cover
Contact Name
Fransisca Iriani Rosmaladewi
Contact Email
fransiscar@fpsi.untar.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jmishs@untar.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
ISSN : 25796348     EISSN : 25796356     DOI : -
Core Subject : Art, Social,
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni (P-ISSN 2579-6348 dan E-ISSN 2579-6356) merupakan jurnal yang menjadi wadah bagi penerbitan artikel-artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang Ilmu Sosial (seperti Ilmu Psikologi dan Ilmu Komunikasi), Humaniora (seperti Ilmu Hukum, Ilmu Budaya, Ilmu Bahasa), dan Seni (seperti Seni Rupa dan Design). Jurnal ilmiah ini diterbitkan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara. Dalam satu tahun, jurnal ini terbit dalam dua nomor, yaitu pada bulan April dan Oktober.
Arjuna Subject : -
Articles 43 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni" : 43 Documents clear
Cover Jurnal Muara ISHS Editor, Jurnal Muara
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.188 KB)

Abstract

Cover Journal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Perintah Atasan atau Jabatan (Ambtelijk Bevel) sebagai Penyebab Korupsi di Lingkungan Birokrasi Hasbullah, Hasbullah
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.712 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.338

Abstract

Korupsi di lingkungan birokrasi adalah yang tertinggi dibanding sektor lainnya. Beberapa kasus menunjukan sistem birokrasi menjadi penyebab terjadinya korupsi dilingkungan birokrasi, misalnya adanya perintah atasan untuk memotong anggaran pekerjaan pengadaan barang dan bawahan menjalankan perintah atasan tersebut sebagai bentuk tugas jabatan. menarik untuk penulis kaji adalah faktor apa saja yang menyebabkan perilaku korup pada birokrasi sering terjadi? Pertanyaan selanjutnya adalah  apakah perintah atasan atau jabatan yang korupsi mengakibatkan bawahannya juga dianggap turut serta melakukan tindak pidana korupsi?, atas permasalahan tersebut kemudian penulis analisa dengan menggunakan metode penelitian normatif dan dihasilkan penelitian bahwa Tindak pidana Korupsi dalam birokrasi tidak seluruhnya faktor kesengajaan pelakunya, terdapat penggolongan birokrat yang melakukan koruspi, yaitu golongan birokrat yang sengaja melakukan korupsi dan kedua golongan birokrat karena faktor atasan atau perintah jabatannya melakukan korupsi, terhadap bawahan yang melakukan karena hanya melaksanakan perintah atasannya yang tidak dapat dia tolak, maka berlakulah penghapusan pidana terhadap bawahan yang melakukan perintah atasannya dalam kasus korupsi diatur dalam pasal 51 ayat (1). Dalam pennggulangan terhadap  tindakan korupsi di lingkungan birokrasi dapat dilakukan memperbaiki penghasilan (gaji), memperbaiki manejemen birokrasi dan memperbaiki etika dan moral dengan menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan, teladan dan pelaku pimpinan atau atasan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan, terbuka untuk kontrol, adanya kontrol sosial dan sanksi sosial.Kata kunci: korupsi, melaksanakan perintah atasan
Housing Behaviour of Urban Migrants Occupying Ngindung Lands in Yogyakarta Astuti, Wahyu Kusuma
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.743 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.366

Abstract

This article seeks to explore the housing behavior of urban migrant and re-theorize Turner’s model on housing priority by linking it with the housing career of urban migrants in a particular locality and condition of land occupancy. The study is aimed at investigating housing priority and career of urban migrants occupying ngindung land in Yogyakarta through comprehensive quantitative analysis with crosstab technique. Five ngindung communities in Kelurahan Pringgokusuman were examined in this study. The research finding demonstrates that Turner’s model is irrelevant to explain the middle-income migrants’ behavior in choosing moderate standard housing but not maintaining proximity to jobs in the city as their income increases. This is argued to have several rationalities including their circular-mobility behavior and willingness to pay more transportation cost to workplace. Besides, homeownership is found to have no correlation with increase of income. It is therefore suggested that security for urban poor migrants is more about opportunity of livelihood rather than accumulation of assets. In conclusion, this research reflects on the limitation and uncertainty of housing options for urban poor migrants and suggests a radical shift from perceiving ‘housing as a product’ to ‘housing as a process’ –  of becoming along with the livelihood betterment of a community.Keywords: Housing priority, housing behaviour, urban migrants, ngindung occupancy
Sistem Mekanis dari Objek Wisata sebagai Daya Tarik (Studi Kasus Jembatan Kota Intan Kota Tua Jakarta) Ramadhan, Ali
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.347 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.329

Abstract

Sistem mekanis merupakan suatu sistem yang berada di dalam sebuah objek benda. Keberadaannya dapat memberikan nilai tambah dari objek benda karena dapat memberikan suatu daya tarik tersendiri bagi pengguna atau orang yang memanfaatkannya. Jembatan Kota Intan merupakan salah satu jembatan yang dijadikan objek wisata sejarah yang memiliki nilai sejarah dalam pembentukan kota Jakarta. Berkitan dengan sejarah dari Jembatan Kota Intan, jembatan tersebut memiliki suatu sistem mekanis yang dapat memberikan nilai tambah sebagai objek wisata sejarah. Saat ini, sistem mekanis yang ada pada jembatan tersebut sudah tidak dapat digunakan karena jembatan tersebut hanya dilihat sebagai objek wisata saja. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini dapat memberikan penjelasan secara deskriptif untuk memberikan pengetahuan mengenai potensi yang terdapat pada suatu sistem mekanis dari sebuah jembatan. Pemanfaatan suatu sistem mekanis pada Jembatan Kota Intan dapat menghadirkan kembali suasana yang pernah ada pada masanya. Adanya unsur tersebut mampu memberikan dampak positif bagi lingkungannya. Dengan adanya koordinasi yang baik antara pemerintah daerah yang mengurus objek wisata sejarah dengan penjaga objek wisata tersebut, maka suatu objek benda yang memiliki sistem mekanis akan memiliki daya tarik karena akan mampu menghadirkan pengetahuan mengenai sejarah mengenai objek benda tersebut.Kata Kunci: Sistem Mekanis, Daya Tarik, Objek Wisata, Jembatan Kota Intan.
Perilaku Kerja, Perceived Stress, dan Social Support pada Mahasiswa Internship Saraswati, Kiky Dwi Hapsari
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.535 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.352

Abstract

Mahasiswa perlu diberi pembekalan agar lebih siap untuk memasuki dunia kerja. Strategi yang digunakan oleh universitas untuk mengatasinya adalah menyelenggarakan program internship. Tantangan yang harus dihadapi oleh mahasiswa adalah perbedaan situasi dan kondisi di lingkungan kampus dan instansi tempat ia melaksanakan program internship, sehingga perilaku yang ditampilkan pun harus berbeda. Perilaku di tempat kerja atau perilaku kerja (PK) adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang di lingkungan kerjanya (Ivancevich, 2014). Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku adalah emosi, yang dapat disebabkan oleh stress. Sebagai mahasiswa tahun akhir, mereka masih dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas akhir. Tuntutan-tuntutan tersebut dikeluhkan sebagai faktor penyebab stress. Perceived Stress (PS) adalah perasaan atau pikiran yang dimiliki seseorang terhadap hal-hal dalam kehidupannya yang dapat membuatnya stress serta kemampuannya untuk mengatasi stress tersebut (Varghese, Norman, & Thavaraj, 2015). Kedekatan emosi dengan orang lain terbukti berkorelasi dengan well-being seseorang dan melindungi seseorang dari efek stress tingkat tinggi (Ammar, Nauffal, & Sbeity dalam King, Vidourek, Merianos, Singh, 2014). Dukungan emosi akan mengurangi hubungan yang membuat stress-depresi (Felsten, 1998, dalam King, Vidourek, Merianos, Singh, 2014). Dengan kata lain, Social Support (SS) akan membantu seseorang untuk mengatasi stress yang dirasakannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran PS dan SS terhadap PK pada mahasiswa internship. Metode penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan Work Behavior Assessment, Personal Resource Questionnaire, dan Perceived Stress Scale. Kuesioner disebarkan pada 52 mahasiswa Fakultas Psikologi yang sedang mengikuti program internship. Hasil yang didapatkan adalah PS dan SS berperan signifikan terhadap PK (F = 4,296, p < 0,05). Kata kunci: perilaku kerja, perceived stress, social support, mahasiswa, internship
Perubahan dan Permasalahan Media Sosial Anwar, Fahmi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.892 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.343

Abstract

Media sosial merupakan salah satu media yang berkembang paling pesat. Sekitar 70% dari pengguna internet diseluruh dunia, juga aktif dalam media sosial. Media sosial seperti Facebook dan Twitter, sampai saat ini masih sangat tinggi tingkat penggunanya. Penggunaan media sosial telah menyebabkan segudang masalah, antara lain pergeseran budaya dari budaya tradisional menjadi budaya digital. Generasi yang tumbuh dalam budaya digital memiliki kecenderungan bersifat menyendiri (desosialisasi). Namun bagaikan pedang bermata dua, disatu sisi media sosial juga memiliki banyak manfaat. Penulisan ini dibuat untuk membahas segala permasalahan yang ditimbulkan pada media sosial dan bertujuan agar media sosial dapat digunakan dengan lebih bijak dengan menggunakan metode literatur bersifat deskriptif-analitis. Hasil dan kesimpulan dalam penulisan ini, bahwa keluasan informasi hendaklah dipilah dengan bijaksana tanpa melanggar norma dan nilai yang berlaku dalam kehidupan sosial. Kebebasan berekspresi harus tetap berpegang pada etika komunikasi dan pengendalian diri yang baik.Kata kunci: media sosial, internet, digital, Facebook, Twitter
Media dan Keberagaman: Analisis Pemberitaan Media Daring Seputar Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta Junaidi, Ahmad
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.134 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.373

Abstract

Media massa berfungsi sebagai alat penyampai informasi, edukasi, hiburan dan mobilisasi. Media massa juga sebagai alat penyampai pesan, ide-ide dan gagasan, seperti gagasan keberagaman. Indonesia semenjak kelahirannya didasarkan atas dasar keberagaman dari banyak aspek, misalnya suku dan agama. Media massa di Indonesia mengalami pasang surut sejak jaman kemerdekaan, demokrasi orde lama, orde baru dan sekarang memasuki era orde reformasi. Kebebasan mulai dirasakan oleh media massa, ketika dimulaiinya era reformasi. Banyak media-media baru tumbuh di era reformasi, termasuk diantaranya media daring (media online). Selain jumlah media massa, era reformasi ini ditandai dengan kebebasan pers, termasuk didalamnya kebebasan mengespresikan gagasan dan mengritik tajam lawan yang menentang gagasan. Kebebasan pers yang dinikmati media sekarang ini banyak dilaporkan telah melewati batas, terutama melanggar kode etik jurnalistik.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan analisis wacana dengan mengambil obyek berita-berita seputar pemilihan kepala daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta.Penelitian ini ingin melihat pelanggaran kode etik yang dilakukan media daring dalam meliput Pilkada Jakarta dikaitkan isu keberagaman, khususnya isu agama.Penulis menemukan sejumlah pelanggaran kode etik jurnalistik dalam berita-berita seputar Pilkada Jakarta, terutama terkait penggunaan isu agama.Kata kunci: media massa, agama, pilkada, etik.
Mekanisme Pengembalian Kerugian Negara oleh Terpidana yang Meninggal Dunia Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 Ubwarin, Erwin; Salamor, Yonna Beatrix
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.017 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.334

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 mengahapuskan kata“dapat” pada rumusan Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 3, dari rumusan delik formil menjadi delik materiil, pembuktian kerugian negara yang awalnya potential loss berubah ke actual loss, dari berpontensi ke kerugian nyata. Kerugian Negara yang telah dibuktikan harus dikembalikan tidak bisa dilakukan oleh jaksa sebagai eksekutor untuk terpidana yang meninggal dunia.Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan mekanisme pengembalian kerugian Negara bagi terpidana meninggal dunia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Hasil penelitian menunjukan  dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi, tidak mengatur tentang mekaniseme pengembalian kerugian Negara untuk terpidana yang meninggal dunia karena bertentangan dengan Pasal 83 KUHP, seharusnya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi, dapat mengejar kerugian Negara karena Putusan Mahkamah Kostitusi Nomor 25/PUU-XIV/2016 telah merubah rumusan kerugian Negara dalam Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi menjadi actual loss, jika dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt 1955 tentang Pengusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi Pasal 13 ayat 1 dengan meninggalnya terpidana hak melaksanakan perempasan tidak lenyap. kesimpulannya Pasal 103 KUHP dan asas Lex specialis derogat legi generali membuka peluang untuk penyimpangan Pasal 83 KUHP, memasukan mekanisme pengembalian kerugian Negara bagi terpidana dengan merevisiUndang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan tindak pidana korupsi.Kata kunci: Mekanisme, Kerugian Negara, Tindak Pidana Korupsi
Wisata Kuliner di Sentra Primer Barat Jakarta Putri, Cindy; Kurnia, Andi Surya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.879 KB) | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.360

Abstract

Kawasan Sentra Primer Barat yang sedang berkembang pesat memiliki suatu fenomena keseharian masyarakat yaitu pasar kaget yang dikenal dengan pasar kaget CNI, karena lokasinya yang berada di depan kantor perusahaan multilevel marketing (MLM) CNI. Pedagang kaki lima (PKL) yang terakumulasi di pasar kaget seringkali dianggap membebani kota, padahal memiliki manfaat sosial-ekonomi. Secara ekonomi, PKL menjadi katup pengaman krisis ekonomi dan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jika dilihat dari segi sosial, PKL menjadi rekreasi masyarakat berpenghasilan rendah. Rekreasi diperlukan karena merupakan hak manusia terlepas dari pelaku dan caranya. Penelitian ini bertujuan untuk membuka pemikiran tentang sarana rekreasi sosial yang merangkul masyarakat berpenghasilan rendah tanpa mengabaikan konteks kawasannya. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian lapangan berupa metode survai dan deskriptif serta metode penelitian bukan lapangan yaitu metode penelitian kepustakaan. Kesimpulan hasil penelitian yaitu diperlukannya sarana rekreasi kuliner berbasis PKL didukung program aktivitas rekreasi anak-anak, pusat perbelanjaan dengan harga terjangkau, dan ruang publik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah dan menjembatani kelas-kelas sosial di Sentra Primer Barat.Kata kunci: Arsitektur, Rekreasi, Sosial Humanisme, Wisata Kuliner.
Evaluasi Program Pilar Karakter dalam Meningkatkan Respect pada Siswa SD X di Depok Widiasih, Triani Widiasih; Sahrani, Riana; Tumanggor, Raja Oloan
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i1.348

Abstract

Program pilar karakter merupakan character building yang dilaksanakan di SD X bertujuan membentuk karakter baik pada siswa. Program ini mengacu pada 9 pilar karakter. Pengembangan karakter berasal dari muatan moral individu. Salah satu dasar moralitas yang utama dan berlaku secara universal adalah sikap respect. Dalam program pilar karakter, sikap respect merupakan salah satu sikap yang diaplikasikan di kegiatan program. Sikap respect tersebut belum muncul secara konsisten pada seluruh siswa yang telah mengikuti program pilar karakter. Penelitian bertujuan untuk memberikan gambaran evaluasi program pilar karakter dalam meningkatkan respect pada siswa SD X. Jenis penelitian yang digunakan evaluation research dengan model evaluasi Kirkpatrick Four Levels Evaluation Model. Empat level tersebut yaitu level reaction, learning, behavior, dan result. Subyek penelitian diambil dengan purposive sampling sebanyak 4 dari 75 siswa berdasarkan skor tertinggi dari kuesioner respect  yang telah diadaptasi. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Observasi dilakukan pada kegiatan belajar di sekolah, focus group discussion (FGD) dan simulasi. Teknik wawancara berdasarkan teori respect terhadap 4 subyek serta guru, kepala sekolah dan orangtua sebagai triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan program pilar karakter dapat meningkatkan kekonsistenan respect siswa SD X. Sikap respect yang semakin konsisten ditunjukkan dengan perilaku hormat dan patuh ketika berbicara kepada orang yang lebih tua, mau berkawan dengan siapa saja, dapat menggunakan bahasa yang baik untuk menyampaikan pendapat/keinginannya, suka membantu orang yang membutuhkan, menjadi pendengar yang baik, mau mematuhi dan melaksanakan perintah orangtua ataupun guru, dan dapat  menerima adanya perbedaan.Kata kunci : evaluation research, program, pilar karakter, respect, sekolah dasar