cover
Contact Name
Laili Fitria
Contact Email
fitria.laili@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.lahanbasah@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah
ISSN : 26222884     EISSN : -     DOI : -
Penyediaan air bersih, penyaluran dan pengolahan air buangan, drainase dan pengolahan limbah cair, pengolahan limbah padat (persampahan), pengendalian pencemaran udara, pengelolaan buangan industri dan B3, pengelolaan lingkungan (analisis dampak), konservasi lingkungan, pengendalian pencemaran air dan tanah, kesehatan dan sanitasi lingkungan, dan keselamatan dan kesehatan kerja, pengendalian pencemaran di lahan basah.
Arjuna Subject : -
Articles 162 Documents
ANALISIS PERSEBARAN KEBISINGAN DI AREA PT. PLN (PERSERO) WILAYAH KALIMANTAN BARAT KABUPATEN KUBU RAYA DENGAN METODE NOISE MAPPING Rizannur, Syarif Mohamad
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 4, No 1 (2016): Jurnal 2016
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.128 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v4i1.13920

Abstract

ABSTRAK Kebisingan merupakan gangguan yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan terutama yang berasal dari kegiatan operasional peralatan pabrik. Mesin memiliki kebisingan dengan suara berkekuatan tinggi. Dampak negatif yang ditimbulkannya adalah kebisingan yang berbahaya bagi karyawan. Kondisi ini dapat mengakibatkan berkurangnya pendengaran atau dapat mengakibatkan ketulian. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sumber kebisingan yang tertinggi pada daerah PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat Kabupaten Kubu Raya. Penelitian dilakukan selama dua hari dengan pengulangan pengukuran. Pengukuran dimulai malam hari di 6 titik sumber bunyi. Titik sumber bunyi tersebut adalah PLTD, ADAU, Sewatama 1, Sewatama 2, Sewatama 3A dan Sewatama 3B. Pengambilan titik pengukuran setiap jarak 10 meter menurut 4 arah mata angin. Tingkat kebisingan tertinggi terdapat pada titik sumber bunyi Sewatama 1 dengan nilai kebisingan sebesar 110,2 dB. Dengan nilai kebisingan sebesar 110,2 dB ini perlu dilakukannya upaya dalam mengurangi dampak kebisingan dengan memperbanyak penanaman vegetasi seperti pohon yang berdaun lebar atau dapat juga menanam pohon bambu yang dapat meredam kebisingan serta membuat rumah mesin menjadi ruangan tertutup.   Kata Kunci : Kebisingan, Noise Mapping, Sumber Bunyi
ANALISIS PENGARUH TINGKAT VOLUME DAN JENIS KENDARAAN TERHADAP KONSENTRASI PARTICULATE MATTER (PM10) (STUDI KASUS: JL. SUTAN SYAHRIR, JL. AHMAD YANI DAN JL. KOM. YOS. SUDARSO KOTA PONTIANAK) Maulana, Ridwan
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.216 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.7165

Abstract

ABSTRAK Perkembangan Kota Pontianak yang semakin pesat, ditambah dengan perkembangan penduduk yang semakin meningkat, telah membuat sistem transportasi jalan raya mengalami tingkat kompleksitas yang tinggi , salah satu dampak yang ditimbulkan adalah pencemaran udara perkotaan. Particulate Matter (PM10) merupakan salah satu bentuk zat pencemar yang disebabkan oleh sektor transportasi tersebutserta dapat menyebabkan gangguan kesehatan khususnya pada sistem pernapasan. Oleh sebab itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat konsentrasi partikulat udara (Particulate Matter (PM10)) khususnya di Jalan Sutan Syahrir, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Kom. Yos. Sudarso Jeruju Kota Pontianak. Ketiga lokasi penelitian tersebut dipilih untuk mewakili peruntukkan tata guna lahan yang berbeda yaitu Jalan Sutan Syahrir berlokasi di pinggiran kota, Jalan Jend. Ahmad Yani berlokasi di tengah kota, dan Jalan Kom. Yos. Sudarso Jeruju yang berlokasi di kawasan industri. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang didapat dari BLHD Provinsi Kalbar yaitu data volume kendaraan yang melintas pada ketiga jalan tersebut. Jenis-jenis kendaraan dibagi menjadi 4 golongan yaitu golongan 1 (sepeda motor), golongan 2 (sedan, angkot, pickup), golongan 3 (bis mikro, bis), golongan 4 (truck 2 as 4 roda, truck 2 as 6 roda, truck 3 as, truk 4 as, trailer).Metode penelitian yang digunakan terbagi menjadi 2 bagian, yaitu perhitungan (perhitungan beban laju emisi transportasi dan konsentrasi Particulate Matter (PM10) dengan rumus dispersi Gaussian untuk Line Source serta analisis korelasi data untuk memperoleh hubungan antara jumlah kendaraan dengan konsentrasi Particulate Matter (PM10) menggunakan aplikasi SPSS 16. Dari hasil analisis, bahwa jenis kendaraan golongan 1 memiliki kontribusi yang paling besar terhadap konsentrasi Particulate Matter (PM10) yaitu dengan konsentrasi terbesar yaitu 901425,466 dimana nilai konsentrasi tersebut melebihi Ambang Batas Baku Mutu Udara Ambien Nasional yaitu 150 , hal ini dikarenakan sepeda motor memiliki jumlah yang paling banyak apabila dibandingkan dengan kendaraan lain di ketiga jalan tersebut. Kendaraan golongan 2 memiliki jumlah terbanyak kedua diikuti dengan golongan 4 dan 3. Maka dapat disimpulkan bahwa jumlah kendaraan total memang mempengaruhi konsentrasi Particulate Matter (PM10) pada Jalan Sutan Syahrir, Jalan Jend. Ahmad Yani dan Jalan Kom. Yos Sudarso dilihat dari hasil korelasinya yang mendekati nilai 1 (positif kuat) yaitu 0,963 dengan menggunakan aplikasi SPSS 16. Kata Kunci :Particulate Matter (PM10), Golongan Kendaraan, Korelasi.
PEMETAAN KEBISINGAN PADA KAWASAN PENDIDIKAN AKIBAT TRANSPORTASI DI AREA ZOSS (ZONA SELAMAT SEKOLAH) DI KOTA PONTIANAK Supriyatno, Ade
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 5, No 1 (2017): JURNAL 2017
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.692 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v5i1.21200

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan pada kawasan sekolah kota Pontianak yaitu SDN 17, TK Pertiwi dan SMPN 9 kota Pontianak yang memiliki ZoSS (Zona Selamat Sekolah) yang dibangun pada tahun 2015. Berdasarkan Pada pasal 31 Perda No 2 Tahun 2013 tentang RTRW 2013-2033 di sebutkan bahwa kawasan peruntukan pelayanan umum yaitu kawasan pendidikan seharusnya berada di jalan Ampera di kelurahan Sungai Jawi kecamatan Pontianak kota. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan yang terjadi di lokasi sesungguhnya, dimana lokasi sekolah yang masih berada di kawasan yang bukan di peruntukan khusus untuk sekolah. SDN 17 berlokasi di Jalan Putri Candramidi kota pontianak, TK Pertiwi berlokasi di jalan K.H A. Dahlan, dan SMPN 9 berlokasi di jalan Pengeran Natakusuma dimana ketiga jalan termasuk daerah yang cukup padat transportasinya di kota Pontianak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kebisingan, memetakan sebaran tingkat kebisingan, dan membuat upaya penanggulangan akibat tingkat kebisingan di masing-masing lokasi. Penentuan titik pengukuran dilakukan pada aplikasi google earth, yang kemudian pada saat di lapangan titik koordinatnya diambil menggunakan aplikasi GPS. Pengukuran tingkat kebisingan pada penelitian dengan menggunakan alat Sound Level Meter. Pengukuran dilakukan selama 10 menit pada setiap titik, dan data yang diperoleh adalah data tingkat kebisingan dengan mengacu pada SNI 7231:2009. Pemetaan sebaran tingkat kebisingan menggunakan aplikasi  surfer 11. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tingkat kebisingan di SDN 17, TK Pertiwi dan SMPN 9 kota Pontianak melebihi baku mutu ambang batas kebisingan untuk kawasan pendidikan dalam hal ini sekolah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor KEP.48/MENLH/11/1996 yaitu sebesar 55 dB. Berdasarkan hasil penelitian bahwa nilai tingkat kebisingan tertinggi adalah 72,8 dBdenganjarakbangunansekolahterhadapjalanraya 13 m, yaitu pada SDN 17 kota Pontianak. Tingkat kebisingan terendah terdapat pada SMPN 9 kota Pontianak yaitu dengan nilai kebisingan 52,3 dBdenganjarakbangunansekolahterhadapjalanraya 40 m. Peta sebaran tingkat kebisingan di kawasan pendidikan kota pontianak dominan berwarna kuning dan merah, yang artinya tingkat kebisingan di area sekolah rata-rata di antara 60-70 dB. Upaya untuk meminimalisir kebisingan dari aktivitas transportasi di Pontianak yaitu membuat BPB dapat berupa penghalang alami (natural barrier) dan penghalang buatan (artificial barrier), Menmbahkan tanaman yang dapat meredam bising. Serta untuk pemerintah kota bisa membuat kebijakan mengenai pemakaian moda transportasi umum. Kata Kunci :Zoss, sekolah, surfer 11, pemetaan kebisingan
ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) BERDASARKAN SERAPAN GAS CO2 DI KOTA PONTIANAK Agus Ruliyansyah, Yulisa Fitrianingsih, Lubena Hajar Velayati
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (646.519 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.2105

Abstract

ABSTRAKPeningkatan jumlah penduduk Kota Pontianak berdampak pada pengalihfungsian lahanbervegetasi menjadi area terbangun sehingga mengurangi luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota.Dampak yang paling nyata adalah berkurangnya kemampuan vegetasi menyerap CO2 sehingga CO2 yang dihasilkan dari aktivitas kota, baik dari konsumsi energi, perternakan, pertanian danaktivitas manusia terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menghitung luaspenutupan lahan bervegetasi eksisting; (2) menghitung jumlah emisi karbondioksida yangdihasilkan oleh aktivitas kota saat ini; (3) menghitung luas RTH yang dibutuhkan untuk menyerapsisa emisi karbondioksida yang tidak terserap oleh tutupan lahan yang ada di Kota Pontianak.Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah interpretasi citra Landsat TM 7 tahun 2012dan Ikonos tahun 2008. Sedangkan untuk perhitungan emisi CO2 mengacu pada metode yangdikeluarkan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 1996 mengenaiGuidelines for National Greenhouse Gas Inventories Workbook. Hasil penelitian menunjukkanbahwa luas tutupan lahan bervegetasi eksisting Kota Pontianak tahun 2012 adalah 3.351,21 haatau 29% dari luas total wilayah Kota Pontianak. Emisi CO2 yang dihasilkan Kota Pontianak darienergi (bahan bakar) sebesar 1.713.909 ton/tahun, ternak dengan jumlah emisi 284 ton/tahun,pertanian dengan jumlah emisi 10.692 ton/tahun, dan penduduk dengan jumlah emisi 192.824ton/tahun. Total emisi CO2 dari keempat sumber tersebut adalah 1.917.709 ton/tahun. Tingginyatingkat emisi CO2 yang terdapat di Kota Pontianak menyebabkan wilayah ini membutuhkanluasan RTH sebesar 5.962,2 ha atau sebesar 52% dari luas wilayah kota untuk menyerap seluruhemisi CO2 yang dihasilkan.Kata Kunci: Karbondioksida, Pontianak, ruang terbuka hijau
PENGOLAHAN AIR TANAH DENGAN SISTEM MULTIFILTRASI MENGGUNAKAN CANGKANG KERANG, ZEOLIT DAN KARBON AKTIF Fajarwati, Inanda
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.04 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.9917

Abstract

ABSTRAK Air tanah dangkal yang berasal dari peresapan air permukaan mengandung banyak komponen yang terlarut ketika air elewati lapisan tanah seperti besi dan zat organic yang menyebabkan air menjadi berasa, berbau dan berwarna. Berdasarkan hal tersebut, maka air tanah perlu diolah terlebih dahulu. Salah satu pengolahan air yang dapat digunakan adalah dengan sistem multifiltrasi (filtrasi bertingkat) dengan menggunakan media filter cangkang kerang yang berasal dari kerang darah (Anadara granosa), zeolit dan karbon aktif. Ketebalan media filter merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses filtrasi sehingga diperlukan penelitian untuk mencari ketebalan masing-masing media filter yang sesuai. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan variasi ketebalan ketiga media filter, yakni cangkang kerang, zeolit dan karbon aktif guna mendapatkan efektivitas pengolahan yang paling maksimum. Pengujian dilakukan bertahap dimulai dari optimasi ketebalan media filter cangkang kerang, zeolit dan terakhir karbon aktif. Optimasi ketebalan media filter dilakukan dengan melakukan variasi ketebalan terhadap salah satu jenis media filter sedangkan ketebalan kedua media filter lainnya tetap. Pengolahan air dilakukan menggunakan suatu rangkaian alat yang terdiri atas tiga pipa galvanis dengan diameter 3 inchi dan ketinggian 70 cm. Debit aliran sebagai variabel tetap adalah 1,25 l/menit, variasi ketebalan media filter sebagai variabel bebas adalah 25, 35 dan 45 cm, serta parameter kualitas air sebagai variabel terikat meliputi pH, besi, zat organik dan warna. Efektivitas maksimum pengolahan air gambut berdasarkan hasil optimasi ketebalan media filter ialah pada variasi ketebalan media filter cangkang kerang 35 cm, zeolit 45 cm dan karbon aktif 45 cm dengan kenaikan pH dari 5,19 menjadi 9,33, penurunan kadar besi sebesar 59,64% dari 3,03 mg/l menjadi 1,22 mg/l, penurunan kadar zat organik sebesar 62,22% dari 113,76 mg/l menjadi 42,98 mg/l serta penurunan kadar warna dalam air sebesar 35,61% dari 50,32 menjadi 32,40 Pt-Co.   Kata-kata kunci : air tanah, cangkang kerang, karbon aktif, multifiltrasi, zeolit
POTENSI AIR TANAH BEBAS DI DAERAH KECAMATAN PONTIANAK SELATAN (STUDI KASUS JALAN SELAYAR – JALAN HARAPAN JAYA) Isna Apriani, Nopita Marsudi
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 2, No 1 (2014): Jurnal 2014
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtllb.v2i1.7288

Abstract

ABSTRAK Kelurahan Kota Baru Kecamatan Pontianak Selatan di jalan Selayar sampai jalan Harapan Jaya sebagai lokasi penelitian merupakan daerah pemukiman serta perdagangan yang sering mengalami kekurangan air terutama pada musim kemarau.Daerah tersebut sebenarnya sudah terjangkau oleh jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) namun jumlah air masih terbatas dan kualitas yang masih kurang baik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan air baku adalah dengan memanfaatkan sumber air tanah dangkal sebagai sumber air baku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi air tanah bebas di Jalan Selayar – Jalan Harapan Jaya, untuk mengetahui pola aliran air tanahnya dan untuk mengetahui pola sebaran pencemaran air tanah.Tahap penelitian dimulai penentuan titik sampel yang berada di 12 titik sumur untuk pengukuran tinggi muka air, sedangkan uji kualitas air diambil 4 sumur ,penentuan titik lokasi dilihat berdasarkan tata guna lahan serta aktivitas yang berlangsung disekitar sumur dan data sekunder yaitu data tofografi. Pengambilan sampel air saat kemarau (3 Februari 2014) dan setelah hujan  (1 Maret 2014) serta pengujian kualitas air untuk parameter TSS, TDS, pH, Besi, BOD, dan Sulfat yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Berdasarkan perhitungan debit menurut Kepmen Energi dan SDM No.1451/10/MEM/2002 di daerah penelitian berpotensi kecil karena debit air < 2 l/detik yaitu 0,0073 l/detik saat kemarau dan 0,0088 l/detik setelah hujan. Untuk kualitas air sumur di Jalan Selayar – Jalan Harapan Jaya untuk parameter TSS, TDS, pH, dan Sulfat memenuhi standar baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001 air kelas I. Sedangkan parameter BOD dan besi (Fe) melebihi standar baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001 air kelas I yaitu air yang peruntukannnya dapat digunakan untuk air baku air minum atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama untuk peruntukan tersebut. Untuk arah aliran air tanah air mengalir dari arah selatan menuju arah utara yang akan bermuara di Sungai Kapuas dan pola sebaran pencemaran air tanah tidak merata karena dipengaruhi oleh sanitasi yang kurang baik namun tetap mengikuti arah aliran air tanah Kata - kata Kunci : Air Tanah, Potensi Air Tanah, Pola Sebaran Pencemaran
IDENTIFIKASI KUALITAS AIR TANAH DANGKAL DI SEKITAR TPA SUNGAI RAYA Septia, Windry Cinde
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.637 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v6i1.25317

Abstract

ABSTRAKSalah satu dampak yang dihasilkan dari aktivitas di TPA adalah air lindi. Lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari dekomposisi sampah yang bercampur dengan air hujan. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sungai Raya terletak di Desa Kuala Dua Kabupaten Kubu Raya. TPA Sungai Raya beroperasi dengan sistem open dumping. Open Dumping merupakan pengelolaan sampah dengan cara membiarkan sampah dan ditumpuk pada suatu lapangan terbuka Sistem ini dapat memberikan dampak terhadap lingkungan, salah satunya pencemaran air yang disebabkan oleh air lindi yang tidak terkelola dengan baik. Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengidentifikasi kualitas air tanah di sekitar TPA dan untuk mengetahui pengaruh jarak TPA terhadap kualitas air di sekitar TPA Sungai Raya. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 wilayah disekitar TPA yaitu wilayah A sebanyak 6 titik sampel, wilayah B sebanyak 6 titik sampel dan wilayah C sebanyak 6 titik sampel. Total titik sampel yang digunakan sebanyak 18 titik dengan masing-masing jarak 10 meter tiap antar titik. Metode yang digunakan yaitu melalui pendekatan observasi, analisis hasil laboratorium dan uji statistik dengan minitab (Uji Mann Whitney). Standar baku mutu air yang digunakan yaitu standar baku mutu air kelas II PP No.82 Tahun 2001 yang diperuntukkan untuk kegiatan MCK (Mandi,cuci,kakus). Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa pada wilayah A nilai konsentrasi tertinggi berada pada titik A1 yang merupakan titik terdekat dengan tumpukkan sampah pada TPA yaitu dengan nilai konsentrasi COD, Pb Cd dan total coliform berturut-turut sebesar  718,7 mg/l; 0,03 mg/l; 0,04 mg/l; dan 4300 MPN/100ml, sedangkan nilai konsentrasi terendah berada pada titik A6 yang merupakan titik dengan jarak 50 meter dari titik A1 dengan nilai konsentrasi COD, Pb Cd dan total coliform berturut-turut sebesar  114,5 mg/l; 0,01 mg/l; 0,000 mg/l; dan 2850 MPN/100 ml. Pada wilayah B nilai kosentrasi tertinggi berada pada titik B1 yang merupakan titik terdekat dengan tumpukkan sampah pada TPA dengan nilai konsentrasi COD, Pb Cd dan total coliform berturut-turut sebesar  699,0 mg/l; 0,03 mg/l; 0,02 mg/l; dan 3750 MPN/100ml, sedangkan nilai konsentrasi terendah berada pada titik B6 yang merupakan titik dengan jarak 50 meter dari titik B1 dengan nilai konsentrasi COD, Pb Cd dan total coliform berturut-turut sebesar  62,5 mg/l; 0,00 mg/l; 0,000 mg/l; dan 2650 MPN/100 ml. Wilayah C nilai kosentrasi tertinggi berada pada titik C1 yang merupakan titik terdekat dengan tumpukkan sampah pada TPA dengan nilai konsentrasi COD, Pb Cd dan total coliform berturut-turut sebesar  700,3 mg/l; 0,03 mg/l; 0,03 mg/l; dan 4950 MPN/100ml, sedangkan nilai konsentrasi terendah berada pada titik C6 yang merupakan titik dengan jarak 50 meter dari titik C1 dengan nilai konsentrasi COD, Pb Cd dan total coliform berturut-turut sebesar  125,2 mg/l; 0,01 mg/l; 0,000 mg/l; dan 3800 MPN/100 ml. Nilai konsentrasi rata-rata COD dan total coliform pada tiap titik berada di atas baku mutu air kelas II PP No.82 Tahun 2001, sedangkan nilai konsentrasi rata-rata Pb berada dibawah ambang batas baku mutu air kelas II PP No.82 Tahun 2001 dan nilai CD pada titik yang berada didalam TPA berada di atas ambang batas baku mutu air kelas II PP No.82 Tahun 2001, serta nilai Cd yang berada diluar TPA  bernilai dibawah ambang batas baku mutu air kelas II PP No.82 Tahun 2001. Hasil uji statistik Mann Whitney menunjukkan nilai signifikan > 0,05. Angka tersebut mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (signifikan) antara jarak TPA terhadap kualitas air tanah dangkal di sekitar TPA Sungai Raya. Berdasarkan hasil analisis, terdapat pengaruh jarak TPA terhadap kualitas air tanah dangkal disekitar TPA Sungai Raya, yang ditunjukkan dengan semakin jauh dari TPA, nilai kualitas air tanah dangkal semakin membaik.Kata Kunci :Air Lindi, Kualitas air tanah dangkal, TPA
EKSPLORASI TANAMAN FITOREMEDIATOR ALUMINIUM (Al) YANG DITUMBUHKAN PADA LIMBAH IPA PDAM TIRTA KHATULISTIWA KOTA PONTIANAK SANTRIYANA, DERY DIAH
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 1, No 1 (2013): Jurnal 2013
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.791 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v1i1.3655

Abstract

Pembuangan limbah Instalasi Pengolahan Air Minum yang dilakukan secara terus-menerus ke badan air tanpa adanya upaya pengolahan terlebih dahulu dapat memicu menurunnya kualitas badan air. Limbah proses instalasi pengolahan air minum ini berpotensi sebagai pencemar karena banyaknya kandungan Aluminium (Al) dari limbah yang dibuang setiap harinya. Penelitian kajian pemanfaatan tumbuhan air sebagai pengendali limbah cair, dikenal dengan proses fitoremediasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas dari tanaman penyerap logam (Eceng gondok, Genjer dan Melati air) melalui proses fitoremediasi dalam menurunkan kandungan Al pada limbah instalasi pengolahan air minum PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak. Pengambilan sampel limbah dilakukan langsung pada pipa buangan IPAM PDAM Kota Pontianak, kemudian dilakukan pengukuran kandungan logam Al tahap awal (sebelum proses fitoremediasi). Selanjutnya dilakukan proses penanaman tanaman penyerap logam selama 70 hari dan kemudian dilakukan pengukuran kandungan Al tahap akhir untuk mengetahui efektivitas tanaman dalam menyerap logam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Al pada limbah dari instalasi pengolahan air minum Kota Pontianak melebihi batas yaitu sebesar 314,74 mg/l. Tingkat efektivitas yang dihasilkan oleh masing-masing tanaman penyerap logam yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 96,46% untuk tanaman melati air, 80,21% untuk tanaman eceng gondok dan 94,65% untuk tanaman genjer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman melati air merupakan tanaman terbaik dalam menyerap logam Al pada limbah yang dihasilkan oleh instalasi pengolahan air minum PDAM Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak.
STUDI ALAT DESTILASI SEDERHANA BENTUK PIRAMID UNTUK PENGOLAHAN AIR LAUT MENJADI AIR BERSIH Yulisa Fitrianingsih, Rizki Ramadhani Nashrullah
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 3, No 1 (2015): JURNAL 2015
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.456 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v3i1.12840

Abstract

ABSTRAK Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi manusia dan mahluk hidup lainnya. Tidak semua daerah mempunyai sumber daya air bersih yang baik. Di Kalimantan Barat khususnya di Kota Pontianak krisis air bersih terjadi akibat tecemarnya sumber air baku, karakteristik tanah daerah Kota Pontianak yang sebagian berupa tanah gambut dan juga akibat intrupsi air laut. Berangkat dari masalah tersebut maka perlu dilakukan suatu penelitian untuk mencari alternatif pengolahan air, yaitu dengan proses destilasi atau penyulingan air. Teknologi destilasi merupakan pemisahan komponen suatu bahan berdasarkan perbedaan titik didih dengan memanfaatkan energi panas.  Sejumlah volume air dengan variasi volume yang berbeda dilewatkan ke dalam sebuah alat destilasi sederhana berbentuk piramid. Variasi volume tersebut yaitu 1000 ml, 1500 ml dan 2000 ml dengan masing-masing volume dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali percobaan. Pada penelitian ini digunakan sumber air baku air laut yang diambil dari Pantai Samudera Indah Kabupaten Bengkayang. Dari hasil penelitian diperoleh volume sampel air dengan efisiensi paling tinggi yaitu 1000 ml dengan efisiensi pengolahan air sebesar 37%. Pada penelitian tersebut tercatat suhu  lingkungan penelitian adalah sebesar 38°C dansuhu di dalam alat sebesar 88°C. Sedangkan berdasarkan parameter kimia yaitu pengujian kadar Klorida (Cl) mengalami penurunan dari 19.850 mg/l menjadi rata-rata 15,97 mg/l, Magnesium (Mg) dari 2,06 mg/l menjadi rata-rata 1,60 mg/l, Sulfat (SO4) dari 3700 mg/l menjadi rata-rata 33,67 mg/l, Natrium (Na) dari 11.748,25 mg/l menjadi rata-rata 63,95 mg/l. Secara keseluruhan kualitas air hasil proses destilasi ini sudah memenuhi standar baku mutu yang diperbolehkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia  No. 492 tahun 2010 tentang air minum. Kata Kunci : destilasi, pengolahan air laut, salinitas, suhu (°c)
PENGARUH PASANG SURUT TERHADAP SEBARAN SALINITAS DI SUNGAI KAPUAS KECIL Purnaini, Rizki; Sudarmadji, Sudarmadji; Purwono, Suryo
Jurnal Teknologi Lingkungan Lahan Basah Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.808 KB) | DOI: 10.26418/jtllb.v6i2.30239

Abstract

Sungai Kapuas Kecil sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut, pada musim kemarau intrusi air permukaan sering menjadi masalah bagi PDAM karena menjadi penyebab berubahnya kualitas air baku yang akan diolah. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji pengaruh pasang surut terhadap sebaran salinitas di sungai Kapuas Kecil pada musim kemarau. Penelitian dilakukan di Sungai Kapuas Kecil bagian hilir sepanjang ± 30 km dari batas hulu lokasi penelitian sampai ke muara. Pengambilan sampel air dilakukan pada musim kemarau saat kondisi pasang dan surut di 7 (tujuh) lokasi stasiun pemantauan. Metode penelitian yang digunakan adalah survey lapangan; pengambilan sampel air dan analisis insitu dan eksitu; membuat grafik sebaran salinitas dan menentukan tipe estuari; dan metode statistik regresi-korelasi untuk mengetahui pengaruh pasang surut terhadap kualitas air di Sungai Kapuas Kecil. Hasil penelitian sebaran salinitas secara horizontal di Sungai Kapuas Kecil dari hulu ke hilir cenderung terus meningkat pada saat pasang dengan jarak jangkauan air laut mencapai ± 20 km ke arah hulu sungai dengan nilai salinitas berkisar 1,5 ppt. Sebaran salinitas secara vertikal pada 3 lapisan kedalaman menunjukkan peningkatan salinitas dari lapisan permukaan menuju dasar perairan. Berdasarkan struktur salinitasnya tipe estuari Sungai Kapuas Kecil adalah “tercampur sebagian”. Hasil analisis regresi linier berganda didapatkan nilai koefisien determinasi (adjusted R square) = 0,760, yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa pasang surut dan jarak berpengaruh terhadap kualitas air (nilai TDS) sebesar 76 %.

Page 1 of 17 | Total Record : 162