cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa (Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan)
ISSN : 02159171     EISSN : 25281089     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Widyaparwa merupakan media publikasi dan komunikasi hasil penelitian kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah di Indonesia yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Widyaparwa terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 142 Documents
ANALISIS PENGGUNAAN HURUF KANA OLEH MAHASISWA BAHASA JEPANG PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS HASANUDDIN Imelda, Imelda
Widyaparwa Vol 42, No 2 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1922.677 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i2.96

Abstract

Kemampuan menulis merupakan kompetensi awal yang diajarkan kepada mahasiswa baru bahasa Jepang. Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian serius dalam pembelajaran Bahasa Jepang dasar, menengah, hingga kompetensi tingkat lanjutan. Meskipun demikian, belum ada penelitian-penelitian yang berbasis language aquisation di Program Studi Sastra Jepang menjadi salah satu input untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam menulis huruf Jepang. Penelitian ini berbasis kualitatif deskriptif dengan menggunakan 20 responden mahasiswa tingkat I, II, dan III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat I, dan tingkat III lebih cenderung banyak menggunakan huruf hiragana dibanding huruf katakana, sehingga tidak banyak terjadi kesalahan dalam penulisan katakann, sedangkan mahasiswa tingkat II lebih banyak mengeksplor kemampuan menggunakan katakana disusul dengan mahasiswa tingkat L Hal ini disebabkan karena mahasiswa tingkat I dan tingkat II masih menempuh perkuliahan Menulis, sedangkan mahasiswa tingkat III sudah tidak ada perkuliahan tentang menulis kana. Di samping itu, ada beberapa huruf kana yang cenderung di tulis tidak tepat dan bahkan bertukar, seperti huruf hiraganayang ditulis menjadi huruf katakanadan huruf katakana untuk huruf. Penulisan yang tidak tepat berpotensi menjadi error jika pembelajar tidak diberi input oleh pengajar. Hal itu, selain bentuknya yang berubah, juga dapat mengubah arti kata itu sendiri atau bahkan tidak berarti apa-apa. Writing competency is initial competency that is taught to new Japanese university student. Therefore, it should be given serious attention in basic Japanese, intermediate, until advanced level competency. However, there has not been a research on basis of language acquisition in Japanese literature Study program ns one of inputs to acknowledge Japanese writing student competency. This research is based on descriptive qualitative with 20 student respondents of level I, II, and III. The results shows that students of level I and level III Are more likely to use hiragana than katakana, so that there is not much mistake in writing katakana, while students of level II are more likely to explore the ability of using katakana, followed by the students of level I. This is because the students of level I and level II are still taking Writing lecture, while the students of level III have not had kana writing lecture anymore. Besides, there are some kana letters that tend to be written incorrectly and more were exchange, such ashiragana is written intoand forkatakana letter. Incorrect writing potentially becomes error if the students are not given input by the teacher. Thus, beside of the change of form, it also can change the meaning of the word itself or more over it does not mean anything.
WACANA NOVEL DALAM BAHASA JAWA: KAJIAN POLA-POLA SUPERSTRUKTUR setiyanto, Edi
Widyaparwa Vol 39, No 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1917.901 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v39i1.24

Abstract

Kajian ini bertujuan merumuskan pola-pola superstruktur novel dalam bahasa Jawa. Kajian ini dipandang perlu untuk (1) inventarisasi pola-pola superstruktur novel Jawa dan (2) dasar perumusan keunikan pola sebagai cermin kespesifikan pola pikir masyarakat Jawa. Kajian ini menggunakan teori struktural. Novel dipahami sebagai wacana yang tersusun dari dua unsur, yaitu (1) pesan atau isi yang berupa rangkaian peristiwa dan (2) hal ada (existent), yaitu fakta-fakta di luar peristiwa (karakter dan latar). Sebagai struktur, novel terorganisasi secara linear (mikro dan makrostruktur) serta hierarkis (superstruktur). Penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Analisis memanfaatkan kaidah makro yang berupa pelesapan, perampatan, dan pengonstruksian. Data kajian berupa enam novel dalam bahasa Jawa yang terbit dalam kurun waktu 19552008. Berdasarkan data, diperoleh tiga pola superstruktur, yaitu (1) alur tunggal lurus, (2) alur tunggal bolak-balik, dan (3) alur ganda bolak-balik.This study is meant to formulate the pattern of superstructure in the Javanese novels. This study is considerably required for in order to (1) make an inventory of the pattern of superstructure in the Javanese novels and (2) outline an underlying formula of the Javanese novels distinctive patterns as the mirror of specificity of the Javaneses ways of thinking. This study applies structural theory. ln this case, the novel is viewed as discourse that consists of two elements, i.e. (1) the message or content in the series of events and (2) the existent, i.e. the facts outside the events (the characters and settings). As for the structure, novel is arranged in linear (micro- and macrostructure) and hierarchical (superstructure) organizations. This is a qualitative descriptive rcsearch. The analysis utilizes "macro rules" as in the forms of ellipsis, generalization and construction. As for the data, this research employs six Javanese novels that appeared in the ranges of time 1955-2008. The data shows three patterns of superstructures, i.e. (1) straight singleplot, (2) back and forth single-plot, and (3) back and forth dauble-plot.
Kajian Struktural Wanda Wayang Durga dalam Perspekstif Cerita Pewayangan Sudamala dan Budaya Jawa (Structural Study of Wanda Wayang Durga in Perspective of Sudamala Puppet Story and Javanese Culture) Setiawan, Restu Budi; Widodo, Sahid Teguh; Suyitno, Suyitno
Widyaparwa Vol 46, No 1 (2018)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.85 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v46i1.161

Abstract

Artikel ini mengupas makna dari wanda wayang Durga gagrag Surakarta dalam perspektif cerita pewayanganSudamala dan kebudayaan Jawa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan strukturalisme semiotik model Levi Strauss yang menjelaskan suatu obyek kajian secara struktural melalui dari dua sisi yaitu struktur luar yang dikenal dengan istilah surface structure dan struktur dalam  yang dikenal dengan istilah deep structure. Objek material dari penelitian ini ialah sosok Durga yang terdapat dalam berbagai macam wanda tersebut di atas. Objek formal penelitian ini ialah sebuah kajian struktural. Data dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data, yakni data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini ialah dokumen wanda wayang tokoh Durga, sedangkan data sekundernya adalah wawancara dan studi pustaka. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi empat tahap, yakni tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Temuan yang terdapat dalam penelitian ini di antaranya ialah berbagai macam wanda wayang tokoh Durga dalam pewayangan gaya Surakarta yang di antaranya ialah Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, wanda reca, wanda ngerik, wanda ratu, dan wanda wewe.This article describes and explains about the meaning of wanda wayang Durga gagrag Surakarta on Javanese culture perspective. The approach used on this research is Levi-Strauss structuralism-semiotic approach that explains the object structurally through two sides, namely outside structure or surface-structure and inside structure or deep-structure. Material object of this research is the figure of Durga from many kinds of wanda. The formal object of this research is structural analysis. The data of this research consist of two types of data, namely primary and secondary data.  Primary data in this research document wanda wayang of Durga figure, while secondary data are interview document and literature review. The data analysis technique on this research consists of four phases that are data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. The findings show various wanda wayang of Durga figures in Surakarta style puppet show, namely Durga wanda belis, wanda gedrug, wanda gidrah, wanda murgan, wanda surak, wanda reca, wanda ngerik, wanda ratu, and wanda wewe.
MELAYU JAWA DAN JAWA MELAYU: SEBUAH DINAMIKA SASTRA TANPA HENTI Widati, Sri
Widyaparwa Vol 38, No 2 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1883.312 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i2.15

Abstract

Sastra dari luar, misalnya dari India, Persia, dan Cina telah lama masuk ke ranah sastra Indonesia, bahkan juga menjadi bagian dari sastra Jawa, misalnya Mahabarata, Ramayana, dan Baratayudha (dari India), Menak, Ambiya, Yusup dari Persia, serta Sam Pek Eng Tai dan Sin Jin Kui dari Cina. Kehadiran (naskah-naskah) sastra tersebut dilakukan melalui perpindahan penduduk ke luar daerah asalnya (migrasi) sambil membawa serpihan kekayaan budaya mereka. Di negeri singgahnya, biasanya, mereka beradaptasi dengan saling menunjukkan kebudayaan masing-masing, yang selanjutnya teradaptasi di negeri baru itu. Perjalanan budaya semacam itu dapat terjadi juga pada abad modern ini, misalnya kehadiran guritan karya Noriah Muhammed dan puisi karya Si Zainon Ismail (keduanya dari Malaysia). Perpindahan sastra Jawa (dan Indonesia) keluar negerinya juga melalui perpindahan penduduk atau migrasi, tetapi ada perbedaan pada latar belakang yang mendasarinya karena kondisi dan konsep bernegara masa kini lebih bersistem, yang tidak memungkinkan migrasi secara mudah, dan atau mengajarkan kebudayaan negeri asal secara bebas pula.Literature, such as fronr India, Persia nnd China hed entered to Indonesian literature for long time, even, had become parts of Javannese literature like in Mahabarata, Ramayana, and Baratayudha (from lndia), Menak, Ambiya, Yusuf from Persia and Sam Pek Eng Tai and Sin Jin Kui from Cina. The existence of literature (texts) occurred by the move of inhabitants out from their origins by bringing parts of their culture. In their movement, the inhabitants usually stopped over in countries and had adaptation to local culture. Theiir culture, then, were adapted in the countries they visited. Those cultural phenomena also occurred in literary works in this modern era, like guritan by Noriah Muhammed and poems by Si Zainon lsmail (from Malaysia). Migration of Javanese (and Indonesian) literature out of country occurred through people migration, but there was diffirence on its fundamental background for contemporary condition and governnnce concept that is more systematic. lt does not allow easy migration or not allow teaching tlrc origin culture freely.
EKSPRESI ESTETIK POSMODERNIS DALAM MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN KARYA AFRIZAL MALNA (POSTMODERNIST AESTHETIC EXPRESSION IN AFRIZAL MALNAS MUSEUM PENGHANCUR DOKUMEN) Suyatno, Suyono
Widyaparwa Vol 45, No 2 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.068 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i2.152

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap jenis ekspresi estetik posmodernis dalam kumpulan sajak Afrizal Malna Museum Penghancur Dokumen. Masalah yang dibahas adalah jenis-jenis ekspresi estetik posmodernis dan jenis ekspresi estetik posmodernis yang dominan dalam Museum Penghancur Dokumen karya Afrizal Malna tersebut. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori posmodernisme. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa skizofrenia merupakan jenis ekspresi estetik posmodernis yang dominan dalam Museum Penghancur Dokumen; selain itu, juga terdapat pastiche dan parodi. Simpulan penelitian ini adalah dominannya skizofrenia secara langsung dan tidak langsung merefleksikan kondisi sosiokultural dan politis masyarakat yang secara umum tengah mengidap skizofrenia, yakni kepribadian terbelah dengan orientasi ganda.This research aims to reveal the type of postmodernist aesthetic expression in the poems anthology by Afrizal Malna, Museum Penghancur Dokumen. The problem discussed are the types of postmodernist aesthetic expression contained in Museum Penghancur Dokumen and the dominant type of posmodernist aesthetic expression in AfrizalMalna's poem. The theory used in this research is postmodernism theory. The method uses qualitative method with hermeneutic approach. The result shows that schizophrenia is a dominant type of postmodernist aesthetic expression in Museum Penghancur Dokumen; besides, there are also pastiche and parody. The conclusion shows that the dominance of schizophrenia directly and indirectly reflects socio cultural and political condition of society who commonly suffered from schizophrenia, a split personality with doubled orientation.
CERPEN 'GENDHIS" KARYA ABIDAH EL KHALIQY DALAM PERSPEKTIF TINDAKAN KOMUNIKATIF HABERMAS Kusumawati, Aning Ayu
Widyaparwa Vol 40, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2820.382 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v40i1.51

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeksripsikan tindakan komunikasi yang ditampilkan oleh Abidah El Khalieqy dalam cerpen "Gendhis" dan sejauh mana tindakan komunikasi dalam cerpen "Gendhis" berdasarkan pada teori tindakan komunikasi Habermas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian menggunakan analisis teks (discourse analysis), yaitu menganalisis cerpen "Gendhis" untuk mengetahui isi dan makna yang terkandung dalam teks dengan teori komunikasi Habermas. Hasil penelitian rnenunjukan bahwa tindakan komunikasi dalam cerpen "Gendhis" memunculkan beberapa aspek, yaitu aspek dominasi, aspek emosi (kemarahan), dan aspek kekerasan. Adapun empat klaim, yaitu kejelasan (comprehensibility), kebenaran (truth), kejujuran (sincerity), dan keadilan (rightness) yang diajukan oleh Habermas ada dalam diri Gendhis, tokoh utama dalam cerpen tersebut, sedangkan tokoh Pak Lurah jauh dari harapan teori tindakan komunikasi Habermas. This research aims to describe communication act as presented bv Abidah El Khalieqy in her short story "Gendhis" and to understand how far the communication act works according to Habermas theory of communication act. This research used descriptive method that is fact searching use proper interpretation. Discourse analysis was used in analyzing "Gendhis" to reveal content and meaning of the work by Habermas' communication theory. The result shows that communication text in "Gendhis" short story contain some aspects, such as domination, emotion, and violence. Otherwise, four claims like comprehensibility, truth, sincerity, and rightness proposed by Habermas works in Gendhis herself, the main character in the short story, but do not work in character of Pak Lurah.
PROBLEMATIKA PELAKSANAAN KEBIJAKAN PENYIARAN PROGRAMA 4 RRI UNTUK PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH Darmanto, Darmanto
Widyaparwa Vol 42, No 1 (2014)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3276.868 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v42i1.86

Abstract

Guna memperkuat eksistensi budaya lokal, termasuk untuk pemertahanan bahasa daerah, Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) telah merevisi kebijakan penyiaran Programa 4 sebagai saluran khusus budaya yang dikeluarkan tahun 2007. Dalam kebijakan baru tahun 2013, penggunaan bahasa daerah diperbanyak. Studi ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan berkenaan dengan macam problematika yang dihadapi dalam pelaksanaan kebijakan penyiaran Pro 4, khususnya sebagai satu bentuk upaya pemertahanan bahasa daerah. Mengacu pada teori implementasi kebijakan dan penggunaan metode triangulasi dalam proses pengumpulan data, diperoleh simpulan bahwa pada level pelaksanaannya, kebijakan penyiaran Pro 4 menghadapi sejumlah problematik yang dapat dibedakan menjadi dua. Problematik pertama berasal dari lingkungan luar RRI yang solusinya harus datang dari kemauan politik negara. Problematik kedua berasal dari lingkungan dalam RRI, baik bersifat struktural maupun kultural. Persoalan struktural menyangkut hubungan antara Dewan Pengawas dan Dewan Direksi LPP RRI selaku pembuat kebijakan dengan pihak pelaksana. Persoalan kultural disebabkan oleh iklim kerja yang dibangun pada era Orde Baru sebagai lembaga birokrasi, bukan lembaga media massa yang harus profesional dan independen. To strengthen local culture existence, including local language maintenance, Indonesia Republic Radio Public Broadcasting Institution (LPP RRI) has reaised program 4 broadcasting policy as special channel for culture that has been released since 2007. The new policy in 2013 states that the use of local language had been added. The study is conducted to answer question regarding to various problems in implementation of Pro 4 broadcasting policy, particularly as a way to maintain local language. Referring to policy implementation theory by using triangulation method in process of data collection, it can be concluded that in the level of its implementation, Pro broadcasting policy has faced some problematic matters, which can be differentiated into two. The first problem from RRI outside environment and solution for this problem should come from state political will. The second problem is inside RRI environment structurally as well as culturally. Structural problem involves relation between Supervision Board and Director Board LPP RRI as policy maker and doer party. Meanwhile, cultural problem is caused by working climate that is built in New Era as bureaucratic institution, not as mass media institution that should be professional and independent.
BAHASA SENSASIONAL DALAM PEMBERITAAN MEDIA (SENSATIONAL LANGUAGE IN MEDIA REPORTING) Poentarie, Emmy
Widyaparwa Vol 43, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.436 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v43i2.110

Abstract

Tugas jurnalisme adalah menyampaikan realitas kebenaran kepada masyarakat. Dalam rangka menyampaikan realitas tersebut, jurnalistik membutuhkan bahasa. Agar realitas dapat dipahami dengan baik maka bahasa jurnalistik seyogianya sederhana dan mudah dimengerti. Namun demikian, para jurnalis seringkali menggunakan ragam-bahasa sensasional guna menarik perhatian pembaca. Akibatnya, realitas tidak hanya bias, tapi juga menjadi sensasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk sensasionalisme yang muncul dalam pemberitaan, menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensasionalisme muncul melalui bahasa dramatik, emosionalisme, dan detil bahasa. Ketiganya digunakan untuk menimbulkan berita yang sensasional. Baik di suratkabar Kedaulatan Rakyat maupun Koran Sindo, berita yang mengandung sensasionalisme cukup tinggi. Di suratkabar Kedaulatan Rakyat, sensasionalisme mencapai lebih dari 43%. Sementara itu, di Koran Sindo, berita yang mengandung sensasionalisme bahkan lebih banyak dibandingkan dengan berita yang tidak mengandung sensasionalisme. Di antara bentuk-bentuk sensasionalisme yang ada, emosionalisme menjadi yang paling menonjol. Journalism duty is to convey the reality of the truth to the public. In order to address this reality, journalism requires language. To understand the reality well, language of journalism ought to be simple and easy to understand. However, journalists often use variety of sensational languages ?? to attract reader attention. Consequently, the reality is not only bias, but also be sensational. This study aims to find out forms of sensationalism exposed in the news by using a quantitative approach and content analysis method. The results showed that sensationalism emerged through dramatic language, emotionalism, and language details. All of them are used to generate sensational news. News containing sensationalism both in Kedaulatan Rakyat newspaper and Koran Sindo newspaper is high enough. In the Kedaulatan Rakyat newspaper, sensationalism reached more than 43%. Meanwhile, news sensationalism in the Koran Sindo, in fact, is more than the news that does not contain sensationalism. Among the existing forms of sensationalisms, emotionalism is the most prominent.
ELEGI BUAT AGAMEMNON: TAFSIR SEMIOTIK SAJAK Y.S. AGUS SUSENO Suryanata, Jamal T.
Widyaparwa Vol 38, No 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1748.591 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v38i1.5

Abstract

Berdasarkan perspektif semiotik, puisi merupakan bentuk aktivitas bahasa dan berfungsi sebagai sistem tanda. Puisi "Elegi Buat Agamemnon" yang ditulis oleh Y.S. Agus Suseno dianalisis menggunakan pendekatan semiotik yang mempunyai dua proses pembacaary yaitu heuritstik dan hermeneutik seperti dikemukakan oleh Michael Riffaterre. Pendekatan semiotik tersebut menguak arti/makna hermeneutik dalam menemukan pola pikir penulis tentang filsafat. Based on semiotics perspective, poetry is one of language activity forms and functions as a meaningfull signs systems. Poetry "Elegi Buat Agamemnon" written by Y.S. Agus Suseno was analyzed by semiotics approach that had two reading process, namely heuristic and hermeneutic reading by Michale Riffaiterre. The semiotic approach had revealed the hermeneutic meaning in finding philosophical thinking of the writer.
SEMANGAT AGRARIS DALAM ANTOLOGI GEGURITAN ALAM SAWEGUNG KARYA SUDI YATMANA (AGRARIAN SPIRIT IN ALAM SAWEGUNG GEGURITAN ANTOLOGY WORKS BY SUDI YATMANA) Prabowo, Dhanu Priyo
Widyaparwa Vol 45, No 1 (2017)
Publisher : Balai Bahasa Daerah Isimtewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.857 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v45i1.142

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada geguritan-geguritan di dalam buku antologi berjudul Alam Sawegung (2010) karya Sudi Yatmana. Geguritan-geguritan yang dipilih dari antologi tersebut berupa tiga geguritan berjudul Paman Tani Jawa Purwa (Paman Tani Jawa Kuna), Nandur Pari Jero (Menanam Padi Jero), dan Panen (Panen). Dari hasil kajian pustaka yang relevan dengan penelitian ini, ketiga geguritan itu sama sekali belum pernah dilakukan. Puisi-puisi itu diteliti karena memiliki kekuatan dan keunikan di dalam mengungkapkan masalah kejawaan yang berkaitan dengan budaya dunia pertanian (padi) di Jawa. Dalam realitas kehidupan masa kini, budaya tani tersebut mengalami tantangan berupa pergeseran orientasi akibat perkembangan zaman. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengungkapkan gambaran perubahan orientasi dunia petani Jawa di tengah arus perkembangan zaman melalui tiga geguritan tersebut. Teori yang digunakan adalah teori semitiok dari Riffaterre yang memandang puisi dari makna (signifiacane) dan arti (meaning) dan teori ekokritik ecocriticism yang memandang puisi sebagai representasi dari kesadaran terhadap lingkungan dan budaya. Penelitian sastra adalah riset pustaka. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini sejajar dengan teori yang dipilih untuk mengungkapkan makna dan arti ketiga geguritan tersebut sehingga diketahui bahwa geguritan-geguritan yang diteliti sebagai ruang mental/kebudayaan. Dengan langkah tersebut, dapat ditemukan jawabahan dari tujuan penelitian ini.This study focuses on geguritans in the anthology titled Alam Sawegung (2010), by Sudi Yatmana. Geguritans are selected from three anthologies titled "Paman Tani Jawa Purwa" (Old Javanese Uncle Farmer), "Nandur Pari Jero" (Planting Rice Jero), and "Panen" (Harvest). The result of relevant literature review to this study shows that a study of three geguritans has not done yet.The poems are studied because they have strength and uniqueness in revealing Javanese issues related to agriculture culture (rice) in Java. In today life reality, the peasant culture faces challenge of orientation shift due to era changing. Therefore, this research aims to reveal the picture of Javanese farmers orientation changing world in the midst of the times in the three geguritans. Riffaterre semiotics theory viewing poetry of significance and meaning is used in this research. Ecocriticism theory of literature viewing poetry as representation of envirionmental and cultural conciosness is also used in this study. The study of literature is a research library. The research method used is parallel to the chosen theory in order to express meaning and significance of the three geguritans. Therefore, it can be found out that geguritans as a mental space / culture. Through these steps, the answer of research aim can be fulfilled.

Page 1 of 15 | Total Record : 142