cover
Filter by Year
ACTA VETERINARIA INDONESIANA
Acta Veterinaria Indonesiana (Indonesian Veterinary Journal) mempublikasikan artikel-artikel dalam bentuk: penelitian, ulasan, studi kasus, dan komunikasi singkat yang berkaitan dengan berbagai aspek ilmu dalam bidang kedokteran hewan, biomedis, peternakan dan bioteknologi. Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Acta Veterinaria Indonesiana diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia. Terbit dua kali dalam satu tahun pada bulan Januari dan Juli. [ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373]
Articles
93
Articles
Isolasi dan Sensitifitas Antibiotika terhadap Streptococcus spp dari Kambing PE Mastitis Subklinis Kronis

Suwito, Widodo ( Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta, Jl. Stadion Baru, Maguwoharjo No.22, Karang Sari, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, 55584, Indonesia ) , Wahyuni, AETH ( Bagian Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada ) , Nugroho, Widagdo Sri ( Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Jl. Fauna no 2, Yogyakarta, 55281, Indonesia ) , Sumiarto, Bambang ( Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Jl. Fauna no 2, Yogyakarta, 55281, Indonesia )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk isolasi dan sensitifitas antibiotika terhadap Streptococcus spp dari susu kambing PE mastitis subklinis kronis di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Sebanyak 10 sampel susu kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman digunakan dalam penelitian ini. Kriteria kambing PE mastitis subklinis kronis dengan uji California Mastitis Test (CMT) dua kali yaitu saat laktasi dan laktasi berikutnya dengan hasil positif (++) atau (+++) yang diikuti dengan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dengan metode Breed. Isolasi Streptococcus spp., dengan kultur dalam media blood agar selanjutnya di inkubasikan pada suhu 37°C selama 24 jam. Sensitifitas antibiotika terhadap Streptococcus spp., dengan agar difusi menggunakan kertas cakram antibiotika yang sudah diketahui konsentrasinya. Saat uji CMT pertama terdapat dua sampel positif (++) dan delapan sampel positif (+++) dengan rataan JSS masing-masing 2.400.000 sel/ml dan 4.475.000 sel/ml, sedangkan uji CMT kedua terdapat empat sampel positif (++) dan enam sampel positif (+++) dengan rataan JSS masing-masing 2.775.000 sel/ml dan 4.550.000 sel/ml. Susu kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman dapat diisolasi Streptococcus spp., sebanyak 8 isolat dengan tipe hemolitik α, β, dan γ masing-masing 2, 1, dan 5 isolat. Streptococcus spp., resisten terhadap penisilin sedangkan terhadap tetrasiklin, ampisilin, eritromisin, dan sulfonamide masih sensitif. Penelitian ini menunjukkan bahwa Kambing PE mastitis subklinis kronis dari Kabupaten Sleman disebabkan oleh Streptococcus spp., dengan penisilin resisten, sedangkan tetrasiklin, ampisilin, eritromisin, dan sulfonamide masih sensitif.

Validasi Analitik Kit ELISA Komersial untuk Mengukur Metabolit Estrogen dan Progesteron pada Feses Tarsius (Tarsius spectrum)

Hidayatik, Nanik ( Program Studi Primatologi Institut Pertanian Bogor ) , Yusuf, Tuty Laswardy ( Institut Pertanian Bogor ) , Agil, Muhammad ( Intitut Pertanian Bogor ) , Iskandar, Entang ( Institut Pertanian Bogor ) , Sajuthi, Dondin ( Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penentuan status reproduksi pada satwa liar atau satwa yang ditangkarkan merupakan faktor yang sangat penting dalam manajemen pengembangbiakan satwa. Evaluasi metabolit hormon estrogen dan progesteron secara non-invasive dari sampel feses untuk memonitor fungsi reproduksi telah dilakukan sejak lama pada beberapa spesies mamalia. Validasi asai pada Tarsius belum pernah dilaporkan sehingga validasi asai merupakan hal yang sangat penting sebelum digunakan dalam studi karena metabolit steroid bersifat spesifik spesies. Tujuan penelitian ini adalah melakukan validasi analitik kit enzyme linked immunoassay (ELISA) komersial untuk menganalisis metabolit hormon estrogen dan progesteron pada feses T. spectrum. Uji paralelisme dilakukan pada asai DRG® estradiol (E2), estron (E1), dan progesteron (P4) dengan pengenceran bertingkat (1:2–1:128) ekstrak feses dari beberapa status reproduksi yang berbeda  pada Tarsius yang dibandingkan dengan kurva standar dari masing-masing asai.  Hasil uji paralelisme terhadap kit DRG® estron menunjukkan hasil yang tidak paralel. Dari uji paralelisme DRG® estradiol dan progesteron, didapatkan hasil kurva sampel dengan standar yang tidak konsisten. Hanya ditemukan satu dari lima kurva sampel yang diuji yang paralel dengan kurva standar asai DRG® estrogen dan progesteron. Berdasarkan hasil tes paralelisme tersebut, kit komersial ELISA DRG® estron, estradiol, dan progesteron tidak dapat digunakan untuk mengukur metabolit  estrogen dan progesteron pada feses T. spectrum.

Morfofisiologi dan Profil Biokimia Darah Kalong Kapauk (Pteropus vampyrus) dari Wilayah Pesisir Kabupaten Garut

Cahyadi, Danang Dwi ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Nurhidayat, . ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Nisa, Chairun ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Supratikno, . ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Novelina, Savitri ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Setijanto, Heru ( Divisi Anatomi Histologi dan Embriologi, Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Aktivitas terbang pada kelelawar membutuhkan energi paling banyak dibandingkan dengan aktivitas lokomosi lainnya. Morfofisiologi dan profil biokimia darah diduga memiliki peranan penting terhadap kemampuan terbang hewan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik morfofisiologi eritrosit dan profil biokimia darah P. vampyrus. Penelitian ini menggunakan 15 ekor kelelawar dewasa dengan bobot badan antara 669,7 g sampai 1211,5 g (x̄ = 957,51 ± 177,52 g). Sampel darah diambil secara langsung melalui ventrikel kiri jantung. Pengamatan dan pengukuran terhadap preparat ulas darah menunjukkan bahwa morfologi eritrosit P. vampyrus mirip dengan mamalia secara umum dan mempunyai diameter rata-rata 7,15 ± 0,45 µm. Koefisien variasi ukuran eritrosit (RDWc) hewan ini sebesar 18,11 ± 1,16%.  Pemeriksaan hematologi yang dilakukan menggunakan automated counter menunjukkan bahwa total eritrosit (8,89 ± 1,36 106/µl),  konsentrasi hemoglobin (14,33 ± 2,38 g/dl), dan nilai hematokrit (42,13 ± 6,49%) P. vampyrus relatif lebih tinggi dibandingkan dengan mamalia pada umumnya. Neutrofil dan limfosit merupakan komponen yang mendominasi jumlah leukosit. Adapun persentase jumlah neutrofil lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah limfosit. Penelitian ini memberikan informasi dasar yang dapat mendukung penelitian terkait dengan kemampuan terbang dari P. vampyrus.

Efektivitas Insulin-Like Growth Factor-I (IGF-I) dalam Media Maturasi In Vitro Pada Pematangan Inti dan Fertilisasi Oosit Sapi Bali

Hasbi, . ( Departemen Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar, 90245 ) , Gustina, Sri ( Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan dan Perikanan, Universitas Sulawesi Barat, Majene 91412 ) , Karja, Ni Wayan Kurniani ( Divisi Reproduksi dan Kebidanan, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Agatis, Kampus IPB Darmaga, Bogor, 16680. ) , Supriatna, Iman ( Divisi Reproduksi dan Kebidanan, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Agatis, Kampus IPB Darmaga, Bogor, 16680. ) , Setiadi, Mohamad Agus ( Divisi Reproduksi dan Kebidanan, Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Agatis, Kampus IPB Darmaga, Bogor, 16680. )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas insulin-like growth factor–I (IGF-I) pada tingkat pematangan inti dan fertilisasi oosit sapi bali. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap. Tahap I, oosit dimatangkan secara in vitro dalam media 199 dengan penambahan 0 (kontrol), 50, 100, dan 150ng/mL IGF-I. Tahap II, oosit dimatangkan dalam media seperti pada penelitian tahap I, kemudian difertilisasi secara in vitro untuk mengamati pembentukan pronukleus. Hasil penelitian tahap I menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan jumLah oosit yang mencapai tahap metaphase II (MII) dengan penambahan 0 (kontrol), 50, 100, dan 150ng/mL IGF-I dalam media maturasi. Berturut-turut adalah 80,6±7,6%; 81,5±8,6%; 87,5±6,9%; dan 84,1±12,4%. Penelitian tahap II menunjukkan bahwa tingkat fertilisasi pada penambahan 100 ng/mL IGF-I dalam media maturasi nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol dan penambahan 50 ng/mL IGF-I, yaitu berturut-turut 78,3±6,6%, 67,1±8,9%, dan 64,6±6,0% untuk dosis 100, 0, dan 50 ng/mL. Akan tetapi, peningkatan dosis pemberian IGF-I menjadi 150 ng/mL tidak meningkatkan tingkat fertilisasi yaitu 73,5±9,3%. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwapenambahan IGF-I dalam media maturasi tidak mampu meningkatkan jumLah oosit yang mencapai tahap MII, namun penambahan 100 ng/mL IGF-I dapat meningkatkan jumLah oosit yang terfertilisasi.

Identifikasi dan Analisis Bionomik Vektor Malaria Anopheles sp. di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi

Arifianto, Renam Putra ( Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember ) , Masruroh, Dewi, Habib, Maulana Jauharil, Wibisono, Mochtar Gunawan, Wathon, Syubhanul, Oktarianti, Rike, Senjarini, Kartika ( Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu daerah endemis malaria, khususnya Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo. Berdasarkan laporan survei entomologi, di desa tersebut terdapat lagun yang digunakan sebagai tempat perindukan Anopheles. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati beberapa karakteristik bionomik yang penting yaitu identifikasi spesies serta perilaku dan preferensi menghisap darah. Sampling dilakukan pada bulan Mei sampai bulan November2015, pada minggu ke 2 setiap bulannya. Penangkapan nyamuk dilakukan pada Manusia Dalam Rumah dan Manusia Luar Rumah di dua rumah berbeda. Masing-masing penangkapan setiap 40 menit, dimulai pukul 18.00 sampai 06.00. Penangkapan nyamuk yang Istirahat Dalam Rumah (IDR) dan Istirahat di Sekitar Kandang Ternak (ISKT) setiap 10 menit pada waktu yang sama. Hasil identifikasi menunjukkan spesies Anopheles yang dominan di lokasi penelitian adalah An. sundaicus. Beberapa spesies lainnya yang ditemukan diantaranya adalah An. vagus, An. subpictus, An. barbirostris dan An. indefinitus. Aktivitas mengigit Anopheles mengalami puncak kepadatan antara pukul 21.00 – 22.00. Sementara itu preferensi mengigitnya lebih bersifat eksofagik dan zoofilik. Hal ini dapat merupakan penyebab menurunnya kasus malaria di daerah tersebut selama 3 tahun terakhir semenjak terjadinya kejadian luar biasa malaria pada tahun 2011 dengan jumlah kasus sebanyak 107 kasus malaria.

Hubungan Temperatur, Kelembaban, dan Manajemen Pemeliharaan terhadap Efisiensi Reproduksi Sapi Perah di Kabupaten Bogor

Jaenudin, Dadang ( Program Studi Ilmu Pengetahuan Alam Program Pascasarjana Universitas Pakuan Jl. Pakuan No. 1 Ciheuleut Bogor ) , Amin, Akhmad Arif ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Setiadi, Mohamad Agus ( Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Sumarno, Hadi ( Departemen Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor ) , Rahayu, Sri ( Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kebun Raya Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mengkaji hubungan suhu, kelembaban dan manajemen ternak terhadap efisiensi reproduksi sapi perah di Kabupaten Bogor. Suhu dan kelembaban udara diamati pagi, siang dan sore hari. Data suhu dan kelembaban udara dikonversi ke nilai indeks suhu kelembaban udara (THI). Pengamatan parameter efisiensi reproduksi dilakukan dengan menghitung nilai Days Open (DO), Conception Rate (CR),  Service per Conception (S/C) dan First Service. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai THI Acep Farm Kunak (77,21±0,71) lebih tinggi (P<0,05) dari Cifa Farm (71,27±0,50) dan Erif Farm (71,22±0,41). Days Open Acep Farm Kunak (110,76±37,34 hari) lebih panjang (P<0,05) dibandingkan dengan Cifa Farm (88.39±23,80 hari) dan Erif Farm (88,20±22,39 hari). Nilai CR Acep Farm (75,76±0,11%) dan Cifa Farm (66,13±0,10%) tidak berbeda (p>0,05) dibandingkan dengan Erif Farm (42,00±0,08%). Nilai S/C di tiga peternakan tidak menunjukkan perbedaan (p>0,05) masing-masing nilai S/C Cifa Farm (1,42±0,64), Erif Farm (1,52±0,64) dan Acep Farm Kunak (1,64±0,82). First Service Cifa Farm (76,11±13,84) dan Erif Farm (75,17±13,17) berbeda (P<0,05) dengan Acep Farm Kunak (96,42±35,49). Dapat disimpulkan bahwa suhu, kelembaban udara dan manajemen pemeliharaan dapat memengaruhi DO sapi perah di ke tiga peternakan sapi perah di ke tiga lokasi penelitian. Lebih lanjut, diindikasikan THI memengaruhi zona nyaman peternakan sapi perah, namun tidak ditemukan korelasi positif antara nilai THI dengan tingkat efisiensi reproduksi.

Preparasi Imunoglobulin Yolk (IgY) Spesifik Virus Rabies untuk Pengembangan Kit Diagnostik

Ruhi, Suwarny ( Sekolah Pascasarjana, Program Studi Mikrobiologi Medik, Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor ) , Murtini, Sri ( Bagian Mikrobiologi Medik, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Poetri, Okti Nadia ( Bagian Mikrobiologi Medik, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor ) , Soejoedono, Retno D ( Bagian Mikrobiologi Medik, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memproduksi dan mengkarakterisasi IgY anti rabies sebagai bahan diagnostik. Ayam petelur usia produktif divaksinasi dengan vaksin rabies inaktif secara parenteral melalui rute intramuskular dengan dosis 0,5 ml sebanyak 2 kali. Keberadaan IgY pada telur dievaluasi dengan metode ELISA. Konsentrasi total protein IgY di hitung dengan metode Bradford. IgY dipurifikasi menggunakan dua metode yaitu : 1) pengendapan dengan NaCl, PEG 6000-amonium sulfat; 2) teknik Water Soluble Fraction (WSF), dilanjutkan pengendapan dengan PEG 6000-amonium sulfat.  Titer IgY spesifik  di tentukan dengan uji ELISA dan karakterisasi protein dengan metode SDS-PAGE. Hasil pengujian menunjukkan, antibodi anti-rabies dapat dideteksi pada kuning telur di minggu kedua setelah vaksinasi pertama. Purifikasi IgY dengan NaCl menghasilkan konsentrasi 331 µg/ml dan teknik WSF 184 µg/ml. Karakterisasi protein pada teknik NaCl menghasilkan 6 pita protein dengan berat molekul 164,16 kDa, 126,43 kDa, 97,36 kDa, 68,73 kDa, 40,76 kDa, 28,77 kDa sedangkan teknik WSF hanya terdiri dari 3 pita dengan berat molekul 94,03 kDa, 65,61 kDa, dan 31,94 kDa. Titer antibodi spesifik menggunakan teknik NaCl  lebih besar dari 0,5 IU/ml dan teknik WSF dengan titer antibodi di bawah 0,5 IU/ml . Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa IgY spesifik rabies dapat diproduksi pada ayam petelur dan menghasilkan titer antibodi ≥ 0,5 IU/ml, dengan titer antibodi spesifik rabies sebesar ≥ 0,5 IU/ml.

Viabilitas Spermatozoa Cauda Epididimis Kerbau Rawa dalam Berbagai Konsentrasi Pengencer Air Kelapa Muda dan Kuning Telur

Riyadhi, Muhammad ( Laboratorium Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Jenderal Ahmad Yani Km. 36 Banjarbaru 70714. Telp. 0511-4781551. ) , Rizal, Muhammad ( Laboratorium Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Jenderal Ahmad Yani Km. 36 Banjarbaru 70714. Telp. 0511-4781551. ) , Mildawati, . ( Laboratorium Reproduksi dan Pemuliaan Ternak, Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Jenderal Ahmad Yani Km. 36 Banjarbaru 70714. Telp. 0511-4781551. )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 6, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui viabilitas spermatozoa cauda epididimis pada berbagai konsentrasi pengenceran menggunakan air kelapa muda dan kuning telur yang disimpan pada  temperatur 3-5oC.  Pengencer Tris 80% + 20% kuning telur digunakan sebagai kontrol (P1), selanjutnya perlakuan menggunakan pengencer air kelapa muda 90% + 10% kuning telur (P2), air kelapa muda 85% + 15% kuning telur (P3) dan air kelapa muda 80% + 20% kuning telur (P4). Viabilitas  spermatozoa yang diamati setiap hari meliputi persentase motilitas dan persentase hidup sampai mencapai motilitas minimum 30%. Hasil penelitian menunjukkan persentase motilitas tertinggi pada hari ke-4 terdapat pada perlakuan P4 sebesar 31.8 %, berbeda nyata (P<0.05) dengan P3 sebesar 10.5 % dan P2 sebesar 2.5 % serta dengan P1  sebesar 4.2 %.  Pada persentase hidup spermatozoa, perlakuan P4 juga menunjukan nilai 50.3 %, berbeda sangat nyata (P<0.05) dengan perlakuan P1, P2 serta P3 berturut-turut adalah 27.8 %, 26.4 %, dan 32.9 %.  Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa pengenceran dengan perlakuan P4 (80% air kelapa dan 20% kuning telur) mampu mempertahankan viabilitas spermatozoa cauda epididimis kerbau rawa selama proses penyimpanan hingga empat hari di dalam refrigerator dengan suhu 3–5oC.

Isolasi dan Identifikasi Bakteri Listeria monocytogenes dari Susu Sapi Segar di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan

Prahesti, Kusumandari Indah ( Laboratorium Mikrobiologi Hewan, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar ) , Mayasari, Ni Luh Putu Ika ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680 ) , Malaka, Ratmawati ( Laboratorium Mikrobiologi Hewan, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar ) , Yuliati, Farida Nur ( Laboratorium Mikrobiologi Hewan, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar ) , Pasaribu, Fachriyan Hasmi ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Bogor 16680 )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 5, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Listeria monocytogenes merupakan bakteri patogen yang dapat menginfeksi manusia melalui bahan pangan sehingga menimbulkan penyakit listeriosis. Wabah listeriosis terjadi akibat konsumsi bahan pangan yang terkontaminasi L. monocytogenes, di antaranya daging, susu, dan produk susu. Serotipe bakteri L. monocytogenes dikaitkan dengan kasus wabah epidemik dan sporadik listeriosis pada manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi L. monocytogenes dari susu sapi segar di Kabupaten Enrekang Sulawesi Selatan, melakukan analisis karakteristik molekuler, dan menentukan serotipe isolat bakteri L. monocytogenes yang diperoleh. Sebanyak 107 sampel susu diperoleh dari lima kecamatan di Kabupaten Enrekang dan dikumpulkan menjadi 31 sampel pool, kemudian dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Tahap pengayaan dilakukan dengan media Listeria enrichment broth (LEB) kemudian dilakukan kultur pada media Listeria selective agar base (LSA), dilanjutkan dengan uji biokimiawi. Isolat bakteri L. monocytogenes yang diperoleh dikonfirmasi dengan polymerase chain reaction (PCR) dan dilakukan pengurutan oligonukleotida. Identifikasi serotipe dilakukan dengan PCR multipleks. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 21 isolat merupakan bakteri L. monocytogenes dan analisis pengurutan oligonukleotida menunjukkan bahwa isolat yang diperoleh memiliki kemiripan sebesar 99% dengan strain L. monocytogenes yang terdapat pada basis data GenBank. Identifikasi serotipe menunjukkan bahwa keseluruhan isolat termasuk dalam serogrup 2, yaitu serotipe 1/2c dan 3c.

Deteksi Brucellosis pada Babi secara Serologis dan Molekuler di Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta dan Ciroyom, Bandung

Kartini, Dina ( Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan ) , Noor, Susan Maphilindawati ( Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor ) , Pasaribu, Fachriyan Hasmi ( Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor )

Acta VETERINARIA Indonesiana Vol 5, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Brucellosis pada babi merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Brucella suis. Penyakit ini telah terdeteksi di Indonesia, namun belum banyak diteliti. Pada penelitian ini dilakukan deteksi brucellosis pada babi secara serologis menggunakan metode Rose Bengal Test (RBT) dan Complement Fixation Test (CFT) serta secara molekuler menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) AMOS untuk mengetahui spesies Brucella yang menginfeksi babi. Sampel penelitian berupa serum dan limfonodus dikoleksi dari 2 Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta dan Ciroyom, Bandung. Hasil  pengujian secara serologis menunjukkan bahwa brucellosis tidak ditemukan pada sampel babi dari Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta. Sementara hasil pengujian secara serologis dari Rumah Potong Hewan Ciroyom, Bandung menunjukkan 2,5% (1/40) positif dan 7,5%(3/40) positif PCR. Hasil PCR positif menunjukkan terdeteksi 2 spesies Brucella (B. abortus dan B. suis) pada 2 sampel organ limfonodus dan Brucella suis pada satu sampel limfonodus, sedangkan dari organ limpa terdektesi dua sampel positif Brucella suis. Hal ini menunjukkan bahwa selain Brucella suis, Brucella abortus juga menginfeksi babi pada penelitian ini.