cover
Filter by Year
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Articles
103
Articles
ÔÇő
Trematodosis pada Sapi Potong di Wilayah Sentra Peternakan Rakyat (SPR) Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro

Satyawardana, Wirokartiko ( Badan Karantina Pertanian, Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok ) , Ridwan, Yusuf ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Satrija, Fadjar ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Trematodosis pada sapi adalah penyakit penting yang disebabkan oleh trematoda yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang tinggi pada peternakan sapi potong dan sapi perah. Studi cross sectional dilakukan untuk menentukan prevalensi dan faktor risiko trematodosis pada sapi potong yang dilaksanakan dari bulan Agustus 2014 sampai bulan Maret 2015 di Kecamatan Kasiman Kabupaten Bojonegoro. Sebanyak 533 sampel tinja secara acak diambil dari peternakan sapi potong tradisional. Sampel diperiksa untuk keberadaan telur trematoda dengan metode modifikasi filtrasi dan sedimentasi. Prevalensi trematodosis dihubungkan dengan kategori musim, umur, jenis kelamin, pola pemeliharaan dan padang penggembalaan yang dianalisis statistik dengan uji Chi-square. Hasil menunjukkan bahwa ditemukan telur trematoda pada 12 (2.25%) sampel. Spesies trematoda yang menginfeksi dengan prevalensi tertinggi adalah Paramphistome (1.31%) dan rataan ukuran telur terbesar adalah Fasciola sp. Berdasarkan pada kategori di atas, prevalensi tertinggi ditemukan pada musim hujan, sapi betina dengan umur lebih dari 2 tahun, digembalakan di padang penggembalaan sebelah Timur dengan nilai masing-masing 2.59%; 3.1%; 2.68%; 2.71% dan 5.49%. Perbedaan signifikan (P<0.05) hanya ditemukan pada tingkat prevalensi kategori lokasi padang penggembalaan

Pengamatan Profil Darah Domba Terinfestasi Larva Chrysomya Bezziana dan Diberi Terapi Krim Herbal

Widhyari, Sus Derthi ( Divisi Penyakit Dalam, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi, IPB ) , Mustika, Aulia Andi ( Divisi Farmakologi dan Toksikologi, Departemen Anatomi, Fisiologi, dan Farmakologi, IPB ) , Wientarsih, Ietje ( Divisi Penyakit Dalam, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi ) , Sutardi, Lina Noviyanti ( Divisi Penyakit Dalam, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi ) , Mihardi, Arief Purwo ( Divisi Penyakit Dalam, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi ) , Dhamayanti, Esti ( Mahasiswa Program Sarjana, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Larva Chrysomya bezzianamerupakan penyebab kejadian miasispada hewan ternak, dan merupakan masalah cukup serius karena dapat merugikan secara ekonomi.Pengobatan secara kimiawi dapat beresiko terhadap residu yang ditimbulkan, oleh karena itu perlu dicari obat alternatif berupa obat herbal yang aman bagi tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kesehatan melalui pemeriksaan gambaran darah pada domba garut yang diinfestasi larva Chrysomya bezziana dan diberi terapi krim herbal sirih merah. Semua kelompok perlakuan dilakukan infestasi larva kecuali kelompok kontrol (K0). Pembuatan luka insisi dan diinfestasi 50 larva pada setiap lubang. Penelitian ini terdiri dari 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol (K0), kelompok dengan terapi krim sirih merah 2% (P1), kelompok dengan terapi krim sirih merah 4% (P2), kelompok dengan terapi krim asuntol (KP), dankelompok tanpa terapi (KN).Pengambilan darah dilakukan pada awal pengamatan (pre terapi) dan akhir pengamatanyaitu hari ke-7 setelah terapi diberikan (post terapi). Parameter yang diamati berupa jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit.Infestasi larva Chrysomya bezzianadan pemberian krim herbal sirih merah tidak berpengaruh terhadap jumlah eritrosit, nilai hematokrit, dan kadar hemoglobin.Hasil penelitian menunjukkan pemberian krim sirih merah 4% memberikan profil darah yang paling baik. Krim sirih merah memiliki kemampuan dalam penyembuhan luka

Kompetensi Maturasi Oosit in vitro dan Kajian Histologi Folikel dari Ovarium Domba Pascapenyimpanan pada Suhu 4░C

Muhajir, Masturi ( Program Studi Biologi Reproduksi, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor ) , Karja, Ni Wayan Kurniani ( Bagian Reproduksi dan Kebidanan, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Setiadi, Mohamad Agus ( Bagian Reproduksi dan Kebidanan, Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Adnyane, I Ketut Mudite ( Bagian Anatomi, Departemen Anatomi, Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan , Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kompetensi maturasi oosit secara in vitro dan gambaran histologi ovarium pascapenyimpanan ovarium pada suhu 4░C selama empat hari. Ovarium dari rumah potong hewan dibagi menjadi 4 kelompok dan disimpan pada suhu 4░C selama 0 jam (kelompok H-0/kontrol), 24 jam (Kelompok H-1), 48 jam (Kelompok H-2), 72 jam (Kelompok H-3) dan 96 jam (Kelompok H4). Pada setiap akhir periode penyimpanan, oosit dikoleksi dan diseleksi berdasarkan keadaaan kekompakan sel-sel kumulus, kehomogenan dari sitoplasma (Grade A sampai C). Oosit dengan grade A dan B dimaturasi secara in vitro selama 24 jam. Gambaran folikel dalam ovarium pascapenyimpanan dikaji dengan pewarnaan Hematoksilin-Eosin. Terjadi penurunan yang signifikan (P<0.05) pada jumlah oosit dengan grade A setelah hari kedua penyimpanan. Kemampuan oosit untuk mencapai MII menurun setelah penyimpanan hari kedua (P<0.05). Seiring dengan penurunan jumlah oosit yang mencapai MII, terjadi peningkatan jumlah oosit yang mengalami degenerasi pada hari ketiga dan keempat pascapenyimpanan ovarium (P<0.05). Dari gambaran histologi, ditemukan adanya folikel yang mengalami piknotik setelah penyimpanan 24 jam. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kualitas oosit persentase oosit mencapai MII menurun setelah penyimpanan 24 jam. Terjadi perubahan struktur sel dan degenerasi dari oosit pada gambaran histologi folikel dalam ovarium.

Prevalensi Sistiserkosis pada Babi Hutan (Sus scrofa) yang dipotong di Tempat Pemotongan Hewan (TPH) Bengkulu Tengah, Bengkulu

Hartika, Noviriliensi ( Departemen Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Bengkulu ) , Retnani, Elok Budi ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Murtini, Sri ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sistiserkosis/taeniasis merupakan penyakit zoonosis terabaikan yang memiliki dampak serius bagi ekonomi dan kesehatan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi sistiserkosis pada babi hutan di Bengkulu Tengah, Bengkulu. Penelitian ini dilakukan di tempat pemotongan hewan Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu Indonesia antara Februari-Mei 2016. Delapan puluh dua ekor babi hutan di koleksi serum dari vena jugularis dan post-mortem karkasnya. Pemeriksaan post-mortem meliputi otot lidah, trisep, bisep, masseter, diafragma, intercostae, jantung, dan pemeriksaan hati untuk menentukan adanya sistiserkus. Serum di pisahkan dari darah masing-masing sampel dan di uji sirkulasi antigen dari sistiserkus menggunakan monoklonal antibodi-sandwich enzyme-linked immunosorbent assay (MOAB-ELISA). Hasil pemeriksaan post-mortem tidak di temukan adanya sistiserkus. Hasil uji ELISA didapatkan 8 sampel (9,8%) terdeteksi adanya antigen sistiserkus. Babi hutan dengan hasil seropositif sistiserkus ditemukan berasal dari kecamatan dengan prevalensi tertinggi kecamatan Pagar Jati (39,0%) diikuti oleh kecamatan Bang Haji (30,5%) dan prevalensi terendah ditemukan di kecamatan Pematang Tiga (30,5%). Penelitian ini menyatakan bahwa terdapat infeksi sistiserkus pada babi hutan dari Bengkulu Tengah, Bengkulu.

Profil Tekanan Darah Normal Tikus Putih (Rattus norvegicus) Galur Wistar dan Sprague-Dawley

Nugroho, Setyo Widi ( Departemen Bedah Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jl. Diponegoro No. 71, Jakarta Pusat ) , Fauziyah, Kanti Rahmi ( Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Jl. Agathis Raya Kampus IPB Darmaga ) , Sajuthi, Dondin ( Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Jl. Agathis Raya Kampus IPB Darmaga Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB , Jl. Lodaya II No.3 Bogor ) , Darusman, Huda Salahudin ( Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Jl. Agathis Raya Kampus IPB Darmaga Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB , Jl. Lodaya II No.3 Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tikus putih (Rattus norvegicus) merupakan hewan coba yang digunakan untuk penelitian biomedik. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan nilai tekanan darah normal tikus putih dengan galur (Wistar dan Sprague-Dawley) dan jenis kelamin yang berbeda melalui pengukuran tekanan darah non-invasive. Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan instrumen CODA« pada 20 ekor tikus putih. Profil tekanan darah yang diukur meliputi tekanan darah sistolik, diastolik, tekanan arteri rata-rata, denyut jantung, dan aliran darah pada ekor. Nilai tekanan darah sistolik, diastolik, dan tekanan arteri rata-rata pada galur Sprague-Dawley lebih tinggi secara signifikan (P<0.05) dibandingkan Wistar. Tikus putih galur Sprague-Dawley jantan memiliki profil tekanan darah diastolik dan tekanan arteri rata-rata yang lebih tinggi secara signifikan (P<0.05) dibandingkan betina. Galur Wistar jantan menunjukkan profil tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan betina namun tidak berbeda secara signifikan (P>0.05). Sprague-Dawley jantan menunjukkan hasil tekanan darah diastolik dan tekanan arteri rata-rata yang lebih tinggi secara signifikan (P<0.05) dibandingkan Wistar jantan. Studi ini menekankan pentingnya memilih ras dan jenis kelamin hewan coba tikus dalam studi kardiovaskuler.

Ekstrak Metanol Cengkeh (Syzygium Aromaticum (L.) Merry & Perry) Varietas Tuni Buru Selatan sebagai Antimalaria

Taher, Dharmawaty M ( Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor ) , Solihin, Dedi Duryadi ( Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor ) , Cahyaningsih, Umi ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Sugita, Purwantiningsih ( Departemen Kimia, Fakultas MIPA, Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia dan Indonesia. Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merry & Perry) adalah tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai fitofarmaka. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas antimalaria in vitro, uji toksisitas, dan uji penghambatan secara in vivo ekstrak metanol cengkeh varietas Tuni Buru Selatan. Konsentrasi uji in vitro bunga, tangkai bunga, dan daun cengkeh masing-masing adalah 0,01, 0,1, 1, 10, dan 100 ?g/mL duplo. Dosis uji toksisitas bunga cengkeh dan tangkai bunga cengkeh masing-masing 625, 1250, 2500, 5000, dan 10000 mg/kg BB dan lima ulangan. Uji in vivo dengan menggunakan tiga dosis perlakuan bunga cengkeh dan tangkai bunga cengkeh masing-masing 25, 50, dan 100 mg/kg BB dan 5 ulangan. Hasil uji in vitro menunjukkan 50% Inhibition Concentration (IC50) bunga cengkeh 1,25 ?g/mL; tangkai bunga cengkeh 7,89 ?g/mL dan daun cengkeh 11,42 ?g/mL; 50% Lethal doses (LD50) bunga cengkeh 19743,327 dan tangkai bunga cengkeh 47304,436 mg/kg BB; Persentase penghambatan rata-rata uji in vivo bunga cengkeh 94,19; 95,81; 78,28% dan tangkai bunga cengkeh 90,48; 80,43; 74,14%. Ekstrak metanol cengkeh varietas Tuni Buru Selatan berpotensi sebagai antimalaria dan tidak toksik.

Deteksi Parasit Darah pada Sapi Perah Berdasarkan Analisis Pcr Duplex

Akbari, Rizal Arifin ( Fakultas Kedokteran Hewan IPB ) , Tiuria, Risa ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet FKH IPB ) , Wardhana, April Hari ( Departemen Parasitologi, Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor ) , Savitri, Dyah Haryuningtyas ( Departemen Parasitologi, Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi parasit darah pada sapi (Babesia spp., Theileria spp., dan Trypanosoma spp.) secara molekular berdasarkan analisis duplex PCR. Seratus sampel darah sapi perah Friesian Holstein diambil secara acak untuk deteksi parasit darah dengan pemeriksaan ulas darah. Sebanyak tiga puluh dari seratus sampel diseleksi untuk analisis PCR single berdasarkan jenis parasit dan tingkat parasitemia yang terdiri dari 5 sampel positif Babesia spp, 15 sampel positif Theileria spp., dan 10 sampel negatif parasit darah untuk dilanjutkan pada tahap PCR single. Optimasi PCR single dilakukan menggunakan tiga primer spesifik untuk B. bovis (Bover2A), T. annulata (Cytob 1) dan T. evansi (ITS 1). Hasil optimasi PCR single menunjukan bahwa suhu anneling 56 ░C merupakan suhu optimal untuk deteksi Babesia bovis dan T. evansi sedangkan T. annulata tidak menunjukan hasil positif pada kondisi tersebut. Hasil analisis PCR single menunjukan 28 sampel positif B. bovis, 1 sampel positif T. evansi, 1 sampel negatif semua parasit darah dan 0 sampel positif T. annulata sehingga hanya B. bovis dan T. evansi yang dilanjutkan ke tahap analisis duplex PCR duplex. Teknik duplex PCR berhasil dioptimasi dengan dilakukannya modifikasi penambahan MgCl2 (25 ?M) sebanyak 0.5 ?L/tube sehingga dapat diaplikasikan untuk mendeteksi parasit darah B. bovis dan T. evansi pada sampel di lapang

Isolasi dan Sensitifitas Antibiotika terhadap Streptococcus spp dari Kambing PE Mastitis Subklinis Kronis

Suwito, Widodo ( Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, Jl. Stadion Baru, Maguwoharjo No.22, Karang Sari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, 55584, Indonesia ) , Wahyuni, AETH ( Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada ) , Nugroho, Widagdo Sri ( Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Jl. Fauna no 2, Yogyakarta, 55281, Indonesia ) , Sumiarto, Bambang ( Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Jl. Fauna no 2, Yogyakarta, 55281, Indonesia )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk isolasi dan sensitifitas antibiotika terhadap Streptococcus spp dari susu kambing PE mastitis subklinis kronis di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 10 sampel susu kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman digunakan dalam penelitian ini. Kriteria kambing PE mastitis subklinis kronis dengan uji California Mastitis Test (CMT) dua kali yaitu saat laktasi dan laktasi berikutnya dengan hasil positif (++) atau (+++) yang diikuti dengan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dengan metode Breed. Isolasi Streptococcus spp., dengan kultur dalam media blood agar selanjutnya di inkubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam. Sensitifitas antibiotika terhadap Streptococcus spp., dengan agar difusi menggunakan kertas cakram antibiotika yang sudah diketahui konsentrasinya. Saat uji CMT pertama terdapat dua sampel positif (++) dan delapan sampel positif (+++) dengan rataan JSS masing-masing 2.400.000 sel/ml dan 4.475.000 sel/ml, sedangkan uji CMT kedua terdapat empat sampel positif (++) dan enam sampel positif (+++) dengan rataan JSS masing-masing 2.775.000 sel/ml dan 4.550.000 sel/ml. Susu kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman dapat diisolasi Streptococcus spp., sebanyak 8 isolat dengan tipe hemolitik α, β, dan γ masing-masing 2, 1, dan 5 isolat. Streptococcus spp., resisten terhadap penisilin sedangkan terhadap tetrasiklin, ampisilin, eritromisin, dan sulfonamide masih sensitif. Penelitian ini menunjukkan bahwa Kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman disebabkan oleh Streptococcus spp., dengan penisilin resisten, sedangkan tetrasiklin, ampisilin, eritromisin, dan sulfonamide masih sensitif.

Validasi Analitik Kit ELISA Komersial untuk Mengukur Metabolit Estrogen dan Progesteron pada Feses Tarsius (Tarsius spectrum)

Hidayatik, Nanik ( Program Studi Primatologi Institut Pertanian Bogor ) , Yusuf, Tuty Laswardy ( Institut Pertanian Bogor ) , Agil, Muhammad ( Intitut Pertanian Bogor ) , Iskandar, Entang ( Institut Pertanian Bogor ) , Sajuthi, Dondin ( Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penentuan status reproduksi pada satwa liar atau satwa yang ditangkarkan merupakan faktor yang sangat penting dalam manajemen pengembangbiakan satwa. Evaluasi metabolit hormon estrogen dan progesteron secara non-invasive dari sampel feses untuk memonitor fungsi reproduksi telah dilakukan sejak lama pada beberapa spesies mamalia. Validasi asai pada Tarsius belum pernah dilaporkan sehingga validasi asai merupakan hal yang sangat penting sebelum digunakan dalam studi karena metabolit steroid bersifat spesifik spesies. Tujuan penelitian ini adalah melakukan validasi analitik kit enzyme linked immunoassay (ELISA) komersial untuk menganalisis metabolit hormon estrogen dan progesteron pada feses T. spectrum. Uji paralelisme dilakukan pada asai DRG┬« estradiol (E2), estron (E1), dan progesteron (P4) dengan pengenceran bertingkat (1:2Ô??1:128) ekstrak feses dari beberapa status reproduksi yang berbeda┬á pada Tarsius yang dibandingkan dengan kurva standar dari masing-masing asai.┬á Hasil uji paralelisme terhadap kit DRG┬« estron menunjukkan hasil yang tidak paralel. Dari uji paralelisme DRG┬« estradiol dan progesteron, didapatkan hasil kurva sampel dengan standar yang tidak konsisten. Hanya ditemukan satu dari lima kurva sampel yang diuji yang paralel dengan kurva standar asai DRG┬« estrogen dan progesteron. Berdasarkan hasil tes paralelisme tersebut, kit komersial ELISA DRG┬« estron, estradiol, dan progesteron tidak dapat digunakan untuk mengukur metabolit┬á estrogen dan progesteron pada feses T. spectrum.

Morfofisiologi dan Profil Biokimia Darah Kalong Kapauk (Pteropus vampyrus) dari Wilayah Pesisir Kabupaten Garut

Cahyadi, Danang Dwi ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Nurhidayat, . ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Nisa, Chairun ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Supratikno, . ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Novelina, Savitri ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Setijanto, Heru ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Aktivitas terbang pada kelelawar membutuhkan energi paling banyak dibandingkan dengan aktivitas lokomosi lainnya. Morfofisiologi dan profil biokimia darah diduga memiliki peranan penting terhadap kemampuan terbang hewan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfofisiologi eritrosit dan profil biokimia darah P. vampyrus. Penelitian ini menggunakan 15 ekor kelelawar dewasa dengan bobot badan antara 669,7 g sampai 1211,5 g (x╠? = 957,51 ┬▒ 177,52 g). Sampel darah diambil secara langsung melalui ventrikel kiri jantung. Pengamatan dan pengukuran terhadap preparat ulas darah menunjukkan bahwa morfologi eritrosit P. vampyrus mirip dengan mamalia secara umum dan mempunyai diameter rata-rata 7,15 ┬▒ 0,45 ┬Ám. Koefisien variasi ukuran eritrosit (RDWc) hewan ini sebesar 18,11 ┬▒ 1,16%.┬á Pemeriksaan hematologi yang dilakukan menggunakan automated counter menunjukkan bahwa total eritrosit (8,89 ┬▒ 1,36 106/┬Ál),┬á konsentrasi hemoglobin (14,33 ┬▒ 2,38 g/dl), dan nilai hematokrit (42,13 ┬▒ 6,49%) P. vampyrus relatif lebih tinggi dibandingkan dengan mamalia pada umumnya. Neutrofil dan limfosit merupakan komponen yang mendominasi jumlah leukosit. Adapun persentase jumlah neutrofil lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah limfosit. Penelitian ini memberikan informasi dasar yang dapat mendukung penelitian terkait dengan kemampuan terbang dari P. vampyrus.