cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sukma: Jurnal Pendidikan
Published by Yayasan Sukma
ISSN : 25485105     EISSN : 25979590     DOI : -
Core Subject : Education,
SUKMA: Jurnal Pendidikan is an academic journal bi-annually published in Indonesia. It covers issues related to education in general: teacher, student, school management, curricula, teaching methods, teaching evaluations, education best practices, learning materials, et cetera.
Arjuna Subject : -
Articles 44 Documents
Nilai-Nilai Dasar Sukma Bangsa Baedowi, Ahmad
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/01101(2017)

Abstract

Nama “Sekolah Sukma” pada awalnya dimaksudkan sebagai sekolah unggulan kemanusiaan. Namun, se­bagai sekolah baru tak mungkin memiliki keunggulan yang langsung bisa diakui oleh masyarakat, maka kata Sukma disepakati untuk dikembalikan pada arti awalnya, yaitu semangat, spirit, ruh atau jiwa bagi sekolah yang kemudian dikenal sebagai Sekolah Sukma Bangsa (SSB). Dari segi penamaan, selain kata keunggulan, juga terkandung kata kemanusiaan. Dua kata dasar inilah, Sukma dan Kemanusiaan, kemudian dijadikan pintu masuk untuk meletakkan nilai-nilai dasar SSB sebagai penanda yang membedakannya dari sekolah-sekolah lainnya, tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Indonesia. Nilai-nilai dasar Sukma Bangsa yang dijadikan pedoman pengelolaan SSB bertumpu pada keyakinan bahwa kapasitas guru adalah yang utama (teacher supremacy) dan pertama yang harus dipikirkan, direncanakan, dikembangkan dan dilaksanakan. Kedua adalah nilai dasar tentang kesetaraan kondisi bagi seluruh siswa. Prinsip ini penting agar sekolah menjadi ajang peletakan nilai-nilai toleransi dan demokrasitasi paling awal sebelum mereke kembali ke masyarakat. Nilai dasar ketiga bertumpu pada upaya membangun partisipasi masyarakat dalam rangka menumbuhkan kesadaran pentingnya investasi dan pembiayaan pendidikan anak-anak yang dipikirkan secara bersama. Terakhir adalah praktek menerapkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) secara transparan dan terbuka yang melibatkan semua pemangku kepentingan (stake­holders) pendidikan.
Book Review: Cheating in School: What We Know and What We can Do Fachruddin, Fuad
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/01207(2017)

Abstract

LEARNING GRAMMAR THROUGH PHYSICAL GAMES Prihhartini, Sya'baningrum
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/02201.2018

Abstract

This study aims to investigate the language output resulted from physical games played as a practice to learn grammar. 20 university students were involved in a game in which they had to jump and throw a marker towards cue cards that contained questions in If-Conditional Type II structure. The students’ language output during the game was recorded and analyzed qualitatively. The result shows that physical game facilitates the learners to acquire new grammartical items and that it is effective to a good extent.Keywords : physical games, grammar, accuracy
Bullying at Aceh Modern Islamic Boarding Schools (Pesantrens): Teachers’ Perceptions and Interventions Marthunis, Marthunis; Authar, Nailul
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/01201(2017)

Abstract

The study focused on obtaining substantial information of teachers’ perceptions and interventions in bullying cases in the environment of modern ‘pesantren’, Islamic boarding school that facilitates students with formal schooling and dormitory facilities. The study provided an analysis of how teachers at the pesantren conceptually perceive bullying behavior and their concrete actions to prevent the behavior. The study revealed that the pesantren’s teachers perceived bullying as dangerous behavior and therefore should be intervened. The study also discovered that the teachers intervened the behavior more reactively than proactively. However, their positive perceptions that bullying is detrimental as well as their concrete actions to prevent bullying on their pesantren could not reduce its occurrence significantly. Teasing, mocking or nick-name-calling, for instance, were still found in the researched pesantren.[Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi dan intervensi para guru di lingkungan pesantren modern terhadap perundungan. Pesantren terindikasi sebagai tempat yang cukup rentan terjadi perundungan karena interaksi yang terus menerus terjadi antar siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di asrama. Studi ini memberikan analisis bagaimana guru di pesantren secara konseptual memandang perilaku perundungan dan bagaimana tindakan nyata mereka untuk mencegah perilaku tersebut. Penelitian ini juga mencoba mengungkap bagaimana persepsi dan intervensi guru di pesantren terhadap masalah perundungan secara fenomenografi. Penelitian ini menemukan bahwa para guru di pesantren menganggap perundungan sebagai perilaku berbahaya yang perlu ditangani. Para guru di pesantren menggunakan beberapa intervensi dalam bentuk pendekatan reaktif daripada proaktif. Namun, persepsi positif mereka dan tindakan nyata mereka untuk mencegah terjadinya perundungan di dalam lingkungan pesantren tidak dapat mengurangi kemunculannya secara signifikan, terutama mengejek atau menyebut nama gelar tertentu sudah cenderung menjadi kebiasaan dan budaya di lingkungan pesantren.]
Students’ Critical Thinking Skills in Group Discussion: The Case Study of Fifth Grade Students in Sukma Bangsa Bireuen Elementary School Asrita, Asrita; Nurhilza, Nurhilza
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/02103(2018)

Abstract

This study is concerned with group discussion as one of the teaching methods can identify the emergence of students’ critical thinking skills in fifth grade students of Sukma Bangsa School. The purpose of this study was classified fourteen critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation, being, reflection, reviewing) which emerged in the learning process using group discussion. The study showed that eleven critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation) could be found in fifth grade students, while three of them  are missing (being, reflection, reviewing). It could be concluded that the students’ ability to think critically was developed after getting experiences in learning by using group discussion. However, an important factor in fostering students’ critical thinking skills was teachers’ involvement. Thus, teachers need to fully participate to stimulate students to express their critical thinking skills in the learning process.[Artikel ini membahas tentang diskusi group sebagai salah satu metode mengajar dapat mengindentifikasi terbentuknya kemampuan siswa dalam berpikir kritis terutama siswa kelas 5 di Sekolah Sukma Bangsa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengklasifikasi 14 konsep berpikir kritis (praktik, aksi, manajemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisa, appraisal, interpretasi, being, refleksi, dan mereview) dapat muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh konsep berpikir kritis (praktik, aksi, managemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisis, appraisal dan interpretasi) telah ditemukan pada siswa kelas 5, sementara tiga lainnya tidak (being, refleksi dan review). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa untuk berpikir kritis telah terbentuk setelah melalui proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Meskipun fakor terpenting untuk memunculkan kemampuan siswa berpikir kritis adalah keterlibatan seorang guru. Maka guru-guru perlu berperan aktif menstimulasi siswa untuk mengeluarkan kemampuan berpikir kritisnya dalam proses pembelajaran.]
Back Cover Sukma: Jurnal Pendidikan, Editor
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 2, No 2 (2018)0
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB)

Abstract

Institusionalisasi Manajemen Konflik Berbasis Sekolah Panggabean, Rizal
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/01107(2017)

Abstract

Artikel ini membahas institusionalisasi atau pelembagaan manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS). MKBS adalah seperangkat pengetahuan dan ke­terampilan yang amat penting supaya sekolah menjadi lingkungan belajar yang aman bagi semua. Setelah menguraikan beberapa komponen utama MKBS, artikel ini membahas tiga dimensi pelembagaannya, yaitu peta jalan individu, fokus rujukan kelompok, dan konsti­tusi organisasi.
Use of Blended Learning in Teaching Islamic History: The Case of the 8th Grade of Sukma Bangsa School in Aceh Lesmana, Adhi; Basiran, Basiran
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/02104(2018)

Abstract

The article is intended to introduce blended learning methods at Sukma Bangsa School, Aceh. The purpose of this study is to demonstrate the effectiveness of blended learning method specifically in the study of Islamic history, which is one of the main topics in religion education lessons in the 8th grade at the three different locations of Sukma Bangsa School. The study uses quantitative methods and was carried out during the first semester of the school year 2015 -2016 in the three locations of Sukma Bangsa School. Research data was obtained through the pre-test and the post-test that were conducted at the beginning of the research and the end of the research. The total number of students in this study was 142 students: 57 students from Bireuen, 34 students from Pidie, and 51 students from Lhokseumawe. The results of the study at the three different locations of Sukma Bangsa School show that although there was an increase in the average value and standard deviation, the statistics do not show a significant difference between the achievement of students in the blended learning method and in the face-to-face method. Therefore, an understanding of context by the teachers in the use of blended learning is needed to improve students’ achievement results.[Artikel ini dimaksudkan untuk lebih mengenalkan metode pengajaraan blended learning di Sekolah Sukma Bangsa, Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan adakah keefektifan metode blended learning secara khusus di materi Sejarah Islam yang merupakan salah satu topik utama dalam pelajaran pendidikan agama di kelas 8 di tiga lokasi Sekolah Sukma Bangsa.  Studi ini menggunakan metode kuantitatif dan dilakukan di Sekolah Sukma Bangsa Bireuen, Pidie, dan Lhokseumawe pada semester ganjil tahun pelajaran 2015-2016. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil pre-test dan post-test yang dilakukan di awal sebelum penelitian dan menjelang akhir penelitian. Total siswa yang mengikuti penelitian ini sebanyak 142 siswa dengan rincian 57 siswa di Sukma Bangsa Bireuen, 34 siswa di Sukma Bangsa Pidie, dan 51 siswa di Sukma Bangsa Lhokseumawe. Hasil studi di tiga lokasi Sekolah Sukma Bangsa menunjukkan bahwa meskipun ada peningkatan nilai rata-rata dan standard deviasi namun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan yang significant antara hasil pencapaian siswa di metode blended learning dan di metode tatap muka. Oleh karena itu pemahaman guru secara kontekstual dalam penggunaan blended learning sangat dibutuhkan untuk meningkatkan hasil pencapaian siswa.]
Pendidikan Politik di Era Disrupsi Bashori, Khoiruddin
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/02207.2018

Abstract

Era disrupsi adalah masa ketika perubahan terjadi sedemikian tidak terduga, mendasar dan hampir dalam semua aspek kehidupan. Tatatan baru hadir menggantikan tatanan lama yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam hal politik, disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi sistem politik. Munculnya inovasi aplikasi teknologi digital akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang politik. Tidak lama lagi, hingar bingar kampanye pengerahan massa, akan diganti dengan edukasi via berbagai media soal, yang tidak saja lebih murah akan tetapi juga memiliki daya jangkau audien yang jauh lebih luas dan merata. Paper ini ingin mengungkapkan perlunya pemahaman kita tentang politik di era disrupsi, dan bagaimana menghadapi fenomena ini dengan lebih menekankan pada perlunya pendidikan politik yang lebih dapat menyesuaikan dengan kondisi saat ini.
Think Future, Act Present: Looking Beyond the Closed Door Siregar, Evy I.; Hayati, Nadiya A.; Fadila, Nurul; Pratama, Agung; Yudha, Yusuf H.
Sukma: Jurnal Pendidikan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Yayasan Sukma Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (24.839 KB) | DOI: 10.32533/01102(2017)

Abstract

Tulisan ini mencoba menggambarkan bagaimana persepsi kondisi pendidikan kita saat ini, dan usulan untuk mengatasinya berdasarkan pengalaman. Diawali dengan gambaran kondisi pendidikan yand dideskripsikan melalui alat ukur pendidikan yang digunakan sebagian besar negara-negara di dunia, ditawarkan cara yang telah dicoba diterapkan melalui beberapa mata ajaran terutama di bidang sains dan bahasa. Cara ini dilakukan dengan usaha menyelaraskan kurikulum, proses belajar-mengajar serta alat ukur yang digunakan. Menyelaraskan ke tiga hal tersebut merupakan upaya untuk menutup kesenjangan hasil belajar yang digambarkan melalui alat-alat tes seperti TIMMS, PISA dan PIRLS.