Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika
ISSN : -     EISSN : -
Articles
34
Articles
Epidemi Penyakit Hawar Beludru Septobasidium pada Kebun Lada dengan Jenis Tajar Berbeda

Suswanto, Iman, Rianto, Fadjar

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.502 KB)

Abstract

Hawar beludru Septobasidium spp. menjadi penyebab utama penurunan produksi lada di Kalimantan Barat. Pada awal kemunculan penyakit umumnya dijumpai pada kebun tua yang tidak terawat. Saat ini penyakit ini dapat dijumpai baik pada kebun yang terawat maupun tidak terawat. Penelitian bertujuan mengenal gejala, penyebaran penyakit dan hubungan antara berbagai anasir penyakit dengan perkembangan patogen di kebun lada dengan tajar yang berbeda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman sakit memperlihatkan gejala dengan tingkat keparahan beragam dan penyakit dijumpai di semua sentra lada Kalimantan Barat. Intensitas penyakit di Kabupaten Sambas dan Mempawah termasuk berat menunjukkan banyak dijumpai kebun lada yang puso. Perkembangan penyakit memiliki keeratan hubungan dengan temperatur (x1) dan kepadatan spora (x2) baik pada kebun dengan tajar hidup maupun tajar mati. Konsistensi besarnya nilai korelasi ini dijadikan dasar dalam penyusunan model regresi multivariat pada kebun dengan tajar hidup dan mati berturut-turut y= 17,58 - 0,19 x1 + 0,43 x2 dan y=15,30 - 0,18x1 + 0,65 x2. Penyakit berkembang baik saat temperatur udara (x1) mencapai 24 oC dan kepadatan spora (x2) di kebun mencapai 7 spora/cm2. Kata kunci: hawar beludru, lada, tajar dan Septobasidium

Pengaruh Cara Budidaya terhadap Perkembangan Penyakit Awar Beludru (Septobasidium) pada Tanaman Lada di Sungai Raya Kabupaten Bengkayang

Saripudin, Saripudin, Sarbino, Sarbino, Supriyanto, Supriyanto

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.024 KB)

Abstract

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi penghasil lada di Indonesia. Luas tanaman lada sejak 2002-2007 terjadi penambahan lahan, namun tidak berdampak pada peningkatan produksi, karena salah satu penyebabnya banyak tanaman terinfeksi hawar beludru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keparahan penyakit hawar beludru pada tanaman lada. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan pengamatan  secara langsung terhadap keparahan dan perkembangan penyakit. Data primer didapat melalui pengamatan langsung di lapangan, data sekunder diambil dari kuesioner pada 25 petani. Variabel yang diamati adalah keparahan penyakit dan perkembangan penyakit, serta faktor budidaya yang diterapkan petani. Hasil penelitian menunjukkan dari 9 faktor epidemik yaitu : umur tanaman, system tanam, jenis tajar, lokasi pembibitan, tingkat produksi, jenis pupuk yang digunakan, frekuensi pemupukan, pemakaian, insektisida, pemakaian fungisida, pemangkasan tanaman, drainase pada kebun, terdapat 4 faktor budidaya yang mempengaruhi perkembangan penyakit hawar beludru, yaitu: 1. umur tanaman (tanaman menghasilkan), 2. sistem tanam (tanaman tumpang sari), 3. jenis tajar (tajar mati), 4. frekuensi pemupukan (frekuensi pemupukan 1 kali pertahun). Kata kunci : faktor budidaya, hawar beludru, tanaman lada

Pengaruh Campuran Hormon Organik dan Pupuk Organik Cair terhadap Peningkatan Daya Tumbuh Bibit Stum Mata Tidur Tanaman Karet

Admaja, Wirahadi, Sulistyowati, Henny, Sarbino, Sarbino

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.81 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan campuran hormon organik dan pupuk organik cair  yang terbaik bagi peningkatan daya tumbuh bibit stum mata tidur tanaman karet. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri dari 7 perlakuan perendaman pada bibit stum mata tidur, yaitu k0=perendaman dengan air, k1 = perendaman dengan pupuk organik cair dengan konsentrasi 3cc/l air, k2 = perendaman dengan hormon organik (1cc/liter air) + pupuk organik cair (3cc/liter air), k3 = perendaman dengan hormon organik cair (3cc/liter air) + pupuk organik cair (3cc/liter air), k4 =  perendaman dengan hormon organik cair (5cc/liter air) + pupuk organik cair (3cc/liter air), k5= perendaman dengan hormon organik cair (7cc/liter air) + pupuk organik cair (3cc/liter air), k6= perendaman dengan hormon organik cair (9cc/liter air) + pupuk organik cair (3cc/liter air). Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah kecepatan bertunas, persentase hidup, panjang tunas, jumlah daun, diameter tunas dan volume akar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit stum mata tidur yang direndam dengan hormon organik cair (5cc/liter air) + pupuk organik cair (3cc/liter air) merupakan perlakuan terbaik untuk variabel persentase hidup yaitu sebesar 93,33%,  sedangkan untuk variabel yang lain, semua perlakuan memberikan pengaruh yang tidak nyata. Kata kunci: hormon organik, pupuk cair organik, stum mata tidur karet

Kajian Formulasi Mutan Trichoderma sebagai Kandidat Agens Pengendali Hayati Hawar Beludru Septobasidium pada Lada

Suswanto, Iman Suswanto

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.619 KB)

Abstract

Hawar beludru Septobasidium adalah penyakit utama di sentra lada Kalimantan Barat. Upaya pengendalian penyakit dengan Trichoderma spp. memberikan harapan besar. Trichoderma spp. memiliki keragaman yang tinggi, adaptif terhadap lingkungan ekstrim, mekanisme antagonis bekerja simultan antara antibiosis, hiperparasit dan kompetisi untuk beragam patogen. Media propagasi Trichoderma spp. juga mudah diperoleh dari lingkungan setempat. Penelitian ini bertujuan mengkaji isolat mutan T. harzinum sebagai bahan aktif biofungisida, pembuatan formulasi granuler, kemampuan bertahan dan efektifitas biofungisida di lapangan. Kegiatan meliputi perbanyakan mutan unggul Trichoderma spp isolat Th-E1002, serangkaian uji untuk konfirmasi kemampuan antagonis, degradasi kitin, sporulasi dan pertumbuhan miselium. Pembuatan formulasi granular dengan bahan pembawa seperti tepung beras ketan, bawang putih dan lengkuas. Pengujian kualitas biofungisida melalui aplikasi di lapangan dan kelayakan selama masa penyimpanan. Hasil penelian menunjukkan agens hayati yang baik dapat diperoleh melalui seleksi yang mempertimbangkan berbagai cara kerja agens hayati baik berupa antibiosis, kompetisi maupun hiperparasit. Formulasi biofungisida granuler berbentuk keping berbahan aktif isolat mutan T. harzianum Th-1002 memiliki berat 5 gr, kepadatan konidia 3,5 x 106/keping dan viabilitas konidia mencapai 80%. Masa pakai terbaik dari biofungisida granuler dalam kantung plastik hanya mencapai 1 bulan. Dosis aplikasi 1 tablet/liter digunakan 2-3 kali mampu menghambat Septobsidum spp mencapai 70-80%. Kata kunci: hormon organik, pupuk cair organik, stum mata tidur karet. Kata kunci: biofungisida, hawar beludru, lada.

Preferensi dan Respons Fungsional Chelisoches morio terhadap Larva Brontispa longissima di Laboratorium Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak

Prasaja, Galih Yoga, Ramadha, Tris Haris, Syahputra, Edy

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.893 KB)

Abstract

Brontispa longissima (Coleoptera : Chrysomelidae) merupakan salah satu hama penting tanaman kelapa yang memerlukan pengendalian, salah satu pengendalian yang ramah lingkungan adalah dengan memanfaatkan predator Chelisoches morio (Dermaptera : Chelisochidae). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi preferensi C. morio terhadap instar larva B. longissima dan mengkaji respons fungsionalnya. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium BPTP Pontianak. Pengujian preferensi menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan dianalisis dengan anova. Pengujian respons fungsional dilakukan dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan dianalisis dengan regresi linier. Hasil uji preferensi menunjukkan bahwa C. morio memiliki preferensi tertinggi pada larva B. longissima instar 1 yaitu 10 ekor (100%), sedangkan preferensi C. morio terendah adalah pada larva instar 4 yaitu 2,25 ekor (22,5%). Hasil uji respons fungsional menunjukkan bahwa C. morio memiliki respons fungsional Holling tipe II {Ne = 0,820Nt/(1+0,024Nt)}. Namun respons fungsionalnya masih lemah  karena nilai R rendah yaitu 0,167. Kata Kunci : B. longissima, C. morio, preferensi, respons fungsional

Uji Penggunaan Asap Cair Tempurung Kelapa dalam Pengendalian Phytophthora sp. Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao secara In Vitro

Pangestu, Erna, Suswanto, Iman, Supriyanto, Supriyanto

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.119 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan jamur Phytophthora sp. dan pengaruhnya terhadap jumlah sporangium dan klamidospora. Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas perlakuan asap cair tempurung kelapa pada konsentrasi 0%, 0,02%, 0,043%, 0,085%, 0,17% dan 0,34%. Masing – masing perlakuan diulang sepuluh kali. Percobaan ini dilakukan secara in vitro pada medium agar yang telah dicampur dengan asap cair. Analisis statistik menunjukkan  LC50 dalam penelitian ini adalah sebesar 0,11%. konsentrasi di atas LC50 secara nyata menekan pembentukan sporangium dan klamidospora. Kata kunci : asap cair, busuk buah, kakao

Susunan Redaksi

ruliyansyah, agus

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.953 KB)

Abstract

Salam Sejahtera

ruliyansyah, agus

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 4, No 2 (2014): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Selain kelapa sawit dan karet, hasil perkebunan lada, kelapa dan kakao juga merupakan komoditas perkebunan utama bagi  Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Namun demikian, berbeda dengan kelapa sawit yang sebagian besar dikelola oleh perusahaan besar, lada dan kakao hampir semuanya dikelola oleh petani kecil dan bermodal terbatas. Salah satu faktor pembatas produksi lada dan kakao adalah keberadaan patogen. Penyakit Hawar beludru (velvet blight) , saat ini merupakan pembatas utama dalam mempertahankan produksi. Mengingat di daerah lain penyakit ini bukan merupakan penyakit penting, diperlukan kajian komprehensif untuk mengungkap mengapa di Kalbar penyakit ini berkembang luas dan dalam upaya  menemukan metode pengendaliannya. Demikian juga dengan penyakit busuk buah karena Phythopthora pada tanaman kakao. Dari tahun ke tahun,  penyakit tersebut merupakan faktor penghambat penting dalam peningkatan produksi sehingga tetap memerlukan berbagai kajian dalam pengendaliannya. Penemuan metode dan bahan yang murah serta praktis dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman pada dua komoditas perkebunan utama Kalbar tersebut akan merupakan sumbangan besar dalam upaya peningkatan produksi. Dalam Volume 4 Nomor 2 ini, kami terbitkan artikel yang berupa laporan penelitian tentang upaya pengendalian penyakit hawar beludru pada lada  dan  busuk buah kakao serta  pengendalian hayati hama  Brontispa pada kelapa. Sebagai artikel tambahan kami terbitkan hasil penelitian terbaru tentang pembibitan karet. Kami mengucapkan banyak terimakasih kepada para kontributor dan semua mitra bestari yang telah meluangkan waktu untuk penerbitan  edisi ini. Redaksi selalu menunggu hasil-hasil penelitian dan telaah terbaru tentang komoditas-komoditas perkebunan lainnya. Semoga bermanfaat.

UJI EFEKTIVITAS BEBERAPA JENIS ARANG AKTIF DAN TANAMAN AKUMULATOR LOGAM PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN EMAS

Raharjo, Dwi, Mustamir, Elly, Suryadi, Uray Edi

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 2 (2012): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.626 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas jenis arang aktif yang berasal dari bahan baku tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit dan sekam padi serta tanaman akumulator sawi hijau, sawi huma dan sawi pahit dalam menyerap logam berat Cu (Tembaga) dan Hg (Merkuri). Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dengan faktor jenis arang aktif dan faktor jenis sawi.  Faktor jenis arang aktif (A) terdiri dari: arang aktif sekam padi (a1), tempurung kelapa sawit  (a2) dan tempurung kelapa dalam (a3). Sedangkan sebagai faktor jenis sawi (S) adalah (s1) sawi huma (Brassica juncea), (s2) sawi pahit (Brassica juncea L) dan (s3) sawi hijau (Brassica rapa). Sehingga perlakuan penelitian sebanyak 27 perlakuan. Hasil yang diperoleh adalah arang aktif yang berasal dari bahan baku sekam padi menyerap Cu 6,95 ppm (setelah inkubasi), 4,85 ppm (tanah saat panen sawi), tempurung kelapa sawit menyerap Cu 7,08 ppm (setelah inkubasi), 4,77 ppm (tanah saat panen sawi), dan tempurung kelapa menyerap Cu 5,45 ppm (setelah inkubasi) sawi hijau lebih efektif menyerap logam berat Cu dan Hg yang terakumulasi ke daun tanaman masing-masing sebanyak 0,64 ppm dan 5,96 ppb, sawi huma menyerap Cu sebanyak 5,97 ppm (saat panen), 0,42 ppm (dalam akar) dan menyerap Hg sebanyak 16,64 ppb (saat panen), 6,64 ppb (dalam akar), sedangkan sawi pahit menyerap logam berat Cu sebanyak 4,67 ppm (saat panen), 0,53 ppm (dalam akar), Hg 14,19 (saat panen), 3,43 (dalam akar), tidak adanya interaksi antara jenis arang aktif dan tanaman akumulator dalam menyerap logam berat Hg dan Cu. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa arang aktif yang berasal dari bahan baku sekam padi dan tempurung kelapa sawit lebih efektif untuk menyerap logam berat Hg dan Cu, sawi hijau lebih efektif menyerap logam berat Cu dan Hg yang terakumulasi ke daun tanaman, sedangkan sawi huma dan sawi pahit lebih efektif menyerap logam berat Hg dan Cu yang tersimpan di akar tanaman, tidak adanya interaksi antara jenis arang aktif dan tanaman akumulator dalam menyerap logam berat Hg dan Cu. Kata kunci : Arang aktif, tanaman akumulator, Cu, Hg, dan sawi

PENGARUH KUALITAS BAHAN ORGANIK DAN KESUBURAN TANAH TERHADAP MINERALISASI NITROGEN DAN SERAPAN N OLEH TANAMAN UBIKAYU DI ULTISOL

Wijanarko, Andy, Purwanto, Benito Heru, Shiddieq, Dja’far, Indradewa, Didik

Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika Vol 2, No 2 (2012): PERKEBUNAN DAN LAHAN TROPIKA
Publisher : Jurnal Perkebunan dan Lahan Tropika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.199 KB)

Abstract

Bahan organik tanah sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah dan produksi biomassa tanaman.  Kualitas bahan organik merupakan salah satu kunci dalam menjaga kelestarian tanah, tanaman dan lingkungan.  Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh kualitas bahan organik dan kesuburan tanah terhadap mineralisasi N. Untuk mengestimasi parameter mineralisasi N (potensial mineralisasi N (N0), laju mineralisasi (k), energi aktivasi (Ea) dan N0k) dilakukan percobaan inkubasi di laboratorium, menggunakan persamaan first order.  Sedangkan hubungan antara parameter mineralisasi dengan serapan hara N, dilakukan dengan melakukan percobaan pot di rumah kaca. Nilai N0, k dan Ea berturut-turut adalah 400 – 1156 mg kg-1, 0,0056 – 0,098 per minggu dan 10166 – 31478 J mol-1. Parameter mineralisasi N berkorelasi positif dengan N larut air, N-POM, Mikrobiomassa N, C-POM, Mikrobiomassa C, N-total dan nisbah C/N serta berkorelasi positif dengan berat kering tanaman, konsentrasi N dan serapan N tanaman ubikayu.  Bahan organik yang mempunyai nisbah C:N rendah dan tanah yang mempunyai tingkat kesuburan yang lebih tinggi mempunyai mineralisasi N yang lebih tinggi, yang ditunjukkan dengan nilai N0, k dan N0.k yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan organik dengan nisbah C:N tinggi dan kesuburan tanah yang rendah.   Kata kunci :  kualitas bahan organik, kesuburan tanah, mineralisasi N, serapan N