cover
Contact Name
Ahmad Ihwanul Muttaqin
Contact Email
ihwanmuttaqin@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
tarbiyatunaiais@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. lumajang,
Jawa timur
INDONESIA
Tarbiyatuna: Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 20856539     EISSN : 22424579     DOI : -
Core Subject : Education,
Tarbiyatuna adalah jurnal ilmiah yang memuat artikel-artikel tentang pendidikan Islam, pendidikan Agama Islam dan bahkan manajemen Pendidikan Islam. Dimaksudkan sebagai wahana pemikiran kritis dan terbuka bagi semua kalangan baik akademisi, agamawan, intelektual, mahasiswa dengan spesifikasi kajian dan penelitian di bidang Pendidikan Islam.
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
Telaah Pemikiran Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad Tentang Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Risalatul Mu’awanah Sidiq, Muhammad Abdul Halim
Ekonomi Syariah Vol 10 No 2 (2017): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Sayyid Abdullah bin Alwy al-Haddad adalah salah satu dari beberapa tokoh yang masyhur dikalangan tasawuf. Susunan kitab maupun wirid yang telah beliau tulis banyak dikenal dikalangan pesantren, baik pesantren modern maupun salaf. Oleh karena itu peneliti ingin mengkaji lebih mendalam tentang pendidikan akhlaq yang dikemukakan oleh beliau. Tentunya peneliti menggunakan kitab-kitab yang telah beliau susun, guna sebagai referensi/rujukan utama dalam penulisan artikel ini. Adapun penelitian dalam artikel ini mencakup bagaimana Pemikiran  Sayyid Abdullah bin Alwy al-Haddad tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Risalatul Mu’awanah? Bagaimana relevansi pemikiran Sayyid Abdullah bin Alwy al-Haddad tentang nilai-nilai pendidikan akhlak dalam kitab Risalatul Mu’awanah terhadap kehidupan sekarang? Hasil Penelitian ini mengidentifikasikan tentang nilai-nilai pendidikan akhlak yang dikemukakan oleh al-Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad sangat relevan dengan pendidikan sekarang, dan sangat dibutuhkan untuk merubah para santri yang saat ini masih berakhlak madhmumah (jelek), menjadi pribadi yang berakhlakul karimah (baik). Model pendidikan akhlak yang dikemukakan oleh Sayyid Abdullah bin Alwy al-Haddad bisa dibilang sangat praktis dan tetap berpegang teguh dengan al-Qur’an dan al- Hadist. Di setiap pembahasannya terdapat uraian-uraian tentang kewajiban, kesunahan dan anjuran yang harus dilakukan oleh seseorang yang cinta bersikap menuju jalan akhirat, yang dari setiap uraiannya disertakan dasar-dasar (dalil-dalilnya). Dengan demikian, bagi siapa saja yang mempelajarinya pasti akan menjadi lebih yakin, mantap dan termotivasi untuk melaksanakannya.
Pesantren dan Pembentukan Jalan Hidup Kaum Sufi Urban Masyhuri, Muhammad
Ekonomi Syariah Vol 10 No 1 (2017): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.133 KB)

Abstract

This paper explains how the adherents of urban tarekat form sufism that becomes a way of life in their daily life. This study is considered important because the existence of tarekat adherents is often positioned as part of traditional society, which is contrary to aspects of modernity. On the contrary, their current existence is not only widely embraced by the urban community, but also a way of life in responding to modernity. Related to that, the following describes the process of forming the path of life of the three congregation adherents of tarekat communities such as Raden Rahmad Pesantren and Surau Ghautsil Amin in Jember District. Using ethnographic methods that attempt to explain how they learn to live in conjunction, this study will formulate how they seek to renew tradition to modernity, and how they attempt to explain how modernity and tradition are an integral part of one another
SUPERVISI PENDIDIKAN DALAM KREDIBILITAS KOMPETENSI TENAGA PENDIDIK Maghfiroh, Eva
Ekonomi Syariah Vol 7 No 2 (2014): AGUSTUS (Terbit secara during sejak Februari, 2015)
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.465 KB)

Abstract

Setiap kegiatan organisasi sekolah haruslah dilakukan pengawasan oleh kepala sekolah. Hal tersebut penting karena tanpa pengawasan maka seluruh kegiatan program sekolah tidak akan berhasil secara baik. Dalam hal ini, apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan tidak dapat diketahui secara dini dan detail. Peran dari Kepala Sekolah dalam hal ini menjadi sangatlah penting, dengan kata lain bahwa keberhasilan dalam melaksanakan supervisi sangat ditentukan oleh keterampilan-keterampilan supervisor. Supevisi berasal dari kata “super” dan “visi” yang mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh atasan terhadap aktivitas, kreativitas, dan kinerja bawah
Problematika Kebijakan Linierisasi dan Mutasi Guru di Kabupaten Jember Fauzi, Imron
Ekonomi Syariah Vol 12 No 01 (2019): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.557 KB)

Abstract

Tulisan ini ingin melihat bagaimana implementasi Undang-Undang No. 14 tahun 2005, Permendiknas No. 16 tahun 2007, serta Permendikbud No. 46 Tahun 2016 yang menuntut setiap guru untuk menjadi tenaga profesional yang berkompetensi dan sesuai dengan kualifikasinya. Karena itu pula, kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember yang melakukan mutasi guru hanya karena janji kampanye turut disorot dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan kualitatif berupa studi descriptive dan explorative yang mengungkap fenomena riil yang terjadi di Kabupaten Jember dengan cara wawancara, observasi, serta kajian dokumen berupa informasi valid melalui media cetak dan elektronik. Hasil penelitian ini menemukan bahwa problematika mutasi guru yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jember diantaranya: pertama, mutasi guru tidak didasarkan pada kebutuhan sekolah (bezetting); kedua, banyak Guru Tidak Tetap (GTT) yang dimutasi lebih jauh dari domisilinya; ketiga, adanya kesenjangan antara proses mutasi guru PNS dengan GTT; keempat, sulitnya adaptasi diantara para guru dengan peserta didik pada tempat mutasi barunya; kelima, realisasi pemberian Surat Penugasan (SP) GTT tidak terlaksana sesuai dengan rencana awal; keenam, adanya kesalahan data mutasi guru dan penentuan tugas mengajar.
REFLEKSI HISTORIS KONVERSI STI KE UIN Suheri, Suheri
Ekonomi Syariah Vol 7 No 1 (2014): FEBRUARI (Terbit secara during sejak Februari, 2015)
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.72 KB)

Abstract

Kehadiran lembaga pendidikan Islam yang berawal dari Pesantren yang melahirkan Madrasah hingga kemudian dilanjutkan kehaliran Sekolah sebenarnya merupakan upaya untuk menjawab tuntutan dan kebutuhan zaman yang kian berkembang. Namun sejak kehadiran Kolonial melumpuhkan bahkan merombak performa pendidikan Islam di Indonesia. Kehadiran Belanda dengan pendidikan umumnya menyebabkan pergeseran orientasi bangsa Indonesia dalam menjalani pendidikan yakni belajar sebagai sebuah ibadah karena didasari nilai ibadah akhirnya beralih belajar demi mendapatkan pekerjaan. Rentetan pergolakan politik menarik Pendidikan Islam dalam pusaran tarik ulur kepentingan tentang konstruksi pendidikan Islam di Indonesia. Bahkan eksistensinya dari kaca mata Undang-undang menjadi perdebatan yang baru usai. Termasuk format perguruan Tinggi yang diharapkan menjadi solutis atas kegelisahan intelektual yang terjadi dimasyarakat, dimana kehadiran lembaga non formal (pesantren) mengantarkan alumninya memiliki ruang gerak yang sempit dalam berkiprah. Sehingga kelahiran Institut dan Universitas Islam diharapkan menjadi solusi cerdas dalam menjawab perubahan zaman. Meskipun menyandang Status baru bukan berarti mereka terbebas dari persolan. Justru kehadiaran status perguruan tinggi baru mendatangkan persoalan dan tantangan baru untuk disikapi dengan cerdas. Oleh karena itu, mengetahui secara historis genealogi kelahiran perguruan tinggi menjadi kajian yang menarik untuk dicermati.
Pendidikan Entrepreneurship dalam Pespektif Global Darwis, Mohammad
Ekonomi Syariah Vol 9 No 2 (2016): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.435 KB)

Abstract

Tulisan ini mencoba mengulas tentang pendidikan entrepreneurship dari sudut pandang globalisasi. Entrepreneurship oleh banyak pakar diasumsikan menjadi salah satu tonggak penentu progresifitas dinamika pembangunan suatu bangsa. Dalam konteks Indonesia munculnya ketidak seimbangan antara potensi yang dimiliki dengan kesejahteraan yang diwujudkan  ditengarahi oleh banyak pihak disebabkan oleh minimnya entrepreneur yang ada. Untuk itu pendidikan yang memiliki peran penting dalam menggali dan mengembangkan segala potensi fisik, psikis, bakat, minat, keterampilan dan potensi lainnya perlu diarahkan dan disinergikan dengan wacana kebutuhan entrepreneur di negeri ini. Berangkat dari diskursus tersebut tulisan ini mencoba mengulas tentang pendidikan entrepreneurship dalam perspektif global dengan didahului penjabaran terkait teori tentang pendidikan entrepreneurship dan globalisasi. Selanjutnya paparan substantif tentang pendidikan entrepreneurship diulas berangkat dari pandangan  UNESCO tentang empat pilar pendidikan yaitu; learning to know atau learning ti think, learning to do, learning to be,  dan  learning to life together.
Ideologi KH. Abdurrahman Wahid dan Bangunan Pendidikan Multikultural Pasca Tragedi Kebangsaan Khayati, Siti Qomala
Ekonomi Syariah Vol 11 No 1 (2018): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.441 KB)

Abstract

Tulisan ini bisa dikatakan sebagai sebuah pengaya kajian pendidikan multikultural yang sudah lama diperbincangkan di Indonesia, melalui cara menampilkan tokoh baru (baca; Gus Dur) yang sejatinya tidak pernah menjadikan pendidikan mutikultural sebagai gagasan pemikirannya. Keberadaan Gus Dur lebih sebagai ideolog pemikiran multikultural. Oleh karena itulah maka, tulisan ini lebih terbentuk pada proses rekonstruktif pemikiran Gus Dur secara general dalam hal keislaman, kebudayaan, dan diskursus ideologis di Indonesia, yang dikontekskan pada dunia pendidikan. Selain itu, secara implementatif, tulisan ini juga akan didesain melalui pendekatan teori sismtem di dalam dunia pendidikan. Agar supaya pemikiran-pemikiran yang tidak spesifik itu menjadi lebih praktis dan bisa dijadikan strategi para guru dalam menjalankan pembelajarannya di lembaga pendidikan. Terakhir, berdasarkan penelitian ini, pelajaran terpenting dari pemikiran cultural dan sikap ideologis Gus Dur, untuk membangun pendidikan berbasis multikulturalisme di Indonesia, berada pada kuatnya Gus Dur berprinsip bahwa Bhinneka Tunggal ika merupakan identitas masyarakat yang tidak bisa dirubah oleh kekuatan politik manapun, Pancasila sebagai landasan ideologis yang wajib dipahami dan dihayati semua kalangan masyarakat di Indonesia, serta berpegang teguh pada aturan main berbangsa dan bernegara di Indonesia apakah itu melalui nilai-nilai kebudayaan dan keagamaan integrative yang hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia serta kandungan subtansial Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang merangkul semua kalangan tanpa membedakan SARA.
Transformasi dan Inovasi Manajemen Pendidikan Islam Maghfiroh, Eva
Ekonomi Syariah Vol 8 No 2 (2015): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.977 KB)

Abstract

Di era reformasi di butuhkan sebuah transformasi dan inovasi ini sudah dapat dipastikan bahwa akan terjadi berbagai perubahan dalam masyarakat, baik dalam aspek pendidikan sosial maupun budaya masyarakat yang semakin berkembang. Perubahan tersebut sebagai efek dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin kompleks, yang pada akhirnya membentuk karakteristik masyarakat sebagai “mega kompetisi”. Sehingga tidak ada tempat dilapisan masyarakat tanpa adanya kompetisi. Kompetisi merupakan prinsip hidup baru, karena dunia terbuka dan bersainglah yang dapat membentuk sesuatu untuk lebih baik. sehingga di butuhkan sebuah perubahan dan pembaharuan dalam manajemen pendidikan islam.
Telaah Korelasi Sains dan Agama dalam Paradigma Islam Saifulloh, Ahmad Munir
Ekonomi Syariah Vol 10 No 2 (2017): AGUSTUS
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.738 KB)

Abstract

Wacana sains dan agama sudah cukup lama bergulir . Pertemuan sains dan agama terwujud dalam situasi persahabatan kurang lebih pada abad ke-17. Memasuki abad ke-20 hubungan sains dan agama mengambil beragam bentuk. Temuan-temuan baru sains nyata-nyata menantang doktrin dan gagasan-gagasan keagamaan klasik. Sehingga, responsnya pun beraneka rupa. Misalnya, beberapa kalangan mempertahankan doktrin-doktrin tradisional, beberapa yang lain meninggalkan tradisi, dan beberapa lagi yang merumuskan kembali konsep keagamaan secara ilmiah. Ian G. Barbour mengusulkan empat hubungan yaitu konflik [conflict], perpisahan [independence], dialog - perbincangan [dialogue], dan integrasi-perpaduan [integration]. Sedangkan John F. Haught membagi pendekatan sains dan agama, menjadi pendekatan konflik, pendekatan kontras, pendekatan kontak, dan pendekatan konfirmasi. Agama dan sains, merupakan dua bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas [agama] dengan sains. Para sarjana Muslim, menekankan bahwa sains dan agama memiliki dasar metafisik yang sama, dan tujuan pengetahuan yang diwahyukan maupun pengetahuan yang di upayakan adalah mengungkapkan ayat-ayat Tuhan dan sifat-sifat-Nya kepada umat manusia. kegiatan ilmiah sebagai bagian dari kewajiban agama, dengan catatan bahwa ia memiliki metodologi dan bahasanya sendiri. Motivasi di balik upaya pencarian ilmu-ilmu kealaman dan ilmu-ilmu matematis adalah upaya untuk mengetahui ayat-ayat Tuhan di alam semesta.
Mempertemukan Tradisi dan Modernitas dalam Pendidikan Pesantren di Era Globalisasi Masyhuri, Muhammad
Ekonomi Syariah Vol 8 No 1 (2015): FEBRUARI
Publisher : Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.562 KB)

Abstract

Di era globalisasi yang serba modern, kehidupan berlangsung dalam suatu kondisi dan sistuasi yang terasa sangat berbeda dengan era sebelumnya yang tradisional. Perbedaan tersebut dialami oleh tiap orang yang merasakan kehidupannya secara lokal, memaksa tiap tubuh menjadi individualis, meski tiap momen secara kontekstual berlangsung dalam waktu dan ruang tertentu secara cepat. Transformasi lokasi, keterbatasan aktitifitas yang besifat lokalitas, serta muculnya berbagai bentuk pengalaman yang sentralistik telah merubah dunia saat ini secara radikal. Perubahan-perubahan ini tidak saja menjadi fenomena dunia yang bersifat individualis namun juga secara umum menggambarkan aktivitas sosial yang saling terjalin dengan kehidupan sosial lainnya. Meski setiap orang hidup dalam kontek lokal, namun fenomena dunia yang terjadi sesungguhnya berlangsung secara cepat dan global. Dilematika modernitas bagi tiap orang ini juga menjadi problem bagi kalangan Sufi di Pesantren. Pesantren sebagai sebuah institusi pedidikan Islam memiliki peran strategis dalam pembentukan masa depan masyarakat Islam di Indoensia, meskipun demikian, seringkali Pesantren terjebak kepada dikotomi antara tradisonal dan modern, sehingga seringkali lulusan Pesantrenmenjadi asing dengan realitas sosial dan kebutuhannya.Tulisan ini berupaya mengkaji ulang tentang pendidkan di Pesantren yang menjadi dilematik bagi para sufi, agar dapat dirumuskan strategi pencapaian pendidikan multi-dimensional secara fenomenologis, sehingga, dari kajian ini dapat dirumuskan pembacaan awal tentang bagaimana alumni Pesantren nantinya bisa mengikuti perubahan sitsuasi dan kondisi dimasa mendatang.