIK-IPB. The primary data used are information on fishing grounds originating from PPDPI (KKP) in the 2013-2016 period, secondary data from the Sea Map of the Hidros digitizer no.151 Papua and the surrounding Islands. Analysis and thematic map creation using MapInfo Pro 15 software. Total ZPPI results for transition season 1 (297 FCPZ), west season (264 FCPZ), east season (166 FCPZ), and transition 2 (86 FCPZ). Total FCPZ based on the territorial waters of the Aru Sea (507 FCPZ), Arafuru Sea (261 FCPZ), and the Timor Sea (45 FCPZ), Aru sea and Arafuru sea are potential fishing grounds due to aquatic fertility (high chlorophyll-a content), relatively shallow water depths and the emergence of upweling phenomena.
SISTEM SOSIAL EKOLOGI KAWASAN DESA PESISIR KABUPATEN SUBANG Muliani, .; Adrianto, Luky; Soewardi, Kadarwan; Hariyadi, Sigid
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5000.153 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.20597

Abstract

ABSTRAK Interaksi sistem sosial - ekologi di desa pesisir sering menimbulkan permasalahan, mulai dari menurunnya kualitas ekologi hingga terjadinya konflik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem sosial - ekologi yang terdapat di Desa Blanakan, Desa Tanjungtiga, Desa Rawameneng, dan Desa Mayangan serta mengetahui jaringan konektivitas sistem sosial - ekologi dari desa pesisir yang terintegrasi. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder terkait sistem sosial dan sistem ekologi, analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan spasial deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sosial – ekologi Desa Blanakan, Desa Tanjungtiga, Desa Rawameneng, dan Desa Mayangan tersusun atas jaringan sumberdaya berupa sumberdaya ikan, sumberdaya ekosistem, sumberdaya lahan, dan sumberdaya air yang digunakan oleh nelayan, petani, dan masyarakat umum. Keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang disediakan oleh pemerintah dan swasta. Jaringan konektivitas sistem sosial - ekologi dari integrasi desa pesisir menunjukkan bahwa sistem sosial antar desa pesisir terkonektivitas melalui interaksi pendidikan, kelembagaan nelayan, pelayaanan kesehatan, dan interaksi lainnya, sedangkan interaksi sistem ekologi terkonektivitas melalui jaringan fishing ground dan pemanfaatan ekosistem mangrove secara bersama terutama antara Desa Blanakan dan Desa Mayangan.  ABSTRACTThe interactions of the socio-ecological systems in the coastal villages often create problems, ranging from the declining ecological quality to social conflicts. This study aimed not only to analyze the socio-ecological systems in the villages of Blanakan, Tanjungtiga, Rawameneng, and Mayangan, but also to find out the connectivity network of socio-ecological systems of the integrated coastal villages. The data collected included primary and secondary data related to social and ecological systems. The data analysis was performed in descriptive-quantitative and descriptive-spatial manners. The results showed that the socio-ecological systems of Blanakan Village, Tanjungtiga Village, Rawameneng Village, and Mayangan Village were composed of resource networks such as fish resources, ecosystem resources, land resources, and water resources used by fishermen, farmers and general public. The sustainable utilization of the resources was supported by the availability of infrastructure provided by the government and the private sector. The connectivity network of socio-ecological ecosystems of the integrated coastal villages showed that the social systems among coastal villages were connected through educational interactions, fishermen institutions, health services, and other interactions, while the interaction of the ecological system was connected through fishing ground networks and the shared utilization of mangrove ecosystems, especially between Blanakan Village and Mayangan Village.
POLA PERTUMBUHAN LARVA IKAN KERAPU RAJA SUNU (Plectropoma laevis LACEPÈDE, 1801) DAN TINGKAT KONSUMSINYA TERHADAP ZOOPLANKTON ROTIFER (Brachionus rotundiformis) Melianawati, Regina; Astuti, Ni Wayan Widya; Slamet, Bejo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha budidaya ikan kerapu raja sunu Plectropoma laevis mulai dilakukan untuk melestarikan keberadaannya yang sudah mulai langka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan larva ikan kerapu raja sunu hingga menjadi benih serta tingkat konsumsinya terhadap zooplankton rotifer Brachionus rotundiformis. Induk didomestikasi pada tangki beton bervolume 100.000 l. Telur hasil pemijahan induk ditetaskan menjadi larva dan selanjutnya larva dipelihara hingga menjadi benih. Pemeliharaan larva dilakukan pada bak beton bervolume 6.000 l. Selama pemeliharaan, larva diberi pakan berupa B. rotundiformis, Artemia dan pakan buatan. Parameter yang diamati meliputi diameter telur dan butir minyaknya, panjang total larva, panjang duri sirip punggung dan duri sirip perut larva serta jumlah zooplankton yang dikonsumsi larva dan suhu air media. Pengukuran setiap parameter tersebut dilakukan secara mikroskopis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telur ikan kerapu raja sunu yang digunakan dalam penelitian ini berdiameter 800-850 μm, sedangkan diameter butir minyaknya 168-200 μm. Larva yang baru menetas berukuran panjang total 2,53±0,13 mm. Pola pertumbuhan panjang total larva hingga menjadi benih adalah eksponensial, sedangkan pola pertumbuhan duri sirip punggung dan duri sirip perutnya adalah linear. Larva mengalami pertumbuhan yang sangat cepat setelah berumur 35 hari. Tingkat konsumsi larva terhadap zooplankton rotifer juga menunjukkan pola linear. Pertumbuhan larva hingga menjadi benih berlangsung selama 45-55 hari pada suhu air 27-29oC.Kata kunci: pertumbuhan, tingkat konsumsi, rotifer, larva, kerapu raja sunu
ZOOPLANKTON SPATIAL DISTRIBUTION AND COMMUNITY STRUCTURE IN BANGGAI SEA Rachman, Arief; Asniariati, Elly
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banggai Sea is an interesting ecosystem due to mixing influences from Banda Sea in the west and Maluccas Sea in the east. Therefore, a unique zooplankton community structure and specific distribution pattern should be found in this area. This research was carried on using Baruna Jaya VIII research vessel and samples were collected in 14 sampling stations. Vertical towing using NORPAC plankton net (300 μm) was conducted to collect zooplankton samples. Result showed that inner Mesamat Bay had the lowest abundance of zooplankton, probably due to low water quality resulted from anthropogenic activity. Meanwhile the strait between Liang and Labobo Island had the highest zooplankton abundance in Banggai Sea. Calanoids was the dominant zooplankton taxa in the ecosystem and contributing 55.7% of total density of zooplankton community. The highest importance value made this taxa to be very important factor that regulates the lower trophic level organisms. Results also showed that zooplankton was distributed nearly uniform in eastern but aggregated to several stations in western Banggai Sea. Zooplankton abundance was higher in the central of Banggai Sea, compared to western and eastern area. According to Bray-Curtis clustering analysis the strait between Liang and Labobo Island has unique zooplankton community structure. This might happened due to mixing of water from two highly productive seas that influenced the Banggai Sea ecosystem. From this research we conclude that this strait probably was the zooplankton hot spot area which might also indicate that this area also a hot spot of fishes in the Banggai Sea.Keywords: Spatial distribution, zooplankton, community structure, hot spot, Banggai Sea.
THE GRUNTS (FAMILY HAEMULIDAE) OF THE SPERMONDE ARCHIPELAGO, SOUTH SULAWESI Burhanuddin, Andi Iqbal; Iwatsuki, Yukio
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fish diversity monitoring could be utilized as a basis for formulating management regulation of the fisheries resources. This study was conducted to describe the grunt of the family Haemulidae from the Spermonde Archipelago, South Sulawesi. Specimens were collected in Rajawali and Paotere Fish Landing Port Makassar, South Sulawesi from August 2003 to November 2010. The results showed that there were thirteen species representing three genera of family Haemulidae inhabiting the area were examined and identified: Diagramma pictum (Thunberg, 1792), Plectorhinchus albovittatus (Rüppell, 1838), Plectorhinchus chaetodonoides Lacepède, 1801, Plectorhinchus chrysotaenia (Bleeker, 1855), Plectorhinchus flavomaculatus (Cuvier in Cuvier and Valenciennes, 1830), Plectorhinchus gibbosus Lacepède, 1802, Plectorhinchus lessonii (Cuvier in Cuvier and Valenciennes, 1830), Plectorhinchus lineatus (Linnaeus, 1758), Plectorhinchus picus (Cuvier in Cuvier and Valenciennes, 1830), Plectorhinchus polytaenia (Bleeker, 1852), Plectorhinchus vittatus (Linnaeus, 1758), Pomadasys argenteus (Forsskål, 1775), Pomadasys maculatus (Bloch, 1793). The local name available of each species was given.Keywords: Grunt, Haemulidae, Spermonde, South Sulawesi
VARIASI ARUS ARLINDO DAN PARAMETER OSEANOGRAFI DI LAUT TIMOR SEBAGAI INDIKASI KEJADIAN ENSO Safitri, M.; Cahyarini, S. Y.; Putri, M. R.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Variasi transpor Arlindo, salinitas permukaan, dan data temperatur di permukaan Laut Timor bulanan, rata-rata musiman, dan rata-rata tahunan dikaji dengan menggunakan data dari IRI/LDEO Climate Data Library, antara lain Simple Ocean Data Assimilation (SODA) untuk salinitas. Periode data yang digunakan adalah 1995-2004, ERSST untuk temperatur. Transpor Arlindo diperoleh dari Hautala et al., (2001). Hasil pengolahan data menunjukkan adanya pengaruh musim dan fenomena ENSO terhadap parameter oseanografi tersebut. Selama musim timur di Laut Timor terjadi kekosongan massa air di permukaan akibat adanya angin pasat tenggara sehingga mengakibatkan terjadinya fenomena upwelling. Dari hasil pengolahan data juga terlihat bahwa selama musim timur rata-rata didapatkan nilai rata-rata temperatur sebesar 26,84 oC, salinitas sebesar 34,35 psu, dan transpor Arlindo sebesar -0,34 Sv. Sedangkan selama musim barat didapatkan rata-rata nilai temperatur sebesar 29,6 oC, salinitas sebesar 34,22 psu, dan transpor Arlindo sebesar -0,27 Sv. Nilai negatif (-) ini berarti aliran menuju ke Samudra Hindia. Selain itu, berdasarkan hasil korelasi temporal antara transpor Arlindo dan Indeks NINO 3.4 didapatkan rata-rata tahunan dari variabilitas transpor Arlindo meningkat pada periode La Niña sebesar -0,18 Sv dan menurun selama periode El Niño, sebesar -0,13 Sv. Hal ini mengindikasikan bahwa fenomena ENSO mempengaruhi transpor yang melewati ekuatorial Pasifik barat-timur.Kata kunci: Transpor Arlindo, salinitas, temperatur, SODA, Muson, ENSO, Laut Timor.
PEMBANGUNAN EKOWISATA DI KECAMATAN TANJUNG BALAI ASAHAN, SUMATERA UTARA: FAKTOR EKOLOGIS HUTAN MANGROVE Fahriansyah, Fahriansyah; Yoswaty, Dessy
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Tanjungbalai memiliki potensi pariwisata pesisir dan laut dengan karakteristik yang khas yaitu pantai berpasir lumpur dan ditumbuhi oleh vegetasi mangrove. Salah satu cara untuk mempertahankan keberadaan hutan mangrove dari kerusakan atau kepunahan adalah dengan menjadikan Kecamatan Tanjungbalai sebagai kawasan ekowisata mangrove. Tujuan penelitian adalah mengetahui potensi ekologis hutan mangrove untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus-Nopember 2011, dengan menggunakan metode survei. Data primer dapat diperoleh melalui pengamatan langsung di Desa Bagan Asahan, Desa Asahan Mati dan Desa Sungai Apung terhadap struktur komunitas mangrove (nilai kerapatan) dan potensi ekologis. Analisis data untuk indeks kesesuaian wisata berdasarkan Yulianda (2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove di Kecamatan Tanjungbalai memiliki kerapatan yang baik dalam kategori sangat padat (nilai 1778 ind./ha), dengan spesies Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum, Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata. Indeks kesesuaian wisata di Kecamatan Tanjungbalai yaitu sangat sesuai (S1) untuk pengembangan ekowisata mangrove yang terdiri atas Desa Bagan Asahan (skor 65, IKW 85,53%), Desa Asahan Mati (skor 61, IKW 80,26%) dan Desa Sungai Apung (skor 61, IKW 80,26%). Secara ekologis, hutan mangrove di Kecamatan Asahan berpotensi untuk dijadikan sebagai kawasan ekowisata mangrove.Kata kunci: hutan mangrove, potensi ekologis, pembangunan ekowisata
OPTIMASI DOSIS DAN FREKUENSI PAKAN DALAM PRODUKSI ROTIFER (Brachionus rotundiformis) Astuti, Rina P.; Sagala, Sophia L.; Gunawan, Gunawan; Sumiarsa, Gede S.; Imanto, Philip T.
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan pakan alami rotifer ditingkatkan ketersediaannya seiring dengan meningkatnya jumlah larva ikan laut, untuk itu diperlukan usaha guna meningkatkan produktifitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis dan frekuensi pakan terbaik dalam kultur rotifer. Nannochloropsis oculata, ragi dan scott’s emulsion digunakan sebagai pakan rotifer. Dosis masing-masing pakan N. oculata adalah 150.000, 250.000 dan 350.000 sel/ind. rotifer/hari diberikan dua kali sehari. Sedangkan ragi sebanyak 0.5gr/106 ind./hari dan scott’s emulsion dengan dosis 2, 4, dan 8 μg/106 ind./hari diberikan dengan frekuensi 2 kali sehari dan 4 kali sehari. Masing-masing perlakuan dikerjakan dengan tiga kali ulangan. Sampling dilakukan pada pagi dan sore hari. Dilakukan analisa kualitas air meliputi suhu, amoniak dan DO. Pertumbuhan dan produktifitas rotifer dianalisa melalui jumlah individu dan jumlah telur rotifer yang dihasilkan. Data yang diperoleh dianalisa secara diskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pakan N.oculata sebanyak 250.000 sel/ind./hari dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari merupakan dosis terbaik pada kultur rotifer dengan pakan N. oculata, pada kultur ini 4 hari merupakan waktu optimal untuk produksi. Sedangkan ragi sebanyak 0.5 gr/106 ind./hari dan scott sebanyak 2 μg/106ind./hari dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari merupakan dosis terbaik pada kultur rotifer dengan pakan ragi dan scott’s emulsion, waktu optimal produksi dengan metode ini selama 2 hari.Kata kunci: rotifer, produktifitas, ragi, scott’s emulison, dosis pakan

Page 1 of 63 | Total Record : 630


Filter by Year

2009 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 9, No 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 9, No 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 8, No 2 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 8, No 1 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 2 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 7, No 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 6, No 2 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 6, No 1 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 6, No 2 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 6, No 1 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 5, No 2 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 5, No 1 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 5, No 2 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 5, No 1 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 1 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 4, No 1 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 3, No 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 3, No 1 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 3, No 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 3, No 1 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 2, No 2 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 2, No 1 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 1, No 1 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 1, No 2 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol 1, No 1 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis More Issue