Jurnal Masyarakat dan Budaya
ISSN : 14104830     EISSN : 25021966
Jurnal Masyarakat dan Budaya (JMB) or Journal of Society and Culture is a peer-reviewed journal that aims to be an authoritative academic source on the study of society and culture. We publish original research papers, review articles, case studies, and book reviews focusing on Indonesian society, cultural phenomena, and other related topics. A manuscript describing society and culture outside Indonesia is expected to be analyzed comparatively with the issues and context in Indonesia. All papers will be reviewed rigorously at least by two referees. JMB is published three times a year, in April, August , and December.
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 19, No 3 (2017)" : 12 Documents clear
Pemertahanan Bahasa Ibu tentang Tempat-Tempat Sakral dan Tantangan Perubahan Sosial Budaya Orang Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke, Papua

Suryawan, I Ngurah ( Jurusan Antropologi Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Papua (UNIPA) )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.178 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.545

Abstract

Artikel ini memfokuskan pada upaya bersama-sama yang dilakukan penulis dengan generasi muda di dua suku yaitu Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke, Papua untuk melakukan dokumentasi bahasa dan nilai-nilai budaya mengenai hubungan mereka dengan lingkungannya. Kondisi perubahan sosial budaya menghimpit mereka dan pondasi pengetahuan lokal dalam pemanfaatan lingkunga menjadi tergoyahkan. Masyarakat lokal memiliki pengetahuan kaya yang menunjukkan relasi panjang dengan lingkungan alam sekitarnya. Dari perspektif masyarakat terdapat pemetaan ruang-ruang hidup yang mencakup wilayah perkampungan, perkebunan, dan leluhur (pamali). Masyarakat juga menamai wilayah-wilayah tersebut dengan bahasa lokal yang biasanya mengacu kepada nama-nama tumbuhan, hewan, atau peristiwa sejarah penting di lokasi tersebut. Bahasa-bahasa tersebut memiliki makna yang luas dan menjadi cermin ekspresi kebudayaan orang Marori dan Kanum. Dokumentasi bahasa dan makna budaya yang menyertainya sangat penting untuk dilakukan sebagai penanda pengetahuan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Usaha tersebut tidak mudah di tengah mulai tercerabutnya akar budaya dan hilangnya pengetahuan bahasa lokal. Penghargaan terhadap lingkungan menjadi terabaikan dan perusakan berlangsung terus-menerus untuk kepentingan uang. This article focuses on exploring the use of mother tongue on sacred places for the Marori and Kanum People in Merauke District, Papua. The mother tongue for sacred places contains the meaning that links people's relationship with their environment. Local people have rich knowledge that shows long relationships with the surrounding natural environment. There are mapping of living spaces covering the village area, plantations, and ancestors (pamali) from their perspective of society. The community also names these areas in their mother tongue, which usually refers to the names of important plants, animals, or historical events at the site. These mother tounge have a wide meaning and mirror the cultural expressions of Marori and Kanum people. The condition of socio-cultural change hinders them and, moreover, the foundation of their local knowledge in the utilization of the environment becomes unsteady. This article explores the meaning behind the mother tongues in the living spaces of Marori and Kanum people. Mother tongue translation becomes very urgen amid socio-cultural changes that cause damage to the environment. The effort is not easy amid the loss process of culture and knowledge of local languages. The efforts to protect the environment have been abandoned and the process of destruction has occurred continuously for the sake of economic interests.

BEREBUT “BERKAH” SENDANG SELIRANG DALAM PERSPEKTIF BEBERAPA KOMUNITAS MASYARAKAT MUSLIM KOTA GEDE, YOGYAKARTA: Sebuah Upaya Mempromosikan Dialog Agama dan Budaya

waryono, waryono ( Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yogyakarta, 55281 )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.372 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.485

Abstract

This article discusses about cultural phenomenon called by sendang selirang. Sendang Seliran is the name of one of the local culture typical in Kota Gede Yogyakarta, which are still preserved. Sendang Seliran is a tradition of cleaning the pool in the former kingdom of Mataram environment early in Kota Gede. The tradition interpreted differently by the three groups in Kota Gede: Abangan, muslim students, and intellectual. The problem is the background why and what are the differences? Although different, why citizens of Kota Gede, remain in harmony? This paper departs from the framework developed by Clifford Geertz interpretive ethnography to understand a cultural event that occurs in the community. The results show that for people Abangan, Sendang Selirang are rites and ceremonies performed with religious emotion and have sacred properties. Turned out to be different meanings for groups of students who are represented by Muhammadiyah. For some activists Muhammadiyah, tradition nawu Sendang (Sendang Selirang) is part of superstition, heresy, and kurafat, so it should be avoided. As for the "intellectuals", the event is not enough nawu sendang viewed from the side of religion, but also in terms of culture. This is a "middle way" to mediate the two previous groups of potential conflict. Evidence suggests that differences in the views of the three groups is not only influenced by their religious views, but also by other factors outside the religion, such as equity in the administration and material benefits. Nevertheless, unity in difference remains the preferred, so that the harmony continues to perform well. Artikel ini membahas tentang fenomena budaya lokal Sendang Selirang. Sendang Selirang merupakan tradisi membersihkan kolam yang berada di bekas lingkungan Kerajaan Mataram Awal di Kota Gede. Tradisi tersebut dimaknai secara berbeda oleh tiga kelompok di Kota Gede, yaitu kelompok Abangan, Santri, dan Intelektual. Permasalahannya, mengapa dan apa latar belakang perbedaannya? Meskipun berbeda, mengapa warga Kota Gede tetap harmonis? Penelitian etnografi dengan wawancara mendalam dan observasi ini telah menemukan bahwa bagi masyarakat Abangan, Sendang Selirang merupakan ritus dan upacara yang dilaksanakan dengan emosi keagamaan dan mempunyai sifat keramat. Pemaknaan ini berbeda dengan kelompok santri yang direpresentasikan oleh Muhammadiyah. Oleh beberapa aktivis Muhammadiyah, ritual ini dianggap sebagai bagian dari takhayul, bid’ah, dan kurafat, sehingga harus dihindari. Sementara itu, bagi kelompok intelektual, peristiwa nawu sendang tidak cukup dipandang dari sisi agama, melainkan juga perlu dilihat dari sisi budaya. Hal itu merupakan “jalan tengah” untuk menengahi dua kelompok sebelumnya dan menghindari terjadinya potensi konflik.

PENELITIAN ETNOGRAFI DIBALIK PENCEGAHAN KONFLIK DAN AFFIRMATIVE ACTION PERLINDUNGAN KEKAYAAN BUDAYA: Memahami Sebuah Hibriditas Kebudayaan

Humaedi, Muhammad Alie ( Research Center of Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.784 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.544

Abstract

Konflik suku dan agama menjadi isu hangat dunia penelitian. Beragam pendekatan digunakan untuk memotret masalah, aktor, dan penyebab yang bisa diuraikan untuk meredam konflik. Sayangnya, banyak penelitian yang hanya menampilkan aspek permukaan, sehingga penyelesaiannya bersifat artifisial dan tidak kontekstual. Aspek kebudayaan dan kebahasaan terkait konflik, dan menjadikannya sebagai modal terpenting dalam penyelesaian konflik kurang dilihat komperehensif. Di sisi lain, bahasa dan budaya daerah hanya dimaknai sebagai khazanah kebudayaan yang berorientasi pengembangan pariwisata saja. Belum ada upaya maksimal dalam mendorong budaya dan bahasa beserta proses hibriditasnya sebagai strategi terpenting mitigasi konflik. Penelitian yang mampu mengungkap nilai dan praktik kebudayaan berbagai kelompok sukubangsa belum banyak menjadi media langkah strategis itu. Pertanyaannya, bagaimana penelitian dan perspektif etnografi dapat berperan dalam upaya peredaman konflik dan affirmasi bagi upaya perlindungan kekayaan budaya daerah? Tulisan ini refleksi berbagai penelitian terkait bahasa dan budaya yang dilakukan LIPI dan lembaga lain. Keterlibatan penulis dalam dunia penelitian etnografi bahasa dan budaya menjadi aspek penting refleksinya. Penelitian ini telah menjelaskan perkembangan dan kecenderungan penelitian kebudayaan di LIPI dan lembaga lain. Selain itu, penelitian etnografi budaya dan bahasa tidak hanya berdampak pada upaya perlindungan kekayaan budaya berbagai sukubangsa, tetapi juga menjadi upaya strategis dalam peredaman konflik dan peneguhan kebangsaan. Tribal and religious conflicts are becoming a hot issue of the research world. Various approaches are used to describe problems, actors, and causes that can be deciphered to quell conflicts. Unfortunately, many studies show only surface aspects, so the solution is artificial and non-contextual. The cultural and linguistic aspects of the conflict, the most important capital in conflict resolution, are less than comprehensive. On the other hand, the local language and culture is only interpreted as a cultural treasure for tourism development only. There has been no maximum effort in encouraging culture and language along with its hybridity process as the most important strategy of conflict mitigation. Research which able to reveal the values and cultural practices of various ethnic groups has not been a major medium for the strategic paradigm. The question is, how can ethnographic research and perspectives play a role in the efforts to conflicts mitigation and affirmations for the protection of local cultural wealth? This paper reflects the various researches related to language and culture conducted by LIPI and other institutions. The involvement of writers in the world of ethnographic research of language and culture becomes an important aspect of his reflection. This writing explained the development and tendency of cultural research in LIPI and other institutions. In addition, cultural and linguistic ethnographic research viewed not only affects the protection of cultural wealth of various ethnic groups, but also a strategic effort in the reduction of conflict and affirmation of nationality.

Memahami Konsep Etnisitas di Perkotaan: Politik Inter-ruang di Kota Multikultural

Lan, Thung Ju ( P2KK - LIPI )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.214 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.534

Abstract

Tulisan ini membahas pemaknaan konsep etnisitas di perkotaan yang berbeda dengan konsep ‘kelompok etnik’ di perdesaan. Pemaknaan etnisitas di perkotaan, seperti dikatakan Hirschman, tidak terkait dengan sifat asalnya yang primordial, melainkan karena etnisitas menjadi dasar dari organisasi politik dan ekonomi di masa lalu dan masa kini yang dapat diproyeksikan ke masa depan. Perspektif Hirschman menjadi penting untuk memahami dinamika etnisitas di perkotaan yang diterjemahkan dan diartikulasikan melalui “strategi komunikasi dan diferensiasi yang sangat dinamis”, dan terkait erat dengan fungsi baru etnisitas sebagai sumber daya bagi proses negosiasi politik di perkotaan untuk membangun apa yang dikatakan Ojeda sebagai “skenario pengakuan baru oleh negara”; seperti pada kasus Pilkada 2017 yang sepertinya membelah masyarakat Jakarta atas dasar etnisitas (pribumi Islam-non-pribumi non-Islam). This article discusses the reinterpretation of urban ethnicity which differs to the concept of ethnic groups introduced by classical anthropologists. Urban ethnicity, as Hirschman suggested, could be defined as the foundation of economic and political organizations in the past and present which might be projected to the future; it is totally unrelated to its primordial characteristics. Hirschman’s perspective becomes significant to understand the dynamics of urban ethnicity which has been interpreted or articulated through “highly dynamic communication and differentiation strategies, when ethnicity works as a resource for political negotiation process in urban life to build what Ojeda called “new recognition scenario by the state”. The case of 2017 Regional Election of Jakarta Governor-Vice Governor -which is seen as dividing Jakarta people into indigenous Islams and non-indigenous non-Islams- might provide an interesting example of how to construe urban ethnicity in the present context

TINJAUAN BUKU: PEMBANGUNAN SOSIAL DI WILAYAH PERBATASAN KAPUAS HULU, KALIMANTAN BARAT

feneteruma, luis ( Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.598 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.549

Abstract

Judul : Pembangunan Sosial di Wilayah Perbatasan Kapuas Hulu, Kalimantan Barat Penulis : Henny Warsilah dan Dede Wardiat Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia Cetakan : Pertama Juli Tahun : 2017 Tebal : 190 Halaman

Bahasa Ibu Yang Kehilangan ‘Ibu’ (Kajian Sosiolinguistis Bahasa yang Terancam Punah di Maluku Utara)

imelda, imelda ( P2KK-LIPI )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1587.941 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.533

Abstract

Bahasa Ibu merupakan salah satu bahasa di Maluku Utara yang telah mencapai puncak kepunahannya. Saat ini penuturnya tinggal satu orang lagi karena penutur lainnya telah tua dan sakit. Selain itu, saat ini, generasi Ibu yang lebih muda telah mengganti kedudukan bahasa daerahnya dengan bahasa Ternate yang merupakan bahasa resmi di Kesultanan Ternate. Selain itu, generasi yang lebih muda lagi menggunakan bahasa Melayu yang dikenal sejak perdagangan masa lalu ketika Ternate menjadi titik jalur sutra dan bahasa Indonesia yang dipakai ketika Indonesia merdeka dan menjadikan bahasa ini bahasa nasional. Melalui wawancara, data yang berhubungan dengan pola perilaku berbahasa orang Ibu dari 80 tahun yang lalu hingga saat ini dicoba untuk dikuak. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan data-data sekunder yang membahas sejarah kerajaan dan perdagangan di Kepulauan Maluku, terutama Ternate, untuk memahami sebab-sebab punahnya bahasa Ibu. Ibu language is one of languages in North Maluku that has reached its peak of extinction. Currently, only one speaker left and able to communicate because the other two-speakers have been old and sick. Additionally, the younger generations have changed thei mother-tongue into Ternate Language, the official language of Ternate Sultanate. Besides, they also use the Malay language which has been known since past trade when Ternate Island became one of the Silk Road points. The use of Malay language is also continued because Indonesia has chosen Malay-Riau dialect, official called Indonesian Language, as the language of Indonesian country. Through interviews, the data of Ibu speakers from 80 years ago until now were used to open up the behavior patterns of Ibu speakers. In addition, this research also utilizes secondary data which discusses the history of empire and trade in the Ternate Sultanate and the Islands around Ternare, to understand the causes of Ibu language extinction.

Preface JMB Vol 19 No 3 2017

Sukmawati, MA, Anggy Denok ( Research Center of Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2030.267 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.580

Abstract

KYAI SELEBRITI DAN MEDIA BARU

kiptiyah, siti mariatul ( UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.431 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.495

Abstract

Tulisan ini menganalisis munculnya kyai selebriti di Indonesia utamanya pada K.H. Anwar Zahid yang ceramahnya banyak diunggah di media YouTube. Model dakwah dari waktu ke waktu terus berubah, dan ceramah di YouTube adalah salah satu bentuk bagaimana dakwah disebarluaskan melalui media baru. Studi ini akan menguji seberapa besar peran YouTube sebagai media baru dalam menciptakan otoritas baru bagi seorang kyai melalui pengajiannya. Kajian ini penting untuk melihat bagaimana kehadiran media baru memperkuat otoritas kyai sebagai pemimpin agama di masyarakat. Pertanyaan yang hendak saya jawab dalam penelitian ini adalah seperti apakah otoritas kyai di era media baru?. Bagaimana K.H. Anwar Zahid membangun otoritasnya?, serta, bagaimana K.H. Anwar Zahid menggunakan otoritas tersebut dalam ceramahnya?. Penelitian ini mengkombinasikan data empiris dan teoritis terhadap ceramah K.H. Anwar Zahid yang bersifat online (YouTube) dan offline (langsung). Hasil studi ini menunjukkan bahwa media baru tidak menggeser otoritas tradisional seorang kyai sebagai pemimpin agama, tetapi justru otoritas tersebut semakin diperkuat dengan otoritas selebriti dari media baru yang mendapat pengakuan secara konsensus oleh masyarakat. This paper analyses the xin Indonesia, mainly on K.H. Anwar Zahid whose are widely uploaded in the YouTube. The model of has changed over time, and on YouTube is one of the models in which xis disseminated through new media. This study will examines how far the roles of YouTube as a new media in creating new authority for a . This study is important to see how the existence of new media strengthens the 's authority as a religious leader in society. The questions to be answered in this research are the following: How is ’s authority in the era of new media? How did K.H. Anwar Zahid builds his authority? How did K.H. Anwar Zahid use that authority in his dakwah? This research combines empirical and theoretical data on K.H. Anwar Zahid which explore the online (YouTube) and offline (direct) data. The results of this study indicate that the new media does not shift the traditional authority of a as a religious leader, but rather the authority is further strengthened with the celebrity’s authority of a new media that gets consensus recognition by the public.

Cover Vol 19 No 3 Tahun 2017

Sukmawati, MA, Anggy Denok ( Research Center of Society and Culture - Indonesian Institute of Sciences )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2030.267 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.579

Abstract

Peran Pemerintah, Kapitalis, dan Netters dalam Mengontrol Media (Analisis terhadap Studi Media di LIPI)

Widyawati, Nina ( Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI )

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.865 KB) | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.547

Abstract

Studi media di LIPI berjalan seiring dengan isu-isu yang hangat di jamannya. Dimulai tahun 1976 ketika pemerintah Orde Baru ingin menggunakan televisi sebagai alat pembangunan. Pemerintah memutuskan untuk memiliki Sistem Komunikasi Satelit Domestik agar siaran televisi bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. Akses televisi yang luas dirancang untuk mempertahankan status quo dengan cara menyiarkan keberhasilan pemerintah. Kenyataannya televisi tidak hanya memiliki dampak positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif. Oleh karena itu, sejak akhir pemerintahan Orde Baru sampai awal runtuhnya Orde Baru, LIPI banyak melakukan studi media effect menggunakan pendekatan kuantitatif. Setelah Orde Baru runtuh, sistem pemerintahan juga berubah dari sentralistis menjadi desentralistis. Media juga tumbuh menjadi institusi yang lebih demokratis. Pada saat yang sama, kapitalisasi media berkembang pesat. Industri media dikusasi oleh kapitalis dan hal ini kemudian berpengaruh kepada kebijakan dalam menentukan konten. Berkembanglah studi-studi kritis seperti ekonomi politik media dan analisis wacana kritis. Ketika TIK berkembang, peran kapitalis dalam mengontrol konten mulai digeser oleh netters. Pada era ini, LIPI melakukan studi tentang masyarakat jaringan. Dengan demikian, pola perkembangan studi media di LIPI tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Perubahan suatu rezim berpengaruh terhadap peran media yang pada akhirnya mempengaruhi tema studi. Bedanya, studi di LIPI lebih lambat antara 10-20 tahun dari perkembangan studi di Amerika dan Eropa.ngontrol konten mulai digeser oleh netters. Pada era ini LIPI melakukan studi tentang masyarakat jaringan. Dengan demikian pola perkembangan studi media di LIPI tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Amerika dan Eropa. Perubahan suatu rejim berpengaruh terhadap peran media yang pada akhirnya mempengaruhi tema studi. Bedanya studi di LIPI lebih lambat antara 10-20 tahun dengan perkembangan studi di Amerika dan Eropa. Research about Media at LIPI goes hand in hand with the important issues of the era. Started in 1976 when the New Order Government wanted to use television for development tools. The government built Sistem Komunikasi Satelit Domestik (Domestic Satellite Communications System) for television to be able to be accessed by all Indonesian. On the one hand, television access is designed to maintain the status quo by broadcasting the success of the government, but on the other hand, there are negative impact. Therefore, started from the end of the New Order Government until the beginning of the fall, LIPI conducted media effect studies with quantitative approach. The fall of New Order has changed the system from centralized to decentralized, consequently, the media has also grown into a more democratic one. At that time, capitalization of media industry begins to flourish, as an effect the media industry is exploited by the capitalist which able to influence the policy by determining the content. This era, media research at LIPI employs critical approach such as the political economy of media and critical discourse analysis. When ICT develops the role of capitalist in controlling content, began to be shifted by netters, LIPI conducts studies about network society. Thus, the pattern of media research in Indonesia is not much different from that occurred in America and Europe. The change of a regime influences the role of the media that ultimately affects the theme of the study. The difference of media study in LIPI is 10 to 20 years slower in comparison with similar study in America and Europe.

Page 1 of 2 | Total Record : 12