cover
Contact Name
Basri La Pabbaja
Contact Email
basri.philosophy@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
aqidah-ta@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Aqidah-Ta: Jurnal Ilmu Aqidah
ISSN : 24775711     EISSN : 26153130     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Aqidah-Ta; Journal of Aqidah is a journal that discusses aqidah, morality, theology and Islamic thought. This journal is published by the Department of Aqidah and Islamic Philosophy Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Alauddin Makassar. This journal is published twice a year.
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
PENCIPTAAN ADAM DALAM NARASI HADIS Marjani, Andi
Aqidah-ta Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.65 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v1i1.1314

Abstract

Adam as. tercipta dari segenggam tanah yang diambil dari seluruh unsur-unsur tanah sehingga keturunannya berpotensi memiliki warna kulit yang berbeda dan karakter yang berbeda. Hanya satu hadis yang menjelaskan bahwa setelah Adam as. dibentuk dari tanah, ia kemudian dibiarkan hingga kering. Di samping itu, hadis juga mengindikasikan bahwa manusia tidak mengalami evolusi dari satu bentuk/jenis makhluk ke bentuk/jenis yang lain, akan tetapi manusia hanya mengalami perubahan ukuran fisik saja. Proses penciptaan Adam as., mulai dari turab berubah menjadi tin, berubah menjadi hama’in masnun dan akhirnya menjadi salsal diberitakan oleh al-Qur’an, sehingga penggabungan informasi yang ditemukan dalam al-Qur’an dan hadis menguatkan tentang proses penciptaan tersebut. Jadi, teori evolusi yang selama ini diyakini sebagian orang sebagai hal yang benar masih membutuhkan penelitian lebih mendalam, karena nyatanya saat ini, teori tersebut masih sebuah penelitian yang belum mampu dibuktikan keabsahannya, bahkan kelemahan-kelemahan yang ditemukan semakin membuktikan akan kelemahan teori Charles Darwin cs.
GERAKAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM: MAJELIS TAKLIM AL-MU’MINAT Amin, Muliaty; Marjuni, A.; Azharia, Dewi
Aqidah-ta Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.749 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v4i2.6883

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) gerakan majelis taklim al-Mu’minat sebagai gerakan sosial keagamaan perspektif pendidikan Islam di Kelurahan Macanang Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone, (2) gerakan dakwah majelis taklim al-Mu’minat perspektif pendidikan Islam di Kelurahan Macanang Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone, (3) faktor pendukung dan penghambat majelis taklim al- Mu’minat sebagai gerakan sosial  keagamaan perspektif pendidikan Islam di Kelurahan Macanang Kecamatan Tanete Riattang Barat Kabupaten Bone, (4) solusi mengatasi hambatan majelis taklim al-Mu’minat sebagai gerakan sosial keagamaan masyarakat perspektif pendidikan Islam. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis dan sosiologis. Hasil penelitian menunjukan bahwa gerakan majelis taklim al-Mu’minat sebagai gerakan sosial keagamaan masyarakat perspektif pendidikan Islam membantu jamaah atau masyarakat dalam memahami al-Quran dan hadis dengan baik dan benar. Diharapkan, pengurus majelis taklim al-Mu’minat sebaiknya menggunakan kurikulum dan metode pendidikan Islam yang sesuai dengan kebutuhan jamaah agar menciptakan jamaah yang interaktif, kreatif, inovatif, aktif, dan menyenangkan serta menciptakan masyarakat yang cerdas dan bertakwa kepada Allah Swt.AbstractThis study aims to find out: (1) the al-Mu'minat taklim assembly movement as a social-religious movement in the perspective of Islamic education in Macanang Sub-District, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency, (2) the al-Mu'minat taklim assembly movement a perspective of Islamic education in the Macanang Village, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency, (3) the supporting and inhibiting factors of the al-Mu'minat taklim as a social-religious movement in the perspective of Islamic education in the Macanang Subdistrict, Tanete Riattang Barat District, Bone Regency, (4) islamic education perspective community. The type of research used is qualitative using a phenomenological and sociological approach. The results of the study show that the al-Mu'minat taklim assembly movement as a socio-religious movement in the perspective of Islamic education helps pilgrims or the public to understand the Koran and hadith properly and correctly. It is hoped that the board of taklim al-Mu'minat should use the curriculum and methods of Islamic education that are in accordance with the needs of pilgrims to create worshipers who are interactive, creative, innovative, active and fun and create intelligent and fearful societies to Allah Swt.
MEMBACA PEMIKIRAN HADIS MULLA ALI AL-QARI AL- HIRAWI Wahid, M. Abduh
Aqidah-ta Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.814 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v3i2.4534

Abstract

Al-Hirawi, sosok intelektual ensiklopedis yang menghimpun karya-karya para sarjana muslim klasik sebelumnya yang membuktikan kejeniusannya, bahkan Abdur Rahman Syima’ menyebutnya sebagai tokoh yang layak digelari pembaharu pada abadnya. Namun pembacaan pemikiran al-Hirawi dengan kaca mata abad kontemporer dimana perangkat dan metodologi ilmu pengetahuan telah berkembang pesat, sehingga pemikiran klasik al-Hirawi dengan sendirinya termarjinalkan, terkesan rancu dan ditemukan lahan kritikan, padahal sejatinya seorang ilmuwan lebih didasari pada semangat zaman dan ikatan ruang realitas dimana ia hidup. Sehingga ilmu pengetahuan selalu bersifat situasional dan dinamis mengikuti arah ruang dan waktu.
MANUSIA DAN AMANAHNYA; KAJIAN TEOLOGIS BERWAWASAN LINGKUNGAN Yusuf, Burhanuddin
Aqidah-ta Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.881 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v2i2.3439

Abstract

Manusia adalah salah satu dari makhluk Allah swt. di samping memiliki sejumlah kekurangan, manusia memiliki suatu kelebihan, berupa potensi berkembang, potensi membangun peradaban dan kebudayaannya, karena padanya ia dianugerahi “akal.” Manusia diciptakan oleh Allah swt. sebagai ‘abid’ dan sebagai khalifah-Nya di atas bumi. Sebagai ‘abid’, manusia diharuskan untuk tunduk dan patuh hanya kepada Allah swt., mengandung arti bahwa keseluruhan jiwa dan aktifitas manusia haruslah sejalan dengan izin dan perintah Allah swt. Sebagai khalifah Allah, manusia memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi kepemimpinan, yaitu Jabatan Formal dan Fungsi Kepribadian Muslim. Bagi yang mendapat amanah Jabatan Formal, ia harus menjalankan amanah Allah dalam wujud merealisasikan hukum-hukum Allah, menerapkan keadilan, kebenaran dan melindungi seluruh masyarakat dan wilayah yang dipimpinnya. Fungsi Kepribadian Muslim mewajibkan seluruh muslim tak terkecuali untuk menjaga melestarikan dan mengembangkan kemakmuran di bumi sebagai hajat hidup bagi semua. Kealpaan menjalankan fungsi-fungsi tersebut berarti kealpaan dalam menunaikan amanah Allah di atas bumi, yang sesungguhnya amanah tersebut adalah amanah terpokok yang seharusnya menjadi perhatian utama dalam hidup manusia.
PANDANGAN ORIENTALIS TENTANG EKSISTENSI Syam, M Basir
Aqidah-ta Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.945 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v3i1.3277

Abstract

Para orientalis berbeda pendapat tentang eksistensi filsafat Islam. Mreka yang hidup pada abad 19 umumnya menolak keberadaan filsafat Islam. GT Tennemann tidak mengakui  adanya filsafat Islam.   Antara lain bahwakitab suciAl Quran menjadi penghalang kebebasan berpikir, Demikian juga kepanatikan kaum Alussunnah wal Jamaah. Hal yang sama dikemukakan oleh Ernes Renan bahwa orang – orang Arab lebih cenderung berangan-angan seperti tergambar dalamsyair-syair mereka. Pandangan yang berbeda datang pada abad ke 20. L Gauthier justru mengakui kemampuan orang- orang Arab berfikir filosofis seperti halnya bangsa bangsa lainnya. Hal tersebut dipertegas oleh Emile Brahier. Menurut Dia bahwa orang-orang Islam dari kalangan orang – orang Aria lah yang melakukan pemikiran filosofis. Max Horten bahkan melihat bahwa filsafat Islam bukan saja apa yang ditulis oleh parafilosof muslim dalam bidang filsafat, bahkan kaya-karya yang ditulis dalam kajian teologi dan tasawwuf juga dapat dikategorikan sebagai filsafat Islam.
ISLAM WASATHIYAH DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI Syam, M Basir
Aqidah-ta Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.954 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v4i2.7302

Abstract

Tulisan ini adalah sebuah kajian teologi dengan pendekatan sosiologi untuk mengungkapkan perilaku keagamaan yang berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan social terutama dalam kehidupan berbangsa dan Negara yang bersifat kompleks.Konsep Islam wasathiyah merupakan objek pembahasan dalam berbagai kajian Islam. Terutama dalam kajian teologi Islam sebagai aliran yang moderat. Umumnya dipahami sebagai sikap keberagamaan Ahlussunnah wal Jamaah, terutama paham Asyariyah dan Maturidiyah yang berusama menempuh jalan tengah di antara aliran-aliran teologi Islam sepanjang sejarah Islam dimana mereka menghindari sikap mengkafirkan aliran lainnya dengan tetap memnunjukkan paham aqidah yang dianutnya dari apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Islam wasathiyah dalam perkembangan modern ditujukan pada perilaku social keagamaan ummat Islam yang dapat berkompromi dalam membangun kehidupan bersama terutama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Istilah lain yang sejalan dengan konsep ini adalah Islam sebagai Rahmatan lil Alamin. Dalam hal ini memang sangat dibutuhkan perilaku Islam yang moderat karena manusia hidup bersama antar suku dan kelompok ummat beragama yang majemuk yang harus menjaga kehidupan tanpa menafikan keberadaan orang lain dengan tetap menganut keyakinan masing-masing tanpa tekanan dan paksaan dari pihak lainnya. Islam ternyata mengajarkan kepada ummatnya berperilaku social untuk hidup tolerans, rukun dan damai bersama dengan seluruh ummat manusia yang juga menyadari kesatuan ummat manusia sebagai anak cucu adam.
PEMBENTUKAN KARAKTER AKHLAK KARIMAH DI KALANGAN MAHASISWA FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UIN ALAUDDIN MELALUI PENDIDIKAN AKIDAH AKHLAK Mannan, Audah
Aqidah-ta Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.98 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v1i1.1308

Abstract

Pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dapat dipandang sebagai suatu wadah untuk membina dan membentuk tingkah laku  mahasiswa dalam mengembangkan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Pendidikan aqidah akhlak harus mendorong semua aspek tersebut ke arah pencapaian kesempurnaan hidup berdasarkan nilai-nilai Islam. Pembentukan Karakter akhlak karimah di kalangan mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi melalui pembelajaran akidah akhlak. Tujuan pendidikan Aqidah Akhlak untuk menanamkan dan meningkatkan keimanan mahasiswa serta meningkatkan kesadaran untuk berakhlak karimah. Kegiatan Pembelajaran merupakan upaya menciptakan suasana pedagogis dan antragogis yang kondusif sesuai dengan situasi dan kondisi untuk mencapai standar kompetensi Aqidah Akhlak yang lebih efektif, efisien dan menyenangkan. Pengaruh pendidikan aqidah akhlak dalam kehidupan dan membawa perubahan pada tingkah laku mahasiswa yang lebih baik dan bertanggung jawab terutama dalam pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Seorang dosen diharapkan mampu menguasai metode-metode pembelajaran yang dapat mendorong mahasiswa aktif di kelas. Metode ceramah memang sangat penting, namun jika tidak diimbangi dengan metode atau strategi yang lain akan menjadi sangat membosankan. Faktor penghambat dalam pembentukan Karakter akhlak karimah, terutama melalui pembelajaran Akidah akhlak di Fakultas Dakwah dan Komunikasi adalah: Kemampuan dasar para mahasiswa yang mengikuti kuliah Akidah akhlak  sangat beragam. Kurangnya perhatian para mahasiswa terhadap masalah akhlak, Materi pembelajaran Akidah akhlak lebih banyak menekankan aspek kognitif, Kontrol terhadap mahasiswa di luar perkuliahan cukup sulit.
EKSISTENSI GERAKAN WAHDAH ISLAMIYAH SEBAGAI GERAKAN PURITANISME ISLAM DI KOTA MAKASSAR Saleh, Marhaeni
Aqidah-ta Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.467 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v4i1.5174

Abstract

Tulisan ini membahas tentang eksistensi gerakan Wahdah Islamiyah sebagai gerakan puritanisme Islam di Kota Makassar. Adapun problem riset seputar; dinamika perkembangan Wahdah Islamiyah sebagai gerakan puritanisme Islam di kota Makassar, Implementasi ajaran Islam Wahdah Islamiyah di Kota Makassar. Penelitian ini termasuk kategori penelitian lapangan yang bersifat  kualitatif-deskriptif, dengan menggunakan pendekatan filosofis, teologis, dan sosio-kultural, dengan metode analisis bersifat deskriptif-kritis. Wahdah Islamiyah adalah gerakan dakwah purifikasi atau pemurnian dan penyucian sifat Tauhid dan akidah umat Islam dari segala kemusyrikan. Gerakan tersebut berbentuk seruan kepada segenap lapisan masyarakat agar menjalankan kalimat syahadat yang telah mereka ikrarkan secara konsisten, Wahdah Islamiyah menjadikan akidah Ahlussunnah wal Jamaah sebagai manhaj dan dasar bagi pandangan dan gerakan purifikasinya. Meski Wahdah Islamiyah mengakui bahwa mereka adalah organisasi yang mengusung misi purifikasi Islam, bukan berarti Wahdah Islamiyah dapat dikategorikan sebagai kelompok takfiri. Wahdah Islamiyah adalah organisasi dan gerakan Islam yang memilih jalan wasathiyah (tengah/moderat) sebagai frame gerakannya. Wahdah Islamiyah bertransformasi menjadi gerakan yang lebih kontekstual dalam beradaptasi dengan kondisi dan kultur masyarakat. Gerakan dakwah dan tarbiyah menjadi model strategis bagi Wahdah Islamiyah dalam menjalankan misinya sebagai organisasi Islam yang puritan. Dakwah yang dilakukan tidak hanya bersifat formal namun juga fokus pada dakwah yang bersifat bil hal. Wahdah Islamiyah senantiasa mengedepankan cara-cara persuaif dan dialogis dalam mengembangkan metode dakwahnya di tengah masyarakat. Sebagai organisasi yang concern pada gerakan dakwah puritanisme Islam, Wahdah Islamiyah bertransformasi menjadi sebuah organisasi modern yang tidak hanya berkutat pada pendekatan dakwah yang bersifat klasikal saja. Wahdah Islamiyah melebarkan sayap gerakannya pada gerakan sosio-kultural, ekonomi, politik, hingga gerakan keperempuanan. Pilihan pada model Islam wasathiyah membuat Wahdah Islamiyah kemudian hadir dalam wajah yang moderat, sehingga puritanisme Islam Wahdah Islamiyah terartikulasi dalam wajah yang khas Salafi Islahi, yaitu kelompok Islam yang sejatinya bercorak Salafi namun menghadirkan artikulasi yang moderat dan inklusif serta cenderung menempuh cara-cara modern dalam dakwahnya, Meski puritanis tapi Wahdah menampilkan wajah yang persuasif, meski sangat militan dalam prinsip namun Wahdah Islamiyah tetap tampil sebagai gerakan yang inklusif, meski revivalis tapi Wahdah Islamiyah tidak menggunakan cara dan pendekatan politik dalam gerakannya melainkan menempuh cara-cara kultural. Oleh karena itu, paradigmatik Wahdah Islamiyah dapat dikategorikan sebagai kelompok puritan/pemurnian tetapi berwajah moderat Wahdah Islamiyah.
PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA TENTANG URGENSI FILSAFAT DALAM ISLAM Syam, M Basir
Aqidah-ta Vol 3, No 2 (2017)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.302 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v3i2.4530

Abstract

Di kalangan para ulama sejak awal telah terjadi perbedaan pendapat dalam menggunakan akal dalam persoalan keagamaan, ada kelompok ahlu al naqli dan ahlu al ra’yi. Pada masa awal perkembangan Islam umumnya didominasi kaum ahlu al naqli.Setelah daerah kekuasaan Islam meluas ulama ahlu al ra’yi yang dimotori oleh kaum Mu’tazilah tanpil menggunakan argumentasi rasional untuk meyakinkan kebenaran Islam terhadap kalangan para penentang. Kaum Asy’ariyah dan Maturidiyah yang mengeritik sikap liberal Mu’tazilah walaupun membatasi diri,tetapi mereka menggunakan argumentasi rasional dalam mempertahankan pandangan shalafusshalih. Al-Ghazali sebagai seorang Asy’ariyah, malahan ketika mengeritik penyimpangan para filosof, justru menggunakan argument filosofis pula. Dalam kitabnya “Tahafutul Falasifah” kritikannya tidak menggunakan dalil naqli. Dengan kitab itu pula yang mempopulerkan dirinya sebagai seorang filosof. Ulama yang datang kemudian seperti Ibnu al-Shalah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Muhamad Ibn al-Wahhab adalah merupakan penentang filsafat.
PUNCAK-PUNCAK CAPAIAN SUFISTIK DALAM PERSPEKTIF METODOLOGIS Tangngareng, Tasmin
Aqidah-ta Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Aqidah-ta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.632 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v3i1.3410

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang puncak-puncak sufistik dalam perspektif metodologis. Ajaran tasawuf pada hakekatnya adalah ekspresi keagamaan, ia merupakan komitmen moral dan iman dari orang-orang yang beragama secara saleh. Hal ini disebabkan, tasawuf dan ajarannya berfungsi untuk mewadahi dan menstabilkan komitmen moral orang yang beriman sehingga tasawuf memberikan tempat bagi kehidupan rohaniyah. Dengan rohani yang suci dan bersih, sang sufi memungkinkan dirinya untuk sampai pada puncak-puncak capaian sufistik, yakni mengadakan komunikasi, bahkan “menyatu” (ittihad) dengan Tuhannya. Dalam menggapai puncak-puncak capaian sufistik itu, memerlukan proses perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan, karena harus melalui berbagai maqam dan hal.. Maqam adalah suatu tahap pencapaian ruhaniah dalam mendekat kepada Tuhan, yang merupakan hasil upaya  bagi seorang sufi; sedangkan hal adalah suasana batiniah, yang senantiasa mengitari perasaan calon sufi dalam setiap maqam yang selalu bergerak naik setahap demi setahap sampai ke tingkat puncak perjalanannya yakni puncak capaian sufistik. Metode perjalanan kepuncak capaian sufistik memiliki tingkat yang beragam, yakni mahabbah, ma’rifah, ittihad, hulul dan wahdat al-wujud. Untuk sampai pada tingkat-tingkat tersebut berbagai metodologis yang dilakukan para sufi. Dalam hal ini, metode yang dilakukan untuk sampai pada tingkat mahabbah dan ma’rifah adalah qalb – ruh – sirr. Sedangkan metode yang dilakukan untuk sampai pada tingkat itihad, hulul dan wahdat al-wujud adalah  al-fana dan al-baqa.