Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema
ISSN : 14116464     EISSN : -
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema adalah jurnal ilmiah di bidang pengkajian dan penciptaan karya teater, seni pertunjukan dan sinema yang diterbitkan oleh Program Studi Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta). Penerbitan TONIL utamanya adalah untuk menjadi ruang komunikasi, diskusi, advokasi dan pemuktakhiran wacana, gagasan dan kritisisme para seniman ilmuwan, praktisi, dan semua pemangku kepentingan di bidang teater dan seni pertunjukan. TONIL juga bertujuan untuk saling membuka wawasan di bidang teater dan seni pertunjukan secara luas yang berkembang di Indonesia maupun di manca negara sehingga dapat membawa inspirasi dan pencerahan bagi studi teater dan seni pertunjukan. TONIL terbit sebanyak dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Juli dan November. TONIL membuka ruang bagi naskah-naskah hasil karya akademisi, praktisi dan semua pihak yang memberi perhatian pada bidang teater dan seni pertunjukan dari seluruh Indonesia maupun manca negara.
Articles 28 Documents
PEMERANAN TOKOH HELEN KELLER DALAM NASKAH HELEN KELLER KARYA WILLIAM GIBSON TERJEMAHAN MEYDA BESTARI oryza, nianda
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 15, No 2 (2018): ABSURDITAS DALAM PANGGUNG TEATER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.527 KB)

Abstract

Actor is the first device in theatre. On the stage, actors will createthe performance that corespon with structure and texture. While on the stage, actor not be her/him self but she have to be character that she has been choosen. Actor have to has high intelligence and appeal to play Helen Keller in order to the people understand about the information.The system acting theory from Stanislavski is actorchoice to act asHelen Keller. Script Helen Keller by William Gibson can gave challange for actors, not only blind, deaf, and mute, but also actor have to be child 7 years old. So many challenge act that should to through for reach this character. Script of Helen Keller has a moral value about the way to behave difable human. Keyword: actor, act, character, script, Helen Keller, Stanislavski, the system
PENCIPTAAN NASKAH DRAMA LOLO TRANSFORMASI KEHIDUPAN PENARI SINTREN PEMALANG putrianti, evi
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 15, No 1 (2018): MEMBACA JEJAK TEATER KLASIK
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.53 KB)

Abstract

Penciptaan naskah drama Lolo merupakan sebuah naskah transformasi kehidupan penari sintren Pemalang. Proses penciptaan naskah drama Lolo dilakukan dengan metode penciptaan menurut Graham Wallas, teori feminisme dilengkapi dengan teori tingkah laku sosial. Tahapan yang dilakukan dalam penciptaan naskah drama Lolo adalah dengan cara melakukan observasi dan wawancara, membaca tinjauan pustaka serta membaca karya-karya terdahulu. Setelah semua data terkumpul, proses selanjutnya adalah mengolahnya menjadi sebuah naskah drama utuh. Naskah drama Lolo menceritakan tentang perjuangan gadis berusia 14 tahun bernama Kencana yang harus putus sekolah, menjadi penari sintren, mengalami tekanan sosial hingga akhirnya menikah. Kekecewaan demi kekecewaan mengantarkan Kencana pada satu pilihan, untuk melakukan pembunuhan.
MEMBANGUN RUANG URBAN ALTERNATIF MELALUI PERFORMANCE ART Sathotho, Surya Farid
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 16, No 1 (2019): PERFORMANCE ART DALAM RUANG URBAN
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.435 KB)

Abstract

 Abstract: Space is created by the action of historical subject. This notion is refer to Urban in space context which is fluid and its fluidity is challenging to any subject to offer new idea of its space. Performance as historical subject has capacity to create certain space in the process while performance per se takes in certain place, mostly in the urban place, and space.  By shifting the performance’s place, the alternative space will be created which might include alternative urban space. Although the idea of shifting of place in performance is nothing but cliché, but the place is can always be new, hence the space created as well. Furthermore, the performativity of the space is also taken into consideration.This essay carries out the process and implication of the new space created by shifting a performance’s place through the close watching of M Brilyan’s Mother’s Dance (2018). Key words: space, urban, shifting, performance, performativity, Mother’s Dance
ANALISIS KO-TEKSTUAL DALAM AUDIO VISUAL BAGIAN TEATER TRADISI TARLING DRAMA BARIDIN KARYA H. ABDUL AJIB PRODUKSI KURNIA NADA GROUP waro'ah, waro'ah
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 14, No 2 (2017): IMPROVISASI DALAM SENI PERTUNJUKAN
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.594 KB)

Abstract

Tarling drama Baridin is a traditional theater show from Cirebon whose story idea stems from the myth of kemat Jaran guyang. Background of social disparity between two families makes Baridin performing Jaran guyang's death as a result of heartache because he has been insulted and love isrejected. The research of co-textual analysis of Baridin drama tarling aims to explain the aspects of Tarling drama Baridin as a theater tradition intrinsically. The result of this research is to know the dialogue, plot, characterization, background and theme of Bariar drama tarling show, and to knowthe meaning of the dashed verse of Jaran guyang seen from the denotative and connotative meaning which become the myth as well as the message that do not insult and do rude to others. Keywords: tarling, drama, co-textual analysis, myth
PENCIPTAAN TOKOH JERRY PADA NASKAH DRAMA THE ZOO STORY KARYA EDWARD ALBEE patra, i gusti
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 15, No 2 (2018): ABSURDITAS DALAM PANGGUNG TEATER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.776 KB)

Abstract

Lakon ini berbicara tentang dampak modernisasi sebuah masyarakat yang membuat orang-orang menderita keterasingan pada kehidupan yang mereka miliki. Selain itu lakon ini juga berbicara menyerang landasan optimisme Amerika1. Selain itu, dalam lakon ini beberapa paham filsafat juga bisa ditemukan dalam naskah ini. Seperti misalnya filsafat eksistensialisme berarti adanya, dan dibedakan dari esensi yang berarti hakikat2. Meskipun The Zoo Story kurang laku di Amerika, sehingga pementasan pertama dilakukan di Berlin Jerman pada tahun 1958, akhirnya The Zoo Story pun dipentaskan di Broadway pada tanggal 14 januari 1960.  Kata kunci : Modernisasi, Optimisme Amerika
PEMERANAN TOKOH NORA DALAM NASKAH RUMAH BONEKA KARYA TERJEMAHAN AMIR SUTAARGA (NASKAH ASLI A DOLL’S HOUSE KARYA HENRIK IBSEN) Lestari, Supiriani
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 16, No 1 (2019): PERFORMANCE ART DALAM RUANG URBAN
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.657 KB)

Abstract

A translated script "Rumah Boneka" (A Doll's House) by Amir Sutaarga from the original script "A Doll's House" by Henrik Ibsen which is a criticism onto human male's egoisms and slightly exposes the gender equality to human female. Ibsen aims to reveal the wrong social statements onto female's social role and its social institutions. The main actor in this play will portray Nora by applying the "magic if" acting theory which was introduced by Constantin Stanislavsky - "as if" and "if only" kind of self-imagination where the actor imagines to be in Nora's shoes. In the application of this theory of acting, the exploration goes through certain levels of acting rehearsals to really get into the character of Nora's along with her conflicts. Key word: A Doll's House, Henrik Ibsen, Nora, Constantin Stanislavsky, Magic If.
PEMERANAN TOKOH SYLVIA DALAM NASKAH THE TYPISTS KARYA MURRAY SCHISGAL TERJEMAHAN YURI AKHMAD S subekti, galuh
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 14, No 1 (2017): MENYOAL PENCIPTAAN TEATER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.06 KB)

Abstract

Modern man has now undergone a change of perspective with various problems concerning individuals and even groups. The reason is so complex, with the current pace of modern man more follow the actual desire is not the choice. Humans assume that he is alright without realizing that he has become an object and experiencing non-existence. Today's modern man has unknowingly experienced and felt the void, hope, loneliness, and anxiety. Since Sylvia young to old Sylvia many changes. Awareness as a manuisa who lost existence is supported by the presence of Paul. Staging will be presented with the concept of pantomime and realist acting style. With so actors are required to be able to combine the concept with the achievement as much as possible. Key word : Theatre, actor, Syvia, acting, physical theatre, pantomime.
Pemeranan Tokoh Scapin Dalam Naskah Akal Bulus Scapin Karya Moliere Terjemahan Asrul Sani juniarto, dwi
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 15, No 2 (2018): ABSURDITAS DALAM PANGGUNG TEATER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.046 KB)

Abstract

Pemeranan tokoh Scapin dalam naskah Akal Bulus Scapin, merupakan perancangan akting komedi Farce. Bentuk akting komedi ini memfokuskan pencarian bentuk-bentuk ekspresi yang karikatural. Komedi Farce adalah sebuah pertunjukan yang sengaja dibuat-buat untuk menghasilkan kelucuan. Oleh karena itu dalam menciptakan tokoh Scapin dengan akting komedi Farce, aktor menciptakan gestur lucu yang komikal, permainan yang spontan, menciptakan  tone vokal yang spesifik, gerakan-gerakan yang ganjil, dan kejutan-kejutan. Tujuan dari pemeranan tokoh Scapin ini adalah agar pembaca khususnya pelaku seni peran agar dapat menemukan dan mengetahui cara bermain akting komedi pada tokoh Scapin dalam naskah Akal Bulus Scapin dengan  permainan gaya akting komedi Farce.Keyword : Aktor, Komedi, Farce, Moliere
PEMERANAN TOKOH AKU DALAM NASKAH MY FRIEND HAS COME KARYA TOSHIRO SUZUE apriadinnur, rangga dwi
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 15, No 1 (2018): MEMBACA JEJAK TEATER KLASIK
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (996.3 KB)

Abstract

Tokoh Aku dalam naskah My Friend Has Come memiliki keunikan dalam hal psikologis serta sosiologisnya seperti yang dipaparkan dalam naskah dan juga pertunjukan yang pernah ditonton oleh penulis. Tokoh Aku adalah individu introvert, dengan kecenderungan skizofrenia dan sedang melakukan penarikan diri dari interaksi sosial atau yang disebut dengan hikikomori.Untuk dapat memahami dan memerankan tokoh Aku dalam naskah My Friend Has Come karya Toshiro Suzue, penulis melakukan penelitian kualitatif dengan membaca buku yang membahas tentang psikologi, begitu juga artikel – artikel dan jurnal yang menulis tentang hikikomori yang dilakukan oleh tokoh Aku. Selain itu, penulis juga menonton film dan drama Jepang yang dimana terdapat tokoh yang memiliki kesamaan karakter dengan tokoh Aku. Dalam memerankan tokoh Aku penulis menggunakan pendekatan magic if dari Stanilavski dan menggunakan gaya akting realisme.Pemahaman, pendekatan dan metode yang dipilih serta dilakukan penulis mampu membantu penulis dalam memahami, menemukan serta memerankan karakter tokoh Aku yang menderita skizofrenia.
IMPROVISASI DALAM TEATER ANTARA TEKNIK PEMERANAN DAN PERTUNJUKAN santosa, eko
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 14, No 2 (2017): IMPROVISASI DALAM SENI PERTUNJUKAN
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.187 KB)

Abstract

Improvisation is sometimes hard to be defined. Every theater worker has their own concept, methode and way to do it. But must of all, improvisation is always connected to spontanity which is transformed from acting is doing. When acting is reality of doing there would be a physcal action which brings influence to feelings or emotions. To have a spontaneus physical adaptation in every beat of scene of acting, actors should be well trained in the term of improvisation. The training materials of improvisation contains all elements of acting which are following four rules; why, do’s, don’ts, and how. Actors whom have skill of improvisation could bring it into the reality of acting as a technique in script’s based theater or to perform within improvisation’s theater. Keywords; improvisation, acting technique, performance, training

Page 1 of 3 | Total Record : 28