cover
Contact Name
I Gusti Ngurah Triyana
Contact Email
ngrtriyana@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalgunawidya@ihdn.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU
ISSN : 23555696     EISSN : 25550156     DOI : -
Jurnal Guna Widya adalah Jurnal Pendidikan Hindu yang dikelola oleh Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Dharma Acarya. Guna Widya memuat hasil penelitian maupun hasil pemikiran akademisi dan praktisi pendidikan Agama Hindu. Jurnal Guna Widya memberikan ruang gerak terhadap penulis yang ingin mengembangkan dan menyebarkan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ajaran Agama Hindu yang bersifat mendidikan sehingga dapat membentuk karakter masyarakat Hindu yang cerdas dan berbudi pekerti yang luhur. Guna Widya juga memuat tentang aplikasi ajaran Agama hindu yang disesuaikan dengan adat, budaya dan tradisi masyarakat pendukungnya. Guna Widya lahir dengan harapan membuka cakrawala pendidikan yang luas khususnya dalam bidang pendidikan Agama Hindu
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 1 (2017)" : 10 Documents clear
UNIVERSALITAS MAHATMA GANDHI Arsa Wiguna, I Made
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyampaikan gagasan tentang pemikiran universal MK Gandhi atau yang lebih dikenal dengan Mahatma Gandhi.Beliau adalah sosok yang rendah hati namun memiliki pemikiran yang sangat dalam tentang kehidupan. Beliau juga merupakan tokoh paling penting dalam kemerdekaan India. Empat ciri khas Mahatma Gandhi dalam usahanya merebut kemerdekaan India yakni Ahimsa, Satyagraha, Swadesi, dan Hartal. Semangat dan prinsipprinsip universal inilah yang hendaknya diwarisi dan dikorelasikan dengan kehidupan saat ini.Kata Kunci : Universalitas, Mahatma Gandhi 
LOCUS EDUCATIONIS SEBAGAI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH MENUJU PESERTA DIDIK YANG BERBUDI Sueca, I Nyoman
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sekolah dapat menjadi wahana pendidikan karakter yang andal dan efektif bagi pembentukan idividu. Sekolah dapat memanfaatkan locos educationis di dalam lembaga pendidikan sebagai  praksis pendidikan karakter. Sejak dahulu sekolah memiliki dua tujuan utama dalam karya pendidikan mereka, yaitu membentuk  manusia yang cerdas, dan berbudi luhur. Mundurnya pendidikan karakter, kita wajib bertanya kembali pada diri sendiri dan pada orang lain terkait relevansinya pendidian karakter dalam sekolah. Kalau masih relevan, bagaimana kita sekarang mau menghidupkan kembali, dan melalui momen-momen pendidikan (locus educationis) mana, kita dapat memberikan pendidikan karakter itu di dalam diri peserta didik. Hancurnya nilai-nilai moral dalam masyarakat yang ditandai dengan merebaknya kekerasan seperti; pemerkosaan gadis dibawah umur, pembunuhan, narkoba dan lain-lainnya, fenomena inilah membutuhkan kelahiran baru pendidikan karakter di dalam sekolah. Momen-momen dalam lingkungan sekolah yang dapat dipakai sebagai sebuah sarana atau kesempatan dalam mengembangkan pendidikan karakter, telah melibatkan jaringan relasional antara staf sekolah dengan orang tua dan masyarakat.Kata Kunci: Sekolah sebagai wahana penguatan pendidikan karakter.
PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM PEMENTASAN TARI BARONG KETET UNTUK PERTUNJUKAN PARIWISATA DI BANJAR DENJALAN BATUBULAN Alit Supandi, I Nyoman
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tari Barong tidak termasuk tari wali, tetapi tidak semua barong tidak temasuk tari wali, Salah satu tari Barong yang secara kontinyu dipertontonkan adalah tari barong ketet di banjar denjalan desa Batubulan untuk pertunjukkan pariwisata, tari ini memiliki kesenian yang sangat menarik, hal ini akan mendukung perkembangan pariwisata. Yudabakti dan Watra 2007:25 Seni atau estetika yang jangkaunnya tidak terbatas pada suatu daerah tertentu saja, akan tetapi berlaku secara mendunia dan universal. Bahasanya menjangkau termasuk wilayah Bali yang sudah terkenal tentang seninya. Salah satu wujud kesenian yang dipertunjukkan sebagai hiburan pariwisata yaitu tari barong ketet. Kenapa tari Barong Ketet ini di tulis Karena tari Barong Ketet ini sudah terkenal, melihat dari segi ceritra mengandung unsur kebaikan dan keburukan. Didalam jaman gelobalisasi ini, orang lebih cenderung mengejar kemajuan tampa melihat dampak negatifnya. Disamping tari Barong Ketet ini memiliki unsur ruwa bineda juga terkandung nilai pendidikan estetis, religiusnya, dan sosial masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka pertunjukkan tari Barong Ketet ini sangat menarik untuk ditulis. Adapun hasil penulisan ini adalah sebagai berikut 1. prosesi pementasan tari Barong Ketet terlebih dahulu dilakukan persiapan untuk pementasan, ada yang mengatur dibidang gambelan, dekorasi, tiket, peralatan dan pakian. 2. Nilai yang terkandung didalam pementasan barong ketet yaiu nilai pendidikan estetis religius dan sosial masyarakat. Estetisnya terletak kepada periasan barong dan kuubnya barong, sedangkan nilai religiusnya terdapat pada saat pementasan harus mempersembahkan sesajen dari pada itu setiap pementasan sebaiknya mempersembahkan sesajen, guna untuk mendapatkan keharmonisan. sedangkan nilai sosial masyarakat terdapat pada aktipitas pelaksanaan pementasan terjalin kerjasama yang sangat baik, karena seke barong menyadari bahwa manusia adalah sebagai mahluk yang sosial, dan memiliki pedoman tatwa masi sehingga semuanya adalah sama dan tidak ada yang membedakan satu antara yang lainnya.Kata Kunci : Pendidikan Agama, Pementasan, Tari Barong Ketet
INTEGRITAS BUDAYA KERJA BIDANG BIMAS HINDU DENGAN PARISADA DALAM PEMBINAAN UMAT HINDU DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Nuasa, I Ketut
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebuah integritas Bidang Bimas Hindu dengan Parisada sebagai budaya kerja berwujud baik, akan berdampak terhadap umat Hindu yang merupakan masyarakat binaannya. Untuk memperbaiki budaya kerja membutuhkan waktu untuk merubahnya, maka dari itu perlu adanya pembenahanpembenahan yang dimulai dari sikap dan tingkah laku sebagai pemimpin pada lembaga umat Hindu. Demikian juga masing-masing pimpinan lembaga umat, baik Bidang Bimas Hindu maupun Parisada telah memilki tugas dan fungsi masing-masing. Tugas dan fungsi Bidang Bimas Hindu dengan Parisada dalam melakukan pembinaan, yaitu 1) melaksanakan pelayanan dan bimbingan masyarakat Hindu, 2) melaksanakan fungsi penjabaran dan pelaksanaan kebijakan teknis di bidang bimbingan masyarakat Hindu, 3) akan terjaganya keutuhan masyarakat Hindu dengan mengakomodasikan kearifan budaya lokal, dan 4) terwujudnya masyarakat Hindu yang berkualitas dan memiliki srada dan bhakti yang mampu diaktualisasikan secara modern.Kata kunci; Integritas budaya kerja Bimas Hindu, Parisada dalam pembinaan umat Hindu.
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN UPANISAD DALAM MEMBENTUK SISWA YANG BERKARAKTER Perni, I Nyoman
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selain Belajar adalah hal yang paling penting dalam menciptakan karakter manusia. itu, era postmodernisme menyiratkan degradasi moralitas, sehingga perlu untuk mempelajari pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan karakter. Sebaliknya ada stigma yang mengatakan bahwa belajar telah gagal dalam melahirkan karakter manusia. Kitab Upanishad sebagai kesimpulan dari fakta Veda Samhita bahwa itu berisi berbagai pembelajaran yang sangat efektif dalam mengembangkan karakter siswa. Secara implisit menekankan pengalaman belajar. Siswa diminta untuk mengalami terlebih dahulu, sehingga mengandalkan pengalaman, kematangan siswa akan terbentuk dan sangat efektif untuk menumbuhkan karakter. Selain itu, belajar Upanishad menekankan proses penguatan dengan menjalankan ajaran prinsifel, yaitu Abhyasa, Brahmacari dan Shraddha. Pembelajaran berikutnya berkaitan dengan kemandirian juga digambarkan dalam Upanishad bahwa banyak siswa benar-benar memiliki kemandirian. Belajar melalui kecenderungan spiritual, diyakini oleh para guru Upanishad dapat menumbuhkan karakter dan dapat mengubah roh manusia (Manava) terhadap karakter ilahi (Madhava).Kata Kunci : Selain Belajar adalah hal yang paling penting dalam menciptakan karakter manusia.
FUNGSI ASTANGGA YOGA PATANJALI (Perspektif Pendidikan Agama Hindu) Madja, I Ketut
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demikian disebutkan dalam Sarasamuscaya 2-4 bahwabetapa sangat utamanya dilahirkan sebagai manusia di dunia ini, karena sangat sulit untuk diraih.Maka itu, hendaklah seseorang berbesar hati diberikan kesempatan untuk lahir sebagai manusia.Di antara makhluk ciptaan Tuhan, hanya yang dilahirkan sebagai manusia yang diberikan kemampuan dan hak istimewa untuk bertemu dengan Tuhan Yang Maha Esa (Gunaji, 2001:63).Keuntungan manusia sebagai makhluk tertinggi adalah menyadari sepenuhnya keberadaan jiwa yang universal dan juga dapat mengembangkan penyebab evolusi di dunia ini (Rama, 2002:231).Kata Kunci: Fungsi, Astangga Yoga, Perspektif, Pendidikan Agama Hindu.
ANALISIS NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA GAGURITAN TAMTAM Subawa, Putu
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan dalam menerapkan pendidikan karakter adalah nilai moral universal yang dapat digali dari agama. Nilai melukiskan suatu harga yang diyakini seseorang (termasuk di dalamnya keyakinan normatif). Nilai adalah sesuatu yang abstrak yang harganya mensifati atau disifati pada sesuatu hal dan ciri-cirinya dapat dilihat dari tingkah laku, memiliki kaitan dengan istilah fakta, tindakan, norma moral, cita-cita, keyakinan, dan kebutuhan. Nilai dalam hal ini adalah ajaran-ajaran yang terdapat dalam Weda atau Kitab Suci Agama Hindu, khususnya terdapat dalam lontar, kekawin-kekawin, geguritan-geguritan yang ada di Bali, oleh karena itu nilai yang bersumber dari kitab suci ini adalah merupakan cara penanaman nilai yang terbaik pada diri pribadi pada setiap orang.Kata Kunci : Pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan
GEGURITAN NALADAMAYANTI ANALISIS PENOKOHAN Sugita, I Wayan
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tokoh utama (protagonis) diduduki oleh Raja Nala, sedangkan tokoh antagonis diperankan oleh Dewi Damayanti. Penokohan Raja Nala mengalami perubahan atau dilukiskan secara dinamis, secara fisik, semula tampan, kemudian berubah menjadi cacat, kurus, dan kotor, akhirnya kembali tampan sesuai dengan rangkaian peristiwa yang dialaminya. Raja Nala secara psikologis diceritakan berwatak jujur, adil, bijaksana, dan setia. Perilaku Raja Nala didorong oleh faktor kekuasaan dan seks, yakni ia berusaha merebut kembali cinta kasihnya dengan Dewi Damayanti yang telah ditinggalkannya di tengah hutan. Beliau mengalami kesedihan dan kesengsaraan karena tidak mampu mengendalikan pikirannya dan mengingkari kesetiaannya kepada Dewi Damayanti. Pernikahan dengan Raja Nala merupakan pertemuan jodoh yang serasi, harmonis, dan sangat setia. Kesetiaan Dewi Damayanti diuji oleh Catur Dewata.Kata Kunci: Penokohan
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM LONTAR TUTUR SILAKRAMANING AGURON-GURON Sukerni, Ni Made
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter mulai dinomor satukan oleh pemerintah, sebab perkembangan sosial politik, pendidikan dan kebangsaan sekarang ini memang cenderung menegaskan pendidikan karakter bangsa. Maraknya perilaku anarkis, tawuran antar warga, penyalahgunaan narkoba dan penyimpangan nilai-nilai karakter bangsa lainnya menunjukan indikasi adanya masalah akut dalam pembangunan karakter bangsa. Lontar Tutur Silakramaning Aguron-Guron merupakan salah satu sumber agama yang dijadikan sebagai pedoman dasar sebagai pembentukan karakter yang berlandaskan pada ajaran Tri Kaya Parisudh yang merupakan pondasi dalam membangun karakter anak yang dimulai dari pikiran.Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Lontar Tutur Silakramaning Aguron-Guron
STRATEGI MEMBANGUN PERILAKU POSITIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN Sariani Binawati, Ni Wayan
GUNA WIDYA: JURNAL PENDIDIKAN HINDU Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehidupan masyarakat mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi. Berbagai dampak muncul positif maupun negatif. Perilaku yang merugikan dan mencemaskan masyarakat mulai muncul sehingga situasi menjadi tidak nyaman. Ketidaknyamanan muncul akibat dari rasa jengkel, kesal dan marah karena faktor ketersinggungan dan kurang mendapat perhatian. Pola hidup juga sangat berpengaruh pada perilaku. Suasana seperti ini juga sering terjadi di sekolah sehingga suasana belajar menjadi tidak nyaman. Untuk membangun perilaku positif diperlukan beberapa strategi diantaranya;Perubahan pembiasaan, saling menyapa, saling mengingatkan dengan ekspresi wajah yang menyenangkan selalu dilakukan secara persuasif sepanjang waktu dan mengikuti pendidikan belajar seumur hidup akan menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga generasi berkepribadian dan berbudaya sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat terwujud.Kata Kunci : Perilaku positif, pendidikan

Page 1 of 1 | Total Record : 10