VOGELKOP: Jurnal Biologi
Published by Universitas Papua
ISSN : -     EISSN : 26849682
VOGELKOP: Jurnal Biologi merupakan jurnal Biosains yang fokus publikasi penelitian mencakup semua bidang Biologi, seperti Bioteknologi, Biodiversitas, Ekologi, Sistematika, Mikrobiologi, Konservasi Sumberdaya Hayati dan aplikasi pemanfaatannya. Semua bentuk kehidupan seperti mikroba, tumbuhan dan hewan merupakan cakupan dalam jurnal ini.
Articles 10 Documents
UJI AKTIVITAS ENZIM SELULASE ISOLAT BAKTERI DARI SEDIMEN LAMUN PERAIRAN RENDANI MANOKWARI Bandi, Tirza; Abubakar, Hermawaty; Mogea, Rina A
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.34

Abstract

ABSTRACTIndonesia has the potential of renewable natural resource which are abundant both in number and types of plants containing cellulose fiber. In natures cellulose cannot be completely degraded because it needs of microorganisms such as fungi and bacteria which will produce cellulase enzymes so that it can degrade cellulose in nature. The purpose of this study was to analysed the activity of cellulase enzymes produced by bacterial isolates obtained from seagrass sediments. Cellulase activity of 11 bacterial isolates was determined by the cellulotic index value passing through the Congo Red staining method on 1% CMC solid media. A total of seven isolates indicated a positive result and the highest index value was produced by SI-E isolates, that is 4.7 mm. After that the value of cellulase enzyme activity from the seven positive isolates was determined by counting substrate reducing sugars through the 3.5-dinitrosalicylic (DNS) method. The results showed that SI-H isolates had the highest activity of 0.071 U/mL. ABSTRAKIndonesia memiliki potensi berupa sumber daya alam terbaharukan yang melimpah baik dalam jumlah maupun jenis tumbuhan yang mengandung serat selulosa. Di alam selulosa tidak dapat terdegradasi secara sempurna oleh karena itu dibutuhkan bantuan mikroorganime seperti jamur dan bakteri yang akan menghasilkan enzim selulase sehingga dapat mendegradasi selulosa yang berada di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas enzim selulase yang dihasilkan oleh isolat bakteri yang digunakan. Aktivitas selulase dari 11 isolat bakteri ditentukan dengan nilai indeks selulotik melaluli metode pewarnaan merah kongo pada media padat CMC 1%. Sebanyak tujuh isolat yang menandakan hasil positif dan nilai indeks tertinggi dihasilkan oleh isolat SI-E yaitu 4.7 mm. Setelah itu nilai aktivitas enzim selulase dari ketujuh isolat positif ditentukan dengan menghitung gula pereduksi substrat melalui metode 3.5-dinitrosalisilat (DNS). Hasil menunjukkan isolat SI-H memiliki aktivitas tertinggi yaitu 0.071 U/mL.
IKTIOFAUNA AIR TAWAR PADA BEBERAPA SUNGAI DI AIFAT TIMUR, MAYBRAT, PAPUA BARAT Manangkalangi, Emmanuel
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.061 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.22

Abstract

ABSTRACTSeven fish species from seven families are found during this study. The most common species found are Melanotaenia irianjaya (9/10 sites). No introduced species were found in any of the sites. Species richness ranged from 1-5 species per site and was highest in Aikrer Usem stream and Aisen stream. This difference between sites is partially attributed to position in order system and fishing effort. Higher order which is a combination of several creeks provided more diverse microhabitat than the lower ones, thus supporting higher fish diversity. A total of three species (42.9%) which endemic to southern Vogelkop Peninsular and northern Bomberai. Most of species are found including carnivorous, with diet consisted of aquatic and terrestrial insects, and the other benthic invertebrates. The presence of prey group is very closely related to the availability of riparian vegetation in the streams and creeks. Recommendations will include implementation of good forest management in the watershed to maintain the pattern of hydrology and water discharge in natural conditions, and also protection of riparian zones that exist as a source of energy for the stream ecosystem and as a buffer against an input from the terrestrial. ABSTRAKDitemukan tujuh spesies ikan dari tujuh famili selama penelitian ini. Spesies yang paling umum ditemukan adalah Melanotaenia irianjaya (9/10 lokasi). Tidak ditemukan spesies ikan introduksi pada lokasi survei. Kekayaan spesies ikan berkisar 1-5 spesies per lokasi dan paling tinggi ditemukan pada Sungai Aikrer Usem dan Sungai Aisen. Perbedaan di antara lokasi ini sebagian berhubungan dengan posisi dalam sistem ordo dan upaya penangkapan. Ordo yang lebih tinggi yang merupakan gabungan dari beberapa anak sungai menyediakan mikrohabitat yang lebih beranekaragam dibandingkan ordo yang lebih rendah, sehingga mendukung keankeragaman ikan yang lebih tinggi. Sebanyak tiga spesies (42,9%) endemik Semenanjung Vogelkop bagian selatan dan Bomberai bagian utara. Sebagian besar spesies yang ditemukan termasuk kelompok karnivora, dengan makannya terdiri danri insekta air dan darat, serta avertebrata bentik lainnya. Keberadaan kelompok mangsa ini sangat berkaitan erat dengan ketersediaan vegetasi riparia yang berada di bagian tepi sungai maupun anak sungai. Rekomendasi yang diberikan meliputi implementasi pengelolaan hutan yang baik di daerah tangkapan air untuk mempertahankan pola hidrologi dan kondisi debit air secara alami serta perlindungan zona-zona riparia yang ada sebagai sumber energi bagi ekosistem sungai dan sebagai penyanggah terhadap bahan masukan dari daratan.
PENGGUNAAN EKSTRAK KASAR BEBERAPA TUMBUHAN DALAM PENGENDALIAN Mycobacterium tuberculosis PENYEBAB PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA MANUSIA Batvian, Karolina; Erari, Derek Korneles; Salosa, Yenni Yendri
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i2.55

Abstract

ABSTRACTThe objective of this reserach is to know  the ability of leaf extract of Coleus scutellarioides, Dodonaea viscosa  and the seed of Areca catechu as anti-bacterial to inhibit Mycobacterium tuberculosis growth  which cause human tuberculosis desease. This research use experimental method  with completely rendomized Design (RAL) toward 5 treatments and 4 replications,means 20 treatments in total.  Result shows that the crude leaf extracts of  C. Scutellarioides and  D. viscosa can hamper M. Tuberculosis in 17,25 mm and 10,28 mm inhibition size. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun Coleus scutellarioides, Dodonaea viscosa   dan ekstrak biji Areca catechu sebagai antibakteri dalam menghambat pertumbuhan M. tuberculosis penyebab penyakit tuberkulosis pada manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terhadap 5 perlakuan dan 4 ulangan sehingga diperoleh 20 percobaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kasar daun C. scutellarioides, D. viscosa, terhadap M. tuberculosis dengan besar daya hambat 17,25 mm dan 10,28 mm.
STRUKTUR VEGETASI MANGROVE DI PESISIR SUMURI, TELUK BINTUNI, PAPUA BARAT Lekito, Krisma; Tambing, Yunus
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.23 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i2.47

Abstract

ABSTRAKData primer mangrove sangat penting dikumpulkan secara terperinci bagi penilaian ekosistem, struktur vegetasi, dan jauh lebih dari itu adalah fungsi ekologi jangka panjang lanskap. Secara terperinci data kualitatif dan kuantitatif vegetasi mangrove pada berbagai tingkatan pertumbuhan di kawasan hutan mangrove Sumuri, Teluk Bintuni belum diketahui padahal data-data tersebut sangat diperlukan untuk menilai keadaan kesehatan ekosistem dan habitat saat ini dan dapat digunakan untuk mendeteksi perubahan-perubahan lingkungan pada masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa struktur vegetasi mangrove pada tingkat pertumbuhan semai, belta, dan pohon khususnya di kawasan mangrove Kido, Sumuri, Teluk Bintuni, Papua Barat. Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai INP Bruguiera gymnorrhiza tertinggi untuk seluruh tingkatan pertumbuhan mangrove dengan rincian semai 55.397 %, belta 76,649, dan pohon sebesar 88,534 %. Bruguiera gymnorrhiza merupakan penciri utama bagi kawasan hutan mangrove Kido, Sumuri, Teluk Bintuni. Faktor utama pendukung pertumbuhan Bruguiera gymnorrhiza untuk semua tingkat pertumbuhan adalah kondisi habitat hutan mangrove Kido yang berupa lumpur dengan substrat dangkal.
ANALISIS GEN 16S rRNA ISOLAT SMSS-VII DAN SMSSe-VII YANG BERPOTENSI SEBAGAI BAKTERI PENDEGRADASI SOLAR Huliselan, Rendy Leonard; Salosa, Yenni Yendri; Abubakar, Hermawaty
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.609 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i2.7

Abstract

Indonesia memiliki potensi berupa sumber daya alam terbaharukan yang melimpah baik dalam jumlah maupun jenis tumbuhan yang mengandung serat selulosa. Di alam selulosa tidak dapat terdegradasi secara sempurna oleh karena itu dibutuhkan bantuan mikroorganime seperti jamur dan bakteri yang akan menghasilkan enzim selulase sehingga dapat mendegradasi selulosa yang berada di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis aktivitas enzim selulase yang dihasilkan oleh isolat bakteri yang digunakan. Aktivitas selulase dari 11 isolat bakteri ditentukan dengan nilai indeks selulotik melaluli metode pewarnaan merah kongo pada media padat CMC 1%. Sebanyak tujuh isolat yang menandakan hasil positif dan nilai indeks tertinggi dihasilkan oleh isolat SI-E yaitu 4.7 mm. Setelah itu nilai aktivitas enzim selulase dari ketujuh isolat positif ditentukan dengan menghitung gula pereduksi substrat melalui metode 3,5-dinitrosalisilat (DNS). Hasil menunjukkan isolat SI-H memiliki aktivitas tertinggi yaitu 0,071 U/mL. 
MAMALIA ASAL PULAU GAM, KEPULAUAN RAJA AMPAT DENGAN BEBERAPA CATATAN BARU Yohanita, Aksamina Maria
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.43 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.20

Abstract

ABSTRACTDuring 4 days fieldwork rapid inventory on the low land forest Gam Island, Raja Ampat Archipelago West Papua. Eksploration is the methods used in this study. Mammals were collected on the night with mist-net, and life trap (elliot trap)in forest, garden, and cave araund Yenbeser village. The result showed that 14 species of mammalian and six other allegedly species were found. We found an endemic species of Waigeo Island, Spilocuscus papuensis, and nine other mammals as the new record. That place showed a very good habitat forest to support many species of animal live. There are three species enter the Appendix II CITES and Indonesian government regulation, PP RI No. 7 1999. So far, there is no threat for the forest habitat of mammals by local communities.                                          ABSTRAKInventarisasi cepat mamalia di Pulau Gam Kepulauan Raja Ampat selama empat hari menggunakan metode eksplorasi dengan teknik penangkapan langsung, pemasangan jaring kabut, pemasangan perangkap hidup, dan observasi malam. Habitat yang dikunjungi meliputi hutan, kebun dan goa di sekitar Kampung Yenbeser Pulau Gam. Hasil temuan mengejutkan, sebanyak 14 spesies mamalia berhasil dicatat dan dugaan kehadiran spesies lainnya sebanyak enam spesies menghuni pulau Gam. Pada penelitian ini juga berhasil menemukan spesies endemik Pulau Waigeo yaitu Spilocuscus papuensis dan sembilan spesies mamalia lainnya termasuk laporan baru dalam penelitian ini. Dari 20 spesies mamalia, tiga spesies diantaranya masuk CITES Appendix II serta dilindungi oleh regulasi Indonesia, PP RI No 7 tahun 1999. Sejauh ini, tidak terlihat adanya ancaman dari masyarakat lokal terhadap hutan sebagai habitat mamalia sehingga keberlangsungan hidup hewan dapat terjaga dengan baik.
DAMPAK PEMBANGUNAN BREAKWATER TERHADAP STRUKTUR KOMUNITAS POLYCHAETA DI PESISIR PANTAI MANOKWARI, PAPUA BARAT Wambrauw, Diana Elsa Albita; Krey, Keliopas; Ratnawati, Sita
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.116 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i2.42

Abstract

ABSTRACTBreakwater is a small structures designed to protect coastal area from extremely sea waves exposure. The breakwater has been used in many coastal area at various town in Papua include Manokwari Regency, West Papua Province. Breakwaters designed at Manokwari has been reduce the intensity of wave action in inshore waters. Moreover, the breakwater also reduce coastal erosion and provide safe harbourage for local fishing. Same with the others, the breakwater on the coast of Manokwari also contact with the substrate directly, which is a habitat for Polychaeta. The lack of research data and information on Polychaeta in the Papua Sea encourages this research must be done. The purpose of this research is to identify the spesies of Polychaeta and analyze the impact of breakwater to the community structure of Polychaeta. This research conducted on March to June 2018 focus on six station of five beach with breakwater at the coastal of Manokwari, West Papua i.e. Abasi, Pasir Putih, Wosi, Andai and Mansinam Island. The line transect quadran method were use to collect sample of the Polychaeta. Total 64 sample of Polychaeta was collecting and identified.  Approximately 17 spesies of Polychaeta (i.e. seven orders, nine of families and 14 genera) already identified. Based on ANOVA and BNt tests, the breakwater development has significantly impacte to the structure community of Polychaeta on the coastal of Manokwari. ABSTRAKBreakwater atau pemecah gelombang merupakan struktur kecil yang didesain untuk melindungi area pesisir pantai dari paparan gelombang air laut yang ekstrim. Sama dengan lainnya, breakwater di pesisir pantai Manokwari juga bersentuhan langsung dengan substrat, yang merupakan habitat cacing laut, Polychaeta. Minimnya data penelitian dan informasi tentang Polychaeta di laut Papua mendorong penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi spesies Polychaeta dan menganalisa dampak yang ditimbulkan dari breakwater terhadap struktur komunitas cacing taksa cacing laut ini. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2018 yang dipusatkan pada enam stasiun di lima pantai yang terdapat breakwater, yaitu pantai Abasi, Pasir Putih, Wosi, Andai dan pantai Pulau Mansinam. Garis transek kuadran sebagai metode pengambilan sampel Polychaeta. Sebanyak 64 sampel telah dikoleksi dan berhasil dikenali 17 spesies Polychaeta yang terbagi dalam tujuh ordo, sembilan familli dan 14 genus. Berdasarkan uji ANOVA dan Uji BNt menunjukan keselarasan pembangunan breakwater berdampak signifikan terhadap struktur komunitas Polychaeta di pesisir pantai Manokwari.
KEANEKARAGAMAN, KERAPATAN, DAN DOMINANSI CACING TANAH DI BENTANG ALAM PEGUNUNGAN ARFAK Mambrasar, Rini; Krey, Keliopas; Ratnawati, Sita
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.665 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.30

Abstract

ABSTRAKCacing tanah memiliki peran ekologis yang sangat esensi dalam tanah. Dalam kondisi alamiah keanekaragaman, kerapatan dan dominansi spesies cacing tanah sangat dipengaruhi oleh letak geografis, kondisi biotik dan abiotik habitat, termasuk iklim. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman, kerapatan dan dominansi spesies cacing tanah di bentang alam Pegunungan Arfak. Pengambilan sampel dilakukan di empat habitat berbeda mewakili dataran rendah hingga dataran tinggi yaitu Laguna Kabori, Sungai Prafi, Danau Anggi Giji dan Sungai Iray Anggi. Total 56 individu diidentifikasi menjadi tujuh spesies mewakili tiga famili yaitu Lumbricidae, Eudrilidae, dan Megascolecidae berdasarkan ciri-ciri morfologi antara lain: bentuk tubuh, panjang tubuh, jumlah segmen, letak dan warna klitelum, permukaan kulit, prostomium, gerakan, lubang dorsal dan warna tubuh. Hasil analisis terhadap faktor abiotik menunjukan bahwa suhu, kelembaban dan pH merupakan kunci penting bagi distribusi, keanekaragaman, kelimpahan dan dominansi spesies cacing tanah di bentang alam Pegunungan Arfak.
PERTUMBUHAN, UMUR, DAN DIMORFISME SEKSUAL IKAN PELANGI ARFAK, Melanotaenia arfakensis Allen, 1990 DI SISTEM SUNGAI PRAFI, MANOKWARI, PAPUA BARAT Manangkalangi, Emmanuel; Leatemia, Simon P.O.; Sembel, Luky; Lefaan, Paskalina T.; Sala, Ridwan; Rahardjo, M.F.
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.279 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i2.52

Abstract

ABSTRACTArfak rainbow fish, Melanotaenia arfakensis is an endemic fish on several river systems in the northeastern part of the Vogelkop peninsula. This study aims to describe the growth, age at first maturity, and sexual dimorphism of this endemic fish on the Nimbai Stream and the Aimasi Stream, the Prafi River system. The fish were caught using handnet, then were measured their standard length and individual weight. Data were analyzed to estimated growth patterns, von Bertalanffy's growth rate, age at first maturity and sexual dimorphism characteristics. The results showed that male growth patterns varied, with a tendency of the increase in body length faster than that of body weight (negative allometric patterns) with b values ranging from 2.886 to 3.132. On the other hand, the female individuals had positive allometric patterns (b values ranged from 3.062 to 3.378). The growth rate (K) of male body length was faster (0.165-0.174) than that of female individuals (0.159-0.163). Male individuals reached the first maturity condition earlier (at age of 1.83-2.18 years) than female individuals (at age of 2.49-2.64 years). Sexual characteristics between the sexes are related to body height starting to appear when fish are of a standard length of larger than 18.22 mm or when male fish begin to approach the time of the first sexual maturity. Understanding of growth, age, and the characteristics of the sexual dimorphism of endemic fish has an important meaning in monitoring population conditions and for conservation efforts in their natural habitat.
JENIS TUMBUHAN DAN TIPE HABITAT DI HUTAN DATARAN RENDAH HAYA, MAMBERAMO, PAPUA Jitmau, Marthen; Rumbino, Amon A
VOGELKOP: Jurnal Biologi Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Papua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.216 KB) | DOI: 10.30862/vogelkopjbio.v1i1.37

Abstract

ABSTRACTMamberamo lowland areas are generally contains of primary rainforests. Until now, basic research needs to documentation all of biology resourches because of many other important genetic data, evolution, and their implication to conservation management are not realy know. On the other hand, the development of new regency (Daerah Otonom Baru or DOB) still available to certain habitat use. The purpose of this study is to analyse habitat diversity, and identify plant species scattered in lowland forests around the Haya village, Mamberamo. Total 123 species (40 of family) of plants were found in Haya. We found there are two families of plant with highly dominant spescies in this region i.e. Arecaceae with 12 species or 9.75%, and 11 species of Moraceae (8.9%) are dominant of famili of plant found in this region. There are tree type of habitat at Haya i.e. plains, hills and seasionally inundeted.  ABSTRAKDataran rendah Mamberamo pada umumnya masih berupa hutan primer dan belum diteliti secara menyeluruh. Saat ini, masih diperlukan penelitian dasar untuk mendokumentasikan seluruh sumberdaya biologi karena banyak data penting genetik, evolusi dan implikasinya terhadap manajemen pelestarian belum diketahui secara pasti. Disisi lain, pemekaran wilayah DOB masih terus tersedia untuk menggunakan habitat tertentu. Tujuan penelitian ini adalah menganalisa keragaman habitat, dan mengidentifikasi spesies tumbuhan yang tersebar di hutan dataran rendah sekitar kampung Haya, Mamberamo. Total 123 spesies (40 famili) tumbuhan ditemukan di hutan dataran rendah Haya, Mamberamo. Famili dengan jumlah spesies terbanyak adalah Arecaceae 12 spesies (9.75%) dan 11 spesies Moraceae (8.9%). Terdapat tiga tipe habitat di Haya yaitu dataran rendah (plains), perbukitan rendah (hills), area yang secara musiman tergenang air (seasionally inundeted).

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018