cover
Contact Name
Dini Widiarni Widodo
Contact Email
journalorli@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalorli@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana
ISSN : 02163667     EISSN : 25983970     DOI : -
Core Subject : Health,
Journal Othorhinolaryngologica Indonesiana is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting otorhinolaryngology-head and neck surgery that publishes research reports, case reports, and literature reviews, to increase knowledge and updating diagnostics procedurs on otorhinolaryngology-head and neck surgery.
Arjuna Subject : -
Articles 190 Documents
Gangguan pendengaran pada sindroma LEOPARD Zizlavsky, Semiramis; Suwento, Ronny; Alia, Dina
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 2 (2012): Volume 42, No. 2 July - December 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.49 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i2.23

Abstract

Background: Leopard syndrome is a rare case, only around 200 cases has been reported worldwide.  Leopard syndrome is abbreviation for multipel Lentigines, Electrocardiographic conduction, Ocular hypertelorism, Pulmonary stenosis, Abnormality of genitalia, Retardation of growth, and sensorineural Deafness. This disorder suggests a possible relation between PTPN11 gene mutations and distinct clinical features. Purpose: This case is presented so that ENT specialists could identify signs and symptoms of Leopard Syndrome which manifest as sensorineural hearing loss (SNHL). Case: We report a 29 year old woman with multiple lentigines, scoliosis and atrial septal defect. She has 4 year old twin boys, one of them has cryptorchidism and a 10 month old girl with asymmetric septal hypertrophy and they also have multipel lentigines. They were referred to ENT Department for auditory function screening since  Leopard syndrome is suspected. The audiometry of the mother reveals mild conductive deafness (40 dB)  in right ear due to tympanic membrane perforation. Audiometry of the twin boys reveals sensorineural hearing loss above 4000 Hz frequency. Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) of the daughter reveals mild sensorineural hearing loss (40 dB )on right ear. Genogram shows that the disorders is dominant autosomal inherited. Management: Periodic auditory examination for sensorineural hearing loss is recommended since delayed onset could occur. Conclusion: Sensorineural hearing loss is a mani-festation of Leopard syndrome that should be assessed early and periodically to detect delayed onset. Keywords: Sensorineural hearing loss (SNHL), Leopard syndrome, generalized lentiginosa.    Abstrak :  Latar belakang: Sindroma Leopard merupakan kasus yang jarang ditemukan dan dari publikasi yang ada, hingga saat ini hanya terdapat 200 kasus di seluruh dunia. Sindroma Leopard merupakan singkatandari Lentigines multipel, Electrocardiographic conduction, Ocular hypertelorism, Pulmonary stenosis,Abnormality of genitalia, Retardation of growth and sensorineural Deafness. Kelainan ini disebabkan olehmutasi gen PTPN11 dengan gambaran klinis yang khas. Tujuan: Kasus ini diajukan agar spesialis THTmengenali gejala sindroma Leopard yang dapat melibatkan gangguan pendengaran berupa sensorineuralhearing loss(SNHL) sehingga tidak terjadi keterlambatan dalam penatalaksanaan. Kasus: Perempuanberusia 29 tahun dengan lentiginosa multipel, skoliosis dan defek septum atrium. Ia memiliki 2 anaklaki-laki kembar yang salah satunya mengalami kriptorkismus dan anak perempuan usia 10 bulan yangmenderita hipertrofi septum asimetris dan juga menderita multipel lentiginosa. Mereka dikonsulkan ke THT dari bagian kulit RSCM untuk pemeriksaan fungsi pendengaran dengan kecurigaan sindromaLeopard. Pada pemeriksaan audiometri diperoleh hasil pada ibu berupa tuli konduktif ringan (40 dB)telinga kanan akibat perforasi membran timpani. Dua orang anak kembar menunjukkan hasil tuli sarafdi atas frekuensi 4000 Hz. Pemeriksaan Brainstem Evoked Response Audiometry (BERA) pada anakperempuan menunjukkan tuli saraf ringan (40 dB) di telinga kanan. Genogram menunjukkan kelainanautosom dominan. Penatalaksanaan: Tindak lanjut berupa pemeriksaan pendengaran secara berkaladianggap penting untuk mendeteksi terjadinya awitan lambat. Kesimpulan: SNHL merupakan salah satumanifestasi sindroma Leopard yang perlu diperiksa untuk mendeteksi terjadi awitan lambat. Kata kunci: Sensorineural hearing loss (SNHL), sindroma Leopard, lentiginosa multipel.
Hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi Wahyudiono, Ahmad Dian; Retnoningsih, Endang; Rahaju, Pudji
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.611 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i1.56

Abstract

Background: Allergic rhinitis is a global health problem that could impair the patient’s quality of life. Recent studies had showed the role of leptin, a hormone that produced by adipose tissue, on sensitization process which can increase the serum level of B cells and IgE. Purpose: To define the relationship between serum leptin level with the degree of allergic rhinitis based on ARIA and VAS.Methods: This study involved 38 subjects with cross sectional design. Statistical analysis included t-test, logistic regression and Kruskal-Wallis. Results: This study showed serum leptin level has correlation with the degree of allergic rhinitis based on ARIA (p<0.05), specifically on the intensity of allergic rhinitis (p<0.05), but not with the degree of allergic rhinitis based on VAS. Conclusion: Serum leptin level has a role on the degree of allergic rhinitis specifically on the intensity but not on the severity of allergic rhinitis symptoms. Controlling the serum leptin level can be considered as health promotion for patient with allergic rhinitis. Further research focusing on controlling serum leptin level for allergic rhinitis symptoms is recommended. Keywords: allergic rhinitis, serum leptin level, degree of allergic rhinitis   Abstrak :  Latar belakang: Rinitis alergi merupakan masalah kesehatan global dan dapat mengganggu kualitas hidup penderitanya. Beberapa penelitian telah menunjukkan peran leptin, hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak, pada proses sensitisasi yang ditandai dengan kemampuan leptin meningkatkan sel B dan IgE. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi. Metode: Penelitian ini melibatkan 38 subjek dengan desain potong lintang untuk mengetahui hubungan kadar leptin serum dengan derajat rinitis alergi pada penderita rinitis alergi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji t, uji regresi dan Kruskal-Wallis.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar leptin serum berhubungan dengan derajat rinitis alergi berdasarkan ARIA (p<0,05) khususnya dengan intensitas keluhannya (p<0,05), namun tidak berhubungan dengan derajat rinitis berdasarkan VAS. Kesimpulan: Kadar leptin serum berhubungan dengan derajat rinitis alergi terutama pada intensitas keluhan dan bukan pada beratnya keluhan. Pengendalian kadar leptin serum dapat dipertimbangkan sebagai upaya memperbaiki kesehatan penderita rinitis alergi. Penelitian lebih lanjut yang menekankan pada pengendalian kadar serum leptin disarankan untuk mengendalikan keluhan rinitis alergi. Kata kunci: rinitis alergi, kadar leptin serum, derajat rinitis alergi
Pengaruh suplementasi zinc terhadap perbaikan klinis penderita laryngopharyngeal reflux disease Pramana, Chrisma; Muyassaroh, Muyassaroh; Antono, Dwi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 44, No 2 (2014): Volume 44, No. 2 July - December 2014
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.318 KB) | DOI: 10.32637/orli.v44i2.94

Abstract

Latar Belakang: Laryngopharyngeal Reflux Disease (LPRD) menyebabkan kerusakan mukosa laring dan faring.  Zinc adalah kelompok zat gizi mikro yang berperan dalam inhibisi terhadap sekresi asam lambung, pembentukan carbonic anhidrase, dan reepitelisasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh suplementasi zinc pada perbaikan klinis penderita LPRD. Metode: Penelitian eksperimental dengan pre-post test randomized control trial pada penderita LPRD di klinik THT-KL RSUP Dr. Kariadi yang memenuhi kriteria penelitian. Kelompok kontrol diberikan omeprazol dan plasebo, sedangkankelompok perlakuan diberikan omeprazol dan zinc. Pemberian terapi dilakukan selama 4 minggu kemudian dianalisis skoring Reflux Symptom Index (RSI) dan Reflux Finding Score (RFS) sebelum terapi dan sesudah terapi pada kedua kelompok. Analisis data dengan uji Wilcoxon dan independent t test. Hasil: Sampel sebanyak 27 penderita, kelompok kontrol 13 orang, dan kelompok perlakuan 14 orang. Skor RSI sebelum terapi pada kelompok kontrol 22,92±6,982, sedangkan pada kelompok perlakuan19,57±6,136 (p=0,223). Skor RFS sebelum terapi pada kelompok kontrol 10,46±2,367, sedangkan pada kelompok perlakuan 10,86±2,983 (p=0,767). Skor RSI sesudah terapi pada kelompok kontrol 15,92±8,893, sedangkan pada kelompok perlakuan 9,07±6,294 (p=0,034). Skor RFS sesudah terapi pada kelompok kontrol 6,54±1,808, sedangkan pada kelompok perlakuan 4,54±2,240 (p=0,024). Kesimpulan: Suplementasi zinc berpengaruh pada perbaikan klinis penderita LPRD. Perbaikan klinis penderita LPRD yang diberikan suplementasi zinc lebih baik dibanding tanpa suplementasi zinc. Kata kunci: Reflux Symptom Index, Reflux Finding Score, zinc ABSTRACTBackground: Laryngopharyngeal Reflux Disease (LPRD) could cause mucosal damage on larynx and pharynx. Zinc is microsubstance which has a role as inhibiting factor to gastric acid, carbonic anhidrase establishment, and reepitelization. Objective: The study aimed to know the effect of zinc onLPRD patient’s clinical improvement. Methods: Experimental study with pre-post test randomized control trial on LPRD patients in ENT center RSUP Dr. Kariadi. Control group was prescribed omeprazole and placebo,while interventioned group was prescribed omeprazole and zinc. The treatment was conducted for 4 weeks, and Reflux Symptom Index (RSI) and Reflux Finding Score (RFS) were analyzed before and after treatment for both groups. Data were analyzed with Wilcoxon’s test and independent t-test. Result: The sample was 27 patients, consisted of 13 patients in control group and 14 patients in interventioned group. RSI score before theraphy on control group was 22,92±6,982, on interventioned group 19,57±6,136(p=0,223). RFS score on control group 10,46±2,367, on interventioned group 10,86±2,983 (p=0,767). RSI after theraphy on control group 15,92±8,89,3 while on interventioned group 9,07±6,294 (p=0,034). RFS score after theraphy on control group 6,54±1,808, while on interventioned group 4,54±2,240 (p=0,024). Conclusion: This study found that zinc supplementation had an effect on clinical improvement on patients with LPRD. Clinical improvement on LPRD patients who got zinc supplementation was found better than without zinc supplementation.Keywords: Reflux Symptom Index, Reflux Finding Score, Zinc
Faktor risiko kejadian disfagia pada penderita keganasan kepala dan leher yang menjalani kemoradiasi Febriani, Ridha Patria; Antono, Dwi; Budiarti, Rery; Muyassaroh, Muyassaroh
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 46, No 1 (2016): Volume 46, No. 1 January - June 2016
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.316 KB) | DOI: 10.32637/orli.v46i1.148

Abstract

Latar belakang: Disfagia akibat kemoradiasi merupakan efek samping yang banyak ditemui. Angkakejadian disfagia dilaporkan lebih dari 50%. Faktor risiko terjadinya disfagia akibat kemoradiasi belumdiketahui secara pasti.Tujuan: Membuktikan bahwa usia, stadium, lokasi primer tumor, jenis kemoterapi,dan riwayat merokok merupakan faktor risiko terjadinya disfagia pada penderita keganasan kepala danleher (KKL) yang menjalani kemoradiasi.Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain potonglintang. Subjek adalah penderita KKL yang menjalani kemoradiasi. Penentuan status disfagia denganpemeriksaan 100 ml WST (Water Swallowing Time). Usia, stadium, lokasi primer tumor, jenis kemoterapi,dan riwayat merokok diperoleh dari anamnesis dan rekam medis. Analisis statistik menggunakan uji chisquare dan regresi logistik.Hasil: Didapatkan 75 subjek penderita KKL yang menjalani kemoradiasi.Empat puluh delapan (64%) subjek mengalami disfagia dan 27 subjek memiliki fungsi menelan yangnormal. Jenis kelamin lebih banyak laki-laki sebesar 61,3%. Stadium tumor (p=0,047) dan riwayat merokok(p=0,010) merupakan faktor risiko kejadian disfagia pada penderita KKL yang menjalani kemoradiasi.Usia (p=0,718), lokasi tumor (p=0,770), dan jenis kemoterapi (p=0,736) bukan merupakan faktor risikokejadian disfagia pada penderita KKL yang menjalani kemoradiasi.Kesimpulan: Usia, lokasi primertumor, dan jenis kemoterapi bukan merupakan faktor risiko kejadian disfagia pada penderita KKL yangmenjalani kemoradiasi. Stadium dan riwayat merokok merupakan faktor risiko kejadian disfagia padapenderita KKL yang menjalani kemoradiasi. Riwayat merokok merupakan faktor yang paling berperanterhadap kejadian disfagia pada penderita KKL yang menjalani kemoradiasi. Kata kunci: Kemoradiasi, disfagia, faktor risiko, keganasan kepala dan leher ABSTRACTBackground: Dysphagia following chemoradiotherapy is an adverse effect often encountered, theincidence was reported over than 50%. The risk factors for dysphagia following chemoradiotherapy are stilldisputable. Objective: To investigate whether age, stage, primary tumor location, type of chemotherapy,and smoking history were risk factors for dysphagia in patients undergoing chemoradiotherapy forhead and neck malignancy. Methods: This was an observational analytic study with cross sectionaldesign. The subjects were patients undergoing chemoradiotherapy for head and neck malignancies.Each subject performed 100 ml WST examination, to determine the status of dysphagia. Parametersof age, stage, primary tumor location, type of chemotherapy, and smoking history were obtained frommedical records. Statistical tests performed using the Chi square test and logistic regression. Results:The incidence of dysphagia following chemoradiotherapy were 48 subjects (64%) and 27 subjects hadnormal swallowing function. Tumor stage (p= 0,047) and smoking history (p=0,01) were the risk factorsfor dysphagia following chemoradiotherapy, while age (p=0,718), the location of the primary tumor (p=0,770) and the type of chemotherapy (p=0,736) were not found as the risk factors for dysphagia followingchemoradiotherapy. Conclusion: Age, primary tumor location, and type of chemotherapy were not riskfactors for dysphagia following chemoradiotherapy, but the stage of tumor and smoking history wererisk factors for dysphagia following chemoradiotherapy. The most influencing factor on the incidenceof dysphagia was smoking history. Keywords: Chemoradiation, dysphagia, risk factor, head and neck malignancy Alamat korespondensi: Rery Budiarti, email: rerybudiarti@yahoo.comDepartemen IKTHT-KL FK Undip/RSUP Dr. Kariadi Jl. Dr. Sutomo 16 Semarang, 50231.
Efek vitamin D terhadap kadar IL-10, IFN-γ, dan histamin pada kultur PBMC pasien rinitis alergi Utama, Budi; Wibowo, Heri; Poerbonegoro, Niken Lestari
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 47, No 2 (2017): Volume 47, No. 2 July - December 2017
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.32 KB) | DOI: 10.32637/orli.v47i2.222

Abstract

Latar belakang: Rinitis alergi (RA) adalah penyakit inflamasi pada hidung, yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi. Tungau debu rumah merupakan aeroalergen yang tersering memicu reaksi alergi. Pada tahun 1988, reseptor vitamin D berhasil dilakukan klon. Reseptor vitamin D berlokasi di beberapa jaringan dan sel tubuh manusia, termasuk di sel-sel darah tepi berinti tunggal (peripheral blood mononuclear cells/PMBC). Tujuan: Mengidentifikasi pengaruh pemberian vitamin D pada sel-sel darah tepi berinti tunggal penderita rinitis alergi terhadap sel Th1, Th2, dan T Regulator, dengan cara melihat sekresi IFN-γ, IL-10, dan histamin. Metode: Sampel berupa darah segar (whole blood) penderita rinitis alergi yang telah dilakukan prick test, diolah dengan metode Ficoll untuk mengisolasi sel berinti tunggal. Kultur sel limfosit sebelum perlakuan dibagi menjadi kelompok yang diberi pendedahan dengan 1,25(OH)2D3 100 nM dan tanpa pendedahan, waktu inkubasi 7 hari, dengan penambahan phytohaemaglutinin dan alergen tungau pada hari ke-4. Kultur sel-sel darah tepi berinti tunggal dari pasien RA setelah perlakuan, selanjutnya pada hari ke-7 supernatannya diambil dan dibagi untuk diukur kadar sitokin IFN-γ, IL-10, dan histamin secara ELISA. Dilakukan uji secara statistik untuk melihat pola dari tiap parameter. Hasil: Pemberian alergen tungau tanpa vitamin D menyebabkan meningkatnya kadar histamin serta menurunkan kadar IL-10 dan IFN-γ. Pemberian vitamin D pada kultur sel darah tepi berinti tunggal yang telah diberi alergen tungau, dapat meningkatkan kadar IL-10 dan menurunkan kadar IFN-γ, serta histamin. Kesimpulan: Menurunnya kadar histamin dan IFN-γ terhadap stimulasi alergen tungau pada pasien rinitis alergi yang diberi vitamin D cenderung berhubungan dengan meningkatnya kadar IL-10. Kata kunci: Sel mast, rinitis alergi, tungau debu rumah, vitamin D ABSTRACT Background: Allergic rhinitis is an inflammatory disease of the nose, caused by an allergic reaction in atopic patients. House dust mites are the most common aeroalergen. In 1988, vitamin D receptor had been cloned successfully. Vitamin D receptors are located in various tissues and human body cells, including peripheral blood mononuclear cells (PBMCs). Purpose: To identify the effect of vitamin D on peripheral blood mononuclear cells culture of allergic rhinitis patients towards Th1, Th2, and T Regulator cell, by identifying IL-10, IFN-γ, and histamine secretion levels. Method: The sample were obtained from fresh blood (whole blood) of allergic rhinitis patients who had been prick tested, and isolated by Ficoll method. Pre-treated lymphocyte culture divided into groups treated with and without 1,25(OH)2D3 100 nM, and incubated for 7 days, with addition of phytohaemaglutinin and allergen mites on day 4. Cultures of PBMC cells after treatment were harvested on day 7, then the supernatant was dialyzed to measure the levels of IFN-γ IL-10 and histamine cytokines. Statistical test was performed to identify patterns of each parameter. Results: Treatment of allergen mites without vitamin D could increase levels of histamine and lower levels of IL-10 and IFN-γ. Provision of vitamin D in PBMC cell culture that had been given allergen mites could increase levels of IL-10 and decreased levels of IFN-γ and histamine. Conclusion: Lower levels of histamine and IFN-γ against allergen mite stimulation of allergic rhinitis patients who were given vitamin D tend to be associated with increased IL-10 levels. Keywords: Mast cell, allergic rhinitis, house dust mite, vitamin D
Assessment and Management of Dysphagia with Fiberoptic Endoscopic Examination of Swallowing (FESS) and its Future Implementation in Indonesia Tamin, Susyana; Ku, Peter K; Cheung, Dilys
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 34 (2004): Volume 34, No. 4 October - December 2004
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1022.715 KB) | DOI: 10.32637/orli.v34i4.293

Abstract

-
Dampak poliposis hidung terhadap fungsi ventilasi paru Poerbonegoro, Niken Lestari; Wardani, Retno Sulistyo; Dharmabakti, Umar Said; Rumende, Martin; Kusumayati, Agustin
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 40, No 2 (2010): Volume 40, No. 2 July - December 2010
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v40i2.4

Abstract

Background: Correlation between upper and lower airway always been an interesting topic in thepast decades, showed by the emerging of “one airway one disease” concept. Nasal polyposis is a chronicinflammatory disease of the upper respiratory tract mucosa. How nasal polyposis affects or relates to thelower respiratory tract is still debatable. Purpose: to evaluate the impact of nasal polyposis on the lowerrespiratory function.Methods: This study was done in the ENT Department and Pulmonology - InternalMedicine Department Cipto Mangunkusumo Hospital from March to December 2003. It was a comparativecross-sectional study between polyposis group and non-polyposis group, with 29 subjects each. Subjectsunderwent skin prick test and spirometry examinations. Vital capacity (VC), forced expiratory volumeat the first one second (FEV1) and FEV1Dampak poliposis hidung terhadap fungsi ventilasi paru1/VC ratio values were gathered. Statistic calculations performed using independents t-test and Pearson chi-square.Results: Spirometry datas showed VC %prediction andFEV%prediction values in nasal polyposis group were lower than in non-polyposis group (68.33% and62.36% vs 78.66% and 70.65%, p < 0.05), but not significant for FEV1061 /VC ratio score  (83.88 vs 83.18,p > 0.05). Patterns of lung ventilatory function, the percentage of lung ventilatory function disorderbetween the polyposis group and the control group is significantly different (58.7% vs 31%, p< 0.05).Using 2x2 table calculation, prevalence ratio was 1.9 (CI 95% 0.002-0.498).Conclusion: Polyposisgroup showed significant lower values of VC % prediction and FEV1 1% prediction. Percentage of lungventilatory function disorder in polyposis group is significantly higher than control.Keywords: nasal polyposis, lung ventilatory function, spirometry, VC, FEV Abstrak : Latar belakang: Beberapa dekade terakhir ini hubungan antara saluran napas atas dan bawah tetaphangat dibicarakan, ditandai dengan munculnya konsep “one airway one disease”. Poliposis hidungmerupakan keadaan inflamasi kronis mukosa saluran napas atas. Bagaimana kaitan poliposis hidungdengan saluran napas bawah sampai saat ini masih dipertanyakan. Tujuan: Mengetahui dampakpoliposis hidung terhadap fungsi ventilasi paru. Metode: Desain studi adalah potong lintang komparatifantara kelompok penderita poliposis hidung dan kelompok tanpa poliposis hidung. Jumlah percontohsetiap kelompok sebesar 29 orang. Dilakukan tes cukit kulit dan pemeriksaan spirometri untuk menilaifungsi ventilasi paru. Nilai persentase prediksi kapasitas vital paksa (KVP), volume ekspirasi paksa detikpertama (VEP1), dan rasio VEP/KVP dicatat. Perhitungan statistik dilakukan dengan uji t-independendan Pearson chi-square. Hasil: Hasil spirometri memperlihatkan nilai rerata % prediksi KVP dan nilairerata % prediksi VEP1 1 kelompok penderita poliposis hidung lebih rendah dari kelompok tanpa poliposishidung (68,33% dan 62,36% banding 78,66% dan 70,65%; p< 0,05). Nilai rasio VEP/KVP kelompokpasien poliposis hidung sedikit lebih tinggi dari kelompok tanpa poliposis hidung (83,88 banding 83,18;p>0,05). Data gambaran fungsi ventilasi paru memperlihatkan perbedaan yang bermakna pada proporsigangguan fungsi ventilasi paru antara kedua kelompok (58,7% dan 31%, p<0,05). Dengan perhitungantabel 2x2 didapatkan rasio prevalens sebesar 1,9 (IK 95% 0,002-0,498).Kesimpulan: kelompok denganpoliposis hidung memperlihatkan penurunan bermakna nilai % prediksi KVP dan % prediksi VEP, namunrasio VEP/KVP tidak menurun. Proporsi gangguan fungsi ventilasi paru pada kelompok poliposis hidunglebih besar daripada kelompok tanpa poliposis hidung.1Kata kunci: poliposis hidung, fungsi ventilasi paru, spirometri, KVP, VEP
Ekstraksi benda asing gigi palsu di esofagus dengan esofagotomi servikal Cahyono, Arie; Hermani, Bambang; Hadjat, Fachri; Rahman, Sukri
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 42, No 1 (2012): Volume 42, No. 1 January - June 2012
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.986 KB) | DOI: 10.32637/orli.v42i1.36

Abstract

Background: Foreign body in the esophagus should be removed as soon as possible under optimal conditions to prevent complications. Esophagoscopy is a safe and effective procedure for foreign bodies removal in most cases, but in some cases esophagoscopy could not be performed or failed to extract the foreign body, necessitating surgery such as esophagotomy. Objective: To illustrate the cervical esophagotomy technique as a management of esophageal foreign bodies. Case: A 53-years old woman with a foreign body (dentures) in the esophagus that failed to be removed by esophagoscopy and need cervical esophagotomy. Management: Cervical esophagotomy was performed after esophagoscopy failed to remove the foreign body. Conclusion: Cervical esophagotomy is needed in cases of esophageal foreign body in which of esophagoscopy could not be performed or failed to remove the foreign body. Keywords : foreign body, denture, esophagus, cervical esophagotomy  Abstrak :  Latar Belakang: Benda asing di esofagus harus sesegera mungkin dikeluarkan dalam kondisi yang optimal untuk mencegah terjadinya komplikasi. Esofagoskopi adalah cara yang aman dan efektif untuk ekstraksi benda asing pada sebagian besar kasus, namun pada beberapa kasus tindakan esofagoskopi tidak dapat dilakukan atau gagal mengeluarkan benda asing, sehingga diperlukan tindakan bedah berupa esofagotomi. Tujuan: Kasus ini diajukan untuk mengilustrasikan teknik esofagotomi servikal sebagai penatalaksanaan benda asing esofagus. Kasus: Dilaporkan satu kasus wanita 53 tahun dengan benda  asing gigi palsu di esofagus yang gagal dikeluarkan dengan esofagoskopi sehingga diperlukan tindakan  esofagotomi servikal untuk mengambilnya. Penatalaksanaan: Dilakukan esofagotomi servikal setelah esofagoskopi gagal mengeluarkan benda asing. Kesimpulan: Esofagotomi servikal dilakukan untuk mengeluarkan benda asing di esofagus apabila tindakan esofagoskopi tidak dapat dilakukan atau gagal mengeluarkan benda asing. Kata kunci : benda asing, gigi palsu, esofagus, esofagotomi servikal.
Adenoma pleomorfik kelenjar saliva pada bayi Perkasa, Muhammad Fadjar; Kurniawati, Dewi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 2 (2013): Volume 43, No. 2 July - December 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.529 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i2.73

Abstract

Latar belakang: Adenoma pleomorfik adalah tumor kelenjar saliva yang paling sering ditemukan, yang merupakan suatu tumor jinak campuran yang terdiri dari sel-sel epitel dan diferensiasi mesenkimal. Adenomapleomorfik (AP) paling banyak ditemukan pada kelenjar saliva minor yang terdapat pada palatum, kemudian bibir, dasar rongga mulut, lidah, tonsil, faring, daerah retromolar dan rongga hidung. Kasus adenoma pleomorfik pada tonsil sangat jarang ditemukan, insiden AP lebih sering pada wanita dibanding pria dan terjadi pada usia 40-60 tahun, paling banyak pada usia 43-46 tahun. Tujuan: Melaporkan satu kasus AP pada tonsil seorang bayi yangberumur 7 bulan yang dilakukan tindakan ekstirpasi tumor trans-oral. Kasus: Seorang bayi perempuan umur 7 bulan, berat 6 kg datang dengan keluhan utama mendengkur. Dari alloanamnesis (ibunya) riwayat mendengkur dialami sejak anak berusia 4 bulan, bunyi napas bertambah keras sejalan dengan bertambahnya umur. Pada usia 6bulan pasien mulai sesak napas terutama saat minum susu, kadang-kadang disertai regurgitasi saat minum susu, tidak ada riwayat demam, kejang dan influenza sebelumnya. Dari pemeriksaan fisis Telinga Hidung Tenggorok (THT) tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan otoskopi dan rinoskopi anterior. Pada pemeriksaan faringoskopiditemukan massa pada pole atas fossa tonsilaris, tonsil T1 di inferior dari massa. Tonsil kiri T1 tenang. Bayi ini didiagnosis tumor tonsil kanan. Penatalaksanaan: Dilakukan tindakan eksterpasi tumor pada rongga mulut. Hasil pemeriksaan histopatologik jaringan tumor setelah tindakan eksterpasi tumor trans oral adalah adenoma pleomorfik sesuai dengan gambaran makroskopis massa. Kesimpulan: Suatu kasus tumor kelenjar saliva, yang sangat jarang terjadi pada anak.Kata kunci : Adenoma pleomorfik, tumor kelenjar saliva, ekstirpasi tumor trans oral.
Maksilektomi medial endoskopik Punagi, Abdul Qadar
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 45, No 1 (2015): Volume 45, No. 1 January - June 2015
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32637/orli.v45i1.108

Abstract

Latar belakang: Penggunaan endoskop memberikan spesifisitas yang tinggi dalam membedakan mukosa yang tidak sehat dengan yang sehat sehingga preservasi mukosa sehat dapat dioptimalkan danfisiologi mukosiliar dapat dipertahankan. Maksilektomi medial endoskopik adalah prosedur penanganantumor jinak untuk mengurangi morbiditas yang ditimbulkan oleh prosedur operasi terbuka. Tujuan:Untuk mengurangi morbiditas dan tingkat kekambuhan pada  penanganan tumor jinak sinonasal. Kasus: Dilaporkan 2 kasus tumor jinak sinonasal, yaitu inverted papilloma dan schwannoma yang ditangani secara maksilektomi medial endoskopik dengan mengoptimalkan preservasi mukosa danpatensi duktus nasolakrimal. Teknik marsupialisasi endoskopik dilakukan untuk menjamin patensi duktusnasolakrimal dengan bantuan sonde Bowman. Penatalaksanaan: Maksilektomi medial endoskopik danmarsupialisasi duktus nasolakrimal. Kesimpulan: Maksilektomi medial endoskopik dapat menjadi pilihanpada penatalaksaan tumor jinak sinonasal karena memberikan keuntungan pada pasien yaitu tidak adanyasikatriks pada wajah dan preservasi mukosa sehat lebih optimal. Kata kunci: maksilektomi medial endoskopik, tumor sinonasal, patensi duktus nasolakrimalABSTRACT Background: The use of endoscope provides high specificity in distinguishing healthy and unhealthy mucosa thus the preservation of healthy mucosa could be optimized and physiologic mucocilliarytransport system could be maintained. Endoscopic medial maxillectomy is a procedure for treating benignsinonasal tumor, aimed to reduce the morbidity caused by open surgical procedure. Purpose: To reducethe morbidity and the recurrence rates in the treatment of benign sinonasal tumors. Case report: Twocases of benign sinonasal tumor which were inverted papilloma and schwannoma, treated by  endoscopicmedial maxillectomy with optimal mucosal preservation and nasolacrimal duct patency. Marsupializationendoscopic technique was performed to ensure the patency of nasolacrimal duct supporting by Bowmansonde. Management: Endoscopic medial maxillectomy with marsupialization of nasolacrimal duct.Conclusion: Endoscopic medial maxillectomy could be an optional treatment for benign sinonasal tumorbecause the procedure has less facial cicatrix and optimal preservation of healthy mucosa, which areadvantages for the patient. Keywords: endoscopic maxillectomymedial, sinonasal tumor, nasolacrimalduct patency

Page 1 of 19 | Total Record : 190