Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam
ISSN : 16930649     EISSN : 26203901
Attaqwa: Journal of Islamic Education is published by Islamic Religious Education Study Program of Islamic Institute of Daruttaqwa Gresik. This journal contains a lot of studies about Islamic education, and other Islamic education related studies. This journal is published twice a year in Mart and September.
Articles 5 Documents
Peningkatkan Mutu Madrasah Diniyah Berbasis Masyarakat di Desa Laju Kidul Singgahan Tuban

Ismawati, Ismawati

Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2018): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.5 KB)

Abstract

Society has a huge influence on the ongoing process of education within an institution. Schools can survive and evolve show the surrounding community has a high level of awareness and awareness of the importance of education, or in other words the society's view of education that affects the ongoing process of education. The existence of madrasah diniyah in Indonesia is the first form of madrasah in Indonesia, but until now it is still a marginal educational institution. Imagine, madrasah diniyah in Indonesia just get special recognition and attention from the government these days alone, provided that madarasah diniyah contains learning (curriculum) which is recommended by the government. This research was conducted with qualitative method of case study with the research location in the village of Laju Kidul Singgahan Tuban and the results obtained are: The views of the society at Madrasah Diniyah Al Hidayah The rate of Singgahan Singgahan Tuban is very good and the quality of Madrasah Diniyah Al Hidayah Laju Kidul Singgahan Tuban when viewed at the input level, the process and its output are also quite good. Then Community participation in quality improvement in madrasah diniyah this at least provide supervision in the form of criticism, suggestions and inputs in the determination of curriculum, selection of entry and improvement of human resources. All layers of society there want to send their children to madrasah diniyah because based on the awareness of the importance of religious education in this globalization. They also participate in any activities that are self-supporting.

Relasi Gender Feminin dan Cinderlla Complex dengan Motivasi mempertahankan Keutuhan Keluarga: Studi Kasus Korban KDRT di PPT Jawa Timur

Maarif, Nina Nuriyah

Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2018): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.927 KB)

Abstract

Abstract: This article reports on research conducted with 30 of those housewives who were victims of domestic violence who reported to the East Java Service Centers (Pusat Pelayanan Terpadu/ PPT). It attempts to examine the correlation between the role of feminine gender and Cinderella complex to the motivation of women victims of domestic violence in maintaining the integrity of the household. This study utilized quantitative correlational methods. Using Kendall Tau statistical analysis, which was processed with SPSS 11.5 and 14.00 for Windows, this research found that the roles of feminine gender and cinderella complex had a relationship with the motivation of victims of domestic violence in maintaining household integrity with a significance level of 0.007 where P <0.05 (Cinderella complex) and 0.023 where P <0.05 (feminine gender role).

Konsep Pendidikan Agama Islam; Studi atas Pemikiran Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah

Syamsi, Moh.

Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2018): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.657 KB)

Abstract

Ibnu Qayyim merupakan salah seorang cendikiawan muslim yang sangat luas wawasan keilmuannya. Akidahnya, akhlaknya yang sangat mengagumkan serta pemikirannya dalam khazanah Islam yang sangat begitu menakjubkan.Dia hidup disuatu masa dimana ilmu-ilmu keislaman telah disusun dan disebarluaskan di berbagai penjuru dunia.Maka tidak mengherankan jika perjalanan menuntut ilmu Ibnu Qayyim tidak begitu terkenal. Ibnu Qayyim sangat mencintai ilmu dan melahirkan kecintaannya kepada bukubuku, dan tidak mengherankan, jika para penulis biografinya secara khusus menyebutkan buku-buku yang ia miliki dan kegemarannya membaca buku. Ia banyak memiliki buku yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sebagai tokoh salaf, Ibnu Qayyim sebenarnya adalah peneliti bebas yang tidak terikat dengan madzhab atau pendapat ulama tertentu kecuali dengan kebenaran meskipun terhadap gurunya sendiri yaitu Ibnu Taimiyah. Dalam perspektif Ibnu Qayyim alJawziyahHakikat pendidikan Islam mencakup dua hal yaitu Tarbiyah Qalb (pendidikan hati) dan Tarbiyah badan. Selain itu Ibnu Qayyim juga menjelaskan bahwa hakikat pendidikan islam yang lainnya juga mencakup dua hal yaitu pendidikan berkaitan dengan ilmu seseorang dan pendidikan yang berkaitan dengan orang lain.Tujuan Pendidikan Islam perspektif Ibnu Qayyim adalah menanamkan akhlak mulia dalam diri anak didik sekaligus menghapus dan memerangi akhlak buruk dari diri mereka; Menciptakan kebahagiaan dalam dirinya; Selalu memperhatikannya baik ketika mereka sedang tidur maupun ketika sedang berkomunikasi (berbicara); Mengarahkan cara berinteraksi dengan manusia lainnya; Memperhatikan pakaian agar jangan sampai menggunakan yang diharamkan; Mengarahkan bakatnya sekaligus mengembangkannya dengan memberinya tarbiyah diniyah (pendidikan agama).Sedangkan Strategi Pendidikan Islam menurut Ibnu Qayyim berpengaruh dari: Al-Manhaj; Adabadab Murabbi (pendidik) dan adab pelajar.

Pondok Pesantren dan Penanggulangan Narkoba di Indonesia

Khamim, Nur

Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2018): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.325 KB)

Abstract

Pondok pesantren memiliki fungsi sebagai lembaga pendidikan dan dakwah serta lembaga kemasyarakatan yang telah memberikan warna daerah terutama pedesaan. Ia tumbuh dan berkembang bersama warga masyarakatnya sejak berabad-abad. Oleh karena itu, tidak hanya secara kultural bisa diterima, tapi bahkan telah ikut serta membentuk dan memberikan gerak serta nilai kehidupan pada masyarakat yang senantiasa tumbuh dan berkembang, figur kyai dan santri serta perangkat fisik yang memadai sebuah pesantren senantiasa dikelilingi oleh sebuah kultur yang bersifat keagamaan. Kultur tersebut mengatur hubungan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Pondok pesantren diharapkan tidak hanya berkemampuan dalam pembinaan pribadi muslim yang Islami, tetapi juga mampu mengadakan perubahan dan perbaikan sosial kemasyarakatan. Pengaruh pesantren sangat terlihat positif bila alumnusnya telah kembali ke masyarakat dengan membawa berbagai perubahan dan perbaikan bagi kehidupan masyarakat sekitarnya.Narkoba adalah narkotika dan obat terlarang. Narkotika digolongkan menjadi dua macam, yaitu narkotika dalam arti sempit dan narkotika dalam arti luas.Narkotika dalam arti sempit bersifat alami, yaitu semua bahan obat opiaten, cocain, dan ganja.Metode pembinaan korban penyalahgunaan narkoba di Pondok Pesantren menggunakan: Metode studi kasus, Metode pembiasaan, meliputi: Sholat, membaca al-Qur’an, Metode wirid, Metode sorogan, Metode kebebasan, Faktor pendukung bagi Pondok Pesantren dalam pembinaan korban penyalahgunaan narkoba antara lain, yaitu: 1) Niat yang sungguh-sungguh untuk membenahi akhlak dan mendalami ilmu agama yang dimiliki santri; 2) Suasana pondok pesantren yang harmonis, penuh keakraban di antara pengasuh dan santri layaknya seperti keluarga sendiri.

Integritas dan Akuntabilitas dalam Pengelolaan Keuangan Sekolah atau Madrasah

Mubin, Nor

Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol 14 No 2 (2018): September
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Daruttaqwa Gresik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.733 KB)

Abstract

    Isu Integritas dan akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seiring dengan tuntutan masyarakat akan pentingnya pendidikan yang bermutu, Sesuai ketentuan dalam MBS bahwa dalam pengelolaan keuangan sekolah juga harus menganut prinsip transparansi dan akuntabilitas publik. Berdasarkan Kepmendagri 13/2006 tentang Pelaporan Pengelolaan Keuangan Daerah, akuntabilitas diartikan sebagai mempertanggung jawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada Pemerintah Daerah atau Yayasan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan secara periodik. Integritas; (Integrity) adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukannya, “satunya kata dengan perbuatan”. fungsinya adalah sebagai Cognitive Function of Integrity yang meliputi kecerdasan moral dan self insight. Sedangkan self insight itu sendiri meliputi self knowledge dan self reflection. Berarti, integritas berfungsi memalihara moral atau akhlak seseorang yang kemudian mendorong dia untuk memiliki pengetahuan yang luas. Affective functions of integrity yang meliputi conscience dan self regard. manusia berkembang secara seimbang yang mempunyai 3 ciri dimensi; dimensi Fisik, Psikis/jiwa, dan dimensi Sosial. Adapun Ciri-cirinya adalah; 1) Selalu menepati janji, 2) Taat asa tidak plin plan, 3) Komitmen dan bertanggung jawab, 4) Satu kata satu perbuatan, 5) Jujur dan terbuka, 6) Menjaga prinsip dan nilai-nilai yang diyakini. Akuntabilitas adalah kewajiban memberikan pertanggungjawaban dan menerangkan kinerja serta tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah/madrasah, maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah/madrasah. Asian Development Bank (ADB) menegaskan adanya konsensus umum bahwa good governance dilandasi oleh 4 pilar yakni; 1) akuntabilitas, 2) transparansi, 3) dapat di prediksi, dan 4) partisipasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2018 2018