cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Profetik: Jurnal Komunikasi
ISSN : 19792522     EISSN : 25490168     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Profetik Communication is a broad new field of Communication Science, which refers to prophecy communication model and a new framework of the implementations of communication science.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 11, No 1 (2018)" : 9 Documents clear
Halaman Cover dan 1-4 Profetik, Redaksi Jurnal
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.9 KB)

Abstract

Halaman Cover dan hal.1-4 Profetik Jurnal Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
TWITTER: Expressing Hate Speech Behind Tweeting Wirawanda, Yudha; Wibowo, Tangguh Okta
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.63 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1378

Abstract

This study explores on how Indonesian people use Twitter. Only one hundred and forty (in one tweet) characters are able to create unlimited tweets expressing an agenda, Twitter has a role as canalization of desire that their users cannot devote in offline world. This study will focus on the prosumption practice toward the use of Twitter behind tweeting to spread a variety of opinions, including hate speech, because the characters of cyberspace allow the formation of habitus toward virtual users that they can devote freely a certain emotion in cyberspace. This study critically analyzes the prosumption practices of creating hate speech behind tweeting. This study also discusses on how Twitter's characters are able to express hate speech by the users. The interaction of users to use Twitter in expressing hate speech has played a role on how the users construct the world.
STUDI PERTUKARAN SOSIAL DAN PERAN NILAI AGAMA DALAM MENJAGA KERUKUNAN ANTAR KELOMPOK UMAT BERAGAMA DI MANADO Sari, Wulan Purnama
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (46.172 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1419

Abstract

 Isu rasial memiliki potensi konflik yang sangat tinggi, khususnya di Indonesia yang memiliki keberagaman tinggi sehingga potensi akan konflik menjadi lebih tinggi. Keberagaman yang dimiliki Indonesia ini menjadi tantangan tersendiri dalam mewujudkan kerukunan. Setiap agama bahkan mengajarkan tentang pentingnya kerukunan. Sedangkan dalam teori pertukaran sosial diketahui bahwa interaksi manusia dilandaskan pada prinsip pertukaran, dimana penghargaan dimaksimalkan dan biaya dihindari. Kemudian dalam hal menjaga kerukunan faktor peran nilai agama atau faktor pertukaran sosial yang lebih memiliki peran dalam kerukunan di Manado. Penelitian ini menggunakan konsep dasar teori kerukunan, nilai agama, dan pertukaran sosial. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bawah kerukunan dapat tercipta di Manado karena faktor sejarah, pendidikan, peran orang tua yang mengajarkan nilai-nilai hidup orang Manado, nilai ajaran agama, serta peran dari para opinion leader yang turut menjaga kerukunan. Penelitian juga menunjukkan bahwa antara Suku Minahasa dengan suku pendatang yang berbeda agama terjadi pertukaran sosial, dimana suku Minahasa melakukan pertukaran ini dengan dasar keuntungan terciptanya lingkungan yang damai dan rukun serta menaati nilai dan ajaran agama.   Racial issues have very high potential for conflict, especially in Indonesia which has high diversity, so the potential for conflict will be higher. The diversity of Indonesia is a challenge in creating harmony. Every religion even teaches about the importance of harmony. Whereas in social exchange theory it is known that human interaction is based on the principle of exchange, in which rewards are maximized and costs are avoided. Then in terms of maintaining the harmony factor of the role of religious values or social exchange factors that have more role in harmony in Manado. This study uses the basic concepts of the theory of harmony, religious values, and social exchange. The method used is qualitative method with data collection technique through interview and observation. The results show that harmony can be created in Manado due to historical factors, education, the role of parents who teach the values of the Manado life, the value of religious teachings, and the role of opinion leaders who helped maintain harmony. The study also shows that between the Minahasa tribe and the tribe of different religions occurs social exchanges, in which the Minahasa ethnic group exchanges this with the basis of the benefits of creating a peaceful and harmonious environment and adhering to religious values and teachings. 
POSISI UNDANG-UNDANG PERS INDONESIA DALAM EKOSISTEM MEDIA DIGITAL Nurlatifah, Mufti
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.159 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1289

Abstract

Aturan mengenai pers di Indonesia diatur oleh Undang-undang No.40 tahun 1999 tentang pers. Segala bentuk aktivitas jurnalisme, baik yang menggunakan media cetak, media penyiaran, dan media baru dilindungi dan dijamin oleh Undang-undang Pers. Pada perkembangannya, praktik jurnalistik pada media online tidak sesederhana formulasi pada undang-undang Pers. Ruang lingkup media baru yang menghadirkan sedemikian banyak kebaruan menghadirkan persoalan dilematis karena karakter media yang berbeda. Karakter media yang berbeda membuat aktivitas jurnalistik pada media baru juga mengalami pergeseran dan dinamika yang luar biasa. Hal ini pula yang kemudian menghadirkan persoalan dilematis di wilayah normatif dan etis. Berangkat dari asumsi tersebut, penelitian ini bermaksud ingin melihat bagaimana posisi Undang-undang Pers dalam ekosistem media baru. Penelitian ini berusaha menjawab posisi tersebut dalam dua aras. Pertama, penelitian ini hendak mengelaborasi bagaimana posisi Undang-undang Pers dalam konteks hukum media di Indonesia, baik dalam perspektif lex spesialis maupun perspektif lex generalis. Kedua, posisi Undang-undang Pers dalam penelitian ini dilihat dalam konteks empirik pada berbagai kasus jurnalisme media online di Indonesia. Konteks empirik ini lebih melihat pada bagaimana fakta yang terjadi di wilayah hukum dalam menanggapi berbagai persoalan terkait pers di media online.  Indonesian Law No. 40 in 1999 on Press regulate Indonesia press activity in print media, electronic media, and online media. This law not only regulate press activity in collecting and reporting information but also guarantee freedom of the press in all Indonesian platform media. However, online journalism practice not as simple as the law. New media ecosystem challenge journalism practice, ethics, and regulation to the new level. New media character change journalism in many aspect, such as commentary, accuracy, and media management. These changes brought new perspective to discuss about regulation for online journalism. This research want to answer, how Indonesian Press Law taking position in new media ecosystem. First, we can discuss this position by elaborate Indonesian Press Law in lex specialist or in lec generalis condition. Second, we can compare Indonesian online journalism case which use Indonesian Press Law to justice.
LOYALITAS CUSTOMER DALAM MOBILE COMMERCE ZALORA Pramesti, Karina Dwi
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.18 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1360

Abstract

Saat ini smartphone menjadi instrumen yang sangat penting dalam dunia bisnis dan pemasaran. Penggunaan smartphone juga memicu tumbuhnya berbagai mobile commerce (m-commerce) di Indonesia. Hal ini disebabkan karena smartphone dapat menjadi sarana periklanan, promosi, dan transaksi jual beli. Salah satu perusahaan yang memanfaatkan hal ini adalah Zalora. Zalora merupakan salah satu perusahaan m-commerce dalam bidang fashion dengan pengunjung tertinggi di Indonesia. Namun, saat ini belum diketahui apakah terdapat hubungan antara kecenderungan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, kepuasan, serta kepercayaan terhadap loyalitas pelanggan pada Zalora. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei terhadap mobile buyers dari aplikasi zalora. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa, kepuasan dan kepercayaan memiliki pengaruh positif terhadap loyalitas pelanggan E-Commerce Zalora. Kata Kunci: Kepercayaan, Kepuasan, Loyalitas,  Mobile Commerce, Zalora  Smartphones are becoming very important instruments in the business and marketing world today. The use of smartphones also trigger the growth of various mobile commerce (m-commerce) in Indonesia. This is because smartphones can be a means of advertising, promotion, and buying and selling transactions. One company that utilizes this is Zalora. Zalora is one of the m-commerce companies in the field of fashion with the highest visitors in Indonesia. However, it is not currently known whether there is a relationship between trends in use of information and communication technology, satisfaction, and trust in customer loyalty to Zalora. Data collection method used in this research is survey method to mobile buyers from zalora application. The data collected were analyzed by Structural Equation Modeling (SEM) analysis technique. The results of this study indicate that, satisfaction and trust have a positive influence on customer loyalty E-Commerce Zalora.
KONSTRUKSI MAKNA REPUTASI DIGITAL MELALUI PERSPEKTIF PENYIAR RADIO Maudia, Fasya; Hafiar, Hanny; Sani, Anwar
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.933 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1351

Abstract

Reputasi digital saat ini menjadi salah satu penilaian dalam jenjang karir penyiar radio di Kota Bandung. Agar mereka bisa bertahan di antara penyiar radio lainnya, mereka harus membentuk reputasi digital yang memengaruhi jenjang karir mereka. Ketika penyiar radio tidak aktif dalam menggunakan sosial media dan tidak membentuk reputasi digital, maka tidak akan bertahan di dunia broadcast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna reputasi digital, motif dalam membentuk reputasi digital, dan interaksi yang dilakukan oleh penyiar radio dalam membentuk reputasi digital. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan jenis studi fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna reputasi digital bagi penyiar radio dibagi menjadi dua. Pertama adalah yang berkenaan dengan diri penyiar radio sebagai individu atau self oriented dan yang kedua adalah makna reputasi digital yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan yaitu company oriented. Motif dalam membentuk reputasi digital dibagi menjadi dua, yaitu because motives dan in order to motives. Because motives diantaranya adalah latar belakang individu dan pengaruh lingkungan, sedangkan in order to motives yaitu tujuan penyiar radio dalam membentuk reputasi digital. Interaksi yang dilakukan oleh penyiar radio dapat dibagi menjadi dua yaitu yang berhubungan dengan antarpersonal sebagai individu dan yang kedua adalah interaksi yang didasari konteks profesi sebagai penyiar radio.Digital reputation has currently become one of the standards in a radio announcer’s carrier. They have to be capable to create a digital reputation that is able to influence their carrier, so that they are able to survive in between all the other radio announcers out there. When a radio announcer isn’t active in using social media and does not create a digital reputation, they will not be able to last in the broadcasting industry. The purpose of this study is to figure out the meaning of digital reputation, the motive behind the creation of a digital reputation, and the interaction that has been done by a radio announcer in order to create it. The theory used in this study is phenomenology theory. This study used the constructivism paradigm with the study’s concentration in phenomenology. The results in this study shown, that the meaning of digital reputation for a radio announcer has been divided into two. The first has a correlation between a radio announcer and themselves as an individual or self orientation and the second as a correlation between the radio announcer and company interests as being company orientated. Motives in creating digital reputations have also been divided in two, which are because motives and in order to motives. Because motives are individual backgrounds and environmental influences, while in order to motives are radio announcer’s aims in creating a digital reputation. There are two types of interactions that a radio announcer does and those are interpersonal relationships as individuals and interactions that are based on the profession’s context as a radio announcer.
TANTANGAN SOCIOPRENEURS YOGYAKARTA DI ERA COMMUNICATION 3.0 Purwani, Diah Ajeng; Partini, Partini; Wastutiningsih, Sri Peni
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1411.558 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1420

Abstract

Social enterprise pada dasarnya merupakan organisasi sosial yang mempunyai misi berkelanjutan, dimana para sociopreneurs menjadikan masalah sosial sebagai peluang untuk membantu masyarakat sekitarnya. Di Yogyakarta, aktivitas social entrepreneurship menunjukkan peningkatan setiap tahunnya terutama di kalangan anak muda. Saat ini tren usaha di bidang sosial bukan lagi sebuah keterpaksaan, tetapi menjadi pilihan bagi para pelakunya. Penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan studi kasus tentang sociopreneurs. Penelitian dilakukan untuk mengkaji  dan menganalisis tantangan yang dihadapi sociopreneurs Yogyakarta sebagai mitra pembangunan di era communication 3.0.Social enterprise is primarily a social organization that has a sustainable mission, where the social problems make sociopreneurs as an opportunity to help the surrounding community. In Yogyakarta, a social entrepreneurship activity shows an increase every year, especially among the young. Current efforts in the social field are no longer because of forced but became an option for the perpetrators. This research was conducted to review and analyze the challenges facing sociopreneurs Yogyakarta as partners of development in the era of communication 3.0.
ANALISIS AKTIVITAS HUBUNGAN MEDIA DALAM MANAJEMEN KRISIS DI PERGURUAN TINGGI Prastya, Narayana Mahendra
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.523 KB) | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1365

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas hubungan media yang dilakukan oleh Universitas Islam Indonesia, saat kejadian Tragedi Diksar Mapala UII. Kejadian tersebut merupakan krisis karena tidak diduga, terjadi secara mendadak, dan menimbulkan gangguan pada aktivitas dan citra organisasi. Hubungan media adalah salah satu aktivitas yang penting dalam manajemen krisis, karena media massa mampu mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap satu organisasi dalam krisis. Dalam situasi krisis sendiri, persepsi dapat menjadi lebih kuat daripada fakta. Batasan hubungan media dalam tulisan ini adalah dalam aspek penyediaan informasi yang terdiri dari : (1) kualitas narasumber organisasi dan (2) cara organisasi dalam membantu liputan media. Data penelitian ini diperoleh dengan mewawancarai wartawan dari media di Yogyakarta yang meliput Diksar Mapala UII. Hasilnya menunjukkan bahwa media membutuhkan narasumber pimpinan tertinggi universitas. Informasi yang diperoleh dari humas universitas dirasa masih kurang cukup. Dalam hal upaya organisasi membantu aktivitas liputan, UII dinilai masih kurang cepat dan kurang terbuka dalam memberikan informasi. The purpose of this article is to analyse the media relations activities by Islamic University of Indonesia (UII), related to crisis "Tragedi Diksar Mapala UII". This incident lead to crisis because it is unpredictable, happen suddenly, disturb the organizational activities, and make the organization's image being at risk. Media relations is one important activites in crisis management. It is because mass media could affect the public perception toward an organization. In crisis situation, perception could be stronger than the fact. The limitation of media relations in this article are information subsidies. Information subsidies consist of : (1) the quality of news sources that provided by the organization, and (2) how organization facilitate the news gathering process by the media. The data for this article is being collected from interview with journalist from the mass media in Yogyakarta. The results are media want the top management of the universities as the news sources. The information that being provided by public relations is not enough. The university also lack of quickness and lack of openess.
E-GOVERNMENT SEBAGAI LAYANAN KOMUNIKASI PEMERINTAH KOTA SURABAYA (Studi Kematangan e-government Sebagai Layanan Komunikasi Government to Government, Government to Citizen, Government to Business) Noveriyanto, Baharudin; Nisa, Laila Chairun; Bahtiar, Achmad Sofian; Sahri, Sahri; Irwansyah, Irwansyah
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v11i1.1371

Abstract

Fenomena  pergeseran media komunikasi kearah IoT (Internet of Things) sebagai salah satu model komunikasi saat ini harus disikapi positif oleh pemerintah daerah untuk bisa berinovasi  untuk meningkatkan performance organisation management and public service improvement. e-government adalah sebuah bentuk media komunikasi, dimana media didefinisikan sebagai “The Extension of Man” (media itu perluasan manusia). Dengan menggunakan metode deskriptif analisis dan studi literature dengan focus penelitian pada Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Surabaya selaku pemegang amanat untuk  mengelola informasi dan dokumentasi teknologi informasi di lingkungan pemerintahan Kota Surabaya sesuai dengan keputusan Walikota Surabaya Nomor: 188.45/24/436.1.2/2015. menghasilkan tingkat kematangan e-government di Kota Surabaya telah memenuhi pemeringkatan pada level 4. Sehingga sudut pandang ilmu komunikasi mengatakan, tingkat kematangan layanan e-governemen sebagai media komunikasi government to government, government to citizen, government to business. dimana media adalah “The Extension of Man”, Dengan tujuan kemudahan dalam melakukan komunikasi maka layanan e-government diharapkan dapat menjadi media komunikasi untuk mempercepat pertukaran informasi, menyediakan sarana layanan dan kegiatan transaksi dengan warga masyarakat (G2C), kepada pelaku bisnis (G2B), dan tentunya dengan pihak pemerintah sendiri (G2G)The phenomenon of communication media shift towards IoT (Internet of Things) as one of the current communication model must be responded positively by local government to be able to innovate to improve organizatin management and public service improvement performance. e-government is a form of communication media, in which the media is defined as "The Extension of Man" (the medium is human extension). By using descriptive method of analysis and literature study with focus of research at Surabaya City Communications and Informatics Office as the holder of the mandate to manage information and documentation of information technology in Surabaya city government in accordance with the decision of Mayor of Surabaya Number 188.45 / 24 / 436.1.2 / 2015. resulted in the maturity level of e-government in the city of Surabaya has fulfilled the ranking at level 4. So the perspective of communication science said, the maturity level of e-governemen service as a medium of communication between government to government, government to citizen, government to business. where the media is "The Extension of Man", With the purpose of ease of communication, e-government services are expected to become a medium of communication to accelerate the exchange of information, provide facilities and activities of transactions with citizens (G2C), to the business (G2B) , and certainly with the government itself (G2G)

Page 1 of 1 | Total Record : 9