cover
Contact Name
Rudi Sugiono Suyono
Contact Email
Rudi Sugiono Suyono
Phone
-
Journal Mail Official
untanjtst@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 14123576     EISSN : 26218429     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura merupakan publikasi ilmiah berkala yang diperuntukkan bagi peneliti yang hendak mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bentuk studi literatur, peneltian, dan pengembangan teknologi sebagai bentuk penerapan metode, algoritma, maupun kerangka kerja. Melalui penulisan Jurnal Teknik Sipil yang terbit pada bulan Juni dan Desember setiap tahun. Redaksi Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura mengundang para profesional dari dunia usaha, pendidikan dan peneliti untuk berpartisipasi mengembangkan profesi serta menyebarluaskan perkembangan ilmu dalam bidang Teknik Sipil termasuk geoteknik, transportasi, struktur, sumberdaya air dan lingkungan dengan penekanan khusus pada pengurangan resiko bencana termasuk pendekatan sosio-teknik untuk penanggulangan.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016" : 20 Documents clear
SISTEM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN PADA BANGUNAN GEDUNG DI KOTA SINGKAWANG Mursyadi, Ari
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24380

Abstract

Kejadian kebakaran dapat terjadi dimana dan kapan saja. Untuk itu tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami sistem pencegahan dan penanggulangan kebakaran pada bangunan gedung di Kota Singkawang. Dari aspek lokasi, bangunan gedung yang dijadikan obyek penelitian ini dibatasi pada Kecamatan Singkawang Barat saja, karena berdasarkan data tingkat kebakaran yang tertinggi pada 5 tahun terakhir berada pada Kecamatan Singkawang Barat.Pembahasan menggunakan kajian teori dan peraturan-peraturan terkait menggunakan metode paradigma rasionalistik dan metode kualitatif. Teori konsep Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) dengan parameter dan indikator yang tercakup di dalamnya diimplementasikan tanpa mengabaikan kebijakan lokal (local logic) dan potensi khusus yang dimiliki.Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrument aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di lapangan. Sedangkan instrument pengumpulan data yang lain selain manusia adalah berbagai bentuk alat-alat bantu dan berupa dokumen-dokumen lainnyaKesimpulan akhir menunjukkan bahwa: (1) ada beberapa potensi masalah perkotaan terkait sistem proteksi kebakaran bangunan gedung yang terindentifikasi di Kota Singkawang; (2) Ketersediaan pos kebakaran beserta sarana dan prasarananya di dalam penanggulangan kebakaran bangunan gedung Kota Singkawang masih perlu ditambah jumlahnya; (3) Secara yuridis formal dokumen rencana penanggulangan dan penetapan wilayah manajemen kebakaran bangunan gedung sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta petunjuk teknis yang berlaku; (4) Banyak institusi pemerintah dan non pemerintah yang sudah terlibat secara aktif dalam menangani permasalahan kebakaran bangunan gedung di Kota Singkawang. Keterkaitan dan koordinasi antar sesama lembaga juga sudah sangat baik dan sinergis satu sama lain. Namun institusi yang khusus menangani urusan kebakaran bangunan di Kota Singkawang sejak tahun 2008 hingga saat ini sudah tidak ada lagi; (5) konsep pengelolaan Wilayah Manajemen Kebakaran (WMK) melalui Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran (RISPK) Kota Singkawang masih memerlukan banyak dukungan finansial dan dukungan lainnya.Kata Kunci : kebakaran, bangunan gedung, penanggulangan
KAJIAN PENGEMBANGAN PERMUKIMAN PERKOTAAN KETAPANG BERBASIS TATA RUANG (Studi Kasus Kawasan Kumuh Nelayan Delta Pawan Harsusani, -; Priadi, Eka; Elvira, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.26973

Abstract

Penataan dan penanganan lingkungan permukiman kumuh kota meliputi perencanaan sarana hunian, prasarana dan sarana lingkungan serta utilitas umum yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan perumahan perkotaan yang besrsih, indah, harmonis dan ramah. Kajian yang akan diterapkan dalam penataan permukiman yang berlokasi di Kota Ketapang Kecamatan Delta Pawan Khususnya Kelurahan Sampit, adalah Pengembangan Permukiman Perkotaan kawasan kumuh nelayan yang tertata rapi dan indah serta layak huni di lingkungan permukiman kelas masyarakat berpenghasilan rendah seperti nelayan yang mana sesuai dengan kebijakan kebijakan tata ruang. Dengan merancang pengembangan permukiman yang ideal dan layak huni serta ramah terhadap lingkungan diharapkan dapat mengurangi tingkat hunian kekumuhan, semerautan, pencemaran lingkungan, polusi udara, limbah masyarakat dan pemanasan global yang sekarang ini menjadi masalah di dunia. Untuk konsep tatanan kawasan pada zoning kawasan daerah sarana dan prasarana di tempatkan ditengah - tengah kawasan perumahan. Dalam perancangan sistem sirkulasi kawasan kumuh nelayan, memisahkan antara sirkulasi jalan buat kendaraan roda 2 (dua) baik sepeda dan pejalan kaki akan di bangun diantara rumah penduduk dengan sungai beserta dermaga tambahan kapal nelayan. Dengan memberikan akses pejalan kaki yang khusus di setiap sepanjang tepian sungai, maka para pejalan kaki akan merasakan aman dan nyaman, selain itu juga dapat digunakan sebagai tempat berolahraga. Pada kajian perkembangan pemukiman ini menggunakan konsep waterfront city. Waterfront city dapat berperan mengendalikan suasana sehingga mempengaruhi kenyamanan bagi manusia, seperti pengontrol suh, angin,  serta kelembaban suatu kawasan. Kata kunci :  Tata Ruang, kumuh, dan aksesbilitas.
STUDI MATERIAL SIRTU DARAT DAN SIRTU SUNGAI UNTUK LAPIS PONDASI AGREGAT KELAS B Supiandi, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24727

Abstract

Sirtu adalah singkatan dari pasir batu. Orang kadang menyebutnya dengan Gravel atau Base Caorse .  Sirtu terjadi karena akumulasi pasir dan batuan yang terendapkan di daerah – daerah relatif rendah atau lembah. Sirtu biasanya merupakan bahan yang belum terpadukan dan biasanya tersebar di daerah aliran Sungai. Sirtu juga bisa diambil dari satuan konglomerat atau Breksi yang tersebar di daerah daratan. Sirtu berasal dari dua bagian yang berukuran besar merupakan material dari batuan beku, metamorf, dan sendimen. Sedangkan yang berukuran halus terdiri dari pasir dan lempung. Seluruh material tersebut tererosi dari batuan induknya bercampur menjadi satu dengan material yang halus. Kuatnya proses ubahan atau pelapukan batuan dan jauhnya transportasi sehingga material berbentuk elip atau bulat dengan ukuran mulai krikil sampai bongkaran. Penggunaan sirtu terbatas sebagai bahan bangunan terutama untuk campuran beton. Selain itu dapat juga digunakan sebagai bahan perkerasan jalan raya. Mengingat keadaan sekitar wilayah Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat sangat sulit ditemui bukit batu, namun masih banyak hamparan sirtu. Untuk menyakinkan bahwa sirtu yang di wilayah tersebut dapat digunakan dan memenuhi syarat Speksifikasi Teknik  Bidang Bina Marga, perlu dilakukan penelitian dengan melakukan pengujian- pengujian yang dapat merekomendasikan bahwa material sirtu tersebut dapat digunakan sebagai bahan untuk Lapis Pondasi Agregat pada jalan raya dan cara pengolahan sirtu agar dapat   memenuhi persyaratan. Kata-kata kunci :  ketahanan material (abrasi ), CBR Laboratorium, tekstur, warna, bidang pecah (anggularitas)
PENENTUAN PRIORITAS PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PONTIANAK MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Erwin, Rinai Domenri; Hamid, Abdul; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24575

Abstract

Jumlah penduduk Kota Pontianak yang meningkat dari waktu ke waktu dapat memberikan implikasi terhadap pemanfaatan ruang kota, salah satunya keberadaan ruang terbuka hijau. Pertumbuhan Kota Pontianak yang akseleratif tentunya harus seiring dengan upaya pemeritah untuk menjadikan Kota Pontianak sebagai Kota Khatulistiwa Equator Clean and Green City. Luas RTH Kota Pontianak yang baru mencapai 19,8% belum sesuai dengan amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran konsep kebutuhan ruang terbuka hijau untuk menjaga keseimbangan di Kota Pontianak dengan 1) Mengetahui kecukupan ruang terbuka hijau berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk. 2) Mendapatkan prioritas pengembangan ruang terbuka hijau di Kota Pontianak. Kecukupan RTH berdasarkan luas wilayah mengacu pada Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu 30% dari luas wilayah Kota Pontianak, dan kecukupan RTH berdasarkan jumlah penduduk mengacu pada Peraturan Menteri PU No. 05/PRT/M/2008 yaitu 20 m2/kapita. Prioritas pengembangan RTH di Kota Pontianak ditinjau berdasarkan fungsi RTH yaitu ekologi, sosial, ekonomi, dan estetika yang diimplikasikan pada bentuk umum RTH yang ada di Kota Pontianak yaitu bentuk kawasan, simpul, dan jalur. Kuisioner diberikan kepada 30 orang responden yang terdiri dari kalangan akademisi, swasta, pemerintah Kota Pontianak, pemerhati lingkungan, tokoh masyarakat, dan anggota DPRD Kota Pontianak. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode AHP. Hasil analisis menunjukkan kebutuhan RTH Kota Pontianak berdasarkan luas wilayah adalah 32,35 km2, dan kebutuhan RTH berdasarkan jumlah penduduk sampai tahun 2027 adalah 15,67 km2. Prioritas RTH yang ingin dikembangkan berturut-turut adalah bentuk kawasan, jalur, dan simpul. Kata kunci: ruang terbuka hijau, Pontianak, AHP
MODEL PENGEMBANGAN KERJASAMA SUB REGIONAL SOSIAL EKONOMI MALAYSIA INDONESIA DALAM MENDUKUNG PEMBANGUNAN WILAYAH PERBATASAN KALIMANTAN BARAT - SARAWAK Hernovianty, Firsta Rekayasa
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.202 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.18325

Abstract

Salah satukerjasama bilateral yang terjalinantara Indonesia-Malaysia adalah forum kerjasamaSosialEkonomi Malaysia-Indonesia (SosekMalindo). Perbatasan Kalbar – Sarawak sendiri merupakan pelopor Kerjasama Sosek Malindo yang dimulai sejak tahun 1985.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pelaksanaan kerjasama sosial ekonomi Malaysia Indonesia dalam rangka meningkatkan pembangunan wilayah perbatasan Kalimantan Barat. Pendekatan studi yang digunakan adalah pendekatan evaluasi semu (pseudo evaluation) melalui wawancara, kuesioner, pengamatan, dokumen. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa Kerangka Kerjasama Sosial Ekonomi Malaysia – Indonesia telah optimal dilaksanakan di kawasan perbatasan Kalimantan Barat – Sarawak. Hal ini ditunjukkan dengan adanya 33 program atau 94 % hasil kesepakatan sudah selesai dilaksanakan dan hanya 2 program atau 6 % masih dalam tahap pembangunan. Adapun bidang kerjasama yang paling dominan dikembangkan adalah bidang ekonomi melaluipembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi industri di masing-masing perbatasan Kalbar - Sarawak. Kata-kata kunci: kerjasama sub regional, pengembangan wilayah perbatasan, Kalimantan Barat
STUDI PENENTUAN PRIORITAS PEMBANGUNAN JEMBATAN RANGKA BAJA DI KABUPATEN SINTANG Alexander, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24387

Abstract

Pembangunan jembatan rangka baja di ruas - ruas jalan kabupaten di Kabupaten Sintang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Sintang. Keterbatasan  kemampuan keuangan  Pemerintah Kabupaten Sintang yang dialokasikan setiap tahunnya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sintang menjadi sebuah kendala dalam merealisasikan rencana pembangunan jembatan rangka baja, dimana pembiayaan untuk pembangunan jembatan permanen yang berbahan rangka baja  sangatlah besar, maka dalam hal ini para stakeholder atau pengambil keputusan dituntut untuk mampu mempertimbangkan dan memutuskan  pembangunan jembatan rangka baja mana saja yang harus mendapat prioritas pertama, kedua, ketiga dan seterusnya, jangan sampai titik pembangunan jembatan rangka baja yang terpilih tersebut hanya mengacu kepada biaya konstruksi terkecil saja, atau aksebilitas saja, ataupun berdasarkan nilai kawasan strategis saja. Tentunya dalam hal ini diperlukan suatu analisis yang dapat mengintegrasikan  berbagai kriteria, sehingga menghasilkan bobot maksimum yang dapat dijadikan dasar suatu keputusan sebagai alternatif pilihan yang terbaik. Metode penelitian dipaparkan secara deskriptif menjelaskan penentuan skala prioritas pembangunan jembatan rangka baja di Kabupaten Sintang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data primer berupa kuisioner yang disebarkan serta data sekunder berupa data jumlah penduduk ,data komiditi unggulan, dan lain sebagainya. Teknik analisis menggunakan analisis kualitatif dengan menggunakan kuesioner dan analisis kuantitatif dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan diperoleh hasil penelitian menunjukkan prioritas pembangunan jembatan rangka baja di Kabupaten Sintang berdasarkan dari nilai prioritas diperoleh urutan yaitu pembangunan jembatan rangka baja Melawi II memiliki prioritas pertama dengan nilai 0,318675, selanjutnya pembangunan jembatan rangka baja Melawi III memiliki prioritas kedua dengan nilai 0,300007, kemudian pembangunan jembatan rangka baja Sungai Sepauk memiliki prioritas ketiga dengan nilai 0,209123, selanjutnya pembangunan jembatan rangka baja Sungai Tebidah memiliki prioritas keempat dengan nilai 0,088476, dan terakhir pembangunan jembatan rangka baja Sungai Sekalan memiliki prioritas kelima dengan nilai 0,083720.Kata-kata kunci: Jembatan, Rangka Baja, Prioritas, AHP. 
STUDI PENANGANAN TERPADU KAWASAN PERMUKIMAN DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS KOTA PONTIANAK Yamri, Arkan
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24927

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mempelajari serta memberikan konstribusi berupakonsep penanganan terpadu kawasan kumuh guna meningkatkan kualitas kawasan permukiman ditepian sungai Kapuas Kota Pontianak. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yangdigunakan dalam studi ini terbagi ke dalam dua bagian yaitu Survey primer dan survey sekunder.Studi penelitian ini dilakukan di Kawasan Permukiman Tepi Air Tambelan Sampit KecamatanPontianak Timur Kota Pontianak. Hasil analisis dibedakan menjadi analisis tata guna lahan, analisisnilai historis, analisis nilai ekonomi dan analisis kawasan kumuh tepian sungai kapuas sehinggadidapat hasil delineasi dan pembagian kawasan. Penulis mengambil komponen kumuh menjadiaspek prioritas dikarenakan aspek ini yang menjadi isu paling menonjol bagi kawasan TambelanSampit selain daripada itu aspek-aspek lain seperti sosial, ekonomi dan budaya merupakan aspekpertimbangan lainnya sebagai pendamping. Setelah didapat Analisa perhitungan tingkat kekumuhanpenulis mencoba untuk menskenariokan penurunan tingkat kekumuhan menurut formulasi didalamPermen PUPERA no 2 tahun 2016. Penentuan Deliniasi kawasan kumuh ini di peroleh dari hasildiskusi seluruh element Kelompok Kerja Pengembangan Kawasan Permukiman Kota Pontianakdifasilitasi oleh tim KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) merupakan salah satu Program Pemerintahdalam pengurangan kawasan kumuh. Kawasan kumuh yang berada pada Kawasan Tambelan Sampitini terindikasi berada di 2 Rukun Warga (RW) dan 5 Rukun Tetangga (RT) sesuai SK WalikotaPontianak dan hasil verifikasi data dari program KOTAKU. Melihat dari perkembanganpermukiman dan kesamaan tipologinya penulis memverifikasi dan mendeliniasi ulang kawasantersebut sehingga luasan lokasi penelitian menjadi sebesar 15.98 Ha dan berada di tepian sungaiKapuas. Dari Permasalah, isu kawasan, kebutuhan penanganan dan strategi di kawasan TambelanSampit maka penulis mencoba untuk merumuskan Konsep Strategi untuk studi “PenangananTerpadu Kawasan Permukiman Di Tepian Sungai Kapuas Kota Pontianak” dengan lokasi studi dikawasan Tambelan Sampit adalah “Kawasan Tambelan Sampit Bermartabat dan Berkarakter”. Kata kunci: Kawasan Tepian, Sungai Kapuas, Tambelan Sampit, Kumuh, Kotaku, Delineasi.
KAJIAN PENENTUAN ZONASI TATA RUANG KAWASAN BERSEJARAH KOTA SINGKAWANG DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERTUMBUHAN PEREKONOMIAN Kastomo, Heri
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24576

Abstract

Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang kehidupan yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Penyelenggaraan penataan ruang yang aman adalah situasi masyarakat dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan terlindungi dari berbagai ancaman. Kawasan bersejarah Kota Singkawang merupakan kawasan primer dengan kegiatan utama terpusat pada kawasan sehingga kawasan menjadi padat dan aktif. Metode penelitian dipaparkan secara deskriptif menjelaskan gambaran dan meninjau langsung ke lokasi yang akan dijadikan objek penelitian penentuan zonasi tata ruang kawasan bersejarah dan dampaknya terhadap pertumbuhan perekonomian. Hasil analisis terhadap kesesuaian tata guna lahan berdasarkan zonasi kawasan bersejarah Kota Singkawang adalah zonasi ruas jalan Ponegoro I diperuntukkan untuk kawasan pendidikan, kesehatandan tempat ibadah, zonasi ruas jalan Ponegoro II diperuntukkan untuk kawasan perdagangan dan jasa, zonasi ruas jalan Merdeka diperuntukkan untuk kawasan ruang terbuka hijau (open space) dan Sarana Ibadah, zonasi ruas jalan Setia Budi – Dr. Soetomo diperuntukkan untuk kawasan perdagangan dan jasa serta pusat kuliner tradisional. Hasil analisis terhadap pengaruh zonasi kawasan bersejarah terhadap pertumbuhan perekonomian di Kota Singkawang. Analisis statistik dengan menggunakan uji t nilai probabilitas pendapatan zonasi sebesar 0,000 artinya variabel pendapatan zonasi I berpengaruh terhadap kawasan bersejarah dan nilai probabilitas pembangunan zonasi I sebesar 0,032 artinya variabel pembangunan berpengaruh terhadap kawasan bersejarah, nilai probabilitas variabel pendapatan zonasi sebesar 0,000 artinya pendapatan zonasi II berpengaruh terhadap kawasan bersejarah dan nilai probabilitas variabel pembangunan zonasi II sebesar 0,018 artinya variabel pembangunan berpengaruh terhadap kawasan bersejarah, nilai probabilitas variabel pendapatan zonasi sebesar 0,000 artinya pendapatan zonasi III berpengaruh terhadap kawasan bersejarah dan nilai probabilitas pembangunan zonasi III sebesar 0,022 artinya variabel pembangunan berpengaruh terhadap kawasan bersejarah, nilai probabilitas variabel pendapatan zonasi sebesar 0,001 artinya pendapatan zonasi IV berpengaruh terhadap kawasan bersejarah dan nilai probabilitas pembangunan zonasi IV sebesar 0,009 artinya variabel pembangunan berpengaruh terhadap kawasan bersejarah. Zonasi kawasan bersejarah memberikan dampak berupa pembangunan fasilitas pendukung dan peningkatan pendapatan daerah berupa pajak dan PDRB daerah Kota Singkawang
KAJIAN KERUSAKANJARINGAN RAWA PASANG SURUT Supriadi, Erwin; Nurhayati, -; Widodo, Slamet; Marsudi, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB) | DOI: 10.26418/jtsft.v16i1.24393

Abstract

Pengelolaan jaringanrawapasangsuruthal prinsip yang menjadi dasar adalah keseimbangan antara upaya konservasi dan pendayagunaan rawa pasang surut dengan memperhatikan daya rusak air di daerah rawa pasang surut. Tujuan utama dari pengelolaan rawa pasang surut adalah untuk melestarikan rawa pasang surut sebagai sumber air dan meningkatkan kemanfaatannya untuk mendukung kegiatan sosial, ekonomi, budaya, dan pengembangan wilayah. Instrumen yang berperan dalam jaringan rawapasangsurut adalah bangunan air (pintu air), saluranprimer,saluran sekunder dan salurantersier. Wilayah penelitian dilakukan di Sekunder A kanandanSekunder B kananDesaRasau Jaya II Kecamatan Rasau Jaya,memiliki luas sekitar 869 ha. Berdasarkan analisa pedoman penilaian kinerja jaringan reklamasi rawa hasil kinerja jaringan untuk jaringan TR 3, TR 5, TR7 memiliki kinerja baik perlu pemeliharaan rutin untuk Primer arah Rasau Jaya, Primer arah Tanjung Wangi, Sekunder A kanan, Sekunder B kanan, TR 1, TR 9, TR 11, TR 13, TR 15, TR 17, TR 19, TR 21, TR 23, TR 25, TR 27, TR 29, TR 31, TR 33, TR 35, TR 37, TR 39, TR 41, TR 43, TR 45, TR 47 memiliki kinerja sedang dan perlu pemeliharaan berkala sedangkan TR 49 memiliki kinerja buruk sehingga perlu dilakuan rehabilitasi, berdasarkan hasil kinerja secara umum disimpulkan jaringan rawa desa Rasau Jaya II masih berfungsi guna menunjang sektor pertanian dan sektor lainnya di Desa Rasau Jaya II
KAJIAN PENANGANAN DAN PENGELOLAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN (STUDI KASUS DAERAH PENGALIRAN PARIT TOKAYA) Andri, -; Nurhayati, -
Jurnal Teknik Sipil Vol 16, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK SIPIL VOL 16 NO 1 EDISI JUNI 2016
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (21.214 KB)

Abstract

Sistem drainase pada daerah pengaliran Parit Tokaya masih merupakan sistem saluran terbuka yang hanya mengandalkan tampungan sementara pada saluran dan mengalirkannya secara grafitasi. Upaya yang telah dilakukan pemerintah Kota Pontianak sejauh ini masih belum mampu menuntaskan permasalahan genangan banjir, untuk itu perlu dilakukan kajian untuk penanganan dan pengelolaan sistem drainase perkotaan. Permasalahan yang dihadapi pada sistem drainase daerah pengaliran Parit Tokaya diantaranya adalah kapasitas tampung pada saluran yang sangat kecil, daya hantar yang lemah akibat kemiringan saluran yang landai dan hambatan aliran yang besar, daerah pengaliran Parit Tokaya merupakan dataran banjir Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang dipengaruhi oleh pasang surut sehingga menggenangi sebagian lahan dan mempengaruhi aliran pada sebagian saluran drainase, hambatan aliran pada sebagian saluran cukup besar karena kondisi fisik saluran sendiri, tingkat sedimentasi berupa ketebalan endapan lumpur dan banyaknya sampah terdapat pada saluran yang sangat tinggi. Penanganan banjir untuk daerah pengaliran Parit Tokaya dapat digolongkan dalam tiga bagian yaitu, konveksi adalah memelihara dan meningkatkan daya hantar saluran dengan mengurangi hambatan aliran berupa pelebaran dan kedalaman saluran, retensi dan konservasi dilakukan dengan mengurangi limpasan permukaan dengan memelihara kawasan daerah pengaliran Parit Tokaya yang sebagian besar masih berupa material tanah gambut, dispersi aliran dan interkoneksi jaringan dilakukan dengan membagi beban aliran, memecah konsentrasi aliran dengan pembangunan sekat aliran, interkoneksi, perubahan dan rekayasa arah aliran. Kata kunci : drainase, Parit Tokaya, genangan banjir, sedimentasi, sampah, dimensi saluran, konveksi, retensi, konservasi, dispersi, interkoneksi.

Page 1 of 2 | Total Record : 20