Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan
ISSN : 14117649     EISSN : 26849194
Veritas dirancang untuk turut mengembangkan dan memajukan karya tulis di bidang biblika, teologi, misiologi, pelayanan dan bidang terkait lainnya. Selain itu, kami terbeban ikut memperhatikan dan memberi warna pada pembinaan pengajaran warga jemaat dan orang Kristen pada umumnya melalui pemikiran dan pelayanan para hamba Tuhan agar gereja dapat bertumbuh dan berkembang secara sehat dan benar.
Articles 257 Documents
Konsep Otoritas Alkitab di Hadapan Fakta Kesalahan Tekstual: Sebuah Diskusi Teologis

Jatmiko, Yudi

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.701 KB)

Abstract

Studi kritik tekstual Alkitab menunjukkan bahwa berbagai salinan Alkitab, PL dan PB, memiliki banyak kesalahan tekstual. Masalah yang muncul ialah di hadapan fakta berbagai kesalahan tekstual yang ada, masihkah Alkitab memiliki otoritas? Para oponen menilai jelas tidak karena fakta kesalahan tekstual menimbulkan problematika yang serius berkaitan dengan ketidakpastian makna teks. Para proponen memiliki penilaian sebaliknya. Melalui diskusi teologis yang dilakukan, penulis mendapati bahwa terlepas dari berbagai kesalahan tekstual, Alkitab tetap memiliki kepastian makna teks. Ini dikarenakan bahwa perubahan teks tidak berdampak signifikan pada makna teks, jumlah varian yang banyak memungkinkan adanya ketersalingan dalam verifikasi makna, dan ketiadaan kemungkinan konspirasi menunjukkan adanya nilai dan rujukan historis di dalam teks. Kepastian makna teks ini memiliki implikasi kepastian otoritas dalam Alkitab. Akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa kesalahan tekstual dalam Alkitab tidak meniadakan otoritas Alkitab. Kata-kata Kunci: Otoritas Alkitab, Kesalahan Tekstual, Kritik Tekstual, Kepastian Makna Teks English :  The field of Textual Criticism of the Bible has highlighted that various OT and NT manuscripts contain textual errors in the original apographs. These errors indicate a problem: in the face of various existing textual errors, does the Bible still have authority? Opponents of Biblical authority conclude that we cannot trust the text because of the serious nature of the textual problems. Proponents of Biblical authority take the opposite view and defend the authority of the Scriptures. Proponents argue that there is certainty regarding the meaning of the Bible despites its many textual errors. This is due to the fact that the textual changes do not significantly impact upon the meaning of the text. Additionaly, the numerous textual variants of available manuscripts provides us with an inter-verifying process to ascertain the meaning of the text. Moreover, the impossibility of scribal conspiration signifies historical reference and value within the text. The certainty of the meaning of the text has implications for the certainty of biblical authority. Finally, the author concludes that though there are textual errors within the Bible they do not negate the authority of the Bible. Keywords: Bible Authority, Textual Error, Textual Criticism, The Certainty of the Text Meaning

Meneropong Makna Penderitaan Manusia Menurut Konsep Teodise C.S. Lewis

Gunawan, Esther

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.107 KB)

Abstract

Ketika berhadapan dengan fenomena penderitaan manusia, kecenderungan yang dilakukan oleh kaum injili adalah meneropong penderitaan manusia tersebut berdasarkan kacamata kedaulatan dan providensia Allah yang tidak terelakkan atas diri manusia. Sikap pasrah berkaitan dengan kedaulatan Allah yang mutlak tersebut, tanpa disadari sebenarnya telah memunculkan konsep “fatalisme praktis.” Akibatnya, relasi erat antara hukum alam dan tanggung jawab manusia pada akhirnya menjadi hal yang terabaikan. Studi tentang konsep teodise C.S. Lewis ini diharapkan mampu memberikan paradigma baru bagi kaum injili di Indonesia dalam memandang masalah penderitaan manusia. Paradigma baru tersebut adalah cara pandang yang aktif dan positif terhadap peran hukum-hukum alam sebagai wahyu umum di balik fenomena penderitaan tersebut. Konteks natural kehidupan manusia dengan hukum-hukum alam yang tetap dan beraturan diharapkan dapat menjadi “kunci” untuk membuka “pintu rahasia” fenomena penderitaan manusia.  Kata-kata kunci: Clive S. Lewis, Teodise, Masalah Penderitaan, Hukum Alam, Wahyu Umum English : When faced with the phenomena of human suffering the default of the evangelical community is to examine human suffering through the lens of God’s sovereignty and providence which are inevitable forces faced by human beings. An attitude of fate, which arises as a direct response to God’s absolute sovereignty, actually leads to a concept of practical fatalism. The close relationship between natural law and human responsibility is ultimately neglected. It is hoped that a study of C. S. Lewis’ concept of theodicy can provide a new paradigm for the Indonesian evangelical community as it pertains to the problem of human suffering. This new paradigm proffers an active and positive estimation of the role of natural law as general revelation underlying the phenomena of suffering by positing the idea about the natural context of human life and the idea of fixed and uniform natural laws as a key to understanding the phenomena of human suffering. Keywords: Clive S. Lewis, Theodicy, The Problem of Suffering, Natural Law, Common Revelation

Mencari Jejak-jejak Autograf Perjanjian Lama di dalam Septuaginta

Kondoj, Brando V.

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.653 KB)

Abstract

Untuk sekian lama, Septuaginta sebagai terjemahan Kitab Suci Ibrani yang pertama telah dipinggirkan dan tidak memperoleh tempat dalam usaha untuk mencari autograf (naskah asli Alkitab) Perjanjian Lama yang telah lama hilang itu. Namun demikian, perkembangan terbaru dalam studi terhadap naskah-naskah kuno Alkitab justru menunjukkan bahwa Septuaginta memiliki sumbangsih besar dalam pencarian autograf Perjanjian Lama. Hal ini dibuktikan melalui penggunaan metode kritik tekstual oleh para sarjana Alkitab, yakni dengan melakukan penelitian dan perbandingan terhadap naskah-naskah kuno Alkitab Perjanjian Lama, seperti Teks Masoret, Pentateukh Samaria, Gulungan Laut Mati, dan Septuaginta. Kata-kata kunci: Septuaginta, autograf Perjanjian Lama, metode kritik tekstual, Teks Masoret, Pentateukh Samaria, Gulungan Laut Mati. English :  For too long the Septuagint, the first translation of the Hebrew Old Testament, has been sidelined and not given a credible hearing in seeking to discern the text of the original autographs of the Old Testament which have been lost in antiquity. Even though that has been the case, the new direction in recent textual studies, which has focused on the meaning of the original autographs of the Old Testament, has recognized that the Septuagint has a significant contribution to make within this field of study. This position has been supported by Biblical scholars who have employed the Text Critical method in determining the authoritative text of the Old Testament. They employ the Text Critical method in their comparison of the Masoretic Text, the Samaritan Pentateuch, The Dead Sea Scrolls and most recently, the Septuagint to find traces of the original OT autographs. Keywords: Septuagint, Old Testament autographs, text critical method, Masoretic Text, Samaritan Pentateuch, The Dead Sea Scrolls.

Ethics in the Message of Isaiah

Chan, Aaron Heng Yeong

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.488 KB)

Abstract

Form-critical studies in the ethical basis of Isaiah has reached an impasse. Many ethical injunctions in Isaiah 1-39 does not fit into either wisdom or legal categories according to form-critical approaches. This article will re-examine the ethical basis of Isaiah 1-39 by employing a literary-canonical approach. Keywords: OT Ethics, Ethics, Prophecy and Law, Isaiah’s ethics   Bahasa Indonesia: Studi kritik bentuk mengenai dasar etika dalam kitab Yesaya telah mencapai kebuntuan. Banyak perintah etis dalam Yesaya 1-39 tidak dapat digolongkan baik ke dalam kategori hikmat atau hukum menurut pendekatan-pendekatan kritik bentuk. Artikel ini akan meninjau ulang dasar etis dalam Yesaya 1-39 dengan menggunakan pendekatan literer-kanonis. Kata-kata kunci: Etika PL, Etika, Nubuat dan Taurat, Etika Yesaya

The Apostles and the Apostolic Church

Gunawan, Chandra

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.597 KB)

Abstract

How should a contemporary reader understand the complexities of the early church? Many scholars utilize a religious studies perspective to understand the early church concluding that the church grew as a direct result (synthesis) of group conflicts (in particular, the Pauline and Petrine communities). This essay approaches the early church from a different paradigm. Using theological analysis, the author concludes that although the early church contained elements of diversity, she exhibits significant unity. The Catholic Epistles (the letters of James, Peter, John, and Jude) are independent letters that are interconnected by the Jerusalem tradition, and the theologies of these letters reflect the unique character of the early church. Therefore, it is important that NT scholars should give more attention to the Catholic Epistles so that the early church can be understood from a more constructive perspective. Keywords: Religious Studies, Theological Analysis, Catholic Epistles, Jerusalem Tradition   Bahasa Indonesia : Bagaimanakah pembaca masa kini memahami kompleksitas gereja mula-mula? Banyak ahli percaya bahwa gereja mula-mula, seperti pada umumnya perkembangan sebuah agama, bertumbuh melalui proses sintesis dari pertentangan antarkelompok dalamnya, yakni kelompok orang Kristen bukan Yahudi (yang diwakili oleh Paulus) dan kelompok orang Kristen, Yahudi (yang diwakili oleh Petrus dan Yakobus). Dalam artikel ini, penulis berupaya menunjukkan bahwa dalam komplesitasnya, gereja mula-mula tetap harmonis. Di sisi yang lain, artikel ini berusaha memperlihatkan pentingnya surat-surat umum dalam memahami gereja mula-mula. Surat-surat dari Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas memuat warisan ajaran dari para rasul, yakni para pemimpin gereja Yerusalem, yang menjadi pusat dari pergerakan gereja mula-mula. Pembaca modern perlu menggali surat-surat umum lebih lanjut untuk dapat lebih memahami ajaran dan pemikiran gereja mula-mula. Kata-kata kunci: Studi Agama, Analisis Teologis, Surat-surat Umum, Tradisi Yerusalem

Meneropong Teks dalam Konteks: Katekimus Heidelberg P/J 53

Gunawan, Freddy

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.228 KB)

Abstract

Katekismus Heidelberg merupakan salah satu warisan tradisi iman Reformed yang memuat pengajaran yang begitu kaya dan limpah mengenai doktrin Allah Roh Kudus. Secara eksplisit, pengajaran tentang doktrin Allah Roh Kudus dalam Katekismus Heidelberg memang hanya terdapat dalam P/J 53. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pengajaran doktrin Allah Roh Kudus dalam Katekismus Heidelberg hanya termaktub di dalam bagian ini saja. Tulisan ini mencoba menganalisis kekayaan doktrin Allah Roh Kudus, secara khusus P/J 53, dalam tiga konteks: konteks masa lalu yang menjadi latar belakang terbentuknya Katekismus Heidelberg, konteks makro dan mikro P/J 53 secara tekstual, dan relevansinya bagi konteks masa kini, khususnya Indonesia. Kata-kata kunci: Katekismus Heidelberg, P/J 53, Roh Kudus, penghiburan, penyertaan, konteks masa lalu, konteks tekstual, konteks masa kini English:  The Heidelberg Catechism reflects a rich heritage within the Church that adheres to the Reformed tradition. It contains a rich strain of doctrine pertaining to the doctrine of the Holy Spirit. Explicitly, within the Heidelberg Catechism, the teaching regarding the doctrine of the Holy Spirit as a Member of the Godhead is found only in Question/Answer 53. Of course, this does not mean that the only teaching on the subject of the doctrine of the Holy Spirit within the Heidelberg Catechism is recorded in this section alone. The purpose of this essay is an attempt to conduct an analysis of the doctrine of the Holy Spirit, specifically Q/A 53, from three different contexts: the historical setting which reflects the historical context in which the Heidelberg Catechism was formulated, a macro and micro textual analysis of Q/A 53 within the context of the Heidelberg Catechism, and finally, the relevancy of the document for the contemporary context, especially focusing upon the Indonesian context. Keywords: Heidelberg Catechism, Question/Answer 53, The Holy Spirit, Consolation, Abiding, Historical Context, Textual Context, Contemporary Context

Apakah yang Cape Town Perlu Katakan pada [Kaum Injili di] Indonesia?: Suatu Tinjauan dan Refleksi terhadap Komitmen Cape Town dan Implikasinya pada Kaum Injili di Indonesia

Yosia, Adrianus

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.763 KB)

Abstract

Dokumen Komitmen Cape Town merupakan salah satu dokumen yang sangat penting di dalam sejarah kaum injili. Namun, penulis melihat bahwa dokumen ini jarang sekali dibahas di dalam kancah perteologian di Indonesia. Dengan demikian, artikel ini akan membahas butir-butir pemikiran dari Komitmen Cape Town dan mengontekskannya ke dalam dua konteks sosial di Indonesia, yaitu kondisi multikultur dan multikulturalisme dan juga kemiskinan dan ketimpangan. Hasil akhir dari pembahasan ini adalah sepuluh buah saran (dalam bentuk indikatif dan imperatif) yang dapat menjadi acuan bagi kaum injili di Indonesia. Kata-kata kunci: Komitmen Cape Town, Kemiskinan, Multikulturalisme, Multikultur, Ketimpangan, Imperatif dan indikatif, Injili   English : The Cape Town Commitment is one of the important documents pertaining to the history of evangelicals today. Even though this document is important rarely is it discussed in the Indonesia context. Thus, this article will discuss the Cape Town Commitment within two social contexts in Indonesia; multiculturalism and the multicultural condition and with respect to the evident poverty and economic gap. This study results in ten specific suggestions (in both the indicative and the imperative) that can function as guidelines for evangelicals in the Indonesia context. Keywords: The Cape Town Commitment, Poverty, Multiculturalism, Multicultural, Economic Gap, Imperative and indicative, Evangelical

Homoseksualitas Masa Kini: Suatu Tinjauan Menurut Etika Kristen

Halim, Suzanna Hilaria

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.797 KB)

Abstract

Homoseksualitas kini tidak lagi hanya dipahami sebagai bentuk perilaku melainkan sebagai suatu bentuk orientasi seksual yang muncul di luar kehendak manusia. Implikasinya, homoseksual dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan tidak berdosa. Evaluasi terhadap konsep ini dijelaskan dari sudut pandang biblika dan teologis untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sulit mengenai keberdosaan homoseksual. Kata-kata kunci: Homoseksual, Perilaku, Orientasi, Tanggung Jawab, Dosa English: Homosexuality, in this day and age, is not understood as a kind of behavior, but as a sexual orientation that emerges out of human identity and is beyond human will. As a result, people consider homosexuality to be a normal lifestyle and do not perceive of it as sinful behaviour. Evaluations, garnered from both biblical and theological perspectives, are examined to answer the complicated questions related to this topic and conclude that homosexuality is sin. Keywords: Homosexuality, Behavior, Orientation, Responsibility, Sin

Khotbah yang “Diurapi” oleh Roh Kudus

Oei, Amos Winarto

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.629 KB)

Abstract

Pada satu sisi, setiap pengkhotbah yang rindu kuasa Roh Kudus nyata melalui khotbahnya akan bergumul untuk melihat “urapan” Roh Kudus itu. Di sisi lain, ada juga pengkhotbah-pengkhotbah yang malah takut untuk mengalami kuasa Roh Kudus dalam khotbah mereka. Seperti apakah khotbah yang “diurapi” oleh Roh Kudus itu? Mengapa juga ada para pengkhotbah malah sepertinya takut untuk mengalami kuasa Roh Kudus dalam khotbah mereka? Dan bagaimanakah menumbuhkembangkan keyakinan atau iman seseorang kepada Roh Kudus untuk berkarya melalui khotbahnya? Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.  Kata-kata kunci: Khotbah, Urapan, Iman, Roh Kudus English : On the one hand, every preacher who desires to experience the power of the Holy Spirit in the sermon will struggle to see “the anointing” of the Spirit. On the other, there are preachers who even afraid of experiencing that power in their sermon. What is a Spirit-anointed sermon? Why also are there preachers who are even afraid of that anointing power? And how does a preacher nurture his/her faith in the Holy Spirit to empower a sermon? This article attempts to answer those question. Keywords: Sermon, Anointing, Faith, Holy Spirit

Kritik terhadap Teologi Proses dan Pembelaan terhadap Pandangan “Greater Good” dalam Menanggapi Masalah Kejahatan

Layantara, Jessica Novia

Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 16 No 2 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi SAAT

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.939 KB)

Abstract

Selama berabad-abad, para teolog Kristen mencoba menanggapi pergumulan filosofis mengenai masalah kejahatan. Bapa-bapa Gereja dan tokoh-tokoh reformasi di masa lalu telah mencoba menanggapi permasalahan ini dengan argumen kebaikan yang lebih tinggi (greater good). Tetapi solusi-solusi semacam itu ditolak mentah-mentah setelah peristiwa Holocaust (Auschwitz), yang merupakan peristiwa kejahatan sangat dahsyat dan mengakibatkan penderitaan banyak sekali orang. Solusi tradisional dianggap sudah tidak relevan dalam menanggapi masalah kejahatan. Teologi proses kemudian mencoba menanggapi masalah ini dengan cara mereduksi atribut-atribut Allah. Tujuan karya tulis ini adalah untuk mengkritik pandangan kontemporer khususnya teologi proses dalam menanggapi masalah kejahatan, dan juga membela pandangan greater good sebagai solusi yang masih tetap dapat dipertahankan walaupun dengan beberapa penyesuaian. Kata-kata kunci: Teodisi, Soft-determinism, Kompatibilisme, Kedaulatan Allah, Masalah Kejahatan, Holocaust, Auschwitz, Teologi Proses, Pembelaan Kehendak Bebas, Teodisi Pembentukan Jiwa, Greater Good Theodicy, John Calvin, John Feinberg   English: Throughout the ages Christian theologians have attempted to understand, from a philosophical vantagepoint, the problem of evil. The Church Fathers as well as theologians during the era of the Reformation have offered a solution that argues from the basis of the greater good. However, solutions of that nature seem to ring hollow when one considers the magnitude and scope of the Holocaust (Auschwitz). In light of that historical reality traditional solutions to the problem of evil seem inadequate. Process theology attempts to overcome the impasse by restricting the attributes of God. The purpose of this article is to critically evaluate contemporary solutions to the problem of evil, especially process theology, as inadequate solutions. Further, to argue for the traditional positional argument of the greater good as offering a tenable solution. Keywords: Theodicy, Soft-determinism, Compatibilism, Sovereignty of God, Problem of Evil, Holocaust, Auschwitz, Process Theology, Free Will Defense, Soul-shaping Theodicy, Greater Good Theodicy, John Calvin, John Feinberg

Page 1 of 26 | Total Record : 257