cover
Filter by Year
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
Articles
191
Articles
PENGUKURAN KOEFISIEN DIFFUSE ATENUASI (Kd) DI PERAIRAN DANGKAL SEKITAR KARANG LEBAR, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA

Prasetyo, Budhi Agung ( Institut Pertanian Bogor ) , Siregar, Vincentius Paulus ( Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Agus, Syamsul Bahri ( Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Asriningrum, Wikanti ( Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Pekayon, Jakarta )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Nilai koefisien diffuse atenuasi Kd(λ) yang berasal dari pengukuran downwelling irradiance Ed(λ) merupakan salah satu parameter penting dalam oceanografi yang memberikan informasi mengenai ketersediaan cahaya dan tingkat penetrasi cahaya di dalam kolom air yang memberikan gambaran mengenai tingkat kecerahan, fotosintesis dan proses biologi lainnya. Informasi mengenai koefisien diffuse atenuasi memegang peranan penting dalam pengembangan algoritma Bio-Optik pada data satelit Ocean Color. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan variabilitas dari koefisien diffuse atenuasi di perairan dangkal Karang Lebar, pulau Air dan Panggang dengan menggunakan sensor irradiace hyperspectral radiometer TriOS-RAMSES dengan cakupan rentang panjang gelombang 320 hingga 950 nm dengan resolusi spektral 3.3 nm. Pengukuran in situ dilakukan dengan menurunkan sensor irradiance di setiap kedalaman secara vertikal pada kolom air. Secara keseluruhan hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai Kd(λ) memiliki pola dimana pada region panjang gelombang 380-480 nm akan menurun dan akan meningkat kembali hingga pada region panjang gelombang merah 560-760 nm. Nilai Kd(λ) di bagian dalam gobah ditemukan lebih tinggi dibandingkan di bagian luar gobah dengan perbedaan yang signifikan terjadi di region panjang gelombang merah, perbedaan signifikan nilai Kd(λ) juga terjadi di ketiga wilayah (F = 5.581 > F critical = 5.554) dimana masing-masing area memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Secara dominan, nilai Kd(λ) dipengaruhi oleh serapan klorofil-a dengan R2 = 0.808 dibandingkan dengan hamburan dari muatan padatan terlarut dibuktikan dengan R2 = 0.043. Nilai Kd(λ) pada rentang panjang gelombang sinar tampak (400-700 nm) dapat memberikan gambaran mengenai jangkauan penetrasi cahaya sinar tampak yang bisa dideteksi oleh satelit dengan satuan satu kedalaman optik. Hubungan nilai Kd(λ) dengan satu kedalaman optik dijelaskan secara eksponensial dengan persamaan Kd(400-700nm) = 0.375*exp(-0.095*1ζ) dengan koefisien determinasi R2 = 0.97.

DETEKSI PERUBAHAN LUASAN MANGROVE MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT BERDASARKAN METODE OBIA DI TELUK VALENTINE PULAU BUANO SERAM BAGIAN BARAT

Alimudi, Saiful ( Institut Pertanian Bogor ) , Susilo, Setyo Budi ( Depertemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Panjaitan, James P. ( Depertemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kurangnya informasi dan perhatian terhadap kawasan mangrove di Teluk Valentine menjadikan penelitian ini penting dilakukan. Seri Landsat 7 ETM + tahun 2003, dan 2015 digunakan sebagai data perekaman untuk memetakan mangrove dan melihat perubahan di wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan ekosistem mangrove antara tahun 2003 dan 2015, dengan menggunakan citra Landsat berdasarkan metode OBIA dan membandingkan keakuratan metode OBIA dan piksel. Metode analis basis objek atau sering disebut klasifikasi berbasis objek digunakan untuk menganalisis sejauh mana perubahan tutupan mangrove. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan klasifikasi berbasis objek, tutupan hutan bakau sangat baik terdeteksi dengan akurasi 85-88%. Penerapan analisis ini relatif stabil pada periode pengamatan, kawasan ini telah mengalami perubahan dari tahun 2003 ke 2015 sebesar 1.2%, namun perubahan tersebut dimaksudkan penambahan mangrove alami. Perhatian pemerintah daerah diperlukan untuk melestarikan kawasan sebagai kawasan konservasi atau laboratorium alam mengingat kawasannya masih sangat bagus dan tidak dieksploitasi secara berlebihan oleh masyarakat sekitar kawasan Teluk Valentine.

PEMETAAN GEOMORFOLOGI TERUMBU KARANG PULAU TUNDA MENGGUNAKAN KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK

Fahriansyah, . ( Institut Pertanian Bogor ) , Gaol, Jonson Lumban ( Depertemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Panjaitan, James P ( Depertemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pemetaan zona geomorfologi terumbu karang di Pulau Tunda ini belum pernah dilakukan khususnya menggunakan klasifikasi citra berbasis objek. Hasil pemetaan ini dapat digunakan sebagai dasar informasi perencanaan dan pengembangan suatu kawasan menuju pemanfaatan yang optimal seperti contoh pemanfaatan sebagai kawasan ekowisata bahari. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona geomorfologi terumbu karang Pulau Tunda denganmenggunakan klasifikasi berbasis objek. Bahan analisis menggunakan citra multispektral Worldview-2 dengan akuisisi data tanggal 25 Agustus 2013 dan profil batimetri. Klasifikasi memakai algoritma segmentasi multiresolusi. Klasifikasi dibagi kedalam 2 level klasifikasi. Parameter klasifikasi level 1 menggunakan scale sebesar 200, shape 0.6 dan compactness 0.4. Segmentasi level 2 menggunakan scale 30, shape 0.6 dan compactness 0.4. Klasifikasi segmentasi objek ini mampu menghasilkan peta dengan tingkat akurasi yang tinggi pada setiap level. Akurasi klasifikasi level 1 adalah sebesar 97% dan level 2 sebesar 91%.

EFEKTIVITAS MODIFIKASI KONSTRUKSI BUBU DASAR TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN PULAU LEMUKUTAN KALIMANTAN BARAT

Setiawan, Ho Putra ( Institut Pertanian Bogor ) , Sadri, . ( Program Studi Teknologi Penangkapan Ikan, Politeknik Negeri Pontianak ) , Setiawan, Agus ( Depertemen Ilmu Kelautan danPerikanan, Politeknik Negeri Pontianak )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pemanfaatan potensi penangkapan ikan di perairan Pulau Lemukutan salah satunya dengan menggunakan bubu untukmenangkap ikan dasar dan masih bersifat tradisional. Aspek teknis dalam penelitian ini adalah memodifikasi konstruksibubu dasar dimana pintu masuk di ubah menjadi enam dan delapan dan badan bambu kerangka kayu di ubah badanjaring Polyethylene (PE) kerangka pipa paralon cor beton. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan metode modelbubu dasar, menganalisa efektivitas modifikasi konstruksi bubu dasar dan analisis finansial. Analisis komposisi hasiltangkapan terhadap ketiga jenis bubu memperoleh hasil sebesar 84.88 kg atau sebesar 690 ekor pada kedalaman 9 mdan 95.53 kg atau 800 ekor pada kedalaman 12 m. Frekuensi kemunculan ikan ekor kuning (Caesio erythrogaster) memilikiproporsi terbesar pada kedalaman 9 m dan 12 m adalah 86.8 % dan 99.5 %. Analisis Indeks Keanekaragaman (H’) untukperairan Pulau Lemukutan sebesar 1.6 dengan kategori indeks keanekaragaman kecil (H’ ≤ 2). Hasil Analisis R/C Ratiomenunjukan bahwa modifikasi konstruksi bubu model balok memperoleh nilai R/C = 1.035 dimana secara ekonomislayak digunakan dan layak dikembangkan sebagai usaha penangkapan ikan dasar di perairan Pulau Lemukutan.

MODIFIKASI KONSTRUKSI TRAMMEL NET: UPAYA UNTUK MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN

Rihmi, Mihrobi Khalwatu ( Institut Pertanian Bogor ) , Puspito, Gondo ( Departemen Pemanfaatan Sumberdsya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Wahju, Ronny Irawan ( Departemen Pemanfaatan Sumberdsya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian modifikasi konstruksi trammel net dilakukan dengan melakukan uji coba penangkapan di perairan Lontar, Serang. Tiga konstruksi trammel net yang diujicoba, yaitu trammel net kontrol (TK), trammel net perlakuan 1 (TP1) dan trammel net perlakuan (TP2). TK adalah trammel net yang memiliki 2 lembar jaring lapis luar dan kekendurannya menumpuk di bagian bawah. Selanjutnya TP1 adalah trammel net yang memiliki 1 lembar jaring lapis luar dan membentuk 1 kantong di bagian bawah, sedangkan TP2 memiliki 1 lembar jaring lapis luar dan membentuk 2 kantong. Hasil uji coba menunjukkan ketiga konstruksi trammel net menghasilkan 10 jenis organisme yang sama, yaitu Penaeus merguiensis, Harpiosquilla raphidea, Portunus pelagicus, Argyrosomus amoyensis, Pseudorhombus arsius, Platycephalus indicus, Pomadasys maculatus, Himantura uarnak, Leiognathus equulus, Thryssa hamiltonii. TP2 menangkap 1.165 individu, atau lebih banyak 1.29 kali dibandingkan dengan TP1 (897 individu) dan 2.36 kali dibandingkan dengan TK (493 individu). Hasil uji statistik menggunakan ANOVA dan uji BNT juga menunjukkan bahwa modifikasi konstruksi trammel net terbukti dapat meningkatkan jumlah hasil tangkapan (F39.99: α0.05).

PRODUKTIVITAS RUMPON PORTABLE MENGGUNAKAN PANCING ULUR DI PERAIRAN JEPARA

Yusfiandayani, Roza ( Institut Pertanian Bogor ) , Amelia, Desi Rezki ( Program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Riyanto, Mochammad ( Departemen Pemanfataan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rumpon portable adalah alat bantu penangkapan yang dapat dioperasikan secara multi-waktu, sebagai alat pengumpulan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan komposisi tangkapan, panjang dan frekuensi tangkapan tangkapan di sekitar portable rumpon, menentukan produktivitas tangkapan handliner pada siang dan malam hari. Komposisi tangkapan terdiri dari tongkol (Euthynnus affinis), kembung (Rastrelliger branchysoma), ikan todak (Xiphias gladius), barakuda (Sphyraena barakuda), dan ikan ekor kuning (Caesio cuning). Total tangkapan dengan handline adalah 160 ekor. Hubungan panjang dan berat untuk jenis ikan dominan adalah b <3 untuk ikan tongkol dan ikan kembung (allometric negative) sedangkan b> 3 untuk ikan todak. Uji Mann Whitney U menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara jam operasi siang dan malam hari.

AKUSTIK DIBANDINGKAN DENGAN DENSITAS IKAN: KOMBINASI METODE AKTIF DAN PASIF

Randi, Zulfathri ( Institut Pertanian Bogor ) , Hestirianoto, Totok ( Depertemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Pujiyati, Sri ( Depertemen Ilmu dan Teknologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Akustik perikanan memiliki dua pembagian utama yaitu akustik aktif dan pasif. Berbagai penelitian akustik dengan metode aktif telah dilakukan untuk mengkaji hubungan antara akustik dengan densitas ikan, namun kombinasi metode aktif dengan pasif belum pernah dilakukan sekaligus pada kawanan ikan yang sama. Mengkombinasikan kedua metode ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berhubungan dengan densitas ikan serta kecenderungannya baik dengan metode aktif maupun pasif. Penelitian ini dilakukan pada kawanan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam kondisi terkontrol berjumlah 50, 100, dan 150 individu ikan dengan kisaran panjang total 10-13cm. Akuisisi data akustik aktifdan pasif dilakukan secara stasioner selama 15 menit pada keramba jaring apung (KJA) ukuran 2 m×2 m×1.8 m menggunakan echosounder CruzPro PcFF-80 frekuensi 200 kHz (akustik aktif) dan hydrophone Dolphin EAR 100 (akustik pasif). Data akustik aktif diolah menggunakan program Matlab R2013b untuk menghasilkan nilai hambur balik volume (scattering volume, SV), sedangkan data akustik pasif diolah menggunakan program Wavelab untuk memperoleh nilai intensitas suara dalam domain frekuensi, selanjutnya keduanya dihubungkan dengan densitas ikan. Hasil pengukuran SV pada ikan berjumlah 50, 100 dan 150 individu secara berturut-turut adalah -45.898 dB, -45.887 dB dan -45.888 dB, dengan koefisien determinasi (R2) mencapai 0.6583. Terdapat penurunan rata-rata SV pada ikan berjumlah 150 individu yang diduga terjadi karena adanya efek shadowing, juga akibat ikan yang digunakan berukuran kecil. Intensitas suara tertinggi dan terendah ikan berjumlah 50 individu pada rentang frekuensi 0-22 kHz berturut-turut sebesar -28.306 dB dan -64.582 dB, pada ikan berjumlah 100 individu, sebesar -26.0793 dB dan -64.5296 dB, pada ikan berjumlah 150 individu sebesar -28.5246 dB dan -64.5679 dB.

SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KEDALAMAN TERTANGKAPNYA TUNA OLEH KAPAL PANCING ULUR YANG DILENGKAPI LAMPU

Mulyadi, Rama Agus ( Institut Pertanian Bogor ) , Sondita, Muhammad Fedi Alfiadi ( Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Yusfiandayani, Roza ( Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sebaran dan kelimpahan ikan tuna sangat dipengaruhi oleh suhu dan kedalaman air. Nelayan tuna Bungus menangkap ikan tuna bigeye (BET, Thunnus obesus) dan tuna sirip kuning (YFT, Thunnus albacares) menggunakan pancing ulur yang dioperasikan pada kapal yang dilengkapi lampu sebagai alat abantu. Tujuan penelitian: (1) mengukur suhu permukaan laut (SST) dan kedalaman renang tuna mata besar dan tuna sirip kuning di sekitar Pulau Mentawai, (2) mengidentifikasi pengaruh cahaya terhadap sebaran vertikal tuna, dan (3) menentukan panjang tali pancing terbaik untuk penangkapan tuna. Berdasarkan panjang garis dan konfigurasi garis, berat, kait dan umpan cumi-cumi, kait mereka berada di 45, 53, 60, dan 68 meter di bawah permukaan laut. Sebanyak 8 tuna sirip kuning tertangkap di kedalaman 45, 53 dan 60 m; berat total 354 kg. Satu BET seberat 45 kg tertangkap pada kedalaman 60 m. Penelitian ini memberitahukan bahwa tuna berukuran besar tertangkap di lapisan permukaan dengan kedalaman 15-60 m. Suhu permukaan laut (SST) di daerah penangkapan ikan di sekitar Pulau Mentawai rata-rata 28.97 OC di mana nelayan berhasil menangkap 15 tuna yang terdiri dari 3 ekor tuna mata besar dan 12 ekor tuna sirip kuning. Tuna dewasa kebanyakan tertangkap pada kedalaman 23-60 m sedangkan muda tertangkap di kedalaman 15-45 m. Penelitian ini menunjukkan pengaruh cahaya dapat menaikkan posisi lapisan renang tuna dewasa. Handline dengan panjang tali 53 m adalah panjang tali terbaik untuk menangkap tuna dewasa di daerah tersebut.

PEMETAAN ZONA GEOMORFOLOGI DAN HABITAT BENTIK DI PULAU KOTOK BESAR MENGGUNAKAN KLASIFIKASI BERBASIS OBJEK

Candra, Ike Dori ( Institut Pertanian Bogor ) , Siregar, Vicentius P. ( Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Agus, Syamsul B. ( Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini menggunakan citra satelit resolusi tinggi worldview-2 akuisisi 5 Oktober 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kemampuan citra satelit resolusi tinggi worldview-2 dalam memetakan zona geomorfologi dan habitat bentik perairan dangkal di Pulau Kotok Besar. Metode yang digunakan adalah metode klasifikasi Object Based Image Analysis (OBIA). Metode ini mampu mendefinisikan kelas-kelas objek berdasarkan aspek spektral dan spasial. Segmentasi citra menggunakan algoritma multiresolution segmentation dengan parameter skala yang berbeda untuk setiap level, baik level 1, level 2 dan level 3. Shape dan compactness juga disesuaikan untuk setiap level. Penentuan kelas pada level 1 menghasilkan tiga kelas yaitu daratan, perairan dangkal dan perairan dalam. Penentuan kelas pada level 2 untuk zona geomorfologi menghasilkan tiga kelas yaitu reef flat, reef crest dan reef slope. Klasifikasi habitat bentik pada level 3 menghasilkan 7 kelas dengan akurasi keseluruhan yaitu 66.40 %.

POTENSI KECELAKAAN KERJA PADA PERIKANAN BAGAN APUNG DI PPN PALABUHANRATU, JAWA BARAT

Riantoro, Muhamad Rizki ( Institut Pertanian Bogor ) , Iskandar, Budhi Hascaryo ( Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor ) , Purwangka, Fis ( Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor )

Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 8, No 2 (2017): NOVEMBER 2017
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Fokus perhatian pada penelitian ini adalah aktivitas perikanan bagan di atas kapal angkutnya. Aktivitas pada kapal angkut inilah yang paling banyak memiliki potensi risiko berbahaya. Kecilnya area pada kapal angkut, dengan jumlah penumpang yang banyak dan ditambah dengan berat jumlah barang yang diangkut tersebut dapat menyebabkan peluang kecelakaan yang tinggi. Kondisi tersebut juga diperparah dengan situasi di atas kapal angkut yang tidak terdapat seorang penumpang pun yang menggunakan alat keselamatan dan APD (Alat Perlindungan Diri), dan juga tidak tersedianya alatalat tersebut di dalam kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko kerja pada kegiatan perikanan bagan apung, dan mengidentifikasi pengetahuan nelayan bagan apung terhadap keselamatan kerja.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus pada potensi kecelakaan kerja di kapal angkut dan bagan apung di Palabuhanratu. Data primer didapatkan dari hasil pengamatan langsung dan wawancara terhadap beberapa pihak terkait dengan keselamatan kerja nelayan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber seperti literatur, dokumen serta arsip yang ada pada instansi terkait. Pengolahan data dilakukan dengan analisis keselamatan kerja (Job Safety Analysis/JSA). Hasil penelitian ini menunjukkan, (1) berdasarkan JSA diperoleh bahwa risiko yang timbul terbagi dalam 3 kategori yakni kategori tidak parah (88%), parah (12%) dan sangat parah (0%); (2) nelayan bagan memiliki pengetahuan yang dikategorikan cukup baik mengenai keselamatan kerja dan prosedur kerja di kapal.