cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Majalah Kesehatan Pharmamedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
-
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol.2 No.1 2010" : 5 Documents clear
Aspek Klinis Gonadotropin Inhibiting Hormone (GnIH) Pada Reproduksi Pria Arjadi, Fitranto
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol.2 No.1 2010
Publisher : Majalah Kesehatan Pharmamedika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aksis hipotalamus-hipofisis-testis (HHT) sudah diketahui diatur oleh gonadotropin releasing hormone (GnRH) dan mekanisme umpan balik melalui testosteron dan inhibin. Penemuan adanya neuropeptida hipotalamus baru sebagai faktor penghambat pengeluaran gonadotropin, gonadotropin inhibiting hormone (GnIH) menimbulkan perubahan baru dalam aksis HHT.  Ekspresi GnIH pada otak nukleus paraventrikuler (PVN), nukleus dorsomedial  hipotalamus (DMH), diencefalon, mesencephalon, ventral paleostriatum, area septalis, area preoptik,  tectum opticus dan motor dorsalis nucleus vagus,  hipofisis dan testis( sel interstisial Leydig, sel Sertoli dan spermatogonia)  menunjukkan GnIH merupakan mediator penting dalam fungsi reproduksi, mengatur sistem otonom dan perilaku. Pengaruh GnIH terhadap fungsi reproduksi pria dapat melalui hambatan langsung sintesis dan pengeluaran gonadotropin pada kelenjar hipofisis,  menurunkan aktivitas neuron GnRH dan aksi langsung ke testis. Neuropeptida  GnIH  diatur oleh melatonin dan stress sebagai faktor luar sehingga reproduksi pada pria perlu juga memperhatikan pengaruh lingkungan dan interaksi sosial manusianya.Kata kunci : klinis, gonadotropin inhibiting hormone (GnIH), reproduksi pria 
Human Leucocyte Antigen-G (HLA-G) dan Peranannya dalam Reproduksi S, Agi Harliani
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol.2 No.1 2010
Publisher : Majalah Kesehatan Pharmamedika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human Leucocyte Antigen (HLA) adalah antigen yang diproduksi oleh gen HLA di kromosom 6 rantai pendek di lokasi p21 (6p21). Dalam kompleks gen HLA ini terdapat gen HLA kelas I, kelas II, dan kelas III. Gen yang menyandi molekul HLA adalah gen HLA kelas I dan II. Molekul HLA-G diproduksi oleh gen HLA-G di kompleks gen HLA kelas I. Gen HLA-G  memproduksi molekul HLA-G1, -G2, -G3, -G4, -G5, -G6, -G7. Molekul HLA-G1, -G2, -G3, -G4 merupakan antigen terikat pada permukaan membran sel (membrane-bound), sedangkan HLA-G5, -G6, -G7 merupakan antigen yang larut atau soluble HLA-G (sHLA-G). Molekul HLA-G diekspresikan oleh extravillous cytotrophoblast, cytokine activated monocytes, sel kelenjar thymus, dan beberapa sel tumor.  Molekul sHLA-G didapatkan dalam cairan amnion dan bagian supernatan media kultur embrio. Ekspresi HLA-G pada extravillous trophoblast menimbulkan pemikiran bahwa molekul HLA-G mempunyai peranan dalam menghindarkan embrio dari sistem imun maternal. Laporan tentang mRNA dan protein pada embrio serta adanya molekul sHLA-G pada bagian supernatan dari kultur embrio manusia yang diperoleh dari IVF, membuahkan pemikiran tentang HLA-G sebagai salah satu parameter untuk memprediksi keberhasilan teknologi reproduksi berbantu. Penelitian pada kehamilan normal menunjukkan bahwa HLA-G menginhibisi aktivitas limfosit T sitotoksik dan sel NK di endometrium, serta menimbulkan toleransi dari sel dendritik terhadap embrio. Penelitian pada teknologi berbantu belum dapat merumuskan peranan HLA-G karena banyak hal yang masih belum terformulasi dengan baik antara lain media kultur, saat pemeriksaan, antibodi yang digunakan, protokol laboratorium, dan hal lain  yang masih diperlukan penelitian lebih lanjut
Karakterisasi dan Digitalisasi Frekuensi Signal EEG Penderita Epilepsi Genisa, Maya; Zulhamidah, Yeni; Syam, Edward
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol.2 No.1 2010
Publisher : Majalah Kesehatan Pharmamedika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakteristik rekaman EEG untuk mengidentifikasi penyakit epilepsi, dengan membedakan karakteristik orang normal dengan pasien epilepsi melalui analisis frekuensi. Metoda yang digunakan untuk menganalisis frekuensi yaitu metoda Fast Fourier Transform (FFT) yang dikembangkan dalam bahasa program Matlab. Rekaman EEG didigitasi menggunakan software Windig dengan frekuensi cut off yang dipakai adalah 100 Hz. Interpretasi analisis frekuensi dilakukan secara kualitatif untuk setiap pasien untuk mencari pembeda karakteristik masing-masing. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil rekaman data dari RSI Pondok Kopi sebanyak dua data pasien dan RSIJ Cempaka Putih sebanyak 6 buah data pasien. Data yang dipilih adalah data dimana pasien mempunyai riwayat yang menunjukkan gejala epilepsi dengan tidak membedakan umur dan jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik antara pasien epilepsi dengan orang normal.
Curcumin Analogue (Pentagamavunone-0) Induces Luteal Cell Apoptosis by Increased Bax/Bcl-2 Protein Ratio Hadi, Restu Syamsul; Soejono, Sri Kadarsih
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol.2 No.1 2010
Publisher : Majalah Kesehatan Pharmamedika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The present study was conducted to investigate the role of curcumin analoguePentagamavunone-0 (PGV-0) of luteal cell function in apoptosis by examined Bcl-2 and Baxprotein expressions. Corpora lutea of rat Sprague-Dawley at 28 days of age after induced by10 IU pregnant mare’s serum gonadotropin (PMSG) were dispersed enzimatically bycollagenase. Isolated luteal cells were seeded in 24 well culture plates containing minimalessential medium (MEM) and fetal bovine serum (FBS) until cell had grown to confluence.PGV-0 (400 μM) was immediately treated after they were stimulated by luteinizing hormone(LH), prostaglandin-F2 (PGF2) and LH+PGF2. All these treatments were incubated for 24hours. Apoptotic luteal cells were analyzed for DNA break by terminal deoxy-nucleotidyltransferase mediated dUTP-biotin nick end labeling (TUNEL) assay. To examine of Bcl-2 andBax protein expression, sample of plated luteal cells on coverslip were stained byimmunocytochemical method. The administration of PGV-0 and/or PGF2α induced lutealcells apoptosis. LH (50 ng/ml) decreases Bax protein expression and inhibits PGV-0-inducedluteal cell apoptosis by decresed Bax/Bcl-2 protein ratio. Treatment of PGV-0 (400 μM)decreased Bcl-2 protein expression, increased Bax protein expression, increased Bax/Bcl-2protein ratio and induced apoptotic luteal cells. It was concluded that PGV-0 induces lutealcells apoptosis by increased Bax/Bcl-2 protein ratio and decreased apoptotic inhibition by LH.Keywords : curcumin, PGV-0, Bcl-2, Bax, apoptosis, luteal cell
Effect of Grape (Vitis vinifera L.) Seed on Reducing Serum Uric Acid Level in Gout-Animals Model mangunsong, Sonlimar; S, Sarmalina
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol.2 No.1 2010
Publisher : Majalah Kesehatan Pharmamedika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Grape Seed (GS) contains proanthocyanidins,resveratrol, with known antioxidant and antiinflammatoryproperties, through the inhibitory effects of these on transcription factors likenuclear factor kappa B (NF-KB) or activator protein-1 (AP-1). The aims of this study was toevaluate the effects of the GS on reducing serum uric acid in chickens gout-animals model.The experimental consisted of two groups, 1.5 kg of each broiler chickens gout-animalsmodel in this study. Both 6 experimental and 2 control animals were fed by basal andchicken- liver diet for 5 days supplemented with urea 2% and calcium 2.5% with doses 10gram twice a day. After 5 days of feeding these, treatment groups received 1 gram of GStwice a day for 3 days. Both of feeding by orally, normal-fed animals served as control.Starting from days 1,5,6,7,8 due to experimental design 1.5 ml of blood withdrawn from thewings. Analytical serum were examined in GMU pathological clinic Laboratory. The reducingeffect of GS before and after treatment data means serum compare with control groupsperform statistically by t-test and one way anova test, P<0.05. Serum uric acid level databefore treatment were measured as baseline data both in experiment and controlsrespectively. After treatment means serum level in 3 days later in experiment and control wasincreased. The outcome of 5 days feeding with high purines supplemented with urea andcalcium diet can be increased the means serum uric acid level from 5.34 mg/dl to 8.24 mg/dlAny difference effect in 3 days of treatment. Overall revealed that GS was greater onlowering uric acid level in gout-animals model than in controls (P<0.001). Feeding withchicken-liver supplemented with urea and calcium can induced significantly of uric acidlevel. In addition GS can be lowering serum urate level in hyperuricemic. GS may thereforeprevent against gouty and inflammatory.Keywords : grape seed; resveratrol; gout; uric acid; chicken

Page 1 of 1 | Total Record : 5