cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Profetik: Jurnal Komunikasi
ISSN : 19792522     EISSN : 25490168     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Profetik Communication is a broad new field of Communication Science, which refers to prophecy communication model and a new framework of the implementations of communication science.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2019)" : 12 Documents clear
RELASI BONDING DALAM MASYARAKAT BINAAN CSR (Studi Deskriptif Interpretif Relasi Sosial Masyarakat Binaan CSR PT Pertamina RU II Sungai Pakning di Kabupaten Bengkalis) Widhagdha, Miftah Faridl
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.256 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1547

Abstract

Abstrak. Penelitian ini beranjak dari terbatasnya kajian CSR (Corporate Social Responsibility) yang berorientasi pada masyarakat penerima manfaat yang ada di Indonesia. Teori yang diadaptasi dalam penelitian ini adalah teori modal sosial yang dikemukakan oleh Woolcock & Narayan. Metode penelitian dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif interpretif model Neuman. Penelitian ini menelaah bentuk modal sosial dalam bentuk relasi sosial bonding yang ada di masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa relasi bonding terdapat dalam pola-pola relasi dalam masyarakat binaan yang menunjukkan bahwa ikatan intra kelompok penting untuk diperhatikan guna menjaga kekompakan kelompok. Hasil ini menunjukkan bahwa bentuk relasi sosial bonding memiliki dampak yang penting terhadap pelaksanaan CSR di suatu perusahaan. Relasi ini penting untuk dijaga melalui kegiatan komunikasi dialogis yang bertujuan untuk pembangunan yang dilakukan melalui cara-cara yang lebih intensif, terbuka dan partisipatif guna melahirkan relasi sosial yang sehat dan berkelanjutan. Kata kunci:   CSR; komunikasi pembangunan; modal sosial; relasi bondingAbstract. This research moved from the limited study of CSR (Corporate Social Responsibility) oriented to beneficiary communities in Indonesia. The theory adapted in this study is the theory of social capital proposed by Woolcock & Narayan. The research method in this study was qualitative with the interpretive descriptive approach of the Neuman model. This research examines forms of social capital in form of social relations that exist in society. The results of this study indicate that there are form of social relations that exist in society, namely bonding relations. Bonding relations show that intra-group bonds are important to consider in order to maintain group cohesiveness. These results indicate that the form of social relations have an important impact on the implementation of CSR in a company. This relation is important to be maintained through communication activities aimed at development carried out through more intensive, open and participatory ways in order to create Health and sustainable Social relations.  Keywords: CSR; Development Communication; Social Capital; Bonding Relations  
PRESENTASI DIRI BEAUTY INFLUENCER ABEL CANTIKA MELALUI YOUTUBE CHANNEL Putri, Dhita Widya
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.773 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1583

Abstract

Abstrak. Youtube sebagai media sosial telah menjadi sarana untuk mendapatkan informasi dan referensi. Seiring dengan meningkatnya kesadaran wanita akan penampilan, maka salah satu dari beragam konten media yang diminati di Youtube adalah konten tentang kecantikan. Abel Cantika, seorang pengisi konten kecantikan di Youtube atau bisa disebut beauty influencer, dalam waktu relatif singkat yaitu satu tahun, sudah bisa meraih jumlah pelanggan sebesar 150 ribu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya yang dilakukan Abel Cantika sebagai beauty influencer dalam memanfaatkan kanal Youtube untuk mempresentasikan diri, sehingga bisa diminati banyak orang. Dengan teori Dramaturgi oleh Erving Goffman, maka penelitian ini difokuskan pada panggung depan yang ditampilkan Abel Cantika di Youtube. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan kualitatif secara deskriptif melalui wawancara mendalam, dan dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Abel Cantika menampilkan jati dirinya yang asli, dan tidak menjadi diri orang lain, sehingga hasil presentasi diri yang muncul di Youtube bisa maksimal. Kata kunci: Presentasi Diri, Dramaturgi, Beauty Influencer, YouTube, Abel Cantika  Abstract. Youtube as a social media has become a means to obtain information and references. As women's awareness of appearance increases, one of the various media content that is in demand on Youtube is content about beauty. Abel Cantika, a filler of beauty content on Youtube or can be called a beauty influencer, in a relatively short time of one year, has been able to reach the number of customers of 150 thousand. This study aims to determine the efforts made by Abel Cantika as a beauty influencer in utilizing Youtube channels to present themselves, so that they can be attracted by many people. With Dramaturgi's theory by Erving Goffman, this research is focused on the front stage displayed by Abel Cantika on Youtube. The research method used was a descriptive qualitative approach through in-depth interviews, and analyzed by interactive models of Miles and Huberman. The results of this study indicate that Abel Cantika displays his true identity, and does not become the self of others, so that the results of self-presentation that appears on Youtube can be maximized. Keywords: Self Presentation, Dramaturgi, Beauty Influencer, YouTube, Abel Cantika
PENGARUH TAHAPAN SOSIALISASI TERHADAP BUDAYA ORGANISASI PADA KARYAWAN PT. RADIO CANDRIKA WIDYA SWARA BANDUNG Noviyanti, Mira Ayu
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.6 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1543

Abstract

Abstrak. Industri penyiaran global saat ini memberikan kesempatan yang semakin besar bagi pelaku industri seiring dengan menaiknya pendengar radio yang terus bergerak serta hiburan di dalam berbagai media yang semakin meluas. Hal ini membuat peluang pasar terbuka lebih besar di dalam industri radio. Maka dari itu untuk menyikapi persaingan yang semakin besar, perusahaan harus diimbangi dengan kualitas  kinerja karyawannya. Dengan cara menanamkan budaya organisasi pada perusahaan melalui proses sosialisasi yang dilakukan oleh karyawan baru, yang meliputi tahapan prakedatangan, keterlibatan dan metamorfosis sebagai variabel dalam tahapan sosialisasi. Data yang dikumpulkan sebanyak 30 responden yang diperoleh dari seluruh karyawan PT. Radio Candrika Widya Swara Bandung. Hasil analisis kuantitatif deskriptif menunjukkan pada ketiga tahap sosialisasi disesuaikan dengan nilai tabel sebesar 2.048 dengan sebagai berikut, pada tahap prakedatangan, mendapatkan hasil sebesar 75.6% dan 9.319, hasil thitung sebesar 9319 menunjukan bahwa thitung>ttabel yang artinya ho ditolak dan ha diterima, selanjutnya pada tahap keterlibatan mendapatkan hasil sebesar 82.4% dan 11.465, hasil thitung sebesar 11.465 menunjukan bahwa thitung>ttabel yang artinya ho ditolak dan ha diterima, lalu pada tahap metamorfosis memiliki hasil sebesar 84.3% dan 12.276, hasil thitung sebesar 12.276 menunjukan bahwa thitung>ttabel yang artinya ho ditolak dan ha diterima. Dari ketiga variabel tersebut dapat disimpulkan bahwa ketiga tahapan sosialisasi prakedatangan, keterlibatan dan metamorfosis memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap budaya organisasi. Kata kunci: Budaya organisasi, sosialisasi, prakedatangan, keterlibatan dan metamorfosis.  Abstract. Today's global broadcasting industry provides greater opportunities for industry players as radio listeners continue to move and entertain in a wider range of media. This makes greater open market opportunities in the radio industry. Therefore to respond to the increasing competition, companies must be balanced with the quality of their employees' performance. By way of instilling an organizational culture in the company through a process of socialization carried out by new employees, which includes stages of pre-arrival, involvement and metamorphosis as variables in the stages of socialization. The data collected were 30 respondents obtained from all employees of PT. Radio Candrika Widya Swara Bandung. The results of the quantitative descriptive analysis showed that the three stages of socialization were adjusted to the value of 2,048 with the following, at the pre-arrival stage, obtained results of 75.6% and 9,319, the results of tcounts of 9319 showed that t count>ttable means ho is rejected and ha is accepted, then the stage of involvement gets results of 82.4% and 11,465, the results of tcount 11.465 show that tcount>ttable which means ho is rejected and ha is accepted, then at the metamorphosis stage has a result of 84.3% and 12,276, the results of tcount 12.276 show that tcount>ttable ho rejected and ha accepted. From the three variables, it can be concluded that the three stages of pre-arrival socialization, involvement and metamorphosis have a positive and significant influence on organizational culture. Keywords: Organizational culture, socialization, pre-arrival stages, stages of encounter and stages of metamorphosis
KARIKATUR IKLAN POLITIK MEDIA LUAR RUANG JANGAN MEMBELI KUCING DALAM KARUNG Suryono, Joko; Astuti, Purwani Indri; Rahayu, Nuryani Tri; Hariyanto, Hariyanto; Widayati, Mukti
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.108 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1539

Abstract

Abstrak.Iklan Politik Media Luar Ruang Honda Hendarto tampil dengan ciri khusus menggunakan bahasa karikatur. Iklan ini  biasanya menampilkan kandidat dengan gambar nyata  yaitu : photo kandidat  dengan gesture tertentu , logo partai politik, nama partai politik, tag line, nomor urut, background warna partai,  dan nama caleg. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna konotatif kontruksi dan makna konfiguratif tanda non verbal dan verbal karikatur iklan politik media luar ruang honda Hendarto. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan teknik menyimak.  Sumber data dalam penelitian ini adalah tanda non verbal Karikatur   Iklan Politik Media Luar Ruang Honda Hendarto dan tanda verbal peribahasa Jangan Membeli Kucing dalam Karung. Analisis data yang digunakan adalah  analisa semiotika dan pandangan stilistika Hasil penelitian ini adalah bahwa Karitur tersebut memiliki makna konotatif :  1) tentang sosok Honda Hendarto yang ingin membangun mitos dirinya,  sebagai seorang pemikir besar, visioner , ramah, sederhana, memiliki solidaritas, menghargai tradisi masyarakat, tulus, kuat, berwibawa, memiliki keinginan kuat, berjuang untuk rakyat, menyerap aspirasi rakyat, mewujudkan harapan rakyat dan menjadi jembatan antar rakyat,  pemerintah dan wakil rakyat 2)  Pendidikan politik kepada pemilih untuk berpikir  kritis saat memilih Presiden dan Wakil Presiden, wakil rakyat, sehingga mengetahui kondisi orang yang dipilihnya, yang menyangkut  kinerja, visi misi, program kerja dan citra pribadinya,  seperti  peribahasa jangan membeli kucing dalam karung, yang termasuk dalam bagian transasksi gharar. Transaksi gharara dalah  semua transaksi  yang mengandung (al-jahalah) ketidakjelasan,(al-khathr) pertaruhan, atau perjudian. Peribahasa ini unsur yang paling menonjol  (foregrounding) dalam karikatur tersebut dan termasuk dalam bahasa konfiguratif metafora. Kata kunci: Karikatur, Membangun Mitos, Jargon Abstract. Honda Hendarto’s outdoor political advertising mediahas provided a special representation through its caricature. Such media introduces a political candidate by showing several features, which includethe candidate’s photo, particular gesture as the unique communication symbol, political party’s logo, name, tagline, serial number, party’s background color, and the candidate’s name. The article aims to comprehend the constructive and configurative meaningsof Honda Hendarto’s Outdoor Political Advertising Media through its verbal and nonverbal symbols. It deployed a content analysis for its data collecting technique. The data source consisted of the non-verbal symbolsof Honda Hendarto’sOutdoor Advertising Media in the form of caricature and its verbal symbols that promote a proverb Don’t buy a cat in a sack (which is similar to English proverb Don’t buy a pig in a poke). It utilized Semiotics and Stylistics Analysis techniques. The findings revealed that the caricature contains connotative meanings, which include: 1.) Honda Hendartowills to establish a public paradigm for his profile through several great labels, which includehis self-representation as a scholar, visionary, as well as humble and friendly figure who upholds solidarity, traditions, sincerity, strength, excellentmanner, persistence, struggle, public aspiration, and transparent communication among citizens and People’s Representatives Council; 2.) The value of political education through the advice Don’t buy a cat in a sack encourages the public to critically evaluate their candidates of President and Vice President aswell as legislature members based on their performance, vision and mission, programs, and profiles. In regards, to the political education, Honda Hendarto’sOutdoor Advertising Media hasprovoked the public awarenessin avoidingal-jahalah(unclarity) and alkhathr (gamble) which are the parts of gharar (uncertainty) that probably happensin the votes of General Election. The proverb Don’t buy a cat in a sackimplies the caricature’sforegrounding message, as it belongs to a metaphor.  Keywords: Caricature, establishing public paradigm, tagline
PERTARUNGAN WACANA REPRESENTASI PADA SPANDUK KAMPANYE PEMILIHAN GUBERNUR JAWA TENGAH TAHUN 2018 Gama, Betty
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.656 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1540

Abstract

Abstrak.Salah satu media yang digunakan untuk mengenalkan sosok kandidat kepala daerah adalah media luar ruang, misalnya spanduk. Media luar ruang yang dimaksud di sini adalah spanduk yang dipasang di jalan-jalan Kota Surakarta dengan menggunakan bahasa Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertarungan wacana representasi pada media luar ruang kampanye pemilihan Gubernur Jawa Tengah, yang terdiri dari pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin dan Sudirman SaidIda Fauziyah. Representasi pada media luar ruang yang ditampilkan oleh para politikus menjelang pemilihan gubernur Jawa Tengah tahun 2018 menarik untuk diteliti dengan menggunakan pendekatan metode analisis wacana kritis (critical discourse analysis /CDA). Metode ini akan melibatkan kajian mengenai apa yang sebenarnya ada di balik teks spanduk para politikus yang dipasang di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritis dari Norman Fairclough.  Pada dasarnya, Fairclough menggunakan prinsip 3 dimensi dalam analisisnya, yaitu teks, praktik diskursus, dan praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spanduk pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin lebih menekankan pada pemberian janji-janji untuk tidak melakukan korupsi dan membohongi masyarakat, sedangkan spanduk pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah lebih menekankan pada identitas sebagai seorang muslimin dan muslimat dan berjanji akan membangun provinsi Jawa Tengah, supaya masyarakat dapat hidup mulia. Penggunaan teks dalam spanduk kampanye dengan menggunakan bahasa daerah sangat tepat dilakukan untuk menarik simpati masyarakat setempat. Persamaan antara kandidat politik dan pemberi suara potensial dalam kondisi yang homophily memungkinkan seseorang untuk memberikan pilihannya secara sukarela.  Kata kunci:   Representasi, spanduk, pemilihan gubernur Jateng Abstract.One of the media used to introduce the candidates for regional heads is outdoor media, for instance banners. Outdoor media referred to here are banners, which are installed on the streets in Surakarta City using Javanese language. This study aims to determine the battle of representation discourse in the outside media of the Central Java governor election campaign, which consists of Ganjar Pranowo-Taj Yasin and Sudirman Said-Ida Fauziyah. The representation of outdoor media displayed by politicians towards Central Java governor election in 2018 is interesting to be examined using a critical discourse analysis (CDA) approach. This method will involve a study of what actually lies behind the banner text of politicians posted in Surakarta City. This study uses critical discourse analysis from Norman Fairclough. Basically Fairclough uses the principle of 3 dimensions in his analysis, namely text, discourse practice and social practice. The results showed that the banner of the pair Ganjar Pranowo-Taj Yasin emphasized giving promises not to commit corruption and lie to the society, while the banners of the pair Sudirman Said-Ida Fauziyah emphasized identity as Muslims and promised to build the province of Central Java, so that society can live noble lives. The use of text in campaign banners using local language is very appropriate to attract sympathy from the local society. The equality between political candidates and potential voters in homophily conditions allows someone to give her/his choice voluntarily. Keywords:  Representations, banners, Central Java governor elections.
Jurnalisme Warga: Liyan, Timpang dan Diskriminatif Eddyono, Aryo Subarkah; HT, Faruk; Irawanto, Budi
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.197 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1498

Abstract

Abstrak. Keterlibatan warga dalam menyampaikan informasi yang luput dilakukan oleh jurnalis profesional  masih bisa kita lihat hingga kini. Terutama pada peristiwa-peristiwa bencana alam seperti gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala pada akhir September 2018. Hal ini menunjukkan praktik jurnalisme warga masih mungkin dijalankan. Hanya saja, di ranah akedemis, riset jurnalisme warga di Indonesia tidak terlalu variatif dan terkesan berjalan di tempat, didominasi pembicaraan sejauh mana peran dan efektivitasnya berdasarkan model-model tertentu. Situasi ini sebaiknya diatasi. Salah satunya dengan menghadirkan cara berpikir cultural studies dalam mengkaji isu-isu jurnalisme warga. Cultural studies atau kajian budaya adalah kajian kritis yang mampu membantu periset menyelami beragam hal, yakni representasi, regulasi, identitas, konsumsi, dan produksi di mana masing-masing bisa saling terkait satu sama lain. Masalah lain yang saya temukan adalah pemahaman jurnalisme warga, yang selama ini berkembang  perlu dikritisi karena tidak kontekstual dan cenderung asal klaim. Saya beranggapan jurnalisme warga adalah praktik yang timpang, eksklusif, elitis, dan diskriminatif. Keberadaaannya menjadi liyan bagi jurnalisme dominan. Artikel ini juga merupakan autokritik atas pemahaman saya soal jurnalisme warga dalam riset saya sebelumnya. Kata kunci: Jurnalisme Warga, Kajian Budaya, Keberagaman Informasi, Demokrasi, Distingsi  Abstract. Public participation in sharing information that was missed by professional journalists can still be seen today. Especially in natural disaster events such as the earthquake and tsunami that hit Palu and Donggala at the end of September 2018. This shows that the practice of citizen journalism is still possible. It is just, citizen journalism research in Indonesia is not varied, dominated by research on the extent of its role and whether its management is effective based on certain models. This situation must be changed. Cultural studies can be an alternative way of thinking. Cultural studies are critical studies that can help researchers explore a variety of things, namely representation, regulation, identity, consumption, and production where each can be interrelated. Another problem that I found was the understanding of citizen journalism that had developed so far needs to be criticized because it is not contextual and tends to be inappropriate. I think citizen journalism is an unequal, exclusive, elitist and discriminatory. Its existence becomes liyan for dominant journalism.This article is also an autocritic for the citizen journalism research I did before. Keywords: Citizen Journalism, Cultural Studies, Diversity of Information, Democracy, Distinction  
Pengaruh Iklan Web Series SPace # "Kenapa Belum Nikah?" Terhadap Brand Awareness JD.ID Dewi, Yaasmiin Larasati
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.746 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1556

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran pengaruh iklan web series Space #  “Kenapa Belum Nikah?” terhadap brand awareness JD.ID. Penelitian ini menggunakan variabel independent yaitu iklan web series, dengan dimensi multimedia, pictures, dan content. Dan variabel dependent yaitu brand awareness, dengan beberapa dimensi, yaitu unaware of brand, brand recognition, brand recall, dan top of mind. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif, dengan teknik analisis data deksriptif, uji normalitas, uji regresi linier sederhana, koefisien determinasi, dan uji hipotesis. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah Probability Sampling, yaitu Simple Random Sampling, dan menggunakan rumus unknown populations, dengan jumlah 100 responden. Hasil uji hipotesis menunjukan bahwa iklan web series Space # “Kenapa Belum Nikah?” memiliki pengaruh yang positif terhadap brand awareness JD.ID, hal tersebut dibuktikan dengan t hitung (6.168) > t tabel (1.290), dan hasil koefisien determinasi menunjukan bahwa iklan web series Space # “Kenapa Belum Nikah?” memiliki pengaruh sebesar 27.98% terhadap brand awareness JD.ID. Sehingga dapat disimpulkan bahwa iklan web series tidak bisa berdiri sendiri dalam meningkatkan kesadaran terhadap suatu merek, tetapi membutuhkan faktor lainnya, seperti slogan dan jingle sebagai elemen pendukungnya. Kata kunci:   Iklan, web series, brand awareness, unaware of brand, dan top of mind.  Abstract. This research aims to determine the effect of web series advertising Space # “Kenapa Belum Nikah?” on brand awareness of  JD.ID. This research uses indepent variable, which is web series advertising, with several dimensions, and that including multimedia, pictures, and content. For dependent variable, it also contains several dimensions as well, and that including unaware of brand, brand recognition, brand recall, and top of mind. This research uses quantitative methods, with descriptive data analysis techniques, normaly test, simple linear regression test, coefficient of determination, and hypothesis test. The samping technique used in this research is probability sampling, that is simple random sampling, with unknown populations formula to 100 respondents. Hypothesis test result shows that web series advertising of Space # “Kenapa Belum Nikah?” has an influence on brand awareness of JD.ID, this evidenced by t count (6.168) > t table (1.290), and the results of the coefficient of determination shows that web series advertising Space # “Kenapa Belum Nikah?” has 27.98% effect on brand awareness of JD.ID Keywords: advertising, web series, brand awareness, unaware of brand, and top of mind.
Komunikasi Fatik Komunitas Public speaking dalam Persuasi Kompetensi Komunikasi Rakhmawati, Yuliana
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.686 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1548

Abstract

Abstrak. Keterlibatan warga dalam menyampaikan informasi yang luput dilakukan oleh jurnalis profesional  masih bisa kita lihat hingga kini. Terutama pada peristiwa-peristiwa bencana alam seperti gempa dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala pada akhir September 2018. Hal ini menunjukkan praktik jurnalisme warga masih mungkin dijalankan. Hanya saja, di ranah akedemis, riset jurnalisme warga di Indonesia tidak terlalu variatif dan terkesan berjalan di tempat, didominasi pembicaraan sejauh mana peran dan efektivitasnya berdasarkan model-model tertentu. Situasi ini sebaiknya diatasi. Salah satunya dengan menghadirkan cara berpikir cultural studies dalam mengkaji isu-isu jurnalisme warga. Cultural studies atau kajian budaya adalah kajian kritis yang mampu membantu periset menyelami beragam hal, yakni representasi, regulasi, identitas, konsumsi, dan produksi di mana masing-masing bisa saling terkait satu sama lain. Masalah lain yang saya temukan adalah pemahaman jurnalisme warga, yang selama ini berkembang  perlu dikritisi karena tidak kontekstual dan cenderung asal klaim. Saya beranggapan jurnalisme warga adalah praktik yang timpang, eksklusif, elitis, dan diskriminatif. Keberadaaannya menjadi liyan bagi jurnalisme dominan. Artikel ini juga merupakan autokritik atas pemahaman saya soal jurnalisme warga dalam riset saya sebelumnya. Kata kunci: Jurnalisme Warga, Kajian Budaya, Keberagaman Informasi, Demokrasi, Distingsi  Abstract. Public participation in sharing information that was missed by professional journalists can still be seen today. Especially in natural disaster events such as the earthquake and tsunami that hit Palu and Donggala at the end of September 2018. This shows that the practice of citizen journalism is still possible. It is just, citizen journalism research in Indonesia is not varied, dominated by research on the extent of its role and whether its management is effective based on certain models. This situation must be changed. Cultural studies can be an alternative way of thinking. Cultural studies are critical studies that can help researchers explore a variety of things, namely representation, regulation, identity, consumption, and production where each can be interrelated. Another problem that I found was the understanding of citizen journalism that had developed so far needs to be criticized because it is not contextual and tends to be inappropriate. I think citizen journalism is an unequal, exclusive, elitist and discriminatory. Its existence becomes liyan for dominant journalism.This article is also an autocritic for the citizen journalism research I did before.  Keywords: Citizen Journalism, Cultural Studies, Diversity of Information, Democracy, Distinction  
Co-constructing or Deconstructing Gender Identity? A Multimodal Critical Discourse Analysis of Bongo Flava- Song Video Niambie Saimon, Musa
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.44 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1582

Abstract

Abstrak. Musik seperti media lain memberikan semacam wacana yang aspek sosial seperti identitas gender dari masyarakat terkait dapat bersama-sama dibangun atau didekonstruksi tergantung pada perspektif ideologis pembicara/penulis. Penelitian  ini menganalisis Bongo Flava-Song video ' Niambie ' menggunakan perspektif wacana kritis multimodal sehingga untuk memeriksa apakah lagu melibatkan Co-konstruksi atau dekonstruksi identitas gender. Hasil menunjukkan bahwa identitas gender dalam video lagu dikonstruksi bersama dalam arti bahwa gender pria dominan dibandingkan gender wanita yang menyinggung dari ideologi patriarki yang melaluinya manusia seharusnya mendominasi wanita dalam semua aspek kehidupan.  Kata kunci: identitas gender, analisis wacana kritis multimodal, Bongo FlavaAbstract. Music like any other media provides a kind of discourse through which social aspects like gender identity of a particular related society can be co-constructed or deconstructed depending on the ideological perspective of the speaker/writer. This paper analyses Bongo Flava-song video ‘Niambie’ using multimodal critical discourse perspective so as to examine if the song involves co-construction or deconstruction of gender identity. Results show that gender identity in the song video is co-constructed in the sense that male gender is dominant over female gender alluding from patriarchal ideology through which men are supposed to dominate women in all life aspects.  Keywords: Gender identity, Multimodal critical discourse analysis, Bongo Flava
Alumni Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI): Peluang Kerja (Studi Alumni Pascasarjana UIN Ar-Raniry) Usman, Abdul Rani; ., Bustami; Setiana, Nandari Ayu; ., Hayatullah
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.563 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v12i1.1492

Abstract

Abstrak. Kompetensi adalah suatu hal yang dikaitkan dengan kemampuan, pengetahuan atau wawasan, dan sikap yang dijadikan suatu pedoman dalam melakukan tanggung jawab pekerjaan yang dikerjakan. Persaingan di bidang pendidikan tinggi menyebabkan bertambah dan berkurangnya yang mendaftar di perguruan tinggi. Keadaan ini memaksa kampus untuk mencari berbagai strategi baru yang menjadikan pendidikan tinggi Islam mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan tingkat nasional bahkan tingkat dunia. Berdasarkan persoalan di atas, penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang Kompetensi Alumni KPI dalam Mencari Peluang Kerja. Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kuaitatif, yang mengkaji tentang bagaimana kompetensi dan kendala alumni KPI dalam mencari peluang kerja.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana dalam penelitian ini lebih menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktifitas. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa kantor pemerintahan di Kota Lhokseumawe. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memberikan perhatian penting terhadap lulusan atau alumni Fakultas Dakwah, khususnya alumni Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Mereka mampu dan bisa tampil di forum-forum, menjadi penceramah, khatib, wartawan. Sebagian alumni KPI mendapatkan peluang kerja yang baik dari pemerintah, seperti ada yang menjadi Kepala Kantor Kemenag Lhokseumawe, Ketua MPU Lhokseumawe, Sekwan DPRK Lhokseumawe. Mereka juga bekerja di IAIN Lhokseumawe. Kendala alumni KPI dalam mencari kerja salah satunya adalah tidak adanya wadah perkumpulan alumni, sehingga sulit berbagi informasi, baik yang berhubungan dengan peluang kerja atau lainnya. Kendala lainnya adalah alumni KPI tidak mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat saat menjadi mahasiswa, sehingga berefek dalam kehidupan sehari-hari.  Kata kunci:  Kompetensi, Alumni komunikasi Islam, Peluang Kerja   Abstract. Competence is a matter that is associated with ability, knowledge or insight, and attitude that is used as a guideline in carrying out the responsibilities of work done. Competition in the field of higher education leads to increased and reduced enrollment in higher education. This situation forced the campus to look for various new strategies that made Islamic higher education able to survive and develop in national and world-level competition. Based on the above problems, the author would like to examine more about KPI Alumni Competence in Finding Job Opportunities. This study uses a qualitative approach methodology, which examines how the competencies and constraints of KPI alumni in seeking employment opportunities. This study uses a qualitative approach wherein this research emphasizes the meaning and process rather than the results of an activity. This research was carried out in several government offices in Lhokseumawe City. The results showed that the community gave important attention to the graduates or alumni of the Da'wah Faculty, specifically the alumni of Islamic Communication and Broadcasting (KPI) of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry. They can and can appear in forums, become lecturers, preachers, reporters. Some KPI alumni get good employment opportunities from the government, such as those who are the Head of the Lhokseumawe Ministry of Religion Office, Chair of the MPU Lhokseumawe, Sekwan DPRK Lhokseumawe. They also worked at IAIN Lhokseumawe. One of the obstacles for KPI alumni in finding work is the absence of alumni association containers, so that it is difficult to share information, whether related to employment opportunities or others. Another obstacle is that KPI alumni are unable to apply the knowledge gained when they are students, so that it has an effect on daily life. Keywords: Competence, Islamic Communication Alumni, Job Opportunities  

Page 1 of 2 | Total Record : 12