cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
MIMBAR: Jurnal Sosial dan Pembangunan
ISSN : 02158175     EISSN : 23032499     DOI : -
Core Subject : Social,
Journal Mimbar is a scientific journal dedicated development and social media as the result of a scientific study and devotion in the field of research, analysis and critical assessment of the contemporary development issues.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Pra Mimbar Mimbar, Dewan Redaksi
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pra Mimbar
Perspektif Religius Bagi Eksistensi Masyarakat Muslim dalam Era Globalisasi Suharyadi, Asep Dudi
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Bagi kaum muslim, Islam adalah sistem nilai paripurna yang memberinya fondasi, rangka dan orientasi dalam berbagai dimensi kehidupan mereka secara holistik dan integratif. Tidak ada kata usang dan ketinggalan zaman bagi Islam, walaupun ia dibawakan pada belasan abad yang lalu. Bahkan dalam tata nilai imani kaum muslim, Islam adalah agama masa depan, yang akan menegakkan peradaban masa mendatang sebagai sebaik-baik peradaban ummat manusia. Ajaran Islam pada dasarnya merupakan agama fitri manusia, yang mewadahi keseluruhan manifestasi potensi kemanusiannya, Islam memberikan kerangka dasar hakikat masyarakat, melontarkan gagasan-gagasan besar perubahan sosial, serta menyibakkan bagi kaum muslim keyakinan akan pembangunan masa depan mereka, yang harus mereka jemput dengan kegairahan ikhtiar dan tawakkal. Dalam hal globalisasi, ajaran Islam memandu kaum muslim untuk tidak terjebak pada lubang ekstrim apapun, baik ekstrimitas penolakan maupun ekstrimitas peniruan. Ia mengajari kaum muslim untuk bersikap obyektif dalam kerangka subyektifitas komitmennya terhadap sistem nilai Islam, serta dalam batas toleransi dan pemahamannya terhadap realitas. Dalam kredo kaum muslim segala sesuatu dapat menjadi fitnah, baik ia menyenangkan ataupun melukai. Globalisasi dalam hal ini semacam satu bentuk fitnah, yang dapat menjadi wahana bagi lahirnya perbuatan-perbuatan shaleh kaum muslim atau bahkan kuburan yang menyakitinya. Arus globalisasi yang diusung Barat tidak bisa tidak, mengharuskan kaum muslim waspada mengingat pertimbangan ideologis dan historis, serta realitas hegemoni politik dewasa ini. Namun demikian perangkat teknologis globalisasi pada saat yang sama merupakan alat yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kekuatan dunia Islam.
Globalisasi Sebuah Skenario Mutakhir Kapitalisme dalam Tinjauan Perspektif Islam Sutjipto, Hadi
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Ummat Islam yang merupakan sebahagian dari mayoritas penduduk dunia dimanapun, suka atau tidak suka akhirnya akan terlibat dalam arus dan dinamika era globalisasi. Disinyalir bahwa munculnya ide globalisasi yang notabene berasal dari Barat (Amerika) ini, dilatarbelakangi oleh berbagai kepentingan. Akan tetapi sebagian ummat khususnya muslim, pada saat ini belum menyadarinya bahwa mereka tergiring dan terbuat dari dalam perangkap ide globalisasi. Hampir tak ada perlawanan apapun dari ummat Islam terhadap serangan ide globalisasi ini, karena globalisasi saat ini sudah dipersepsi menjadi sebuah pemikiran ideologi kapitalisme yang komprehensif, sekalipun yang menonjol pada aspek ekonominya, namun di dalamnya meliputi segenap aspek kehidupan. Berbagai cara telah ditempuh Barat untuk dapat menyukseskan ide globalisasi, dan hasilnya telah mendorong negara-negara kapitalis mampu  menciptakan kebijakan yang destruktif sebagai upaya pemiskinan ummat bagi negara-negara berkembang yang mayoritas merupakan negara-negara Islam. Karena itu sangat logis apabila ide globalisasi ini mesti dipahami sebagai sebuah “imperialisme” gaya baru, yang pada dasarnya merupakan skenario mutakhir kapitalisme yang harus diwaspadai. Bagaimanapun ide globalisasi ini sudah bergulir, dan untuk menghadapinya, ummat Islam harus bangkit. Kebangkitan ummat Islam disini adalah kembalinya pemahaman seluruh ajaran Islam kedalam diri ummat, dan terselenggaranya peraturan kehidupan masyarakat dengan cara Islam yang meliputi keseluruhan bidang aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.
Marjinalisasi Masyarakat Islam dalam Konvergensi Globalisasi Ekonomi Dariah, Atih Rohaeti
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Globalisasi ekonomi adalah suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negaranya. Sebagai sumber penggerak utama proses globalisasi ini adalah ledakan perkembangan teknologi tinggi yaitu bangkitnya era reformasi elektronika, disebut “triple T” di kelompok negara maju, dan dewasa ini begitu banyak kegiatan ekonomi yang mulai bersifat padat-informasi, bahkan padat pengetahuan, sehingga kompetisi tidak bisa lagi dilakukan hanya sekedar atas persaingan harga, tetapi juga pada kualitas informasi. Dalam proses globalisasi ekonomi tersebut, kelompok negara-negara berkembang yang di dalamnya sebagian besar adalah masyarakat Islam mengalami ‘marjinalisasi’, yakni terpinggirkan, sulit mendapat tempat di tengah-tengah hiruk-pikuk pasar global, tidak ikut serta di dalam proses pengambilan keputusan di bidang ekonomi internasional. Hal ini tercermin dalam pangsa yang sangat rendah terhadap total output dunia dan total perdagangan serta investasi dunia.Dan, globalisasi akan menjadi bencana masa depan bagi masyarakat Islam. Sulit untuk meyakini kebangkitan kejayaan Islam dalam globalisasi ekonomi sekarang, sebagaimana pernah terjadi pada abad ke 14, jika tatanan masyarakat muslim terus terbelenggu dalam kebodohan yang dicirikan oleh lemahnya tatanan sosial-budaya yang tidak dibangun di atas kekuatan aqidah Al-Qur`an. Masih ada relung waktu untuk tetap sadar dan berniat hijrah kepada paradigma bangun Al-Qur`an, untuk itu diperlukan umaro/pemimpin yang dinamik, yang memiliki jiwa pengorbanan dan perjuangan sejati dalam bentuk pernyataan Islam secara praktikal, tidak semata-mata hanya dalam konsep teoritikal yang sempit.
Masyarakat Indonesia dalam Perspektif Teori Adab-Karsa (Suatu Studi Pada Budaya Baca-Tulis Masyarakat Islam Indonesia di Era Globalisasi) Khotimah, Ema
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Rendahnya kesadaran spiritual dan motivasi insani masyarakat Islam Indonesia dalam hal baca-tulis, telah membuat muslim Indonesia tertinggal hampir di segala aspek kehidupan global, dibanding negara-negara lainnya di dunia. Rendahnya adab (nilai moral), dikarenakan kurangnya kesadaran spiritual akan makna pentingnya membaca dan menulis sebagaimana dipertintah Allah (iqra = studi). Kurangnya motivasi untuk membaca dan menulis dalam konteks teori adab-karsa ini, dikarenakan muslim Indonesia kehilangan “human motivation” dengan ciri-ciri (1) kurang berorientasi ke depan, (2) kurang mempunyai growth philosophy, (3) lebih “berpaling” ke akhirat saja, (4) cepat menyerah, dan atau (5) bergerak lamban (inertia). Masyarakat Islam Indonesia hanya akan menjadi korban perubahan, selama masih ada dalam adab-rendah dan karsa-lemah. Oleh karena itu, muslim Indonesia harus kembali kepada kesadaran spiritual dan menemukan/memperoleh kembali “human motivation” yang telah hilang. Hanya dengan mengarah pada adab-tinggi dan karsa-kuatlah (“freedom in sub-missiveness”), secara bertahap muslim Indonesia akan mampu keluar dari posisi lemahnya budaya-baca tulis yang akan mengantarkan masyarakat Indonesia ke arah kualitas yang tinggi dalam sebuah dunia global. Sebab struktur kognisi masyarakat, salah satunya dibentuk oleh bacaan.Adalah menjadi kewajiban kita semua, para pemimpin dan para terpelajar, harus bekerja keras untuk menawarkan sebanyak mungkin tesis budaya kepada seluruh masyarakat melalui multilinier, karena kita harus sekaligus mengembangkan budaya baca-tulis dan budaya informatika.Untuk itu perlu dirumuskan langkah-langkah kongkrit agar terbentuknya iklim yang kondusif bagi terciptanya budaya baca-tulis yang kuat di seluruh lapisan masyarakat Indonesia, tanpa kecuali.
Perlindungan Konsumen Salah Satu Upaya Penegakan Etika Bisnis Pada Masyarakat Islam dalam Era Globalisasi Imaniyati, Neni Sri
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Di lingkungan masyarakat telah tumbuh etika bisnis – khususnya berkaitan dengan perlindungan konsumen yang pada pokoknya telah cukup memberikan perlindungan kepada konsumen dari tindakan-tindakan pelaku bisnis/pelaku usaha. Namun demikian etika saja masih dianggap kurang tanpa hukum, karena permberlakukan etika perlu ditegakkan secara hukum. Etika, seperti halnya norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma agama, kalau belum diterima sebagai norma-norma kehidupan secara hukum, maka sanksi atas pelanggarannya lebih bersifat heteronom atau hanya datang dari diri dan hatinya sendiri, dan agar memiliki daya pengikat sehingga sanksi kepada para pelanggar dapat dipaksakan maka diperlukan hukum (dalam hal ini adalah undang-undang). Negara Indonesia yang sebahagian besar masyarakatnya beragama Islam telah mencoba memfasilitasi upaya perlindungan terhadap konsumen tersebut melalui UURI No.8/1999, yang dalam beberapa hal telah sesuai dengan etika bisnis Islam. Namun, beberapa larangan dan keharusan dalam etika bisnis Islam masih belum termuat, terutama dalam hal larangan jual beli barang/jasa yang haram, larangan riba dan keharusan berzakat, sehingga konsumen muslim merasa belum terlindungi secara kaffah. Untuk itu, maka diperlukan upaya perlindungan konsumen melalui penyusunan peraturan etika bisnis di Indonesia yang aspiratif dengan etika bisnis Islam, yang ditunjang oleh sarana dan prasarana, mental manusia-manusia termasuk aparat penegak hukum dan dukungan di luar hukum, yaitu dukungan berupa kemauan dari pemerintah.
Dakwah Alternatif di Era Global : Suatu Pendekatan Perubahan Sosial Sobur, Alex
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Tema-tema dakwah selama ini umumnya muncul dengan pendekatan yang parsial, tidak menyeluruh, tidak sistemik, dan lebih bersifat seremo-nial. Dakwah yang hanya bergerak pada tataran ajaran ritual dan formal, dapat menimbulkan adanya pemahaman keagamaan yang tidak mampu membangun kaitan antar aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Sudah saatnya, persepsi masyarakat tentang dakwah harus berubah. Dakwah tidak lagi dipahami hanya sebagai kegiatan menyampaikan ajaran Islam secara lisan, tetapi juga da’wah bil-qalam, lukisan, bahkan dengan da’wah bil-hal. Dalam pemahaman yang mutakhir, dakwah dapat meliputi segala bentuk kegiatan, termasuk kegiatan pendidikan kemasyarakatan dan pembangunan.Islam adalah agama dakwah, karena kebenaran yang terkandung dalam Islam, menurut kodratnya harus tersiar dan harus dapat dihadirkan secara bersahabat. Ini penting, sebab upaya penyebaran pesan-pesan keagamaan harus mampu menawarkan alternatif dalam membangun dinamika masa depan ummat, yaitu melalui cara dan strategi yang lentur, kreatif, dan bijak.Dalam kondisi masyarakat yang sedang mengalami transisi global, maka dakwah Islam harus diarahkan kedua jurus lapisan masyarakat, yaitu  masyarakat bawah dan atas. Pendekatan dakwah ke lapisan bawah berupa da’wah bil-hal, dengan fokus pada pencegahan kecenderungan masyarakat ke arah kekufuran. Sedangkan dakwah ke lapisan atas dilakukan dengan mempelajari berbagai kecenderungan masyarakat yang tengah berubah ke arah modern-industrial, yang dikhawatirkan menjurus ke proses sekularisasi sebagai akibat dari proses keterasingan dan ketiadaan pegangan. Alternatif dakwah dapat ditempuh dengan pendekatan : ukhuwah, multidialog, dan alternatif media.
Pra Mimbar Mimbar, Dewan Redaksi
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 18, No. 2, Tahun 2002
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pra Mimbar
Implikasi Norma Ummah dan Ukhuwwah Terhadap Pembangunan Demokrasi yang Islami Suharyadi, Asep Dudi
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 18, No. 2, Tahun 2002
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Dewasa ini, baik di Barat maupun di dunia Islam isu politik yang paling mengemuka tidak lepas dari tema demokrasi dan demokratisasi. Sekalipun demokrasi seolah sudah menjadi “milik bersama”Barat dan Islam, namun pihak Barat tetap memandang bahwa demokrasi di negeri-negeri Islam masih perlu terus ditanam dan ditumbuh-kembangkan, seakan negeri-negeri kaum muslim itu tidak berideologi demokrasi. Padahal dalam kajian tentang siyasah Islamiyah, ditemukan bahwa dunia politik Islam, melalui “Piagam Madinah dan Komunitas Madinah” ternyata telah diakui sebagai model dan inspirasi dalam menemukan formulasi kenegaraan dan konsepsi pemerintahan yang demokratis, yang di dalamnya terdapat deklarasi sosial-politik yang pertama, yang sarat dengan nilai-nilai modern. Sedangkan Negara Madinah sendiri dipandang merupakan gambaran ideal sebuah civil society. Keduanya dianggap mengandung hal-hal substansial yang justru menjadi isu utama demokrasi. Sejak zaman kenabian, sistem kehidupan berbangsa dan bernegara Islam telah menunjukkan adanya relevansi dengan tema demokrasi yang menjadi wacana format pemerintahan dan kenegaraan modern. Di dalam ajaran Islam, selain terdapat persoalan teknis dan prosedural, baik dalam hal ibadah ritual maupun yang berdimensi sosial, juga terdapat aspek kejiwaan (spirit) dan konsepsi yang menyertai seluruh manifestasi ibadah. Dalam hal ini ummah dan ukhuwwah menjadi salah satu pilar kejiwaan dan konseptual bagi perilaku bermasyarakat, bernegara dan berpemerintahan, pada tataran empirik.Ummah dan ukhuwwah dapat menjadi semacam etos sebagai landasan dan orientasi di dalam pembinaan masyarakat dan kenegaraan.Implikasinya adalah bahwa semangat ber-ummah dan ber-ukhuwwah semestinya dapat menjiwai praktik-praktik penyelenggaraan negara dan pemerintahan, dimana ummat menjadi basisnya.
Tantangan Hukum Islam di Abad Modern Munir, Ahmad
MIMBAR, Jurnal Sosial dan Pembangunan MIMBAR, Volume 18, No. 2, Tahun 2002
Publisher : P2U (Pusat Penerbitan Universitas) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Istilah modern, bisa digunakan pada orang, waktu, seni, benda, pemikiran, kebudayaan dan tingkah laku. Gagasan modern sering dipahami sebagai gagasan pembaharuan dan dipertentangkan dengan gagasan tradisional. Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, fiqh (hukum Islam) merupakan salah satu disiplin ilmu klasik yang senantiasa sarat dengan wacana yang menarik, watak alamiah hukum Islam sebagai bagian dari syari’at Islam yang bersifat Ilahiyah dan permanen (qath’i) serta harus diterima secara “taken for grented” di satu sisi dan posisinya sebagai produk ijtihadi yang acapkali dihasilkan dari sumber-sumber Islam yang relatif (zhanny) di sisi lain, menjadikan hukum Islam memiliki wajah yang berbeda. Dengan kata lain, hukum Islam sering identik dengan jumlah aturan dan doktrin Islam tentang sejumlah persoalan keseharian ummat Islam yang bersifat statis dan baku. Namun, ia acapkali melahirkan berbagai nuansa pemikiran baru, sebagai respon atas munculnya sejumlah tantangan dan persoalan kontemporer yang membuat hukum Islam terkesan dinamis. Sejauhmana hukum Islam mesti dipertahankan stabilitasnya tanpa harus terjebak pada sikap jumud (stagnan), serta sebatas apa ia mesti mengakomodasi berbagai dinamika pemikiran baru tanpa harus mereduksi nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam yang abadi dan universal, menjadi amat penting untuk dikemukakan.

Page 1 of 40 | Total Record : 392


Filter by Year

2000 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 35, No 1 (2019): Volume 35, No. 1, Year 2019 [Accredited Sinta 2] No 10/E/KPT/2019] Volume 34, No. 2, Year 2018 [Accredited Ranking Sinta 2] Volume 34, No. 1, Year 2018 [Accredited Ranking Sinta 2] Volume 33, No. 2, Year 2017 [Accredited by Ristekdikti] Volume 31, No. 2, Tahun 2015 [Terakreditasi Dikti] Volume 31, No. 1, Tahun 2015 [Terakreditasi Dikti] Volume 30, No. 2, Tahun 2014 [Terakreditasi Dikti] Volume 30, No. 1, Tahun 2014 [Terakreditasi Dikti] Volume 29, No. 2, Tahun 2013 [Terakreditasi Dikti] Volume 29, No. 1, Tahun 2013 (Terakreditasi Dikti) MIMBAR, Volume 29, No. 1, Tahun 2013 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 28, No. 2, Tahun 2012 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 28, No. 1, Tahun 2012 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 27, No. 2, Tahun 2011 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 27, No. 1, Tahun 2011 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 26, No. 2, Tahun 2010 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 26, No. 1, Tahun 2010 MIMBAR, Volume 25, No. 2, Tahun 2009 MIMBAR, Volume 25, No. 1, Tahun 2009 MIMBAR, Volume 24, No. 2, Tahun 2008 MIMBAR, Volume 24, No. 1, Tahun 2008 MIMBAR, Volume 23, No. 2, Tahun 2007 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 23, No. 1, Tahun 2007 (Terakreditasi) Volume 22, No. 2, Tahun 2006 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 22, No. 4, Tahun 2006 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 22, No. 3, Tahun 2006 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 22, No. 2, Tahun 2006 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 22, No. 1, Tahun 2006 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 21, No. 2, Tahun 2005 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 21, No. 1, Tahun 2005 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 20, No. 3, Tahun 2004 (Terakreditasi) MIMBAR, Volume 18, No. 2, Tahun 2002 MIMBAR, Volume 17, No. 4, Tahun 2001 MIMBAR, Volume 16, No. 2, Tahun 2000 MIMBAR, Volume 16, No. 1, Tahun 2000 More Issue