SAWERIGADING
ISSN : 25278762     EISSN : 25278762
SAWERIGADING is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. All articles in SAWERIGADING have passed reviewing process by peer reviewers and edited by editors. SAWERIGADING is published by Balai Bahasa Sulawesi Selatan twice times a year, in June and December.
Articles 332 Documents
STRUCTURAL TYPOLOGY IN MAKASSARESE FOLKTALES (Tipologi Struktural dalam Dongeng Makassar) Fajrin R, Hasina
SAWERIGADING Vol 23, No 1 (2017): Sawerigading, Edisi Juni 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.621 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v23i1.177

Abstract

Makassar folktales, one of local indigenous in South Sulawesi need to preserve and to study in order to maintain its existence. One way to analyze the folktales is using Alan Dundes theory. Dundes proposes motifeme sequences like lack, lack liquidated, deceit, deception, task, task accomplished, interdiction, violation, consequences, and attempted escape to describe the structural typology of the folktales. The writing is library research and applies descriptive qualitative method that relies on linguistic and employing meaning based of data analysis, whilst, the object is Rupama, a book written by Zainuddin Hakim. After analyzing it, the writer finds that the shortest structure of motifeme consists of lack (L) and lack liquidated (LL). Furthermore, folktales also represent that Makassar people believe that evil deed is always punished directly or indirectly. One interesting thing after analyzing the sequences, the attempted escape motifeme is only found once in the folktale. It shows that Makassar people prefer to face the problem frontally.            
PENGUASAAN BUDAYA INDONESIA DALAM TULISAN IMAJINATIF (STUDI KASUS SISWA DI SACRED HEART GIRLS COLLEGE, AUSTRALIA) (Mastering Indonesian Culture in Imaginative Writing (Student Case Study in the Sacred Heart Girls College, Australia)) Riana, Derri Ris
SAWERIGADING Vol 24, No 2 (2018): Sawerigading, Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.713 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v24i2.508

Abstract

Learning Indonesian culture and Indonesia language for forigners (BIPA) is quite closely related. However, there have been many researches regarding cultural mastery of BIPA students in imaginative writing. By using literary anthropological method supported by Kroeber and Kluckhohn, this research aims to reveal Indonesian cultural images in imaginative writing of BIPA students in Sacred Heart Girls College and the connection between Indonesian cultural mastery and the complete of the story. The result shows the category of Indonesian culture in sixth imaginative writings, are normative behavior (“Berubah Menjadi Tikus” and “Sesuatu di Balik Bantal”), custom (“Burung Toti” dan “Lima Hari”), history on social heritage and tradition (“Blangkon”), psychology, arrangement (“Sesuatu di Balik Bantal”), and psychology, learning (“Terlewat Perjalanan dari Bantal”). Indonesian cultural mastery and the complete elements of story are interrelated. If culture footing is good, the story will be complete. The incompleteness of a story is seen from the unwell conveyed description, character, and culture shows their lack of understanding of Indonesian culture.AbstrakPemahaman budaya Indonesia dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA) cukup erat kaitannya. Akan tetapi, belum banyak penelitian tentang penguasaan budaya pemelajar BIPA dalam tulisan imajinatif. Dengan menggunakan metode antropologi sastra yang didukung oleh pendekatan budaya dari Kroeber dan Kluckhohn, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap gambaran budaya Indonesia dalam tulisan imajinatif pemelajar BIPA di Sacred Heart Girls College dan keterkaitan antara penguasaan budaya Indonesia dan kelengkapan unsur-unsur cerita. Hasil penelitian menggambarkan kategori budaya Indonesia dalam keenam cerita, yaitu perilaku normatif (“Berubah Menjadi Tikus” dan “Sesuatu di Balik Bantal”), kebiasaan (“Burung Toti” dan “Lima Hari”), sejarah pada warisan sosial dan tradisi (cerita “Blangkon”), psikologi, pengaturan (cerita “Sesuatu di Balik Bantal”), psikologi, dan pembelajaran (cerita “Terlewat Perjalanan dari Bantal”). Penguasaan budaya Indonesia dan kelengkapan unsur-unsur cerita saling terkait. Jika pijakan budaya tidak kuat, cerita yang disampaikan tidak utuh. Ketidaklengkapan cerita itu terlihat pada penyampaian latar tempat dan tokoh, serta budaya yang tidak detail sehingga menunjukkan kekurangpekaan budaya Indonesia.
ANALISIS TOKOH DALAM NOVEL PARA PRIYAYI KARYA UMAR KAYAM Sabriah, NFN
SAWERIGADING Vol 19, No 1 (2013): SAWERIGADING, Edisi April 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.033 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v19i1.420

Abstract

The novel Para Priyayi by Umar Kayam is a novel that shows the differences in social status. This differenceis caused by the level of status in the society, particularly the Javanese community. This novel is analyzedonly a small fraction, namely the dominant figure in this story. Another figure who has not been touchedupon, although its presence is to support the integrity of the story. Using structural descriptive methodsupported by primary and secondary data collection technique. The purpose of this study is to describethe role of the main and other characters in developing this story; and it is expected to increase theappreciation of literature and to be used for comparison in subsequent literature research. In addition, itis also expected to increase the interest in reading for literature lovers. AbstrakNovel Para Priyayi karya Umar Kayam merupakan novel yang memperlihatkan perbedaan status sosial.Perbedaan ini disebabkan oleh adanya tingkatan status dalam masyarakat, khususnya masyarakat Jawa.Novel ini dianalisis hanya sebagian kecil saja, yaitu bagian tokoh yang dominan dalam cerita ini. Tokohyang lain belum disinggung walaupun kehadirannya sangat menunjang keutuhan cerita. Di dalam tulisanini digunakan metode deskriptif struktural, dengan menggunakan teknik pengumpulan data primer dansekunder. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan peran tokoh utama dan tokoh lainnya yang membanguncerita serta diharapkan dapat meningkatkan daya apresiasi terhadap karya sastra dan dijadikan sebagaibandingan dalam melakukan penelitian sastra berikutnya. Selain itu, diharapkan pula dapat meningkatkanminat baca para pencinta karya sastra.
AMBIGUITAS DALAM BAHASA BUGIS DIALEK SOPPENG: SUATU TINJAUAN SEMANTIK Gising, Basrah
SAWERIGADING Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1284.524 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i1.341

Abstract

This article concerns with the usage of the ambiguity in Buginese, especially for the Buginese language of Soppengdialects.The research shows that the ambiguity is trend to use by the speaker with many purposes: the language values thatis stated in his mental image. Euphemism is another way to keep this language values to avoid forbidden or taboo. Thus,the speaker always tries to keep the feeling of his audience by bringing his concept or the audience cognition to theacceptable meaning or meaning domain that is accepted by the two parts. The research uses descriptive qualitative methodscombined with the semantics perspective to interpret surface structure (language) on to the deep structure (the meaning ofthe meaning) that is actualized by phonemes, morpheme, and sentences. AbstrakMakalah ini berkenaan dengan masalah ambiguitas, khususnya bahasa Bugis Dialek Soppeng. Hasilpenelitian menunjukkan, bahwa ambiguitas cenderung digunakan oleh penutur dalam berbagai tujuan,terutama berkaitan dengan nilai bahasa yang tersimpan di dalam mental imaginasinya. Penggunaaneufimisme merupakan cara lain untuk tetap menjaga nilai bahasa tersebut dalam rangka menghindari hal-hal yang dilarang atau sifatnya taboo. Dengan demikian, penutur selalu mencoba menjaga perasaanlawan tutur dengan cara membawa konsep atau koginisi audiensnya ke arah berterima atau kearahdomain arti yang berterima dari kedua belah pihak. Penelitian makalah ini menggunakan metodedeskriptif kualitatif dipadu dengan pendekatan semantik untuk menginterpretasi struktur permukaan(bahasa) kedalam struktur dalam (arti) yang diaktualisasikan melalui fonem, kata, frase dan kalimat.
PERLAWANAN EMPAT TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GARIS PEREMPUAN KARYA SANIE B. KUNCORO TERHADAP KONSTRUKSI SEKSUALITAS DAN SUBJEKTIVITAS PEREMPUAN DALAM BUDAYA PATRIARKI (The Opposition of Four Women in Novel Garis Perempuan by Sanie B. Kuncoro toward Sexuality Construction and Women Subjectivity in Patriarchy Culture) Kurnianto, Ery Agus
SAWERIGADING Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.717 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v23i2.170

Abstract

The struggle of four women, Ranting, Gendhing, Tawangsri, and Zhang Mey is interesting to be analyzed, particularly by using feminist point of view which has duty to speak out the struggle of women and encourage the women to become themselves. The primary data of this research is “Garis Perempuan”, a novel by Sanie B.Kuncoro. Descriptive-qualitative method is used to analyze the data by using radical feminist approach. Based on the discussion result, it can be concluded that the four women have a hard and brave character to take all risks and to become themselves. At first, they were subordinated by men. However, they eventually became brave and strong to be dominant. In the end of the story, the life chosen by those four women in the novel points out that sexual construction and women subjectivity in dominating patriarchy culture can be broken by women superiority of their body and beauty. AbstrakPerjuangan empat tokoh perempuan, Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey, menjadi dirinya sendiri menarik untuk dikaji dengan menggunakan sudut pandang feminis yang memang memiliki tugas menyuarakan perjuangan kaum perempuan. Data primer penelitian ini adalah novel Garis Perempuan karya Sanie B. Kuncoro. Metode deskriptif-kualitatif digunakan untuk menganalisis data melalui pendekatan atau acuan teori feminis radikal. Beradasarkan hasil pembahasan, disimpulkan bahwa keempat tokoh perempuan yang dikaji memiliki karakter yang keras dan berani mengambil seluruh risiko untuk menjadi dirinya sendiri. Awalnya mereka menyandang karakter perempuan tersubordinasi oleh kaum laki-laki. Namun, di tengah perjalanan hidup mereka pada akhirnya memiliki keberanian dan kekuatan untuk mendominasi atas dirinya sendiri. Pilihan hidup yang dipilih oleh keempat tokoh perempuan dalam novel ini di akhir cerita menyiratkan konstruksi seksualitas dan subyektifitas perempuan dalam dominasi kultur patriarki dapat terpatahkan oleh superioritas perempuan atas kepemilikan tubuh dan kecantikannya.
PENGGUNAAN KOSAKATA ASING DALAM CERPEN BERBAHASA INDONESIA Purwiati, Ida Ayu Mirah
SAWERIGADING Vol 17, No 3 (2011): Sawerigading, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2225.225 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i3.388

Abstract

Foreign words in the usage of Indonesian language on Tower short story was analysed in order to describe the interference and the integration by observation method and notation technique. The foriegn words were English words, such as, root words, affixed words, combined words, and idioms. Those English words were interference caused by having expression which may mess up the structure of Indonesian language, for example shut up 'diam'. Althugh its expression was cathegoriyed as interference, it is considered as integrative. Abstrak Kosakata asing dalam penggunaan bahasa Indonesia pada kumpulan cerpen Tower dikaji dengan tujuan untuk mendeskripsikan interferensi dan integrasi dengan metode observasi dan teknik catat. Kosakata asing itu adalah kosakata Inggris berupa kata dasar, kata berimbuhan, gabungan kata, dan ungkapan. Kosakata Inggris itu bersifat interferensi karena sudah ada pengungkapnya dalam bahasa Indonesia sehingga penggunaannya mengacaukan struktur bahasa Indonesia, misalnya shut up 'diam'. Sekalipun demikian, hal itu dapat dikategorikan sebagai integrasi.
ALTERNATIF PENGEMBANGAN AKSARA LONTARA ( Alternative Way of Developing Aksara Lontara ) Ahmad, Abd. Aziz
SAWERIGADING Vol 15, No 2 (2009): Sawerigading
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4502.414 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v15i2.56

Abstract

AbstractIt has been recognized that the development of “Aksara Lontara” isunsatisfactory, especially in facilitating the punctuation needed to spell the soundof aksara Lontara. Expressing culture through an understanding of locallanguage orthography may give contribution to the connection history of ournation in the past and the present time.The aksara Lontara is used for severalfunctions, such as writing religion book, names of street/road, name plates, andmany others. However, people find difficulties in reading such a spelling ofaksara Lontara. Therefore, punctuation as a sign of consonants for aksaraLontara is required to be developed.In this article, five signs of consonants foraksara Lontara are proposed. They are “o”, “x”, and “Ö” above the letter, “_”below the letter, and the letter written in smaller font, as in m into “m” whichsounds “m”. 
PROFIL PENGUASAN BAHASA KOMBAI Aritonang, Buha
SAWERIGADING Vol 17, No 2 (2011): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1539.573 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i2.369

Abstract

Kombai language is spoken by Kombai ethnic in Kombai village, Kouh, Boven Digoul, West Papua. This research isan associative research and the objective of this research is to determine the relationship between independent anddependent variables. In this case, it contents of the relationship between Kombai respondents characteristic and masteryof Kombai language. Independent variables consist offour parts, gender variables (X1), age groups (X2), educationallevels (X3), and occupation (X4). Dependent variable is mastery of Kombai language. This research uses descriptiveand Crosstabs analysis that determine the relationship and closeness of independent and dependent variables. Theresult of four hypotheses, it can be concluded that there is not a relationship between X1, X2, X4 and Y. Meanwhile,there is a relationship between X3 and Y. The closeness of the variables [(X1 and Y), (X2 and Y), (X3 and Y),and (X4 and Y)] are weak and grades of variables are not more than 1. AbstrakBahasa Kombai dituturkan oleh suku Kombai di Kampung Kombai, Kouh, Boven Digoul, PapuaBarat. Penelitian ini adalah penelitian asosiatif dan tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubunganantara variabel independen dan dependen. Dalam hal ini, penelitian ini menitikberatkan hubunganantara karakteristik responden Kombai dan penguasaan bahasa Kombai. Variabel independen terdiriatas empat bagian, yaitu jenis kelamin (X1), kelompok usia (X2), tingkat pendidikan (X3), danpekerjaan (X4). Sementara itu, varibel dependen adalah penguasaan bahasa Kombai (Y). Penelitianini menggunakan analisis deskriptif dan Crosstabs untuk mengetahui hubungan dan keeratan variabelindependen dan dependen. Hasil empat hipotesis menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan antaravariabel X1, X2, X4 dan Y. Sementara itu, ada hubungan antara X3 dan Y. Keeratan variabeltersebut [(X1 and Y), (X2 and Y), (X3 and Y), and (X4 and Y)] lemah dan nilai variabelnya di bawahangka 1.
SISTEM DERIVASI DALAM BAHASA MUNA Fatinah, Siti
SAWERIGADING Vol 19, No 2 (2013): SAWERIGADING, Edisi Agustus 2013
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.374 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v19i2.438

Abstract

The paper is to describe the derivation system in Muna language. The method applied in collecting data is listening method by using tapping, simak libat cakap (the writer involves in the conversation of the object), simak bebas libat cakap (the writer does not involve), and noting technique. The method applied in analyzing is the intralingual matching with comparative technique for the similarity and differentiation. After analyzing, the data is showed in formal and informal method. The result shows that the derivational system in Muna language is affixation on the base form. The derivational affixes function to form the verb from noun and adjective, to form noun from verb and adjective, and numeralfrom noun. Derivational affixes of Muna language thatfunctions to form the verb are six, i.e. prefix me-, ne-, po-, ko-, feka-, and noko-; for noun, the derivational prefixes are (ka-, ni-, manso-, and kafo-) and circumfixes are (me-no, mo-no, kae-ha), and only one derivational affix forms numerals, prefix se-. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem derivasi dalam bahasa Muna. Metode yang digunakan dalam penyediaan data adalah metode simak dengan teknik sadap, teknik simak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, dan teknik catat. Dalam analisis data digunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan dan hubung banding membedakan. Setelah dianalisis, data itu disajikan dengan menggunakan metode formal dan metode informal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem derivasi dalam bahasa Muna berupa pembubuhan afiks derivasi pada bentuk dasar. Afiks derivasi tersebut berfungsi membentuk verba dari dasar nomina dan adjektiva, nomina dari dasar verba dan adjektiva, serta numeralia dari dasar nomina. Afiks derivasi bahasa Muna yang berfungsi membentuk verba ada enam, yaitu prefiks me-, ne-, po-, ko-, feka-, dan noko-; afiks derivasi yang menurunkan nomina adalah prefiks, simulfiks, dan konfiks, yaitu prefiks ka-, ni-, manso-, kafo-, dan simulfiks me-no, serta konfiks mo-no dan kae-ha; dan afiks derivasi yang membentuk numeralia hanya satu, yakni prefiks se-. 
KEMANDIRIAN BUDAYA SEBAGAI KEKUATAN BANGSA SEBUAH KAJIAN TERHADAP NOVEL AYU MANDA Hakim, Zainuddin; Untoro, Ratun
SAWERIGADING Vol 17, No 1 (2011): Sawerigading, Edisi April 2011
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1427.585 KB) | DOI: 10.26499/sawer.v17i1.355

Abstract

Culture is society's concrete identity of the nation. Culture's firmness certainly will strengthen the nation. Theinfluence of globalisation era that can be denied must be adlmitted to take part in decreasing cultural parts oflife. When regional culture is weak to face foreigner culture's attack, local identity will decrease even willundlermine the identity of society who supports it. Next problem is the disbelief towards his/her own culturethat can make the lost of the independence. It almost must be hard wave that make the confient andindependence of nation sunk. We will be the nation that always rely on other nation who brings new culture.Finally, the strength of foreign culture will shake the governance. Therefore, the independence of regional cultureneeds to be empowered as part of national culture, as an identity, and national identity that will be steered bythe nation it self. Thus, strategy of culture is needed. AbstrakGencarnya arus globalisasi harus diakui turut menerjang sendi-sendi kehidupan kebudayaan.Ketika titik-titik kebudayaan daerah rapuh oleh terjangan budaya asing, identitas kelokalanakan menipis bahkan akan menggerogoti jati diri masyarakat pendukungnya. Tahapselanjutnya adalah ketidakpercayaan atas budaya sendiri hingga hilanglah kemandirian itu.Akhirnya, kekuatan budaya asing akan menggoyahkan tata kehidupan berbangsa danbernegara. Oleh karena itu, perlu ada upaya penguatan kemandirian budaya daerah sebagaibagian dari kebudayaan nasional, sebagai jati diri, dan identitas bangsa yang akan berhilir padabangsa yang mandiri. Penelitian ini mendedahkan novel yang menceritakan kekuatankemandirian budaya Bali, yaitu Ayu Manda. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitianini adalah deskriptif kualitatif melalui studi pustaka. Penelitian ini bertujuan mengungkapkekuatan budaya daerah atas desakan budaya Barat sekaligus menunjukkan kekuatan budayadaerah sebagai kekuatan jati diri dan identitas bangsa.

Page 1 of 34 | Total Record : 332