Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 2086809X     EISSN : 26558610
Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan adalah jurnal berkala ilmiah yang dikelola oleh Program Studi Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum Univesitas Sriwijaya. Jurnal ilmiah ini menjadi sarana publikasi bagi para akademisi dan praktisi dalam mempublikasi artikel ilmiah di bidang hukum kenotariatan dan ke-PPAT-an. Ruang lingkup jurnal Repertorium meliputi bidang: Hukum Kontrak, Hukum Perjanjian, Hukum Kepailitan, Hukum Perusahaan, Hukum Hak Kekayaan Intelektual, dan Cyber Notary.
Articles 55 Documents
KEWENANGAN NOTARIS DALAM MEMBUAT AKTA OTENTIK AKAD PEMBIAYAAN MUDHARABAH BERDASARKAN HUKUM ISLAM

Febry, Ahmad

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 4 Nomor 1 Mei 2015
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1962.295 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v4i1.169

Abstract

Abstract : Indonesian economic Islam system has been well known by published The Statute Number 21 on 2008 about Syariat Banks. During on its doing of banking enrole -- the contract between credditure and debiture like mudharabah lease act – must need the notary justify as authentical act for legal security the whole parties. This research patternized about the notary’s enrole on making its authentical act of mudharabah lease based on Islamic law contract, the comparison acts between KUH Perdata and Islamic law contract, and the notary opportunity by making its mudharabah lease contract at Islamic banking practice. This research is normative based on legal security theory, law connectivity theory, and maslahat theory. This research use legal prime, secunder, tersier, and conceptual approach, historical approach, statute approach, and comparative approach methods. The final conclusion on this research is that the notary justify as authentical act of mudharabah lease based on Islamic law written in Al-Quran Al-Baqarah 282. The comparison act between KUH Perdata and Islamic law is the similarity of its established contract, the legal of conditional act, the freedom of contract, and the consensus principle. Then the notary opportunity by making its mudharabah lease contract at Islamic practical banks has many opportunities that can be measured by industrical activity growth and Islamic economical principle. Keywords : Notary, Authentical Minute, Mudharabah Lease Contract. 

KEWENANGAN NOTARIS DALAM KONTRAK KERJASAMA PENGADAAN TANAH PADA EKSPLORASI USAHA HULU MIGAS

Lubis, Ahmad Fachrisal

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 7 Nomor 2 November 2018
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.28946/rpt.v7i2.270

Abstract

Penelitian ini adalah penelitan yang mengkaji tentang Aspek Hukum Kewenangan  Notaris Dalam Kontrak Kerja Sama Pengadaan Tanah Pada Kegiatan Eksplorasi Usaha Hulu Migas. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini membahas mengenai bagaimana kewenangan notaris sebagai pembuat akta autentik dan hubungannya dalam pengadaan tanah untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu migas dan dalam segi apa notaris mempunyai kewenangan dalam kontrak kerjasama pengadaan tanah untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu migas. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan langkah-langkah deskripsi, sistematisasi dan eksplanasi terhadap isi hukum positif secara mendalam dengan menggunakan pendekatan konsep, pendekatan Undang-undang dan analisis sinkronisasi sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis secara mendalam mengenai kewenangan notaris sebagai pembuat akta autentik dan hubungannya dalam pengadaan tanah untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu migas. Selain itu untuk mengetahui dan memahami serta menganalisis secara mendalam pada sisi apa notaris mempunyai kewenangan dalam kontrak kerjasama pengadaan tanah untuk kegiatan usaha eksplorasi hulu migas. Kewenangan itu diperlukan karena adanya kebutuhan akan pembuktian tertulis berupa akta otentik guna kepastian hukum dalam berbagai hubungan ekonomi dan sosial, baik pada tingkat nasional, regional maupun global,  melalui akta otentik yang menentukan secara jelas hak dan kewajiban, menjamin kepastian hukum. Kewenangan notaris membuat akta autentik seperti pembuatan akta pada kontrak kerjasama pengadaan tanah  untuk kegiatan usaha hulu migas pada hakekatnya memuat kebenaran formal sesuai dengan apa yang diberitahukan para pihak kepada notaris, serta memberikan akses terhadap informasi, termasuk akses terhadap peraturan perundang-undangan.  Dalam kedudukannya sebagai pejabat pembuat akta yang berkaitan dengan hukum keperdataan, sesuai dengan kewenangannya yang diberikan oleh Negara/Pemerintah, yaitu membuat akta otentik sebagai bukti tertulis yang langsung berhubungan dengan hukum pembuktian.

AKIBAT HUKUM WASIAT YANG BERISI PENUNJUKAN AHLI WARIS DAN HIBAH WASIAT MENURUT KITAB UNDANG-UNDANG HUKUIM PERDATA

Pratama, Adi Putra

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 4 Nomor 2 November 2015
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1825.539 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v4i2.160

Abstract

Abstract : Thesis entitled as a “RESULT OF LAW THAT WILL CONTAIN THE APPOINTMENT AND GRAND TESTAMENTARY HEIR ACCORDING TO THE BOOK OF THE CIVIL LAW”. Discuss issues of legal issues that result of law that will contain the appointment and grant testamentary heir according to the book of the civil law; in heritance right to the heirs by statutory (ab intestato) and testament which contains appointment heirs (erfstelling) according to the laws of civil law. Theoretical basis used in this study is the theory of the rule of law, rights theory and theory of legal protection. This type of research uses type of normative legal research using regulatory approach and conceptual approach. Materials research in this thesis the primary law, secondary and tertiary, which is processed at the level of technical level, the level of teleological and systematic level of internal. Material analysis carried out by method of interpretation of law contruction. Based method of deductive logic to think that we can conclude about testamentary appointment and grant testamentary heirs and logical qonsecuences according to the book of civil law by looking article 954 and 957 of the book. However, due to legal provisions regarding the appointment of a will that contains a grant heirs and testament in the book of the law of civil law. The next concept of the ideal law which must be applied by a public official or for a notary clarity and legal certainly. On the rights of heirs either by statute (ab intestato) or by the law of will and grants means that in the future there is no problem or dispute after heiress dies.   KeyWords: Heiress, Wealth, Heir, Grant Will , Will Containt The Appointment (erfstelling), Grant Testamentary (legaat)

BERAKHIRNYA HAK GUNA BANGUNAN YANG MASIH MENJADI JAMINAN KREDIT DDENGAN HAK TANGGUNGAN

Lismawati, Lismawati

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 5 Nomor 2 November 2016
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1481.05 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v5i2.192

Abstract

In the credit required a guarantee for the debt repayment and the Bank is one of the distributor of funds in the form of credit. Guarantee of debt repayment is usually in the form of certificate of land right. One is the land right is certificate of buildings right that have validity period. Expiration of buildings rights that were pledged as collateral for loans with mortgage would have the legal consequence of the existence of a security interest. In Article 18, paragraph 1, letter d Act Mortgage one of which led to the mortgage abolition is the abolishment of land rights. In this research the authors uses the normative research approach based on legislation and conceptual approaches. Data collection techniques with library materials and interviews and also the techniques conclusion with the deductive method. Results of research on the problems that the expiry of building rights as the object of credit guarantees stipulated in Law Number 4 of 1996 on the rights of dependents, the Indonesian Government Regulation Number 40 of 1996 on the right to cultivate (Mortgage), building rights and rights of use, the Regulation of the Minister of Agrarian / Head of the National Land Agency of the Republic of Indonesia Number 5 of 1998 on changes to building rights or the right to use the land burdened residential security rights into property rights and the legal arrangements for the termination of the buildings right is still the object of credit guarantees in the form of Mortgage while the Credit Agreement is not over yet set in the legislation, background Bank provides loans with building rights as the object of loan collateral that are from yuridical and business considerations, the law efforts that can be done of creditors as the holder of a security interest if the right to build an end that is making the promises in the Deed Granting Mortgage, requesting additional collateral, extension of rights, the right change and renewal of building rights.  Keywords : Guarantee, Building Rights, Mortgage

KEPATUHAN HUKUM NOTARIS/PPAT TERHADAP KEWAJIBAN MEMILIKI NPWP DITINJAU DARI PASAL 2 AYAT (1) UNDANG-UNDANG NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Fitriyanti, Admei Dhina

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 6 Nomor 1 Mei 2017
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.28946/rpt.v6i1.183

Abstract

Tesis yang berjudul “Kepatuhan Hukum Notaris/PPAT terhadap Kewajiban Memiliki NPWP Ditinjau dari Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan” ini membahas permasalahan tentang dapatkah Notaris/PPAT membuka kantor tanpa memiliki NPWP dan apa saja kepatuhan hukum Notaris/PPAT terhadap kewajiban memiliki NPWP ditinjau dari Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang.Nomor 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan .Umum .dan Tata Cara. Perpajakan. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang menganalisis suatu keberlakuan hukum. Dilakukan dengan meneliti bahan-bahan hukum, seperti penelitian terhadap asas-asas hukum, kaedah-kaedah hukum dan doktrin. Penelitian ini menggunakan dua metode pendekatan dalam penelitian hukum, yaitu; Pendekatan .Perundang-undangan. (Statue. Approach) dan Pendekatan Konseptuan. (Conceptual. Approach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Notaris/PPAT tidak dapat membuka kantor tanpa memiliki NPWP dikarenakan Notaris/PPAT sudah memenuhi. ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang. Nomor 16 Tahun 2009 yaitu setiap wajib pajak yang sudah memenuhi syarat.subjektif dan syarat objektif wajib mendaftarkan. diri pada kantor Direktorat.Jenderal Pajak dan memiliki NPWP; serta kepatuhan hukum Notaris/PPAT terhadap kewajiban memiliki NPWP ditinjau dari Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang. Nomor 16 Tahun 2009 adalah mendaftarkan diri dan mendapatkan NPWP; menghitung, membayar (menyetor) dan melapor pajak yang terutang; kewajiban turunan lainnya seperti PPh 21, PPh 25, PPh 29, PPN; pembukuan dan pencatatan; dan melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT)masa dan tahunan. Kata kunci    :    Kepatuhan Hukum, Notaris, PPAT, NPWP.

VIDEO KONFERENSI DALAM RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM BERDASARKAN PASAL 77 UNDANG-UNDANG PERSEROAN TERBATAS

Agung Putra, Yahya, Yahanan, Annalisa, Trisaka, Agus

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 8 Nomor 1 Mei 2019
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.389 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v8i1.310

Abstract

Penulisan artikel ini difokuskan pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dapat dilaksanakan melalui video konferensi berdasarkan pasal 77 ayat (1) Undang-undang tentang Perseroan Terbatas. Dalam RUPS secara Video konferensi peserta rapat tidak hadir secara langsung berhadapan dengan peserta lain dan Notaris maka diperlukan adanya tanda tangan elektronik (e-signature) bagi para peserta rapat yang tidak hadir secara fisik di tempat penyelenggaraan rapat. Akta yang dibubuhi tanda tangan elektronik dapat dipersamakan dengan data elektronik atau informasi elektronik yang kedudukannya diakui sebagai alat bukti yang sah. Prosedur pelaksanaan pembuatan akta semacam ini bertentangan dengan pasal 16 ayat (1) huruf m UU tentang Jabatan Notaris bahwa notaris wajib membacakan akta di hadapan para penghadap dan saksi. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Untuk menganalisis pengaturan tentang persyaratan Video konferensi dalam kaitannya dengan Cyber Notary  (2) Untuk menganalisis implementasi dari RUPS melalui video konferensi,  (3 )Untuk menganalisis serta memberikan saran terhadap peran dan tanggung jawab Notaris dalam Rapat Umum Pemegang Saham yang dilaksanakan melalui Video Konferensi Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis ini adalah penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan. sehingga dapat menemukan pemecahan permasalahan mengenai RUPS video konverensi.

Kewenangan Notaris Membuat Akta Yang Berkaitan Dengan Pertanahan Menurut Pasal 15 Ayat (2) Huruf (F) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris

Cahyani, Dela

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 5 Nomor 1 Mei 2016
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1559.825 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v5i1.174

Abstract

Abstract : That the formulation of clause 15 verse (12) point (0 statute number 30 in 2004 about notarist occupation which states that notarist has an authority to issue the official documents related to the land affairs, practically it can cause the difference in interpratation. At glance, the statement itself can create the assumption that notarist occupies the authority of PPAT in issuing land official document (akta PPAT).Having done the analysis of juridical-normative, furthermore, it is done by the statute approach as well as the law history and sistematical interpretation, with legal materials of primary and secondary so that this study obtains that:The authority of notarist as stated in the clause 15 verse (2) point (f) statute number 30 in 2004 must be interpreted narrowly, it means that notarist does not occupy the authority of PPAT in issuing the land official documents and there is no conflict of authority between the authority of notarist and PPAT that they are different each other either seeing from historical aspect, law background, or the scope of its job. The formulation is formulated by the statute makers in order to anticipate a very quick development in economy and business so that it is expected to be able to accept any kinds of economic and business activities in community that do law action or the agreement related to land affairs;The interpretation of notarist authority that issues the official documents related to land affairs that belongs to the authority of PPAT until now. The authority of notarist in issuing land official documents is the authority that is described as follows: the notarist official document is the official document that contains with law affairs stated in the agreement which is obligatory, that its object related to land affairs, nevertheless, the concerned law affairs is not aimed to shift the right of land ownership or to burden the right of land ownership, for instance the official document of rent-lease agreement or the land official document of borrow-use agreement;According to the findings above, this study concludes that the authority of notarist in issuing official document related to land affairs is not the authority of issuing land official document that belongs to PPAT business, and the authority of notarist is done as long as the official document that they make has no tendency to shift the right of land ownership or to burden the right of land ownership. At last, this study suggests that : (a) in order to make the interpretation to the clause 15 verse (2) point (f) statute number 30 in 2004 is implemented by law history interpretation and systemic interpretation, (b) in order to make the authority of PRAT increases its law basis to be statute, and (c) it is expected to all intergrated relationship to conduct thesocialization and coordination in order that the conflict of authority does not occur between notarist and PPAT when they work. (keywords: The Authority, Official Document, Land)

PENERAPAN KEWENANGAN PENGAWASAN MAJELIS PENGAWAS DAERAH (MPD) TERHADAP PELAKSANAAN CUTI NOTARIS DI KOTA PALEMBANG

Ponira, Ponira

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 7 Nomor 2 November 2018
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.532 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v7i2.275

Abstract

Artikel yang berjudul “Penerapan Kewenangan Pengawasan Majelis Pengawas Daerah (MPD) Terhadap Pelaksanaan Cuti Jabatan Notaris di Kota Palembang”, bertujuan untuk menganalisis tentang bagaimana prosedur dan apa yang menjadi pertimbangan dari MPD) dalam pemberian izin cuti jabatan Notaris, apa yang menjadi batas pengawasan MPD terhadap pelaksanaan cuti jabatan Notaris di kota Palembang, serta bagaimana bentuk pengawasan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh MPD terhadap pelaksanaan cuti jabatan Notaris di Kota Palembang. Hasil dari penelitian ini yaitu: (1)Prosedur pelaksanaan cuti jabatan Notaris terkhusus dikota Palembang sebagaimana ketentuan yang ada dalam peraturan perUndang-Undangan yang berlaku, namun dalam proses pelaksanaan cuti ada hak dan kewajiban dari seorang Notaris yang tidak terpenuhi sebagaimana diatur dalam pasal 32 UU Jabatan Notaris yaitu tentang serah terima protokol jabatan dan dalam hal pemberian izin cuti jabatan kepada Notaris sejauh ini tidak ada tolak ukur khusus atas batasan-batasan alasan pengajuan permohonan cuti tersebut. ;(2) dalam hal batasan pengawasan MPD dalam pelaksanaan cuti jabatan sejauh ini penerapan wewenang pengawasan terhadap pelaksanaan cuti jabatan tidak ada, pengawasan hanya dilakukan pada pelaksanaan jabatan Notaris, yang mana saat tengah melaksanakan cuti seorang Notaris di anggap bertindak atas nama dirinya pribadi bukan dalam jabatannya sebagai pejabat umum (Notaris). ;(3)adapun bentuk pengawasan serta pemeriksaan yang dilakukan oleh MPD terhadap pelaksanaan cuti jabatan Notaris di Kota Palembang sejauh ini tidak ada tindakan khusus sebagai implementasi dari kewenangan MPD.

PENERAPAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA NOTARIS OLEH MAJELIS PENGAWAS WILAYAH (MPW) MENURUT UNDANG UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN UNDANG UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS

Tafdhil, Muhammad Hafiz

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 4 Nomor 2 November 2015
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1825.539 KB) | DOI: 10.28946/rpt.v4i2.165

Abstract

ABSTRACT: Notary is running his occupation there is conducted collision because the collision of Notary can be fallen by sanction.  One of sanction to Notary is fallout of administrative sanction.  Administrative sanction fallout to notary represent duty notary supervisor ceremony.  One of them is the Regional Supervisor Ceremony (MPW), sanction fallout to notary so that the notary don’t act improperly and remain to obey order.  Regional Supervisor Ceremony (MPW0 becoming problem here is how sanction fallout to notary conducting collision of pursuant to number law 2 years 2014 about notary.  To reply this problem is hence conducted by a research conducted by Yuridis normative.             Process administrative sanction fallout, what is the form of sanction and exhortation written, and also the layoff is regional duty Regional Supervisor Cerremony (MPW). On the basis of above conclusion, suggested that by of clear order existence about sanction fallout to notary conducting collision. Keyword : Notary, Regional Supervisor Ceremony (MPW), Sanction

LIMITASI KEWENANGAN MAJELIS PENGAWAS NOTARIS DAERAH KOTA PALEMBANG DALAM PENANGANAN PELANGGARAN KODE ETIK YANG DILAKUKAN NOTARIS

Apriza, Deva

Repertorium: Jurnal Ilmiah Hukum Kenotariatan Volume 7 Nomor 1 Mei 2018
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.28946/rpt.v7i1.266

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang dan penerapan Limitasi Kewenangan Majelis Pengawas Notaris Daerah Kota Palembang dalam Penanganan Pelanggaran Kode Etik yang Dilakukan Notaris. Jenis penelitian ini yaitu penelitian hukum normatif dengan menggunakan studi pustaka dan wawancara guna mendapatkan data dalam penelitian ini. Metode yang digunakan pendekatan secara pustaka digunakan untuk menganalisis berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan Majelis Pengawsas Daerah dalam menjalankan kewenangannya. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Kewenangan Majelis Pengawas berdasarkan Undang-undang Jabatan Notaris hanya meliputi pelanggaran terhadap UUJN itu sendiri, ketika terjadi pelanggaran terhadap kode etik notaris, maka berdasarkan Pasal 12 Anggaran Dasar Ikatan Notaris Indonesia, merupakan kewenangan Dewan Kehormatan Notaris, meskipun dalam menjalankan kewenangannya Dewan Kehormatan dapat berkoordiinasi dengan Majelis Pengawas namun pelaksanaan sidang etiknya tetap menjadi kewenangan Dewan Kehormatan. Apabila pelanggarannya terhadap kode etik PPAT maka berdasarkan Pasal 33 PP Nomor 24 Tahun 2016 menjadi kewenangan Majelis Kehormatan PPAT.