Bina Tambang
ISSN : -     EISSN : -
Atas dukungan dari jurusan Teknik Pertambangan dengan Penanggung Jawab Dekan Fakultas Teknik UNP (Drs. Ganefri,MPd, P.hd) bekerjasama dengan Ketua Jurusan Teknik Pertambangan (Drs.Bambang Heriyadi,MT) dan seluruh Dosen Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang. Jurnal ini terbentuk dan didukung penuh untuk sarana kretifitas Dosen dan Mahasiswa Teknik Pertambangan.
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang" : 8 Documents clear
PERENCANAAN ULANG GEOMETRI PELEDAKAN UNTUK MENDAPATKAN FRAGMENTASI YANG OPTIMUM DI LOKASI PENAMBANGAN FRONT IV QUARRY PT. SEMEN PADANG Febrianto, Febrianto; Yulhendra, Dedi; Abdullah, Rijal
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1835.218 KB)

Abstract

ABSTRACT PT. Semen Padang is a national cement company which owned IUP of limestone mining at Bukit Karang Putih, Indarung, Padang-West Sumatera. Limestone is the main composition of cement making.    PT. Semen Padang use quarry system in the limestone mining activity at Bukit Karang Putih. Limestone production accomplished by blast activity. The quality of blasting result really determine  the success of blast activity. The success parameter of blasting is the fragmentation of resulting  stone.Stone fragmentation evaluation can be done by noticed the blasting geometry. According to today actual blasting geometry, the fragmentation of stone with >100 cm size is 19 % (calculated using Software Split Desktop 3.1). It means that the fragmentation of stone resulting  <100 cm is not optimum,  so,  replan the blasting geometry design in order to optimize the distribution of blasting fragmentation by using R. L. Ash (desain I), ICI-Explosive formulation (design II) and the combination of ICI-Explosive formulation by fitting the field condition(design III).According to the calculation of actual fragmentation using Software Split Desktop, then design II  of blasting geometry is choosen. Based on the fragmentation  percentage of stone with >100 cm, geometry design II (0 %) compare with geometry design III (4 %), however, based on the flying rock resulting from blasting, geometry design III is recommended to be set as a new design. According to the change of the geometry, the fragmentation reduction of stone resulting from blasting >100 cm is 15 %.  Keyword: Blasting Geometry Desain, Limestone Fragmentation. ABSTRAK PT. Semen Padang merupakan perusahaan semen nasional yang memiliki IUP Penambangan batu kapur di Bukit Karang Putih, Indarung, Padang - Sumatera Barat. Batu kapur merupakan bahan baku utama untuk pembuatan semen. Kegiatan penambangan batu kapur di Bukit Karang Putih oleh PT. Semen Padang dilakukan dengan sistem quarry. Kegiatan produksi batu kapur dilakukan dengan kegiatan peledakan. Kualitas dari hasil peledakan peledakan sangat menentukan keberhasilan kegiatan peledakan. Parameter keberhasilan dari suatu kegiatan peledakan adalah fragmentasi batuan hasil peledakan.Evaluasi fragmentasi batuan hasil peledakan dapat dilakukan dengan memperhatikan geometri peledakan. Berdasarkan geometri peledakan aktual saat ini, didapatkan fragmentasi batuan yang berukuran >100 cm sebesar 19 % (perhitungan menggunakan Software Split Desktop 3.1). Hal ini menunjukkan fragmentasi batuan hasil peledakan <100 cm belum optimum. Selanjutnya dilakukan perencanaan ulang geometri peledakan untuk mengoptimumkan distribusi fragmentasi peledakan dengan rumusan R. L Ash (desain usulan I), ICI-Explosive (desain usulan II) dan kombinasi rumusan ICI-Explosive dengan penyesuaian kondisi lapangan (desain usulan III).Berdasarkan hasil perhitungan fragmentasi aktual menggunakan Software Split Desktop, maka dipilih geometri peledakan usulan III. Dari segi persentase fragmentasi batuan berukuran >100 cm, geometri usulan II (0 %) dibandingkan dengan geometri usulan III (4 %), akan tetapi dari segi lemparan batuan hasil peledakan (flying rock) geometri usulan III lebih direkomendasikan untuk ditetapkan menjadi desain baru. Dari perubahan geometri tersebut, didapatkan penurunan fragmentasi batuan hasil peledakan >100 cm sebesar 15 % . Kata Kunci: Desain Geometri Peledakan, Fragmentasi Batu Kapur.
KAJIAN TEKNIS PENINGKATAN PEROLEHAN CASSITERITE DENGAN MENGGUNAKAN PAN AMERICAN JIG CLEAN UP PADA UNIT KONSENTRASI TAMBANG BESAR OPEN PIT TB. 1.42 PEMALI PT. TIMAH (PERSERO), TBK Ferdian, Riri; Heriyadi, Bambang; Abdullah, Rijal
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.092 KB)

Abstract

ABSTRACT The concentration units at Open Pit TB 1.42 Pemali is using Pan American Jig as its main equipment. There are two steps applied to the Pan American Jig; primary jig and clean up jig. At the clean up jig operational step, the final gain of cassiterite should get a serious attention. To obtain the cassiterite concentrate content as conditioned by Tin Ore Processing Center (PBBT) Pemali, that is 40% - 65% with 97% gain, there should be an analysis to the jig operation variables that are being used and analysis to the resulting product, so that a good suitability would be acquired in order to increase the cassiterite gain based on the operational standard in every clean up jig step. According to the sampling and the calculation of the final gain of cassiterite at clean up jig, the value of the right clean up jig is 96.82%, whereas the value of the left clean up jig is lower, 91.43%. The final concrete content were resulted as follow: the right clean up jig, compartment A 38.31% SnO2, compartment B 20.76% SnO2., compartment C 13.80% SnO2.Whereas,the left clean up jig, compartment A 49. 15% SnO2,compartment B 25.09% SnO2, compartment C 23. 43% SnO2. In order to increase the cassiterite gaining through clean up jig based on the requirement, that is 97%, which done by: first, change the setting of the compartment A, B and C hit length in a chronological order, 18mm, 10mm, and 6mm with push speed resulted at the three compartments 5.943cm/s, 3.302 cm/s, and 1.981 cm/s. Second, the management of horizontal crossflow with the characteristics and the jig feed rate. Third, the uniformity of bed jig shape and size, the placement of bed jig size should be adapted with the sequence of compartment and the jig steps. Fourth, arrange the entering feed pulp by installing feed combs grader flow at feed box.Key words: jig, pan american jig, cassiterite
PERHITUNGAN PENGARUH KEMIRINGAN DAN DEBIT AIR PADA PEMAKAIAN SHAKING TABLE DALAM PENGOLAHAN BIJIH TIMAH LOW GRADE DI POS PAM PENGAREM PT TIMAH (PERSERO) TBK Kohirozi, Nopi; Heriyadi, Bambang; Gusman, Mulya
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.207 KB)

Abstract

ABSTRACT PT TIMAH (Persero) Tbk is a National Bussines Agency (BUMN) which move on mining field. The core business of this company is tin mining. The result of land mining held by business partner that fulfill the standard of PT TIMAH (Persero) Tbk is Sn with content > 20%. Due to rareness of the stockpile and since the processing tin content is become lower and lower, therefore a technology to process the low grade tin ore with fine grain into an acceptable content of PT TIMAH (Persero) Tbk is needed.One of the tools being used this time is shaking table.Today, in the operation, the use of shaking table by business partner of PT TIMAH (Persero) Tbk. Thus, the problem is whether the variables arrangement of shaking table operation for this time do not fit the feed condition, so that it can influence the time and the cost of the process. Therefore, there should be an analysis of the shaking table operation variables, so that a good suitability can be obtained in order to increase the cassiterite gain.According to the research result, it can be concluded that the main factors which cause the low gain of tin ore is over sloping tilt (3˚ and 3˚), and over sloping (5˚ and 5˚) and a too high water discharge (7 litres/minutes and 8 litres/minutes). The best result can be obtained through experiment with a moderate tilt (3˚ and 5˚), small water discharge  which produce average content 20,30 % Sn, concentrate result weight 49,01 Kg and concentrate content weight 9,94 Kg Sn.Keyword : low grade, slope, water discharge, shaking table ABSTRAK PT TIMAH (Persero) Tbk adalah Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang penambangan. Bisnis inti perusahaan ini adalah penambangan timah Hasil dari Penambangan di darat yang dilakukan oleh Mitra Usaha yang dapat diterima oleh PT TIMAH (Persero) Tbk adalah dengan kadar       Sn > 20%. Dengan semakin sulitnya cadangan yang tersedia dan semakin rendah kadar timah yang diolah maka diperlukan suatu teknologi yang dapat mengolah bijih timah low grade dengan butiran yang halus menjadi bijih timah dengan kadar yang dapat diterima oleh PT TIMAH (Persero) Tbk. Salah satu alat yang digunakan saat ini adalah shaking table. Saat ini pemakaian shaking table oleh mitra usaha PT TIMAH (Persero) Tbk belum mempunyai standar baku dalam pengoperasiannya. Dalam pengoperasiannya masih menggunakan trial dan error. Berdasarkan kondisi di atas, permasalahan yang timbul adalah apakah pengaturan variabel-variabel operasi shaking table selama ini belum sesuai dengan kondisi umpan (feed) sehingga berpengaruh terhadap waktu dan biaya proses. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian terhadap kondisi variabel-variabel operasi shaking table yang digunakan sehingga dapat diperoleh kesesuaian yang baik dalam meningkatkan perolehan cassiteriteBerdasarkan hasil penelitian maka didapatkan bahwa faktor-faktor utama yang menyebabkan rendahnya perolehan bijih timah adalah kemiringan yang terlalu landai (3˚ dan 3˚),dan terlalu miring (5˚ dan 5˚) dan debit air yang terlalu cepat  ( 7 liter/menit dan 8 liter/menit ). Perolehan terbaik didapatkan pecobaan dengan kemiringan yang sedang (3˚ dan 5˚) debit air yang kecil 6 liter/menit. Perolehan percobaan terbaik pada 3˚ dan 5˚ debit air yang kecil 6 liter/menit, menghasilkan Kadar rata – rata 20,30 % Sn, Berat hasil 49,01 Kg dan berat kadar 9,94 KgSn.Kata Kunci: low grade, Kemiringan, debit air, shaking table 
PENENTUAN KADAR PERAK (AG) DALAM BATUAN TERMINERALISASI MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI PELARUT KELAT DITIZON DENGAN VARIASI PH DAN WAKTU DI WILAYAH TAMBANG GALIAN RAKYAT BUKIT GUNJO JORONG TANJUNG BUNGO KEC. BONJOL KAB. PASAMAN Hidayat, Taufik; Fadhilah, Fadhilah; Nasra, Edi
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.546 KB)

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang penentuan kadar perak (Ag) dalam batuan termineralisasi menggunakan metode ekstraksi pelarut kelat ditizon dengan variasi pH dan waktu di wilayah tambang galian rakyat Bukit Gunjo Jorong Tanjung Bungo Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pH dan waktu optimum dalam pengektraksian logam perak serta dapat menentukan kadar perak pada batuan percontoh terpilih di daerah itu. Penelitian ini menggunakan metoda ekstraksi pelarut menggunakan HCL-HNOз pekat (3:1).Hasil penelitian menunjukan pH optimum berada pada pH 3, dan waktu optimum berada pada waktu 10 menit dan di dapat kadar recovery logam perak dengan metoda ekstraksi sebesar ,2573; 0,2119; 0,2270; 0,1846 ppm, dan 0,1029; 0,1059; 0,1090; 0.0636 ppm untuk hasil dengan metoda langsung, logam Ag ( ± 2,3x peningkatan jika dibandingkan dengan hasil pengukuran langsung ) dengan 4 kali pengukuran sampel.Keywords : Perak (Ag), pH optimum, waktu optimum, kadar
ESTIMASI SUMBERDAYA BATUBARA TERUKUR DI BLOK TIMUR IUP PT. SAROLANGUN PRIMA COAL, KABUPATEN SAROLANGUN, JAMBI Pradana, Icksan Lingga; Kopa, Raimon; Yulhendra, Dedi
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (557.744 KB)

Abstract

ABSTRAKDaerah penelitian adalah Blok timur Wilayah Izin Usaha Pertambangan PT.Sarolangun Prima Coal dengan luas 1024 Ha. Metode yang digunakan untuk mengestimasi sumberdaya batubara di daerah penelitian adalah metode Cross Section dengan pedoman perubahan bertahap (Rule of Gradual Change) dan dengan pedoman titik terdekat (Rule of Nearest Point). Prinsip dari  metode Cross Section Rule of  Gradual  Change, yaitu  dengan  menghubungkan  titik pengamatan terluar, endapan batubara dianggap sama sepanjang garis lurus tehadap penghubung 2 (dua) titik. Sedangkan pada metode Cross Section Rule of Nearest Point, yaitu berpedoman pada titik terdekat, dengan membuat batas terluar endapan secara linear, panjang garis linear sama dengan batas blok, setengah jarak antara dua titik.Berdasarkan penaksiran sumberdaya batubara dengan menggunakan metode Cross Section dengan pedoman perubahan bertahap (rule of gradual change) dengan jarak antar sayatan 100 meter dan diperoleh sumberdaya batubara terukur (Measured Coal Resource) seam A dan  seam B adalah sebesar  28.304.358,40  Ton.  Volume overburden  dan  interburden  yang  didapatkan adalah sebesar 182.835.816 Bcm dengan  Stripping Ratio(SR) 6 : 1. Metode Cross Section dengan pedoman titik terdekat (rule of nearest point) dengan jarak antar sayatan sebesar L1 50 meter dan L2 50 meter diperoleh sumberdaya batubara terukur (MeasuredCoal Resource) seam A dan seam B adalah sebesar 29.232.773,1 Ton, serta volume overburdendan interburden yang didapatkan adalah sebesar 189.104.302,6 Bcm. dengan Stripping Ratio(SR) 6 : 1.ABSTRACTThe  research  area  is  at  the  Region  east  block  of  Licensed  Mining  Company  of  PT. Sarolangun  Prima Coal with area of 1024 Ha. The method being used to estimate the coal resource at the research area is Cross Section method with Rule of Gradual Change and with Rule of Nearest Point. The principle of   Cross Section Rule of Gradual Change method is by relating the outermost observation points, the coal deposits considered to be the same throughout straight line connecting the two points. Whereas, at the Cross  Section Rule of Nearest Point method, which is based on the nearest line, it is by making the outer boundary deposit linearly, where the length of the linear line is the same as the block boundary, it is a half distance between two points.Based on the coal estimation using Cross Section Rule of Gradual Change method with the distance between slices is 100 metres, the Measured Coal Resource of seam A and seam B is as big as 28.304.358,40 Tons. The acquisited overburden and the interburden volumes are as big as 182.835.816 Bcm with 6:1 Stripping Ratio (SR). Cross Section Rule of Nearest Point method where the distance between slices of L1 is 50 meters and L2 is 50 meters, a Measured Coal Resource of seam A and seam B can be acquisited as big as 29.232.773,1 Tons. The obtained overburden and interburden volumes are as big as 189.104.302,6 Bcm with 6:1 Stripping Ratio (SR)Kata kunci: Sumberdaya Batubara, Metode Cross section, Stripping Ratio
ANALISIS PERIZINAN KEGIATAN USAHA PERTAMBANGAN PADA KAWASAN HUTAN PRODUKSI DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN PERATURAN KEHUTANAN DI KOTA SAWAHLUNTO Kurniawan, Yandri; Abdullah, Rijal; MS, Murad
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.615 KB)

Abstract

ABSTRACT The licensing of mining venture activity which occur in the forest for both protected forest and production forest is a very often problem which happened at the district/city level. It can not be avoided since the existence of the large mine material is located in those forests. Therefore, there should be an analysis through (SIG) Geographic Information System application and forestry legilslation to the licensing of mining venture which take place in the forest.The purpose of this research is to obtain the data about Mining Venture Business License in Sawahlunto City which is located at the production forest and to reveal the legislation related with the use of production forest for mining venture activity. The benefit of this research is to provide description  and information to the mining entrepreneur in doing mining venture activity at the region of production forest. The method being used is SIG application and Forestry Regulation. The result of the analysis which can be obtained in this research is WIUP and the Map of Forest Region in Sawahlunto City and forestry regulation which is related with the use of the forest region. In Sawahlunto City, there 12 (twelve) IUP (Mining Venture License) which are located at the region of Production Forest for both HP (Regular Production Forest) and HPK (Conversion Production Forest) out of 15 IUP that has been published by the Government of Sawahlunto CityThe research finding can be used as a reference and information to know the mining venture license which is located in the region of production forest based on the forestry legislation Keyword: Mining Venture Business License, The Region of Production Forest. ABSTRAK Perizinan kegiatan usaha pertambangan yang berada dengan kawasan hutan, baik pada hutan lindung dan hutan produksi merupakan permasalahan yang sangat sering terjadi pada Kabupaten/Kota. Hal ini tidak bisa dihindarkan dikarenakan keberadaan bahan tambang itu sendiri yang sebagian besar berada  di kawasan hutan tersebut. Oleh karenanya diperlukan kegiatan analisis melalui aplikasi Sistem Informasi Geografis/SIG dan peraturan perundang-undangan kehutanan terhadap perizinan usaha pertambangan yang berada pada Kawasan Hutan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan data mengenai Wilayah Izin Usaha Pertambangan di Kota Sawahlunto yang berada di kawasan hutan produksi dan mengungkapkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penggunaan kawasan hutan produksi untuk kegiatan usaha pertambangan.Manfaat dari penelitian ini yaitu memberikan gambaran dan informasi kepada para pengusaha pertambangan dalam melakukan kegiatan usaha pertambangan dalam kawasan hutan produksi.Metode yang digunakan adalah dengan aplikasi SIG dan Peraturan Kehutanan. Hasil analisis yang didapatkan dalam penelitian ini adalah WIUP dengan Peta Kawasan Hutan di wilayah Kota Sawahlunto dan peraturan kehutanan yang berhubungan dengan penggunaan kawasan hutan tersebut. Di Kota Sawahlunto, dari 15 (lima belas) izin usaha pertambangan yang telah diterbitkan Pemerintah Kota Sawahlunto, terdapat sejumlah 12 (dua belas) Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berada di kawasan Hutan Produksi, baik di Hutan Produksi Tetap (HP) maupun Hutan Produksi Konversi (HPK).Hasil Penelitian dapat dipakai sebagai referensi dan informasi untuk mengetahui perizinan  kegiatan usaha pertambangan yang berada di kawasan hutan produksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan kehutanan. Kata Kunci: Izin Usaha Pertambangan, Kawasan Hutan Produksi.
PERENCANAAN BIAYA DAN KEBUTUHAN ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA LOKASI PENAMBANGAN AREA 242,3Ha BATU KAPUR PT.SEMEN PADANG SUMATERA BARAT Andreas, Androly; Sumarya, Sumarya; Yulhendra, Dedi
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.382 KB)

Abstract

ABSTRAKPT. Semen Padang (Persero) merupakan salah satu perusahaan pertambangan yang berlokasi di Sumatera Barat. Pada saat ini penambangan dilakukan pada front IV tapi karena kadar silika pada  front  tersebut  sudah  menurun perusahaan  mempunyai rencana  melakukan  penambangan  pada  area  242,3Ha yang belum pernah dilakukan penambangan sebelumnya. Penambangan di kuari bukit   karang putih mengunakan kombinasi antara alat muat (Excavator Hitachi) dan alat angkut (Dump Truck Komatsu).Untuk mencapai target produksi  yang ditetapkan perusahaan maka pada area 242,3Ha penambangan mengunakan kombinasi alat mekanis  yang  berupa Excavator dan Dump Truck dimana Excavator yang ada saat ini sebanyak 2 buah sedangkan Dump Truck yang dibutuhkan  sebanyak 7 buah untuk  shift I yang terdiri dari 4 buah Dump Truck berkapasitas 100 ton dan 3 buah yang berkapasitas  80  ton sedangkan untuk shift II mengunakan 2 buah Excavator dan 6 buah Dump truk yang terdiri dari  3  buah untuk  yang berkapasitas 100 ton dan 3 buah untuk berkapsitas 80 ton.Secara teoritis kemampuan produksi yang dapat dihasilkan alat mekanis jika dilakukan penambangan pada area 242,3Ha dengan kondisi seperti saat ini adalah sebesar 33214,654 ton perhari sedangkan target produksi yang ditargetkan perusahaan adalah sebesar 30.000 ton perhari dengan demikian target produksi yang dihasilkan nanti akan tercapai. Biaya yang dibutuhkan jika dilakukan penambangan pada area area 242,3Ha ini untuk alat muat pada shift I adalah sebesar Rp 2668,377/ton, dan  untuk  alat angkut pada shift I adalah Rp 5841,278/ton sedangkan pada shift II biaya pemuatan sebesar Rp 2668,377/ton dan  untuk  biaya  pengangkutan  Rp 5476,955/ton.Kata Kunci: biaya, alat muat, alat angkut.
PENGOLAHAN TEMBAGA (Cu) DALAM SAMPEL BATUAN MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI PELARUT KELAT DITIZON DENGAN VARIASI WAKTU DAN pH OPTIMUM Putra, Hendrawansyah; Fadhilah, Fadhilah; Nasra, Edi
Bina Tambang Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Bina Tambang
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UNP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.28 KB)

Abstract

ABSTRAK  Penelitian mengenai pengolahan tembaga (Cu) dalam sampel batuan  menggunakan metode ekstraksi pelarut kelat ditizon dengan variasi waktu dan pH telah dilakukan.Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah conto batuan yang berasal dari Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pH dan waktu dalam pengolahan tembaga dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut kelat ditizon. Kadar Logam tembaga (Cu) diukur dengan menggunakan alat Atomic Absorption Spectroscopy (AAS).Hasil yang didapat menunjukkan bahwa waktu pengolahan yang optimal terjadi selama waktu 10 menit, sedangkan pH pengolahan yang optimal terjadi pada pH 7. Kadar yang didapat jika menggunakan metode ektraksi pelarut kelat ditizon sebesar 1,60 ppm, sedangkan dengan  menggunakan pelarut asam didapat kadar rata-rata sebesar 0,45 ppm. Terjadi peningkatan recovery sebesar 3,5x apabila menggunakan metode ekstraksi pelarut kelat ditizon. Keywords : Tembaga (Cu), pH optimum, waktu optimum, Pengolahan ABSTRACT The research about copper (Cu) processing of the rock sample using the chelating dithizone solvent extraction  method by time and pH variation has been done. The sample used in this research is rock sample taken from Bonjol sub-district, Pasaman district, West Sumatera.The purpose of this research is to find out the influence of pH and time in copper processing by using chelating dithizone solvent extraction  method by time and pH variation. The content of copper (Cu) metal measured by using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS).The result shows that 10 minutes are the optimum time to proceed. Meanwhile 7 is the optimum pH to proceed. The average content can be obtained by using 1. 60 ppm chelating dithizone solvent extraction method, meanwhile by using acid solvent 0. 45 ppm the average content can be obtained. The content increases as big as 3.5x by using chelating dithizone solvent extraction method. Key words: Copper (Cu), pH Optimum, Time Optimum, Processing.

Page 1 of 1 | Total Record : 8