Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Articles 565 Documents
The potential of Trichoderma sp. as antibacterial and immunostimulant on white shrimp (Litopenaeus vannamei)

Pebrianto, Catur A., Sukenda, ., Widanarni, .

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.142 KB)

Abstract

The objective of this research was to study antibacterial and immunostimulatory effects of Trichoderma sp. extract on white shrimp, Litopenaeus vannamei.  First experiment was conducted to evaluate inhibitory effect of Trichoderma sp. againts Vibrio harveyi, a pathogenic bacteria causing vibriosis disease on shrimp.  Second experiment was conducted to evaluate immunostimulatory effect of Trichoderma sp. on shrimp immunity as well as protective effect against V. harveyi. A group of shrimp was injected with a minimum inhibitory concentration obtained at first experiment, and a week after, shrimps was challenged with V. harveyi (prophylactic). Another group was previously challenged with V. harveyi, and subsequently injected with Trichoderma sp. two fold of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) a day after (therapeutic). Positive control, that was received only V. harveyi, and negative controls, that was received neither Trichoderma sp. nor V. harveyi were included in this experiment.  Results of first experiment showed that a concentration of 600 ppm was a MIC of Trichoderma sp. to inhibit V. harveyi. While in the second experiment, the groups receiving Trichoderma sp., either prophylactic or therapeutic, showed protective effect against V. harveyi significantly higher than positive control and lower compared with negative control. Total haemocyte count (THC), differential haemocyte count (DHC), phagocytic index and phenoloxydase activity were different among the groups of prophylactic treatment or therapeutic treatment compared to control positive and negative treatments. In conclusion, Trichoderma sp. could be used in prophylactic and therapeutic treatments to combat infection of V. harveyi on L. vannamei. Key words: Trichoderma sp., V. harveyi, immunostimulant   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh antibakterial dan immunostimulasi ekstrak Trichoderma sp. terhadap udang putih, Litopenaeus vannamei.  Percobaan pertama dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh penghambatan Trichoderma sp. terhadap Vibrio harveyi, bakteri patogen yang menyebabkan penyakit vibriosis pada udang. Percobaan kedua dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh immonustimulasi Trichoderma sp. terhadap imunitas udang serta pengaruh protektif terhadap V. harveyi. Sekelompok udang disuntik dengan konsentrasi hambatan minimum (minimum inhibitory concentration, MIC) yang diperoleh dari hasil percobaan pertama, dan seminggu kemudian udang diuji tantang dengan V. harveyi (profilaksis). Kelompok udang lain diuji tantang dengan V. harveyi sebelumnya untuk kemudian disuntik dengan Trichoderma sp. (therapeutic). Kontrol positif, yang hanya diuji tantang dengan V. harveyi, dan kontrol negatif, yang tidak mendapat baik Trichoderma sp. maupun V. harveyi. Hasil percobaan pertama menunjukkan bahwa 600 ppm merupakan konsentrasi MIC Trichoderma sp. yang memberikan efek penghambatan maksimal terhadap V. harveyi. Sedangkan hasil percobaan kedua, kelompok udang yang mendapatkan Trichoderma sp. baik sebagai profilaksis maupun therapeutic menunjukkan bahwa Trichoderma sp. memberikan efek perlindungan terhadap infeksi V. harveyi secara signifikan lebih tinggi daripada kontrol positif dan lebih rendah daripada kontrol negatif. Total hemocyte count (THC) dan differential hemocyte (DHC), indeks fagositik dan aktivitas fenoloksidase kelompok perlakuan profilaksis atau perlakuan therapeutic berbeda baik dengan kontrol positif maupun negatif. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa Trichoderma sp. dapat digunakan dalam tindakan pencegahan dan pengobatan infeksi V. harveyi pada udang putih. Kata kunci: Trichoderma sp., V. harveyi, immunostimulan

Biocontrol agents in aquaculture: Production and their application

Yuhana, Munti

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.821 KB)

Abstract

The use of biocontrol agents have become commonly accepted as a ´natural weapon´ in aquaculture, either as an ecological bioremediator for low environmental quality, as well as the health promoter for cultured organisms. Biocontrol agents, which consist of beneficial microorganisms, are commonly applied as biosupplements in feeds. They are potential in replacing the use of antibiotic in inhibiting the pathogenic organisms. Therefore, their application has revealed the potential as an effective strategy to reduce the over use of antibiotics in controlling the pathogenic agents, avoid the spreading the drug resistance, or environmental deterioration of the negative effect by killing useful microorganisms. The development of suitable technology for microbial agents production, viability and stability, is a key area of research for industrial production. Production of biocontrol agents should be based on the microbial criteria, and the ability to withstand stress during processing and storage of products is crucial. This review makes an overview of biocontrol agents selection studies including techniques for isolation/identification, selection, production and its application in order to be accepted as a valuable product in aquaculture. Key words: Biocontrol agents, beneficial microorganisms, aquaculture.   ABSTRAK Pemanfaatan agen biokontrol telah dapat diterima secara luas di dunia akuakultur sebagai senjata alami, baik sebagai bioremediator ekologis untuk memperbaiki kualitas lingkungan yang rendah maupun sebagai promoter/pendukung kesehatan untuk organisme-organisme yang dibudidayakan. Agen-agen biokontrol yang terdiri atas berbagai mikroorganisme yang menguntungkan umumnya diaplikasikan sebagai biosuplemen dalam pakan. Mikroorganisme tersebut potensial dalam menggantikan penggunaan antibiotik dalam proses penghambatan terhadap organisme patogenik. Oleh karena itu, aplikasinya yang sangat potensial dapat berguna sebagai strategi efektif untuk mereduksi penggunaan berlebih dari antibiotik dalam pengendalian agen patogenik, mencegah penyebaran sifat resistensi terhadap obat-obatan, atau mencegah kerusakan lingkungan dari kematian mikroorganisme yang bermanfaat. Pengembangan teknologi yang sesuai untuk produksi, viabilitas dan stabilitas dari agen biokontrol tersebut, merupakan kunci dari penelitian untuk produksi masal pada skala industri. Proses produksi dari agen biokontrol harus berdasar pada kriteria mikrobiologis. Sifat-sifat ketahanannya terhadap stress selama pemrosesan maupun penyimpanan produk adalah penting. Pada makalah ini disajikan teknik-teknik untuk isolasi, identifikasi, produksi dan aplikasi agen biokontrol untuk dapat diterima sebagai produk yang bernilai ekonomis dalam akuakultur. Kata kunci: Agen biokontrol, mikroorganisme yang menguntungkan, akuakultur.

Ovarian development of female mud crab, Scylla serrata supplemented with cholesterol and injected with serotonin

Pattiasina, Betsy J., Junior, M. Zairin, Mokoginta, I., Affandi, R., Manalu, W.

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.38 KB)

Abstract

Cholesterol is known to play an important role in nutrition of crustacean and function as a precursor for steroids synthesis, while neurohormone of serotonin could induce ovarian maturation in crustacean. Ovarian development of adult females Scylla serrata was induced by adding cholesterol in the diet and serotonin injection. This research was designed to study the effectiveness of cholesterol supplementation and serotonin injection in ovarian development. Broodstocks were stocked in nine experimental units in three fiber tanks. The fiber tank was equipped with sands substrate and flow through seawater system. The experimental crabs were assigned into a completely randomized design with a 3 x 3 factorial arrangement. The first factor was cholesterol supplementation in the diet with 3 levels (0, 0,5 and 1,0%). The second factor was serotonin injection with 3 levels (0, 5 and 10 μg/g BW). Samples of broodstock were taken every four days to evaluate the stages of ovarian maturity and parameters were used to evaluate the ovarian maturation stage are gonad index (GI) and oocyte diameter, concentration of estradiol 17β, yolk protein concentrations, and fecundity. Results showed that female crabs supplemented with 0,5% cholesterol and a combination of cholesterol 0,5% supplementation and injection serotonin with a dose of 10 μg/g BW had better reproduction development. It is concluded that ovarian development of Scylla serrata could be improved by cholesterol supplementation and serotonin injection. Key words: Cholesterol, serotonin, ovarian development, Scylla serrata   ABSTRAK Kolesterol diketahui merupakan nutrien spesifik yang berperan dalam sisntesis hormon steroid dan mengontrol reproduksi, sementara serotonin merupakan salah satu neurohormon yang dilaporkan dapat merangsang pematangan ovari dan pemijahan pada krustase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian kolesterol yang optimal dalam pakan buatan, serta dosis penyuntikan serotonin yang efektif untuk mempercepat proses perkembangan dan pematangan ovarium induk kepiting bakau Scylla serrata. Pemeliharaan induk dilakukan dengan menggunakan tiga buah bak fiber. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan substrat pasir dan sistim air laut mengalir. Eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, dengan 9 satuan percobaan. Faktor pertama, suplemen kolesterol didalam pakan dengan 3 tingkat dosis (0; 0,5; dan 1%) dan faktor kedua, injeksi serotonin dengan 3 tingkat dosis (0, 5, dan 10 μg/g bobot tubuh). Pengamatan terhadap tingkat kematangan ovari dilakukan setiap 4 hari sekali. Paramater pengambilan sampel meliputi  tingkat kematangan ovari, indeks gonad dan diameter oosit, konsentrasi estradiol 17β, konsentrasi protein yolk, dan fekunditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk kepiting yang disuplementasi dengan dosis kolesterol 0,5% dan induk kepiting yang mendapat perlakuan kombinasi, suplementasi kolesterol 0,5% dan injeksi serotonin dosis 10 μg/g bobot tubuh dapat menghasilkan perkembangan ovari yang terbaik. Jadi kolesterol dan serotonin dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan ovari. Kata-kata kunci: Kolesterol, serotonin, perkembangan ovari, Scylla serrata

Financial analysis of pond area extension in Pacific white shrimp culture at Cantigi Indramayu

Diatin, Iis, Kusumawardany, U.

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.866 KB)

Abstract

Pacific white shrimp is one of the primadona of fishery commodities. This shrimp is superior as it resists to diseases and also high productivity. Jati Hasil Diri (JHD) located in Cantigi Indramayu is one of the pacific white shrimp culture company. In order to develop the business, this company planned to extent their pond area from 26 to 42 Ha. This plan was therefore needed to be financially analyzed to confirm its feasibility. There were two different scenarios of area extension, first scenario was to extent pond area without any technical improvement, and the second scenario was to extent pond area with technical improvement. The result of the study shows that the pond area extension was feasible with NPV of Rp7.221.427.150,00  and  Rp29.867.006.067,00, the net B/C of  2,62 and 7,7  and  also the  IRR of 47,84%  and 146,55% for the first and second scenario, respectively. Sensitivity analysis indicated that the business is still feasible to be operated at a maximal of feed price the increase of 38,84% for the first scenario and 119,36% for the second scenario or if the shrimp price decrease with a maximum decrease of 18,81% and 41,12% at first and second scenario, respectively. The first business scenario is more sensitive as compare to the second scenario. Key words: Pacific white shrimp, Cantigi Indramayu, pond, technical improvement, sensitivity analysis   ABSTRAK Udang vaname merupakan salah satu komoditas perikanan yang menjadi primadona, karena keunggulannya yaitu tahan terhadap penyakit dan menghasilkan produktivitas yang cukup tinggi. Usaha Jati Hasil Diri (JHD) di Cantigi Indramayu adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam usaha budidaya udang vaname. Dalam rangka mengembangkan usahanya, perusahaan berencana untuk menambah  luas lahan tambaknya dari 26 Ha menjadi 42 Ha. Sehingga perlu dikaji melalui analisis kelayakan finansial, apakah penambahan luas lahan ini layak atau tidak untuk diusahakan. Pengembangan ini menggunakan dua skenario yaitu skenario pertama adalah perluasan lahan   tanpa ada perbaikan teknis dan skenario ke dua adalah   perluasan lahan yang disertai dengan perbaikan teknis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan luas lahan  pada  Usaha JHD layak untuk diusahakan  dengan  nilai NPV  pada skenario 1 dan 2 masing-masing sebesar  Rp7.221.427.150,00 dan  Rp29.867.006.067,00, net B/C sebesar 2,62 dan 7,7 dan IRR sebesar 47,84% dan 146,55%. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha masih layak dijalankan jika terjadi kenaikan harga pakan udang  pada skenario 1 maksimal sebesar 38,84%  dan skenario 2 sebesar 119,36%, sedangkan penurunan harga jual udang  vaname  maksimal pada skenario 1 sebesar 18,81% dan skenario 2 sebesar 41,12%.  Pengembangan usaha pada skenario 1 lebih sensitif dibandingkan skenario 2. Kata kunci: Udang vaname, Cantigi Indramayu, tambak, perbaikan teknis, analisis sensitivitas

The growth performance of Osphronemus goramy reared in saline water with electrical field exposure

Nirmala, Kukuh, Rasmawan, .

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.392 KB)

Abstract

The aim of this study was to know the optimal salinity level on growth rates of giant gouramy Osphronemus goramy  reared in different salinity with electrical field exposure. Four different salinities tested were 0; 3; 6 and 9‰ with the electrical field exposure of 10 Volt. The experiment design was arranged in completely randoumizes design with four treatments and three replications. Stock density was 3 fish/l with mean initial total body length of 7.18±0.30 cm and initial body weight of 5.68±0.67 g. Result of study showed that the treatment of 3‰ shows the best growth performance with specific growth rates of 1.02±0.10% and growth of absolute length of 0.56±0.18 cm. Key words: Salinity, electrical field, growth rate, Osphronemus goramy   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui salinitas optimal untuk pertumbuhan ikan gurame Osphronemus goramy yang dipelihara pada media bersalinitas berbeda dengan paparan medan listrik. Perlakuan meliputi empat salinitas media yang berbeda: 0, 3, 6, dan 9‰ dengan paparan medan listrik 10 Volt. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Padat penebaran ikan adalah 3 ekor/l dengan rata-rata panjang total 7,18±0,30 cm dan bobot rata-rata awal 5,68±0,67 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan gurame terbaik pada penelitian ini dicapai pada salinitas 3‰ dengan pertumbuhan bobot 1,02±0,10% dan pertumbuhan panjang mutlak 0,56±0,18 cm.   Kata-kata kunci: Salinitas, medan listrik, laju pertumbuhan, Osphronemus goramy

Study of gonadotropin (GtH) stimulating hormone on gonad maturation of climbing perch Anabas testudineus Bloch

Suriansyah, ., Junior, M. Zairin, Sudrajat, Agus Oman

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.913 KB)

Abstract

Gonadotropin can quicken the process of 17α-hidroxyprogesterone hormone synthesis becoming 17α, 20β-di hidroxyprogesterone as the maturation inducing steroids (MIS) and quicken the process of egg nucleus integration to germinal vesicle breakdown (GVBD) position. This research aimed to know the efficacy of gonadotropin hormone in the form of ovaprim on gonad maturation of climbing perch (Anabas testudineus Bloch). Stimulation of GtH with a dose of 0.5 ml/kg of fish body weight could improve the fish gonado somato index (GSI) to 2.72 %, improve the the final egg diameter to  0.70 mm (71.50 %), and shorten ovulation time which down to 4.30 hours. Key words: Gonadotropin hormone, gonad maturation, Anabas testudineus   ABSTRAK Hormon gonadotropin dapat mempercepat proses sintesa hormon 17α-hidroksiprogesteron menjadi 17α, 20β-dihidroksiprogesteron yang berfungsi sebagai steroid yang merangsang pematangan gonad dan mempercepat proses integrasi inti sel telur menuju posisi germinal vesicle breakdowan (GVBD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hormon gonadotropin yang terdapat dalam ovaprim terhadap pematangan gonad ikan betook Anabas testudineus Bloch. Pemberian hormon GtH dalam bentuk ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg bobot ikan dapat memperbaiki perkembangan gonad yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai gonado somatik indeks (GSI) sebanyak 2,72%, peningkatan diameter telur menjadi 0,77 mm (71,50%) dan mempercepat waktu ovulasi menjadi 4,3 jam. Kata-kata kunci: Hormon gonadotropin, pematangan gonad, ikan betok

Study on food habits of herring (Clupea fimbriata) in Ujung Pangkah Waters, East Java

Sulistiono, ., Robiyanto, M., Brodjo, M., Simanjuntak, C.P.

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.913 KB)

Abstract

Herring Clupea fibriata is an important fishery resource in Indonesia. This species is found in large number in Ujung Pangkah Waters. This study aims to investigate food habits of the species. The study was done from July to December 2005, in Ujung Pangkah Waters (Gresik, East Java Province), using samples of 313 individuals consisting of 147 males and 166 female fish, collected by gill net and fix net. Study result shows that food habit of the herring was consisted of Bacillariophyceae (7 genera), Crustacea (3 genera), Ciliate (2 genera), Dynophycea (2 genera), and detritus. Bacillariophyceae is a main food, Crustacea is additional food, and Ciliata and detritus is complementary food both for male and female fish. Electivity indeks of the fish varied from -0,99 to 0,45 (male) and -0,98 to 0,51 (female). According to the index, Skeletonema and Calanus are the dominant food of the fish collected in the Ujung Pangkah Waters. Key words:  Food habits, herring  (Clupea fibriata), Ujung Pangkah, Gresik   ABSTRAK Ikan tembang (Clupea fibriata) merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang cukup penting di Indonesia. Jenis ikan ini cukup banyak ditemukan di perairan Ujung Pangkah. Penelitian bertujuan untuk menganalisis makanan ikan tembang yang tertangkap di daerah tersebut.  Penelitian dilaksanakan sejak Juli sampai Desember 2005, di daerah Perairan Ujung Pangkah (Gresik, Jawa Timur), dengan pengambilan sampel ikan sebanyak 313 ekor yang terdiri atas 147 ekor jantan dan 166 ekor betina, menggunakan alat tangkap jaring insang (gill net) dan jeger (fix net). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan tembang memiliki makanan yang terdiri atas Bacillariophyceae (7 jenis), Crustacea (3 jenis), Ciliata (2 jenis), Dynophycea (2 jenis), dan detritus.  Kelompok Bacillariophyceae merupakan kelompok makanan utama, Crustacea merupakan makanan pelengkap, dan Ciliata dan detritus merupakan makanan tambahan baik pada ikan jantan maupun ikan betina.  Indeks pilihan makanan ikan tembang berkisar antara -0,99 sampai 0,45 (pada ikan jantan) dan -0,98 sampai 0,51 (pada ikan betina). Berdasarkan  indeks tersebut, Skeletonema dan Calanus merupakan jenis yang banyak dimakan ikan tembang di perairan Ujung Pangkah. Kata kunci:  Makanan, ikan tembang (Clupea fibriata), Ujung Pangkah, Gresik

Evaluation of the nutritional value of Leucaena leucophala leaf meal hydrolyzed by sheep rumen liquor enzyme extract on the growth performance of Nile tilapia (Oreochromis niloticus)

Fitriliyani, Indira

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.482 KB)

Abstract

This experiment was conducted to evaluatee the nutritional value of Leucaena leucocephala leaf meal (LLM) with supplementation of sheep rumen liquor crude enzyme on the growth of Nile tilapia. Fish were fed isonitrogenous (± 32% crude protein and C/P ± 9.25 ccal/kg) diets for 50 days.  Six diets were  formulated to contain hydrolyzed LLM at level 10%, 15%, 20%, 25% and 30% (Diet A, B, C, D and E respectively) and one diet acting as a control (Diet K, 0% LLM). All diets were isonitrogenous and isoenergy.  A seven week feeding trial was carried out on triplicate groups of eight fish (9.38  ± 0.41) in 18 aquarium with a recirculating system.  Fish were fed twice daily at satiation.  Results of the present study indicated that the fish fed diet contained 0%, 10% and 15% of lamtoro leaf meal had significantly higher in specific growth rate (SGR) than other groups (p

Hematology of common carp following DNA vaccination and koi herpesvirus challenge test

Nuryati, Sri, Maswan, N.A., Alimuddin, ., Sukenda, ., Sumantadinata, K., Pasaribu, F.H., Soejoedono, R.D., Santika, A.

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.781 KB)

Abstract

The study was aimed to determine the effectiveness of DNA vaccine doses on hematological aspect which represent immune response and its influence on common carp survival rate. DNA vaccines encoding the viral glycoprotein of  koi herpesvirus (KHV) have been proved to highly protect the fish under laboratory condition.  A dose of 12.5 µg/100 µl vaccine had resulted in a survival rate of 96.67 % during 30 days after challenge test with a lethal dose of KHV. Fish vaccinated using lower doses, i.e. 2.5 and 7.5 µg/100µl showed 100% mortality after 15 and 19 days challenge test respectively, whereas non vaccinated fish as a control showed 100% mortality after 17 days challenge test.  Total leucocytes of the vaccinated fish were higher than control until 42 days post vaccination, but declined afterward.  Phagocytic index of the vaccinated fish using 12.5 µg/100 µl was declined after 49 days post vaccination or 7 days post challenge test. Key words: DNA vaccine, Koi herpesvirus (KHV), leucocyte, phagocytic index, Cyprinus carpio   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh vaksinasi menggunakan vaksin DNA dengan dosis berbeda terhadap gambaran darah ikan sebagai respresentasi tanggap kebal ikan mas serta pengaruhnya terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan mas. Vaksin DNA penyandi glikoprotein koi herpesvirus (KHV) dapat memberikan proteksi yang tinggi pada percobaan skala laboratorium.  Vaksinasi dengan dosis 12,5 µg/100µl dapat mempertahankan kelangsungan hidup sebesar 96,67% selama satu bulan setelah uji tantang dengan virus KHV menggunakan dosis letal.  Ikan yang divaksin dengan dosis yang lebih rendah yaitu 2,5 dan 7,5 µg/100µl mengalami kematian total berturut-turut setelah 15 dan  19 hari uji tantang, sedangkan ikan kontrol yang tidak divaksin mengalami kematian total setelah 17 hari uji tantang.  Jumlah leukosit total ikan yang divaksinasi lebih tinggi dibanding dengan kontrol sampai hari ke-42, setelah itu mengalami penurunan.  Indeks fagositosis ikan yang divaksin dengan dosis 12,5 µg/100µl mengalami penurunan setelah hari ke-49 atau 7 hari setelah uji tantang. Kata kunci: Vaksin DNA, Koi herpesvirus (KHV), leukosit, indeks fagositosis, Cyprinus carpio

Effects of different doses of skt-b vibrio probiotic bacteria addition on survival and growth rate of tiger shrimp (Penaeus monodon) larva

Widanarni, ., Lidaenni, M.A., Wahjuningrum, Dinamella

Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Jurnal Akuakultur Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.851 KB)

Abstract

Probiotic bacteria has been widely used as biocontrol agents in tiger shrimp hatcheries.  Vibrio SKT-b is one of the probiotic bacteria candidates that could suppressed the growth of pathogenic bacteria Vibrio harveyi and could increase survival rate of tiger shrimp larva. This experiment was carried out to study the effects of probiotic bacteria SKT-b Vibrio addition at different doses on survival and growth rate of tiger shrimp larva.  Experiment was conducted with five treatments and three replications, consisted of SKT-b Vibrio probiotic bacteria addition at the doses of 103 CFU/ml, 104 CFU/ml, 105 CFU/ml, and 106 CFU/ml and control (0 CFU/ml).  Results showed that optimum dose of probiotic bacteria for tiger shrimp was 104 CFU/ml with a survival rate of 94.67%. However, the addition of probiotic bacteria at this particular dose did not significantly increase shrimp growth rate as compared with control. Key words: Probiotic bacteria, SKT-b Vibrio, doses, tiger shrimp larva   ABSTRAK Bakteri probiotik telah banyak digunakan sebagai agen biokontrol dalam pembenihan udang windu.  Vibrio SKT-b merupakan salah satu jenis bakteri kandidat probiotik yang telah diuji dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen Vibrio harveyi dan dapat meningkatkan kelangsungan hidup larva udang windu.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian bakteri probiotik Vibrio SKT-b dengan dosis yang berbeda terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva udang windu. Penelitian ini dilakukan dalam 5 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan, yaitu penambahan bakteri probiotik Vibrio SKT-b dengan dosis 103 CFU/ml, 104 CFU/ml, 105 CFU/ml, dan 106 CFU/ml dan kontrol (0 CFU/ml).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimal untuk larva udang windu adalah 104 CFU/ml dengan nilai kelangsungan hidup 94,67%. Namun, pemberian bakteri probiotik tersebut belum menghasilkan pertumbuhan yang berbeda nyata dengan kontrol. Kata kunci: Bakteri probiotik, Vibrio SKT-b, dosis, larva udang windu

Page 1 of 57 | Total Record : 565


Filter by Year

2002 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 17, No 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 17, No 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 16, No 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 16, No 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 15, No 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 15, No 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 14, No 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 14, No 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 13, No 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 13, No 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 12, No 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 12, No 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 11, No 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 11, No 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 10, No 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 10, No 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 9, No 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 8, No 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 8, No 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 7, No 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 6, No 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 5, No 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 4, No 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 4, No 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 3, No 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 3, No 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 3, No 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 2, No 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 2, No 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 1, No 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 1, No 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol 1, No 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue