cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
MediaTor: Jurnal Komunikasi
ISSN : 14115883     EISSN : 25810758     DOI : -
Core Subject : Education,
Mediator: Jurnal Komunikasi focuses on communication studies and media. Although centered on communication, Mediator is open and welcomes the contribution of many disciplines and approaches that meet at crossroads with communication studies. Type of writing is in the form of scientific articles (the results of field research, conceptual articles, or desk studies). This journal is intended as a medium of scientific study to communicate vision, reflection, conceptual thinking, research results, interesting experiences in the field, and critical analysis-studies on contemporary communication issues.
Arjuna Subject : -
Articles 597 Documents
Landasan Ilmiah Komunikasi: Sebuah Pengantar Hamijoyo, Santoso S
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

llmu komunikasi merupakan ilmu terapan. Artinya ia menerapkan asas-osas ilmiah teori, generalisasi, dan penemuan ilmiah dari empat ilmu sosial dasar yang telah melandasinya. Tidak bisa dibayangkan seorang ilmuwan atau pakar komunikasi yang bergerak pada dataran praktis sekalipun,jika ia tidak memahami atau menguasai prinsip-prinsip ilmu sosial dasar, karena yang menjadi inti perhatian sehari-hari adalah perilaku manusia dan perubahan sosial. 1idak berarti bahwa sebagai ilmu terapan ia lantas menjadi pasif. ia justru harus aktif berkreasi. berinovasi, dan berimajinasi, melalui penelitian, pengembangan, dan penyebaran dalam situasi riil. Dalam hal ini ia akan dibimbing oleh masalah-masalah implementasi praktis maupun masalah-masalah konsepsional teoritik.
Kebenaran Sebagai Prasyarat Etis Pers Sobur, Alex
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1, Tahun 2000
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kredo seorang insan pers (wartawan) adalah mengabdi kepada kebenaran dan kepada publik. Maka itu, seorang wartawan memerlukan iklim kebebasan untuk bisa bekerja secara professional, memenuhi tugasnya menyampaikan informasi yang benar dan berharga. Dalam hubungan ini, paham pers mengenai kebebasan, mengandung pelbagai unsur substansial: kebebasan untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, namun sekaligus juga tanggung jawab tentang kadar kebenaran yang berhasil ditemukan oleh pers, serta tanggung jawab mengenai apakah implikasi dan konsekwensi dari kebebasan berita tersebut, apalagi diterbitkan secara umum dan terbuka.
Mengapa Wacana Teks Jurnalistik Itu Unik: Sebuah Esai Kurnia, Septiawan Santana
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 1, No 1, Tahun 2000
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi media massa membawa kompleksitas hubungan komunikasi manusia. Setiap manusia menjadi memakai wacana pesan yang berbeda dari sifat personal dan kelompok. Ruang sosial peristiwa-berita berkembang selaras dengan kebutuhan masyarakat dalam membuat pola interaksi sosialnya melalui media massa. Media massa, dalam perkembangannya, kemudian menginstitusikan wacana teks yang unik. Karakterisik pesan jurnalistik, sebagai bagian dari komunikasi massa, menjadi memiliki keunikan dalam sampaian dan muatannya.
Komunikasi Bisnis Antarbudaya dalam Era Globalisasi Winangsih, Nina
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implikasi dari perdagangan bebas (Baca:persaingan global) adalah bahwa Indonesia tidak lagi sekadar “jago kandang”. Bebas dan terbukanya pasa,r berarti timbal balik. Pasar Indonesia terbuka, namun terbuka bagi pasar negara lain. Dibukanya pasar negara lain tanpa macam-macam hambatan, yang diskriminatif maupun nontarif, itulah yang dapat dan mesti kita manfaatkan. Hal ini berarti bahwa ekonomi Indonesia harus menghasilkan produk barang dan jasa yang mampu bersaing karena mutu, harga, dan pelayanan. Di samping itu, tentu saja memiliki kemampuan memasarkannya secara global. Lewat survey yang dilakukan Kementerian Perdagangan dan Industri Internasional (MITI) Jepang, disimpulkan bahwa sebagian kegagalan hubungan bisnis antara pebisnis asing dengan orang Jepang, disebabkan tidak dipahaminya karakteristik kepribadian dan budaya komunikasi bisnis masyarakat Jepang. Dari kenyataan di atas, maka jelas pemahaman dan penerapan pengetahuan komunikasi bisnis antarbudaya dalam interaksi bisnis internasional menjadi begitu diperlukan. Persaingan dagang global bukan semata-mata persaingan mutu produk dan jasa, melainkan juga persaingan taktik dan pemasaran. Kesanggupan kita untuk bersaing dalam gelanggang perdagangan bebas dunia, mesyaratkan kepekaan dan pemahaman terhadap perbedaan budaya bisnis yang ada. Tiap budaya harus diperlakukan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana dimaui. Di sinilah pentingnya peranan komunikasi bisnis antarbudaya, karena komunikasi antarbudaya mengajarkan dan menganggap setiap budaya sebagai entitas yang sederajat dan harus dipahami secara empatik.
Memahami Komunikasi Antarbudaya Khotimah, Ema
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap hari, setiap dari kita berkomunikasi. Tetapi, tidak dengan sendirinya setiap orang akanterampil melakukan komunikasi yang efektifdengan orang lain. Terlebih, bila orang yang terlibat dalam komunikast itu berbeda budaya. Sejarah telah membuktikan, dari masa Ice masa, kesalahpahaman memahami pesan, perilaku .atau peristiwa komunikasi; telah menyebabkan suasana yang tidak diharapkan, mulai dari penilaian yang merendahkan terhadap orang lain, cemoohan; cercaan, isolasi, sampai kepada tindakan-tindakan kekerasan. Bahkan, beberapa peperangan antarbangsa; antamegara, dan antarsuku, diakibatkan perbedaan dan kekeliruan dalam mempersepsi pesan, perilaku, dan peristiwa komunikasi. Oleh karena itu, kajian komunikasi antarbudaya sangat relevan dengan berbagaipersoalan kekinian, di mana setiap orang, disengaja atau tidak; suka atau tidak; akan semakin intensifterlibat dalam kontak sosial dengan orang-orangyang berbeda budaya.
The Role of Media Education in Developing Childrens Critical Thinking Toward TV Programs Venus, Antar
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengaruh televisi terhadap anak masih menjadi isu hangat yang diperdebatkan hingga saat ini. Sebagian pakar komunikasi berpendapat bahwa televisi memiliki pengaruh negatif yang bersifat langsung terhadap pembentukkan kepribadian anak. ahli lainnya meyakini bahwa pengaruh tersebut bersifat tidak langsung dan cenderung positif. Sementara, pakar komunikasi lainnya lagi berdiri di tengah-tengah kedua kubu ekstrem tersebut. Namun apapun bentuk pengaruh yang ditimbulkan televisi terhadap anak, sebagian besar pakar komunikasi sependapat bahwa sebaiknya anak di bekali kemampuan berpikir kritis ketika menonton televisi. Salah satu cara terbaik untuk menumbuhkan daya berpikir kritis tersebut adalah dengan melibatkan anak pada propgram edukasi media. Tulisan ini bermaksud menganalisis benarkah program edukasi media tersebut mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak ketika menonton televisi. Hasil-hasil studi tentang program edukasi media di beberapa negara yang dipaparkan di sini memberikan kesimpulan yang berbeda. Hal ini mengindikasikan perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut.
Revitalisasi Ilmu Komunikasi Melalui Riset Astuti, Santi Indra
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paradigma klasik mendominasi penelitian ilmiah komunikasi di Indonesia. Model-model komunikasi yang linier dari Schramm, Laswell, juga Shannon dan Weaver, masih dipertahankan untuk mengkaji efek-efek komunikasi. Dalamrisetsosial, terdapat banyak perspektif untuk menjelaskan objek penelitian berupa realitas sosial, yang salah satunya adalah peristiwa komunikasi. Yang pertama adalah emprisisme. Pendekatan kedua yang perlu diperkenalkan lebih meluas lagi adalah realisme. Perspektifketiga adalah subjektivisme. Idealisme adalah perspektif sosial lain yang belum begitu populer di kalangan periset komunikasi. Posmodernisme adalah istilah, sekaligus perspektif penelitian, yang sangat populer saatt ini. Pendekatan feminisme, dalam riset,juga bisa diterapkan sebagai panduan etis yang diharapkan bisa mencegah terulangnya fenomena "the age-oldfallacy of woman". Multiparadigma, sama halnya dengan multi-opinion dalam demokrasi, akan melahirkan dialektika yang bermanfaat bagi perkembangan ilmu yang bersangkutan. Tulisan ini mencoba memperkenalkan sejumlah alternatif di luar maupun di dalam paradigm klasik yang mendominasi studi ilmu komunikasi di Indonesia selama ini. Tidak semuanya merupakan pendekatan baru dalam riset-riset sosial, namun di Indonesia, alternatif ini iperkirakan merupakan sesuatu yang menyegarkan karena belum banyak disentuh oleh para peneliti kajian komunikasi.
Pengaruh Komunikasi Informatif tentang Seks dan Seksualitas terhadap Pengetahuan Remaja Yulianita, Neni
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This is an experimental study on the effects of the oral and written informative communication on sex and sexuality. The experiment was conducted at SMA in Bandung, the first class students being the experiment subjects. From the population (340 students), 78 students were picked up at random. The subjects were divided at random into three groups: the "oral" group (the listening group), the "written" group (the reading group), and the control group. Tests were given to the first group and the second group before and after the treatment, while test I and test II were given to the control group. The experiment aimed to test the following hypothesis: (1) There is a significant difference between the oral group and written group in their average knowledge on sex and sexuality; (2) There is a Significant difference between the male group and the female group exposed to both oral informative communication and written informative communication in their average knowledge on sex and sexuality; (3) There is a significant difference between the malegroup and the female group exposed to the oral informative communication, and between the male group and the female group exposed to the written informative communication in their average knowledge on sex and sexuality; (4) There is a significant difference between the male group exposed to the oral informative communication and the male group exposed to the written informative communication, and between the female group exposed to the oral informative communication and the female group exposed to the written informative communication in their average knowledge on sex and sexuality. Having been analyzed by the t and t tests, it was found that the second hypothesis was not accepted, while the others were accepted. It was also found that: (1) The oral informative communication was more effective than the written informative communication. (2) The oral informative communication was more effective on the male group, and the written informative communication was more effective on the female group.
Konstelasi Kemampuan "Listening" dalam Komunikasi Tatap Muka Suherman, Maman
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tatanan komunikasi dalam konteks tulisan ini lebih pada tatanan komunikasi tatap muka. Komunikasi pada hakikatnya adalah proses pengoperan lambang berarti dari seseorang kepada orang lain. Proses ini akan efektif manakala pelakunya berhasil mempersamakan makna tadi. Komunikator perlu membuat strategi yang jitu. Di pihak lain, komunikan harus siap mendengarkan apa yang akan disampaikan komunikator. Listening (mendengarkan), sebagai keahlian komunikasi, merupakan bagian integral dari komunikan yang dapat ikut menentukan efektivitas komunikasi. Apapun yang disampaikan komunikator, dengan menggunakan media apapun, dalam suasana bagaimanapun, sulit akan mencapai efektivitas, jika komunikan tidak mendukung proses komunikasi tersebut.
Implikasi Perkembangan Pertelevisian Pascaderegulasi terhadap Media Cetak Baskin, Askurifai
MediaTor (Jurnal Komunikasi) 2000 - Volume 1, No 1
Publisher : FIkom Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dasar pemikiran tulisan ini dilandasi perkembangan siaran televisi swasta yang semakinberkembang, dalam arti beragamnya pilihan stasiun tv swasta dengan acara yang bervariasi,di samping dukungan kebijakan pemerintah me/alui UU Penyiaran. Permasalahannya adalahbagaimana hubungan antara media cetakyang sudah lebih dahulu muncul dengan masuknyamedia elektronika dan broadcasting house? Kedua jenis media ini sebetulnya memilikikelebihan, sekaligus kekurangan. Ketika budaya televisi tumbuh dengan pesat, munculkekhawatiran dari sementara pengelola surat kabar akan semakin surutnya pembaca yangmenjadi surut. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa masing-masing mediamemiliki tingkat efisiensi tertentu yang tergantung dari message dan target khalayaknya.Da/am mengatasi persaingan, media cetak terus berupaya meningkatkan produksi danprofesionalismenya selain dengan mempertahankan segmen pembaca tertentu. Namun,pada perkembangan selanjutnya ternyata antarkedua media tersebut terjadi hubungankerja sama positif Masing-masing media saling memanfaatkan dan mendukungkelebihannya masing-masing

Page 1 of 60 | Total Record : 597


Filter by Year

2000 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 12, No 1 (2019) Vol 11, No 2 (2018) Vol 11, No 1 (2018) Vol 10, No 2 (2017) Vol 10, No 1 (2017) Vol 9, No 2 (2008): Dari “Starbucks’ hingga Pembebasan Biaya Kesehatan Dasar Vol 9, No 1 (2008): Isu Komunikasi Kesehatan yang Ter-”Pojok”-kan 2008 - Volume 9, No 2 (Terakreditasi Dikti) 2008 - Volume 9, No 1 (Terakreditasi Dikti) Vol 8, No 2 (2007): Proses Berkesenian = Proses Berkomunikasi Vol 8, No 1 (2007): Berkomunikasi dengan Anak 2007 - Volume 8, No 1 (Terakreditasi Dikti) 2007 - Vol 8, No 2 (Terakreditasi Dikti) Vol 7, No 2 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan? Vol 7, No 1 (2006): Bagaimana Kita Menafsirkan Komunikasi Pembangunan? 2006 - Volume 7, No 2 (Terakreditasi Dikti) 2006 - Volume 7, No 1 (Terakreditasi Dikti) Vol 6, No 2 (2005): Bagaimana Kita Menjelaskan Penerapan Teknologi? Vol 6, No 1 (2005): Kontroversi Dakwah dan Politik 2005 - Volume 6, No 2 (Terakreditasi Dikti) 2005 - Volume 6, No 1 (Terakreditasi Dikti) Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng Vol 5, No 1 (2004): Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya 2004 - Volume 5, No 2 2004 - Volume 5, No 1 Vol 4, No 2 (2003): Dari Politik, Media, sampai Lain-Lain Vol 4, No 1 (2003): Merayakan Wacana Kontemporer 2003 - Volume 4, No 2 2003 - Volume 4, No 1 Vol 3, No 2 (2002): Memilih Pendekatan dalam Penelitian: Kuantitatif atau Kualitatif? Vol 3, No 1 (2002): Atas Dasar Apa: Mediator Kali ini 2002 - Volume 3, No 2 2002 - Volume 3, No 1 Vol 2, No 2 (2001): 'Chaos' Komunikasi 'Nothing to Hide' Vol 2, No 1 (2001): “Publish or Perish!” 2001 - Volume 2, No 2 2001 - Volume 2, No 1 Vol 1, No 1, Tahun 2000 Vol 1, No 1 (2000): Salam (Pembuka) 2000 - Volume 1, No 1 More Issue